“Telat lamaran, siap-siap jadi tamu undangan. Makan sendirian di meja prasmanan tanpa gandengan. Duh … kasihan.”
Ah, sial. Kalimat candaan yang dilontarkan Luna benar-benar membuatku ingin memijat pelipis. Pusing. Segera kupacu mobil agar cepat sampai rumah.
Kutaruh undangan jenis fortic yang terdiri dari beberapa lembar tema rustic dengan sentuhan ornamen kain goni dan tali jerami. Di dalamnya ada foto calon mempelai yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Ratu, salah satu sahabatku dari zaman seragam biru putih akan segera menikah di usia dua puluh empat tahun.
Tadi di kantor, sempat kubuka undangan itu. Mempelai wanita tampak tersenyum bahagia menatap calon suami yang berprofesi sebagai abdi negara. Duh, iri sekali melihatnya.
“Baru pulang, Kal?” Mama melangkah dari arah dapur sambil membawakanku segelas air.
"Iya, Ma," jawabku singkat.
Aku sedikit mengubah posisi saat wanita terkasih itu menyodorkan air minum yang dibawanya. Segera kuteguk air putih itu hingga tandas.
“Haus apa haus?” ledek Mama.
Aku hanya tersenyum dengan kembali ke posisi semula. Meraih remot TV dan mengganti saluran. Ketika tangan ini memencet tombol remot, di saat yang bersamaan Mama meraih kertas yang tadi kutaruh asal.
“Undangan dari siapa?”
“Ratu, Ma.”
Wajah mamaku tampak antusias sembari membuka plastik yang membungkus kertas undangan itu.
“Masya Allah, gagah banget calonnya Ratu, ganteng pula.”
Aku tak menjawab meski sempat melirik Mama yang tampak terpukau melihat foto pre wedding salah satu sahabatku itu.
“Kok, Mama malah ngomong sendiri, ya. Enggak ada tanggapan apa-apa.” Mama mulai menyindir.
“Iya, Ma. Kalila dengerin, kok,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari arah TV yang menyuguhkan salah satu kartun favoritku. Rainbow Ruby.
“Mama bilang apa, coba?”
“Mama bilang calon suami Ratu gagah dan ganteng.”
“Masih bagus ternyata.”
“Apanya?”
“Indra pendengaranmu.”
"Ish, Mama!" protesku.
Wanita yang sangat Papa cintai itu mencubit pipiku gemas. Aku mengubah posisi memutar kepala ke arah berlawanan, tidur di pangkuan Mama. Belaian tangan lembut di kepala yang tertutup hijab ini membuat rasa kantuk mulai datang. Namun, belum sempat terpejam, derap kaki terdengar menuruni tangga.
“Jangan terlalu asyik dielus-elus sama tangan Mama, Kal. Buruan cari suami!” Suara bariton Papa terasa menusuk kendang telinga.
Dikira cari suami kayak nangkap nyamuk apa ? Hap! Lalu ditangkap, batinku.
“Iya, Pa …,” jawabku malas.
“Iya apa?”
“Katanya suruh nyari suami.”
“Kapan?”
“Minggu depan kalau enggak hujan,” jawabku sekenanya.
Mama terkekeh dengan telapak tangan masih membelai kepala anak semata wayangnya ini.
“Aamiin,” ucap Papa.
“Kok, aamiin, Pa?” tanyaku.
“Setiap ucapan adalah doa. Kamu bilang minggu depan kalau enggak hujan, kan? Semoga saja memang dikabulkan ketemu jodohnya tujuh hari lagi.”
Aku kembali memejamkan mata, karena belaian lembut dari tangan Mama memang mengundang kantuk datang.
“Nak, usiamu saat ini sudah matang. Coba deh, cari pria yang benar-benar mau diajak serius.” Nah, kan. Pasti panjang kalau sudah membahas jodoh.
“Kalila juga maunya cepat nikah kayak teman-teman, Pa, Ma. Tapi menikah bukan ajang perlombaan, kan? Semua harus dipikirkan dengan matang. Enggak ujuk-ujuk kayak ngajak temen makan di pinggir jalan.” Aku menjawab santai dengan mata masih terpejam.
“Iya, Papa paham. Tapi, apa kamu enggak mau coba serius berkenalan dengan salah satu anak teman Papa? Kalau Papa sudah merekomendasikan, berarti dari segi bibit, bebet, dan bobot, semua sudah matang, Kal.”
Kuintip Papa dengan mata menyipit sambil berucap, “Merger, bukan?”
“Enggak juga. Ya, siapa tahu jodoh, kan?”
"Atur aja deh, Pa. Tambah pusing kalau disuruh nyari jodoh cepet-cepet."
“Serius mau?”
Kini mataku terbuka sempurna. “Sebentar! Enggak dalam waktu dekat, kan, kenalannya?”
“Memangnya kenapa?”
Aku bingung. Kenapa jadi serumit ini jadi dewasa? Rasa-rasanya, aku sudah mulai move on dari si dia. Mencoba membuka hati untuk yang serius. Namun, hingga saat ini hilal jodoh belum juga terlihat.
“Kita lihat seminggu ke depan, ya, Pa. Siapa tahu Jungkook khilaf terus ngajak Lila nikah.”
Kini Papa dan Mama terlihat menahan tawa agar tak menyembur membahana. Ya, aku tahu itu. Sering dibilang halu karena mengaku-aku istri si Jungkook. Aku yang sedikit kesal selalu jadi bahan yang disudutkan tiap membahas jodoh, langsung bangun dan duduk.
“Mama sama Papa, tuh, harusnya ngedoain, bukan malah ngetawain,” kritikku.
“Nggak harus ngehalu juga, Sayang,” ucap Mama.
“Lucu aja denger kalimatmu di awal tadi. Minggu depan kalau enggak hujan. Dan kamu minta waktu seminggu sebelum Papa bawa laki-laki untuk dikenalkan. Papa jadi enggak sabar, ada kejutan apa seminggu ke depan.”
Kulirik Mama. Beliau juga mengangguk-angguk seperti sependapat dengan pendapat suaminya. Aku hanya mengedikkan bahu dan berlalu ke kamar di lantai dua. Sepertinya berendam di bathtup lumayan juga untuk menyegarkan badan yang lelah menghadapi persaingan bisnis dan otak yang mulai berasap memikirkan jodoh.
Segera kutunaikan salat Asar sambil menunggu bak terisi air. Berlama-lama takut waktu salat keburu habis. Usai menunaikan empat rakaat di waktu matahari sudah mulai rendah, aku bermunajat memohon terkabulnya semua hajat.
Papa pernah bilang, “Salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah bakda Asar di hari Jumat.”
Ya, ini sayyidul ayyam. Memiliki makna sebagai raja hari paling baik di antara hari-hari lainnya.
“Selain ada waktu mustajab untuk berdoa, sedekah pada hari Jumat juga lebih utama dibanding sedekah di hari-hari lainnya, Nak,” tambah Papa kala itu.
Segera aku memasuki bathtub untuk melakukan relaksasi. Meski hanya sekitar lima belas menit memanjakan tubuh dengan sentuhan foam dan air hangat, rasanya badan ini lebih segar dan tenang.
Semburat mega-mega merah mulai datang meranum dalam buaian senja. Aku memejam, menghirup udara gratis yang Tuhan berikan dengan cuma-cuma tanpa meminta balasan. Kita hanya diperintah untuk bertakwa, dan semua akan kembali ke diri kita.
“Ingat, Kalila. Harta yang Tuhan titipkan ini hanya hak pakai, bukan hak milik. Semua akan Dia ambil tanpa persetujuan kita. Jangan sampai kita terbang dengan harta titipan. Kita ini kerdil di hadapan-Nya.” Petuah bijak Papa selalu membuatku merasa beruntung terlahir di keluarga ini.
“Dan jangan lupa baca Al-Kahfi, bisa di malam Jumat atau di hari Jumat itu sendiri,” lanjut Papa saat dulu aku masih SMP.
“Kenapa harus malam Jumat atau hari Jumat, Pa? Hari-hari lain enggak boleh?”
Lelaki yang sabar mengajariku tentang agama itu tersenyum sembari berucap, “Nabi SAW bersabda: Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka memancarlah cahayanya sejak mulai membaca sampai Jumat berikutnya.”
Aku tersenyum. Semoga aku bisa mendapatkan jodoh seperti Papa. Baik, saleh, tampan, dan mapan. Ah, Mama, beruntung sekali mendapatkan jodoh seperti Papa. Kembalikan aku teringat undangan pernikahan Ratu yang akan digelar hari Kamis mendatang.
“Datang sama siapa, ya?” gumamku.
Aku masih mematung di antara bingkai jendela kamar, menikmati pesona senja yang semakin cantik sebelum pamit undur diri dan akan berganti dengan selimut hitam dengan kerlip bintang-bintang.
Ting!
Ponsel berbunyi tanda ada pesan masuk. Aku duduk di pinggir ranjang, membuka pesan dari WA Grup yang terdiri dari tiga orang. Aku, Ratu, dan Luna.
[Kal, lo harus bawa gandengan pas acara resepsi Ratu nanti.] Tulis Luna.
Foto dirinya sedang selfie dengan seseorang yang membuatku membulatkan mata. Eh, siapa, nih?
Aku mengerutkan kening dengan mengezoom foto yang Luna kirim. Mengamati lamat-lamat lelaki yang berfoto dengannya.
“Owalah, si Rama, to, ini. Cakepan dikit dia sekarang. Pantas pangling,” imbuhku seraya terkekeh.
Segera kutaruh ponsel dan lanjut membaca Surah Al-Kahfi di kamar. Semua kemudahan hidup dan fasilitas yang lengkap tak cacat dalam hidupku. Lahir sebagai putri tunggal dengan materi yang cukup sangat diimpikan semua insan.
Papa, yang notabene anak orang berada pernah hidup dalam lingkup anak jalanan, sebab korban broken home. Luntang-lantung menjadi remaja yang hidup keras bersama para tunawisma dan bocah putus sekolah menyadarkannya bahwa ia lebih beruntung dibanding mereka.
“Perlahan hati Papa mulai lembut, hingga memutuskan untuk mengakhiri pertengkaran dengan nenek kakekmu, Nak. Papa minta untuk bersekolah dan mondok di sebuah pon-pes. Qodarullah, doa-doa Papa dikabulkan hingga menyatukan kembali keutuhan rumah tangga orang tua yang sempat porak-poranda.” Kisah Papa kala itu.
“Karena itu, Papa nggak mau anak keturunan Papa nanti mengalami nasib yang sama. Ilmu agama itu sangat penting untuk fondasi hidup. Ia harus kuat dan kokoh. Harta bisa dicari, tetapi ilmu dan amal akan tetap bermanfaat sekalipun kita mati.”
Hatiku gerimis usai menyelesaikan bacaan dengan seratus sepuluh ayat yang terangkai sempurna dalam surat Al-Kahfi. Mengingat betapa kerasnya kehidupan Papa dahulu sebelum hidayah datang dalam kalbu.
“Papa ingin kamu mendapatkan imam yang tepat, Nak. Yang mengerti agama. Yang punya fondasi kuat tentang ilmu berumah tangga. Tidak hanya pintar mencari uang, tapi juga paham halal dan haram.”
Ya, aku mengerti yang beliau maksud. Saling tikam dan senggol dalam panggung sandiwara dunia bukanlah hal baru. Apalagi dalam dunia bisnis. Mereka yang minim ilmu tak peduli dengan hukuman akhirat. Hukum dunia bisa dibeli sekalipun mereka ketahuan bersalah dengan bukti-bukti. Sekali lagi, uang memang punya kekuasaan paling tinggi. Naudzubillah.
***
Blazer dan celana putih menjadi pilihanku untuk pergi ke hotel pagi ini. Kukenakan jilbab biru motif untuk menghidupkan warna. Mematut diri sendiri di depan cermin dengan senyum semringah. Polesan cukup natural saja, tidak perlu menor apalagi tampil glamor.
Mensyukuri semua yang telah Tuhan beri kepada diri ini. Cantik, pintar, terlahir dari keluarga terpandang, dan insya Allah salehah. Kenapa susah sekali mendapatkan jodoh? Huh!
“Eh, Astagfirullah ... harus selalu husnu’udzon, Kalila. Allah sudah mengatur semuanya,” ucapku lirih masih di depan cermin.
Ballroom yang akan disewa Ratu untuk acara resepsi pernikahannya nanti harus kupersiapkan sebaik mungkin. Walaupun ini bukan tugasku, tetapi aku harus ikut mengkoordinasi agar tidak mengecewakan sahabat rasa saudara itu.
Tim yang bertugas sudah mempersiapkan dan menyusun semua acara dengan cermat sesuai keinginan customer. Momen di hari istimewa Ratu nanti harus memuaskan tanpa cacat. Apalagi aku sahabatnya. Jangan sampai ada rasa kecewa dengan pelayanan hotel yang saat ini Papa percayakan padaku. Semua harus detail and perfect.
“Pagi, Ma, Pa,” sapaku. Duduk di hadapan orang-orang terkasih untuk mengisi nutrisi di pagi hari.
“Pagi, Sayang,” jawab Mama.
Kulirik Papa. Beliau menatapku tidak berkedip sampai mengabaikan sendok berisi nasi yang di-cancel untuk dikunyah.
“Kenapa, Pa? Penampilanku jelek? Ada yang kurang?” tanyaku sembari membenahi ujung jilbab dan memindai penampilan sendiri.
Papa tersenyum, beralih menatap istrinya dengan berucap, “Kecantikanmu menular ke anak kita, Honey. Aku seperti melihat kamu waktu masih muda.”
Aku memutar bola mata dengan malas. Bisa-bisanya pasangan suami istri di depanku ini saling tatap dan tersenyum di hadapan seorang jomlo. Anaknya sendiri pula. Haiss!
“Udah belum pandang-pandangannya? Lila mau nyendok nasi!” gerutuku dengan mengambil alih sendok nasi yang masih Mama pegang.
Papa tertawa. Mama tampak tersipu, kemudian ikut terkekeh pelan. Sepertinya mereka berdua sedang menertawakan kejomloanku ini. Hiks!
“Oiya, Kal. Anak teman Papa yang mau kami jodohkan sama kamu, ternyata pernah kuliah di kampus yang sama dengan kamu dulu,” ucap Papa di sela kami fokus mengunyah menu sarapan.
“Oh, ya? Siapa namanya, Pa?
“Namanya Excel. Kamu kenal enggak kira-kira?”
“Excel?” Anganku mulai menyelam ingin mengingat orang yang namanya baru saja Papa sebut. “Kayaknya Lila enggak ada teman yang namanya Excel, deh, Pa.”
“Hmm, ya sudah.”
“Di kampus itu yang kuliah banyak, Pa. Mana mungkin anak kita hafal semua nama-nama mahasiswanya,” sahut Mama.
“Wooo ya jelas. Wong dia kuliah, Kalila masih SMA, kok,” Papa terkekeh.
“Ish, Papa ngelawak pagi-pagi.”
Aku hanya mengedikkan bahu seraya tertawa kecil. Tak ingin tahu lebih. Toh, nanti akan tahu sendiri kalau jadi dikenalkan.
***
"Wuaaah ... Ratu cantik banget ...," puji Luna dengan berdecak kagum.
“Pasti, dong!” sahutku.
Ratu tampil cantik nan anggun di samping pria gagahnya. Seragam dengan garis tiga di pundak suaminya menandakan bahwa ia seorang perwira dengan pangkat kapten. Gaun muslim warna hijau zamrud yang dikenakan pengantin wanita berpadu dengan payet warna gold. Menambah kecantikan Ratu yang sudah sempurna menutup aurat sejak SMA. Gaun indahnya sangat serasi dengan warna hijau lumut khas seragam militer.
“Itu acara apa, Kal?” tanya Luna lagi. Menunjuk mempelai yang akan melewati terowongan.
“Itu namanya upacara pedang pora, Lun.”
Ya, saat ini Ratu dan suaminya sedang berjalan beriringan melewati terowongan hunusan pedang yang membentuk gapura untuk menuju singgasana pelaminan mereka. Hunusan pedang itu dibuat oleh rekan-rekan dan adik angkatan di kemiliteran dengan seragam yang kompak.
“Gini, ya, Kal, anak perwira kalau menikah sama abdi negara?” tanya Luna di sampingku.
“Iya, Lun. Aku juga baru tahu, kalau serangkaian pelaksanaan upacara dalam pernikahan seorang abdi negara merupakan sebuah simbol solidaritas dan persaudaraan antar prajurit militer. Juga sebagai penanda diterimanya pasangan sang prajurit dalam keluarga besar militer itu sendiri. Gitu ...,” jelasku yang diberitahu oleh Ratu.
Raja dan ratu sehari itu tampak bahagia di atas singgasana pelaminan. Di saat seperti ini, selalu saja ada desir ngilu yang datang mengepung. Mataku mulai panas, tampaknya air mata sudah menggenang di pelupuk.
“Kal, ikut aku. Cepet!”
Dengan cepat kuseka air mata sebelum jatuh. “Mau ke mana, Lun?” Sedikit kuangkat rok kain jarik untuk mengikuti langkah sahabat yang sedikit ugal-ugalan itu. Berbeda dengan Ratu yang lebih lembut.
“Tradisi penting akan segera dimulai!” jawabnya dengan sedikit berbisik.
“Maksudnya?”
“Udah diem! Pokoknya kamu harus dapat buket bunga yang nanti dilempar sama pengantin baru itu. Paham?”
Tuh, kan! Luna memang amazing.
Salah satu prosesi yang sering mencuri perhatian tamu undangan adalah tradisi lempar buket bunga. Terkhusus buat yang masih single, acara yang satu ini sangat ditunggu-tunggu. Entahlah, aku tidak terlalu yakin walau selalu ingin mendapatkannya. Namun, hal itu belum pernah terjadi. Apa kali ini aku harus ikuti arahan Luna? Coba aja kali, ya?
Luna berhasil membawaku ke depan singgasana pengantin. Wanita yang masih belum istikamah menutup auratnya itu melambaikan tangannya kepada Ratu. Sahabat kami itu hanya tersenyum dan mengacungkan jempol. Firasatku mulai tidak enak mengingat di antara kami hanya aku yang masih single.
“Inget, kamu harus dapetin buketnya!” bisik Luna dengan semangat.
“Kalo nggak dapet?”
“Nggak bakalan dapet jodoh.”
“Ih, Luna jahat. Aku tuh, cinta berat,” jawabku konyol.
“Aelah, malah Tik-Tok-kan.”
Aku berusaha ceria agar tak terlihat gerogi.
Seorang MC mulai memberikan aba-aba. Pada hitungan ketiga, buket akan dilayangkan dengan posisi pengantin membelakangi hadirin semua. Namun, pada hitungan terakhir, Ratu dan Wisnu–sang suami–tidak jadi melempar ikatan bunga yang terangkai apik itu. Ia tampak berbisik di telinga sang suami dan ditanggapi anggukan oleh kapten militer tersebut.
Hadirin tampak bingung, pun denganku. Bagaimana tidak? Ratu menuruni tangga yang hanya berjumlah tiga tingkat dan menuju ke arahku. Buket bunga yang terangkai cantik dengan tipe nosegay itu ia berikan langsung untuk sahabatnya yang masih betah menyendiri ini. Sorak meriah membuatku terharu dengan menutup mulut.
“Nona Kalila Izzatun Nazeem, semoga secepatnya menyusul menjadi pengantin,” ucap Ratu.
Aku mengangguk dengan iringan air mata yang lolos tanpa perintah. Kami berpelukan erat. Disusul Luna yang ikut memeluk kami. Ah, rupanya ini taktik kedua sahabatku. Tepuk tangan semakin riuh terdengar. Dalam hati aku mengaminkan harapan Ratu, Luna, pun harapan Papa dan Mama agar putri tunggalnya ini segera naik pelaminan.
Saat ingin mengurai pelukan, tiba-tiba lampu di ballroom mati seketika. Semua tamu undangan terdengar berseloroh dan mulai menyalakan ponsel pintar mereka satu persatu.
“Kenapa bisa mati lampu, Bu Dirut?” tanya Luna bingung.
“Mungkin sebentar lagi juga hidup,” jawabku santai.
Wisnu tampak turun menghampiri istrinya. Menyambut kembali sang permaisuri untuk menuju singgasana. Ratu mengelus pelan lenganku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum mempersilakan. Luna pun ikut menyalakan senter ponselnya.
“Kal, aku cari ayangku dulu, ya. Takut salah ambil tangan orang buat digandeng.”
Aku hanya tersenyum seraya menggeleng-geleng saat wanita dengan kebaya brokat tanpa hijab itu melenggang pergi. Kenapa lampu belum juga menyala? Kugeser layar ponsel untuk menghubungi engineering staff hotel.
“Ada sedikit gangguan distribusi, Bu. Sudah ditangani,” ujar suara di seberang sana.
“Segera dikondisikan, Pak.”
“Siap, Bu.”
Aku mematikan sambungan. Ruangan tidak begitu gelap karena cahaya dari ponsel tamu undangan menyala rata. Namun, beberapa ada yang mulai gerah karena AC juga ikut berhenti menyejukkan ruangan. Aku mulai gusar, segera keluar dari balai riung untuk kembali menghubungi pihak teknisi. Namun, Salma–asistenku–terlihat menghampiri dengan berlari-lari kecil.
“Pak Adi bilang, sepertinya harus pakai genset dulu, Bu. Pemakaian listrik juga harus dikurangi untuk menstabilkan energi.”
Aku mengangguk. “Bilang Pak Adi, gimana baiknya aja! Acara di ballroom sedang berlangsung. Jangan kecewakan pelanggan,” ucapku tegas.
“Siap, Bu.”
Sedikit tidak enak hati karena ini acara penting dari sahabat sendiri. Namun, gangguan seperti ini sering terjadi dan tidak butuh waktu lama bisa selesai ditangani. Ponsel di tangan bergetar. Nama cinta pertamaku terpampang melakukan sebuah panggilan.
“Ya, Pa?”
“Sudah hubungi bagian teknisi?”
“Sudah.”
“Ok. Mungkin sebentar lagi tertangani.”
“Wait! Papa sama Mama udah di sini? Kok, tahu kalau mati lampu?”
“Iya, Papa sama Mama ada di lobi office. Baru mau turun, eh, ketemu tamu tak diduga. Akhirnya ngobrol dulu kita,” jelas Papa di ujung telepon.
Aku hanya mengangguk walau Papa tidak akan melihat ekspresiku ini.
“Bisa naik temui kami di lantai dua, Nak? Sambil nunggu lampu nyala, kenalan dan ngobrol dulu sama anak teman Papa. Ternyata dia juga tamu undangan pihak mempelai pria.”
“Oh, ya? Bisa kebetulan gitu, ya, Pa?”
“Jodoh kali,” ucap Papa sedikit terkekeh.
“Ish, kenal aja belum,” jawabku. “Ya udah, Pa, Lila coba naik.” Sambungan segera diputus oleh beliau.
Kenapa mendadak deg-degan, ya? Kok, tanganku keringatan, sih? Duh ... jadi kebelet pipis pula, mana lampu belum nyala. Aku segera menuju toilet dengan senter ponsel masih menyala.
Setelah selesai, kuatur napas sebelum menaiki tangga. Tiba-tiba kulitku meremang. Menoleh ke kiri dan ke kanan. Lampu belum juga ada tanda-tanda untuk menyala. Segera aku berlari kecil menaiki tangga menuju atas. Seseorang tampak menunduk dengan memandangi ponselnya. Melihat arah langkahnya, sepertinya ia mau turun. Tanpa sengaja, aku menyenggol lengannya.
“Eh, maaf, Mas!” ujarku.
Seseorang yang terlihat berpenampilan memakai tuksedo itu hanya merespons dengan anggukan, sepertinya ia terburu-buru. Namun, tiba-tiba sebelah tangannya memegang lenganku. Besar kemungkinan, salah satu kakinya terpeleset karena lokasi yang sedikit gelap dan pandangannya tertuju ke ponsel.
Aku yang tak tahu lelaki itu siapa refleks menepis tangannya agar lepas dari lenganku. Dia terpelanting dan jatuh berguling-guling di antara anak tangga yang keras. Aku menjerit.
“Astagfirullahal’azim!” pekikku dengan menutup mulut.
Lelaki itu tampak mengaduh kesakitan. Bagaimana ini? Aku segera turun dengan terlebih dahulu meneriakkan nama Mama dan Papa.
“Ya ampun, Pak. Maaf, saya enggak sengaja,” ujarku dengan sedikit bergetar, sebab takut.
“Pak, Pak. Aku bukan bapak-bapak!” jawabnya, lalu suaranya terdengar kembali meringis menahan sakit.
Sebentar! Kok, suaranya sedikit familiar, ya? Tidak berselang lama, derap langkah kaki tampak menuruni tangga.
“Kalila? Ada apa?”
“Ada yang jatuh, Pa,” jawabku sedikit takut.
“Loh, Excel? Kok, bisa?”
Degup jantung semakin tak karuan saat kutahu lelaki yang jatuh berguling-guling tadi adalah anak teman Papa yang mau dikenalkan denganku. Aku semakin tak berani menatap wajahnya saat Papa mengarahkan penerangan dari ponselnya.
“Pa, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Soalnya tadi ....” Aku menggantung kalimat yang akan terucap.
“Ya sudah.” Papa langsung memapah lelaki itu menuju mobil.
Listrik belum juga menyala. Tak apalah. Setidaknya, tidak banyak mata yang mengetahui ada korban jatuh sebab ketidaksengajaan yang aku lakukan tadi. Salah siapa pegang-pegang? Aku ikut masuk ke mobil Papa. Mama pun ikut serta.
“Pa, Papa di belakang aja nemenin dia. Aku yang nyetir. Mama di sebelah aku.”
Suami mamaku tampak mengangguk. Beliau pasti paham maksud putrinya ini. Saat selesai memakai sabuk pengaman, bangunan megah bertaraf internasional itu kembali terang. Alhamdulillah, listrik sudah kembali menyala. Satu masalah selesai, kenapa masalah baru muncul lagi? Entahlah.
Aku menatap kaca tengah di atas dasbor mobil. Lelaki di sebelah Papa yang masih tampak mengaduh tertangkap pantulan kaca. Wait! Kok, seperti tidak asing, ya? Aku menoleh ke belakang, ingin memastikan.
“V-Vino? Kak Vino?” pekikku, sedikit tercekat.
Lelaki itu terkesiap. “Ka-lila?” ucapnya. Sama, seperti memastikan. Namun, ia kembali mengaduh dengan memegang kepalanya, seperti ada nyeri yang menusuk.
“Vino?” Papa pun tak kalah kaget. “Loh, kalian sudah saling kenal?” selanya.
Aku baru ingat satu nama. Excel Vino Wijaya. Ya, Papa menyebutnya Excel, sementara aku ... akrab memanggilnya Vino. Kenapa dunia ini begitu sempit, Ya Robb?
Yogyakarta-Semarang memang tidak terlalu jauh, tetapi kenapa aku harus bertemu mantan di situasi seperti ini? Dengan sebuah insiden pula. Apa kejadian ini bisa dikatakan aku sedang balas dendam dengan tidak disengaja? Atau ... lelaki bergelar ‘alumni hati’ itu yang hanya pura-pura?