Bab 1

Vivienne menatap cermin besar di hadapannya, matanya yang lelah mencerminkan ketegangan yang ada dalam hatinya. Gaun pengantin putih itu terasa seperti beban, bukan simbol kebahagiaan yang seharusnya. Ia merasakan pandangan dingin ibunya yang tiri menembus punggungnya, seperti selalu, menilai setiap gerakannya, setiap keputusan yang ia buat.

"Ibu, aku..." Vivienne membuka mulut, namun suara itu tenggelam dalam keheningan yang menindih.

Ibu tirinya, Marcella, berdiri di belakangnya, tangannya yang dingin menyentuh bahu Vivienne. "Tidak ada kata 'tapi'. Kamu sudah tahu kenapa pernikahan ini harus terjadi. Jangan sia-siakan kesempatanmu." Suaranya keras dan penuh tekanan, seakan setiap kata yang diucapkan adalah hukum yang tak bisa diganggu gugat.

Saudarinya yang palsu, Selina, berdiri di sampingnya, dengan senyum tipis yang tak pernah bisa Vivienne pahami. Selina adalah segalanya yang diinginkan oleh ibu tiri Vivienne: cantik, cerdas, dan tanpa cacat. Semua perhatian ibu Marcella tertuju pada Selina, sementara Vivienne, meski tidak pernah mengeluh, selalu menjadi bayang-bayang di belakangnya.

"Sudahlah, Vivienne," ujar Selina dengan nada lembut yang terasa menyakitkan. "Ini adalah jalan yang sudah dipilih untukmu. Jangan membuat ibu marah."

Vivienne mengangguk, meski hatinya menjerit. Ia tidak punya pilihan. Selina, dengan semua pesonanya, selalu menjadi yang pertama di segala hal, dan Vivienne hanya dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka. Semua rencana besar ibunya untuk masa depan mereka tak bisa diganggu gugat, dan Vivienne hanya bisa tunduk pada kehendak itu.

Pernikahan ini bukanlah tentang cinta-itu sudah jelas. Ia tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih siapa yang ingin ia nikahi. Tidak, pernikahan ini hanyalah langkah strategis untuk menjaga kekuasaan keluarga mereka. Di sinilah Vivienne berdiri, mengenakan gaun pengantin yang berat, di hadapan seorang pria yang hampir tidak ia kenal.

Arthur, pria yang ditentukan untuk menjadi suaminya, tidak lebih dari seorang gelandangan dengan status yang samar. Vivienne masih ingat pertemuan pertama mereka-dia tampak seperti orang biasa, bahkan kurang dari itu. Rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, dan tatapannya kosong. Namun, ibu tiri dan Selina menyuruhnya untuk menikah dengannya, menyebutnya sebagai "langkah yang diperlukan" untuk memperkuat status mereka. Tidak ada ruang untuk penolakan. Vivienne hanyalah pion dalam permainan mereka.

Tapi hari ini, di hari pernikahannya, Vivienne merasa ada sesuatu yang berbeda. Arthur, yang sebelumnya tampak seperti pria tak berdaya, sekarang berdiri di hadapan altar dengan aura yang mengesankan. Ia mengenakan setelan hitam yang sempurna, matanya penuh tekad, dan posturnya tegap. Tak ada lagi tanda-tanda kerapuhan yang dulu ia tunjukkan. Vivienne merasa bingung, bahkan takut.

Setelah upacara yang berlangsung cepat dan tanpa emosi, mereka berdiri di depan keluarga dan tamu yang hadir. Semua mata tertuju pada mereka. Arthur, yang dulu dianggap sebagai sosok yang tak berarti, kini menatap Vivienne dengan cara yang berbeda-seperti ada sesuatu yang disembunyikan di balik tatapannya. Ada sesuatu yang tak ia pahami, tapi juga tak bisa ia hindari.

"Selamat, Vivienne," Arthur berkata, suaranya datar, namun ada sebuah ketegangan yang tidak dapat ia sembunyikan. Vivienne hanya mengangguk, meski di dalam hatinya muncul pertanyaan yang tak terjawab: Siapa dia sebenarnya?

Malam itu, ketika mereka berdua tiba di rumah mereka yang besar dan megah, Vivienne merasa cemas. Semua terasa asing. Rumah yang tampak mewah itu seperti penjara yang menunggu untuk menelan hidupnya. Mereka berada dalam ruangan yang luas, namun Vivienne merasa lebih kesepian dari sebelumnya. Arthur duduk di kursi besar di depan perapian, tangannya menggenggam segelas wiski.

"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Arthur, suaranya tenang namun sarat dengan sesuatu yang lebih gelap. Vivienne hanya menatapnya, mencoba memahami setiap kata yang ia ucapkan.

"Kenapa kamu berubah?" Vivienne akhirnya bertanya, suaranya sedikit gemetar. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Arthur? Mengapa kamu... seperti ini?"

Arthur hanya tersenyum, tapi itu bukan senyuman yang ia kenal. Ada sesuatu yang tajam di balik tatapan itu. "Kamu baru akan tahu," jawabnya pelan, seolah-olah kalimat itu membawa beban yang jauh lebih berat dari yang bisa dijelaskan.

Vivienne merasa gemetar. Semua pertanyaan yang menggantung di benaknya tiba-tiba menjadi semakin kuat. Siapa sebenarnya suaminya? Apa yang ia sembunyikan darinya? Dan yang lebih penting lagi-berapa banyak dari semua ini yang sudah direncanakan?

Sekarang, Vivienne menyadari bahwa pernikahan ini bukan hanya awal dari sebuah hubungan, tetapi juga pintu gerbang menuju sebuah permainan yang lebih besar dan lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Di luar sana, malam semakin larut. Tapi di dalam hatinya, Vivienne merasa ada sesuatu yang akan segera berubah-dan dia tidak tahu apakah itu akan mengarah pada kebahagiaan atau kehancuran.

"Vivienne..." Arthur berkata lagi, kali ini suaranya lebih dalam dan penuh dengan misteri. "Aku akan menunjukkan siapa aku sebenarnya. Tapi kau harus siap dengan kenyataannya."

Bab 2

Vivienne terjaga di tengah malam, matanya terbuka lebar, membiarkan gelap meresap ke dalam pikirannya. Suara angin yang menderu di luar jendela hanyalah latar belakang dari kebingungannya yang semakin dalam. Arthur sudah memberi peringatan, tetapi tidak ada yang mempersiapkannya untuk kenyataan yang mengerikan ini. Apa yang sebenarnya dia hadapi? Dan mengapa keluarganya begitu terlibat dalam permainan yang belum sepenuhnya dia pahami?

Di dalam kamar tidur yang sepi, Vivienne memutar otaknya, mencoba untuk mengurai benang-benang yang mengikat kehidupannya. Semua yang dia anggap normal-ibu tirinya, saudara perempuan palsunya, pernikahan ini-semuanya adalah bagian dari sebuah rencana besar yang lebih kelam daripada yang dia bayangkan. Semakin dia berpikir, semakin jelas bahwa ada lebih banyak yang harus dia ketahui. Namun, ia tahu satu hal pasti: ia tidak bisa lagi mempercayai siapa pun, bahkan dirinya sendiri.

Pagi datang dengan cepat, dan Vivienne merasa seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Arthur tidak tampak seperti biasanya. Seperti seorang pria yang diselimuti rahasia, ia tetap menahan informasi yang semakin membebani pikiran Vivienne. Dia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan dengan ketegangan yang mencekam di antara mereka.

Namun, hari itu ada sesuatu yang berbeda. Ketika Vivienne turun ke ruang makan untuk sarapan, suasana terasa lebih berat. Arthur duduk di meja, menatap surat kabar yang terhampar di depannya. Matanya terfokus pada sesuatu yang tak dapat dilihat Vivienne, dan suara denting sendok yang menyentuh piring hanya menambah kesunyian yang menekan.

Vivienne duduk di seberangnya, tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Akhirnya, ia memberanikan diri. "Arthur, aku ingin tahu lebih banyak. Tentang dirimu. Tentang keluargaku. Semua yang terjadi selama ini... aku harus tahu."

Arthur menatapnya sesaat, tampak ragu, sebelum akhirnya meletakkan surat kabar itu. "Apa yang ingin kamu ketahui, Vivienne?" jawabnya pelan, namun ada ketegangan yang jelas dalam suaranya.

"Kenapa kamu berkata bahwa keluargaku terhubung denganmu?" Vivienne bertanya, rasa cemas di dalam dadanya semakin membesar. "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud."

Arthur menghela napas panjang, kemudian menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. "Keluargamu bukanlah keluarga biasa, Vivienne. Mereka terlibat dalam hal-hal yang jauh lebih besar daripada yang kamu bisa bayangkan. Perusahaan mereka, posisi mereka di masyarakat, semuanya terhubung dengan jaringan kekuasaan yang lebih luas, lebih gelap. Mereka memiliki tujuan yang tidak pernah kamu ketahui."

Vivienne merasa seluruh dunia di sekelilingnya terguncang. "Apa yang mereka lakukan? Apa hubungannya aku dengan ini semua?"

Arthur bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat, seolah ingin memastikan bahwa setiap kata yang ia ucapkan dipahami dengan benar. "Mereka menggunakanmu untuk mencapai tujuan mereka. Pernikahan ini, Vivienne, bukan hanya tentang keluarga mereka, tetapi tentang kekuatan yang mereka ciptakan-kekuatan yang akan mempengaruhi masa depan seluruh industri ini. Kamu hanyalah bagian dari permainan besar."

Vivienne merasa seperti dirinya telah dikepung, terjebak dalam dunia yang tidak ia kenali. "Dan kamu?" tanya Vivienne, matanya penuh kebingungan. "Apa peranmu dalam semua ini?"

Arthur menatapnya dengan tajam, wajahnya serius. "Aku adalah salah satu yang paling berpengaruh dalam dunia ini, Vivienne. Aku hanya berpura-pura menjadi seseorang yang tak berarti. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk saat ini, saat di mana aku akan muncul kembali dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."

Vivienne merasa dunia berputar di sekelilingnya. "Jadi, semuanya ini sudah direncanakan sejak awal? Pernikahan ini... aku..." kata Vivienne, merasa terhimpit. "Aku hanya pion dalam rencanamu? Dalam rencana keluarga kita?"

Arthur tidak menjawab langsung. Sebaliknya, ia mengangkat tangan dan menunjuk ke luar jendela, ke arah kota yang tampak begitu jauh. "Keluargamu telah memainkan peran mereka, dan kini, saatnya bagi kita untuk memainkan peran kita. Apa yang akan datang selanjutnya, Vivienne, akan mengubah segalanya."

Vivienne menatapnya, rasa bingung semakin mendalam. "Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Vivienne dengan suara serak. "Kenapa kamu memilih aku sebagai bagian dari permainan ini?"

Arthur menoleh, tatapannya dingin dan penuh perhitungan. "Karena kamu satu-satunya orang yang bisa aku percayai, Vivienne. Kau memiliki kekuatan yang belum kau ketahui. Dan ketika saatnya tiba, kamu akan melihat betapa pentingnya kamu dalam semua ini."

Vivienne terdiam, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia terima. Apa yang telah dia jalani? Apa yang akan terjadi pada dirinya? Semuanya terasa seperti sebuah jebakan yang semakin mempersempit ruang geraknya.

Namun, di dalam dirinya, sebuah perasaan mulai tumbuh. Sebuah perasaan bahwa ia tidak bisa lagi menjadi korban dalam permainan ini. Jika ini adalah perang, maka ia akan bertarung dengan cara yang berbeda. Ia akan mencari kebenaran, meskipun itu berarti menggali lubang-lubang gelap yang telah disembunyikan oleh keluarga dan suaminya.

Namun, tepat saat Vivienne berniat untuk berbicara lebih lanjut, pintu terbuka dengan keras, dan seseorang masuk-seorang pria yang tidak dikenal, dengan ekspresi penuh ancaman. "Kita perlu bicara," katanya, suaranya tegas dan penuh kesabaran.

Bab 3

Vivienne duduk di meja makan besar yang terbuat dari kayu gelap, tatapannya kosong. Suasana di rumah baru mereka terasa dingin, tidak ada kehangatan yang biasa ia harapkan dalam sebuah rumah. Semua terasa asing-bahkan makanan yang disajikan di hadapannya tampak hambar. Arthur duduk di ujung meja, jauh dari jangkauan matanya, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sesekali ia menyesap minuman dari gelas kristal yang ia pegang erat.

Vivienne merasa seperti sebuah benda mati, terperangkap dalam sebuah kehidupan yang bukan miliknya. Ia tidak tahu apa yang harus ia percayai lagi. Tadi malam, setelah pernikahan yang dingin, ia berharap bisa tidur dan melupakan semua ini untuk sementara. Namun, tidur tak datang. Setiap kali matanya terpejam, bayangan Arthur yang berbeda dari yang ia kenal menyelimuti pikirannya. Ada rahasia di balik tatapan itu, dan ia tahu ia harus mengetahuinya.

"Arthur..." Suara Vivienne terasa jauh, meski ia berusaha keras untuk memanggilnya.

Arthur menoleh perlahan, matanya tetap tajam. Ada sesuatu yang mengintimidasi dalam caranya menatapnya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. "Kau ingin bertanya lebih banyak, bukan?" suaranya serak, penuh teka-teki.

Vivienne mengangguk pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu berubah begitu cepat? Bukankah kamu... hanya seorang pria biasa?" kata Vivienne, meskipun ia sudah tahu jawabannya, meskipun ia merasakan sesuatu yang lebih dalam tentang pria ini, sesuatu yang jauh lebih besar dari apa yang ia lihat sebelumnya.

Arthur tertawa pelan, namun itu bukanlah tawa yang menyenangkan. Ada kesan penuh kebencian di dalamnya. "Biasa? Itu adalah apa yang mereka ingin kamu pikirkan, Vivienne." Ia menatapnya dengan tajam, seakan ia sudah tahu apa yang ada di benak Vivienne. "Kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya."

Vivienne menggigit bibir bawahnya, terperangkap antara rasa takut dan rasa ingin tahu yang mendalam. "Lalu siapa kamu sebenarnya?" tanyanya, mencoba menjaga suaranya tetap tenang, meskipun hatinya berdegup keras.

Arthur berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman yang gelap, cahaya bulan hanya menerangi beberapa bagian dari halaman luas itu. "Aku tidak pernah menjadi pria biasa, Vivienne. Itu hanyalah topeng yang aku kenakan." Ia berbalik, matanya kini tidak bisa lagi disembunyikan. Ada kilatan peringatan di sana, seolah ia sedang mengukur seberapa banyak Vivienne bisa terima.

Vivienne terkejut. "Topeng?" kata Vivienne hampir berbisik, matanya terbelalak. "Kau... kau tidak pernah mengatakan apa-apa tentang ini. Selama ini, aku hanya melihatmu sebagai seseorang yang tidak punya arah."

Arthur tersenyum kecut. "Itulah yang aku inginkan. Semua orang harus melihatku seperti itu-seperti orang yang tak berarti, seorang yang rendah. Tetapi itu hanyalah bagian dari rencana."

Vivienne merasa seperti tenggelam dalam kabut gelap yang menutupi pikirannya. "Rencana? Apa maksudmu?" tanyanya, semakin terjerat dalam misteri yang semakin membelenggunya.

Arthur berjalan ke meja dan menatapnya, wajahnya kini serius, jauh dari sikap santai yang ia tunjukkan sebelumnya. "Aku adalah pewaris dari sebuah organisasi yang sangat berpengaruh. Namun, untuk bertahan hidup, aku harus bersembunyi di balik identitas yang berbeda. Selama bertahun-tahun, aku melatih diriku untuk menjadi seseorang yang tak terlihat, untuk menghindari perhatian. Tetapi aku tidak bisa lagi menyembunyikan diriku. Sekarang, aku harus kembali ke posisi yang seharusnya."

Vivienne mendengar kata-kata itu dengan berat. "Tapi kenapa menikah denganku? Kenapa memilihku?" tanyanya, suaranya penuh kebingungan. "Apa yang ada di balik pernikahan ini? Apa yang sebenarnya terjadi, Arthur?"

Arthur menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba menimbang-nimbang apakah ia siap untuk mengungkapkan semuanya. "Karena keluarga kita terhubung lebih dari yang kau kira, Vivienne. Aku membutuhkanmu, tidak hanya sebagai istri, tetapi sebagai bagian dari permainan besar yang sedang aku mainkan."

Vivienne merasa ada sesuatu yang lebih, sebuah kebohongan yang lebih besar daripada apa yang sudah ia dengar. "Pemain besar? Permainan besar apa?" tanyanya, rasa takut kini lebih kuat dari rasa bingung.

Arthur menarik napas panjang, kemudian berjalan mendekat dan menatapnya dengan intensitas yang membuat Vivienne merasa terhimpit. "Keluargamu, Vivienne. Mereka semua berhubungan dengan aku lebih dari yang mereka tunjukkan. Mereka membuatmu menjadi pion dalam permainan ini, tapi mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi."

Vivienne merasakan perutnya mual. Semua yang ia percayai, semua yang ia tahu tentang hidupnya, tiba-tiba terasa seperti kebohongan besar. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya, suara itu hampir tak terdengar.

Arthur mengangkat tangannya, menunjuk ke luar jendela. "Bersiaplah. Karena ini baru permulaan, Vivienne. Apa yang akan datang lebih besar dari apa yang kau bayangkan."

Vivienne menatap Arthur dengan mata penuh tanya, tetapi Arthur sudah berbalik, meninggalkannya dalam kegelapan malam yang semakin dalam. Satu hal yang pasti-dia sudah terseret dalam dunia yang tak ia pahami, dan tak ada jalan mundur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED