Bab 1

Kegelapan mulai menyelimuti seluruh kota.

Hari ini, kedua putri dari Keluarga Revaldi akan menikah pada waktu yang bersamaan.

Mengenakan gaun pengantin berwarna putih, Natalia Revaldi menatap pantulan dirinya di cermin. Riasan wajahnya sangat cantik dan matanya berbinar dengan kebahagiaan.

Hari ini, dia akan menikah dengan Romli Oktario.

Mereka telah menjalin cinta selama satu tahun dan akhirnya akan mengucap janji suci hari ini.

"Kakak, kamu benar-benar beruntung. Kamu akan menikah dengan Keluarga Oktario, keluarga yang paling terpandang di Belora."

Mengenakan gaun pengantin yang sama persis, Alisa Revaldi masuk dan berbicara dengan nada sarkasme.

Melihat betapa cantik penampilan kakaknya, Alisa meradang karena rasa iri. Andai saja dia bisa mencakar wajah cantik itu!

Ekspresi Natalia mengeras. "Aku juga ingin mengucapkan selamat padamu, Alisa. Kamu akan menjadi istri keempat Jasper Bagaskara. Omong-omong, kudengar dia terluka parah karena kecelakaan mobil yang baru-baru ini dialaminya. Dia lumpuh dan kesehatannya memburuk dalam beberapa tahun. Aku khawatir jika kamu menikah dengannya, kamu akan menjadi janda muda."

"Natalia, kamu!"

Alisa sangat marah sehingga wajahnya berubah pucat. Dia mengepalkan tinjunya dengan erat, berpikir bahwa dia akan menikahi seorang pria cacat sementara Natalia akan menikah dengan Keluarga Oktario.

"Natalia, jangan terlalu percaya diri. Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kamu akan selalu menjadi Nyonya dari Keluarga Oktario, oke?"

"Natalia, Alisa, kalian di sini!" Sambil membawa dua cangkir kopi, Fara Rohayati masuk dengan senyum di wajahnya. "Minum kopi dulu untuk menyegarkan tubuh kalian. Kedua mempelai pria masih dalam perjalanan."

Senyum munafik yang terukir di wajah ibu tirinya membuat Natalia mengernyit. Selama lebih dari sepuluh tahun, mereka tinggal di rumah yang sama. Bagaimana mungkin dia tidak tahu orang seperti apa Fara itu?

Namun, pemikiran bahwa dia akan segera keluar dari rumah dan tidak perlu melihat Fara dan putrinya lagi, membuatnya terhibur. Jadi, dia mengambil secangkir kopi, meski sedikit ragu.

"Terima kasih." Natalia kemudian menyesapnya.

"Sama-sama, Sayang." Melihat Natalia menyesap kopi yang ditawarkannya, Fara menghela napas lega. "Meskipun kamu bukan putri kandungku, aku selalu menganggapmu seperti anakku sendiri. Aku sedih karena kamu akan meninggalkan kami."

Mata Fara berkaca-kaca ketika dia berbicara.

Dalam hati, Natalia mencibir. Pantas saja wanita ini berhasil menyabet gelar Aktris Terbaik, bakat aktingnya benar-benar menakjubkan.

Ketika Natalia berusia delapan tahun, ibunya meninggal dunia. Belum sebulan setelah kematian sang ibu, ayahnya membawa pulang Fara dan Alisa. Adik tirinya itu hanya satu bulan lebih muda dari Natalia.

Baru saat itulah Natalia menyadari bahwa ayahnya telah mengkhianati ibunya sejak lama.

"Nyonya, Keluarga Oktario sudah tiba." Seorang pelayan mengetuk pintu dan memberi tahu Fara.

"Oh, oke," ucap Fara sambil menyeringai. Dia mengedipkan mata pada pelayan itu dan memerintahkan, "Eva, bawa Natalia ke mobil."

Mendengar ini, Natalia kemudian berdiri, tetapi dia tiba-tiba merasa sedikit pusing. Penglihatannya kabur, jadi dia hanya bisa membiarkan pelayan itu memapahnya.

Sebuah mobil hitam sudah terparkir di gerbang. Sang pelayan, Eva, menempatkan Natalia di kursi belakang kendaraan itu.

Dari balkon, Fara menyaksikan mobil itu menghilang di kejauhan. Seringainya menjadi semakin lebar.

"Ibu, apa Ibu yakin ini akan berhasil? Bagaimana jika Natalia menyadari ada yang tidak beres?" tanya Alisa yang gelisah dalam gaun pengantinnya.

"Jangan khawatir, sayangku. Aku sudah mengurus semuanya. Dia akan menggantikanmu untuk menikah dengan Keluarga Bagaskara."

Ternyata mobil hitam itu adalah milik Keluarga Bagaskara, bukan Keluarga Oktario.

Akan tetapi, Alisa masih khawatir. "Tapi bagaimana caraku menipu Romli malam ini?"

Fara menatap putrinya dan memberi tahu dengan hati-hati, "Asalkan kamu tidur dengan Romli malam ini, Keluarga Oktario tidak akan bisa berbuat apa-apa. Ingat, jangan sampai mereka melihat wajahmu."

"Oke, Bu." Kemudian, ekspresi Alisa berubah suram, matanya dipenuhi dengan perasaan iri dan kebencian. "Ibu, aku harus membuat hidup Natalia menderita. Dengan begitu, dia akan tahu apa akibatnya merebut priaku."

Fara menyeringai dingin. "Aku ragu Natalia akan selamat malam ini. Apa kamu tahu apa yang terjadi pada semua mantan istri Jasper sebelumnya? Mereka semua menghilang secara misterius."

....

Di kursi belakang mobil, Natalia masih merasa sangat pusing. Suhu tubuhnya terus meningkat dan pipinya memerah.

Dia memikirkan kopi yang diberikan Fara padanya tadi.

Saat itu, dia menyadari bahwa ibu tirinya telah menjebaknya.

Fara pasti memasukkan semacam obat ke dalam kopinya.

Natalia lalu melihat ke luar jendela, dan memperhatikan bahwa mereka tidak menuju ke arah kediaman Keluarga Oktario. Saat itu juga, dia menjadi panik.

"Hentikan mobilnya! Hentikan mobilnya sekarang!" teriak Natalia pada pengemudi dengan cemas. "Kamu siapa? Kamu hendak membawaku ke mana?"

Mendengar ini, sang pengemudi memandangnya dengan wajah yang benar-benar bingung lewat kaca spion. "Nona, saya sopir Keluarga Bagaskara. Saya dikirim untuk menjemput pengantin Pak Jasper."

"Keluarga Bagaskara?"

Tiba-tiba, sesuatu muncul di benak Natalia.

Rupanya, rencana ibu tirinya adalah membuatnya menggantikan Alisa menikahi Jasper!

"Hentikan mobilnya sekarang! Aku akan menikah dengan Keluarga Oktario! Kamu salah orang!"

Dia tidak ingin menikah dengan Keluarga Bagaskara. Dia menolak untuk membiarkan Fara dan Alisa berhasil dengan rencana busuk mereka.

Namun, efek obat yang mulai bekerja di tubuhnya membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Ibu tirinya itu tidak hanya ingin dia menikah dengan Keluarga Bagaskara, tetapi juga ingin menghancurkan hidupnya.

"Berhenti sekarang juga!" geram Natalia yang berusaha keras untuk tetap sadar.

"Nona, kita hampir sampai. Nona ... apa yang Anda lakukan?"

Pengemudi itu terkejut ketika melihat Natalia membuka pintu mobil dan melompat keluar.

Tubuhnya terguling di jalanan beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Rasa sakit yang hebat segera mengembalikan kesadarannya yang sempat memudar.

"Nona, tolong kembali ke mobil sekarang ...."

Melihat sang pengemudi menepikan mobil dan turun untuk mengejarnya, Natalia mengatupkan gigi menahan rasa sakit yang membakar lalu melarikan diri dengan tertatih-tatih.

Rasa sakit itulah yang membuat pikirannya tetap jernih.

Natalia benar-benar ketakutan. Dia tahu konsekuensi mengerikan apa yang menanti jika dirinya tertangkap.

"Nona, jangan lari! Tolong kembalilah bersama saya!"

Mendengar teriakan pengemudi dari belakangnya, Natalia berlari semakin kencang. Dia begitu ketakutan sampai hampir menangis. Dia tidak ingin menikah dengan Jasper.

Saat itu sudah larut malam dan sekelilingnya hanya ada kegelapan. Natalia tahu pengemudi itu sudah hampir menyusulnya. Yang lebih buruk, rasa pusing di kepalanya hampir tak tertahankan.

Natalia begitu putus asa sehingga dia tidak tahu harus lari ke mana. Tiba-tiba, dia melihat sebuah mobil hitam diparkir tidak jauh dari tempatnya berada. Seorang pria yang mengenakan setelan santai sedang bersandar di kendaraan itu, sibuk berbicara di telepon.

Ketika pria itu hendak masuk ke dalam mobil untuk pergi, Natalia menghampirinya dengan sisa tenaganya. Dia memohon, "Tolong aku, tolong. Tolong aku ...."

Tertegun, pria itu menatap Natalia dengan matanya yang dalam.

Saat ini, pria yang berada di ujung sambungan telepon berteriak dengan cemas, "Pengantinmu akan segera tiba. Kenapa kamu belum datang juga?"

"Berisik!" Tanpa memberi kesempatan pada lawan bicaranya untuk menjawab, pria itu menutup telepon dengan ekspresi dingin.

Pada saat yang sama, sang pengemudi sudah hampir tiba di tempat Natalia. Situasi ini membuat Natalia kehabisan waktu untuk berpikir lagi. Jadi, dia bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Dia menyatukan kedua telapak tangannya dan memohon, "Tolong bantu aku! Kumohon!"

Sang pengemudi sampai dan berjalan mendekati mobil itu. "Nona, tolong keluar. Kita benar-benar terlambat sekarang."

Begitu pengemudi itu melihat sang pria, dia tertegun.

Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, pria itu meliriknya dengan dingin dan membentak, "Enyah!"

Bab 2

Rasa tidak nyaman yang dirasakan Natalia begitu tak tertahankan sehingga dia merasa seolah-olah pembuluh darahnya akan pecah.

Fara sungguh kejam! Natalia hanya menyesap sedikit kopi itu, tetapi pengaruh obatnya sudah sangat kuat. Dia benci memikirkan apa yang akan terjadi jika dia minum lebih dari seteguk.

Natalia merasa kepalanya akan meledak, tetapi pada saat yang sama, dia merasakan tubuhnya kesemutan. Selain itu, dia merasa sangat kehausan, seolah-olah dia telah berjalan di padang pasir yang kering selama berabad-abad.

"Air ... aku butuh air ...."

Natalia dengan susah payah mengeluarkan beberapa kata lagi dari bibirnya. Tenggorokannya terasa begitu kering dan tubuhnya begitu panas sampai-sampai dia ingin menenggelamkan dirinya dalam sebuah bak es.

"Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang."

Pria itu dapat mengetahui apa yang terjadi dengan Natalia dalam sekejap.

"Tolong aku! Kumohon! Aku akan melakukan apa pun untukmu ...." Natalia tiba-tiba meraih tangan pria itu dengan putus asa. Pria ini adalah harapan terakhirnya di tengah tempat sunyi dan terpencil ini.

"Tunggu sebentar lagi."

Pria itu mengerutkan kening dengan dingin. Dia tidak pernah ikut campur dalam urusan orang lain. Jika kejadian ini terjadi di hari lain, dia hanya akan mengusirnya dari mobil. Namun, entah kenapa, dia merasa kasihan saat melihat keputusasaan di mata Natalia.

"Terima kasih ...."

Natalia mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan tulus. Bahkan, tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa pria di depannya akan melakukan hal buruk padanya.

Satu-satunya hal yang membuatnya tetap terjaga adalah keinginan kuat untuk bertahan hidup.

Natalia mempererat cengkeramannya di tangan pria itu dan menangis sedih. "Aku tidak ingin mati!"

Mata pria itu menyipit dan senyuman muncul dari sudut mulutnya. "Kamu wanita yang beruntung. Kamu tidak akan mati hari ini."

Saat ini, Natalia terlihat seperti putri duyung cantik yang terdampar. Dalam balutan gaun renda berwarna putih, wajahnya memerah dan tampak memesona.

Pria itu membeku di tempatnya. Wanita tak berdaya di kursi belakang sangatlah menggoda.

Suaranya tiba-tiba menjadi serak. "Namaku adalah Jasper Bagaskara. Kamu berutang budi padaku."

Pada saat itu, kesadaran Natalia sudah mulai hilang dan dia tidak bisa mengingat apa yang dikatakan oleh pria itu.

Jasper menginjak gas dan langsung melesat ke rumah sakit di bawah Grup Bagaskara. Beberapa menit kemudian, dia menyerahkan Natalia ke dokter.

Malam ini, Natalia mengalami sebuah mimpi yang berliku-liku. Dia memimpikan malam beberapa tahun yang lalu.

Saat dia terbangun keesokan harinya, hari sudah siang.

Kenangan semalam membanjiri pikirannya. Saat dia menyadari di mana dia berada, dia merasa tercekat.

Sementara dia berhasil bertahan hidup, mustahil baginya untuk bersama Romli tercinta.

Natalia kemudian memperhatikan bahwa ada seorang pria yang tertidur tengkurap di tepi tempat tidur. Dia adalah pria yang sangat tampan dan Natalia bahkan tidak bisa berhenti mengagumi penampilannya yang menawan.

Fitur wajah pria itu terlihat sangat jelas dengan alis tebal dan hidung yang mancung.

Kemudian, tatapannya mengembara ke lengannya yang kuat.

Tadi malam, dia berada dalam situasi yang tidak berdaya, tetapi pria ini sama sekali tidak menyentuhnya dan mengantarnya ke rumah sakit.

Kedua pipi Natalia langsung memerah.

Apa yang barusan dia pikirkan?

Apa dia mengharapkan sesuatu terjadi?

Dia pasti sudah gila!

Melihat bahwa pria itu belum bangun, Natalia dengan hati-hati duduk di tempat tidur. Gerakan kecil tersebut membuat pria itu terbangun.

"Habis manis sepah dibuang, apa kamu mencoba menyelinap pergi setelah aku menyelamatkanmu?"

Jasper merentangkan tangannya dengan malas dan melirik Natalia dengan senyum tipis di wajahnya.

Dia sudah bangun sejak tadi.

Jika dia tetap tidur, wanita ini pasti akan kabur.

"Kamu berutang budi padaku untuk tadi malam. Apa kamu akan melarikan diri begitu saja?"

"Hah? Tidak, aku ... aku tidak ...." Natalia kehilangan kata-katanya. Memang benar pria ini telah menyelamatkannya saat dia berada di dalam keadaan terburuk dan dia merasa bersalah setelah mendengar perkataannya yang tajam. "Terima kasih."

"Itu adalah pertama kalinya bagiku. Apa menurutmu sebuah ucapan terima kasih yang sederhana sudah cukup?" Jasper menatap Natalia dengan tatapan menyedihkan.

"Apa yang pertama kali?"

Pria itu membuatnya terdengar seperti sesuatu telah terjadi di antara mereka berdua.

"Pertama kali aku ikut campur dalam urusan orang lain."

Mendengar ini, Natalia diam-diam menghela napas lega. Kemudian, dia mendapatkan kembali ketenangannya dan menjelaskan, "Ibu tiriku ingin menikahkanku dengan seorang pria cacat yang sekarat. Aku lebih baik mati daripada menikah dengannya. Omong-omong, terima kasih banyak sudah menyelamatkanku."

'Wanita ini lebih memilih mati daripada menikah dengan pria itu?'

Melihat ekspresi gugup di wajah Natalia, Jasper tersenyum main-main. "Sebenarnya, kemarin adalah hari pernikahanku. Tapi, setelah apa yang terjadi, aku khawatir aku tidak akan bisa menikahi pengantin wanitaku lagi. Kamu harus menebusnya dengan memberiku seorang pengantin baru."

"Apa? Ya Tuhan! Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu kamu seharusnya menikah tadi malam!" Natalia merasa sangat menyesal. Akan tetapi, bagaimana dia bisa memberinya seorang pengantin baru? Jelas, pria ini sedang mempersulitnya.

"Lupakan. Kamu sangat cantik dan gaun pengantinmu terlihat sangat mahal. Kamu tidak akan menyukai pria miskin sepertiku." Jasper mendecakkan lidahnya karena kecewa.

Saat Natalia melihat betapa kesalnya pria itu, dia tiba-tiba berkata, "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."

Jasper tersenyum dan meraih tangannya. "Kalau begitu kembalilah bersamaku untuk menemui kedua orang tuaku sekarang."

"Apa? Tidak, tidak sekarang ...." Natalia menarik tangannya dengan canggung. "Aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu. Aku akan memberi nomor ponselku padamu. Kita akan berkomunikasi lagi nanti."

Hal pertama yang harus dia lakukan sekarang adalah menghadapi ibu tirinya.

"Baiklah." Jasper menganggukkan kepalanya dan berhenti menggodanya.

Natalia mencatat nomor ponselnya dan bergegas pergi. Namun, tanpa sepengetahuannya, dia telah menuliskan angka yang salah.

Jasper menyaksikan Natalia kabur dengan tatapan penuh ketertarikan.

Kemudian dia melirik kalung yang ditinggalkan Natalia di tempat tidur dan terkekeh.

Tiba-tiba, ponselnya berdering.

"Jasper, pengantin wanita melarikan diri dan kami tidak tahu di mana keberadaannya. Adapun kamu, di mana kamu tadi malam? Apa ada yang lebih penting daripada pernikahanmu sendiri?"

"Aku bersama dengan pengantin wanita." Sentuhan kelembutan yang langka melembutkan mata Jasper saat menyebut Natalia.

Dia tidak menyangka bahwa takdir akan membuat pengantinnya kabur dari pernikahan dan bertemu dengannya, sang pengantin pria.

Pernyataan sederhana Jasper mengejutkan Lasro Hasanuddin, pria yang berada di ujung telepon.

"Apa kamu bercanda? Aku baru saja mengatakan, pengantinmu melarikan diri. Biarkan aku memberitahumu, Keluarga Revaldi sangat berani. Pengantin wanita yang seharusnya kamu nikahi adalah Alisa. Tapi mereka malah mengirim Natalia. Alisa telah menikah dengan Keluarga Oktario!"

Jasper adalah orang pintar, dengan hanya berpikir sejenak, dia langsung tahu apa yang terjadi.

Lasro lalu menambahkan, "Kakekmu bilang beliau akan menunggumu untuk menangani masalah ini."

"Kirim orang ke Keluarga Revaldi untuk membatalkan pernikahan."

Setelah terdiam sebentar, Jasper menambahkan, "Tidak perlu mempersulit Keluarga Revaldi."

"Apa yang kamu bicarakan? Mereka sudah menipumu. Alisa menikah dengan Keluarga Oktario. Bagaimana kamu bisa membiarkannya begitu saja?"

Lasro merasa sangat terkejut. Jasper biasanya tidak akan melepaskan orang-orang yang menyinggung perasaannya.

Jasper seharusnya menyimpan dendam yang mendalam terhadap Keluarga Revaldi karena telah menipunya dan menikahkan pengantin aslinya dengan pria lain.

"Lakukan apa yang aku katakan," perintah Jasper.

Lasro mau tidak mau harus mengingatkannya, "Tiga mantan istrimu sudah 'mati'. Jika kamu membatalkan pernikahan ini, anggota Keluarga Bagaskara yang lain akan menemukan sesuatu yang salah. Pada saat itu, semua usaha kita sebelumnya akan berakhir sia-sia."

Jasper merenungkan hal ini selama beberapa detik. Akhirnya, dia berkata, "Yang ini tidak perlu 'mati'."

"Apa?" Lasro merasa bingung dan tidak mengerti apa yang ada di benak Jasper.

Alih-alih menjawab pertanyaannya, Jasper malah mengubah topik pembicaraan. "Siapkan aku satu unit mobil murah."

"Untuk apa?"

"Mengejar istriku."

….

Saat Natalia tiba di pintu gerbang rumahnya, dia menemukan ayahnya, Gading Revaldi dan Fara sedang mengantar seorang pria paruh baya pergi dengan hormat.

Inilah pria yang dikirim oleh Keluarga Bagaskara untuk membatalkan pernikahan.

Saat itu, Keluarga Bagaskara ingin putri Gading menikah dengan keluarga mereka, tetapi sekarang, mereka tiba-tiba membatalkan pernikahan. Pengantin wanita telah melarikan diri, tetapi Keluarga Bagaskara tidak mempersulit Keluarga Revaldi. Gading terkejut dengan keringanan hukuman mereka.

Setelah pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi, Gading menyeka keringat dingin di keningnya. Saat dia melihat Natalia, dia dengan kasar membentak, "Natalia, lihat apa yang sudah kamu lakukan! Kamu masih memiliki keberanian untuk menunjukkan wajahmu di sini. Jika Keluarga Bagaskara tidak menunjukkan belas kasihan pada kita, kita pasti akan bangkrut."

Natalia menatap ke arah Gading dan dengan dingin menjawab, "Ayah, apa Ayah tahu apa yang terjadi tadi malam?"

Bab 3

Meskipun Natalia sudah mengetahui apa yang akan Gading katakan, dia tetap ingin menanyakannya secara langsung.

Dia tidak percaya bahwa ayah kandungnya sendiri akan menyakitinya seperti ini.

Mendengar pertanyaan Natalia yang tajam, Gading memalingkan wajahnya karena merasa bersalah.

Selama bertahun-tahun, dia telah merasa terintimidasi oleh putri sulungnya.

Ketika dia menatap matanya yang jernih, dia teringat pada ibu Natalia dan itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

"Beraninya kamu berbicara padaku seperti ini?! Apakah aku semacam narapidana yang perlu diinterogasi? Aku adalah ayahmu!"

Natalia mendengus. "Ayah, Ayah masih tahu bahwa Ayah adalah ayah kandungku, tapi Ayah membiarkan istri Ayah menyakitiku. Ayah membiarkan Fara menikahkanku dengan Keluarga Bagaskara tanpa persetujuanku!"

Natalia tahu bahwa tanpa persetujuan Gading, Fara tidak akan punya nyali untuk melakukan hal sekejam itu.

Bagaimanapun, masalah ini sudah terjadi. Jadi, Fara berhenti berpura-pura tidak tahu dan membentaknya, "Keluarga Bagaskara ingin salah satu putriku menikah dengan keluarga mereka, tapi mereka tidak memilih secara spesifik. Selain itu, Keluarga Bagaskara adalah keluarga yang sangat kuat dan berpengaruh di Belora. Kamu seharusnya berterima kasih pada kami karena telah mengatur pernikahan yang begitu sempurna untukmu!"

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak membiarkan Alisa saja yang menikah dengan Keluarga Bagaskara?" Nada suara Natalia berubah menjadi dingin.

Dia telah mengunjungi Keluarga Oktario sebelum dia pulang. Mereka memberitahunya bahwa Romli dan Alisa tidak ada di rumah.

Saat itu, Natalia merasa seakan-akan seluruh dunianya telah runtuh.

Romli telah meninggalkannya.

'Dia sudah tahu bahwa dia telah ditipu dan istrinya telah diganti dengan wanita lain. Kenapa dia tidak datang mencariku?'

"Cukup!" bentak Gading. "Kondisi kesehatan Alisa sangat buruk. Jika dia menikah dengan Keluarga Bagaskara, dia hanya akan menderita. Kamu adalah kakaknya. Memangnya kenapa jika kamu yang menggantikannya dan menikah dengan Keluarga Bagaskara?"

Mendengar itu, Natalia memelototi Gading, hatinya tersayat dengan kepahitan. Selama bertahun-tahun, dia menyadari bahwa Gading pilih kasih. Namun kali ini, ayahnya itu sudah bertindak terlalu jauh.

"Ibu telah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Sepertinya Ayah sudah lupa bahwa aku masih putri Ayah. Ayah tidak mendukung studiku dan menutup mata terhadap bagaimana Fara memperlakukanku."

Gading memarahinya dengan nada mencela, "Fara juga ibumu. Beraninya kamu tidak menghormatinya seperti itu?!"

"Ibuku sudah lama meninggal."

Mata Natalia tampak suram dan dipenuhi rasa sakit. Sejak Fara dan putrinya pindah ke rumah ini, Natalia tidak pernah diizinkan untuk duduk di meja yang sama dan berbagi makanan dengan mereka. Setiap hari, dia makan makanan sisa.

Setelah lulus SMA, dia harus bekerja sambil kuliah, membayar uang kuliahnya dengan bekerja paruh waktu.

Keluarganya kaya, tetapi dia menjalani kehidupan yang lebih buruk daripada seekor anjing.

Alisa dikenal sebagai gadis manja dari Keluarga Revaldi. Dia hanya mau mengenakan pakaian bermerek, pergi ke klub kelas atas dan berpesta, sedangkan Natalia harus mengenakan pakaian murah dan pergi bekerja menggunakan kendaraan umum.

Di seluruh Belora, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Alisa memiliki kakak tiri.

Natalia berpikir bahwa dia setidaknya bisa menikah dengan seseorang yang dia cintai dan meninggalkan Keluarga Revaldi untuk selama-lamanya, tetapi dia tidak pernah menyangka bahwa ibu tiri dan adik tirinya akan menjebaknya.

Fara berpura-pura mencoba untuk meluruskan segalanya, tetapi kata-katanya hanya menambah bensin ke dalam api yang sudah membara. "Gading, jangan meributkan hal itu dengan Natalia. Dia benar. Aku bukan ibu kandungnya dan aku tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Tidak apa-apa. Aku tidak ingin kamu dan Natalia bertengkar karena aku."

"Lihat, dia masih membelamu, dasar tidak tahu terima kasih!" Gading merasa semakin kecewa pada Natalia. "Keluarga Bagaskara baru saja datang untuk membatalkan pernikahan, jadi kamu tidak perlu menikah dengan Jasper lagi. Masalah ini sudah selesai. Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan berganti pakaian. Berhenti mempermalukan dirimu sendiri di sini. Ada hal-hal yang lebih mendesak untuk ditangani di perusahaan, jadi aku harus pergi sekarang."

Setelah mengatakan itu, Gading pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.

Natalia tersenyum pahit. Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu, tetapi Gading tidak pernah peduli padanya sedikit pun. Untuk apa dia masih mengatakan semua itu padanya?

Begitu Gading pergi, Fara melepaskan topeng ibu tiri yang baik hati yang dia kenakan barusan dan langsung memelototi Natalia. "Dasar sial, beraninya kamu melarikan diri dari pernikahan? Dari mana saja kamu? Apakah kamu puas dengan hadiahku?"

Natalia menoleh untuk menatapnya dengan dingin. "Fara, kamu sangat menjijikkan. Apakah kamu tidak takut pada karma?"

Mendengar itu, Fara tersenyum puas. "Putriku sudah menduduki posisi Nyonya dari Keluarga Oktario. Kamu pikir kamu siapa? Kamu tidak pantas bersaing dengan Alisa. Selain itu, aku ingin tahu apakah Romli tahu bahwa kamu telah melahirkan seorang bayi beberapa tahun yang lalu. Apakah kamu pikir kamu bisa menyembunyikannya dari Keluarga Oktario selamanya?"

Ekspresi Natalia menjadi suram dalam sekejap. Rahasia terdalamnya telah terungkap dan Fara menggoyang-goyangkannya di depannya dengan angkuh.

"Sekali lagi, kamu dan Alisa-lah yang menjebakku pada saat itu."

Benar, Natalia memang telah melahirkan seorang bayi lima tahun yang lalu. Namun, anak itu meninggal setelah lahir dan dia masih tidak tahu siapa ayah dari anak itu.

Dia tidak memiliki keberanian untuk memberi tahu Romli tentang hal itu. Itu adalah mimpi buruk yang ingin dia lupakan.

Fara menyeringai, "Lalu? Bahkan jika kamu memberi tahu ayahmu, dia tidak akan memercayaimu. Natalia, semua yang ada di Keluarga Revaldi adalah milik putriku, bukan kamu. Omong-omong, ada satu hal lagi. Anak yang kamu lahirkan tidak mati. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan."

"Apa? Di mana anakku?" Natalia tercengang. Saat memikirkan bayi yang telah dikandungnya selama sembilan bulan, hatinya terasa sakit.

"Kamu ingin tahu, bukan?" Fara menyeringai kejam. "Berlutut dan memohonlah padaku. Setelah itu aku akan memberitahumu."

"Fara!" Natalia berkata melalui gigi terkatup, "Suatu hari, kamu akan membayar semua hal yang telah kamu lakukan."

….

Di Bar Bulan, Natalia meminum segelas demi segelas anggur dengan perut kosong. Dia tidak tahu berapa banyak anggur yang telah dia minum, kepalanya mulai terasa pusing.

Memikirkan bagaimana kebahagiaannya telah dicuri oleh Fara serta Alisa dan bagaimana Romli telah meninggalkannya, dia merasa putus asa.

"Natalia, cukup." Brenda Lorensia mengambil segelas anggur yang sudah setengah kosong dari tangan Natalia. Melihat kesedihan di wajah Natalia, dia merasa kasihan pada temannya. "Hanya ibu tiri dan adik tirimu yang bisa melakukan hal mengerikan seperti itu. Yah, setidaknya kamu bisa melarikan diri dari Keluarga Bagaskara."

Jasper Bagaskara adalah seorang pria misterius dan hanya ada sangat sedikit orang yang pernah melihat wajahnya. Ada segala macam rumor tentangnya yang menyebar di seluruh kota.

"Brenda, aku merasa sangat sedih. Ayahku mengabaikanku dan membiarkan Fara dan Alisa menginjak-injakku."

Bagaimana mungkin Natalia tidak merasa sedih? Ditinggalkan dan disakiti oleh keluarga sendiri adalah hal yang menyedihkan.

Lebih parahnya lagi, dia belum bisa menghubungi Romli.

"Romli juga meninggalkanku, Brenda. Aku tidak punya siapa-siapa." Kesedihan itu terlalu berat untuk ditanggung. Air mata mengalir di pipi Natalia.

"Jangan katakan itu, Natalia. Kamu masih punya aku. Ayolah. Jangan menangis." Brenda mengusap punggung Natalia dengan lembut untuk menghiburnya. "Itu hanya seorang Romli. Masih ada banyak pria di dunia. Aku bisa mencarikanmu pria yang lebih baik. Aku kenal banyak pria berkualitas yang kaya, tampan dan lajang …."

Pria yang berkualitas ….

Secara mendadak, wajah pria tadi malam muncul di benak Natalia. Kenangan semalam membanjiri otaknya dan membuat pipinya memerah.

Hanya saja, kenapa dia tiba-tiba memikirkan pria itu?

"Aku akan mencarikanmu seseorang sekarang. Aku hanya perlu menghubungi seseorang. Tunggu aku di sini." Kemudian, Brenda bergegas keluar untuk menghubungi seseorang.

Setelah meminum terlalu banyak anggur, Natalia berbaring telungkup di atas meja, perlahan meraih botol anggur. Tiba-tiba, dia melihat sosok yang dikenalnya muncul dari kejauhan.

Itu adalah Romli.

Dia langsung tersadar dan tersandung ketika dia berlari untuk menyusulnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED