Bab 2

Aku menghela nafas panjang terlebih dahulu lalu melepas celanaku. Dengan cepat menindih Rose yang langsung membuka matanya karena kaget. Tak kupedulikan lagi, langsung kutarik kedua tangannya keatas dan melumat bibirnya. Rose sempat memberontak tapi percuma karena pasti tenagaku lebih kuat ketimbang usahanya.

Setelah cukup lama bermain dengan bibirnya, aku menghentikan untuk kemudian melepas kancing kemeja yang masih dia kenakan. Rose terperanjat saat melihatku yang sudah tak mengenakan pakaian. Rose menutup matanya paksa seolah dia sedang melihat sesuatu yang menakutkan.

Aku menghantam bertubi-tubi tubuh Rose dengan kenikmatan yang sepertinya tak pernah dia dapatkan dari suaminya. Terbukti dengan akhirnya Rose mencapai puncaknya berulang kali.

Setelah pergulatan panjang, akhirnya Rose tertidur pulas dalam pelukanku. Aku masih sibuk memandangi wajah cantik yang terlihat sangat kelelahan itu.

Bila biasanya aku akan bergegas mengakhiri setelah selesai melakukan tugasku namun kali ini aku ingin berlama-lama saja disini bersama Rose.

****

Aku membuka mata karena bunyi ponsel yang kuletakkan dimeja kecil disebelah ranjang. Dengan sedikit kesadaran aku meraih benda pipih itu yang ternyata hanyalah sebuah notif alarm pengingat untuk bertemu dengan Robbi. Namun ketika tersadar disebelahku sudah tak kutemukan sosok Rose.

"Sudah bangun?" Suara yang ternyata tengah berdiri didepan kaca meja rias. Rose sudah nampak rapi dengan mini dress warna merah menyala sangat kontras dengan kulitnya yang putih itu, kembali aku menelan saliva entah untuk kesekian kalinya.

Rose menyisir rambutnya yang sedikit basah. Memasangkan anting ketelinganya dan dilanjutkan mengenakan jam mewah ditangannya.

Kini dia mendekat keranjang, aku mengamati wajah cantiknya yang sudah terpoles makeup tipis.

"Aku sudah memesankan makan untuk sarapanmu nanti." Dia duduk ditepi ranjang membelai kepalaku pelan lalu mengecup keningku. "Terimakasih banyak." Ucapnya lalu bergegas pergi.

"Rose." Dia menghentikan langkah dan menatapku. "Kamu mau pergi?" Dia mengangguk dan tak mengucapkan sepatah katapun. Aku melepas kepergiannya yang kemudian hilang dibalik pintu.

"Woi, gua tunggu dilobby cepetan!" Perintah suara pesan yang Robbi kirim kepadaku. Rasanya sangat sulit menerima kenyataan bahwa hubunganku dengan Rose hanyalah sebatas pemuas dan pelanggannya saja.

Dengan sangat malas akupun segera menyiapkan diri untuk keluar dari kamar ini.

"Betah banget ketemu tamu bening." Goda Robbi yang sudah duduk disebuah sofa lobby hotel ini. "Hari ini ada slot lagi, elu ambil enggak?" Aku mengehmpaskan tubuh untuk ikut duduk disebalahnya, lalu menggeleng.

"Nanti sore ada jadwal ketemu klien." Kilahku, padahal selain itu aku juga merasa malas. Fikiranku masih terfokus pada sosok yang telah menghabiskan malam bersamaku. "Robb, cariin info tentang tamu semalam." Aku berbisik mendekatinya. Robbi memandangku seperti tak percaya.

"Kenapa lu? Naksir?" Tanyanya wajah penuh selidik. Aku mengangguk pelan hingga membuatnya semakin tercekat tak percaya. "Gilaaa elu ya?"

"Sepertinya memang begitu. Kalau dia nyari gandengan lagi langsung aja oper ke gua" aku mengakhiri percakapan ini lalu gegas pergi untuk pulang. Setelah ini aku hanya ingin beritirahat saja.

****

Setelah seharian hanya berdiam diri dirumah Walaupun banyak panggilan dari Robbi tapi aku lebih memilih untuk mengabaikannya saja.

Hari ini jadwalku adalah bertemu seorang klien penting. Kami sepakat bertemu disebuah kafe, biasanya aku akan ditemani Merry, bawahan ku yang biasa mengurusi segala berkenaan dengan pekerjaan.

Merry, gadis berusia 25 tahun yang cukup menggoda untuk dilihat. Dia seringkali berusaha merayuku dan aku berusaha pila untuk menghindari, ya aku tidak suka tipe agresif sepertinya. Tidak ada tantangan.

"Pak, sebentar lagi tamu akan datang." Ucapnya sesampainya aku ditempat temu janji. Dia sudah menyiapkan tempat disudut luar karena memang paham bahwa aku adalah perokok.

Merry mengenakan sebuah rok diatas lututnya menampakkan kakinya yang berjenjang dengan kemeja press badannya yang semakin menunjukkan lekuk tubuhnya. Aku mengamatinya dari atas kebawah dia nampak tersipu malu. Kemudian aku kembali fokus pada laptop yang akan kunyalakan.

Setelah semua siap dan tak lama kemudian tamu klienku datang. Seorang pria setengah tua bersama istrinya, aku tersenyum ketika menyalami istrinya. Sebuah kebetulan yang memang sudah kutebak sebelumnya. Tante Wina, wanita yang pernah menjadi pelangganku dan memang aku yang merayunya untuk membantu men-deal kan proyek ini dan diapun menyanggupinya.

Kami bersikap seprofesional mungkin agar lelaki didepanku kini tak menaruh curiga tentang hubungan istrinya denganku. Obrolan ringan seusai menyampaikan materi. Sebenarnya sangat menjenuhkan. Sesekali kaki tante Wina akan menyenggolku dan pandangan mata genitnya yang memberiku kode. Biarlah yang terpenting hari ini misiku berhasil.

"Rose?" Aku bergumam tak percaya mendapati sosok dibalik kaca yang nampak dari luar. Wanita yang terlihat cantik itu tengah duduk bersama seorang lelaki berwajah oriental. Senyumnya tak henti merekah dan wajahnya begitu ceria sangat berbeda sekali ketika bersamaku.

Jendela yang hanya terlihat dari luar itu mungkin membuatnya tak menyadari kehadiranku. Aku masih mengamatinya, tangan Rose mengait lengan lelaki disebelahnya. Mereka terlihat sangat bahagia, dan aku disini sungguh merasa terbakar.

"Oh iya mas Mario ini sudah menikah belum?" Suara lelaki didepanku membuyarkanku. Kugelengkan kepalaku berusaha melepas senyum. "Masa' iya belum ada calonnya?"

"Iya cowok ganteng, mapan begini masak gak punya pacar." Goda tante Wina dengan mengedipkan sebelah matany, sungguh membuatku mual saja.

"Yah begilah pak, siapa yang mau sama saya." Aku merendah. Tawa terdengar dari meja kami, dan aku sesekali mencuri pandang memandangi Rose bersama lelakinya.

Cukup lama hingga menjelang malam. Akhirnya pasangan didepanku itu pulang juga. Sedari tadi aku sudah menahan mual melihat tingkah tante Wina.

"Mer, biar aku yang kekasir." Ucapku saat sadar Merry akan bergegas mengurusi segala pembayarannya. Aku berjalan kedalam apalagi tujuannya kalau buka ingin melihat Rose.

Kali ini aku sengaja memutar arah melewati pintu sebelah agar Rose menyadari kehadiranku disini. Ketika aku melewati mejanya dia tak sekalipun melihatku dan hanya fokus pada lelakinya tersebut. Yah, mungkin dia adalah suami Rose dilihat dari sikap Rose yang begitu perhatian terhadap lelaki didepannya itu.

Menunggu kasir menghitung billnya aku berdiri menghadap kearah meja Rose. Kali ini akhirnya berhasil, raut wajah Rose tercekat ketika menyadari aku tengah memperhatikannya dengan tersenyum. Hanya sesaat karena secepat kilat dia segera berusaha tak mempedulikanku dan kembali bercengkrama dengan lelaki itu, sialan sekali. Ini kali pertamanya aku diabaikan oleh wanita.

Aku menggerakkan tangan mengepal angin ingin segera meninju siapapun yang ada disini. Kalau tak ingat harga diriku, pastilah sudah kuhampirinya dan menyeretnya ikut pulang bersamaku. Namun kebodohan itu hanya akan membuat semua orang tau tentang profesi rahasiaku.

"Permisi, ini billnya." Ucap gadia dibalik mesin kasir. Aku mengeluarkan kartu debit platinum yang sering dialiri dana besar dari para tante yang puas dengan kerja kerasku.

Kembali aku berjalan keluar dari ruangan ini dan sengaja melewati meja Rose.

"Permisi." Aku berhenti tepat dimejanya, mata Rose melotot kearahku. Dan kuulaskan senyum menggodaku untuknya.

Bab 3

"Alex?" Aku bertanya pada lelaki yang sudah menengok kearahku, dia nampak kebingungan ketika aku mencoba menepuk pundaknya. "Alex teman Kuliah?"

"Permisi?" Ucapnya, pasti dia sangat kebingungan dengan tingkahku ini. Segera mungkin aku merubah raut seolah terkejut karena salah orang.

"Astaga, maafkan saya. Saya kira anda adalah Alex teman kuliah saya." Kuukirkan senyum sesekali memandang Rose yang hanya terdiam disebelahnya. Lelaki itu kemudian tertawa dan berbalas menepuk pundakku. "Sekali lagi maafkan saya, tuan." Ucapku dengan tangan yang ku apitkan didepan dadaku.

Rose nampak mulai tenang dari yang awalnya begitu takut nampak telah menghembuskan nafasnya kasar.

"Tak masalah." Setelah sedikit basa basi akhirnya aku pamit untuk berlalu, ya aku sudah memberi syock terapi pada Rose karena sudah bersikap acuh padaku.

****

Setelah menyelesaikan beberapa bahan untuk project digital promo, mungkin lebih baik aku mengecek ponsel yang khusus kugunakan untuk pekerjaan sampinganku tersebut. Siapa tau Robbi memberikan job yang bisa kuambil saat senggang seperti ini.

Seperti dugaanku, sebuah job dari tante Wina . Padahal baru kemarin aku bertemu dengannya dikafe, tapi aku tak mungkin menolaknya apalagi mengingat bahwa karenanya lah aku bisa mendealkan project besar dari suaminya.

Baiklah, tak harus menunggu lama lagi segera bergegas ke apartemen yang sudah memang biasa kami gunakan untuk bertemu diam-diam.

"Hallo brondong kesayanganku." Ucapnya manja, walaupun aku sangat geli namun tetap kutunjukkan profesionalisme sebagai lelaki yang memang dia bayar untuk memuaskan hasratnya.

"Kenapa barang-barangnya kosong?" Aku sedikit heran kala melihat isi ruangan yang sudah banyak berubah. Barang-barang yang dulu menghiasi sebagian sudah tak nampak lagi.

"Ya, aku sudah menjual apartemen ini pada seseorang. Dia akan datang sebentar lagi." Lanjutnya. Tante Wina sebenarnya membeli 2 apartemen yang bersebelahan, salah satu dari ruangannya memiliki pintu koneksi rahasia, ya pintu tersebut berada dibalik sebuah lemari yang berisi tas mewahnya. Bagaimana aku bisa tau? Karena tante Wina sengaja membuatnya agar perilakunya yang suka menyembunyikan brondong sepertiku tak diketahui oleh suaminya. Aku sering diberikan kunci dari ruangan sebelah kemudian mengendap lewat pintu rahasia tersebut.

"Jadi, apakah ini berarti akan menjadi pertemuan terakhir kita?" Antara sedih dan bahagia, bahagia karena tak akan lagi bertemu tante genit ini dan sedih karena berkurang ladang uangku nantinya.

"Kamu tau kan, anakku yang ada di Milan sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan. Tante harus menemaninya sampai dia bisa terbiasa dengan kebiasaan barunya nanti." Aku mengangguk paham, menujukkan ekspresi seolah merasa sedih akan kepergiannya.

Wanita yang memang sudah berumur ini nampak sudah tak sabar saja ketika aku mulai melepas kemejaku. Dia dengan gesitnya langsung menabrakku hingga tubuhku tersungkur diranjang empuk.

Bibirnya langsung saja dia dekatkan dengan bibirku. Tangannya menggerayang nakal kesegala penjuri tubuhku.

Kalau boleh jujur , sebenarnya aku sangat risih dengan sikapnya yang sangat agresif itu, tapi sebagai penyedia jasa kenikmatan tak bisa berbuat apalagi kecuali hanya menuntaskannya hinga pada kepuasan.

"Kamu memang sangat luar biasa sayang." Ucapnya dengan sisa nafas dan peluh yang bercampur dengan badannya.

"Evrything for you , sayang." terdengar menjijikkan, namun cukup mampu membuatnya melambung ditambah hasrat yang telah sampai pada puncaknya.

Setelah berkali-kali bergulat dengan wanita yang lebih pantas kupanggil ibu itu, tante Wina nampak sudah sangat lemas. Dia telentang berbaring diatas ranjang tanpa sehelai benangpun. Aku bergegas mengambil selimut untuk menutupinya, bukan apa-apa, hanya sedikit kurang nyaman saja melihatnya begitu.

Dia tertidur pulas dan aku masih menemaninya disini, menghabiskan beberapa batang hingha hidangan yang sudah disiapkan sebelumnya. Tak terasa siang sudah berganti sore, hingga dia terbangun berjalan menghampiriku.

"Sebenarnya aku masih ingin melanjutkannya. Tapi sebentar lagi pembeli tempat ini keburu datang." Dia memainkan ponselnya lalu sejurus kemudian menunjukkan tangkapan layarnya kepadaku. Ya, dia baru saja mentransferiku uang yang cukup mampu kugunakan untuk kebutuhan ku selama berhari-hari. Sungguh pekerjaan sampingan yang menjajikan.

Lalu tante Wina memberikan akses guna keluar masuk tempat sebelah, mengintruksikan agar aku berstirahat disana saja, dan akupun menurutinya. Lagian, aku sudah malas berlama-lama dengannya.

Aku memasuki salah satu kamar yang memang biasa kugunakan ketika menginap disini. Tante Wina termasuk pelanggan teroyalku, pernah aku bertanya bagaimana bila suaminya tau tingkahlakunya diluaran namun dengan entengnya dia menjawab, bahwa suaminyapun juga sering mencicipi banyak gadis bayaran, bahkan tak segan-segan menghadiahi barang mewah kepada para gundiknya. Sungguh pasangan yang serasi.

Alarm dari ponsel membangunkanku, ternyata aku sudah tertidur dikamar ini. Baru saja akan bangun dan beranjak menuju kamar mandi, nampak seorang wanita yang tengah duduk disofa menghadapku.

"Rose?" Aku tak percaya, mengucek kedua mataku. Takut bahwa hanya halusinasi saja namun wanita tersebut malah tersenyum mengejek, meletakkan botol air mineral yang baru saja dia minum ke meja sebelahnya.

"Aku tak menyangka, menemukan sebuah harta karun dibalik lemari kaca sebelah." Ucapnya, kini dia menghampirku, menamatiku dengan seksama. Ya aku tersadar hanya menggunakan celana dalam sisa pergelutanku dengan tante Wina.

"Kamu yang membeli tempat ini?" Dia mengangguk, duduk disebelahku. Tangannya mulai membelai dadaku secara perlahan. Aku meraih tangan yang hanya berputar didadaku lalu kucium punggung tangannya dan dengan cepat berpindah tempat agar wajahku bisa lebih dekat dengannya. "Seperti mimpi saja diketemukan olehmu." Bisikku, baru saja akan kudaratkan bibirku padanya tanganya dengan cepat menghadang wajahku.

"Bau tante Wina sepertinya masih menempel disana." Dia terkekeh begitupula aku.

"Baiklah, mandi bersama sepertinya menyenangkan." Aku berdiri, Rose masih terpaku ditempatnya dengan pandangan yang masih menikmati setiap lekuk tubuhku. Tanpa banyak bicara langsung saja ku bopong tubuhnya untuk ikut bersamaku ke kamar mandi.

"Apakah aku juga harus membayar pertemuan tak sengaja ini?" Kubuka resleting bajunya hingga nampaklah tubuh mulus yang masih melekat dalam ingatanku. Aku mengangguk, ku tarik tangan Rose pelan agar ikut masuk kedalam bath up yang sudah kuisi sebelumnya.

"Kalau saja aku menggratiskannya, apakah kita bisa seperti ini setiap hari?" Rose yang membelakangku dan bersandar pada dadaku terdengar tertawa seolah merasa bahwa ucapanku barusan adalah sebuah lelucon.

Kini giliran tanganku yang menjelajah nakal, kuciumi tengkuk lehernya yang begitu mulus itu. Rambutnya yang panjang, sebagian sudah terkena air hingga aku harus memindahkannya kesebelah sisi agar kegiatanku pada lehernya lebih leluasa.

Sebenarnya aku ingin bertanya tentang lelaki yang bersamanya kemarin sore. Tapi kuurungkan saja, takut merusak suasana yang sangat erostis malam ini.

Suara desahan lirih darinya semakin membuatku bersemangat. Tangannya meraih kepalaku walaupun posisinya membelakangi, menarik pelan hingga ciumanku semakin dalam saling bertautan. Sepertinya aku harus menyiapkan stamina untuk menghabiskan malam ini bersama Rose.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED