Aku baru saja selesai menuntaskan tugas untuk memuaskan hasrat tante Lola, seorang janda kaya yang ditinggal mati suaminya karena penyakit jantung.
"Ikut tante ke Paris yuk sayang " pintanya saat aku mengenakan kembali kemeja menghadap kaca. Kali ini tante memintaku datang langsung keapartemennya padahal biasanya dia akan memesan kamar vip disebuah hotel bintang lima.
Kalau bukan karena uang pasti sudah kubuang jauh wanita ini. Gayanya yang seperti abegeh padahal umurnya sudah lebih dari setengah abad tersebut sangatlah tidak sesuai.
"Jadwalku sangat padat sekali akhir-akhir ini tan." Jawabku malas tapi tetap kupaksakan tersenyum menggoda kearahnya. Tante genit itu kini menghampiriku. Padahal ingin sekali aku segera pergi dari sini. "Aku harus kerja setoran untuk membayar cicilan rumahku " kilahku.
"Padahal sudah sering tante bilang kepadamu untuk tidak melanjutkan pekerjaan ini. Tante akan siap memberikan dan mencukupi semua kebutuhan kamu asalkan mau menuruti semua permintaan tante,cukup mudah bukan?" memang benar tante Lola sering berkata seperti itu. Sebenarnya aku sudah sangat muak melayani tante genit ini. Lihatlah saja sekarang dia sedang berlekuk-lekuk memamerkan tubuhnya dihadapanku mungkin dia pikir aku akan tergoda padahal aku sudah sangat muak sekali.
Tante Lola berjalan menghampiriku dengan hanya mengenakan lingeri, aku berfikir keras merangkai alasan untuk mengakhiri pertemuan kami malam ini hingga tiba-tiba ponselku berbunyi. Sungguh sangat sebuah keberuntungan ku kali ini.
Aku bergerak menuju ponsel dan membukanya. Sebuah pesan yang biasa terkirim kepadaku. sempat kulihat ekspresi tante Lola yang kecewa tapi aku tak peduli.
"Tanteku sayang maafkan aku kali ini Ya. sepertinya aku harus segera pergi. Mungkin sepulangnya dari Paris Tante bisa menghubungiku lagi." aku mengecup kedua pipinya yang sudah sedikit nampak keriputnya. "Jangan cemberut seperti itu, nanti wajahmu yang cantik ini terlihat keriput." Aku menggodanya, dia tersenyum malu-malu. Ya apa boleh buat karena Tugasku memanglah menyenangkan hatinya.
Akhirnya aku bisa terbebas dari Tante Lola. Ketika sampai di mobil mewah hasil jerih payahku mengumpulkan keringat para wanita kaya yang kesepian tersebut. Kadang aku merasa jenuh dengan pekerjaan sampingan ini, ya aku mengatakannya sebuah pekerjaan sampingan karena pekerjaan utamaku adalah seorang karyawan disebuah perusahaan redaksi terkenal dinegara ini. Tapi siapa yang tau bahwa manajer pemasaran ini adalah seorang lelaki bayaran yang melayani pelanggan vip yang tak bisa sembarang dipesan.
Sebuah pesan dari calon pelanggan yang belum pernah kutemui sebelumnya. Fotonya Hanya berupa Ava kosong yang tidak nampak gambar aslinya aku semakin penasaran Siapa orang dibalik akun ini.
Terlebih dahulu aku menghubungi Robby, mucikari yang biasa menghubungkan ku dengan para pelanggan ku aku bertanya siapakah tamu ku selanjutnya ini namun dia hanya menjawab bahwa ini adalah pelanggan baru yang harus diberi servis terbaik.
Pikiran buruk ku berkelana, siapa lagi kalau bukan sosok jelek bertubuh tambun seperti tante Lola. Sebenarnya aku sudah sangat malas tapi apa boleh buat karena sudah terlanjut menyetujui janji temu ini.
Robi mengirimkan alamat hotel yang akan digunakan sebagai tempat eksekusi ku malam ini. Sebuah hotel bintang lima yang biasa dipesan oleh tante Lola. Tempatnya tidak terlalu jauh mungkin 15 menit dari sini.
Ku lajukan mobilku dengan cepat menuju alamat hotel yang sudah dikirimkan Robby, Segera menuju resepsionis untuk sekedar basa-basi padahal dia juga sudah paham maksud kedatanganku karena terlalu seringnya aku datang kemari.
"Sudah menunggu didalam" Ucap gadis yang kutau bernama Lisa. Dia biasa menggodaku namun selalu ku abaikan.
Ku buka kamar mewah itu dengan perasaan malas, tak kulihat siapa-siapa. Kembali keluar melihat nomor yang sudah sesuai lalu kembali lagi masuk kedalam untuk mengecek pelanggan baru tersebut.
"Hallo, permisi." Suara gemericih air dari shower kamar mandi membuatku bernafas lega. Setidaknya aku bisa memastikan bahwa ini bukanlah pesanan fiktif.
Aku menunggu sosok itu dengan duduk disofa yang tak jauh dari kamar mandi. Tak mau membayangkan bagaimana bentuk pelanggan ku malam ini karena takut akan membuat moodku hancur.
Robbi bilang pelanggan ini sungguh spesial, dia memberi bayaran penuh diawal tanpa banyak kemauan kecuali merahasiakan pertemuan kami setelah ini.
Cukup lama hingga sosok wanita keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Aku memandangnya takjub, wanita berbadan putih bersih dengan tubuh ramping dan saat aku melihat wajahnya semakin membuatku terpana. Cantik, hanya satu kata yang bisa terucap menggambarkan sosoknya.
Dia berjalan mendekat, kemudian duduk diranjang yang ada dihadapanku, kami sekarang memang duduk berseberangan. Dia menggerakkan kedua tangannya untuk mengikat rambut yang setengah basah tersebut. Aku menelan saliva melihat pemandangan didepanku ini. Sungguh, tanpa dia membayar pun aku sudah siap melayaninya secara sukarela.
"Ini kali pertamanya aku sekamar bersama pria lain." Ucapnya lalu menghela nafas kasar. "Kamu pasti sudah sangat ahli memuaskan banyak wanita."
Aku mendekat kearahnya lalu duduk disebelahnya. Dia sedikit beringsut dengan menggeser posisi duduknya.
"Kamu ingin memulainya sekarang?" Aku bertanya dengan ikut menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengannya. Mulai membuka kancing dari atas namun tiba-tiba tangannya menarik tanganku memberi isyarat untuk menghentikan gerakan ku. Aku menatapnya dengan tanya yang tak ku sampaikan.
"Aku membayar mu semalaman, Itu artinya masih ada banyak waktu sampai besok pagi."
"Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?" Tanyaku, posisi kita sangat dekat aku bahkan bisa mendengat suara nafasnya yang tidak teratur, sepertinya dia sangat gugup. Wanita ini belum menjawab, hingga aku mengusap pipinya yang sangat halus itu lalu menyibakkan helaian rambutnya yang tak ikut diikat tadi.
"Aku lapar " ucapnya. Aku tertawa mendengar jawabannya. Entah apa maksudnya menyewa ku malam ini. Wanita itu berjalan menuju telepon yang terhubung dengan Customer servis hotel ini. Dia menyebutkan beberapa menu untuk dipesannya.
Aku masih mengamatinya dengan duduk ditepi ranjang. Kali ini dia berjalan menuju meja rias dan mengambil baju yang ada dikursi depannya. Dia melepaskan handuk yang melilitnya hingga nampak dari pantulan kacanya lekuk tubuh yang sangat indah tersebut. Sialan, hasrat ku sebagai lelaki sudah tak bisa ditahan.
Langsung bergegas menghampirinya, merengkuh tubuh tanpa baju tersebut dari belakang. Wanita ini sedikit terkejut dengan tindakanku namun kembali tenang saat aku mulai mengecup tengkuk lehernya yang putih ini.
Ketika tanganku hendak meraba bagian atasnya dia segera menghempasnya pelan. "Sudah kukatakan aku sangat lapar." Dia membalikkan badannya menghadapku, melanjutkan untuk mengenakan kemeja putih tanpa dalaman terlihat transparan sekali. Lagi-lagi aku menelan saliva, seperti ini rasanya dipermainkan wanita.
"Apakah aku harus menunggu pesanan datang?" Dia mengangguk lalu berjalan kembali menaiki ranjang. Mengambil remote televisi dan menyalakannya, kini dia sudah berbaring disana dengan selimut yang dia kenakan menutupi hingga dadanya.
Dia memberiku isyarat untuk ikut berbaring disana dengan menepuk tempat kosong itu. Akupun gegas menghampirinya, memiringkan tubuhku agar leluasa memandanginya.
"Kamu tak ingin bertanya namaku?" Tanyanya dengan pandangan kedepan fokus menatap layar kaca. Aku mengangguk, masih menikmati pemandangan indah didepanku kini. "panggil saja Rose."
"Rose, nama yang sangat indah." Dia hanya tersenyum tipis. "Apakah kamu sudah menikah?" Tanyaku dan dia mengangguk.
"Aku sudah menikah satu tahun lebih."
"Masih pasangan baru. Lalu kenapa kamu malah membooking ku malam ini?" Kini giliran dia yang memiringkan tubuhnya hingga wajah kami berhadapan sangat dekat.
"Dia mengalami disfungsi seksual. Aku sudah menahannya lama." Rose menggigir bibir bawahnya, gerakannya yang reflex membuatku sangat gemas dan ingin segera menerkamnya. "Apakah aku terlihat memalukan?" Dia bertanya dengan raut wajah yang sulit diartikan, aku menggeleng. Tanganku kembali merapikan rambutnya yang sebagian berantakan itu. Rose memejamkan matanya, mungkin menikmati sentuhan ku.
Sepertinya ini kesempatan ku, dengan cepat aku mendekatkan bibirku kebibir Rose, kepalanya langsung kutahan agar dia tak bisa berontak.
Aku sudah berganti posisi diatasnya sekarang menarik kedua tangan Rose keatas. Kali ini Rose mulai mengikuti permainan ini, permainan awal yang sudah mulai panas.
"Sialan." Ketika suara bell kamar berbunyi. Rose terkekeh saja melihatku dengan kasar turun dari ranjang dan bergegas menuju pintu. Nampak pelayan hotel mengantarkan pesanan Rose.
Aku membiarkannya masuk, lalu setelahnya dia keluar lagi saat beberapa menu sudah dia letakkan dimeja. Rose turun dari ranjang kemudian duduk dan mulai mengambil piringnya.
"Kamu tak lapar?" Tanyanya seraya menyuapkan makanan kemulut nya. Aku duduk didekatnya, melepaskan kemeja dan melemparnya entah kemana.
"Hampir saja aku menyantap makan malam ku, tapi pelayan itu sudah mengganggunya." Rose menatapku dan tersenyum lalu menyuapiku dengan sendok yang sama dia pakai tadi.
Rose tetap melanjutkan makannya. Dan akupun juga ikut menyantap hidangan ini karena sepulangnya dari tante Lola aku lupa untuk mengisi perutku.
"Kamu tau, suamiku sangat suka masakanku. Dia akan menghabiskannya tanpa sisa bahkan meminta menu yang sama berhari-hari sampai ku tawarkan menu makanan yang lainnya." Dia bercerita lepas seolah sedang bercengkrama dengan temannya. Aku hanya mendengarkan setiap celotehnya walau tak bisa ku pingkiri ada rasa sesak setiap dia menyebut suaminya itu.
"Aku juga ingin mencicipi masakan mu." Aku menghentikan ceritanya. "Coba masak kan aku makanan yang disukai suamimu itu." Dia hanya tersenyum tak menanggapi .
Menerima wanita cantik sebagai pelangganku bukanlah kali ini saja. Sudah banyak bentuk wanita yang kujelajahi namun baru dengan Rose lah aku mendapati rasa tak ingin melepaskannya. Entahlah, ada hasrat tersendiri sejak bertemu dengannya tadi.
Rose menata kembali bekas makan kami. Sepertinya dia tipe orang yang sangat rapi.
Rose kembali keranjang, berbaring dan memejamkan matanya. Tak habis fikir dengannya, apakah dia sengaja mempermainkanku? Membayarku lalu hanya dibuatnya sebagai tempat bercerita tentang suaminya?
Aku menghela nafas panjang terlebih dahulu lalu melepas celanaku. Dengan cepat menindih Rose yang langsung membuka matanya karena kaget. Tak kupedulikan lagi, langsung kutarik kedua tangannya keatas dan melumat bibirnya. Rose sempat memberontak tapi percuma karena pasti tenagaku lebih kuat ketimbang usahanya.
Setelah cukup lama bermain dengan bibirnya, aku menghentikan untuk kemudian melepas kancing kemeja yang masih dia kenakan. Rose terperanjat saat melihatku yang sudah tak mengenakan pakaian. Rose menutup matanya paksa seolah dia sedang melihat sesuatu yang menakutkan.
Aku menghantam bertubi-tubi tubuh Rose dengan kenikmatan yang sepertinya tak pernah dia dapatkan dari suaminya. Terbukti dengan akhirnya Rose mencapai puncaknya berulang kali.
Setelah pergulatan panjang, akhirnya Rose tertidur pulas dalam pelukanku. Aku masih sibuk memandangi wajah cantik yang terlihat sangat kelelahan itu.
Bila biasanya aku akan bergegas mengakhiri setelah selesai melakukan tugasku namun kali ini aku ingin berlama-lama saja disini bersama Rose.
****
Aku membuka mata karena bunyi ponsel yang kuletakkan dimeja kecil disebelah ranjang. Dengan sedikit kesadaran aku meraih benda pipih itu yang ternyata hanyalah sebuah notif alarm pengingat untuk bertemu dengan Robbi. Namun ketika tersadar disebelahku sudah tak kutemukan sosok Rose.
"Sudah bangun?" Suara yang ternyata tengah berdiri didepan kaca meja rias. Rose sudah nampak rapi dengan mini dress warna merah menyala sangat kontras dengan kulitnya yang putih itu, kembali aku menelan saliva entah untuk kesekian kalinya.
Rose menyisir rambutnya yang sedikit basah. Memasangkan anting ketelinganya dan dilanjutkan mengenakan jam mewah ditangannya.
Kini dia mendekat keranjang, aku mengamati wajah cantiknya yang sudah terpoles makeup tipis.
"Aku sudah memesankan makan untuk sarapanmu nanti." Dia duduk ditepi ranjang membelai kepalaku pelan lalu mengecup keningku. "Terimakasih banyak." Ucapnya lalu bergegas pergi.
"Rose." Dia menghentikan langkah dan menatapku. "Kamu mau pergi?" Dia mengangguk dan tak mengucapkan sepatah katapun. Aku melepas kepergiannya yang kemudian hilang dibalik pintu.
"Woi, gua tunggu dilobby cepetan!" Perintah suara pesan yang Robbi kirim kepadaku. Rasanya sangat sulit menerima kenyataan bahwa hubunganku dengan Rose hanyalah sebatas pemuas dan pelanggannya saja.
Dengan sangat malas akupun segera menyiapkan diri untuk keluar dari kamar ini.
"Betah banget ketemu tamu bening." Goda Robbi yang sudah duduk disebuah sofa lobby hotel ini. "Hari ini ada slot lagi, elu ambil enggak?" Aku mengehmpaskan tubuh untuk ikut duduk disebalahnya, lalu menggeleng.
"Nanti sore ada jadwal ketemu klien." Kilahku, padahal selain itu aku juga merasa malas. Fikiranku masih terfokus pada sosok yang telah menghabiskan malam bersamaku. "Robb, cariin info tentang tamu semalam." Aku berbisik mendekatinya. Robbi memandangku seperti tak percaya.
"Kenapa lu? Naksir?" Tanyanya wajah penuh selidik. Aku mengangguk pelan hingga membuatnya semakin tercekat tak percaya. "Gilaaa elu ya?"
"Sepertinya memang begitu. Kalau dia nyari gandengan lagi langsung aja oper ke gua" aku mengakhiri percakapan ini lalu gegas pergi untuk pulang. Setelah ini aku hanya ingin beritirahat saja.
****
Setelah seharian hanya berdiam diri dirumah Walaupun banyak panggilan dari Robbi tapi aku lebih memilih untuk mengabaikannya saja.
Hari ini jadwalku adalah bertemu seorang klien penting. Kami sepakat bertemu disebuah kafe, biasanya aku akan ditemani Merry, bawahan ku yang biasa mengurusi segala berkenaan dengan pekerjaan.
Merry, gadis berusia 25 tahun yang cukup menggoda untuk dilihat. Dia seringkali berusaha merayuku dan aku berusaha pila untuk menghindari, ya aku tidak suka tipe agresif sepertinya. Tidak ada tantangan.
"Pak, sebentar lagi tamu akan datang." Ucapnya sesampainya aku ditempat temu janji. Dia sudah menyiapkan tempat disudut luar karena memang paham bahwa aku adalah perokok.
Merry mengenakan sebuah rok diatas lututnya menampakkan kakinya yang berjenjang dengan kemeja press badannya yang semakin menunjukkan lekuk tubuhnya. Aku mengamatinya dari atas kebawah dia nampak tersipu malu. Kemudian aku kembali fokus pada laptop yang akan kunyalakan.
Setelah semua siap dan tak lama kemudian tamu klienku datang. Seorang pria setengah tua bersama istrinya, aku tersenyum ketika menyalami istrinya. Sebuah kebetulan yang memang sudah kutebak sebelumnya. Tante Wina, wanita yang pernah menjadi pelangganku dan memang aku yang merayunya untuk membantu men-deal kan proyek ini dan diapun menyanggupinya.
Kami bersikap seprofesional mungkin agar lelaki didepanku kini tak menaruh curiga tentang hubungan istrinya denganku. Obrolan ringan seusai menyampaikan materi. Sebenarnya sangat menjenuhkan. Sesekali kaki tante Wina akan menyenggolku dan pandangan mata genitnya yang memberiku kode. Biarlah yang terpenting hari ini misiku berhasil.
"Rose?" Aku bergumam tak percaya mendapati sosok dibalik kaca yang nampak dari luar. Wanita yang terlihat cantik itu tengah duduk bersama seorang lelaki berwajah oriental. Senyumnya tak henti merekah dan wajahnya begitu ceria sangat berbeda sekali ketika bersamaku.
Jendela yang hanya terlihat dari luar itu mungkin membuatnya tak menyadari kehadiranku. Aku masih mengamatinya, tangan Rose mengait lengan lelaki disebelahnya. Mereka terlihat sangat bahagia, dan aku disini sungguh merasa terbakar.
"Oh iya mas Mario ini sudah menikah belum?" Suara lelaki didepanku membuyarkanku. Kugelengkan kepalaku berusaha melepas senyum. "Masa' iya belum ada calonnya?"
"Iya cowok ganteng, mapan begini masak gak punya pacar." Goda tante Wina dengan mengedipkan sebelah matany, sungguh membuatku mual saja.
"Yah begilah pak, siapa yang mau sama saya." Aku merendah. Tawa terdengar dari meja kami, dan aku sesekali mencuri pandang memandangi Rose bersama lelakinya.
Cukup lama hingga menjelang malam. Akhirnya pasangan didepanku itu pulang juga. Sedari tadi aku sudah menahan mual melihat tingkah tante Wina.
"Mer, biar aku yang kekasir." Ucapku saat sadar Merry akan bergegas mengurusi segala pembayarannya. Aku berjalan kedalam apalagi tujuannya kalau buka ingin melihat Rose.
Kali ini aku sengaja memutar arah melewati pintu sebelah agar Rose menyadari kehadiranku disini. Ketika aku melewati mejanya dia tak sekalipun melihatku dan hanya fokus pada lelakinya tersebut. Yah, mungkin dia adalah suami Rose dilihat dari sikap Rose yang begitu perhatian terhadap lelaki didepannya itu.
Menunggu kasir menghitung billnya aku berdiri menghadap kearah meja Rose. Kali ini akhirnya berhasil, raut wajah Rose tercekat ketika menyadari aku tengah memperhatikannya dengan tersenyum. Hanya sesaat karena secepat kilat dia segera berusaha tak mempedulikanku dan kembali bercengkrama dengan lelaki itu, sialan sekali. Ini kali pertamanya aku diabaikan oleh wanita.
Aku menggerakkan tangan mengepal angin ingin segera meninju siapapun yang ada disini. Kalau tak ingat harga diriku, pastilah sudah kuhampirinya dan menyeretnya ikut pulang bersamaku. Namun kebodohan itu hanya akan membuat semua orang tau tentang profesi rahasiaku.
"Permisi, ini billnya." Ucap gadia dibalik mesin kasir. Aku mengeluarkan kartu debit platinum yang sering dialiri dana besar dari para tante yang puas dengan kerja kerasku.
Kembali aku berjalan keluar dari ruangan ini dan sengaja melewati meja Rose.
"Permisi." Aku berhenti tepat dimejanya, mata Rose melotot kearahku. Dan kuulaskan senyum menggodaku untuknya.
"Alex?" Aku bertanya pada lelaki yang sudah menengok kearahku, dia nampak kebingungan ketika aku mencoba menepuk pundaknya. "Alex teman Kuliah?"
"Permisi?" Ucapnya, pasti dia sangat kebingungan dengan tingkahku ini. Segera mungkin aku merubah raut seolah terkejut karena salah orang.
"Astaga, maafkan saya. Saya kira anda adalah Alex teman kuliah saya." Kuukirkan senyum sesekali memandang Rose yang hanya terdiam disebelahnya. Lelaki itu kemudian tertawa dan berbalas menepuk pundakku. "Sekali lagi maafkan saya, tuan." Ucapku dengan tangan yang ku apitkan didepan dadaku.
Rose nampak mulai tenang dari yang awalnya begitu takut nampak telah menghembuskan nafasnya kasar.
"Tak masalah." Setelah sedikit basa basi akhirnya aku pamit untuk berlalu, ya aku sudah memberi syock terapi pada Rose karena sudah bersikap acuh padaku.
****
Setelah menyelesaikan beberapa bahan untuk project digital promo, mungkin lebih baik aku mengecek ponsel yang khusus kugunakan untuk pekerjaan sampinganku tersebut. Siapa tau Robbi memberikan job yang bisa kuambil saat senggang seperti ini.
Seperti dugaanku, sebuah job dari tante Wina . Padahal baru kemarin aku bertemu dengannya dikafe, tapi aku tak mungkin menolaknya apalagi mengingat bahwa karenanya lah aku bisa mendealkan project besar dari suaminya.
Baiklah, tak harus menunggu lama lagi segera bergegas ke apartemen yang sudah memang biasa kami gunakan untuk bertemu diam-diam.
"Hallo brondong kesayanganku." Ucapnya manja, walaupun aku sangat geli namun tetap kutunjukkan profesionalisme sebagai lelaki yang memang dia bayar untuk memuaskan hasratnya.
"Kenapa barang-barangnya kosong?" Aku sedikit heran kala melihat isi ruangan yang sudah banyak berubah. Barang-barang yang dulu menghiasi sebagian sudah tak nampak lagi.
"Ya, aku sudah menjual apartemen ini pada seseorang. Dia akan datang sebentar lagi." Lanjutnya. Tante Wina sebenarnya membeli 2 apartemen yang bersebelahan, salah satu dari ruangannya memiliki pintu koneksi rahasia, ya pintu tersebut berada dibalik sebuah lemari yang berisi tas mewahnya. Bagaimana aku bisa tau? Karena tante Wina sengaja membuatnya agar perilakunya yang suka menyembunyikan brondong sepertiku tak diketahui oleh suaminya. Aku sering diberikan kunci dari ruangan sebelah kemudian mengendap lewat pintu rahasia tersebut.
"Jadi, apakah ini berarti akan menjadi pertemuan terakhir kita?" Antara sedih dan bahagia, bahagia karena tak akan lagi bertemu tante genit ini dan sedih karena berkurang ladang uangku nantinya.
"Kamu tau kan, anakku yang ada di Milan sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan. Tante harus menemaninya sampai dia bisa terbiasa dengan kebiasaan barunya nanti." Aku mengangguk paham, menujukkan ekspresi seolah merasa sedih akan kepergiannya.
Wanita yang memang sudah berumur ini nampak sudah tak sabar saja ketika aku mulai melepas kemejaku. Dia dengan gesitnya langsung menabrakku hingga tubuhku tersungkur diranjang empuk.
Bibirnya langsung saja dia dekatkan dengan bibirku. Tangannya menggerayang nakal kesegala penjuri tubuhku.
Kalau boleh jujur , sebenarnya aku sangat risih dengan sikapnya yang sangat agresif itu, tapi sebagai penyedia jasa kenikmatan tak bisa berbuat apalagi kecuali hanya menuntaskannya hinga pada kepuasan.
"Kamu memang sangat luar biasa sayang." Ucapnya dengan sisa nafas dan peluh yang bercampur dengan badannya.
"Evrything for you , sayang." terdengar menjijikkan, namun cukup mampu membuatnya melambung ditambah hasrat yang telah sampai pada puncaknya.
Setelah berkali-kali bergulat dengan wanita yang lebih pantas kupanggil ibu itu, tante Wina nampak sudah sangat lemas. Dia telentang berbaring diatas ranjang tanpa sehelai benangpun. Aku bergegas mengambil selimut untuk menutupinya, bukan apa-apa, hanya sedikit kurang nyaman saja melihatnya begitu.
Dia tertidur pulas dan aku masih menemaninya disini, menghabiskan beberapa batang hingha hidangan yang sudah disiapkan sebelumnya. Tak terasa siang sudah berganti sore, hingga dia terbangun berjalan menghampiriku.
"Sebenarnya aku masih ingin melanjutkannya. Tapi sebentar lagi pembeli tempat ini keburu datang." Dia memainkan ponselnya lalu sejurus kemudian menunjukkan tangkapan layarnya kepadaku. Ya, dia baru saja mentransferiku uang yang cukup mampu kugunakan untuk kebutuhan ku selama berhari-hari. Sungguh pekerjaan sampingan yang menjajikan.
Lalu tante Wina memberikan akses guna keluar masuk tempat sebelah, mengintruksikan agar aku berstirahat disana saja, dan akupun menurutinya. Lagian, aku sudah malas berlama-lama dengannya.
Aku memasuki salah satu kamar yang memang biasa kugunakan ketika menginap disini. Tante Wina termasuk pelanggan teroyalku, pernah aku bertanya bagaimana bila suaminya tau tingkahlakunya diluaran namun dengan entengnya dia menjawab, bahwa suaminyapun juga sering mencicipi banyak gadis bayaran, bahkan tak segan-segan menghadiahi barang mewah kepada para gundiknya. Sungguh pasangan yang serasi.
Alarm dari ponsel membangunkanku, ternyata aku sudah tertidur dikamar ini. Baru saja akan bangun dan beranjak menuju kamar mandi, nampak seorang wanita yang tengah duduk disofa menghadapku.
"Rose?" Aku tak percaya, mengucek kedua mataku. Takut bahwa hanya halusinasi saja namun wanita tersebut malah tersenyum mengejek, meletakkan botol air mineral yang baru saja dia minum ke meja sebelahnya.
"Aku tak menyangka, menemukan sebuah harta karun dibalik lemari kaca sebelah." Ucapnya, kini dia menghampirku, menamatiku dengan seksama. Ya aku tersadar hanya menggunakan celana dalam sisa pergelutanku dengan tante Wina.
"Kamu yang membeli tempat ini?" Dia mengangguk, duduk disebelahku. Tangannya mulai membelai dadaku secara perlahan. Aku meraih tangan yang hanya berputar didadaku lalu kucium punggung tangannya dan dengan cepat berpindah tempat agar wajahku bisa lebih dekat dengannya. "Seperti mimpi saja diketemukan olehmu." Bisikku, baru saja akan kudaratkan bibirku padanya tanganya dengan cepat menghadang wajahku.
"Bau tante Wina sepertinya masih menempel disana." Dia terkekeh begitupula aku.
"Baiklah, mandi bersama sepertinya menyenangkan." Aku berdiri, Rose masih terpaku ditempatnya dengan pandangan yang masih menikmati setiap lekuk tubuhku. Tanpa banyak bicara langsung saja ku bopong tubuhnya untuk ikut bersamaku ke kamar mandi.
"Apakah aku juga harus membayar pertemuan tak sengaja ini?" Kubuka resleting bajunya hingga nampaklah tubuh mulus yang masih melekat dalam ingatanku. Aku mengangguk, ku tarik tangan Rose pelan agar ikut masuk kedalam bath up yang sudah kuisi sebelumnya.
"Kalau saja aku menggratiskannya, apakah kita bisa seperti ini setiap hari?" Rose yang membelakangku dan bersandar pada dadaku terdengar tertawa seolah merasa bahwa ucapanku barusan adalah sebuah lelucon.
Kini giliran tanganku yang menjelajah nakal, kuciumi tengkuk lehernya yang begitu mulus itu. Rambutnya yang panjang, sebagian sudah terkena air hingga aku harus memindahkannya kesebelah sisi agar kegiatanku pada lehernya lebih leluasa.
Sebenarnya aku ingin bertanya tentang lelaki yang bersamanya kemarin sore. Tapi kuurungkan saja, takut merusak suasana yang sangat erostis malam ini.
Suara desahan lirih darinya semakin membuatku bersemangat. Tangannya meraih kepalaku walaupun posisinya membelakangi, menarik pelan hingga ciumanku semakin dalam saling bertautan. Sepertinya aku harus menyiapkan stamina untuk menghabiskan malam ini bersama Rose.