Bab 1

Suara tapakan high heels putih bertumit rendah yang melangkah dengan mantap menarik perhatian para pegawai Lusamo Corp. Dress putih polos dan rambut yang dikuncir miring membuat kesan polos keluar dari gadis yang masih berusia 21 tahun itu.

Semua orang diperusahaan tersebut sudah mengenal sosok gadis yang menarik perhatian mereka, Alana Claira Dirgantara. Putri keluarga Dirgantara yang terkenal sebagai gadis lugu dan introvert.

“Alana Claira ada di sini!” bisik seorang pegawai kepada temannya yang duduk di meja sebelahnya.

“Beneran? Kenapa dia datang ke sini?” sahut temannya dengan rasa penasaran yang sama.

“Loh kalian gak tau? Dia itu tunangan Tuan Morgan”

“Hah? Sejak kapan?”

“Kalau gak salah sih udah lama mereka dijodohin”

Suaranya menyelinap di antara bisikan-bisikan di lobi perusahaan yang penuh spekulasi. Kabar tentang Alana Claira Dirgantara sebagai tunangan Tuan Morgan segera menyebar ke seluruh perusahaan.

Sosok Alana menghilang setelah pintu lift tertutup meninggalkan tanya dibenak mereka. Alana menghela nafas lelah. Nama Dirgantara yang ada di belakang namanya seolah membawa beban tersendiri namun disisi lain mengingat apa tujuannya kemari membuat senyum Alana melebar.

Dengan semangat yang membara, Alana memandang dirinya sendiri melalui refleksi di dinding lift.

"Semangat Alana, tinggal sedikit lagi. Sedikit lagi sampai kamu bisa memutuskan pertunangan sialan ini." Tatapannya penuh dengan tekad untuk mengakhiri pertunangan yang telah memberatkan hatinya. Suara perempuan tangguh itu terdengar memotivasi dirinya sendiri

Ding!

Pintu lift terbuka dengan lembut, membuka jalan untuk Alana keluar dari ruang keheningan yang seolah menjadi saksi bisu sisi tersembunyi yang Alana miliki

“Nona Dirgantara. Ada yang bisa saya bantu?” Alana menatap pria yang menyapanya atau mungkin menghalangi dirinya agar tidak masuk ke dalam ruangan dengan tulisan wakil direktur dibagian depannya itu.

“Aku mau bertemu Morgan” Ucap Alana dengan suara lembutnya

Morgan Lusamo adalah tunangannya. Lebih tepatnya pria yang dijodohkan dengannya atas paksaan sang ibu tiri. Morgan adalah putra kedua dari pasangan Adam Jonson Lusamo dan Mirabele, keluarga mereka memiliki perusahaan yang mengelola minyak dan batu bara. Namun hak waris diserahkan pada putra pertama mereka sedangkan Morgan membangun perusahaan entertain-nya sendiri

“Sekarang Tuan sedang sibuk nona” Tolak Riki, asisten Morgan

“Oh benarkah? jika dia sibuk aku bisa menunggunya kok.” Ucap Alana hendak membuka pintu sebelum tangan Riki menahannya.

“Maaf nona, tapi Tuan berpesan jika beliau tidak bisa diganggu karena sedang mengadakan meeting secara online dengan perwakilan Canada” Lagi, alasan klasik yang biasa Alana dapatkan dari asisten Morgan itu.

“Aku tidak mengganggu kok, sungguh. Aku cuma merindukan tunanganku”

“Tapi nona-“

Bugh

Alana tersenyum tipis lalu menendang tulang kering Riki, membuat pria itu meringis hingga pegangannya ditangan Alana terlepaskan

“Maaf yaa” Ucap Alana lalu dengan cepat Alana membuka pintu dan memasang ekpresi terkejut.

“Astaga! Apa yang kalian lakukan?!” Teriak Alana dengan tangan yang menutup mulutnya

Morgan yang sedang berciuman panas dengan seorang wanita dibuat terkejut oleh kedatangan Alana

“Ana… ini tidak seperti yang kau lihat sayang” ucap Morgan, pria itu membenarkan pakaiannya yang berantakan lalu menghampiri Alana

Alana bergerak mundur, air matanya menetes, dia menatap Morgan dengan tatapan kecewa “Asistenmu bilang kamu sedang meeting tapi kamu justru sedang bercumbu dengan seorang wanita. Dia..? Dia sekertaris barumu? Jadi ini alasan kamu butuh sekertaris wanita Morgan?” Ucap Alana dengan lirih, dia menepis tangan Morgan yang hendak menyentuhnya

“Alana ini.. ini salah paham” Ucap Morgan nampak terbata

“Morgan” Suara mendayu memanggil nama Morgan membuat Alana menoleh. Dibelakang mereka sang sekertaris berjalan mendekat dan mendekap Morgan dengan kuat.

“Jadi dia tunanganmu, pantas saja kau tidak puas dengannya” Ucap Melinda, sekertaris baru Morgan yang menatap Alana dengan tatapan menilai

"Aku sudah melihatnya sendiri Morgan, kamu selingkuh dariku! Aku akan bilang dengan papa agar pertunangan kita batal!”

Rahang Morgan mengetat “Kau pikir papamu akan setuju Alana?” Tanya Morgan dengan menantang

“Tentu saja dia setuju!” Jawab Alana dengan tegas

Morgan terkekeh “Kau terlalu polos Alana. Pertunangan kita tidak akan pernah batal karena jika itu terjadi maka kerja sama kedua perusahaan akan hancur Alana”

“Dasar jahat! Lihat saja apa yang akan terjadi!" ucap Alana di antara isak tangisnya. Dia berbalik dan berjalan menuju lift dengan langkah tergesa-gesa, mencoba mememerankan kekasih yang tersakiti.

“ALANA!” panggilan Morgan meluncur dari bibirnya, tetapi Alana tak menoleh, tak merespon. Gadis itu menatap Morgan dengan tatapan terluka dari dalam lift yang mulai tertutup, memisahkan mereka seperti tembok yang tak terlihat.

Di dalam lift, ekspresi Alana berubah datar. Dia menghela napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Ckk.. merepotkan sekali" gumamnya sambil mengusap air matanya dengan kasar. Tangannya merogoh tas mencari sesuatu disana.

Ketika tangan Alana meraih handphonenya, dia menekan nomor kontak yang sudah lama disimpan dengan erat di dalam benaknya, sebuah kontak dengan nama ‘Mic’ disana

“Hallo Ana?” Suara seorang pria terdengar menyapa Alana

“Hallo Mic. Berikan aku rekaman CCTV perbuatan bejat Morgan dan Melinda. Oiya jangan lupa buatkan juga berita panas dengan headline putri lugu keluarga Dirgantara yang dikhianati tunangannya” Ucap Alana

Mic, yang merupakan seorang wartawan dan jurnalis handal, terkekeh mendengar permintaan Alana. "Kau berhasil juga dengan rencananya" katanya.

"Hmm.. tapi uangku keluar banyak untuk membayar Melinda" ucap Alana sambil mendengus.

Setelah beberapa detik tertawa, Mic berkata "Setidaknya itu setimpal dengan keinginanmu."

"Ya, semoga papa mau menerima alasan ini. Aku lelah dijodohkan untuk bisnisnya terus. Apalagi jika itu saran dari medusa" ucap Alana dengan nada kesal.

Mic mengangguk setuju "Aku paham, Ana. Semoga dengan langkah ini, kau bisa mendapatkan kebebasanmu. Untuk berita aku akan publis sebelum jam 5” Ucap Mic

“Oke, terimakasih kak” Ucap Alana

“Sama-sama adik pungut” Ucap Mic yang membuat Alana mendengus lalu mematikan panggilan telponnya.

Alana menatap layar ponselnya, memikirkan langkah-langkah berikutnya. Dia tahu bahwa keputusannya untuk mengungkapkan skandal ini akan membawa konsekuensi, tetapi juga memberinya kebebasan yang begitu dia dambakan.

“Harusnya tadi aku menamparnya saja” Ucap Alana sambil menatap telapak tangannya sendiri.

Bab 2

Brak!

Suara gebrakan meja menggema di ruang tamu, menciptakan atmosfer tegang yang terasa hingga ke sudut-sudut ruangan. Suara Andre, papa Alana, menggelegar bersamaan dengan ledakan emosi yang menyertainya.

"Apa-apaan ini, Alana?! Berita apa ini!" teriak Andre, wajahnya merah padam ketika melihat layar televisi yang menayangkan skandal pertunangan putrinya.

Alana menjawab dengan penuh ketegasan "Aku ingin pertunanganku dan Morgan batal, Pa!"

Pandangan tajam Andre menusuk Alana, seolah mempertanyakan keberanian anak perempuannya untuk membuat keputusan besar ini. Ruang tamu yang sebelumnya terasa begitu nyaman, kini dipenuhi dengan ketegangan.

"Tapi kau juga tidak bisa memperlakukan Morgan seperti ini, Alana. Kamu bisa membuat kerja sama keluarga Dirgantara dan Lusamo batal” suara Yulina, ibu tirinya, terdengar lembut namun penuh dengan ketidaksetujuan. Yulina duduk di samping Andre, sementara Linda, putri kesayangan mereka yang berusia 16 tahun memperhatikan situasi dengan ekspresi heran.

“Memangnya kak Ana ngapain sampai papa bentak kak Ana?” Tanya Linda dengan gampangnya

“Gak papa sayang. Kakakmu ini memang perlu diberi nasihat sedikit” Jawab Andre dengan nada lembut, berbeda sekali saat dia berbicara dengan Alana.

Alana menggigit bibirnya, mencoba menahan amarahnya "Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang tidak setia, Pa. Aku hanya mencari kebahagiaanku sendiri!"

Yulina menatap Alana dengan tatapan penuh kekecewaan namun dibalik itu dia tersenyum puas "Ini bukan hanya soal dirimu, Alana. Ini melibatkan masa depan keluarga dan perusahaan."

“Alana hentikan ini semua. Papa tau jika berita ini perbuatan teman priamu itu” ucap Andre

Alana merasa tertekan. Dia menghela napas dalam dan berkata, "Aku memahami itu, Pa. Tapi apakah hidupku harus dikorbankan demi kesepakatan bisnis? Aku ingin hidup dengan pilihan yang aku buat sendiri."

“Alana!” Suara Andre kembali terdengar membuat Linda tersentak. Andre yang sadar akan hal itu menghela napas lalu menatap Linda “Linda sayang, ke kamar dulu ya, papa harus ngomong sama Alana dulu”

“tapi Pa-”

“Linda, ikuti kata Papa” Ucap Yulina

“Oke ma” Jawab Linda. Gadis itu menatap Alana sekilas lalu melangkah menapaki tangga menuju kamarnya.

‘CK.. manis sekali keluarga cemara didepanku ini’ Monolog Alana dengan berdecih.

“Alana” Andre memanggil dengan tegas “Jangan kekanakan. Datangi Morgan dan minta maaf padanya!” Suara Andre kembali terdengar memenuhi ruang tamu, keras dan memerintah. Perintah papa-nya membuat tangan Alana terkepal, mencerminkan kekesalan yang memuncak dalam dirinya.

"Kenapa aku yang harus minta maaf, Pa? Yang salah adalah Morgan. Dia yang menyelingkuhiku!" ucap Alana dengan lirih, mata yang penuh dengan air mata menatap sang papa yang berekspresi keras.

"Kau melakukan ini lagi, Alana. Bisakah kau bersikap dewasa. Kalian bisa bicarakannya baik-baik. Itu hanyalah ciuman" ucap Yulina, ibu tirinya, mencoba meredakan ketegangan di ruangan.

"Hanya ciuman, ibu bilang?" tanya Alana tak percaya.

"Alana, Morgan juga masih muda. Hubungan kalian belum terikat sekuat itu" Yulina melanjutkan argumennya. "Wajah jika anak muda sepertinya masih suka bermain"

Alana berdecih "Oh, sepertinya Ibu tidak keberatan ya jika tunangan Ibu mencium wanita lain. Sungguh lapang sekali hati ibu tiriku ini" ucap Alana dengan senyum tipis. "Atau mungkin karena Ibu juga suka mencium pria yang menjadi pasangan orang lain-"

PLAK! Deg… rasanya jantung Alana berhenti berdetak beberapa saat.

Rasa panas dipipinya menyebar begitu cepat, terasa seperti api menyala-nyala. Suara tamparan itu, keras dan tajam, menggegerkan seluruh ruangan.

“Al..ana” panggil Andre dengan terbata. Dia bahkan tidak sadar jika tangan kasarnya sudah menampar putri kandungnya sendiri.

“Papa menamparku?” tanya Alana nyaris seperti bisikan, matanya membelalak dalam keheranan. “Papa tega menamparku? Putri kandung papa sendiri?”

“Kau menghina ibu mu, Alana” ucap Andre sambil menghela napas pelan. Wajahnya terlihat tegang, mencerminkan kekecewaan dan amarah yang bergelombang di dalam dirinya.

“Papa menamparku hanya karena itu? lalu kenapa dulu papa tidak pernah menampar dia yang memfitnah Mama?” Alana menujuk Yulina dengan tegas

“Alana!”

“Mas… sudah… aku tidak apa-apa” suara Yulina menyadarkan mereka.

Medusa itu benar-benar memerankan korban yang terluka, meski dia yang memulai perang kata-kata, pikir Alana

Alana menahan rasa sakit di pipinya, menyadari bahwa kata-katanya telah menyulut ledakan emosi di dalam keluarganya. Meskipun keinginannya untuk membela diri masih kuat, tapi dia tahu bahwa situasi ini tak lagi bisa dia kendalikan. Sebuah jeda tegang menggantikan suasananya yang sebelumnya riuh.

“Kamu berubah Alana” ucap Andre “Putri papa bukan anak pembangkang seperti ini” Ucap Andre

“Memangnya sejak awal papa memperhatikan putri papa yang satu ini? Bukannya yang papa urus selalu Linda?” Lirih Alana.

Ditengah-tengah kekacauan itu, Alana bisa melihat Yulina yang menatapnya dengan senyum mengejek. “Mas, kau sudah keterlaluan. Alana memang salah tapi menamparnya juga tidak baik. Mungkin memang kita yang kurang memperhatikan Alana” suara Yulina yang dibuat selembut mungkin membuat Alana merasa mual.

“Dia memang perlu diberi pelajaran, sayang. Semakin lama sifatnya semakin liar” ucap Andre, membuat Alana tidak bisa berkata-kata.

Andre menatap Alana dengan tegas "Bicarakanlah dengan Morgan, Alana. Temui dia dan selesaikan masalah ini dengan dewasa."

“Aku benci Papa” ucap Alana dengan air mata yang mengalir deras. Gadis itu bergerak meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.

Andre melihat kepergian Alana dengan perasaan bercampur, menyadari bahwa langkah-langkah yang diambilnya membuat putrinya semakin jauh darinya.

Di dalam kamar, Alana mencuci wajahnya. Matanya agak membengkak karena banyak menangis hari ini “Hah…” helaan napas kasar terdengar dari bibir mungil Alana. “Medusa itu benar-benar mempengaruhi papa” gumam Alana.

Alana duduk di tepi ranjang, merenung tentang keputusasaan yang tengah melandanya. Dia tahu bahwa perubahan suasana hati Andre disebabkan oleh peran Yulina, ibu tirinya yang seringkali menjadi sumber konflik dalam keluarga mereka.

“Papa, mengapa kau begitu mudah dipengaruhi olehnya?” Alana berbisik, merenungkan dinamika keluarganya yang semakin rumit. Matanya menatap figura foto yang menampilkan potret keluarga saat mama-nya masih hidup. Gambar itu membawa kenangan manis yang kini semakin terasa jauh.

Ponsel di meja riasnya berdering, menarik perhatian Alana. Dia mengambilnya dan melihat pesan dari Mic "Alana, kita butuh klarifikasi atas skandal ini."

Seolah ada harapan baru dalam pemutusan pertunangan itu, senyum Alana terbit dengan cerahnya.

“Aku akan segera siap. Berikan waktu dan lokasi konfrensi itu. Aku mengandalkanmu Mic” balas Alana pada pesan Mic. Dia merasa diberi kesempatan untuk menyelesaikan skandal tersebut dengan cara yang benar. Wajahnya yang tadinya penuh keraguan kini dipenuhi dengan tekad untuk menghadapi situasi sulit yang menantangnya

Bab 3

Dentuman suara musik di sebuah klub malam begitu memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengar, namun pengecualian bagi para pengunjung yang sedang berada di lantai dansa. Mereka menari dengan senangnya, menikmati tiap hentakan yang dimainkan oleh Disc Jockey.

Alana duduk sambil memainkan gelas sloki di tangannya, memutar minuman beralkohol yang ada di dalam gelas tersebut. Ini adalah pertama kalinya selama 21 tahun hidup, Alana masuk ke dalam sebuah klub malam, lebih tepatnya club malam yang seolah didesain khusus bagi para pembisnis. Cahaya sorot lampu yang berkilauan menggambarkan suasana yang energetik di sekitarnya.

Bartender yang cukup tampan menatap gadis berwajah cantik dengan rambut hitam panjang yang tergerai indah.

"Anda ingin minuman lain, nona?" tanya sang bartender dengan sedikit menggoda. Dia jelas tau siapa gadis didepannya saat ini. Alana Claira Dirgantara, gadis yang menghebohkan media beberapa jam lalu.

“Minuman untuk mengalihkan pikiran mungkin” tawarnya

Alana menatap sang Bartender. Wajah pria itu cukup rupawan. Alana bisa menebak jika sang bartender tampak seperti berdarah campuran. Bahasa Indonesianya fasih, namun wajah pria itu terkesan seperti orang luar. Rambut blonde dan kulit putihnya mencerminkan itu.

“Tidak terima kasih. Aku sudah punya” Tolak Alana sambil mengangkat sedikit gelas miliknya

“Aku Malvin” Ucapnya mengenalkan diri “Ingin mencoba sesuatu yang berbeda?" Tanya Malvin. Sorot mata Alana bertemu dengan sorot mata sang bartender. Saat itu, percakapan mereka pun mulai mengalir.

“Ini pertama kalinya Anda datang ke sini?" tanya sang bartender sambil menatap Alana dengan rasa ingin tahu.

Alana mengangguk "Ya benar, aku mencoba menghilangkan stress dan kurasa kau juga sudah tau penyebab stresku itu." Ucap Alana dengan senyum miring

Malvin tertawa dan me-lap sebuah gelas kaca, kemudian meletakkannya di depan Alana. Dengan keahlian yang terlihat sudah biasa, Malvin mengisi gelas itu dengan es batu berbentuk kristal bulat dan menuangkan cairan berwarna kuning emas yang berkilauan di dalamnya.

“Coba ini, ku pastikan rasa stresmu akan hilang” ujar Malvin dengan senyuman misterius.

“Sampanye… Dengan kadar alcohol cukup tinggi, kau pikir aku bodoh?” Alana merespon dengan sedikit skeptis membuat Malvin tertawa.

Tiba-tiba, seorang pria tampan muncul dan duduk di meja yang sama dengan Alana. Mereka terpisahkan oleh dua kursi di sebelah kanan Alana. Pria itu tampak elegan dengan setelan kemeja hitam dengan dua kancing teratas yang dibiarkan menganga.

“Apa yang anda butuhkan, Mr. Kingston” ucap sang bartender dalam bahasa Spanyol. Alana tahu sedikit bagaimana logat dan aksen bahasa Spanyol itu karena dia pernah mempelajarinya dulu.

“Martini” Suara serak dan seksi itu terdengar.

Bartender segera mulai menyiapkan martini dengan cekatan. Alana tak bisa menghindari pandangannya yang terus tertuju pada tuan muda Kingston.

Alesio Theodore Kingston. Pebisnis nomor satu dunia yang mengambil alih maskapai penerbangan Kingston Airlines diusianya yang menginjak 26 tahun. Pria itu tampak seolah tahu bagaimana cara berada di pusat perhatian.

Sebuah keberutungan baginya bisa bertemu dengan pria itu, bahkan bertatap mata dengan netra biru gelap itu. Katanya siapapun yang menatap netra itu pasti akan jatuh cinta pada sang ladykiller.

Ketika martini telah disajikan di depan Alesio, netra biru itu melirik Alana.

“Ingin mencoba ini, senorita?” Alana tersentak, pria itu sedang berbicara dengannya dalam bahasa inggris.

Alana tersenyum dan mengangkat gelasnya, seolah melakukan tos dari jauh. “Terima kasih, tapi saya cukup puas dengan apa yang saya pesan.”

Alesio tersenyum tipis lalu menyesap minumannya, begitupun dengan Alana. Lalu otaknya seperti mendapatkan sebuah peluang besar tentang cara pembatalan pertunangan.

Alana mengambil handphonenya dan mengirimkan pesan pada Mic. Jarinya bergerak dengan cepat, menekan huruf-huruf pada layar keyboardnya lalu senyum lebar tercipta dibibirnya tanpa menyadari jika sejak tadi sepasang mata biru itu memperhatikannya.

Selesai dengan handphonenya, Alana kembali meraih gelas kaca dan menyesap isinya. Matanya melirik Alesio yang masih minum dengan elegannya.

Tangan Alana terulur hendak menyentuh lengan Alesio namun pergerakannya tertahan karena Alesio yang menggenggam tangannya “Ah, maaf, sir. Ada debu di lengan kemejamu” ucap Alana dengan lembut lalu dia menatap ke pojok ruangan. Mic berdiri di sana dengan sebuah kamera yang tersembunyi, lalu memberikan jempol pada Alana.

Selama hampir satu jam, Alana terus diam menunggu pergerakan Alesio. Barulah ketika pria itu nampak membayar tagihan, Alana langsung menghubungi Mic lagi.

Alesio berjalan keluar dari klub, dan Alana mengikuti di belakangnya. Begitu benar-benar berada di pintu keluar, Alana memanggil pria itu.

“Permisi, Mr. Kingston.”

Alesio berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan tatapan tajamnya. “Ada apa? Ingin tidur denganku?” tanyanya tanpa memfilter ucapannya.

Awalnya Alesio kira Alana adalah penguntitnya, seperti yang kebanyakan wanita lakukan bila tanpa sengaja berpapasan dengannya. bahkan mereka tidak segan-segan mengajak Alesio ke hotel maupun apartemen didekat sana.

Alana menyusun senyum tipis di wajahnya. “Aku hanya ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Terima kasih atas malam yang menyenangkan.”

Ucapan Alana membuat kening Alesio mengkerut. Dengan mantap, Alana melangkah lebih dekat ke Alesio. Alana tersenyum simpul, tatapan keduanya bertemu, tingginya hanya sebatas dada pria itu, agak menyulitkan namun juga menguntungkan Alana….

Secara tiba-tiba Alana menarik kerah Alesio, membuat kepala pria itu menunduk dan mencium bibirnya. Alana melumat bibir tebal itu dengan kaku, memulai sebuah aksi nekat di tengah situasi yang semakin ramai. Keduanya terperangkap dalam momen intens, seolah dunia di sekitar mereka lenyap.

Pancaran flash kamera menjadi saksi bisu dari aksi nekat Alana. Suara deru mesin kamera dan sorakan dari para pengunjung club yang akan keluar seakan tereduksi oleh keintiman yang tercipta di antara dua jiwa yang bertemu di pintu keluar club itu.

Beberapa saat kemudian Alana melepaskan ciumannya dan menunduk “Maafkan aku” gumamnya pelan namun masih bisa didengar Alesio.

“Aku baru saja diselingkuhi dan menemukan pengganti tapi kau justru ingin membuangku! Tega sekali kau Mr Kingston! Kau menggodaku 1 jam lalu dan membuatku mencintaimu dengan cepat lalu sekarang kau juga mencampakanku!!” Alana berteriak histeris.

Terdengar bisikan-bisikan dan sorakan dari beberapa pengunjung yang menyaksikan aksi itu. Pada saat itu Alana tersenyum tipis, menyadari bahwa momen itu telah menjadi obyek perbincangan. Alana melirik para wartawan yang dia tau sebagai rekan Mic.

Alana yakin jika dirinya akan menjadi headline berita keesokan harinya dan itulah yang Alana inginkan sekarang.

Alana sempat melirik Alesio yang nampak bingung.

Tentu saja Alana yakin pria itu bingung dengan apa yang terjadi karena Alana menggunakan bahasa Indonesia yang tidak Alesio pahami.

Baru saja Alana hendak berbalik dan meninggalkan tempat itu, Tangan kiri Alesio dengan penuh kepastian melingkar di pinggang Alana. Tangan kanannya memegang dagu Alana, mendongakan wajah itu dan menciumnya.

“Maaf, aku tidak akan mencampakanmu” Ucap Alesio dengan seringaian yang membuat mata Alana membola.

“HELL!! DIA PAHAM YANG KUUCAPKAN!” Batin Alana berteriak keras, perasaan malu menerpa dirinya dengan sangat kuat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED