"Ah... Ini enak sayang."
"Lebih cepat lagi, ah..."
Sayup-sayup terdengar suara desahan hingga keluar.
Perasaannya mulai tak karuan, dengan cepat membuka pintu apartemen dengan sekaligus.
"Andre! Rara!" teriaknya dengan nada marah.
"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?!"
Arsana Putri membekap mulutnya terkejut, tatkala melihat Andre dan Rara. Arsana benar-benar tak menyangka dengan ulah mereka. Ia begitu shock melihat apa yang terjadi di depannya, mereka berdua sedang memadu kasih di atas ranjang apartemen milik Andre Wiranto, tunangannya.
Seketika, Andre yang terkejut langsung menyingkirkan tubuh Rara kesamping ranjang dengan kasar yang sedari tadi bergerilya dan bergoyang di atas tubuhnya.
Andre segera memakai handuk kimono yang ada di atas nakas dengan tergesa berjalan mendekati Arsana yang masih berdiri diambang pintu.
"Dasar pengkhianat!" geram Arsana.
"Arsana, ini tidak seperti yang kamu lihat!" ujar Andre seraya menarik tangan Arsana yang hendak pergi.
"Kau kira aku buta, hah?! Kita ini sudah tunangan, Andre, sebentar lagi kita akan menikah!" teriak Arsana dengan mata yang berkaca-kaca, tubuhnya gemetar menahan kedua kakinya agar tetap kuat melihat apa yang tey di depan.
Arsana ingin sekali menjatuhkan tubuhnya tetapi sayangnya sangat sulit.
"Arsana, lebih baik kamu bergabung saja dengan kami. Ayo!" ajak Rara tanpa merasa berdosa dengan senyum tipis dibibirnya.
"Diam kamu, Rara!" Andre menatap tajam sahabat dari tunangannya itu.
"Kalian berdua memang menjijikkan!"
Arsana mengepalkan tangannya yang berkeringat, air matanya sudah tak bisa tertahankan lagi, tetapi dia tak ingin menunjukkan rasa sedih itu di hadapan dua orang pengkhianat.
"Aku hanya menyalurkan syahwatku saja karena kamu tak bersedia melakukannya denganku, jadi, aku menjadikan Rara sebagai alat pemuas nafsuku sampai kita berdua resmi menikah," ucap Andre mencoba menjelaskan kenapa semua itu terjadi, saat Arsana sudah turun satu tangga dari sana.
"Alasanmu membuatku ingin muntah, Andre. Dasar munafik!" desis Arsana memicingkan matanya.
Plak!
Gadis itu menampar wajah Andre, membuat lelaki itu memegang pipinya yang terasa panas.
"Aku tidak mencintainya, aku bersumpah! Arsana, bahkan saat melakukannya aku selalu membayangkan wajahmu!" ucap Andre lagi membuat Arsana menampar kembali tunangannya itu.
Arsana benar-benar merasa jijik dengan pengakuan Andre.
Melihat Andre--lelaki yang amat Rara cintai sedari dulu ditampar oleh Arsana, dia langsung meraih handuk kimono yang lain lalu maju dan langsung menampar Arsana juga.
"Bahkan kamu lebih membela lelaki ini daripada aku, sahabatmu!" pekik Arsana,
"Aku mencintainya!" ucap Rara dengan tegas.
"Tapi aku tidak mencintaimu, Rara. Kita sudah sepakat melakukan ini semua atas dasar kebutuhan saja, bukan karena cinta."
"Terserah kalian saja! Kalian berdua memang pantas, sama-sama manusia menjijikkan!"
Arsana menghempas tangan Andre dan mencoba berlari keluar apartemen, di ikuti
Mendengar pernyataan Andrr, Rara berteriak frustasi karena kesal cintanya tidak juga dibalas oleh Andre, padahal dia sudah merelakan seluruh tubuhnya dijamah dan digauli oleh lelaki itu. Dengan hati yang dipenuhi amarah, Rara berpikir jika dirinya harus mendapatkan Andre dengan cara melenyapkan Arsana saja.
Rara mengejar Arsana sampai di ujung tangga, Rara menarik tangan Arsana lalu berkata.
"Arsana, Andre adalah milikku dan kamu tidak berhak bersamanya bahkan kamu juga tidak berhak berada di dunia ini karena kamu hanya anak haram!" pekik Rara seraya mendorong Arsana hingga terjatuh dan berguling-guling di tangga.
"Arsana! Tidaaak!" teriak Andre, namun, semua sudah terlambat. Arsana sudah terkapar di lantai bawah.
Suara teriakan itu tiba-tiba berganti, tatkala Arsana merasakan tendangan di tubuhnya. Arsana membuka matanya dan mendapati sang ayah, Wijaya Kusuma, sedang berdiri di hadapannya yang sudah terkapar di lantai bawah ranjang.
"Bangun sialan!" ucap Wijaya dengan kaki yang terus menendang Arsana di lantai.
"Ada apa, Ayah?" tanyanya dengan suara serak dan rambut berantakan sebab gadis itu baru saja bangun tidur.
"Masih bertanya ada apa? Memangnya kamu tidak sadar kalau kamu berteriak-teriak seperti orang gila di pagi buta sampai terdengar ke luar, hah?!" bentak Wijaya pada putrinya.
"Aku ... aku terjatuh dari tangga karena didorong Rara, aku tidak menyangka dia berselingkuh dengan Andre. Apa aku sudah mati sekarang?" ujar Arsana langsung panik memegangi kepalanya yang masih pusing.
"Apa kamu sudah tidak waras? Kamu jatuh dari ranjang, bukan dari tangga, Bodoh! Sekarang mandilah, kamu harus bersiap menemui seseorang!" titah Wijaya.
Seketika Arsana menyadari jika tadi dirinya hanya bermimpi. Dia menatap sang ayah dengan berjuta pertanyaan.
"Menemui siapa, Ayah?" tanya Arsana menautkan alisnya.
"Tuan Zayver Megantara," jawab Wijaya.
"Siapa dia?" tanya Arsana penasaran, karena ini pertama kalinya Arsana mendengar nama itu.
"Suamimu!" balas sang ayah membuat Arsana membelalakkan matanya.
"Apa?!"
Mimpi buruk apalagi ini?
Arsana segera beranjak kedalam toilet sebelum berbicara dengan ayahnya lebih lanjut.
***
Arsana Putri, kini terlihat sudah rapi setelah mandi dan membersihkan diri dari mimpi buruk yang menyambangi tidurnya. Kini, dia mesti membersihkan pikirannya juga karena disambangi mimpi buruk di dunia nyata. Bagaimana bisa, baru saja bangun tidur dirinya sudah sah menjadi istri orang yang sama sekali belum pernah dia temui?
"Semalam ayah kalah main judi dan itu menyebabkan hutang ayah menumpuk pada Tuan Zayver. Dan salahnya, ayah menjaminkan Arsina adikmu untuk dinikahinya jika ayah kalah." Wijaya memulai ceritanya.
"Di mana hati nuranimu sebagai seorang ayah, sehingga tega menjaminkan anakmu sebagai bahan taruhan judi? Ayah, kau benar-benar tidak berkeprimanusiaan!” Napas Arsana naik turun. “Dan lagi, yang Ayah jaminkan adalah Arsina, mengapa jadi aku yang dinikahkan dengan lelaki asing itu?" Arsana memberondong sang ayah dengan banyak pertanyaan.
Wijaya hanya berdecak kesal dengan tangan yang bertolak pinggang. Dia menatap nyalang pada Arsana.
"Justru itu, adikmu si Arsina itu tidak mau dan malah melarikan diri, sehingga dengan terpaksa kamu yang harus menjadi penggantinya. Kalau tidak, Tuan Zayver akan menghabisi seluruh anggota keluarga kita." Wijaya bersuara dengan nada tegas.
"Apa peduliku? Aku bahkan tidak tinggal denganmu." Arsana melipat kedua tangannya di depan dada, menjawab dengan begitu mudahnya.
Keduanya terus saja berdebat hingga membuat Wijaya tersulut emosinya.
"Jangan banyak membantah! Dia sudah menunggumu di rumah megahnya. Kalau kamu tidak mau menjadi istrinya atas dasar cinta, setidaknya lakukan atas dasar balas budi karena selama ini aku sudah membiayai hidupmu!" bentak Wijaya.
Mendengar hal tersebut, Arsana merasa sakit hati dan tidak menyangka jika sang ayah sejahat itu padanya.
Setelah tak pernah dianggap anak di hadapan keluarga besar Kusuma karena Arsana terlahir dari perempuan yang tidak selevel dengan keluarga Wijaya, kini Arsana harus mendengar jika dirinya adalah beban seorang ayah yang biaya hidupnya saja menjadi hutang yang harus dibayar dengan cara tak manusiawi.
Arsana harus menjadi pengantin pengganti.
"Kamu lupa bahwa aku akan segera menikah, ayah." Arsana menunjukkan jari manisnya yang kosong, tidak ada cincin tunangan di sana, mencoba mencari alasan.
"Kamu bahkan lupa kalau kamu batal menikah dengan Andre, Arsana." Wijaya tertawa puas mendengar perkataan Arsana.
"Arsana lupakan lelaki brengsek itu dan terimalah suamimu yang baru. Percaya lah, kamu akan hidup bahagia dengan bergelimang harta di sana."
Arsana terdiam, hatinya mengeras karena terlalu sakit dengan semua yang telah dia alami sejauh ini. Nasibnya yang tak seberuntung anak lain hingga tak diakui sebagai anak di depan keluarga besar hanya karena terlahir dari rahim wanita miskin, dikhianati sang kekasih, batal menikah, dan sekarang dinikahkan atas dasar hutang budi pada ayahnya sendiri.
Rasanya, Arsana mau mati saja.
"Jangan melamun! Cepat pergi dan datang ke alamat ini, Tuan Zayver sudah menunggumu!" perintah Wijaya.
"Lelaki itu menginginkan Arsina, bagaimana jika dia terkejut karena yang datang malah aku?" tanya Arsana mulai pasrah.
"Dia tidak akan tahu. Pergilah, dengan menuruti keinginanku ini, aku akan pastikan mengakuimu sebagai anak di hadapan keluarga besar." Arsana tersenyum sinis menatap tajam Wijaya.
"Sayang sekali, sepertinya keinginanku telah berubah. Mulai sekarang, aku menganggap jika aku tidak memiliki seorang ayah. Kamu jahat, Wijaya! Kamu keterlaluan. Semoga perbuatan jahatmu terbelas dengan balasan yang setimpal!" ucap Arsana seraya menyeret kopernya menuju alamat Tuan Zayver, lelaki yang konon telah sah menjadi suaminya.
Arsana Putri akhirnya sampai di kediaman Tuan Zayver Megantara yang sangat mewah dan luas. Dia disambut oleh penjaga dan langsung dipersilakan masuk ke kamar, di mana Zayver sudah menantinya.
Zayver Megantara mengerutkan dahi, menatap gadis cantik yang menyelonong masuk ke kamarnya lalu melempar koper nya begitu saja, lalu naik ke atas ranjang.
"Siapa kamu?" tanya Zayver heran dengan wanita yang telah berani masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Siapa lagi yang berani berbaring di ranjang besar dan empuk ini kalau bukan istrimu." ucap Arsana tersenyum memperlihatkan giginya.
Zayver menautkan alisnya. "Apa? Istriku? Mana buktinya?"
Zayver memasang ekspresi tak percaya.
Arsana menghembuskan napas kasar lalu kembali bangun dan membawa sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini buktinya, lihat saja." Arsana dengan tidak sopan nya melempar sesuatu pada Zayver.
Zayver menatap surat nikah di mana foto dirinya dan Arsana berdampingan.
"Bagaimana bisa aku menikahimu?" tanya Zayver, terkejut.
"Mana aku tahu. Aku bahkan baru saja bangun dari mimpi buruk dan tiba-tiba diberitahu bahwa aku sudah menjadi istri seseorang yang aku pun tak pernah mengenal dan melihatnya." Arsana kembali berbaring seraya menutup wajah dengan sebelah tangannya.
"Sialan! Wijaya telah berani menipuku. Sepertinya dia sudah bosan hidup." Zayver mengepalkan kedua tangannya sementara Arsana tertawa.
"Kau tertipu olehnya? Oh, sungguh pria yang malang."
Mendengar itu, Zayver kembali murka. "Berani kamu bicara seperti itu kepadaku?" bentak Zayver.
"Tentu saja berani, aku kan istrimu." jawaban Arsana membuat Zayver kesal.
"Istriku adalah Arsina Angelita, bukan dirimu!" tegas Zayver membuat Arsana berdecak kesal.
"Ah, ternyata kamu sudah tahu? Arsina adalah adikku, dan aku adalah Arsana Putri, kakaknya. Kami kakak beradik yang dilahirkan dari adonan sperma yang sama dan ibu yang berbeda. Jadi, terima saja. Hanya beda huruf akhir A dan I saja. Dalamnya pasti sama!"
Arsana membuka tangannya untuk melihat Zayver yang menatapnya tajam, lalu kembali menutup wajahnya kembali.
Zayver mendengus kesal, perempuan yang mengaku sudah menjadi istrinya itu benar-benar menyebalkan. Dia tak menyangka jika Wijaya sudah menipunya dengan memberikan anaknya yang berbeda, meskipun sesungguhnya Arsana juga tak kalah cantik dari Arsina Angelita.
Satu hal yang pasti membuat Zayver geram adalah dia merasa dipermainkan, ditipu habis-habisan oleh Wijaya dan ini tidak bisa dibiarkan!
Belum lagi Zayver harus menghadapi gadis yang sepertinya tidak takut padanya.
"Masalahnya, aku tidak tahu ayahmu yang brengsek itu memiliki dua anak gadis dan yang dia tunjukkan kemarin hanya Arsina, bukan kamu!” Zayver menghela napas. “ Ah, Wijaya si tua bangka itu sudah bermain-main denganku. Awas saja, aku takkan segan-segan menembak kepala ayahmu itu!" seru Zayver menggebrak nakas yang ada di sampingnya.
"Terserah kamu mau menembak atau mencincangnya, aku sama sekali tidak peduli pada pria itu. Lagi pula, dia juga tidak pernah menganggapku sebagai anaknya, jadi untuk apa aku repot-repot menolongnya dari kematian?" celoteh Arsana.
Mendengar pernyataan itu, Zayver menatap Arsana yang masih berbaring dengan menutup wajah dengan sebelah tangannya seperti sangat menikmati rebahannya.
Lalu, lelaki itu tersenyum sinis, karena ternyata wanita yang menjadi istrinya seperti tak memiliki rasa takut padanya, padahal Zayver adalah sosok yang terkenal ditakuti karena ketempramentalannya.
"Kau cukup berani ternyata," kata Zayver.
"Tentu saja. Untuk apa aku takut kepadamu, kau kan suamiku?" Arsana menjawab dengan enteng.
"Hahahaha ... jangan harap aku akan menganggapmu sebagai istriku!" Zayver tertawa mengejek.
"Terserah kamu. Aku sama sekali tidak peduli kamu menganggapku istri atau tidak. Tak masalah bagiku karena aku hanya ingin menumpang hidup!" sahut Arsana seraya membalikkan badannya memunggungi Zayver membuat lelaki itu membuka mulutnya hendak bicara, akan tetapi bingung mau bicara apa.
***
Satu minggu sudah Arsana dan Zayver tinggal satu rumah. Meskipun belum saling sentuh, akan tetapi keduanya sudah mulai saling mengenal dan saling mengerti akan sifat masing-masing. Arsana adalah gadis yang suka ceplas ceplos, menyebalkan, dan suka melawan, sedangkan Zayver adalah sosok yang kasar dan tempramental.
Perkenalan yang jauh dari kesan baik di mana sepasang suami istri sama-sama tidak pernah bertemu sebelumnya, karena mereka dinikahkan atas dasar utang piutang dan perjanjian.
Arsana adalah pengantin pengganti, dan keduanya menjalani rumah tangga mereka dengan saling berdebat setiap harinya. Baik Arsana maupun Zayver keduanya belum memiliki rasa cinta, yang ada malah rasa kesal dan jengkel karena Zayver dan Arsana memiliki kepribadian yang sama keras.
"Aku akan pergi shopping bersama Ana. Kamu mengizinkan aku, kan?" tanya Arsana tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kamu ini bicara pada siapa, hah?" bentak Zayver membuat Arsana terkejut dan langsung cemberut.
"Memangnya di sini ada siapa selain kamu, Zayver?"
"Setidaknya lihatlah lawan bicaramu kalau bicara! Dasar tidak sopan!" sungut Zayver seraya menoyor kepala Arsana yang langsung mengusap kepalanya.
"iya ... aku pergi dahulu." Arsana menatap Zayver, dan betapa terkejutnya gadis itu karena Zayver langsung menciumnya dengan paksa.
"Lepas! Setidaknya lakukanlah dengan lembut, bukannya malah seperti orang yang hendak membunuh!" omel Arsana mengelap bekas ciuman Zayver di pipinya, membuat lelaki itu makin murka melihatnya.
"Muah!" kecup Zayver lagi dan Arsana menghapus jejak bibir suaminya lagi. Dan hal tersebut terjadi hingga beberapa kali membuat Zayver mencekik Arsana yang langsung terbatuk-batuk karena sesak napas.
"Okay, okay, aku tidak akan menghapusnya lagi!" ucap Arsana dengan terpatah-patah karena lehernya masih dalam cengkraman Zayver.
"Jangan macam-macam denganku, gadis kecil!" kata Zayver dengan tegas, lalu melumat bibir Arsana dengan ganas dan melepasnya dengan kasar.
"Aku pergi dahulu!" kata Arsana berpamitan.
"Pergilah."
Saat sampai di luar, Arsana langsung menghapus jejak bibir Zayver tanpa dia tahu jika sang suami melihatnya melalui CCTV dan kembali murka.
"Dasar gadis nakal!" geram Zayver seraya meninju layar laptop di mana CCTV ditayangkan.
***
Arsana berbohong pada Zayver sebelumnya, jika dia akan pergi shopping bersama Ana salah satu pembantu yang ada di rumah Zayver.
Arsana dipanggil oleh atasannya dan ternyata dia akan diberi tugas baru, yakni melakukan penyamaran karena sesungguhnya pekerjaan Arsana adalah sebagai seorang Agen Rahasia, semacam intelijen yang bertugas untuk memata-matai suatu tempat atau seseorang demi menemukan ada tidaknya suatu tindak kriminal dan informasi lainnya.
"Kamu harus ke Papua untuk mencari tahu pemilik gembong narkoba terbesar di sana, yang penjualannya sudah menembus pasar internasional. Jadilah Guru Relawan di sana untuk menutupi identitasmu sebagai Agen Rahasia dan segera pecahkan kasusnya."
Arsana memberi hormat tanda kesiapannya untuk berangkat ke Papua dalam rangka menjalankan tugas. Namun, yang membuatnya bimbang adalah bagaimana dia memberitahukannya pada Zayver, sementara saat dia hendak pergi ke kantor saja, dramanya luar biasa.
"Kapan saya harus berangkat?" tanya Arsana pada atasannya.
"Lebih cepat lebih baik, persiapkan saja dahulu segala keperluanmu di sana. Kalau kamu sudah siap, hubungi kami." Arsana mengangguk dan kembali ke rumah Zayver, karena di kantor dia tidak ada pekerjaan.
Hingga satu minggu berlalu, Arsana belum juga memberikan kepastian pada atasannya kapan dirinya siap pergi ke Papua untuk tugas. Namun, hal yang tidak diduga terjadi, Zayver memanggil Arsana dan menyuruhnya bersiap untuk ikut lelaki itu dinas urusan kantor.
"Ke mana? Aku malas sekali bepergian dengan orang sepertimu, lagi pula ada banyak pekerjaan." Arsana mencebik kesal.
"Ke Papua."
Arsana tersenyum sumringah, saat mendengar nama Papua. "Kamu harus ikut denganku tinggal di sana untuk sementara waktu," pinta Zayver.
"tetapi ...." Arsana pura-pura tidak mau dengan terus saja berkelit padahal ini adalah kesempatan emas baginya untuk menjalankan misi sesuai perintah atasan di kantornya.
"Tidak ada tapi-tapian dan tidak ada penolakan. Kamu harus tetap ikut denganku!" ujar Zayver menggebrak meja di hadapan wajah Arsana.
"Baiklah, aku ikut. Kukira kamu akan bosan denganku jika terus saja ku ikuti."
"Mengapa aku harus bosan dengan istriku sendiri? Dasar bodoh! Cepat bersiap!" titah Zayver dan Arsana langsung tersenyum, karena sebentar lagi dia akan beraksi di Papua dan menangkap gembong narkoba kelas kakap yang konon sudah bertahun-tahun menjadi buronan dan sulit ditangkap.
Arsana dan Zayver sudah tiba di Papua. Arsana merasa sangat lelah, akan tetapi Zayver malah terlihat sibuk dengan teleponnya. Tak lama, lelaki itu mendatangi Arsana yang sedang tidur dan berpamitan untuk pergi menemui teman-temannya.
"Memangnya kamu tidak lelah, Zayver? Beristirahatlah!" ucap Arsana sembari mengucek matanya.
"Lelah atau tidak apa pedulimu, hah?!" bentak Zayver membuat Arsana cemberut dan menyesal sudah memberi lelaki itu perhatian.
"Aku pergi dulu!" ujar Zayver seraya mencium bibir istrinya dengan kasar, tak ada kelembutan sama sekali.
Arsana tak membalas ciuman itu, dia juga tidak menghapus jejak bibir sang suami, supaya Zayver cepat-cepat pergi dari sana, karena Arsana sangat tidak nyaman jika ada Zayver di rumah.
Sebab, selain suka marah-marah, Zayver juga tak pernah menunjukkan hal romantis padanya, sehingga sampai saat ini dalam hati Arsana sama sekali belum ada rasa cinta.
Setelah kepergian Zayver, Arsana hendak tidur lagi, akan tetapi dia teringat akan tugasnya dan menggunakan kesempatan itu untuk mencari sekolah dimana Arsana mengajar sebagai Guru Relawan. Dengan menggunakan maps di ponsel, Arsana menuju tempat tujuan seorang diri.
"Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini," gumam Arsana seraya terus berjalan.
Sepanjang perjalanan, Arsana berkenalan dengan beberapa warga di sana.
"Ke mana ini, ya?" tanya Arsana bermonolog sendiri menatap dua arah jalan sedangkan maps-nya malah menunjukkan jika dirinya sudah sampai.
Dia lalu mengambil jalan ke kanan, namun, saat sudah jauh berjalan Arsana malah menemui jalan buntu. Setelah itu, dia kembali lagi dan mengingat-ingat jalan yang tadi dia lewati, hingga akhirnya Arsana bertemu dengan seorang lelaki dengan wajah blasteran berpakaian rapi.
Sejak beberapa menit yang lalu lelaki itu memperhatikan Arsana dari dalam mobilnya. Melihat Arsana yang kebingungan, lelaki itu menghampiri Arsana.
"Anda hendak ke mana?"
Arsana sedikit terkejut dengan suara yang tiba-tiba.
"Hmmm, iya, aku ingin ke sekolah ini." Arsana menunjukkan maps di ponselnya.
"Oh ... kebetulan sekali, aku juga akan ke sana." ucap lelaki bernama Edward Michael yang sesungguhnya merupakan Guru Relawan juga di sekolah yang sama dengan Arsana.
Edward kembali berkata, "Aku adalah pengajar di sekolah ini. Apa mungkin kamu Guru Relawan yang akan mengajar di sana? Sebab sebelumnya Kepala Sekolah mengatakan akan kedatangan Guru Relawan,"
"Ah, kebetulan sekali. Itu benar, aku Guru Relawan di sekolah ini. Terima kasih, ya, hmmm... bisa tolong antar aku ke sana?" ucap Arsana dengan begitu senang.
"Tentu saja. Mari."
Arsana akhirnya dapat bernafas lega setelah berjam-jam tersesat, karena bertemu dengan lelaki yang konon sama-sama pengajar dan mungkin juga seorang Guru Relawan seperti dirinya.
"Nama saya Edward Michael, panggil saya Edward," ucap Edward menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Nama saya, Arsana Putri."
Edward membukakan pintu mobil untuk Arsana, segera menjalankan mobilnya.
Keduanya menuju sekolah seraya berbincang di dalam mobil, memecahkan keheningan.
Saat sampai, Arsana diperkenalkan Kepala Sekolah dan para guru lainnya. Arsana ditugaskan memegang kelas 4 SD dan akan mulai mengajar besok.
"Baiklah, hari sudah mulai gelap, selamat bergabung besok, ya." Kepala Sekolah menyalami Arsana yang tersenyum senang.
Mulai besok, dia akan mengajar di sekolah tersebut, sekaligus memulai investigasinya mengenai kasus yang ditugaskan oleh atasannya.
****
Jam tujuh malam Arsana baru pulang dengan diantar Edward, karena lelaki itu khawatir jika Arsana tersesat lagi seperti tadi. Arsana sempat menolak diantar Edward.Tanpa Arsana duga, Zayver sudah menunggunya di depan rumah sejak tadi, dan langsung marah tatkala Arsana diantar oleh lelaki asing malam-malam.
"Terima kasih, Edward, sudah mengantarku pulang. Sampai bertemu besok pagi di sekolah.” ucap Arsana dengan senyum manis di bibirnya.
“Ya, tidak masalah. Aku tidak keberatan sama sekali.” Edward membalas senyum Arsana.
“Hmmm… sekarang pergilah! Hati-hati dijalan.” suruh Arsana yang langsung dituruti oleh Edward.
Arsana melambaikan tangannya, beranjak masuk ke dalam rumah.
Plak!
Zayver langsung menampar Arsana tanpa aba-aba saat Arsana sudah berada di dekatnya. Lelaki itu sangat marah setelah melihat istrinya pulang dengan laki-laki lain. Ada rasa yang tidak bisa Zayver jelaskan yang membuatnya ingin sekali memaki Arsana.
"Dasar jalang!" teriak Zayver kepada Arsana yang memegang pipinya.
Arsana begitu terkejut dengan tamparan yang melayang di pipinya tiba-tiba.
"Bukankah kau lelah dan mau tidur saja, akan tetapi apa ini, hah? Kamu pulang malam bersama lelaki asing!"
“Aku-”
Zayver menyeret Arsana dengan kasar. Untuk pertama kalinya, Arsana amat ketakutan melihat kemarahan Zayver.
Arsana ingin menjelaskan, akan tetapi dia tak diberi kesempatan, sebab Zayver terus saja menyeret Arsana hingga ke kamar mereka di lantai 2.
Perlahan, air mata Arsana menetes dan membasahi pipinya. Perlakuan Zayver padanya sangat tidak manusiawi, mana ada seorang suami yang menyeret istrinya sampai tubuhnya itu terpingkal-pingkal.
Bayangan Wijaya Kusuma langsung melintas di pikiran Arsana, ternyata lelaki itu bukan hanya menjaminkan bahkan menjual Arsana pada Zayver, tapi juga menggadaikan nyawanya karena menikahkan Arsana pada lelaki berdarah dingin seperti Zayver.
"Siapa lelaki itu?!" tanya Zayver dengan berteriak.
"Jawab!!" bentaknya lagi.
Arsana terisak-isak, dia menghapus air mata yang kini membasahi seluruh wajahnya dengan kedua tangan. Suara isakannya juga sangat keras, sehingga Arsana kesulitan bicara.
"Aku ingin berkeliling tadi, tapi malah tersesat dan dia menolongku," ucap Arsana terbata-bata.
"Omong kosong!"
Bugh!
Zayver memukul pintu hingga pintu itu rusak demi menyalurkan amarahnya, setelah itu dia memangku tubuh Arsana dan melemparnya ke atas ranjang dengan kasar.
"Arsana, kau adalah istriku, kamu tidak seharusnya dekat-dekat dengan lelaki manapun selain aku!" geram Zayver dan langsung menindih tubuh Arsana, melumati bibir Arsana dengan kasar.
“Apa kamu mendengar perkataanku Arsana!” Zayver menatap tajam Arsana yang berada di bawah tubuhnya.
Brett!
Lelaki itu dengan kasar lalu melucuti pakaian istrinya yang terlihat lemah, hingga tubuh Arsana terlihat polos tanpa sehelai benangpun yang menempel padanya, lalu membungkam mulut Arsana yang meronta-ronta dengan bibirnya. Gadis itu tak berdaya, tak mampu juga melawan karena tubuh dan tenaga Zayver jauh lebih besar daripada Arsana.
Zayver mulai menggerayangi setiap inci tubuh Arsana dengan penuh nafsu dan amarah yang menjadi satu.
“Tidak, jangan lakukan apapun padaku!” teriak Arsana, begitu ketakutan dengan ulah Zayver.
Zayver tak menjawab perkataan Arsana.
"Stop! Aku tidak mau melakukannya dengan lelaki kejam sepertimu!" teriak Arsana.
Arsana tidak pernah menyangka jika tubuhnya mendadak lemas dengan ulah Zayver. Darahnya berdesir tak karuan, Arsana mencoba untuk berhenti tapi Zayver tak mendengar perkataannya.
Arsana hanya bisa menangis dan merasakan getirnya diperlakukan seperti binatang oleh suaminya sendiri. Zayver benar-benar bersikap kasar pada Arsana.
Zayver menjambak rambut Arsana.
“Katakan padaku, siapa suamimu?” tanya Zayver. Pertanyaan itu seharusnya tidak perlu ditanyakan lagi, tetapi Zayver sedang dalam keadaan emosi yang tidak baik, tanpa sadar dia berkata seperti itu.
“Kamu,” ucap Arsana dengan terisak
“Sebut namanya!” bentak Zayver.
“Kamu, Zayver” suara Arsana terdengar gemetar.
"Berjanjilah padaku, kamu tidak akan dekat-dekat bahkan berinteraksi dengan lelaki lain lagi!" desis Zayver tepat di telinga Arsana, akan tetapi istrinya itu malah diam, sehingga Arsana kembali menerima tamparan keras. Zayver mencengkram leher Arsana.
"Berjanji, atau ... mati."
"A-Aku ... janji."
Dengan terpaksa, Arsana mengangguk karena takut nyawanya melayang begitu saja. Walaupun itu mustahil, Zayver tidak akan mungkin melakukannya. Tetap bagaimana jika Zayver benar-benar melakukannya. Arsana memejamkan matanya lalu berteriak sekencang-kencangnya karena merasakan sakit tiada tara di area intimnya. Suatu yang besar memaksa masuk kedalam tengah-tengah selangkangannya.
Zayver menghentakkan dengan sekaligus.
Blass!
“Ah… Zayver sakit!”
Zayver berhasil merenggut kesuciannya dengan paksa, setelah menyiksa Arsana sedemikian rupa, dan hal itu semakin membuat Arsana membenci suaminya.