Bab 1

Tokyo.

25 Desember. Pukul 21:25 malam.

Bibir penuhnya yang lembut dan mengundang menyapu bibir si pria berambut pirang berpotongan cepak lalu berbisik, “Selamat Natal, Sayang.”

“Selamat Natal juga, Hana.”

Sambil tersenyum manja gadis berwajah hati itu mengalungkan lengan ke leher kekasihnya dan mengecup pria itu sekali lagi. Kali ini dengan lebih bersemangat. “Yusuke, Sayang.”

“Ya?”

“Apa kau tidak mau menciumku?”

“Bukankah aku sudah menciummu, Hana? Barusan sekali aku menciummu,” sahut Yusuke Isada Sakazaki.

“Maksudku, benar-benar berciuman, Yusuke,” sahut Hanako Rin Sudo dengan nada suara yang merayu. “Aku tahu ini malam Natal, tapi, tidak ada larangan untuk berciuman saat Natal, bukan?”

“Tano muyo, demi Tuhan, Hana.” Dengan gugup pria berusia dua puluh delapan tahun yang berpakaian rapi itu melirik ke arah jendela yang kerainya di buka di samping sebelah kanan. Di dalam sedang berlangsung sebuah pesta perayaan Natal yang sangat meriah. Seluruh keluarga, kerabat, dan teman-temannya berkumpul untukbersenang-senang. “Bagaimana jika ada orang yang melihat kita berciuman? Apa yang akan dikatakan ibu dan kakak perempuanku nanti. Kita berdua pasti terkena malu yang luar biasa.”

Hana seketika melepaskan rangkulan tangannya dan mengembuskan napas dengan rasa kesal yang tidak dia tutup-tutupi. “Yang benar saja, Yusuke. Sejak kapan kau jadi peduli dengan apa yang dikatakan orang lain? Kau bahkan pernah menciumku dengan mesra di bandara, di hadapan semua orang saat aku kembali dari Hokaido tiga hari yang lalu. Sepertinya kepalamu sedang tidak beres sekarang. Lagipula siapa yang akan mengintip kita di luar? Tak akan ada yang melihat kita. Mereka sedang bersenang-senang di dalam. Seandainya pun ada yang melihat, aku yakin orang itu juga tidak akan peduli,” sahut Hanako tajam.

“Tapi ibu dan kakak perempuanku peduli, Hana. Kau tahu itu dengan baik,” Yusuke membela diri dengan sia-sia.

“Tidak, aku tidak tahu apa pun. Karena aku tidak mau diatur mereka. Kita hidup di zaman yang berbeda, Yusuke. Mereka tidak bisa memperlakukan kita seperti nenek buyutmu memperlakukan mereka sewaktu mereka muda dahulu,” sergah Hanako.

Yusuke menarik napas dalam-dalam. “Apa kau suka kalung barumu?” dia mengalihkan topik pembicaraan untuk menghindari debat dengan Hanako.

“Tentu saja suka. Tidak ada satu orang pun perempuan di dunia ini kecuali dia cukup bodoh kalau tidak menyukai kalung berlian.” Dengan gerakan refleks Hanako menyentuh kalung yang melingkari lehernya. “Cantik sekali. Kau memang penuh perhatian. Terima kasih.”

“Tapi, aku merasa kau masih sedikit kecewa,” kata Yusuke.

Hanako mengembuskan napas. Kemudian dia menatap lurus pria di hadapannya dari balik bulu matanya yang lentik dan berkata dengan getir, “Ya, itu memang benar. Sejujurnya aku berharap kau akan memberiku hadiah Natal berupa cincin pertunangan.” Sebelum Yusuke sempat menyahut Hanako cepat-cepat melanjutkan, “Aku tahu kita memang belum sempat memilih cincin pertunangan yang sesuai. Akan tetapi, aku berharap kau punya sedikit inisiatif. Maksudku, kita sudah menjalin hubungan cukup lama, hampir satu tahun setengah. Kau pasti tahu bagaimana seleraku. Ya, seharusnya kau tahu apa yang aku inginkan.”

Pria bermata coklat tua, berbadan tinggi dan sedikit gemuk itu melihat ke arah kekasihnya. Dia meneliti gadis muda itu dengan menunduk dan menyapukan pandangan secara menyeluruh dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Hanako Rin Sudo memang sangat cantik. Tubuhnya tinggi dan langsing. Lehernya jenjang. Kulitnya yang seputih salju terasa halus dan lembut. Di atas segalanya, rambutnya yang berwarna coklat gelap yang dipotong sebahu dan dibiarkan tergerai jatuh berantakan, tampak serasi dengan mata coklat cerahnya. Akan tetapi, pakaian-pakaian yang dia kenakan terlalu seksi dan mengundang minat. Seperti malam ini, Hanako mengenakan gaun malam berwarna biru muda dengan potongan kerah sangat rendah, belahan di salah satu kakinya terlalu tinggi, dan gaun itu pun terlalu ketat di tubuh sempurnanya. “Aku akui kau cantik dan menakjubkan, Hana. Tapi....”

“Tapi apa? Bicara yang jelas, Yusuke. Aku bukan tukang ramal yang bisa membaca pikiranmu,” sergah Hanako yang penasaran.

“Ibu dan kakak perempuanku berpendapat kau berpakaian terlalu terbuka dan berani. Ya, begitulah ibu dan kakakku. Mereka memang memiliki selera yang sama. Terutama dalam mode pakaian. Selain itu, ibu dan kakak perempuanku juga memiliki pandangan hidup yang sama, dan pemikiran idealisme. Aku rasa aku tak perlu menjelaskan apa maksudku. Aku yakin kau sudah mengerti dengan sangat baik arah pembicaraanku.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dan sangat cepat dari mulut Yusuke.

“Jauh lebih mengerti dari apa yang kau bayangkan. Akan tetapi, Jika aku menjadi istrimu dan menjadi adik ipar kakakmu serta menantu ibumu, maka mau tidak mau mereka harus membiasakan diri denganku. Mulai menyesuaikan. Karena, setelah menikah nanti, satu-satunya hal yang akan aku ubah hanyalah nama keluargaku. Sudo menjadi Sakazaki. Dan, ya, semoga saja ibu dan kakak perempuanmu nanti setelah kita menikah, tidak akan memintaku untuk mengenakan rok panjang tanpa belahan sama sekali dengan motif bunga-bunga kecil berwarna merah cerah, dan blus biru tanpa motif yang berpotongan dada tinggi, berlengan sampai siku. Atau menyuruhku mengganti sepatu hak tinggiku dengan sepatu hak datar yang tampak resmi dengan alasan kesopanan,” sahut Hanako lebih tajam. Kemudian dengan nada turun dua tingkat lebih rendah dan suara yang kembali normal dia melanjutkan, “Omong-omong, Yusuke sayang, pasti akan menjadi hal yang sangat romantis sekali jika kita bertunangan dengan resmi saat Hari Valentin nanti. Di bawah bintang-bintang dan lampu yang berkerlap-kerlip dengan latar belakang menara Tokyo. Seperti pada cerita-cerita novel cinta. Bahkan penyair Prancis Josè Maria de Heredia pun akan iri melihat pertunangan kita, Yusuke. Menurutku Hari Valentine lebih baik dari malam Natal. Lebih romantis dan penuh cinta.”

Yusuke sama sekali belum siap memberikan jawaban untuk kode keras dari Hanako. Dia tadi mengajak kekasihnya keluar ke beranda untuk mencari udara segar dan berjalan-jalan sebentar. Tidak disangka-sangka, Hana akan berkata demikian. Yusuke sendiri sangat menyadari jika wajar saja Hanako menuntut. Mereka telah menjalin hubungan cukup lama dan dia juga pernah berjanji akan segera menikahi Hana begitu dia mendapat izin membuka praktik pengacara. Akan tetapi, Yusuke Sakazaki sama sekali tidak menyangka jika Hanako akan menuntut secepat itu. Bagaimanapun dia baru tiga bulan mendapat izin praktik dan baru dua bulan kemudian dia membuka kantor praktiknya sendiri. Yusuke menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. “Hana, aku baru dua bulan lebih satu setengah minggu membuka praktikku sendiri. Aku belum siap untuk menikah dalam waktu dekat ini. Aku perlu waktu untuk memikirkannya.”

“Jadi, kau mulai ragu untuk menikah denganku?” sahut Hanako cepat-cepat. “Kupikir kau cinta padaku, Yusuke.”

“Aku memang cinta padamu, Hana. Tapi ada satu hal yang... yang harus aku pikirkan kembali secara masak-masak,” sahut Yusuke.

“Katakan, sebenarnya apa yang mengganggumu, Yusuke?” cecar Hanako tanpa ampun.

Yusuke menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Lama kemudian dia baru berkata, “Sebenarnya, Hana, akhir-akhir ini aku mulai banyak bertanya dan terus memikirkan segala sesuatunya. Aku... menurutku kita tidak... bukannya kau tidak... Hana, apa kau tidak menyadari jika kita sebenarnya sama sekali tidak...” Yusuke menjadi sangat gugup. Dia membuka dan menutup mulutnya berkali-kali sebelum akhirnya kata-kata yang tersangkut di tenggorokan berhasil terlontar dari mulutnya. “Cocok. Kita ini sebenarnya tidak cocok. Dalam berbagai hal. Kita bertolak belakang dan tidak pernah bertemu.”

Bab 2

Hanako Rin Sudo sama sekali tidak dapat mempercayai apa yang baru saja dia dengar dengan telinganya sendiri. Ini pasti mimpi buruk. Ini tidak nyata. "Aku sedang tertidur dan sebentar lagi aku akan terbangun dengan napas memburu. Setelah itu aku akan menghambur ke kamar Yusuke dan memarahinya karena dia membelikanku kalung berlian bukannya cincin pertunangan." Akan tetapi, saat embusan angin dingin menyapu kulitnya Hanako sadar jika dia sama sekali tidak sedang bermimpi. Tertegun, Hanako menatap dalam-dalam mata Yusuke untuk meminta penjelasan. Dia masih berharap jika semua ini tidak lebih dari lelucon konyol yang sering dimainkan Yusuke untuk menggodanya.

“Aku meminta maaf, Hana. Tapi aku tidak sedang bercanda kali ini. Aku bersungguh-sungguh,” ujar Yusuke yang membaca mata Hanako.

“Kau tidak bermaksud membatalkan rencana pertunangan kita, kan?” sahut Hanako dipenuhi kecemasan.”

Yusuke menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan satu kali embusan panjang. “Mungkin ada baiknya kita memikirkan segala sesuatunya sekali lagi. Aku tidak mau membuat kesalahan yang berujung pada penyesalan,” sahut Yusuke lirih.

“Jangan berputar-putar tak keruan, Yusuke,” sergah Hanako dengan sangat marah. “Jika kau memang ingin putus denganku katakan saja terus terang. Tidak perlu basa-basi.”

Yusuke berdehem. “Sebenarnya aku tidak ingin putus. Tidak persis begitu. Akan tetapi, menurut ibu dan kakak perempuanku, Hanako, kau ....”

“Oh, ya, tentu saja. Sekarang aku mulai mengerti duduk permasalahannya. Jadi menurut ibu dan kakak perempuan kesayanganmu itu aku tidak pantas untuk menjadi istrimu, begitu?”

“Tidak, bukan begitu maksudku, Hana—”

“Lalu apa? Bicaralah yang jelas, sialan!” geram Hanako.

“Menurut ibu dan kakak perempuanku, kau terlalu...” Yusuke menarik napas. “Menurut ibu dan Hanami kau terlalu seksi untukku, Hana. Pakaian yang kau kenakan seperti pakaian bukan gadis baik-baik. Aku sudah berusaha untuk men—”

“Maksudmu pakaianku seperti seorang pramuria di rumah-rumah bordil yang murahan?” potong Hanako sarkastis.

“Hanako, jangan kasar begitu. Aku tidak—”

“Jangan begitu bagaimana? Kau menyinggung harga diriku dan aku benar-benar sangat marah padamu!” Hanako memelototi Yusuke.

“Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu, Hana. Sumpah. Aku hanya—”

“Hanya apa? Hanya mengatakan apa yang dikatakan ibu dan kakak perempuanmu yang seenaknya menghakimiku padahal tidak tahu apa pun tentang diriku? Dan kau tetap membela mereka meskipun kau sendiri tahu dengan baik jika mereka salah. Begitu?”

“Hana, aku mohon. Dengarkan dulu penjelasanku.”

“Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan. Ternyata selama ini aku salah besar menilaimu. Aku pikir kau cinta padaku.”

“Aku memang cinta padamu, Hana. Sangat. Tetapi....”

“Jika kau memang sangat mencintaiku kenapa kau tega sekali berbuat ini padaku? Kau menghancurkan malam Natalku. Kenapa kau membicarakan hal menyakitkan di malam yang seharusnya kita bersuka cita dengan cinta? Padahal kau sendiri tahu persis jika aku juga sangat mencintaimu, Yusuke. Kenapa?”

Yusuke Sakazaki menjadi frustrasi dihadapkan pada pertanyaan menohok Hanako. Dia mengerang kesakitan. “Dengar, Hana. Aku tidak meragukan cintamu padaku sedikit pun. Aku sendiri seperti yang kukatakan, aku sangat mencintaimu. Kau cantik, menarik dan seksi. Kau gadis yang sulit sekali ditebak, selalu penuh semangat, bergairah, dan membuat penasaran. Kau satu-satunya wanita yang paling memikat yang pernah aku kenal. Akan tetapi, itu semua membuatku kewalahan. Kau terlalu keras kepala dan sangat senang memaksakan kehendakmu sendiri padaku. Kau impulsif. Sifat burukmu itu membuatku lelah. Ya, aku lelah sekali menghadapi sikap impulsifmu itu.”

“Perbedaan justru yang membuat segala sesuatunya menjadi lebih menarik, Yusuke. Kau sendiri yang mengatakan itu padaku.”

“Dulu, ya. Tapi, sekarang aku menyadari jika aku membuat kesalahan.”

“Berhentilah beromong kosong, Sialan. Jangan kau pikir aku tidak tahu. Kau hanya memperhalus keadaan agar aku tidak terlalu sakit hati padamu. Kau mencari pembenaran untuk dirimu sendiri dengan terus berputar-putar. Dengar, Keparat! Jika kau sudah tidak mencintaiku lagi dan ingin putus denganku setidaknya katakan semuanya secara jantan. Tidak perlu banyak bicara omong kosong yang bukan-bukan. Pengecut.” Hanako mendesis.

“Tidak, Hana. Bukan seperti itu maksudku. Semua yang kukatakan adalah benar. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi, aku tidak bisa harus selalu mengerahkan segenap tenagaku untuk mengimbangimu. Kau terlalu lincah untukku. Aku tidak bisa segesit kau. Kau seperti anak kucing yang suka bermain-main. Kau juga selalu haus perhatian dan kasih sayang,” sahut Yusuke lemah.

Hanako mengertakkan rahang karena sudah teramat marah. “Sebelumnya kau tidak pernah mempermasalahkan itu! Sekarang berhentilah beromong kosong lagi karena apa pun yang kau katakan aku sudah tidak akan percaya sama sekali. Persetan dengan kau, Yusuke. Jika kau ingin putus denganku, baiklah. Itu pilihanmu. Aku tak akan memaksa.”

“Hana, meskipun kita sudah tidak bisa menjadi sepasang kekasih, tapi kita masih bisa menjadi teman, bukan?” sahut Yusuke buru-buru.

“Teman katamu? Aku tidak sudi berteman dengan orang yang tidak punya hati dan perasaan sepertimu. Tak akan pernah.”

Yusuke menyentuh bahu Hanako untuk pertama kalinya malam itu. “Setelah kau memikirkan segala sesuatunya secara masak dan dengan kepala dingin aku yakin kau akan setuju denganku. Aku tidak cocok untukmu. Sama seperti kau tidak cocok untukku. Kita terlalu banyak memiliki perbedaan. Meskipun kau dan aku sama-sama saling mencintai, aku rasa, perasaan itu tidak lebih dari sekadar saling mengagumi. Hanya sebuah ilusi.”

Hanako menepis tangan Yusuke. “Aku tidak peduli apa katamu. Aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Sekarang katakan padaku, apa kau mencintaiku dan ingin menikah denganku atau tidak?” Hanako mengibaskan rambutnya dan menghadapi kekasihnya dengan sikap menantang.

“Hanako aku—”

“Kau harus mengambil keputusan atau tidak sama sekali. Ya, atau tidak?”

Yusuke lagi-lagi menghela napas. “Jika hanya itu pilihannya aku rasa tidak sama sekali. Maafkan aku, Hana.”

Jawaban Yusuke benar-benar membuat Hanako terkejut setengah mati. Tapi Hanako menguatkan diri demi harga dirinya. “Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Aku akan menerimanya,” sahut Hanako. Tapi begitu, dalam hati dia bertekad membalas dendam kepada Yusuke Sakazaki.

“Hana aku—”

“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan segera angkat kaki dari hidupmu saat ini juga,” sergah Hanako dengan nada lebih menantang lagi.

“Sekarang?”

“Ya. Sekarang.”

“Tapi kau tidak membawa mobil. Kau tidak bisa—”

“Tenang saja, aku tidak akan meminta kau mengantarku pulang. Aku bisa naik taksi atau menelepon kakakku untuk menjemput.”

“Tapi bagaimana dengan pestanya? Ibu dan kakak perempuanku bisa—”

“Persetan dengan ibu dan kakak perempuanmu. Itu bukan urusanku.”

“Hana aku—”

“Kau tidak bisa menghalang-halangiku pergi. Meski kau berusaha dengan sangat keras.”

Merasa kecut dengan nada tinggi dan keras kepala Hanako, Yusuke mengangkat bahu. “Baiklah, terserah kau saja. Aku akan masuk ke dalam. Aku berada di dalam jika kau sudah berubah pikiran.” Yusuke berbalik lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Hanako menatap punggung Yusuke yang berjalan menjauh darinya dengan berkaca-kaca. Dia sama sekali tidak menyangka kekasihnya akan begitu tega padanya. Padahal selama ini hubungan mereka berdua baik-baik saja. Sama sekali tidak ada masalah yang cukup berarti untuk dijadikan alasan mereka putus. Tidak hanya itu, Yusuke juga pernah berjanji akan segera menikahinya segera setelah dia mendapat izin praktik pengacaranya. Selama sampir satu tahun Hanako sabar menunggu dan memberinya dukungan penuh. Akan tetapi, setelah Yusuke mendapatkan apa yang dia impikan, Hanako dicampakkan begitu saja seperti pakaian kotor yang di lempar ke dalam keranjang cucian. Hanako menguatkan dirinya agar tidak menangis. Meski air matanya terus mendesak, tapi, perasaan terhina di dalam hatinya begitu kuat. Selama ini Hanako-lah yang selalu memutuskan hubungan terlebih dahulu jika satu hubungan memang harus diakhiri. Dia tidak pernah diputuskan oleh pria mana pun. Tapi malam ini Yusuke memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Tanpa alasan yang masuk di akal. Sekarang tidak ada hal lain yang bisa Hanako lakukan selain harus menunjukkan sikap tegar. Dia yakin jika cepat atau lambat Yusuke Sakazaki akan menyesal. Dia akan memohon-mohon padanya agar mau kembali. Dan saat itu tiba, Hanako akan menertawainya habis-habisan sebelum menolaknya mentah-mentah. Sambil menarik napas panjang penuh tekad Hanako berbalik. Dia baru saja mengayunkan kakinya satu langkah ketika mendadak dia berhenti. Hanako melihat sesuatu yang sangat salah di hadapannya.

Bab 3

Ryoma Otsuka menatap Hanako Rin Sudo dengan senyum mengejek. Kata-kata pertama yang keluar dari mulut pria berambut hitam legam dengan kulit putih bersih dan postur tubuh yang cukup ideal itu adalah, “Semoga Tuhan memberkatimu di hari kemudian. Selamat Natal.”

Untuk menghilangkan rasa malu yang tak terhingga Hanako melawan dengan mengubah ekspresinya menjadi sekeras batu. “Siapa kau dan mau apa?”

“Aku Ryoma Otsuka. Calon suamimu,” sahutnya.

Mendengar jawaban itu Hanako merasa geli ingin tertawa. “Yang benar saja, Tuan. Saya bahkan sama sekali tidak mengenal Anda. Bagaimana mungkin saya menikah dengan Anda?” ujar Hanako sinis. Dia mengibaskan tangannya dengan gerakan seperti mengusir. “Sebaiknya Anda bangun dari tidur Anda, Tuan. Karena sepertinya Sinterklas tidak akan datang malam ini.”

Ryoma menyunggingkan senyum misterius. “Kau benar. Ini memang malam Natal yang buruk. Tapi, hanya untukmu. Tidak untukku. Selain itu, aku tidak mengerti untuk apa kau menangisi laki-laki pengecut seperti Yusuke itu. Apa hebatnya dia? Bahkan, jika aku jadi seorang perempuan yang tidak cantik sekalipun, aku tak akan sudi menjadi pacarnya. Anak manja. Dan kau, aku akui kau memang sedikit cantik. Akan tetapi, kau begitu bodoh. Kau tidak punya otak.”

Hanako mengepalkan tinju tepat di hadapan wajah tampan Ryoma. Dengan sedikit mendongakkan kepala karena pria itu lebih tinggi sekitar tujuh senti meter darinya, Hanako mengerucutkan bibir siap mencaci maki pria lancang dan tidak punya sopan santun itu. “Kau pikir siapa dirimu, S!alan, bisa menghakimi orang begitu saja. Dengar, Ryoma Otsuka, atau siapa pun namamu, persetan, sebaiknya kau enyah dari hadapanku sekarang karena aku sedang sangat marah. Aku mengampunimu meski kau telah begitu keterlaluan padaku. Sekarang pergilah dari sini dan bawa semua omong kosongmu itu,” geram Hanako Sudo.

Ryoma menggenggam tinju Hanako dengan tangan kanannya. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk menyakitiku?” tantangnya.

“Kau!”

“Kau gadis yang keras kepala dan pemarah. Aku tidak mengerti bagaimana cara Tomohiro menghadapi adik sepertimu.”

Hanako tercekat. “Tomohiro katamu?”

“Aku yakin kau mendengar yang kukatakan. Tomohiro kakakmu. Tomohiro Yamashita Sudo. Dan namamu adalah Hanako Sudo,” ujar Ryoma. Matanya menatap dalam-dalam ke mata Hanako. Saat melihat keterkejutan yang luar biasa bercampur dengan ketakutan yang tiba-tiba, dia tersenyum senang. “Sekarang kau mulai mengerti rupanya. Jadi sebaiknya tidak usah ribut-ribut. Bukankah kau mengatakan pada mantan kekasihmu ingin pergi dari sini?”

“Itu memang benar. Tapi, tidak denganmu!” Hanako melepaskan tangan yang digenggam kuat-kuat oleh Ryoma dengan satu kali sentakan.

“Jadi kau masih mengharapkan pria manja yang takut dengan ibu dan kakak perempuannya, berwajah biasa saja, bertubuh seperti belalang sembah yang telah mencampakkanmu seperti pakaian rombeng daripada menjadi istriku?”

Hanako mengertakkan gigi. Senyum penuh percaya diri pria itu menantangnya. Jika dipikir-pikir lagi semua yang dikatakan Ryoma adalah benar. Yusuke memang tidak begitu menarik secara fisik, dia juga manja dan tidak punya pendirian sendiri. Untuk urusan perempuan, dia juga selalu mendengarkan apa kata ibu dan kakak perempuannya. Tapi, Yusuke sangat penyayang, lembut, dan penuh pengertian. Itulah yang membuat Hanako tertarik dengannya. “Dengar Tuan Ryoma yang menurut dirimu sendiri tampan. Aku tidak mau pergi denganmu meski aku sangat ingin pergi dari sini. Aku akan mencari taksiku sendiri. Sekarang kau bisa pergi dari hadapanku tanpa perlu merasa bersalah karena kau telah menawarkan bantuan. Silakan.”

“Kau tidak bisa menolakku, Hanako. Kau tidak punya hak,” sahut Ryoma. Nada bicaranya berubah dingin sama sekali.

“Kenapa aku tidak bisa menolakmu, memangnya kau pikir siapa dirimu itu?” balas Hanako dengan nada lebih menantang.

Ryoma menatap tajam Hanako dan mulai menjelaskan, “Aku adalah pemilik Shiseido Company. Dan kakakmu, Tomohiro Yamashita Sudo, memiliki hutang yang tidak mungkin akan mampu dia bayar terhadap perusahaanku. Kemudian kami membuat kesepakatan untuk menukar dirimu dengan hutang-hutang kakakmu. Kau harus menjadi istriku dan semua hutang kakakmu lunas. Jangan lupa, kau juga secara tidak langsung bertanggung jawab atas hutang itu. Karena uangnya digunakan Yamashita untuk biaya kuliahmu sampai tamat. Karena itu kau tidak bisa menolakku dan tak punya hak. Kakakmu dan aku telah membuat perjanjian hitam di atas putih yang telah ditandatangani sebagai kesepakatan.” Ryoma mengeluarkan selembar kertas yang dia lipat lalu memberikan selembar kertas itu pada Hanako untuk dibaca. “Ini hanya salinannya. Yang asli aku simpan di tempat yang aman. Untuk berjaga-jaga jika kau berusaha ingin melenyapkan bukti yang ada.”

Hanako ternganga tak percaya saat dia membaca isi perjanjian itu. Dia sama sekali tidak menduga jika kakaknya tega menjual dirinya kepada pria brengsek yang arogan, tidak punya hati dan perasaan itu. Aku pasti sedang mimpi buruk, batin Hanako. Tomoya tidak mungkin tega melakukan ini padaku, tidak, dia pasti dipaksa pria itu. Dengan mengangkat wajah dan menatap Ryoma dingin Hanako berkata, “Kau tidak bisa membodohiku, Tuan Ryoma Otsuka yang terhormat. Tulisan ini di tik. Kau bisa saja mengada-ada untuk menjebakku. Dan tanda tangan itu, kau bisa pasti menirunya. Tanda tangan kakakku terlalu sederhana sehingga anak SD saja bisa menirunya dengan mudah,” sahut Hanako tidak mau menyerah.

Wajah tampan Ryoma Otsuka memerah karena marah. Rambutnya yang dicat cokelat tua tampak berkilat di timpa cahaya lampu. Matanya yang berwarna cokelat cerah tampak serasi dengan warna rambutnya. Wajah pria itu bersih. Bibirnya berwarna merah muda dan yang paling menarik adalah gigi gingsulnya yang membuat dia sangat manis sekaligus memesona saat tersenyum. “Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku cukup baik tidak melaporkan kakakmu ke polisi atau menuntutnya serta menyita semua aset yang kau miliki. Lebih buruk lagi, aku tidak melaporkan semua yang Tomohiro kakakmu lakukan kepada kedua orang tuamu di Suzuka, Mie. Jika sampai kedua orang tuamu, Tuan Yabichi Sudo dan Nyonya Hotaru Sudo mengetahui permasalahan ini, aku yakin sekali sakit jantung ayahmu akan kambuh dan mungkin saja ....” Ryoma tidak menyelesaikan kata-katanya. Sebaliknya dia hanya mengangkat bahu dan membuat gerakan samar.

Hanako sekarang benar-benar kalah telak. Dia tidak mungkin mengambil risiko mempertahankan keras kepalanya dan mempertaruhkan kesehatan ayahnya. Lagipula, mungkin tidak ada salahnya dia menerima, dan memang dia tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Ryoma. Dengan begitu, dia tidak hanya akan selamat dari rasa malu karena Yusuke telah mencampakkannya di malam Natal ini dan membatalkan rencana pertunangan mereka. Bahkan, jika dia menikah dengan Ryoma Otsuka, dia juga bisa mempermalukan Yusuke dan keluarganya. Sebab, dalam waktu sekejap saja dia bisa menemukan pengganti lelaki manja itu dan menemukan pria yang sepuluh bahkan seratus kali lipat jauh lebih baik darinya. Sebab dia tidak hanya kaya raya, tapi juga tampan luar biasa. Sempurna. Akhirnya, dengan nada pura-pura jengkel pada dirinya sendiri Hanako berkata, “Baiklah, kau menang. Aku kalah. Sekarang apa maumu?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED