“Jangan biarkan dia pergi dari kamar ini!” titah Morgan pada Leo.
“Baik, Tuan Muda.” Leo menjawab dengan sangat patuh.
Morgan yang hanya mengenakan jubah tidur berwarna putih dan sendal rumah berwarna senada, berjalan meninggalkan ruangan yang nyatanya adalah sebuah kamar itu. Morgan baru saja melampiaskan kekesalannya pada seorang wanita yang baru saja ia temui tadi pagi dan langsung membuat Morgan merasakan kebencian yang teramat dalam padanya.
Pria bermata biru itu berjalan menuju kamarnya dan kemudian duduk di sebuah kursi pada balkon kamarnya. Ia menyalakan sebatang tembakau yang dibungkus rapi dengan kertas bermerekkan sebuah perusahaan rokok yang terkenal. Dengan kasar, Morgan mengembuskan asap rokoknya itu ke udara dan menatap langit kelam yang saat ini sama seperti suasana hatinya. Gelap tidak bercahaya sedikit pun, dan hening dalam kesendirian.
“Ternyata kau sungguh datang untuk menerima hukuman dariku, Vallen!” lirih Morgan dan tatapannya menerawang jauh.
Morgan menyebut nama seseorang yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Yang tak pernah bisa ia miliki dan tak pernah bisa ia dapatkan. Wanita bernama Vallen, yang selama sepuluh tahun ini sudah mengisi penuh ruang di hati Morgan. Membuatnya menjadi pria yang sangat dingin dan kejam, serta sangat tidak memiliki perasaan sedikit pun.
Padahal, ia adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan ternama dan berada di urutan teratas sebagai perusahaan yang memiliki aset dan saham tertinggi di negara itu. California, tempat Morgan tinggal selama ini dan enggan meninggalkan tempat yang sudah memberikannya sejuta kenangan. Terutama, bersama wanita bernama Vallen yang tadi ia sebutkan dengan nada tertahan dan seperti sedang menahan kepedihan yang dalam.
“Tuan, wanita itu terus saja menjerit dan mengamuk. Dia bahkan berusaha melukai dirinya sendiri,” ucap Leo yang entah sejak kapan berada di belakang Morgan.
“Dasar pelacur sialan! Apa yang dia ributkan?” umpat dan tanya Morgan pada Leo.
“Dia hanya mengatakan dua kalimat, Tuan.”
“Apa itu?”
“Bebaskan aku dan aku bukan Vallen-mu!” jawab Leo menirukan apa yang wanita itu katakan.
Leo sebenarnya sangat takut mengatakan hal ini pada tuannya itu. Namun, setelah sepuluh tahun bekerja pada Morgan, Leo sama sekali tidak pernah membawa satu orang pun wanita ke dalam rumahnya itu. Morgan bahkan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun selama ini. Itu pula sebabnya, Leo sangat terkejut saat tadi Morgan tiba-tiba datang dengan membopong seorang wanita di atas pundaknya dan wanita itu dalam keadaan tidak sadar tentunya.
“Biarkan saja dia! Kalau memang dia mau mati, itu lebih bagus!” ucap Morgan pada akhirnya dan melanjutkan hisapan pada batang gulungan tembakaunya.
“Baik, Tuan.” Leo hanya berani menjawab sebatas itu.
Leo sangat tahu sampai di mana batas kesabaran tuannya. Morgan sudah sangat banyak melenyapkan orang yang ia tidak sukai atau yang berusaha untuk bermain-main dengannya dan bisnisnya. Bahkan, keluarganya sendiri sudah menjadi musuh terbesarnya saat ini. Morgan terlihat sebagai seorang pria yang hidup sebatang kara, padahal ia masih mempunyai keluarga yang utuh. Hanya saja semenjak sepuluh tahun belakangan ini hubungan mereka tidak dalam keadaan baik. Bahkan, Morgan sudah menjebloskan salah satu adik kandungnya ke dalam penjara karena sudah membuatnya marah saat acara peresmian perusahaan barunya yang baru ia buka setahun yang lalu.
Leo pergi dari kamar Morgan dan membiarkan pria itu sendirian lagi. Tidak banyak kata yang Morgan ucapkan saat tubuhnya perlahan bangkit dari tempat duduknya. Morgan membuang batang rokok yang masih separoh dihisapnya it uke lantai dan menginjaknya dengan kasar serta menggesek-gesekkan kakinya di atas puntungan rokok itu.
“Dasar wanita! Selalu saja merepotkan dan tidak bisa membuatku tenang sebentar saja!” geram Morgan dan mulai mengayunkan langkahnya keluar kamar.
Morgan kembali menyusuri lorong rumahnya dan membuka pintu kamar yang tadi sudah ia tinggalkan. Di depan kamar itu tentu saja sudah ada Leo yang berdiri dengan raut wajah datar, meski hatinya merasa sedikit cemas dengan keadaan gadis yang ada di dalam kamar tersebut. Pasalnya, baru saja Leo mendengar pecahan kaca dan tiba-tiba saja suara wanita yang sedari tadi tak berhentinya berteriak itu mendadak diam setelah sebuah jeritan panjang yang menyayat hati.
“Dasar wanita murahan tidak tahu diri kau! Beraninya kau mencoba untuk mati setelah membuatku menjadi hidup tapi serasa seperti sudah mati?” Hardik Morgan pada wanita yang kini sudah tergeletak di lantai dengan berlumuran darah, dan luka sayat di pergelangan tangannya.
"Leo!" pekik Morgan memanggil ajudan kepercayaannya itu.
"Ya, Tuan Muda,” jawab Leo dengan setengah berlari menghampiri Morgan.
Leo berusaha tetap tenang setelah melihat keadaan wanita di depannya itu, meski ia akui sempat terkejut dengan pemandangan tragi situ.
“Apa yang kau lakukan dengan berdiri di sana? Cepat angkat tubuh wanita sial ini dan segera bawa ke kamarku. Panggil Dokter Bram untuk segera datang ke sini!” Suara titah dan amarah Morgan terdengar sangat memekakkan telinga dan menyakitkan jantung. Tapi itu sudah menjadi hal biasa bagi Leo dan sudah menjadi makanan sehari-harinya selama sepuluh tahun belakangan ini.
“Baik, Tuan Muda.” Leo menjawab dan mendekati wanita yang sepertinya masih setengah sadar itu.
Saat Leo baru saja akan menyentuh tubuh wanita itu untuk mengangkatnya, tangannya langsung ditepis oleh Morgan dengan kasar dan tubuhnya bahkan digeser secara kasar pula oleh majikannya itu. Leo sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada tuannya itu.
“Minggir kau! Jangan berani kau menyentuh wanita ini!” ucap Morgan dengan kasar dan langsung mengambil alih tugas yang tadi ia titahkan pada Leo.
Dengan sedikit melongo, Leo menyaksikan bahwa Morgan sudah menggendog tubuh wanita itu dengan kedua tangannya dan berjalan menuju ke kamarnya. Leo tidak mau mendapatkan masalah lagi dan langsung saja menghubungi Dokter Bram dan memintanya segera datang ke kediaman Morgan Scorheart itu. Setelah melakukan tugas itu, Leo mengikuti Morgan yang pasti sudah sampai di kamarnya saat ini. dari ambang pintu dapat Leo liat bahwa Morgan sedang membalut luka di pergelangan tangan wanita itu dengan kaus dalam yang biasa ia kenakan.
Wanita itu sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dan Leo menyadari baru pertama kali ini Morgan terlihat begitu sangat membenci seorang wanita dan sangat peduli secara bersamaan. Leo melihat Morgan yang merawat luka wanita itu dengan sangat hati-hati dan tidak terlihat sisi kejam yang tadi baru saja ia keluarkan dan tunjukkan pada wanita yang dibawanya pulang itu.
“Tuan, sebenarnya apa yang terjadi dan siapa Nona Muda ini?” tanya Leo dengan sedikit lancang setelah memberanikan diri untuk bertanya pada Morgan.
Mendengar pertanyaan Leo, tatapan membunuh dari Morgan menyala dengan sangat jelas dan menatap pada Leo. Tentu saja Leo merasa sedikit bergidik ngeri dan langsung menunduk takut di hadapan Morgan. Ia menyadari kalau pertanyaannya sudah membangkitkan setan kemarahan dalam diri Morgan.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Morgan pada dokter Bram dengan nada yang kurang bersahabat.
Namun, siapa pun yang berhubungan dengan Morgan selama ini pasti sudah sangat hafal dengan sikap dan ucapannya itu. Jadi, mereka tidak akan muda tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Morgan atau pun dengan sikapnya yang memang terkenal sangat kejam itu.
“Nona Muda ini hampir saja kehilangan nyawanya dan ia juga mengalami dehidrasi, Tuan,” jawab Bram yang baru saja selesai memeriksa keadaan sang wanita.
“Siapa yang menyuruhmu memanggilnya dengan sebutan Nona Muda? Apa kau pikir di aini istriku?” tanya Morgan kasar.
“Ma-maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Suara Bram terdengar gemetar menjawab pertanyaan Morgan.
“Lalu apa? Kau tidak berpikir bahwa dia pantas untukku?” tanya Morgan lagi dan sontak membuat Leo dan Bram memandangnya dengan tatapan heran.
Morgan sendiri tidak mengerti mengapa ia menjadi orang yang tidak memiliki pendirian seperti ini. Di satu sisi ia sangat tidak ingin melihat wajah wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri di ranjangnya itu. Selang infus terpasang pada punggung tangan kanannya dan ada balutan perban yang memperlihatkan bercak darah di pergelangan tangan kirinya.
Menyadari bahwa sikap dan ucapannya menyebabkan kebingungan pada Leo dan Bram, akhirnya Morgan mengalihkan pandangannya pada wanita bernam Vallencia Zang itu. ia menatap wanita yang hampir mati itu dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh Bram, bahkan oleh Leo yang sudah di sisinya selama sepuluh tahun belakangan ini.
“Leo! Antarkan Bram ke ruangan tamu untuk istirahat!” titah Morgan pada Leo dan membuat Bram cukup terkejut.
“Baik, Tuan Muda.” Leo menjawab dengan patuh.
“Morgan! Apa-apaan ini? Aku tidak bisa tinggal di sini sekarang, ada pasien yang harus menjalani operasi setengah jam lagi dan aku harus menanganinya sendiri!” ucap Bram dengan suara lantang, mencoba untuk menolak titah Morgan.
Bram adalah sahabat baik Morgan sejak mereka masih berusia lima tahun. Orang tua mereka terlibat persaingan bisnis dan sampai saat ini masih saja bermusuhan. Untungnya, itu semua tidak merusak persahabatan Morgan dan Bram. Itu sebabnya Bram berani membantah ucapan Morgan, meski ia tahu apa yang dikatakan Morgan adalah sesuatu yang mutlak dan tidak akan bisa berubah dengan mudahnya.
Morgan melirik ke arah Bram dan bola matanya seakan tajam menusuk hingga masuk ke bola mata Bram dan membuat pria muda yang berprofesi sebagai ahli bedah itu tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah menundukkan pandangannya.
“Baik lah. Apa yang tidak bisa kulakukan untuk Tuan Muda kaya raya dan tak terjamah seperti dirimu?” tanya Bram saat ia berusaha menyeret langkahnya dengan terpaksa menjauh dari ranjang tempat Vallen sedang terbaring.
“Jangan mengatakan sesuatu yang tidak kusenangi atau kau akan berakhir di pedalaman Papua!” ancam Morgan dan tentu saja itu tidak hanya sekedar ancaman belaka. Morgan selalu serius dengan apa yang dikatakannya dan tidak perduli pada siapa ia mengucapkannya.
“Oke … oke … antar aku ke kamarku, Leo! Aku harus bersiap siaga menunggu perintah dari Tuan Mudamu yang bujang lapuk ini. Dan kurasa kau juga akan tertular penyakitnya itu, Leo.” Bram berkata seraya berjalan meninggalkan Morgan yang masih berdiri tak berkutik di depan tubuh wanita yang ia tatap dengan penuh kebencian itu.
Morgan masih mendengar apa yang dikatakan oleh Bram, akan tetapi ia tidak menggubrisnya karena memang sudah biasa Bram mengata-ngatainya di belakang. Namun, Morgan memang tidak pernah menganggap serius candaan dan gurauan Bram padanya itu.
Bram dan Leo keluar dari kamar Morgan dan menutup pintu dengan rapat. Memang tidak ada yang bisa membantah apa pun yang dikatakan oleh Morgan selama pria itu sudah mengeluarkan titahnya dengan nada tegas dan ekspresi yang sangat serius. Bram sengaja menyindir Morgan yang memang belum menikah di usianya yang sudah menginjak tiga puluh lima tahun. Sementara Bram sendiri sudah memiliki sepasang putra dan putri yang berusia tiga dan lima tahun saat ini.
“Di mana aku sekarang?” tanya wanita yang sedang berusaha menggerakkan tubuhnya dan memandang ke sekeliling kamar yang sekarang menjadi tempatny beristirahat.
“Kau ada di kamarku! Apa kau senang bahwa sekarang kau masih hidup? Aku menyelamatkan nyawamu lagi kali ini!" jawab Morgan dengan suara yang mampu membuat binatang buas pun akan menjadi patuh dan menurut padanya.
“Kenapa kau menyelamatkanku? Aku lebih baik mati dari pada harus menjadi tawananmu!” pekik Vallen dengan sekuat tenaganya.
“Aku tidak akan membiarkan kau mati dengan mudah, Vallen! Setelah apa yang telah kau lakukan dalam hidupku, kau pikir semudah itu untuk mati? Jangan bermimpi!”
“Aku tidak pernah melakukan apa pun padamu dan aku bahkan tidak pernah mengenalmu!”
“Jangan membohongiku, Vallen! Kau tahu seperti apa jika setan kemarahan dalam diriku sudah bangit, hem?” tanya Morgan sambil mencengkram rahang Vallen dengan keras.
Hal itu membuat Vallen meringis kesakitan, dan Morgan tentu saja melihat perubahan ekspresi Vallen dengan sangat jelas. Wajahnya yang masih sangat pucat karena baru saja kehilangan banyak darah membuat ekspresi kesakitan di wajah mungil itu terlihat sangat menyedihkan. Namun, berbeda dengan Morgan yang justru merasa sangat puas setelah melihat Vallen meringis kesakitan seperti itu.
“Lepaskan aku dan biarkan aku kembali pada keluargaku!” pinta Vallen dengan nada lemah. Berbeda dengan nada yang tadi ia keluarkan saat berusaha melawan Morgan.
“Keluargamu? Keluarga yang mana yang sedang kau bicarakan? Keluarga Zang yang sudah membuangmu dan mencampakkanmu seperti sampah? Dan kau masih menaganggap mereka keluarga?” tanya Morgan dengan suara tinggi dan menggertakkan giginya dengan geram.
“Jangan mengatakan hal buruk tentang keluargaku. Mereka yang selama ini sudah merawatku dengan baik,” bantah Vallen dengan tegas.
“Bangun lah dari mimpimu, Vallen. Sadar lah siapa dirimu saat ini dan ingat lah semua yang telah mereka lakukan padamu,” ucap Morgan seperti sedang mencoba mengingatkan Vallen pada sesuatu.
Vallen tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada dirinya hari ini. Awalnya ia hanya sedang berjalan-jalan setelah bertahun-tahun hidup di sebuah pulau terpencil. Itu karena keluargany berkata bahwa ia sedang disembunyikan dari seorang mafia yang mengincar nyawanya. Namun, saat ini mafia itu sudah melupakan tentangnya dan Vallen bisa kembali menjalani kehidupan normal di kota kelahirannya.
Tanpa diduga sekelompok orang malah menculiknya dan membawanya ke rumah pria yang memang tidak pernah ia kenali itu. Dan yang lebih membuat Vallen heran, pria itu mengenalnya dan seperti menyimpan sebuah dendam besar padanya.
“Aku tidak pernah mengenalmu, Tuan. Banyak wanita bernama Vallen di dunia ini dan kurasa kau sudah salah mengenali orang. Sebaiknya, lepaskan aku sekarang juga. Putriku pasti sangat mencemaskan diriku saat ini,” ucap Vallen dengan nada memohon pada Morgan.
Namun, hal itu justru membuat rahang Morgan mengeras karena mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Vallen.
“Putri?” tanya Morgan dengan emosi yang berusaha ia redam.
“Putri?” tanya Morgan dengan nada heran dan tak percaya.
“Ya. Putri. Putriku sudah berusia sembilan tahun dan saat ini sedang menungguku di rumah. Aku pasti sudah membuatnya khawatir saat ini,” jawab Vallen dengan wajah tak berdosanya yang sangat dibenci oleh Morgan.
‘Jadi ternyata ia mengandung benih dari hasil percintaannya dengan bajingan itu? Dasar manusia-manusia sampah!’ umpat Morgan dalam hatinya.
Vallen menatap Morgan yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu hal. Vallen sendiri tidak mengetahui apa yang membuat Morgan membawanya ke rumah yang sangat megah dan super mewah ini. Yang Vallen tahu adalah dia sangat membenci Morgan karena sudah melecehkannya sesaat sebelum Vallen memutuskan untuk bunuh diri. Vallen benar-benar lupa kalau nyatanya ada Cleo yang pasti sedang menantikan kehadirannya saat ini.
“Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini, Vallen! Ingat itu baik-baik. Semakin kau berusaha untuk keluar dari sini, akan semakin aku buat hidupmu tersiksa. Dan ya, putrimu juga akan menanggung semua perbuatanmu!” ancam Morgan pada Vallen dengan raut wajah bengis.
“A-apa yang kau maksud? Putriku? Jangan lakukan apa pun pada putriku, kumohon!” pinta Vallen dengan suara yang bergetar.
Vallen tahu bahwa pria yang kini berada di depannya ini tidak akan main-main dengan ucapannya. Meski baru bertemu hari ini, Vallen sudah bisa menilai pria seperti apa yang sedang dihadapinya saat ini. Selama persembunyiannya, Vallen sudah banyak dihadapkan dengan masalah seputar pria-pria kejam dan bengis di pulau itu. untung saja, semua sangat menghargai Vallen dan menyayangi Cleo seperti anak mereka sendiri.
“Nasib putrimu, tergantung bagaimana caramu bertindak di sini. Ingat! Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Aku bahkan bisa membawa putrimu ke sini jika aku mau saat ini juga!”
“Tolong, Tuan! Jangan sakiti putriku! Aku mohon padamu, jangan lakukan apa pun padanya. Jika kau memang membenci nama dan wajahku, lakukan aku sesukamu. Asal jangan pernah sentuh putriku. Dia tidak tahu apa-apa dan dia masih terlalu kecil untuk kau sakiti,” rintih Vallen dalam isak tangis yang sudah terdengar memekakkan telinga Morgan.
“Cih! Ternyata sesayang itu kau pada putri harammu itu, hem? Apa kau juga sangat mencintai ayah dari putrimu itu? Di mana bajingan itu sekarang? Kenapa dia tidak menyelamatkanmu? Bukan kah dulu kalian menentangku hanya demi bisa hidup bersama?” tanya Morgan sinis dan bahkan meludahi lantai saat mengatakan itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Morgan, tentu saja Vallen merasa heran dan tidak mengerti sama sekali. Vallen memang memiliki seorang putri yang ia lahirkan di tempat persembunyianny di tengah pulau nan yang jauh dari jangkauan. Namun, sampai saat ini pun ia tidak pernah mengetahui siapa ayah dari putrinya itu. Vallen hanya hidup berdua dengan putrinya dan selama itu pula keluarganya tidak pernah datang berkunjung sama sekali ke pulau itu. bahkan, mereka baru belum pernah bertemu dengan Cleo hingga saat ini.
Sudah tiga hari Vallen dan Cleo keluar dari persembunyian mereka selama ini, dan itu pun setelah adanya surat dari anggota keluarganya yang mengatakan bahwa mereka sudah bisa kembali ke California. Vallen menyewa sebuah rumah sederhana dan tadi ia meninggalkan Cleo sendirian di rumah itu karena merasa belum aman jika membawa Cleo berkeliaran di tengah kota yang padat merayap seperti ini. vallen sendiri masih belum yakin bahwa ia sendiri masih aman di sini.
Menurut keluarganya, Vallen selama ini sedang dalam pencarian seorang mafia berdarah dingin yang tak akan segan-segan menghabisi nyawa Vallen dan Cleo jika ia menemukan keberadaan mereka. Itu sebabnya Vallen meninggalkan Cleo di rumah dan ternyata saat ia keluar, ia justru diculik dan dibawa ke rumah ini oleh orang-orang suruhan Morgan.
“Jangan pernah menghina putriku seperti itu, Tuan. Aku tidak perduli siapa ayahnya, tapi jangan pernah mengatakan dia anak haram. Dia adalah darah dagingku dan akan aku lindungi sampai darah dan napas terakhirku!” ucap Vallen dengan nada yang cukup lantang didengar oleh Morgan.
“Besar juga nyalimu. Kau hanya wanita murahan yang bisa berpaling pada pria lain hanya karena uang. Harta dan tahta sudah membutakan matamu sehingga …,” ucapan Morgan terhenti saat ia tiba-tiba saja melihat Vallen menatapnya dengan tatapan mata sayu.
Tatapan mata yang tak pernah bisa Morgan biarkan saat mereka masih bersama dulu. Morgan bahkan akan langsung memeluk Vallen dan mencumbunya dengan penuh mesra agar Vallen berhenti bersedih karena sudah diperlakukan tidak pantas oleh keluarganya. Keluarga yang hanya membesarkannya saja, tanpa memberikannya perasaan cinta dan rasa aman di dalam rumahnya sendiri.
Namun, saat itu Morgan tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dulu ia bukan lah siapa-siapa. Morgan dulunya hanya lah seorang anak pengusaha yang tidak terlalu ternama dan sering kali direndahkan oleh keluarga Vallen dan dikatakan tidak pantas menjadi pendamping hidup Vallen.
“Sehingga apa?” tanya Vallen dengan suara bergetar menahan kepedihan atas ucapan yang dilontarkan oleh Morgan. Pria yang sama sekali belum ia ketahui siapa namanya itu.
“Tidak perlu tau! Cukup untuk hari ini dan jangan bertingkah lagi. Ingat! Nasib anakmu ada padamu!” ujar Morgan dan memutar tubuhnya membelakangi Vallen.
Morgan tampak ingin pergi dari tempat itu. Namun, ia masih berdiri mematung di tempatnya dengan berbagai macam perasaan yang mendera di dadanya. Morgan sendiri tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. apakah itu rasa benci, sakit, cinta, atau kah kecewa? Banyak yang Morgan rasakan setiap kali melihat wajah mungil yang pucat itu. Apalagi saat suaranya bergetar menahan pilu atas ucapan kasar yang Morgan lemparkan padanya. Meski menyadari semua ucapannya itu sangat lah menyakitkan bagi Vallen, Morgan sama sekali tidak bisa menghentikan mulutnya untuk bicara kasar pada wanita itu.
Setelah menciptakan keheningan sejenak, Morgan mulai mengayunkan langkahnya menuju pintu kamarnya dan berniat untuk tidur di kamarnya yang satu lagi. Kamar itu terletak tepat di sebelah kamar utamanya yang sedang ditempati Vallen saat ini. namun, belum sempat tangannya meraih handle pintu, suara bertanya dari Vallen terdengar sangat menyakitkan dan menusuk jantungnya.
“Maaf, Tuan. Boleh kah aku tau siapa namamu? Aku berjanji akan bersikap baik, asal kau tidak menyakiti putriku, Tuan. Apakah kita bisa membuat kesepakatan itu?” tanya Vallen dengan suara lemah dan terdengar penuh rasa harap.
“Nama? Kau tidak tau namaku?” tanya Morgan heran saat ia telah berhasil memutar kembali badannya dan menghadap pada Vallen yang memng sedang menatapnya saat ini.
“Justru karena aku tidak tau, makanya aku bertanya padamu.” Wanita itu menjawab dengan jujur dan justru kejujurannya itu kembali membangkitkan kemarahan dalam diri Morgan.
Dengan kasar Morgan memutar tubuhnya, memutar handle pintu dan menarik pintu menjadi terbuka. Morgan keluar dan menutup pintu dengan menghempaskannya kasar. Morgan melangkah dengan raut wajah merah padam menahan amarahnya. Saat memasuki kamar lainnya, Morgan membanting sebuah vas bunga bernilai ribuan dollar dengan geramnya.
“Wanita sialan! Beraninya kau berlagak lupa dengan namaku! Bukan kah kau yang memberikan nama itu padaku. Dasar jalang rendahan!” umpat Morgan dengan nada tinggi dan meninju kaca meja rias yang ada di dalam kamar itu dengan seluruh tenaganya.