Brukk
Tubuh Kayla seketika jatuh tersungkur di lantai
marmer berlapis permadani mewah, saat ia mencoba untuk duduk di tepi bibir ranjang, lebih tepatnya di kamar pengantinnya yang bernuansa romantis dengan hiasan lampu yang cantik.
"Aww, sakit Tuan!. Apakah anda harus bersikap sekasar ini!" pekik Kayla meringis saat tubuhnya terhempas jatuh lumayan keras, ia tak menyangka jika akan mendapatkan perlakuan yang begitu kasar dari seorang pria yang ada di hadapannya itu. Ia pun hanya memegangi bagian lututnya yang terantuk dan mungkin akan meninggalkan bekas luka lebam nantinya.
"Jangan harap, jika kamu pikir aku akan suka melihat wajahmu itu!" hardiknya sangat geram dengan memijat tipis bagian pelipisnya yang terasa sangat berat dan berdenyut. Menatap nyalang pada gadis itu.
"Maaf, Tuan Shaka. Tapi ini semua bukan keinginan saya," lirih Kayla seraya menunduk dengan gaun pengantin yang masih ia kenakan.
"Hari ini merupakan hari paling sial dalam hidupku, pernikahan yang awalnya ku impikan telah hancur sudah. Dan lebih sial lagi malah kamu yang muncul. Gadis jelek!" ucapnya mendengus kesal seraya menyugar belahan rambutnya.
Bughhh!
Bughhh!
Berkali-kali kepalan tangannya meninju tembok berwarna putih gading itu.
Punggung tangannya pun seketika itu membiru. Tapi ia tak peduli dengan rasa sakitnya itu.
"Maafkan saya Tuan, karena ini semua sungguh diluar kendali saya," ucap Kayla hanya tertunduk lesu dan tak mampu memandang wajah pria di hadapannya itu. Sungguh memang ini bukan situasi yang ia inginkan. Ketika harus menjadi seorang pengantin untuk seseorang yang tak ia kenali sebelumnya, tentu saja hal ini juga sangat lah berat untuknya. Tapi apa daya ia tak memiliki pilihan lain, walau sulit terpaksa ia harus terima.
"Aku lebih suka untuk menjomblo seumur hidup. Aku bisa bermain dengan wanita manapun yang ku mau. Tapi kenapa, kamu malah menerima untuk menjadi istriku, hah?" tatapan Shaka sangat tajam seraya jemari tangan kokohnya itu meraih wajah tirus Kayla dengan cengkraman yang amat keras sehingga tindakannya itu menyakitinya.
"Aww, sakit Tuan!" pekik Kayla tak mampu melawan. Hanya lah buliran bening itu saja yang mulai meleleh mengalir bak anak sungai membasahi pipinya.
"Semua hanya demi uang kan? Dasar gadis bodoh!" umpat Shaka dengan mata yang menyala.
"Saya pun tak mengerti, bukan keinginan saya pula untuk berakhir seperti ini!" ucap Kayla terbata merasakan sakit di tulang rahangnya.
"Halah, semua wanita sama! Tak ubah bagai jalang kecil yang akan hijau bila melihat uang!" cecar Shaka dengan sunggingan senyum miring dari sudut bibir berkumis tipis itu. Ya, senyuman yang mengejek Kayla sepenuhnya.
"Terserah Tuan, mau bicara apa pun tentang saya. Saya sama sekali tak peduli." lirih Kayla dengan air mata yang semakin menggenang. Dadanya bergemuruh dan merasa sakit mendengar penuturan dari lelaki itu.
"Apa segitu gatalnya dirimu ini? Sampe mau menuruti perintah nya, hm?" tatapan mengejek itu terus saja ia lemparkan untuk Kayla seraya memindai tubuh Kayla dengan senyum sinisnya.
"Apa, maksud Tuan?" tanya Kayla yang berusaha melepaskan wajahnya dari cengkraman kasar Shaka.
"Jika itu mau mu, maka kamu harus puaskan aku malam ini juga," bisik Shaka seketika melepaskan tangannya dan langsung menarik kedua bahu kayla dengan kasar.
Brukkk
Kini tubuh Kayla terhempas diatas tempat tidur. Ia tak mengerti kenapa dirinya di perlakukan bagai mainan yang bisa di banting ke sana sini.
"Ah, Tuan" ucap Kayla kaget.
"Kamu melakukan semua ini, karena gatal dan sangat menyukai uang, kan?" tanya Shaka dengan kasar kini ia menindih tubuh gadis itu, sontak membuat mata Kayla menjadi membulat sempurna. Karena bagaimana tidak lelaki satu ini dari tadi terus saja menghina dirinya.
"T-tolong jangan, Tuan. Saya mohon!" lirih Kayla dengan dada yang maju mundur tak mampu menstabilkan ritme nafasnya.
"Kenapa jalang sepertimu harus pura-pura lugu dan polos? Bukannya kamu gatal dan merindukan sentuhanku?" tanya Shaka dengan nada yang terus mengejek.
"T-tidak bukan begitu, Tuan Shaka. Karena anda hanya lah salah paham saja," ucap Kayla lesu, ia mencoba untuk berontak berkali -kali. Namun kurungan tubuh kekar itu membuat dirinya tak berdaya.
"Lantas, apa yang kamu inginkan? Hingga kamu berada di kamar ini? Dasar jalang kecil munafik dan licik," umpat Shaka seperti tak puas memaki dan menghina gadis cantik di hadapannya itu.
"Ya, jujur saya akui semua itu memang lah benar demi uang! Tapi, memang saya tak seperti yang anda pikirkan, Tuan!" sentak Kayla yang lama-lama kesal mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari Shaka.
"Tapi buktinya kamu telah menjual tubuhmu ini, kan?" tanya Shaka berbisik di kuping Kayla hingga aroma hangat mint itu sontak menyeruak di indera penciuman Kayla.
Mendengar penuturan dari lelaki tampan itu Kayla hanya bisa menghela nafas untuk menahan emosinya. Dan hanya mampu memejamkan matanya, karena ia pun sama sekali tak habis pikir kenapa bisa terjebak dalam suasana yang sangat tak menyenangkan untuknya.
"Ya, terserah, lakukan apa pun yang Tuan inginkan," lirih Kayla tanpa membuka matanya.
"Sudah ku duga, kau memang seorang gadis gatal," ucap Shaka.
"Aish, lagi-lagi dia mengatakan itu. Dasar Brengsek!" bathin Kayla makin kesal ingin sekali ia menghilang dari bumi detik itu juga.
"Sangat menyebalkan, bukan kamu yang ku inginkan." ucap Shaka ia menarik tubuhnya untuk menjauh dari Kayla, ia beranjak dan meraih sebotol vodka hingga habis setengahnya.
Prangg!
Ia lemparkan botol itu ke tembok hingga pecah berkeping-keping.
"Astaga, apa dia kerasukan setan gundul sekarang?" gumam Kayla tak mengerti dengan emosi Shaka yang sangat labil itu.
"Aku pergi, jangan harap ada malam pertama! Aku, tak akan pernah menganggap kamu sebagai seorang istri. Camkan itu!" teriaknya seraya membuka pintu Hotel dan menutupnya kembali dengan kekuatan penuh.
"Astaga, kenapa bisa aku terjebak dengan pernikahan yang seperti ini? Harus bagaimana aku menghadapi lelaki aneh itu?" gumam Kayla heran, ia hanya duduk termangu di kamar dengan cahaya remang - remang di yang bertabur kelopak mawar merah itu. Namun, ia merasa lega karena lelaki itu tak menyentuhnya.
Shaka berjalan melenggang menyusuri koridor untuk segera memasuki lift. Ia tiba di lobi dengan masih riuhnya suasana di sana. Tak tunggu lama ia pun segera merogoh kunci di dalam saku jasnya. Langsung menaiki mobilnya, dengan perasaan yang kacau dan hancur. Ia tak terima karena pernikahannya dengan sang kekasih hancur begitu saja, karena gadis itu telah tega menduakannya. Tetapi lebih fatalnya lagi sang ayah masih harus memaksa dirinya untuk melanjutkan acara pernikahan dengan gadis lain yaitu Kayla yang tak lain adalah perawat kepercayaan sang Opa sendiri. Hal itu lah yang membuat Shaka marah dan geram karena hari nya bisa hancur seketika. Pernikahan yang ia idamkan itu sirna sudah.
Mobil mewah berwarna hitam itu pun kini melaju ke sebuah tempat hiburan malam di pusat ibu kota, ia hanya ingin sekedar meluapkan segala emosi yang bergejolak di dadanya. Ia tak terima dengan keputusan sang ayah yang memaksa dirinya untuk menikahi Kayla. Dengan perasaan kalut ia injak dalam-dalam pedal gas meluncur memecah jalanan yang sunyi lengang karena jam tangannya telah menunjukkan pukul 22:30 malam.
"Gretta, kenapa kamu tega menghancurkan mimpi -mimpi kita berdua, Brengsek!" umpat Shaka seraya memukul kemudinya berkali-kali, sehingga suara klakson yang keras itu sontak membuat pengendara lainnya kaget.
Kayla hanya bisa duduk di dekat jendela. Gaun indahnya menjuntai di lantai. Gaun berwarna putih gading dengan bagian puring cantik di punggungnya. Tubuhnya yang tinggi langsing sangat cocok mengenakannya, bahkan tiara kecil itu pun masih bertengger manis menghiasi kepalanya.
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku ini? Kenapa bisa aku berakhir di sini bersama lelaki dingin itu, apakah benar keputusan yang kuambil ini. Karena aku butuh banyak biaya untuk pengobatan ayah dan juga sekolah adikku, Dhea. Belum lagi perlakuan Mama tiriku yang semena-mena pada kami, apa saat ini aku mengambil keputusan yang salah?" Batinnya terus bertanya-tanya. Matanya terus menerawang jauh menatap langit malam yang semakin kelam tak ada bintang atau sinar rembulan. Kayla merasa telah menjual harga diri dan juga masa depannya. Namun, semua itu ia lakukan hanya untuk keluarganya, karena tawaran yang cukup fantastis dari tuan Sabhara dan juga Nyonya Sofia yang tak lain adalah orang tua Shaka Windu Artha yang sekarang menyandang status sebagai suaminya.
Tak ingin terlalu terlalu dalam kesedihan yang mendalam, akhirnya ia pun bergegas untuk melepas gaunnya berganti pakaian memakai baju tidur. Kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur, karena malam pengantin yang memang tak diharapkan oleh kedua belah pihak membuat Kayla pun lega. Walaupun sikap dingin Shaka seperti itu, setidaknya ia tidak tersentuh olehnya di malam ini. Karena sebenarnya ia juga takut saat membayangkan hal itu dan sama sekali tak siap tersentuh oleh seseorang yang tak ia cintai. Saking lelahnya dengan acara hari ini, tanpa sadar ia memejamkan matanya memasuki alam mimpi.
Kembali ke beberapa jam yang lalu.
Di saat pernikahan akan dimulai kedua mempelai pun sudah siap dihadapan penghulu. Dan baru saja Shaka akan mengucapkan akad pernikahannya. Dari luar ternyata seorang misterius yang mengenakan helm full face berwarna hitam yang melemparkan sebuah benda pada security Hotel.
Melihat itu security pun lalu mengambilnya. Dengan terheran-heran ia menyerahkan kepada Tuan Sabhara yang saat ini menggelar acara pernikahan megah tersebut.
"Maaf Tuan. Permisi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada anda!" Serunya. Dengan sungkan menghampiri Tuan Sabhara.
"Memang ada apa Pak?" tanyanya. Ia penasaran karena sampai security masuk dan menemui dirinya disaat penting itu
" Ini lho Tuan. Barusan ada yang melemparkan sesuatu dari luar. Dia melemparkan benda kecil ini," ucap security memberikannya kepada Tuan Sabhara.
"Benda apa itu Pak? Kenapa ada orang yang bisa masuk ke dalam Hotel ini, apakah itu benda berbahaya?" Tanya Tuan Sabara penasaran.
"Ini hanya benda kecil. Sepertinya bukan benda berbahaya, Tuan." Ucapnya sambil menyerahkan bungkusan kecil tersebut pada Tuan Sabhara.
"Lantas bagaimana dengan ciri-ciri orang itu?" tanya Tuan Sabhara penasaran.
"Oh, Pak tadi orang itu tiba-tiba melemparkannya dan berteriak bahwa harus disampaikan kepada Tuan. Dia memakai pakaian serba hitam dan helm full face sehingga tak terlihat seperti apa wajahnya," jawab security tersebut.
"Oke. Baik, terima kasih Pak!" ucap Sabhara, hal itu pun membuat prosesi akad nikah tertunda sejenak. Karena penasaran ia segera melihat isi dalam bungkusan kecil tersebut, dan ternyata isinya adalah sebuah flashdisk. Segera saja ia memasangkan di laptopnya. Namun, alangkah terkejutnya ketika mendapati di dalam rekaman tersebut adalah video tak senonoh seorang gadis yang sangat ia kenali, yaitu tak lain adalah calon menantunya sendiri. Menyaksikan itu semua, matanya kontan membola sempurna. Melihat sang suami yang terbengong begitu membuat Nyonya Sofia pun langsung mendatanginya.
"Astaga, apa ini!' ujar Nyonya Sofia sontak kaget. Sungguh ia tak pernah menyangka dengan apa yang dilihatnya.
"Stop! Sekarang juga kita akan batalkan pernikahan ini. Ternyata dia bukan wanita baik-baik. Maaf, aku tak sudi memiliki menantu seperti dia!" Teriak Tuan Sabhara geram. Tangannya menunjuk ke arah Gretta yang sudah duduk manis di samping sang putra.
"Ada apa ini?" Pak Willian dan Bu Rihana sontak panik mendengar penuturan dari mulut calon besannya itu. Suasana hening itu pun mendadak riuh seketika. Sementara semua orang mulai bertanya-tanya apakah yang sedang terjadi.
"Shaka, sayang ada apa ini? Kenapa Papamu berteriak begitu?" tanya Gretta tak mengerti. Begitu juga dengan Shaka.
Ia beranjak menghampiri kedua orangtuanya yang tiba-tiba berubah menjadi geram pada kekasihnya, padahal tadi mereka masih baik-baik saja tak ada masalah apapun. Justru, mereka telah dekat dengan Gretta 1 tahun terakhir.
"Mama, Papa? Ada apa ini sebenarnya? Tolong katakan, jangan rusak momen bahagia Shaka dong. Please!" ucapnya penuh harap. Dan jika terjadi sesuatu kesalahan pahaman ia harap tak mengganggu pernikahannya saat ini.
"Dia wanita murahan, yang akan kamu nikahi itu tak sebaik yang kamu kira, Nak!" teriaknya Sofia. Dan, hal itu membuat gempar seluruh tamu undangan yang hadir di ballroom Hotel mewah berbintang 5 di kawasan jantung ibukota itu.
"Mama, ada apa sih sebenarnya? Ma, ini adalah hari pernikahanku bagaimana bisa terjadi keributan seperti ini?" shaka segera menghampirinya
"Shaka, sekarang buka mata kamu lebar-lebar sayang! Kamu lihat sendiri dalam video ini siapa pemeran utama wanitanya? Itu adalah wanita itu yang akan kamu nikahi!" Cetus Nyonya Sofia menunjuk wajah dalam video itu, seorang gadis seksi yang polos tanpa sehelai benang pun menari diatas tubuh seorang laki-laki. Gerakan gemulai dan nakalnya jelas terpampang nyata disana.
"J-jadi Gretta. Itu, adalah Gretta!" Lirih Shaka shock parah. Hingga hampir jatuh lemas. Namun tubuhnya sigap ditangkap oleh sang ayah.
"Huh, pokoknya akhiri sekarang juga. Batalkan pernikahan inu, Mama tak setuju kamu menikah dengan seorang gadis murahan!" Cetus Nyonya Sofia.
"Saya juga tak sudi memiliki menantu yang tak memiliki rasa malu. Anak kami yang berharga tak akan kami biarkan menjadi miliknya! Dia tak pantas menyandang status sebagai menantu dari keluarga Windu Artha. Kami adalah keluarga besar yang terpandang tak sudi menerima dia, hanya gadis gatal dan nakal!" Sentak Tuan Sabhara tegas.
"Papa, Mama!" Teriak Gretta histeris menyambar kedua orangtuanya.
"Gretta, apa yang telah kamu lakukan, Nak? Apa yang membuat mereka marah!" tanya Willian sangat bersedih.
"Sini, Mas! Lihat sendiri aksi bejat putrimu!" ucap Sabhara geram.
"Tidak Papa. Tidak, Papa jangan lihat itu, maaf aku memang salah. Tapi aku dijebak oleh laki-laki brengsek itu." Isak tangis Gretta tak bisa terbendung lagi. Sementara Shaka hanya berdiam diri tertegun dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Semua tak berjalan mulus sesuai dengan rencananya.
"Kami malu Gretta. Kamu coreng wajah kami dihadapan semua orang!" Hardik Willian tak segan ia menampar pipi putrinya itu.
Plakk!
"Papa, maafkan Gretta!" lirihnya sendu. Tangannya mengusap pipinya yang merah dan panas.
"Ayo Pa kita pergi. Anak kita sendiri yang telah melemparkan kotoran di wajah kita berdua!" ucap Rihana sangat kecewa dengan tingkah laku Gretta yang membuat keluarga mereka malu.
Gretta berlari menghampiri Shaka. Wajahnya berubah sembab dan berurai air mata. Di sambarnya tangan Shaka.
"Shaka, dengar kan aku!" Serunya memeluk tubuh Shaka.
"Apa lagi sih yang mau kamu katakan? Semua sudah jelas, kamu wanita seperti apa?" Sentak Shaka. Hatinya begitu hancur dan geram.
"Dengar sayang. Aku bersumpah, demi apa pun. Karena ini semua bukan keinginanku!" isak Gretta tak sanggup lagi untuk menahan air matanya tak peduli semua orang melihatnya.
"Semua sudah jelas. Dan kukira tak ada yang perlu di jelaskan lagi. Karena kita semua memiliki mata untuk melihat seperti apa kebusukan kamu, Gretta!" Sentak Shaka tak peduli. Suaranya meninggi karena tak mampu lagi untuk mengontrol emosinya yang sudah meledak-ledak.
"Pliss sayang, semuanya hanyalah jebakan dari seseorang yang menginginkan hubungan kita hancur. Shaka, kamu percaya sama aku kan? Dan, kita akan masih bisa untuk melanjutkan pernikahan ini kan?" tanyanya sangat terpuruk melihat Shaka dan kedua orangtuanya yang telah memandangnya hina.
"Kamu murahan. Kamu kotor! Masih bisa kamu mengelak, hah?" teriak Shaka. Kedua matanya sudah merah menyala. Gadis cantik yang sudah sangat ia cintai ternyata tak seperti yang ia kira.
"Hentikan, Gretta! Cukup, ayo kita pergi. Apa kamu tak cukup dalam membuat keluargamu ini malu besar!" Willian tanpa segan menyeret tubuh Gretta.
"Ayo sayang. Kenapa kamu masih ada disini? Ini semua memang salahmu. Tapi kita juga tak mau dipermalukan dihadapan banyak orang seperti ini," ucap sang ibu tak mampu menahan rasa sesak di dalam dadanya.
Sementara kedua orang tua Shaka pun tak mampu untuk berkata apa-apa lagi. Pernikahan megah yang menguras kantong itu hanya akan berakhir dengan sebuah kegagalan dan juga rasa malu akibat ulah si calon menantu. Padahal selama ini Gretta telah akrab dan pandai dalam mencuri perhatian dari Nyonya Sofia yang sangat royal dan juga hobi shoping. Tentu saja hal itu sangat cocok dengan kepribadian Gretta yang menyukai kehidupan yang hedon dan suka hura-hura. Namun, kini semuanya telah berbeda karena aibnya itu terbongkar di hadapan umum dan menggagalkan rencananya untuk menjadi menantu dari keluarga milyuner Sabhara Windu Artha.
"Maafkan kami Mas Sabhara, karena hal yang tidak diinginkan terjadi seperti ini. Jujur saya sangat malu dengan adanya kejadian ini," ucap Willian sangat merasa bersalah.
"Sudahlah, tapi sepertinya pernikahan ini memang tidak akan pernah terjadi. Karena kami juga telah emosi. Namun sampai kapanpun kami takkan pernah membiarkan anak kami yang sangat berharga menikah dengan Putri Pak Willian, dan ini tak bisa di ganggu gugat lagi!" tukas Tuan Sabhara tegas. Dan tak ingin mendengar perdebatan lagi.
"Maksudnya, apakah kita akan putus hubungan Mas?" tanya Willian. Tubuhnya mulai bergemetaran.
"Kita masih bisa untuk berhubungan baik. Namun tidak untuk menjadi besan. Semuanya juga sangat kami sesalkan karena pernikahan yang harusnya sakral dan istimewa harus hancur tiba-tiba seperti ini. Sungguh kami juga bersedih," ucap Sabhara. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Baiklah, kami juga harus mengerti tentang apa yang terjadi di sini. Kami juga sangat menyesal karena tak bisa menjadi orang tua yang mampu mendidik Putri kami satu-satunya. kalau begitu maaf kami permisi," ucap Willian ia sudah tak memiliki wajah untuk terus berhadapan dengan Tuan Sabhara.
Gretta masih menangis sejadi-jadinya hingga menyeret gaun pengantinnya. Mereka tiba di parkiran halaman hotel tersebut. Semua pasang mata tertuju padanya. Mereka mencibir seolah menghina dan mencemooh, membuat dirinya sangat frustasi dibuatnya sehingga ia segera dimasukkan ke dalam mobil oleh sang ayah dan langsung meninggalkan lokasi tersebut.
Mobil Willian melaju kencang dengan rasa malu yang sangat luar biasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Sudah jangan menangis Gretta! Ini semua terjadi karena kesalahan kamu sendiri! Kenapa kamu melakukan hal kotor seperti itu?" sentaknya sambil menginjak pedal gas dalam-dalam.
"Gretta juga ga sangka. Video itu bisa menyebar. Aku di jebak Pa. Aku tidak seperti itu!" teriaknya sangat sedih.
"Sudahlah. Tutup mulut kamu. Semuanya telah hancur karena ulahmu!" Sentak Willian.
*****
Di dalam hotel kepala saka kembali berdenyut ia berlari ke lantai 10 di kamarnya, melihat itu Opa tak tinggal diam dan mengajak berdiskusi Tuan Sabhara dan juga Nyonya Sofia hingga akhirnya mendapatkan sebuah keputusan.
"Kayla, bersediakah kamu menjadi istri dari anakku?" tanya Tuan Sabhara tanpa basa-basi lagi. Menatap lekat wajah cantik sang perawat.
"Ah, menikah? Dengan Tuan Muda Shaka?" Dua mata bulatnya begitu membola.
"Ya, jika kamu mau kamu akan aku berikan semua yang kamu inginkan dan di kertas ini tertulis nominal 5 miliar yang bisa kamu miliki jika kamu mau menjadi menantu kami dan menyelamatkan Shaka dari rasa malu!" Cetusnya tegas menyerahkan satu lembar cek diatas meja.
"Apa Tuan Sabhara? saya harus menikahi Tuan muda Shaka sekarang juga? Ah, itu rasanya sangat tidak mungkin," pekik Kayla sambil menunduk. Kedua tangannya saling meremas.
"Kenapa tidak mungkin. Kayla, saya sendiri yang memintamu untuk menjadi istri dari Shaka. Kenapa kamu bilang tidak mungkin? Apa kamu tidak tergiur dengan uang ini?" tanya Tuan Sabhara menelisik wajah Kayla dengan seksama, membuat Kayla deg-degan karena bagaimana tidak di ruangan kamar itu ia bagaikan sedang diintrogasi oleh majikannya itu.
"Saya hanya bekerja di sini untuk mengurusi Opa Romi dan mana mungkin saya bisa menikah dadakan tanpa orang tua saya mengetahuinya hal itu, sangat mustahil," ucap Kayla dengan lirihnya.
"Baiklah Kayla, ini hanyalah pernikahan sementara jika kamu mau untuk menyelamatkan keluarga kami dari rasa malu karena batalnya pernikahan hari ini. Dan, uang itu adalah untukmu, jika kurang kamu boleh meminta lagi. Dan, kamu boleh berpisah dengan dalam waktu 3 tahun saja." ucap Tuan Sabhara dengan tegas dan tak menerima sebuah penolakan.
"Apa Pa? Apa keputusan ini sudah tepat, untuk menjadikan suster perawat Opa sebagai istri dari Putra kita?" tanya Nyonya Sofia merasa frustasi dengan itu.
"Memang apalagi solusi yang Mama punya, pernikahan batal begitu saja membuat kita malu. Dan, lagi pula Kayla ini cukup cantik untuk mendampingi Putra kita!" Cetus Tuan Sabhara
"Haduh gimana lagi. Ya sudahlah kepala Mama juga pusing atur sajalah bagaimana baiknya, kepala Mama sakit sudah tidak bisa berpikir lagi!" ucap Nyonya Sofia. Ia duduk membatin di sofa.
"Ayo Kayla Kamu jangan terlalu banyak berpikir kapan lagi kamu memiliki uang sebanyak itu? Tugasmu kamu hanya perlu menjadi pengantin pengganti untuk cucu Opa. Hanya itu saja," ucap Opa Romi menatap penuh harap.
"Apa-apaan kalian ini. Pernikahanku sudah hancur berantakan. Dan, kalian ingin aku menikah dengan seorang gadis rendahan seperti dia!" ujar Shaka yang dari tadi menguping dari celah pintu kamar yang tak tertutup sempurna.