Bab 1

Hari ini matahari tampak malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Lumayan mendung. Semendung hatiku yang kemarin baru saja habis putus sama pacar. Eh ralat, maksudnya mantan pacar. Ketika kesetiaan telah terkhianati, ya jalan satu-satunya adalah putus. Putus dari orang yang udah dua tahun ini menjadi pacarku. Menghiasi hari-hariku yang yah ... itu-itu saja. Menemaniku kemana pun aku pergi.

Kupikir dia laki-laki yang setia, tapi nyatanya sama saja dengan yang lainnya. Suka mengatakan cinta pada pasangannya hampir di setiap harinya, namun gemar juga melirik wanita yang berbeda, menebarkan pesona seakan-akan dia adalah lelaki paling sempurna.

Cih! Harusnya dulu aku tak termakan bujuk rayunya. Padahal jelas-jelas dia adalah mahasiswa jurusan sastra yang sudah pasti pandai berkata-kata. Bodohnya diriku yang waktu itu dibutakan oleh cinta. Andai saja aku dulu tak tertarik akan pesonanya, tak akan aku menjatuhkan hatiku untuknya. Dengan begitu pasti tidak akan ada sejarah kalau aku pernah menjalin hubungan dengannya. Dan sudah pasti dari kemarin sampai hari ini aku tak harus melewati fase patah hati.

Sebenarnya aku tak begitu patah hati dengan keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengannya setelah tahu bahwa ia berselingkuh. Tapi, yang namanya pernah bersama pasti ada lah sedikit saja rasa sedih di hati. Meski dari kemarin setelah putus, aku tak sedikit pun meneteskan air mata. Bingung? Ya ... aku juga. Bingung pada diriku sendiri, di satu sisi aku mengakui bahwa ada namanya di hati, tapi di sisi lain aku tak bisa menangisi. Ah sudahlah nggak perlu lagi diperinci lagi isi hati ini.

Dari pada terus-terusan memikirkan mantan yang sama sekali unfaedah, lebih baik baca novel yang kemarin kubeli di salah satu toko buku favoritku. Setelah tragedi putus hubungan, aku langsung pergi ke toko buku. Nggak ada drama air mata yang mengalir di pipi selama perjalanan dari TKP pemutusan mantan menuju toko buku. Jangan dikira aku ini cengeng yah. Big No untuk menangisi hal seremeh itu.

Sambil rebahan, aku mulai membuka novel, membaca dari halaman ke halaman. Kebetulan ini hari Minggu, jadi sangatlah tepat waktunya untuk bermalas-malasan. Apalagi cuaca yang mendung ini, sangatlah cocok untuk memanjakan kaum rebahan sepertiku.

Tok ... tok ... tok ...

"Key ...." Mama mengetuk pintu sambil menyenandungkan namaku.

Biasa sih, Mama memang hobinya membangunkanku pagi-pagi, bahkan bisa lebih pagi lagi dari hari ini kalau aku sedang tak menstruasi. Tapi karena Mama tahu aku lagi mens, maka beliau baru membangunkanku. Sebenarnya aku yang tadi malem pesen buat dibangunin agak siang. Hehehe ...

"Iya Ma ... Key udah bangun kok," teriakku yang masih tak mau mengalihkan pandangan mataku pada novel di tanganku.

"Ya terus kenapa nggak keluar-keluar?" Dih, mama kayak nggak tahu kebiasaan anak gadisnya aja.

"Males ah, hari ini kan libur," sahutku.

"Kamu itu ya, perawan-perawan bukannya bangun pagi bantuin mama di dapur, eh malah males-malesan." Nah ... setiap pagi pasti selalu deh keluar kata-kata andalan mama yang itu.

"Hmmm ...." Aku hanya bergumam tak jelas. Maafkan anakmu yang nggak tahu diri ini ya Ma.

"Key, buka pintunya ih." Mama masih mengetuk pintu kamarku. Kalau belum dibukain, ya gitu, pantang menyerah membuat anaknya turun dari ranjang.

"Iya, iya." Aku bangun dari posisi rebahan tadi, kemudian menaruh novel di bawah bantal. Jangan tanya kenapa, karena Mama pasti bakalan marah-marah kalau aku beli novel baru. Katanya pemborosan. Setelah itu pasti novelnya disita. Tersebab itu aku harus pintar-pintar menyembunyikan novel yang dengan susah payah aku beli dengan mengumpulkan sisa uang jajan dari Mama yang sebenarnya tak seberapa. Bahkan kadang aku rela tidak jajan untuk beberapa hari, saking kepinginnya beli novel. Maklum lah, orang tuaku bukan termasuk orang kaya.

Aku beranjak dari ranjang menuju pintu kamarku, dan kemudian membukanya. Terpampang jelas Mama yang sedang berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang, tak lupa juga wajah garang yang coba mama perlihatkan.

"Hehe ... Mama." Aku nyengir di hadapan Mama, tidak tahu kan ya harus berbuat apa.

"Hehe ... Mama." Mama menirukan ucapanku dengan bibir yang sengaja dibuat-buat. Setelah itu Mama mencebikkan bibirnya.

"Duh! Jadi gemes deh sama Mama," ucapku dengan cengiran khasku.

"Kamu itu ya, udah dibilangin kalau udah bangun tidur, udah sholat subuh, langsung bantuin mama di dapur," ucap Mama sambil menjewer telinga kiriku. Mungkin saking kesalnya.

"Aw ... sakit Ma," tuturku sambil mencoba melepaskan tangan Mama dari telingaku. Dan berhasil terlepas juga.

"Makanya kalau di-- emmmph ...." Aku menghentikan ucapan mama dengan tanganku untuk membekapnya. Biarin lah kalau dikatain kurang ajar. Lagian pagi-pagi udah ngomel aja, mana anaknya lagi patah hati juga.

Sekali lagi maafkan anakmu yang kurang ajar ini ya.

"Nggak baik Ma, pagi-pagi udah ceramah, ntar dikira tetangga, Mama mau nyaingin Mamah Dedeh, hehe ...." Aku melepaskan tanganku yang tadi membekap mulut Mama.

"Nggak lucu!" Mama menyedekapkan tangannya di dada. Alamat ngambek nih.

'Ayo Key, ambil hati Mama'

"Aduh ... Mamanya Kay yang paling cantik, jangan ngambek dong, nanti cantiknya ilang lagi," ucapku sambil menjawil dagu Mama dan mendekap Mama dari samping.

"Biarin!" Mama melengos. Pertanda mode ngambeknya belum selesai.

"Ih, kalau nggak cantik nanti papa berpaling lho," godaku.

Sebenarnya itu sama sekali tidak mungkin. Karena aku tahu banget kalau Papa adalah laki-laki yang paling setia, dan bucin banget sama Mama.

Mama masih bergeming.

"Eh, nggak ding, Mama kan cinta matinya Papa, wanita teristimewa-nya Papa, yang bisa bikin Papa klepek-klepek, apalagi kalau pas Mama lagi senyum, beh ... ! Tambah jatuh cinta banget Papa sama Mama."

Mendengar godaanku, Mama pun tersenyum. Yes! berhasil. Artinya Mama nggak ngambek lagi, dan aku terbebas dari hukuman didiemin Mama.

"Apaan sih kamu, bisa aja deh." Mama mencubit pelan lengan tanganku dengan senyum malu-malu, dan pipi yang merona.

Nah, kalau digoda gitu baru deh ngambeknya hilang. Mama kan paling suka digoda kalau mengenai tentang dirinya dan Papa.

"Nah, gitu dong senyum ... kan jadinya tambah cantik Ma, kalau Papa lihat pasti tambah-tambah jatuh cinta yang kesekian kalinya." Dan Mama pun semakin kesengsem aku godain.

"Wow, lagi ngomongin apa nih, kok bawa-bawa nama Papa." Tiba-tiba Papa datang. Sepertinya papa habis jogging, terlihat dari keringat di dahinya.

"Iya nih, anak kamu Pa, suka ghibahin kamu," ucap Mama.

"Hmmm ... dosa lho, ngomongin orang tua," tutur Papa.

"Oh jadi dosa ya, kalau Key tadi mencoba membuat Mama tambah jatuh cinta sama Papa?" kataku menggoda kedua orang tuaku yang sampai saat ini masih suka kelihatan uwuw kalau lagi berduaan.

"Emangnya tadi kamu ngomong gimana ke Mama, Key?" Papa menaik turunkan kedua alisnya.

"Ada deh ... rahasia," ucapku.

"Ooh ... jadi nggak mau ngasih tahu ke papa nih?" tanya Papa.

"Enggak." Aku menjulurkan lidah ke arah Papa. Sontak papa pun terkekeh melihat tingkahku yang masih seperti kanak-kanak, padahal usia sudah duapuluh satu tahun. Sementara Mama hanya geleng-geleng kepala.

"Udah, udah, kalian cepetan mandi, udah siang nih, nanti kan kita mau dateng ke acaranya rumah depan," ujar Mama.

"Oke istiku sayang, Papa mandi dulu ya." Papa berlalu setelah sebelumnya mencium pipi Mama.

Tuh kan, pagi-pagi udah lihat yang uwuw aja.

Sabar Key, nggak boleh iri sama keromantisan orang tua.

"Emangnya Tante Mariska mau ada acara apa, Ma?" tanyaku.

"Kamu lupa ya, kalau Rey itu mau nikah," jawab Mama.

Mama berjalan menuju dapur dan meneruskan acara memasaknya yang tadi sempat tertunda karena drama membangunkan anak gadisnya yang paling imut ini. Eh.

"Hah! Rey mau nikah? yang bener aja," ucapku sambil mengikuti Mama menuju dapur.

"Lah, emangnya kamu belum tau kalau Rey mau nikah?" Mama bertanya sambil memotong sayuran.

"Nggak tuh, Key nggak tau, lagian Key kan bukan tipe orang yang suka ngegosip kayak Mama kalau lagi kumpul sama para ibu-ibu tetangga," jawabku sambil duduk di kursi meja makan "lagian kok bisa sih, Rey mau nikah, emang ada yah yang mau sama dia?"

"Hish! Kamu ini, ya jelas ada lah yang mau sama Rey, secara Rey kan ganteng, pinter, sekarang udah punya pekerjaan tetap lagi. Perempuan mana coba yang nggak mau sama dia? Emangnya kamu nggak ada yang mau?" cerocos Mama.

"Dih! Apaan sih pake ngebandingin Key sama dia," ucapku kesal "lagian ya Ma, Key kan masih kuliah, ya wajarlah kalau belum punya pekerjaan kayak dia, terus bukannya nggak ada yang mau sama Key, tapi karena saking cantiknya Key, jadi banyak yang berebut hati Key, tapi sayangnya Key masih mau fokus sama kuliah, jadi banyak yang Key tolak."

"Ya kenapa harus ditolak semua, kalau ada yang diterima kan lumayan kamu bisa secepatnya menikah, biar nggak ketinggalan Rey menikah," tutur Mama.

"Yaelah kan Key masih muda Ma, masih dua satu, kalau Rey kan udah tua, jadi wajar kalau nikah duluan."

"Ngaku Rey lebih tua, kok kamu nggak pake embel-embel kalau nyebut dia, pake kak, mas, atau abang gitu, biar lebih sopan, Key," ujar Mama.

"Males," jawabku acuh.

"Udah sana mandi, udah siang ini, ntar keburu telat lho, ke acaranya Rey," perintah Mama.

"Kan tadi Key disuruh buat bantuin Mama masak."

"Nggak jadi!"

🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓

Sesungguhnya aku males banget kalau harus ikut Mama sama Papa ke acara nikahannya si Rey, tapi karena dari tadi terus dipaksa dan diseret sama Mama, jadi mau tidak mau akhirnya aku ikut juga. Nggak enak juga sih sama Tante Mariska, kalau aku nggak datang, soalnya dia itu tetangga yang baik banget sama aku, nggak kayak anaknya-- Si Rey, yang nyebelinnya minta ampun.

Dan di sinilah aku sekarang, di depan rumah tante Mariska. Acara akad pernikahan si Rey memang diselenggarakan di rumahnya. Nggak tahu kenapa, padahal setahuku kalau akad biasanya di tempatnya mempelai putri, eh ini malah sebaliknya.

"Ayo, Key, kita masuk temui tante Mariska," ajak Mama sambil menuntun tanganku masuk ke dalam rumah yang sedari tadi sudah banyak orang. Mulai dari para tetangga dan mungkin kerabatnya tante Mariska juga suaminya. Aku pun menurut saja, dan berjalan bersisian dengan Mama.

Setelah masuk ke dalam rumah, aku dan mama pun menghampiri tante Mariska yang terlihat sedang sibuk memberi intruksi pada petugas catering.

Melihat kedatangan kami, tante Mariska pun tersenyum, dan menyudahi instruksinya kemudian menyambut kami.

"Wah ... Bu Dela sama Keyla akhirnya datang juga." Tante Mariska bersalaman dengan Mama dan bercipika-cipiki, setelahnya ia juga menyalamiku, kemudian memelukku hangat. Tak lupa juga ia mencium kening dan pipiku, hal yang biasa ia lakukan kalau bertemu denganku sejak aku kecil. Diperlakukan demikian, membuatku merasa punya dua ibu.

"Ya jelas datang dong, Mbak, masa sih rumah hadap-hadapan kita nggak dateng," ucap Mama disertai senyuman manisnya.

"Saya seneng deh, kalau kalian datang, apalagi kamu Key, cantik banget hari ini, tante jadi berubah pikiran buat nggak jadi menikahkan Rey." Tante Mariska mengelus lembut rambutku.

"Ah tante bisa aja deh, kan Key emang cantik setiap hari," ucapku sambil memamerkan senyuman termanis yang ku punya "oh ya kenapa tante jadi berubah pikiran?"

"Iya, maksud tante, tante nggak jadi menikahkan Rey sama Eva, tapi jadinya sama kamu aja, habisnya kamu cantik banget sih, kan tante jadi pengen kalau kamu aja yang jadi mantunya tante hehe ...."

What? Mantunya tante Mariska? Jadi istrinya Rey dong? Dih! ogah banget, Big NO ya. Dari pada sama Rey, mending aku nikah sama kambing. Eh, nggak ding, masa sama kambing sih!

Seketika aku bergidik ngeri, dan menggelengkan kepala, mengenyakkan pikiran tentang menikah dengan Rey.

"Kamu kenapa geleng-geleng gitu?" tanya tante Mariska.

"Eh ... nggak papa kok tante," jawabku sambil memperlihatkan cengiran andalan.

"Biasa Mbak, Key emang suka mendadak konslet gitu," sahut Mama.

Eh, kok Mama bilang gitu sih? Tega banget anak sendiri dikatain konslet.

Obrolan demi obrolan antara Mama dan tante Mariska pun terus berlanjut, sesekali aku juga ikut menimpali, meski kebanyakan jadi pendengar sih.

Hingga akhirnya ada tamu lain yang datang, otomatis tante Mariska pun pamit pada kami untuk menemui tamunya itu.

Mama menawarkan diri untuk membantu kesibukan di acara ini. Masih pukul delapan pagi, acara akad katanya diadakan pukul sembilan nanti. Masih ada satu jam-an lah buat nunggu acara. Mama sama Papa memang sengaja datang lebih awal gini, katanya biar bisa bantu-bantu sedikit. Katakanlah solidaritas antar tetangga.

Oh iya, tadi aku sempat tanya ke tante Mariska, kenapa kok acara akadnya di sini bukan di tempat pengantin putri, jawabnya katanya ini memang kemauannya calon pengantin putri supaya akadnya dilaksanakan di sini, nggak tahu juga alasannya apa.

Sementara Mama bantu-bantu, aku menghampiri Difi, temanku sekaligus tetangga, yang kini sedang berada di meja kue. Hmm kayaknya dia mau nyomot itu kue.

"Oi, acara belum mulai, Lo udah main makan aja itu kue," ucapku dari balik punggung Difi. Dan berhasil membuatnya kaget.

"Eh, copot eh copot." Difi latah setelah aku kagetin. "Dasar Lo, Key, ngagetin aja, nggak tau apa gue lagi ngambil kue."

"Heh, belum mulai acaranya, udah main nyomot aja."

"Ye ... bilang aja Lo juga mau kan Key?" Aku memutar bola mata.

"Enggak." Bohong, padahal sebenarnya juga pengen. "Nggak nolak maksudnya."

"Udah gue duga, seorang Key, yang doyan makan, nggak akan mungkin menolak kue-kue ini, ni cobain." Difi menyuapkan potongan kue ke mulutku. Aku pun dengan senang hati menerimanya.

"Emmm ... enak ... gue mau ambil sendiri ah." Aku mengambil piring kemudian mengisinya dengan kue yang begitu menggoda ini.

"Huh dasar! Tadi ngomongin gue," umpat Difi.

Setelah selesai mengambil kue-kue yang aku mau, aku dan Difi beranjak mencari tempat duduk yang pas buat makan kue ini. Dan ketemu juga tempatnya, di pojok ruangan.

Di sela-sela aku memakan kue sama Difi, tiba-tiba terlihat Rey berjalan tergesa-gesa menuju tante Mariska. Sepertinya ada hal genting yang mau diutarakan. Rey kemudian mengajak tante Mariska masuk ke salah satu kamar, dan entah apa yang akan mereka bicarakan.

Selang beberapa menit kemudian, tante Mariska dan Rey keluar dari kamar itu. Raut wajah Tante Mariska terlihat gelisah, dan sesekali pandangannya menyisir seluruh ruangan. Sepertinya ia tengah mencari seseorang. Sementara itu wajah Rey terlihat frustasi, ia beberapa kali mengacak rambutnya.

Buset deh, calon pengantin bukannya keliatan seneng ini malah keliatan frustasi, boleh nggak sih aku tertawa jahat?

Tanpa sadar aku dan Rey bertemu pandang, buru-buru aku mengalihkan pandangan ke kue yang sedang aku makan. Rey masuk kembali ke dalam kamar itu. Sedangkan tante Mariska berjalan menghampiri mama.

Mama diajak tante Mariska ke salah satu sudut ruangan. Aku masih memperhatikan dari sini, sesekali menimpali ucapan Difi. Entah apa yang dibicarakan tante Mariska sama Mama, aku jadi penasaran deh, kaya penting banget gitu.

Mama sepertinya sedang menenangkan tante Mariska, dan mungkin memberi solusi. Maklum mereka telah bersahabat, semenjak kami jadi tetangga.

Tidak tahu kenapa, tiba-tiba tante Mariska tersenyum senang, seolah-olah telah menemukan jalan keluar dari persoalannya. Ia kembali menyisir pandang ke segala penjuru, dan tibalah saatnya ia melihatku di sini yang sedang menyantap kue. Duh, jadi ketahuan kan, kalau nyicipi kue yang bahkan acaranya pun belum dimulai. Malu euy ... ketahuan tuan rumah. Ada panci nggak sih, buat nutupin muka?

Tante Mariska berjalan menghampiriku dan Difi, tak lupa senyumnya masih terkembang. Jangan-jangan dia mau negur aku sama Difi gara-gara makan kue sebelum waktunya. Duh gawat nih.

"Key, ayo ikut tante." Aku yang sudah meletakkan piring berisi kue yang tadi kumakan pun heran dengan sikap tante Mariska yang tiba-tiba menyuruhku untuk mengikutinya. Apalagi sekarang tante Mariska udah memegang tanganku.

"Kemana tante?" tanyaku. Sungguh aku takut kalau-kalau tante Mariska memarahiku karena aku makan kue duluan.

"Sudah ikut tante saja ayo, Mama kamu udah setuju kok." Hah! setuju? Setuju apaan ya? Menghukumku? Oh No!

"Emmm ... setuju apa tante?" Aku coba bertanya. Bisa aku duga kalau Difi juga keheranan.

"Sudah ayo." Tangan tante Mariska sudah setengah menyeretku.

"Tap--."

"Nggak ada penolakan!" Dan tante Mariska pun akhirnya menyeretku. Nggak bisanya dia bersikap memaksa seperti ini. Ada apa sih sebenarnya? Terus aku mau diajak kemana?

Bersambung

Bab 2

Suasana seketika menjadi panas. Gerah lebih tepatnya. Pening juga kurasakan sekarang. Yang bisa kulakukan saat ini adalah mencoba mengelak dan berontak dari dua orang yang sejak tadi berusaha untuk mengubah diriku. Dua orang itu adalah perias yang disewa oleh Tante Mariska.

Ya, saat ini aku berada di kamar yang dikhususkan untuk rias pengantin. Tadi saat aku diseret oleh Tante Mariska, dan dipaksa untuk mengikutinya, ternyata aku dibawa ke sini, dan berakhir lah aku dengan kedua perias ini.

Sebelum Tante Mariska pergi meninggalkanku dengan dua perias lucknut ini, ia sempat memohon kepadaku agar aku mau menjadi pengantin perempuan dari anaknya--Rey.

Jelas aku terkejut dengan permintaan Tante Mariska tersebut. Bagaimana mungkin aku menuruti itu, sedang diriku saja terlalu membenci Rey, seseorang yang sejak dulu kuanggap sebagai musuh bebuyutan. Mungkin jika Tante Mariska menyuruhku untuk membuang anaknya itu ke sungai Amazon, maka dengan segera akan kusanggupi. Biar Si Rey dimakan ikan piranha sekalian. Kan jadi tenang hidupku jika tak ada makhluk menyebalkan itu.

"Tante mohon Key, agar kamu mau jadi pengantinnya Rey, yah," pinta Tante Mariska.

"Nggak Tan, nggak mau, Key nggak mau."

"Key, tante mohon ...." Tante Mariska menggenggam kedua tanganku sembari memohon.

"Tante kenapa tiba-tiba kayak gini sih? Calonnya Rey kan udah ada, kenapa sekarang Tante malah minta aku buat jadi pendampingnya Rey?" Ah, akhirnya aku bisa juga melontarkan pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar di otakku.

"Key, tadi Rey dapat telefon dari keluarga Berlin, katanya Berlin sedang mencoba bunuh diri karena tidak mau dinikahkan dengan Rey." Tante Mariska menghembuskan nafas kasar sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya "sebenarnya pernikahan ini adalah keinginan dari ayahnya Rey, dan papanya Berlin. Mungkin Berlin kehabisan cara untuk menolak keinginan papanya itu, jadi ia memutuskan untuk bunuh diri. Tapi untungnya Berlin masih bisa diselamatkan, dan akhirnya keluarga mereka sepakat untuk membatalkan pernikahan ini."

Aku hanya bergeming mendengarkan penjelasan Tante Mariska tentang calonnya Rey itu. Tidak tahu harus menjawab apa. Sekarang aku jadi tahu alasan mengapa calonnya Rey itu menginginkan agar akad nikahnya dilaksanakan di sini. Mungkin agar ia bisa melancarkan rencananya itu.

"Jadi tante mohon ya Key, kamu bersedia buat menggantikan posisi Berlin." Tante Mariska kembali memohon. Dan aku masih diam.

"Undangan udah disebar, semua orang udah tahu, bahkan udah ada yang datang untuk menyaksikan akad, acara udah ada di depan mata, tidak mungkin kan kalau tiba-tiba dibatalkan begitu saja." Terasa semakin erat genggaman tangan Tante Mariska ini.

"Ayolah Key, tante mohon ... cuma kamu harapan tante satu-satunya." Kini tangan kanan tante Mariska menyentuh dan mengusap lembut pipiku, terlihat netranya berkaca-kaca.

Ah, kalau sudah begini aku jadi tak tega. Apalagi selama ini ia selalu memperlakukanku dengan baik, berbanding terbalik dengan anaknya.

"Baiklah, karena kamu diam saja, maka tante anggap kalau kamu menyetujuinya." Loh, loh, loh, teori dari mana itu? Aku diam bukan berarti aku bersedia Tante Marimaaaas ... eh maksudku Tante Mariska.

Aku hendak kembali menolak, namun belum sempat aku berucap, Tante Mariska sudah menyeretku ke depan meja rias, dan memasrahkan pada perias untuk menyulap wajahku.

"Arggghh ...." Aku berteriak mengingat pembicaraanku dengan Tante Mariska tadi. Sontak dua perias yang sedari tadi terus mencoba meriasku pun terlonjak kaget.

"Aduh Neng, kenapa teriak-teriak atuh? Nggak baik calon pengantin teriak-teriak gitu," ucap salah seorang perias yang kutaksir umurnya sepantaran dengan mama.

"Udah nurut aja dirias neng," sahut perias yang satunya. Sepertinya ia seumuran denganku.

Aha! Aku dapat ide.

"Ehem, kalau boleh tahu mbak namanya siapa?" tanyaku pada perias yang kukira umurnya tak beda jauh denganku.

"Saya Lela, Neng."

"Oke, Mbak Lela, boleh aku minta tolong?" Aku menatap perias yang mengaku sebagai Lela itu.

"Minta tolong apa Neng?" Lela mengernyitkan dahinya.

"Kamu mau nggak menggantikan posisi saya jadi mempelai wanita? Enak lho, bisa jadi istrinya Rey, dia itu kaya, punya mobil mewah, punya bisnis restoran sendiri lagi, nanti kalau Mbak Lela jadi istrinya, Mbak nggak perlu kerja lagi."

Kedua perias itu pun reflek saling berpandangan, lima detik kemudian mereka saling melempar senyum penuh arti.

"Neng ini ada-ada saja. Saya nggak mau ah," ucap Lela sambil tetap berusaha memegangi lenganku yang terus berontak.

"Lah kenapa? Dapat tawaran enak kok nggak mau," ujarku sinis.

"Si Lela ini sudah punya suami atuh Neng, udah punya anak tiga malah," sahut perias yang satunya.

Aku melongo mendengarnya. Aku kira Si Lela ini belum menikah, eh ternyata udah berbuntut tiga.

"Iya Neng, saya ini udah bersuami dan sudah beranak, jadi jelas tawarannya Eneng, saya tolak. Lagian kenapa Eneng menolak, kan Enengnya jomblo."

S-i-a-l-a-n! Dia mengataiku jomblo.

Sekarang aku bingung mau bagaimana lagi menolak semua ini. Sedang kini wajahku sudah mulai diolesi foundation.

"Ahhhh ... mama ... tolong Key, Ma ...." Aku berteriak lagi, kini volume suaraku sudah memenuhi ruangan ini, dan bisa dipastikan sampai ke luar ruangan. Masa bodo dengan tanggapan orang-orang, yang kupikirkan sekarang adalah terus menolak permintaan gilanya Tante Mariska.

Dua perias itu pun gelagapan menghadapi tingkahku yang terus-terusan meronta. Hingga tak lama kemudian Mama datang bersama dua orang wanita paruh baya yang kuketahui sebagai tetanggaku.

"Ada apa sih, Key?" Mama menghampiriku dan mengusap pelan pundakku. Dua perias itu sedikit menyingkir, memberi ruang untuk Mama.

"Ma, tolongin Key, Ma. Key nggak mau jadi istrinya Rey." Aku memohon pada mama dengan raut wajah yang kubuat semenyedihkan mungkin. Semoga saja mama luluh.

"Udahlah Key, kamu nurut aja, lagian nggak ada ruginya kamu jadi istrinya Rey." Mama mengusap pelan rambutku.

"Mama apa-apaan sih, kenapa Mama nggak belain Key, terus dari tadi mama ke mana saat Key diseret sama Tante Mariska, harusnya Mama bantuin Key dong," cercaku.

Oh Mama aku nggak bermaksud buat jadi anak durhaka.

"Key, mama setuju dengan Tante Mariska, papa juga udah setuju, jadi kamu nurut aja ya sayang." Mama terus membelai rambut panjangku. Kini seperti ada embun yang akan jatuh dari kelopak matanya.

Oh Mama ... jika keberatan mengapa malah menyetujuinya? Apa karena tak enak jika menolak permintaan Tante Mariska?

Lalu apa tadi, nurut? No, no, no.

"Pokoknya Key nggak mauuuu ... titik!" ucapku tegas.

"Key, nggak boleh gitu ah, ini di rumah orang, nggak sopan!" tegur Mama.

"Bodo." Aku merajuk. Sebenarnya aku tidak suka memperlihatkan sisi manjaku pada orang lain. Tapi mau bagaimana lagi, perdebatanku dengan Mama sudah sedari tadi menjadi tontonan oleh beberapa orang di kamar ini.

"Nggak ada penolakan!" Tegas Mama.

Entah mengapa mendengar pernyataan mama membuatku tiba-tiba diserang pusing. Hingga akhirnya tubuhku luruh ke lantai, dan seketika aku sudah tak ingat apa-apa lagi.

*****

Aroma freshcare dan minyak kayu putih tercium hidungku yang mancung ke dalam. Perlahan kucoba membuka mata, sambil mengingat apa yang terjadi.

Setelah mataku terbuka penuh, kulihat Mama sedang duduk di tepi ranjang yang sedang kutempati ini, dengan terus mendekatkan botol minyak kayu putih itu ke hidungku. Sedang di sebelah mama ada Tante Mariska yang juga tengah memegang botol freshcare dan mengusapkannya di dahiku.

"Key, kamu sudah sadar?" tanya Tante Mariska, dan aku hanya mengangguk pelan.

"Akhirnya kamu mengakhiri drama ini, Key," sahut Mama. Aku mendengkus mendengarnya.

Mama kira aku hanya pura-pura apa, sampai dikira drama. Ya kali berdrama pura-pura pingsan.

"Ish! Mama kok gitu sih," rajukku.

"Ya bisa aja kan kamu cuma pura-pura." Mama mencebikkan bibirnya.

"Ngapain Key pura-pura pingsan, unfaedah tahu." Aku bangkit dari posisi berbaring, kemudian duduk bersandar pada kepala ranjang.

"Udah, udah, Tante percaya kalau Key pingsan kok." Nah kan, Tante Mariska aja percaya kalau aku pingsan. Sebenarnya aku anak siapa sih?

Dua perias itu tampak duduk di sofa yang ada di kamar ini, sepertinya mereka menungguiku siuman, setelah itu mereka akan kembali meriasku, begitu juga dengan Tante Mariska dan Mama, pasti mereka akan memaksaku kembali agar mau menikah dengan Rey. Ah memikirkan itu membuatku kembali pusing.

"Nih, kamu minum dulu, Key." Mama menyodorkan gelas berisi air putih padaku. Aku pun menerimanya dan segala menandaskannya. Maklum, tenggorokan ini terasa sangat kering.

Segar rasanya setelah satu gelas air putih kuhabiskan, kini aku siap untuk berdebat lagi, menolak rencana konyol mereka yang ingin menjadikanku pengganti calonnya Rey.

"Nah, kayaknya kamu udah mendingan, Key, mau ya kamu dirias? Tante mohon, Key ...." Sebenarnya aku ingin sekali menolak lagi seperti tadi sebelum pingsan, tapi melihat Tante Mariska yang terus memohon dan hendak meneteskan air mata, rasanya aku jadi tak tega.

Aku menoleh ke arah Mama, sepertinya mama juga tengah menunggu jawabannya seperti halnya Tante Mariska. Kuselami netra indah mama yang juga sedang menatap ke arahku, mencoba mencari kesungguhan apakah mama rela jika aku menggantikan posisi calon istri Rey.

Tak ada keraguan di mata mama, mungkin mama memang benar-benar mengharapkanku agar mau menerima tawaran ini.

Belum sempat aku menjawab, Tante Mariska kembali berucap "Key, apa tante harus bersujud di kakimu agar kamu menerima tawaran tante?"

Aku terbelalak mendengar pertanyaan tante Mariska, sungguh bukan begitu keinginanku.

"Eng--enggak, Tan, mana mungkin Key tega." Aku mencoba mengambil nafas yang sebenarnya terasa sesak di dada.

"Baiklah, Key mau menikah dengan Rey," ucapku pasrah.

Seketika wajah tante Mariska yang tadinya memelas, kini berubah berbinar, begitu juga dengan mama. Apa mereka sangat bahagia dengan keputusanku ini? Baiklah jika itu bisa membuat mama senang, maka akan kulakukan, meski berat rasanya.

"Makasih ya, Key." Tante Mariska memelukku erat, mungkin saking bahagianya. Dan kulihat mama tersenyum melihat ini.

Setelah bercakap-cakap sebentar denganku dan mama, tante Mariska kembali memerintahkan kedua perias itu untuk mendandaniku.

*******

Aku menunggu dengan gelisah di kamar ini. Duduk di tepi ranjang ditemani mama dan dua perias tadi. Diluar sedang diadakan akad nikahku dengan Rey. Kata mama, papa yang menikahkanku langsung, tidak menyerahkan perwaliannya kepada penghulu.

Sesekali perias merapikan riasanku. Ya, kini aku sudah dirias seperti pengantin pada umumnya, dan mengenakan baju pengantin adat jawa. Keluarga tante Mariska memang orang jawa, jadi mungkin sudah direncanakan dari dulu jika Rey menikah akan menggunakan pakaian adat jawa. Aku tak mempermasalahkannya, toh ini bukan keinginanku.

Pintu kamar terbuka, terlihat tante Mariska datang bersama seorang perempuan paruh baya, yang tak kuketahui siapa namanya. Tante Mariska berjalan ke arahku seraya tersenyum manis, kemudian mengusap kepalaku lembut.

"Key, selamat kamu udah sah jadi istrinya Rey," ujar Tante Mariska.

Kepalaku mendadak kembali pusing mendengar kabar dari tante Mariska. Meski sudah kutahu begitu, tapi tetap,saja aku syok. Benar-benar seperti mimpi.

Rasanya tubuhku akan tumbang, tapi dengan sigap mama menahan bahuku dengan tangannya.

"Key, jangan pingsan lagi dong, ini hari bahagiamu," tutur Mama.

"Iya Key, jangan pingsan, sekarang kita keluar yuk, Rey sudah menunggu di depan."

Aku tak memperdulikan ucapan mama maupun tante Mariska, karena tubuhku sekarang rasanya ingin limbung saja. Dan tak lama semuanya kembali terasa gelap.

Bersambung

Bab 3

"Key, jangan pingsan lagi dong, ini hari bahagiamu," tutur Mama.

"Iya Key, jangan pingsan, sekarang kita keluar yuk, Rey sudah menunggu di depan."

Aku tak memperdulikan ucapan mama maupun tante Mariska, karena tubuhku sekarang rasanya ingin limbung saja. Dan tak lama semuanya kembali terasa gelap.

****

"Key, ya ampun ... bangun dong sayang."

"Key, sayang, ayo bangun, ini hari bahagia kamu."

Sayup-sayup kudengar suara mama dan tante Mariska bersahut-sahutan menyebut namaku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Perlahan kubuka kedua mataku. Hal yang pertama kulihat adalah mama dan tante Mariska yang tengah berusaha untuk membuatku siuman, seperti pada waktu aku pingsan pertama tadi. Entah berapa lama aku hilang kesadaran hingga ada beberapa wanita paruh baya berada di kamar ini. Mungkin akan kutanyakan nanti pada mama.

"Sayang, kamu udah sadar?" tanya Tante Mariska. Aku hanya mengangguk pelan.

"

"Baguslah kalau gitu, ayo coba kamu bangun." Elah, si mama, nggak bisa apa ya ngebiarin aku rebahan barang sekejap.

Aku mengedip-ngedipkan mataku ke arah mama. Berharap mama mengerti kode yang kuberikan, bahwa anaknya yang cantik jelita ini masih pengen rebahan.

"Nggak usah manja deh, kamu itu pingsan selama sepuluh menit, jadi udah sepuluh menit kamu rebahan, udah buruan bangun." Bener-bener deh mama nggak ada pengertiannya sama sekali, anaknya baru siuman udah keburu langsung disuruh bangun, mana sambil ngomel-ngomel lagi.

"Iya sayang, kayaknya kamu udah nggak papa, yuk coba bangun, biar perias bisa rapihin make up sama tatanan rambut kamu." Ini juga tante Mariska main nyuruh yang aneh-aneh aja. Kesel deh, bener-bener nggak ada yang ngertiin aku.

Dengan berat hati akhirnya aku bangun dari posisi rebahan. Setelah itu Mama sama tante Mariska langsung membantuku bangkit dari ranjang dan menuntunku berjalan menuju meja rias, yang mana sudah ada dua perias tadi di dekat sana.

Mama mendudukkanku di kursi meja rias, dan perias pun memulai pekerjaannya untuk merapikan tatanan rambutku yang di sanggul sederhana dan tentu saja make up-ku pun turut diperbaiki. Tak lupa mama memeriksa dan merapikan kebaya yang kupakai, mungkin takut terlihat kusut.

Aku sama sekali tak menyangka bila hari ini aku mengenakan kebaya pengantin khas jawa. Semua tak pernah kuduga sebelumnya, dan benar-benar ini seperti mimpi. Dulu aku selalu berkhayal jika di hari pengantinku nanti aku akan mengenakan kebaya pengantin khas jawa seperti ini, namun tentu saja tak pernah berharap jika harus menjadi pengantin pengganti, apalagi pengantinnya Si Rey. Hiii ... ngeri, membayangkannya saja aku tak sudi.

Tapi sialnya sesuatu yang membuat ngeri itu aku mengalaminya saat ini. Benar-benar seperti mimpi. Siapa saja tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.

Andai ada satu orang saja yang mau mengerti perasaanku dan mau membantuku untu menolak tawaran tante Mariska, mungkin sekarang aku tak akan terjebak di situasi menyedihkan ini.

Eh, ngomong-ngomong dari tadi aku tak melihat Difi semenjak tante Mariska menyeretku ke sini. Apa dia sama sekali tak mencoba mencariku, atau paling enggak ya ngikutin aku waktu diseret tante Mariska tadi. Padahal dia itu si ratu kepo, lah kok tumben nggak pengen tahu tentang prahara penyeretanku. Ah, pasti dia masih sibuk menghabiskan kue-kue di depan, dasar mata kue-an.

"Nah, sudah selesai Neng Keyla," ucap perias bernama Lela, yang berhasil membuatku terperanjat dan sadar dari lamunan tentang teman satu-ku yang nggak ada akhlak itu.

"Eh, kok cepet banget?"

"Kan tinggal merapikan saja neng," timpal perias yang satunya.

"Udah Key, ayo bangun." Mama menyuruh sembari memegang lengan kananku untuk bangun dari kursi rias ini.

Aku hanya menurut. Aku dan mama berjalan berdampingan dan tentu saja mama menuntunku. Mungkin takut kalau aku kabur.

"Ma, kita mau ngapain sih," bisikku pada mama.

"Keluar, Key."

"Mau ngapain coba?" Meskipun aku sudah nggak betah lagi berada di kamar ini, tapi rasanya enggan jika harus mengikuti mama. Seperti ada sesuatu yang mencurigakan.

Di depan pintu, tante Mariska tersenyum ke arahku, lalu meraih lengan kiriki untuk dituntunnya, sedangkan lengan kananku masih dituntun mama. Diapit dua wanita paruh baya ini membuatku seketika tersanjung. Duh, berasa jadi ratu.

Ratu pingsan maksudnya.

"Key, ayo kita keluar, penghulu sama Rey, dan yang lainnya udah nunggu dari tadi. Kamu harus tanda tangani surat nikah," ujar tante Mariska, dan aku hanya mengangguk saja, mau protes pun percuma kan?

Kami akhirnya keluar dari kamar yang sedari tadi membuatku sesak nafas, kemudian berjalan perlahan menuju tempat akad. Meski diapit oleh dua orang wanita yang telah berpengalaman menikah, tetap saja diriku gugup setengah mati. Jantung terus berdetak keras tak beraturan, meski ini sama sekali bukan pernikahan impianku.

Tiba di tempat akad, kulihat banyak orang berada di sini. Ada beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang kuketahui sebagai warga sini, yang berarti tetanggaku juga. Sisanya mungkin para keluarga dan kerabat Rey. Difi melongo ketika melihatku. Mungkin dia terkejut bahwa sahabatnya ini berubah jadi bidadari. Tak lupa kuberikan tatapan mematikan pada Difi. Seketika dia menutup kembali mulutnya.

Kulihat papa duduk di sebelah penghulu, berhadapan dengan ... Rey, Oh, astaga, kenapa dia terlihat ... tampan, tak seperti sebelumnya yang terlihat frustasi. Ia memakai setelan jas hitam yang di dalamnya mengenakan kemeja putih bersih, dipadukan dengan celana bahan panjang bewarna hitam.

'Astaghfirulloh ... aku nggak boleh terpesona sama pesona Rey si kutukupret itu.'

Aku menggeleng-gelengkan kepala mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran tak bermutu itu. Gila apa aku memuji dia.

"Key, kamu kenapa kok geleng-geleng kepala gitu?" Ternyata ekspresiku tak luput dari penglihatan tante Mariska.

Aku berdehem dan mencoba meyakinkan bahwa aku baik-baik saja. "Eh, oh, enggak kok, Tan."

"Ingat, Key, kamu sekarang udah sah jadi istri Rey, kamu jangan malu-maluin, dan jaga sikap kamu," bisik mama.

"Hmmm."

"Key, apapun nanti arahan dari pak penghulu ataupun dari pembawa acara, kamu harus nurut ya, dan jangan pingsan lagi." Kini tante Mariska yang gantian memberiku wejangan.

Dua wanita ini bener-bener nggak ngerti situasi jantungku apa?

"Nah, pengantin perempuannya sudah datang," ucap sang pembawa acara.

"Mari silahkan duduk di sebelah pengantin laki-laki," perintah pak penghulu.

Mama dan tante Mariska masih menuntunku berjalan menuju tempat sesuai yang diinstruksikan pak penghulu tadi. Rey berdiri menyambut, tatapan tajam ke arahku. Duh, jadi pengen kucolok mata elangnya itu.

Kalau kebanyakan orang di sini menatap takjub ke arahku, maka berbeda dengan Rey. Ia masih saja setia memghadiahuku tatapan maut. Entah apa maksudnya, mungkin penglihatannya sudah rabun kali ya? Pasalnya sekarang kudengar sayup-sayup orang memujiku cantik, eh malah Rey seperti ingin ... membunuhku.

Aku duduk berdampingan dengan Rey. Mama dan tante Mariska pergi menyingkir. Sebenarnya tadi aku sempat menahan lengan mama agar tetap menemaniku, tapi malah mama menepisnya pelan.

"Nah, sekarang pengantin putri silahkan tanda tangani buku nikah ini." Pak penghulu menyodorkan buku nikah serta bolpoin ke arahku.

Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Bayangkan saja, semua gerak-gerikku masih saja tak luput diperhatikan oleh Rey. Bukan karena aku grogi ada didekatnya, tapi karena aku takut dia benar-benar akan membunuhku.

Selesai menandatanganinya, aku mendekatkan kembali buku nikah serta bolpoin itu ke arah pak penghulu.

"Karena ini belum ada fotonya pengantin wanita di buku nikah ini, jadi kapan-kapan diharapkan kalian menyetorkan fotonya ke KUA ya, biar bisa diurus. Jangan terburu-buru, nikmati saja dulu bulan madu kalian." Ucapan pak penghulu seketika membuat tawa orang yang mendengarnya, terkecuali aku dan tentu saja Rey.

Aku dan Rey hanya menanggapinya dengan menanggukan kepala. Ya masa mau mendebat pak penghulu dan memberi tahu bahwa kami tak akan bulan madu. Bisa runyam kan nanti.

Selesai sesi penandatanganan buku nikah dan lainnya, pembawa acara mengarahkan aku dan Rey berdiri untuk sesi penyematan cincin nikah. Mau tidak mau aku pun mengikuti arahan konyol itu. Kenapa kubilang konyol, ya karena pasti ukuran cincin tak akan sesuai di jari manisku. Sebab cincin itu kan seukuran dengan calon pengantinnya Rey. Ralat, mantan calon pengantin.

"Ayo Rey, pasangkan cincinnya di jari Key." Entah sejak kapan tante Mariska sudah kembali berada di dekat kami.

Rey mengambil cincin berlian dari kotak beludru, kemudian memasangkannya di jari manis tangan kananku.

Ajaib! Cincinnya pas di jariku, tidak sempit dan tidak kebesaran juga. Apa mungkin ukuran jarinya mantan calon pengantinnya Si Rey itu sama denganku? Bodo amatlah, aku tak mau memikirkannya.

"Hmmm ... cincinnya bagus juga, mahal nih pasti," batinku sambil memandangi cincin yang baru saja tersemat di jariku. Aku tersenyum melihat cincin ini, membayangkan seberapa rupiah yang bisa aku terima jika kujual cincin berlian ini.

Nah, ijo kan mataku, dasar mata duitan.

"Key, ayo salim dan cium tangan suami kamu." Ih, apaan sih mama, masa nyuruh salim sama si kutukupret. Eh, tapi kan dia sekarang suamiku.

Dengan takut-takut, aku memandang ke arah Rey yang masih saja menatapku tajam. Padahal kan aku ingin meminta izin boleh apa enggaknya salim ke dia.

Mengerti dengan tatapan ketakutanku, Rey menyodorkan tangan kanannya padaku. Sesuai perintah mama tadi, aku pun salim dan mencium tangan Rey. Eh, kok rasanya kayak kesetrum ya? Jangan-jangan Rey ini tiang listrik berjalan lagi.

Jepretan kamera pun mengiringi sesi ini.

Sebetulnya aku ingin cepat-cepat melepaskan tanganku dari tangan Rey, tapi entah kenapa seperti ditahan oleh Rey. Hmmm ... pasti nyaman kan pegang tanganku yang lembut ini, makanya nggak mau lepasin.

"Rey, sekarang saatnya kamu cium kening Key." Aku melongo mendengar titah tante Mariska, kemudian menatap Rey sambil memberi kode agar tidak menuruti permintaan gilanya tante Mariska. Tapi dia hanya menatapku datar.

Rey mendekatkan wajahnya ke wajahku. Plis, jangan bilang dia menuruti permintaan ibunya. Bisa copot jantungku dari tempatnya, apalagi ini jantung udah deg-degan nggak karuan, karena Rey sudah sedekat ini.

Cup.

Si*l! Rey benar-benar menuruti permintaan Tante Mariska. Dan kurang ajarnya lagi dia menciumku lama. Oh, aku baru sadar sekarang, kamera masih setia mengambil gambar pose ini, pantas saja Rey, nggak beranjak. Tapi bisa jadi kalau dia juga modus kan?

Suara-suara baper terlintas di telingaku. Apalagi suara Difi, beh ... paling keras memenuhi ruangan. Dasar kaleng rombeng. Awas aja kalau giliran dia nikah, aku balas menyalakan petasan pas dia lagi sesi seperti ini.

"Udah Rey, dilanjut nanti di kamar." Perkataan pembawa acara itu sukses membuat orang-orang tertawa sambil melesek. Seketika pipiku terasa panas. Hah, pasti blushing nih. Dasar, gara-gara Rey kutukupret.

Selanjutnya kami diarahkan menuju dekorasi sederhana untuk berfoto-foto bersama keluarga, kerabat, dan juga tetangga-tetangga yang hadir.

Senyum paksa kupersembahkan ketika berulang kali fotografer mengarahkan kameranya ke arahku. Tanganku juga terpaksa bergelayut di lengan Rey. Kalau saja bukan karena paksaan mama, aku tak akan melakukan hal yang kuanggap menjijikkan ini.

Masih mending aku tersenyum walau sangat terpaksa, lah Rey? Dia masih setia memperlihatkan wajah datarnya, padahal sudah berulang kali tante Mariska memperingatkan untuk tersenyum. Dasar batu!

Selesai foto-foto, aku langsung pergi meninggalkan Rey mencari tempat duduk. Rasanya pantatku udah pegel banget pengen membantingnya ke kursi.

Aku mendudukkan diri di salah satu kursi di dekat jamuan kue. Nah, kebetulan aku laper, jadi langsung aja kusikat kue-kue yang sudah bikin liurku hampir menetes.

Hmmm ... yummy ... enak banget kuenya.

Sebenarnya dari tadi ada beberapa pasang mata yang memandang heran ke arahku. Masa bodoh lah, yang penting perutku terisi dan nggak menjerit-jerit lagi. Perut kenyang, hati pun senang. Dalam hati aku menyorakkan jargon ala Ehsan di film Upin Ipin.

Tiba-tiba. "Heh!"

"....."

Siapa sih, yang ganggu acara makanku?

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED