Braak...
"Pergi kau, jangan kau pikir disini bisa tinggal dengan gratis ya!" teriak Ibu kost sambil membanting pintu rumahnya.
Ibu Kost terpaksa mengusir Rika Wulandari, gadis 20 tahun yang merupakan seorang mahasiswi di salah satu universitas swasata di Bandung dari rumah kos ini karena sudah tiga bulan Rika tak kunjung membayar sewa kamar kost.
Memang Ayah Rika yang tinggal di Garut mengalami PHK dan tak bisa lagi mengirim sepeser uangpun untuk keperluan purtinya. Tentu Rika tak berniat jahat namun bagaimana lagi kondisi ini benar-benar memberatkannya.
Tak cuma membanting pintu, Ibu kost juga melemparkan tas ransel berisi semua baju milik Rika ke jalan.
Padahal malam sudah mulai larut dan hujan sedang turun cukup deras, Rika yang tersungkur kemudian segera bangkit dan terpaska angkat kaki dari rumah kost yang hampir dua tahun menjadi tempatnya berteduh.
Rika yang tak tau harus pergi kemana kemudian melangkahkan kakinya tanpa tujuan, sampai dia tiba di sebuah minimarket Jalan Dipatu Ukur, Bandung.
Karena kakinya telah lelah Rika kemudian memutuskan untuk berteduh untuk beberapa saat hingga hujan reda.
Rika kemudian mengelus perutnya yang lapar, sudah sejak tadi siang perutnya belum terisi sebiji nasipun, tapi dia tak punya uang untuk membeli sekedar sepotong roti. Dia kemudian cuma duduk di kursi yang terpasang di halaman minimarket.
Saat itu badannya basah kuyup dan tak ada sehelai benangpun di tubuhnya yang luput dari hujan malam ini.
Sungguh hari ini sangat berat baginya, di kepalanya dia sudah tak tau lagi bagaimana bisa melalui hidupnya yang semakin lama semakin berat saja.
Di saat Rika sedang termenung dan kebingungan harus pulang kemana, tiba-tiba seorang pemuda bernama Ramon menghampirinya.
Pemuda itu nampak sangat tampan dengan kemeja berwarna biru dan celana panjang berbahan kain yang membuatnya terlihat seperti orang kaya.
Ramon Wirawan adalah pemuda pengangguran, 32 tahun yang kebetulan sedang membeli segelas teh di minimarket itu dia adalah anak Jaya Wirawan yang merupakan pengusaha terkenal di Kota Bandung.
Saat ini Ramon sedang kebingungan mencari istri untuk dia nikahi secepatnya, tentu penampilan Rika yang polos sangat menarik hatinya untuk segera berkenalan.
"Wah ada cewek nih!" bisik Ramon sambil menghampiri Rika.
Rika yang lugu dan percaya akan cinta sejati datang pada pandangan pertama bukannya ketakutan melihat pemuda ini menghampirinya, justu dia malah tersenyum manis dan terus menatap Ramon.
Melihat senyuman Rika itu Ramon kemudian yakin Rika mudah diperdaya. Ramon kemudian menyodorkan teh hangat yang di belinya tadi dan mulai mengajak Rika berkenalan.
"Hei, minum saja teh itu, kebetulan sekali ya, kita bisa bertemu di sini!" rayu Ramon membuat Rika semakin yakin jika dia adalah cinta sejatinya.
Memang kedua orang tua Ramon mengancamnya jika dia tak segera menikah maka nama Ramon akan segera dihapus dari daftar penerima warisan ayahnya yang memang sangat terkenal kaya di Bandung.
"Kamu tinggal di mana? Kenapa kau basah kuyup?" tanya Ramon sembari duduk di samping Rika.
Rika kemudian bercerita jika dia di usir dari kamar kostnya malam ini karena sudah menunggak selama tiga bulan.
"Kalau begitu ikutlah denganku. Kita benar-benar ditakdirkan untuk bertemu malam ini! Ayo!" ajak Ramon sambil membawakan tas ransel Rika menuju mobilnya.
Dengan girang Rika kemudian menerima ajakan Ramon itu, mereka kemudian bergegas menuju mobil Ramon yang terparkir di halaman minimarket.
Ramon kemudian memasukkan ransel Rika kedalam bagasi mobil sedan mewahnya itu dan membukakan pintu untuk Rika.
Mereka berdua kemudian melaju menuju rumah mewah Ramon yang terletak di kawasan elit Dago, Bandung.
Setiba di Rumah Ramon yang nampak sangat mewah dan luas, semakin membuat Rika kagum. Hayalannya tentang cinta sejati semakin melambung tinggi.
"Masuklah, kau adalah calon pemilik rumah ini!" bisik Ramon saat Rika mulai menginjakkan kakinya di ruang tamu.
"Nona, siapa namamu tadi?"
"Rika!"
"Ya, Rika. Kau harus tau aku sangat bahagia akhirnya bisa bertemu denganmu!"
Rika hanya tersipu mendengar semua rayuan Ramon itu.
Ramon kemudian berujar jika mereka harus segera menikah untuk mengabadikan hubungan indah itu.
"Hah, menikah!" ujar Rika kaget.
"Iya, menikah. Cinta yang sejati harus segera di ikat dalam janji suci, sayang!" rayuan Ramon semakin menjadi.
Rika semakin berbunga-bunga mendengarnya, hayalannya tentang cinta pertama benar-benar terwujud, sungguh gadis itu tak sedikitpun memiliki pikiran buruk tentang pemuda pengagguran yang ada di depannya.
"Pelayan!" Ramon memanggil Sopiah, pelayannya.
"Iya, Tuan!" jawab Sopiah sambil bergegas menghampiri Ramon.
"Antar calon istriku menuju kamarnya. Jangan lupa siapkan air hangat untuk mandinya. Dia tadi kehujanan!"
"Baik, Tuan! Ikuti saya calon nyonya!" Sopiah kemudian mengajak Rika berjalan menuju kamar yang di minta Ramon.
Rika bergegas mengikuti langkah kaki Sopiah hingga ke sebuah kamar luas nan mewah di sudut rumah.
Kamar itu hampir empat kali luas kamar kostnya dengan kasur dan lampu gantung yang membuat kamar itu semakin mewah.
Tak lupa Sopiah menyalakan air hangat di dalam bathtub yang berukuran sangat besar.
Setelah air cukup penuh Sopiah kemudian mempersilahkan Rika berendam dan tak lupa dia menggantungkan sebuah kimono handuk di belakang pintu kamar mandi.
Setelah Sopiah menutup pintu kamar, Rika langsung melepas semua bajunya dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub.
Air hangat yang begitu segar kemudian menghilangkan semua kesedihannya malam ini berganti dengan khayalan akan pernikahannya yang indah dengan Ramon si pemalas yang entah apa rencana jahat yang ada di kepalanya.
Setelah hampir sepuluh menit berendam dan tubuhnya kembali segar, Rika teringat untuk menyampaikan kabar rencana pernikahannya dengan Ramon kepada kedua orang tuannya di Garut.
Dia bergegas mengenakan kimono handuk dan duduk di samping kasur, melalui pesan Wa Rika kemudian menceritakan kepada kedua orang tuanya.
'Bu! Ada pria yang akan mengajakku menikah' tutur Rika dalam pesan singkatnya.
Lama menunggu balasan akhirnya pesan itu di balas juga.
'Jangan, Nak! Jangan gegabah, kenali dulu keluarganya. Kami takut ini jebakan!' jawab orang tua Rika dalam pesan singkat mereka.
'Eh, benar juga kata mereka!' ujar Rika yang sadar akan apa yang di katakan kedua orang tuanya benar.
Rika kemudian bergegas memakai lagi pakaian basahnya dan mengambil ransel yang belum sempat dia buka.
Dia kemudian bergegas menuju pintu rumah untuk pergi dari perangkap Ramon.
Ramon yang tak mau mangsanya pergi dengan mudah kemudian mencegat Rika.
"Hey, mau kemana?!" seru Ramon sambil menarik tangan Rika.
"Aku-maaf, ini pasti ada yang salah!"
"Jangan begitu, aku mencintaim percayalah!" ujar Ramon sembari berlutut meminta Rika tetap di rumah itu.
"Tidak, ini pasti salah!" teriak Rika sambil membuka pintu dan bergegas pergi.
"Rika, tunggu dulu!" Ramon terus menghalangi jalan Rika.
"Rika tunggu, dengarkan aku dulu!" seru Ramon yang terus meyakinkan calon istrinya itu jika apa yang dikatakan kedua orang tuanya itu hanya karena mereka belum bertemu dengannya.
"Tapi aku memang belum mengenalmu kah? Bagaimana kita bisa menikah?" Rika semakin tak yakin kepada Ramon.
"Kita memang butuh waktu, jadi tinggalah di sini sampai kau cukup yakin padaku!" pinta Ramon lagi dan lagi.
Rika terdiam dan tak tau harus berbuat apa lagi sekarang.
"Lagi pula, jika kau mau pergi tunggulah sampai besok. Bagaimana bisa aku tega melihatmu pergi di saat masih hujan begini dan seluruh tubuhmu basah!" rayu Ramon yang akhirnya meluluhkan hati Rika.
"Maafkan aku karena percaya kepada kedua orang tuaku kalau kau jahat!" Rika tertunduk malu.
Ramon menarik nafas panjang dan kemudian menarik tangan Rika untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Sopiah yang tau rencana Tuannya kemudian ikut dalam perbincangan, dia kemudian meyakinkan Rika jika Ramon adalah orang yang baik, sama sekali tak seperti apa yang dia pikirkan. Sopiah juga mengatakan tak mungkin lah Ramon sampai menyentuhnya sebelum pernikahan yang terjadi antara dia dan Ramon.
Sungguh perkataan Pelayan Ramon itu semakin membuat Rika semakin yakin jika dia salah menilai tentang sikap Ramon kepadanya.
Ramon kemudian memeluk Rika dengan erat dan kembali meminta gadis polos itu untuk mempercepat saja rencana menikah mereka agar kejadian yang membuatnya berubah pikiran seperti ini tak lagi terulang dikemudian hari.
Rika tersenyum kemudian mengangguk tanda setuju dan akhirnya bersedia kembali ke kamarnya karena hari sudah malam.
Sesampai di kamarnya yang sudah di persiapkan oleh Ramon itu, Sopiah, Pelayan Ramon kemudian memberikan Rika sebuah baju ganti untuk Rika yang nampak basah kuyup.
"Gantilah bajumu, Nona, nanti kau masuk angin!" pinta Sopiah dengan sangat lembut sembari menyodorkan baju Nanda, Adik perempuan Ramon yang kebetulan tinggal serumah dengan Ramon.
"Terima kasih,Sopiah! Maafkan aku yang telah salah sangka kepada kalian semua. Ternyata kalian semua orang baik!" ujar Rika sambil menutup pintu kamarnya untuk segera berganti baju.
Rika kemudian bergegas mengganti bajunya yang basah tadi dengan baju milik Nanda dan bersiap untuk tidur.
Sepanjang malam gadis malang itu hanya bisa tertidur dengan perut lapar. Dia ingin sekali bergegas menuju Ramon untuk meminta makanan sekedarnya tapi entahlah rasa malunya membuatnya memilih untuk lebih baik tidur saja.
***
Di ruang tengah.
Sopiah kemudian bergegas menuju ruang tengah tempat Ramon yang sedang ketakutan sambil terus memandang halaman belakang rumahnya.
"Ah, hampir saja dia lepas, Tuan!" bisik Sopiah berharap Rika tak mendengar pembicaraannya dengan Ramon.
"Iya, aku benar-benar yakin gadis itu sangat labil. Aku harus segera menikah dengannya atau namaku akan di coret dari daftar warisan Ayahku yang pelit itu!" Ujar Ramon yang masih kesal.
"Benar, Tuan! Jangan sampai kita terusir dari rumah ini. Kita pasti bisa memperdaya gadis itu!" Ujar Sopiah dengan senyum sinis.
Ramon hanya bisa mengacak-acak rambutnya yang ikal dan terus berpikir bagaimana caranya agar pernikahannya dengan Rika bisa terjadi secepatnya kalau bisa besok pagi.
Ramon yang tak tau jalan keluar dari masalah itu akhirnya memilih untuk bergegas tidur.
"Ah! Sudahlah, aku mau tidur dulu. Besok kita pikirkan lagi bagaimana cara mempercepat pernikahanku dan ingat besok pagi sebelum dia bangaun siapkan sarapan untuknya. Awasi dia terus jangan sampai dia kabur. MENGERTI!" Perintah Ramon kepada Sopiah sambil bergegas menuju kamarnya.
"Baik, Tuan!" jawab Sopiah dengan tersenyum.
**
Keesokan Paginya.
Rika belum bangun dari tidurnya saat Sopiah sudah mempersiapkan sarapan pagi dan mengantarkannya ke kamar.
Sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan segelas susu yang tertata di nampan kemudian diletakkannya di atas meja tak jauh dari tempat tidur Rika.
Saat terbangun Rika sangat senang melihat sarapannya sudah tersedia, karena sudah lapar dari kemarin dia kemudian segera menyantap semua makanan sajian yang ada.
Sepiring nasi goreng dan telur mata sapi ternyata tak cukup bagi perut Rika, karena masih kelaparan Rika kemudian keluar kamar dan menyelinap menuju dapur yang terletak tak jauh dari kamarnya.
"Nona!" Sapa Sopiah yang ternyata sedang mengawasinya.
"Ma-maaf, aku masih lapar. Adakah nasi lagi untukku?" pinta Rika sambil menunjukkan piring kosong yang di bawanya.
Sopiah kemudian mengantar Rika menuju dapur dan kemudian mengambilkan lagi satu porsi nasi goreng yang masih tersisa di wajan, tak lupa dia menambahkan telor mata sapi di atasnya dan membiarkan Rika makan dengan lahap di kursi dapur.
Sopiah yang melihat RIka makan begitu rakus kejadian itu hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis.
"Pelayan!" terdengar teriakan Ramon dari ruang tengah.
"Iya, Tuan!" jawab Sopiah sambil bergegas menghampiri Ramon.
Ramon yang mengira Rika kabur kemudian menanyakan keberadaan calon istrinya itu kepada pelayannya dan Sopiah kemudian memberi tau Tuannya itu jika Rika ada di dapur dan sedang makan dengan lahap seperti orang yang sudah tiga hari belum makan.
Merasa lega dengan perkataan Sopiah, Ramon kemudian bergegas menuju dapur dan menyusul Rika.
"Rika! oh aku mohon. Jangan bikin aku cemas begini!" pinta Ramon yang kemudian memeluk lembut calon istrinya ini.
Rika kemudian menjelaskan kepada Ramon jika tadi perutnya sangat lapar dan Sopiah berbaik hati memberinya nasi goreng tambahan untuknya.
Ramon kemudian tersenyum dan mengajak Rika menuju taman belakang rumahnya agar bisa berbincang dengan Rika lebih intim.
Kreek...
Ramon membuka pintu kaca yang menuju ke arah taman, di sana nampak banyak terdapat bunga warna-warni yang bermekaran yang sengaja di tanam Ibu Ramon agar tempat itu terlihat lebih asri, Rika nampak sangat senang berada di sana.
Sopiah kemudian menghampiri mereka dan menyajikan secangkir teh hangat serta cemilan dalam toples agar Ramon dan Rika bisa berbincang dengan santai. Tak lupa Sopiah menuangkan teh kedalam cangkir mewah agar Ramon bisa segera meminumnya.
"Kau suka bunga apa?" tanya Ramon.
"Aku paling suka bunga Krisan seperti yang ada di pot itu!" ujar Rika sambil menunjuk ke sebuah pot berisi bunga krisan.
Ramon kemudian melangkah menuju bunga pot bunga krisan putih dan memetikkan satu batang bunga untuk calon istrinya yang lugu itu.
"Ini untukmu, cantik seperti kamu!"
Rayuan Ramon ini nampaknya semakin membuat Rika berbunga-bunga, dia sampai lupa akan permintaan orang tuanya untuk berhati-hati dengan Ramon yang baru di temuinya dan yang ada di pikiran Rika hanyalah tentang pernikahan yang indah yang akan menjadi pelabuah terakhir cinta pertama dan terakhirnya.
Ting... tong...
Terdengar bel pintu rumah berbunyi, Sopiah kemudian bergegas membuka pintu.
"Mana Ramon!" teriak seorang wanita yang memaksa masuk.
Wanita muda itu terus memaksa masuk dan Ramon yang mulai tak nyaman dengan teriakan wanita itu kemudian menghampiri Sopiah.
"Ada apa ini?" teriak Ramon kepada Sopiah yang nampak masih menghalangi tamunya masuk.
"Sejak kapan aku tak boleh masuk rumahku sendiri?" seru Nanda, adik Ramon yang berusaha melepaskan genggaman tangan Sopiah.
"Biarkan dia masuk, kamu ini kenapa sih?" ujar Ramon sambil menangkis tangan Sopiah.
“Sebaiknya dia menunggu sampai Rika masuk ke kamarnya lebih dulu,Tuan. Saya khawatir Rika akan berpikir bahwa Nanda adalah wanita lain di hidup Ramon dan itu dapat membuat rencana kita tentang pernikahan Ramon bisa jadi berantakan!” tutur Sopiah membuat Ramon mengangguk.
"Rika? kalian ini membicarakan siapa sih?" tanya Nanda yang tak paham tentang sosok yang sedang mereka bicarakan sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Rika itu calon istriku, kau tau kan orang tua kita memintaku segera menikah!" Ramon mencoba menjelaskan.
Nanda kemudian memandang wajah kakaknya yang nampak serius,”Apa maksudmu, cepat bercerita siapa dan dimana sebenarnya mereka bertemu dengan orang yang sedang mereka bicarakan itu.”
Belum sempat Ramon menjelaskan siapa Rika yang di maksud tiba-tiba…
"Ramon, ada siapa?" teriak Rika yang terdengar berjalan menghampiri Ramon di ruang tengah.
"Oh ini, Nanda, Adikku! Nanda, perkenalkan ini, Rika, calon istriku!" Ujar Ramon dengan ramah memperkenalkan Nanda yang masih nampak kebingungan melihat sosok Rika.
"Dia... dia pakai bajuku?" bisik Nanda pada Sopiah yang melihat baju yang sedang di gunakan oleh Rika.
Sopiah kemudian memasang mata melotot meminta Nanda tak mengucapkan kata yang bisa membuat Rika tersinggung.
Nanda kemudian tersenyum kecut dan berjabatangan dengan Rika yang nampak sangat sederhan itu. "Aku, Nanda! Adik Ramon!"
"Salam kenal!" jawab Rika dengan sangat santun.
"Rika, kembalilah ke kamarmu! Ada yang harus aku bicarakan dengan Nanda! Sopiah, antar dia!" perintah Ramon lalu membalikkan badannya dari Rika.
Rika kemudian mengangguk dan mengikuti langkah Sopiah yang mengantarkannya menuju kamarnya.
Saat Rika sudah tak nampak, Ramon mulai menceritakan niat jahatnya kepada Rika.”Dia itu mangsaku, jadi kau siap-sia saja mendukungku!”
Nanda yang mendengar ide brilian itu kemudian tersenyum kecut sebagai tanda dia menyetujuinya.
Memang keduanya sejak awal merasa aneh dengan persyaratan dari kedua orang tuannya yang mengharuskan Ramon menikah dulu sebelum mendapatkan hak atas warisannya.
"Lagi pula mereka juga yang bikin aturan aneh, jadi ya biarin aja. Toh Rika mau menikahimu kan!" ujar Nanda yang mencoba membela kakaknya yang pengangguran itu.
Ramon tertawa geli mendengar pembelaan dari adiknya itu.
"Iya, Masalahnya bagaimana caranya agar aku bisa menikah secepatnya!" tegas Ramon.
Nanda terdiam sejenak kemudian mencoba mengingat-ingat siapa temannya yang bisa dia mintai tolong. Begitu dia meniggat nama temannya di catatan sipil dia kemudian menceritakan rencananya pada Kakaknya.
"Kulihat gadis itu sangat lugu, bagaimana kalau kau bawa dia ke kantor catatan sipil lalu menikah di sana!" usul Nanda yang mulai ikut jahat seperti pikiran kakaknya.
"Apa bisa segampang itu?" tanya Ramon tak yakin dengan rencana Nanda.
"Sudah urusan catatan sipil biar aku yang bereskan, asal kau bisa menunjukkan KTP RIka!" ujar Nanda dengan wajah jahatnya.
Ramon menarik nafas lega, akhir dia tau cara yang paling tepat agar segera bisa menikahi Rika dan tentu ini berarti masalahnya akan hak warisnya akan segera terselesaikan.
Ramon kemudian menghampiri Rika yang sedang berada di kamarnya untuk meneruskan rencananya mencatatkan pernikahannya melalui adiknya.
"Rika, kau sedang tidur!" bisik Ramon saat membuka pintu kamar Rika.
Rika yang sedang duduk di samping jendela kamarnya kemudian menghampiri Ramon dan menanyakan apakah yang membuat Ramon datang ke kamarnya.
"Bisakah aku meminjam KTPmu?" tanya Ramon begitu sopan.
"Untuk apa?" Rika nampak mulai curiga.
Ramon kemudian menceritakan tentang rencana pernikahan mereka yang butuh untuk segera di legalkan dan untuk mencatatkan pernikahan mereka itu tentu Ramon sangat membutuhkan KTP Rika sebagai syarat administrasi pernikahan mereka di kantor Catatan Sipil.
Mendengar tentang rencana pernikahannya yang akan berlangsung sebentar lagi, Rika kemudian buru-buru mengambil dompetnya yang masih berada di dalam tas ranselnya yang basah kemarin.
"Tasmu masih di situ, itu kan basah?" tanya Ramon saat melihat Rika mengangkat ranselnya.
"Iya, masih belum kubereskan!"
"Serahkan saja tas basahmu itu kepada, Sopiah, biar dia yang bereskan semuanya. Nanti jika tak buru-buru di bereskan nanti semua bajumu jadi bau!"
"Iya, Nanti aku berikan kepada Sopiah!" ujar Rika sambil merogoh saku tas ranselnya dan segera menemukan dompet berisi KTP-nya.
Tanpa banyak bertanya, Rika kemudian menyerahkan KTP-nya itu kepada Ramon tanpa sedikitpun rasa curiga.
Tentu Ramon sangat senang sudah dapat membuat Rika begitu menuruti semua yang dia katakannya tanpa sedikipun curiga.
Setelah KTP Rika sudah di tangannya, Ramon kemudian bergegas menuju ruang tamu untuk memberikan syarat pernikahannya itu kepada adiknya.
Nanda yang melihat Ramon begitu mudah memperdaya Rika kemudian tertawa sinis sambil memberi dua jempolnya sebagai tanda kagum pada kakaknya itu.
"Benar-benar mudah sekali kau memperdaya dia, Ramon!"
Ramon menjawab Adiknya itu dengan tersenyum, dia kemudian meminta agar Adiknya bergegas menjalankan rencananya atau Rika keburu sadar sedang mereka perdaya.
Nanda kemudian menghubungi temannya via ponselnya, tak lama kemudian dia kembali tersenyum dan memberi tau Kakaknya bahwa pernikahan itu akan segera di proses dan ketika sudah siap Ramon tinggal datang saja ke kantor catatan sipil untuk menandatangani berkas.
"Bagus, aku sangat berterima kasih kepadamu, adikku!" ujar Ramon lega.
Sopiah kemudian menghampiri Ramon, dia berkata jika Rika baru saja menelepon seorang temannya dan bercerita tentang keberadaannya di rumah Ramon.
Laporan Sopiah ini kemudian membuat Ramon kembali cemas, kemarin ketika Rika menelepon orang tuannya di Garut, gadis itu kemudian mencoba untuk kabur.
"Apa kita simpan saja ponselnya, agar tak ada yang menghubunginya?" saran Sopiah.
"Jangan, nanti dia jadi lebih curiga kepada kita!" potong Nanda.
"Begini saja, kita tetap berlaga baik saja dulu kepadanya. Baru setelah aku berhasil menikahinya baru kita habisi dia!" Ujar Ramon sambil tertawa.
Sopiah dan Nanda setuju akan ide Ramon itu, yang mereka butuhkan memang hanya itu saja tidak lebih, pikir Ramon.
Sopiah kemudian mempersiapkan makan siang untuk Ramon, Nanda dan Rika.
Sepiring besar ayam goreng bumbu madu di siapkan Sopiah dan tersaji sangat lezat di meja makan.
Setelah semua siap, Ramon menghampiri Rika di kamar dan mengajaknya untuk makan.
"Sayang, ayo kita makan!" ujar Ramon sambil membuka pintu kamar Rika.
Betapa kagetnya Ramon saat membuka pintu kamar Rika dan sekali lagi dia tak menemukan calon istrinya itu, Ramon kemudian memeriksa setiap sudut kamar dan Rika tak di sana.
"Rikaaa!" teriak Ramon yang tak bisa menemukan calon istrinya itu.