"Astaga, aku lupa! Aku 'kan harus meletakkan baju pengantin ini di kamar Tuan Zeus. Kalau sampai besok pagi baju pengantin ini masih di sini, bisa-bisa aku dipecat karena Tuan Zeus gagal menikah," lirih Helios sambil menepuk dahinya.
Wanita itu bergegas meraih baju pengantin itu dan menatap jam dinding. "Sudah pukul sepuluh malam. Mudah-mudahan saja Tuan Zeus belum pulang," imbuhnya.
Helios merupakan wanita berusia dua puluh tahun yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman mewah keluarga Cartwheel. Wanita cantik dengan tinggi seratus enam puluh sentimeter itu memiliki rambut hitam yang panjang, lesung di bawah kedua sudut bibirnya, hidung mancung, dan bola mata yang jernih. Namun sayangnya, wanita cantik itu bernasib sial.
Baru saja meletakkan setelan pengantin di atas tempat tidur Zeus dan hendak berbalik keluar, tiba-tiba tubuhnya didorong dengan kasar. Ia terjatuh di atas tempat tidur yang sangat empuk itu dengan terkejut.
"Aawww!" pekik Helios terkejut.
Pandangan wanita itu langsung ke arah di mana seseorang mendorongnya. "Tu-tuan Zeus." Terkejut wanita itu mendapati pemilik kamar ada di depan matanya. Kemudian, ia langsung beranjak bangun, "Ma-maaf, Tuan. Sa-saya tidak bermaksud untuk masuk ke kamar Tuan tanpa izin. Sa-saya ha-hanya ingin meletakkan baju pengantin, Tuan, saja," sambung Helios sambil menoleh menatap tuxedo yang ia letakkan di atas tempat tidur sebelumnya.
Pandangan wanita itu tetap setia menunduk dan sama sekali tidak berani menatap Zeus. Apalagi ia tahu betul seperti apa sosok anak majikannya itu. Pria yang hampir tidak pernah tersenyum dan selalu bersikap dingin.
Merasa ada yang aneh karena tidak mendapatkan respon apa pun atas permintaan maafnya, Helios memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Namun, ia dikejutkan dengan gerakan tangan pria itu yang sedang melepas jasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Terlebih selang beberapa detik, pria itu mulai melepas kancing kemejanya.
"Tu-tuan? A-apa ya-yang sedang Tuan lakukan?" tanya Helios terbata. Tubuh dan suaranya sudah mulai bergetar
Di sana, Zeus terlihat sedang melucuti pakaiannya satu per satu. Takut terjadi hal buruk, Helios beranjak melangkah maju hendak keluar. "Maaf, Tuan. Saya mau permisi keluar karena baju pengantinnya sudah saya antar." Namun baru melangkah sekitar dua langkah, pergelangan tangannya direngkuh dengan paksa dan tubuhnya dihempaskan kembali ke atas tempat tidur.
"Aww! Apa yang Tuan Zeus lakukan?" tanya Helios ketakutan.
Lagi-lagi, wanita itu beranjak bangun. Namun belum sempat berdiri, Zeus sudah kembali mendorongnya hingga ia jatuh terlentang di atas tempat tidur.
"Jangan lakukan ini, Tuan, saya mohon!" lirih Helios.
Wanita itu beranjak duduk dan bergerak mundur. Ia melihat Zeus sedang melepas kancing terakhir kemejanya. Kemudian, pria itu melepasnya dan melempar ke sembarang arah.
Melihat Helios yang memberingsut ketakutan di ujung kepala ranjang membuat Zeus ikut naik ke atas tempat tidur. Ia menarik paksa tangan Helios dan langsung mengungkung tubuh wanita itu sambil melucuti pakaian Helios yang tersisa. Kemudian, ia melepas celananya dan kain lain yang masih melekat di tubuhnya.
"Tidak, Tuan, jangan! Jangan lakukan ini pada saya, Tuan!" teriak Helios memohon.
Tangannya bergerak memukuli dada bidang pria itu dan kakinya pun tidak berhenti menendang. Air matanya sudah memgerucuk deras bak menganak sungai. Namun sayangnya, hal itu tidak membuat Zeus merasa kasihan. Pria itu semakin giat menggerilya menikmati setiap jengkal tubuh Helios. Membuat beberapa hingga banyak tanda merah. Menikmati bukit marshmallow yang keras dan menantang.
Tidak lama kemudian, pria itu mulai menikmati tubuh Helios dengan brutal. Ia sama sekali tidak peduli dengan reaksi yang ditunjukkan Helios. Tangan wanita itu bergerak ke sana kemari dengan kuku panjang yang menyapu kulit tubuh atletis pria itu. Bahkan bahunya pun tidak lupa mendapat bagian di mana Helios menggigitnya dengan sekuat tenaga merasakan bagian tubuh bawahnya yang luar biasa sakit.
Meski tubuhnya penuh cakaran dan bahunya yang terluka karena gigitan, ia sama sekali tidak bisa merasakannya. Yang Zeus rasakan saat ini hanya nikmatnya surga dunia. Surga yang baru pertama kali ia rasakan menjelang hari pernikahannya dengan kekasihnya, Minerva.
Merasa tidak ada lagi harapan, Helios melemaskan seluruh otot-ototnya dan menjatuhkan seluruh tubuhnya. Ia hanya berbaring membiarkan Zeus bergerak sesukanya di atas tubuhnya. Dengan bulir-bulir bening yang terus mengalir membanjiri wajahnya, wanita itu menatap kosong ke arah pintu.
"Kenapa tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakanku? Apa memang harus seperti ini nasibku?" tanya Helios dalam hati.
Pukul enam tadi, semua anggota keluarga Cartwheel pergi untuk menghadiri sebuah acara. Jadi, di rumah besar itu hanya tersisa Helios, beberapa asisten rumah tangga, dan penjaga keamanan. Namun entah mengapa, tidak ada satu pun dari mereka yang mendengar teriakannya. Mungkinkah mereka semua sudah tertidur?
Di tengah keputusasaan Helios, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Suara sepatu pantofel yang diadu dengan lantai marmer itu semakin mendekat. Sepersekian detik kemudian, terdengar suara ketukan pintu berkali-kali.
Melihat secercah harapan, Helios berteriak meminta tolong sambil menatap ke arah pintu. "To-tolong! Siapa pun di luar, tolong aku!" teriak Helios.
Mendengar suara wanita itu, sontak Zeus mengangkat kepalanya dan membungkam bibir Helios dengan bibirnya. Tubuhnya terus bergerak lincah tanpa merasa kelelahan sedikitpun.
Dalam hitungan detik, kenop pintu bergerak turun ke bawah, dan pintu terbuka lebar. Terpampanglah dua sosok paruh baya dengan setelan pasangan berdiri di depan pintu dengan terkejut.
"To-long sa-ya, Tu-an, Nyo-nya," lirih Helios terputus-putus.
Bertepatan dengan Zeus yang selesai menumpahkan cairan hangat ke rahim Helios, suara seorang pria terdengar.
"Apa yang kau lakukan, Zeus?" tanya Asilas dingin.
Asilas Cartwheel merupakan ayah dari Zeus Cartwheel. Pria paruh baya itu begitu terkejut melihat putranya sedang berada di atas tubuh asisten rumah tangganya. Terlebih dengan istrinya, Diana. Wanita itu menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan manik mata yang terbelalak. Bahkan tubuhnya terhuyung ke samping dan hampir terjatuh.
"Sayang," terkejut Asilas mendapati istrinya terhuyung. Pria itu lekas meraih tubuh istrinya dan memeluknya.
"Zeus, Pa. Bagaimana bisa putra kita melakukan hal keji itu pada Hely? Bagaimana bisa dia melakukannya di saat ke esokan harinya akan menikah dengan Mine?" Wanita itu menangis meratapi perbuatan putranya.
"Papa juga tidak tahu, Ma, tapi yang paling penting sekarang Mama tenang dulu," balas Asilas menenangkan. Padahal, ia sama kacaunya dengan sang istri.
"Tapi, Pa ..."
"Tidak ada kata tapi, Sayang. Kita akan menyelesaikan masalah ini sama-sama," sanggah Asilas percaya diri.
Sementara itu, Zeus mulai bergerak dan berbaring di samping. Sedangkan Helios, wanita itu lekas menyembunyikan tubuh polosnya dengan selimut. Kemudian, ia bergerak turun dan duduk meringkuk di lantai.
"Anak itu benar-benar," geram Asilas. Ia sudah berteriak sebelumnya dan sang putra sama sekali tidak menghiraukannya. "Mama tunggu di sini sebentar!" Lalu, ia melangkah cepat ke arah kamar mandi.
"Papa mau apa ke kamar mandi?" tanya Diana khawatir. Namun sayangnya, sang suami tidak menjawab pertanyaannya.
Tidak berselang lama, Asilas keluar dari kamar mandi sambil membawa seember penuh air dingin. "Bangun, Zeus!" teriak Asilas sambil menumpahkan air itu ke wajah putranya.
Sontak, Zues langsung terbangun. Pria itu terduduk dengan terkejut. Raut wajahnya memerah dan terdengar suara eratan gigi yang saling diadu.
"Siapa yang berani melakukan ini padaku?!" bentak Zeus sama sekali tidak melihat kondisi tubuh polosnya. Ia juga sama sekali tidak menyadari keberadaan ayah dan ibunya di sana.
Zeus bertanya, tetapi tidak mendapat jawaban apa pun. Namun tiba-tiba, pukulan keras mendarat di kepalanya. Sontak, kepala pria itu terdorong ke samping. Dengan tangan yang terkepal kuat, ia menggertakkan giginya.
"Siapa kau? Beraninya ..." Zeus menoleh ke belakang dan mendapati sang ayah berada tepat di sampingnya, "Pa-papa? Apa yang Papa lakukan di sini? Lalu, kenapa Papa memukul kepalaku?" tanya pria itu terkejut.
"Kau masih berani bertanya? Harusnya papa yang tanya, sebenarnya ada apa denganmu? Apa yang kau lakukan pada Hely, sedangkan besok pagi kau akan menikah?" sanggah Asilas menggebu. Pria itu berkata sambil menggertakkan giginya. Manik matanya menatap tajam putranya bak mata belati.
"Maksud Papa apa? Memangnya apa yang aku lakukan pada Hely?" tanya Zeus masih belum sadar atas apa yang telah ia lakukan pada Helios.
Tatapan mata Asilas tertuju pada Helios yang meringkuk di lantai menggunakan selimut. Kemudian, Zues mengikuti arah pandang ayahnya.
"Hely? Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Zeus terkejut.
Helios semakin menenggelamkan wajahnya dan semakin terisak. Ia merasa hidupnya sudah hancur karena sesuatu yang paling berharga darinya sudah direnggut paksa oleh Zeus. Terlebih, pria itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Jangan tanya pada Hely. Tanyakan saja pada dirimu sendiri, apa yang telah kau lakukan padanya. Kau lihat? Tubuhmu terlihat sangat kotor dan menjijikan," timpal Asilas menatap jijik pada tubuh putranya.
Saat ini, tubuh polos Zeus seperti kain merah menyala dengan motif garis-garis. Tubuh pria itu berlumuran darah dengan banyak sekali bekas cakaran.
"Astaga!" terkejut Zeus hampir melompat terkejut melihat kondisi tubuhnya. Bahkan ia baru merasakan perih di sekujur tubuhnya karena luka itu.
"Cepat bersihkan tubuhmu yang kotor dan bau itu! Setelah itu, papa dan Mama akan menunggumu di bawah." Tatapan mata Asilas berpindah pada Helios, "Kau juga. Cepat bersihkan tubuhmu dan kita akan bicara di bawah," lanjut pria itu.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Asilas meraih tubuh istrinya dan memapahnya keluar. Sementara di dalam, Zeus langsung menatap tajam ke arah Helios.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan di kamarku? Apa kau yang menjebakku?" tanya Zeus dingin.
Pria itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa di malam terakhirnya ia melajang telah menodai kesucian seorang wanita. Apalagi wanita itu adalah seorang asisten rumah tangga di rumahnya sendiri. Rasa-rasanya, ia ingin sekali menenggelamkan tubuhnya ke dalam air laut hingga menjadi buih.
Mendengar pertanyaan yang Zeus lontarkan membuat Helios mengangkat kepalanya tiba-tiba. "Jangan asal bicara, Tuan. Di sini saya yang menjadi korban dan tolong Tuan jangan bersikap seolah saya pelakunya," sanggah Helios tidak kalah dingin.
"Lalu, kenapa kau ada di kamarku malam-malam begini?" tanya pria itu lagi karena belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Ia akui ketika pulang dari pesta, ia dalam keadaan mabuk berat. Ia masuk ke dalam kamar dan mendapati calon istrinya di dalam. Jadi karena tidak bisa menahan diri, pria itu langsung mengungkung tubuh calon istrinya dan bersenang-senang. Namun yang tak disangka-sangka, ia justru menodai wanita lain dengan cara paksa. Tidak sesuai dengan penglihatannya sebelumnya.
"Tuan lihat, baju pengantin yang sudah tidak berbentuk itu?" Helios menunjuk ke arah baju pengantin pria yang jatuh terjerambah di lantai dalam kondisi berantakan dengan noda darah, "Saya datang ke sini untuk mengantar baju pengantin itu. Saya pikir, Tuan tidak ada jadi saya masuk untuk meletakkannya di atas tempat tidur. Tapi ternyata, Tuan tiba-tiba ada di belakang saya dan--"
Sebenarnya, Helios malas sekali untuk menjelaskan hal itu. Namun, ia tidak ingin dituduh yang tidak-tidak dengan menjebak Zeus. Jadi dengan amat sangat terpaksa, ia menjelaskan semuanya. Ya, meskipun akhirnya ia diusir sebelum pria itu mengakui kesalahannya.
"Cukup! Tidak perlu kau lanjutkan lagi. Lebih baik kau cepat keluar dari kamarku," seru Zeus samar-samar mengingat kejadian awalnya.
Tanpa pikir panjang, Helios beranjak berdiri. Akan tetapi, baru saja hendak melangkah untuk memunguti pakaiannya. Ia merasakan sakit yang teramat di bagian tubuh bawahnya. Lalu, ia terhuyung dan terjatuh ke tepi tempat tidur.
"Cepat!" sentak Zeus membuat Helios terkejut.
Meskipun terasa sangat sakit, tetapi Helios tidak bisa terus berada di sana. Ia menahan rasa sakitnya kuat-kuat dan memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai. Kemudian, ia melangkah ke kamar mandi untuk memakai baju. Tidak lama kemudian, ia keluar dalam keadaan memakai pakaian lengkap. Begitu juga dengan Zeus yang sudah memakai pakaian.
Helios hanya melirik sekilas dan bergegas keluar. Ia melangkah menuruni anak tangga diikuti oleh Zeus di belakangnya.
"Duduklah!" kata Asilas.
Zeus pun bergegas duduk di seberang meja dan Helios langsung duduk di lantai.
"Ze. Papa terpaksa harus membatalkan pernikahanmu dengan Minerva," ujar Asilas serius.
"Apa?" Zeus sangat terkejut mendengar ucapan ayahnya. Pria itu langsung beranjak berdiri sambil menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya, "Bagaimana bisa Papa membatalkan pernikahan Ze dengan Mine?"
"Tentu saja, bisa. Kau bahkan bisa memperkosa Hely di saat kau akan menikah dengan Minerva," sanggah Asilas mengejek.
"Apa yang terjadi antara Ze dan Hely murni sebuah kecelakaan, Pa. Jadi, tolong jangan batalkan pernikahan Ze dengan Mine," ujar Zeus memohon.
"Apa pun kenyataannya, biarpun itu murni kecelakaan sekalipun. Kau tetap harus membatalkan pernikahanmu dengan Minerva dan menikah dengan Hely sebagai bentuk pertanggungjawabanmu," balas Asilas memutuskan.
Meskipun Helios hanya seorang asisten rumah tangga, tetapi ia tidak boleh mengabaikan apa yang telah terjadi pada wanita itu. Putranya telah merenggut kesucian Helios dan ia tidak bisa tinggal diam. Apalagi prinsip yang selama ini pegang adalah berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Jadi, putranya harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.
"Tapi, Pa. Ze tidak mencintai Hely dan Ze hanya mencintai Mine." Wajah pria itu terlihat sangat muram karena kesulitan membujuk ayahnya.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu, Ze. Jadi yang paling penting sekarang, kau bertanggung jawab pada Hely. Mama tidak bisa membiarkanmu lepas dari tanggung jawab," timpal Diana menggebu.
"Mama juga? Plis, Ma, Ze mohon bantu Ze. Ze tidak bisa menikah dengan Hely." Pria itu begitu terkejut melihat sang ibu setuju dengan rencana ayahnya.
"Tidak, Ze. Mama dan Papa sudah menghubungi orang tua Minerva untuk membatalkan pernikahanmu dengan Minerva dan mempelai wanitanya akan diganti dengan Hely," sergah Diana tidak bisa memenuhi permohonan putra semata wayangnya.
"A-apa?" Zeus begitu terkejut mendapatkan kabar buruk itu.
Tubuh pria itu langsung terasa lemah seolah tidak memiliki tulang. Ia menjatuhkan seluruh tubuhnya ke belakang bersandarkan sofa. Mulutnya mendadak tertutup rapat dan manik matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Istirahatlah! Besok pagi kau harus bersiap untuk menikah dengan Hely."
Belum cukup dikejutkan di mana pernikahannya harus gagal dengan Minerva dan harus menikah dengan Helios. Kini, ia dikejutkan lagi di mana ia harus menikahi Helios besok pagi.
"Besok pagi?" terkejut Zeus dengan manik mata terbelalak.
"Ya, besok pagi. Kenapa? Apa kau keberatan?" Asilas mengangkat alisnya dengan manik mata yang terbuka lebar, "Bahkan meskipun kau keberatan sekalipun, tidak akan merubah keputusan papa untuk menikahkanmu dengan Hely," sambung pria paruh baya itu dengan mencebikkan bibirnya dan menghempaskan punggungnya ke belakang.
"Maaf, Tuan, karena saya terpaksa harus menyela." Helios memberanikan diri untuk menyela dan mengangkat pandangan sejenak. Setelah semua orang fokus menatapnya, ia mulai melanjutkan kata-katanya, "Tuan dan Nyonya tidak perlu memaksakan kehendak Tuan Muda untuk menikah dengan saya. Saya tahu kalau Tuan Muda harus bertanggung jawab, tetapi saya merasa tidak pantas karena saya hanya seorang asisten rumah tangga. Jadi, biarkan Tuan Muda menikah dengan Nona Minerva dan saya akan pergi dari rumah ini."
"Apa kau bilang? Aku tidak peduli dengan status sosial. Mau kau hanya sekedar asisten rumah tangga di rumahku, aku tetap tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya satu, perbuatan putraku padamu. Bukankah seharusnya kau meminta pertanggungjawaban atas direnggutnya kesucianmu?" geram Asilas sambil menggertakkan giginya.
Sontak, Helios langsung memberingsut ketakutan mendengar suara majikannya yang sangat dingin. "Maaf, Tuan. Saya hanya tidak ingin menjadi benalu di keluarga ini. Saya tidak ingin Tuan dan Nyonya menanggung malu karena memiliki menantu seperti saya."
Meskipun baru bekerja kurang dari dua tahun di rumah itu. Namun, sikap Asilas dan Diana sangat baik. Mereka tidak pernah memperlakukannya sebagai asisten rumah tangga. Meskipun demikian, ada batasan yang harus tetap dijaga.
"Ya. Mungkin orang-orang di luar sana akan menggunjingkan kami karena memiliki menantu seorang asisten rumah tangga sepertimu. Akan tetapi, bagaimana denganmu? Apa kau tidak merasa dirugikan? Apakah di luaran sana ada pria yang akan menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan?" tanya Asilas menggebu.
Sejak dulu, Asilas tidak pernah memandang orang dari status sosialnya. Entah itu orang dari status sosial atas, tengah, maupun bawah. Semuanya terlihat sama di matanya dan yang membedakan adalah ketulusan hatinya. Jadi, tidak masalah jika Helios menjadi menantunya. Apalagi alasannya karena ulah anak kandungnya sendiri.
"Kenapa diam saja? Apa kau masih tidak ingin menikah dengan orang yang telah merenggut kesucianmu?" tanya Asilas dingin.
Mendengar pertanyaan yang Asilas lontarkan membuat Helios meremas ujung bajunya. Ia diam karena membenarkan ucapan pria itu. Helios tahu betul, di luaran sana tidak akan ada pria yang mau menerima kekurangannya itu. Namun, ia merasa rendah diri jika harus menikah dengan Zeus meski pria itu sendiri yang merenggut kesuciannya.
"Hely benar, Pa. Kita semua akan malu jika Zeus sampai menikah dengan seorang pembantu. Jadi, bisakah--."
"Tidak bisa. Apa pun yang terjadi, kau tetap harus menikah dengan Hely," potong Asilas tegas.
Bagaimana bisa Asilas menghancurkan prinsipnya yang selama ini ia pegang untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran? Meskipun hal itu akan membuat keluarganya malu, ia tetap harus menikahkan putranya dengan Helios.
"Ini kamarku dan kau tidak boleh memasukinya. Terserah kau mau tidur di mana yang penting bukan di kamarku," ujar Zeus mengingatkan.
Setelah sah menikah, Zeus langsung memboyong Helios pindah ke apartemen yang sebelumnya ia siapkan untuknya dan Minerva. Namun alih-alih Minerva yang ia bawa sebagai seorang istri, justru Helios si pembantu di rumah orang tuanya yang ia bawa.
"Baik, Tuan," jawab Helios mengangguk.
Sementara Zeus masuk ke dalam kamarnya, Helios mencari kamar lain. Dengan cepat, ia menemukan kamar tidak jauh dari kamar Zeus. Ia lekas masuk ke dalam dan beristirahat.
Baru saja merapikan pakaiannya di lemari dan membaringkan tubuhnya, ia mendengar suara pintu dibanting. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dan melihat Zeus sedang berlarian menuruni anak tangga. Hampir saja pria itu jatuh menggelinding, jika tangannya tidak bergegas berpegangan pada besi penjagaan.
"Tuan Zeus mau ke mana? Kenapa kelihatannya buru-buru sekali?" batin Helios bertanya-tanya.
Wanita itu beranjak menuruni anak tangga dengan tatapan yang lurus ke arah Zeus. Lama-kelamaan, pria itu mulai menghilang di balik pintu. "Apa ada masalah?" Wanita itu melipat tangan kirinya di depan dan tangan kanannya menyentuh dagunya, "Astaga! Kenapa aku jadi begini? Ingat, Hely! Kau itu bukan seperti istri pada umumnya. Kau hanya memiliki status itu tanpa memiliki hak apa pun atas Tuan Zeus," imbuhnya mengingatkan.
"Ya, seharusnya aku sadar akan hal itu." Sambil menghela nafas berat, Helios kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Entah sudah berapa jam ia tertidur, tiba-tiba ia dikejutkan dalam tidurnya. Ia mendengar suara seseorang meneriakkan namanya. Sambil beranjak bangun, Helios mengucek matanya. Ia turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu. Bertepatan dengan ia memutar kenop, pintu didorong ke belakang dengan keras. Sontak, tubuhnya terdorong ke belakang dan ia jatuh terjerambah di lantai.
"Aawww, sakit!" Helios memekik kesakitan sambil mengusap pinggangnya, "Wanita itu mengangkat pandangan dan mendapati Zeus ada di depan matanya.
Dengan langkah pasti, Zeus melangkah maju. Tepat di hadapan Helios ia berjongkok dan mengulurkan tangannya ke arah leher. "Karena kau, aku batal menikah dengan Mine. Karena kau, Mine menikah dengan pria lain," ujar Zeus sambil menekan kuat-kuat tangannya di leher Helios.
"Uhuk-uhuk! Lepas, Tuan, sakit," kata Helios dengan raut kesakitan.
"Sakit kau bilang? Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku." Zeus semakin mengeratkan tangannya membuat Helios semakin kesulitan untuk bernafas.
"To-long le-pas, Tuan!"
Helios berusaha meronta dengan menarik kedua tangan Zeus yang menekan lehernya. Ia tidak bisa bertahan lebih lama di saat Zeus membabi buta mencekik lehernya. Meski ia terus berusaha menarik tangan pria itu, tetapi tenaganya tidak bisa dibandingkan dengan tenaga Zeus. Hingga lama-kelamaan, tenaganya mulai hilang begitu saja karena terlalu keras tekanan di lehernya.
Melihat Helios yang tidak lagi melawan membuat Zeus tidak bersemangat lagi. Rasanya tidak menyenangkan jika lawannya memilih pasrah alih-alih terus melawan. Akhirnya, ia melepaskan tangannya sambil mendorong wanita itu ke belakang.
"Uhuk-uhuk!" Helios terbatuk sambil menghembuskan nafas lega. Ia mengusap lehernya yang terasa perih dan membiarkan tubuhnya berbaring di atas lantai.
Baru saja bisa bernafas dengan normal, tiba-tiba tangannya ditarik dengan paksa. Sontak, ia berdiri karena tidak bisa menahan rasa sakit di tangannya. Lalu dalam hitungan detik, tubuhnya sudah didorong ke atas tempat tidur. Entah mengapa, pikirannya berubah kosong. Sepersekian detik kemudian, ia beranjak duduk.
Dengan manik mata yang membola, Helios melihat kain dilempar ke sembarang arah. Baru sempat menoleh, ia sudah didorong kembali ke belakang. Meskipun demikian, ia tetap bisa melihat penampilan Zeus yang kini sedang melepas kancing celananya. Tubuh bagian atasnya sudah polos. Tiba-tiba, ia teringat akan kejadian sebelumnya di kamar Zeus beberapa hari yang lalu.
Sontak, Helios langsung melompat berdiri. Wanita itu berlari ke arah pintu. Baru mengulurkan tangannya hendak meraih gagang pintu, tubuhnya sudah ada di dekapan Zeus. Pria itu langsung mengangkat tubuhnya dan melempar tubuh Helios ke atas tempat tidur dengan kasar.
"Tuan, tolong jangan lakukan ini lagi," mohon Helios dengan wajah bercucuran air mata.
"Melakukan apa? Apa kau sedang memberiku kode? Dasar murahan!" tanya Zeus sambil tersenyum jijik.
Pikiran Zeus sedang kacau dan tidak bisa mencerna ucapan Helios dengan benar. Yang ada di pikirannya hanya hal buruk tentang wanita itu.
"Glek!" Helios menelan salivanya kasar hingga hampir tersedak. Bagaimana bisa Zeus berpikir seperti itu? "Tidak, Tuan, bukan itu maksud saya. Saya hanya memberitahu, Tuan, agar kejadian sebelumnya di kamar Tuan Zeus tidak terjadi lagi," kata Helios berusaha menjelaskan dan berharap pria yang kini berstatus suaminya itu akan mengerti.
"Memangnya kenapa? Kau itu istriku dan sudah menjadi tugasmu untuk memuaskanku," tanya Zeus nyalang.
"Saya tahu, tapi bisakah tidak melakukannya dengan kekerasan?" pinta Helios ketakutan.
Tanpa melakukan kekerasan pun Helios sudah trauma karena ulah Zeus yang pertama kalinya. Apalagi jika sampai pria itu melakukannya lagi. Entah apa yang akan terjadi pada Helios nanti.
"Jangan banyak omong!" seru Zeus tidak terima dengan permintaan Helios.
Beraninya wanita itu memerintahnya. Apakah Helios lupa telah menghancurkan hidupnya? Bukankah sudah sepantasnya Helios mendapatkan balasan yang setimpal dari Zeus?
"Tuan, saya mohon!" mohon wanita itu dengan raut takut.
Helios mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggosoknya. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin dan air matanya sudah tercampur menjadi satu, tubuhnya bergetar ketakutan. Akan tetapi, ia masih memiliki harapan agar Zeus mau bersikap sedikit lebih lembut padanya.
"Sekeras apa pun kau memohon, aku tidak akan pernah mendengarkanmu," balas Zeus sambil melepaskan ikat pinggang di celananya. Lalu, melayangkannya ke tubuh Helios.
"Aaaww! Ssssttt!" Helios berteriak kesakitan kala ikat pinggang itu menempel keras di tubuhnya, "Tuan?" Wanita itu hendak memohon, tetapi hanya sampai di tenggorokannya saja.
Merasakan sakit yang teramat di bagian punggungnya membuat Helios menyusutkan tubuhnya ke belakang. Ya, meskipun ia tahu tidak akan ada gunanya.
"Bagaimana? Sakit bukan?" tanya Zeus dengan seringaian tipis di wajahnya. Kemudian, ia menggerakkan tangannya dan ikat pinggang kembali meluncur di tubuh Helios.
"Ssssttt!" Wanita itu hanya bisa mendesis sambil menggigit bibirnya. Ia berusaha menahan teriakannya agar tidak keluar. Lihat saja, bibirnya sudah mulai mengeluarkan darah karena gigitannya yang terlalu keras.
"Kenapa kau diam saja? Apa masih kurang?" tanya Zeus tidak suka. Lalu, ia membuat luka lagi di punggung Helios menggunakan ikat pinggangnya.
Yang ia inginkan adalah Helios yang berteriak kesakitan, menangis, dan memohon ampun. Namun sayangnya, wanita itu justru diam dan hanya meringkuk memeluk lututnya.
"Kau? Beraninya kau diam saja di saat aku bertanya," geram Zeus.
Pria itu naik ke atas tempat tidur dan langsung merobek baju Helios dengan mudah. Sudut bibirnya kembali naik ke atas melihat Helios meringis kesakitan sekaligus ketakutan berusaha mempertahankan pakaiannya. Setelah itu, Zeus merobek pakaian lainnya yang tersisa hingga tak tersisa sehelai benang pun.