Bab 1

"S-saya terima nikah d-an kawinnya Uswatun Khasanah binti Sulaiman d-engan mas kawin tersebut d-dibayar tunai." Aku melihat beberapa orang menggeleng pelan. 

"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu. 

"Coba diulangi lagi. Tolong lebih lancar pengucapannya," jawab salah satu saksi yang duduk di belakang penghulu. Sementara saksi lainnya tampak mengiyakan. 

Down. Mentalku benar-benar jatuh. Perkataan salah satu saksi itu semakin membuatku tak percaya diri. Rupanya, datang ke pesta pernikahan sahabatku bukanlah pilihan yang baik. Aku yang awalnya hanya berniat datang sebagai tamu undangan, kini jisyru harus duduk menghadap menghulu. 

Menikah merupakan suatu hal yang selama ini aku idam-idamkan. Apalagi, bapak dan emak sudah sering menanyakan kapan aku pulang dan membawa calon istri. Namun, bila dalam keadaan terdesak seperti ini, rasa hikmat dan kebahagiaan bahkan lenyap oleh banyak pertanyaan yang timbul. Aku pun merasa heran, mengapa aku mau menggantikan Ilham untuk duduk sebagai mempelai pria. 

Perlahan, aku meraih kertas kecil bertuliskan kalimat ijab kabul yang sengaja ditulis oleh Bang Adam. Tangan yang berkeringat serta bergetar hebat kini kurasakan. Cucuran keringat pun menghiasi kening hingga jatuh satu persatu membasahi pipi dan wajahku. Entahlah, apa ini suatu keberuntungan atau kemalangan untukku. 

Setelah beberapa menit mengatur napas dan mencoba kembali membaca ijab kabul, akhirnya aku bisa menyelesaikannya dengan lancar tanpa harus mengulang kembali. 

Pengantin wanita akhirnya datang dan bersanding denganku. Rasanya, seperti mimpi. Aku bingung harus bahagia atau sedih. Melihat cantiknya Uswa dengan berbalut hijab putih serta riasan yang menarik, tapi sederhana, ada kebahagiaan terselip di hatiku. Namun, bila teringat mengapa aku bisa duduk di sini dan menjadi pempelai pengganti, ada rasa perih beradu di relung hati ini. 

_____

Rasa gerogi dengan jantung yang berdetak cepat, membuat kesadaranku belum utuh sepenuhnya. Sembari menatap gadis di samping yang sudah sah menjadi istriku, kucoba mengingat-ingat kejadian sebelum bisa duduk di pelaminan ini. Sore itu selepas pulang bekerja, aku menemukan sepucuk surat beramplop biru muda tergeletak di bawah pintu. 

Sebelum memutar kunci, kuraih kertas amplop itu dan membawanya masuk. Aku meletakkan benda itu di atas meja sementara aku mengambil air di dapur. Perlahan, kubuka isi amplop setelah segelas air putih melewati kerongkongan. Aku membacanya saksama sambil melepas dasi dan kancing baju atas. 

Cukup terkejut aku dibuatnya. Seuntai senyum lantas menghiasi wajahku. Ternyata amplop berwarna biru muda ini berisi undangan pernikahan Ilham, sahabatku saat masa sekolah dulu. Mataku tertuju pada nama calon mempelai wanita. Uswatun Khasanah. Ia adalah teman dekatku pada saat kami masih sekolah di MAN dulu. Entah kenapa, dia menjauh dan mulai dekat dengan Ilham, sahabatku. Ternyata mereka masih menjalin hubungan hingga kini akan lanjut ke jenjang pernikahan. 

_____

Hal yang tak terduga tiba-tiba terjadi saat aku datang ke kediaman mempelai wanita. Ilham dikabarkan tak sadarkan diri dan koma di rumah sakit. Ia jatuh pingsan sesaat sebelum bersiap datang ke sini. 

Keadaan sempat ricuh. Seluruh keluarga kebingungan mendengar kabar ini. Beberapa diantaranya bahkan menangis histeris termasuk ibu mempelai wanita. Aku yang baru saja keluar dari toilet merasa terkejut saat lelaki yang tak asing berdiri di depan pintu. 

"Zul, lu mau gak nikah ama Uswa?" tanyanya. Terkejut bukan kepalang aku dibuatnya. Dalam hati langsung bertanya, kenapa harus aku? 

"Maksud lu, apa, Bang?" Tentu saja aku bertanya balik padanya. Mungkin saja telingaku ini kemasukan kotoran hingga salah mendengar. Tanpa menjawab, kakak kandung Uswa ini lantas meraih lenganku dan berjalaj menyusuri rumah. 

Berpuluh langkah kami susuri ruangan demi ruangan, sampailah kami di sebuah kamar. Semerbak bau wangi sudah tercium meski hanya di luar saja. Perlahan, Bang Adam membuka pintu kamar. Tampak di dalam ada seorang gadis tengah memegang tangan lelaki paruh baya yang tergeletak di atas ranjang. Hatiku mulai tak karuan. Kesedihan begitu terasa di sini. Gadis berhijab abu-abu itu menangis terisak.

"Abah gue kena serangan jantung, Zul. Beliau gak kuat denger berita ini," jelas Bang Adam. 

Seketika itu juga, aku teringat bapak di kampung. Umur Abah Sulaiman dan bapak tak berbeda jauh. Terlebih, aku sempat dekat dengan keluarga ini saat masa sekolah dulu. Rasa kekeluargaan masih kental terasa. Tiba-tiba saja, mataku ikut berembun. Tak tega rasanya melihat sosok bapak tergeletak lemah di atas ranjang. 

"Us, kamu tahu kalau Ilham selama ini sakit?" tanya Bang Adam saat kami bertiga sudah beranjak ke kamar pengantin. 

Uswa hanya diam dan tertunduk. Bahunya kadang bergetar tanda bahwa ia masih terisak. Hatiku semakin tak karuan rasanya. Di sini, aku bukan siapa-siapa, tapi seolah-olah aku ikut merasakan masalah yang mereka hadapi. 

"Jawab, Us." Nada bicara Bang Adam mulai meninggi.

"Aku tahu, Bang." Sesekali ia usap air mata yang membanjiri wajah ayunya. 

"Kamu dan Ilham sama-sama egois. Bertahun-tahun kalian dekat, gak ada sama sekali kalian cerita soal penyakit Ilham." Bang Adam mengusap kening dengan kedua telapak tangan. Ia juga tampak menahan kekesalan yang tengah melanda. 

Semakin Bang Adam berbicara, tangis Uswa semakin menjadi. Hal ini membuatku tak betah berlama-lama di kamar itu. Segera kulangkahkan kaki keluar kamar disusul Bang Adam. 

Dalam keadaan seperti ini, Bang Adam terus meyakinkanku untuk mau menggantikan Ilham dan mencegah batalnya acara pernikahan hari ini. Semakin kalut aku dibuatnya. Meski bukan aku yang mengalami langsung kejadian tak menyenangkan ini, nyatanya aku juga ikut terkena imbasnya. 

Melihat ayah dan anak gadis itu sungguh kasihan, namun, dalam hal ini aku harus merelakan diriku berkoban. Mengambil keputusan ini bukanlah perkara mudah. Selain ketidaksiapan, keadaan, dan waktu yang sedemikian sempit membuat kepala dan hatiku sama sekali tak bersatu. Selain itu, tamu yang berdatangan, menuntut diri ini harus cepat mengambil tindakan. Hingga otak ini sampai pada puncaknya, aku memutuskan untuk pergi ke toilet dan membasuh wajah. Berwudhu kemudian salat dua rakaat di musholah rumah. Dalam titik terendah ini aku berharap Yang Maha Kuasa segera memberiku jawaban atas keputusan apa yang harus aku ambil. 

Kutatap langit-langit rumah ini dengan saksama. Kulipat sajah perlahan sambil menunggu kemantapan hati sekaligus berdoa agar keputusan yang kuambil tak membawa penyesalan baik untukku dan untuk yang lain. 

Saat beranjak keluar, betapa terkejutnya diriku mendapati beberapa orang tengah berdiri di ambang pintu. Salah satu sosok yang mirip Haji Sulaiman berjalan mendekat dan memelukku. Ia juga menepuk pelan bahu dengan raut wajah penuh harap. 

"Kami sangat bersyukur bila, Nak Zul mau menjadi mempelai pria." Satu dentuman keras begitu terasa di rongga dada. Mungkin memang inilah yang bisa aku lakukan. Semoga saja dengan merelakan hatiku, aku akan mendapatkan hadiah besar di kemudian hari. 

Kubalas dengan senyuman. Tak kusangka, beberapa di antara mereka pun bersorak gembira dan mengucap syukur. 

"Makasih, Zul. Gue yakin lu mau ngelakuin ini. Lu emang baik." Bang Adam menepuk bahu sambil tersenyum bahagia. 

Persiapan pun dilanjutkan, pengantin wanita segera dirias. Bang Adam membawaku ke kamar miliknya. Dia pun mengambil toksedo yang cukup bagus dan memberikannya padaku. Badan kami yang tak begitu jauh berbeda membuat pakaiannya muat di badanku. 

Aku duduk cemas di ruang keluarga. Telapak tanganku berulang kali berkeringat sedangkan Bang Adam masih sibuk menulis sesuatu. 

"Ayo, Mas. Pakai pelembab dulu mukanya biar gak kering." Juru rias menghampiriku. Aku diam sejenak lalu mengikutinya berjalan ke kamar pengantin. 

Aku terperangah ketika melangkahkan kakiku masuk ke kamar. Rupanya Uswa sudah hampir siap. Tampak perias lainnya tengah memakaikan lipstik di bibirnya. Pandanganku sibuk menatap mempelai wanita itu sampai diri ini tak sadar beberapa gadis lain tengah cekikikan. 

"Jangan lupa kedip, Bang Zul," goda seorang gadis. Sontak aku mengalihkan pandangan dengan cepat. Segera aku beranjak keluar sebelum wajahku berubah menjadi stoberi karena malu. 

Aku melirik kembali Uswa, tapi ia sama sekali tak merespon. Jangankan tersenyum, meluhatku saja tidak. Sempat terpikir olehku, apakah sosok Ilham benat-benar tak tergantikan? 

Bersambung.....

Bab 2

Bang Adam sempat terkejut saat ayah Ilham menelepon dan memberitahu keadaan anaknya. Shok dan tak bisa berpikir jernih pada saat itu. Namun, anehnya keinginan Bang Adam untuk membatalkan pernikahan sang adik ditentang oleh ayah Ilham. Ia beralasan bahwa sebelum Ilham jatuh pingsan, ia sempat menulis sebuah pesan lewat secarik kertas di atas meja di kamar Ilham. 

Seakan tau ia tak bisa menghadiri pesta pernikahannya, Ilham menyuruh Bang Adam agar aku menggantikan posisinya. Tentu saja aku terkejut untuk kesekian kalinya. Kenapa harus aku? Kenapa aku? 

Ingin sekali diri ini bertanya ke pada Uswa apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya itu tidak mungkin karna wanita itu terus saja mengurung diri di dalam kamarnya. Hanya dua kali aku melihatnya keluar kamar. Itu pun hanya untuk mengambil air wudhu. 

"Apa Uswa sengaja tak memberitahu penyakit Ilham, Bang?" 

"Jangankan sama Abah dan Umi, orang tua Ilham aja gak tau kalau anaknya sakit." 

"Tapi, Uswa tau?" 

"Itulah yang gue heranin. Gue tau kalau Uswa terima Ilham apa adanya, tapi mereka gak berpikir panjang. Karna sikap mereka, Abah juga jadi korban." 

Ilham memang sahabatku pada saat kami sama-sama sekolah di MAN enam tahun lalu, setelah kami lulus aku putus komunikasi dengannya juga dengan Uswa, tapi yang membuatku heran kenapa harus aku yang dipilih Ilham?  

"Zul. Maafin gue, ya. Gue cuma ngikutin kemauan Ilham. Keadaan Abah juga sempet buat gue gak bisa mikir lagi." 

Apa dikata, nasi sudah menjadi bubur. Aku tetap harus berhati-hati berbincang-bincang dengan orang yang kini jadi abang iparku. Meski dalam hal ini, sebenarnya aku yang menjadi korban utama. 

"Aku gak bisa nyalahin Abang. Siapa yang tau akan jadi kaya gini, kan?" Raut wajah Bang Adam masih jelas terlihat bahwa ia merasa bersalah. Meski aku tak serta merta menyalahkannya. 

"Istirahat, Zul. Gue cape banget." Bang Adam bangkit dan menepuk bahuku perlahan. Ia lantas masuk ke rumah.  Sementara aku masih duduk di teras menikmati dinginnya angin malam. 

Kejadian hari ini masih belum begitu membuatku paham. Bagaimana hal ini bisa terjadi hingga bisa merubah statusku. Sepintas aku membayangkan hal yang lumrah dilakukan pengantin baru, sempat membuatku tersenyum lalu menggelengkan kepala. 

Derit bunyi ponsel sejenak mengejutkanku dan membuyarkan lamunan pengantin baru tak disengaja ini. Tertera tulisan ibu di layar ponsel. Entah sudah berapa kali aku merasa terkejut hari ini. Namun, kali ini aku benar-benar lupa memberitahu orang yang sudah melahirkanku bahwa anak satu-satunya ini sudah melangsungkan pernikahan. 

Aku mengusap layar perlahan dan sedikit menjauhkan layar dari telinga. 

"Zulkifliiiiiiiiiii. Ya Allah, Nak. Emak udah nunggu-nunggu telepon, tapi gak ada." 

Benar saja, ibuku berteriak diseberang telepon. Untunglah aku sudah bersiap siaga menyelamatkan gendang telingaku dari suara melengkingnya. 

"Maafin, Zul, Mak. Zul gak sempet kasih tau Emak." 

"Tega-teganya, kamu lupa sama emak, Zul sampai emak kamu sendiri gak di kasih tau kalau kamu nikah. Jangankan jemput emak sama bapak di kampung. Kasih tau pun enggak." Suara Emak mulai berubah. 

Sejenak aku menggaruk kepala. Cukup bingung juga bagaimana menjelaskan hal ini ke pada Emak. Apa beliau akan paham dengan kejadian ini? 

"Mak, maafin, Zul. Zul nikah juga dadakan, Mak. Bukan seperti yang Mak bayangin." 

"Dadakan? kaya tahu bulat. Apa jangan-jangan anak emak udah ngehamilin orang, huaaa." Emak menangis seketika. Semakin pusing aku dibuatnya.

"Mak, Uswa belum hamil, Mak." 

"Hah, namanya Uswa? Pokoknya emak gak mau tau, kamu harus pulang secepatnya. Emak sakit hati karna kamu gak kasih kabar kalau kamu nikah. Emak mau tau kenapa kamu begitu sama emak."

"Iya, Mak. Zul pasti pulang kalau udah waktunya." 

Runyam. Benar-benar runyam. Ternyata masalah pernikahan ini juga menyangkut keluargaku yang tak tau apa-apa. Aku terus berpikir bagaimana cara menjelaskan semua ini ke pada Emak dan Bapak di kampung. Apa mereka akan mengerti? Apa mereka akan menerima Uswa sebagai menantu? Atau mereka akan berusaha memisahkan kami. 

Segala kemungkinan harus aku hadapi sampai kemungkinan terburuk sekalipun. 

"Zul." Suara lirih memanggil namaku dari arah belakang. 

Aku menoleh cepat dan mendapati Uswa tengah melihatku. Ia berjalan mendekat dengan sebuah selendang melingkar di lengannya. 

Aku cukup bingung harus berkata apa. Untung saja keadaan cukup gelap di sini karna lampu sudah dimatikan sejak acara selesai. Andai saja keadaan terang, mungkin akan tampak jelas kalau wajahku ini bersemu merah karna malu. 

"Kamu kenapa di sini? Di sini dingin." Aku mencoba menatapnya dengan penerangan remang-remang. 

Uswa hanya diam dan duduk di kursi yang semula diduduki abangnya. 

"Maafin aku, Zul. Mungkin memang iya kalau aku egois." 

Uswa yang aku kenal saat sekolah dulu, amat sulit berucap maaf. Sebenarnya, aku juga tak bisa menyalahkannya begitu saja karna ia pasti juga tak akan menyangka hal ini akan terjadi. 

"Kamu gak salah, kok. Andai kata kamu cerita ke Abah dan Umi, yang namanya penyakit, siapa yang tau." Semoga apa yang aku ucapkan tidak menyakitinya. 

Aku kembali menatap Uswa saat ia menghela napas. Sempat aku membuang pandangan ketika ia menatapku. Entah mengapa rasa malu menjalar saat kami duduk berdua di teras. Berulang kali aku menarik napas perlahan untuk menetralisir hatiku. Bayangan masa lalu ketika kami dekat dulu tiba-tiba terpintas begitu saja. Juga kelakuan aneh dan jahilku. Mungkin hal ini yang membuatku sedikit malu padanya. 

"Ilham itu laki-laki yang baik. Tegar dan apa adanya. Dia bahkan gak mau kalau ibunya sampai tau kalau dia sakit." 

Sepertinya Uswa masih berharap pada Ilham. Atau mungkin ia sebenarnya tak mau menjalankan pernikahannya denganku? 

"Ketika Ilham sakit, sekalipun dia gak pernah ngeluh. Semua dia jalani sendirian. Cuma aku yang bisa kasih dia semangat." Suaranya mulai bergetar. 

Tangan ini hendak memegang bahunya, tapi aku urungkan. Mungkin saat ini, Uswa masih terhanyut dengan kesedihannya dan belum melihatku. Melihat kekecewaanku karna ia terus saja memuji Ilham. 

Bersambung...

Bab 3

Melihat kamar pengantin dipenuhi bunga dengan kain berwarna merah muda yang menutupi seluruh dinding rasanya membuat hatiku berdesir. Bermesraan dengan pasangan layaknya pengantin baru lainnya tentu sangat aku dambakan. Namun, hal itu benar-benar harus aku tahan sampai waktunya tiba. 

Melihat Uswa masih saja bersedih hingga ia beranjak tidur, rasanya aku sebagai laki-laki sungguh tidak berguna. Enam tahun fokus bekerja tanpa memiliki tambatan hati membuat diri ini tak tau harus berbuat apa melihat keadaan Uswa. Di sisi lain, aku masih saja berpikir kalau dia sebenarnya tak mengharapkan pernikahan ini dan masih mengharapkan Ilham. Aku juga tak bisa memaksa Uswa menerimaku, atau bisa mencintaiku karna mungkin rasa cintanya ke pada Ilham sungguh besar. 

Aku meraih satu bantal dan merebahkan diri ini di lantai dengan beralaskan ambal yang cukup tebal. Untunglah Bang Adam juga memberiku sebuah sarung. Mungkin ia tau, malam ini masih terlalu cepat buatku dan Uswa untuk berhubungan suci layaknya suami istri pada umumnya. 

Denting jam mewarnai malamku. Nyaris satu jam sekali aku melirik jam yang entah kenapa bunyi detik itu seakan begitu keras terdengar. Rasanya, masih belum percaya kejadian hari ini, bak takdir yang benar-benar tak bisa kuhindari. Aku berandai-andai, bila saja aku tak datang ke sini, apa yang akan terjadi? Bila saja Ilham tak memiliki penyakit itu, pasti saat ini aku sudah terlelap di atas ranjang empukku menikmati waktu istirahat dengan menyenangkan. 

*****

Bunyi lantunan ayat suci terdengar jelas. Aku mencoba menyadarkan diri, namun mata ini terasa begitu sulit untuk terbuka. Mungkin karna belum lama aku bisa terlelap. Tak lama berselang, adzan subuh terdengar bersahut-sahutan dari masjid satu ke masjid yang lain. Perlahan aku beranjak dan memegang kepala yang sedikit terasa berat. 

"Zul. Abah udah nunggu kamu buat salat berjamaah." Uswa berkata di balik pintu dengan memakai mukena. Ia pun langsung pergi begitu saja saat mendapati aku sudah terbangun. 

Tak menunggu lama, aku langsung saja mengambil handuk dan segera mandi. Tak ingin Abah dan yang lainnya menunggu lama, aku pun segera bergabung dengan mereka. Ternyata malu rasanya menjadi orang terakhir yang datang dan membuat keluarga yang lain menunggu. 

"Zul, lu belum keramas?" goda Bang Adam sambil menyenggol perut sampingku dengan sikutnya. Ia juga tertawa kecil saat aku sedikit kesakitan. 

Ah, aku lupa. Tak teringat sedikitpun olehku untuk keramas pagi ini. Semoga saja Abah dan Umi bisa mengerti keadaan kami. 

___

"Zul, Adam. Tinggallah sebentar. Abah mau ngobrol sama kalian." Abah menghadap samping saat kami selesai takzim. Dengan santai dan penuh keramahan, ia memintaku dan Bang Adam untuk tetap tinggal. Sedangkan Uswa dan Umi beranjak pergi dari musolah rumah. 

"Zul, kemarin abah belum sempat ngucapin terima kasih sama kamu." Suaranya tenang dan begitu nyaman terdengar. 

"Abah juga mau minta maaf karna kejadian kemarin, mungkin udah buat kamu terpaksa menggantikan posisi Ilham."

"Tapi, yang perlu kamu tau, Zul. Itu semua adalah murni keinginan Ilham sendiri. Bahkan abah gak tau kalau kamu datang ke sini." 

Aku dan Bang Adam mendengarkan dengan saksama. Sedikit banyak aku paham, mungkin saja Abah tak ingin dipersalahkan karena masalah kemarin. 

"Zul, udah tau, Bah." Bang Adam menjawab. 

"Abah cuma mau meluruskan ini. Abah gak mau, Zul, abah, dan Umi merasa gak enak hati. Benar, Zul?" 

"Iya, Bah." Begitu bersahaja. Tak ada yang berubah sedikitpun dari Abah Sulaiman. Ia masih seperti dulu. Begitu sabar dalam menghadapi masalah. 

"Oh, ya, Adam. Nanti, kamu jenguk Ilham. Sampaikan salam buat Pak Suryo dan Ibu. Bilang juga kalau abah dan Umi tidak enak badan. Jangan lupa doakan Ilham supaya bisa sehat lagi." 

"Adam sendirian, Bah?" 

"Ajak Zul juga kalau kamu takut sendirian." Abah sedikit tersenyum. 

"Ehm. Gak ajak Uswa sekalian, Bah?" tanyaku. 

"Boleh. Ajak saja kalau dia mau." 

Aku mengerutkan kening sesaat. Mana mungkin Uswa tak mau pergi ke rumah sakit melihat keadaan sang pujaan hati. 

*****

"Apa kamu mau ikut ke rumah sakit?" Uswa masih duduk di ranjang dengan memegang alquran kecil di tangannya. Rupanya ia baru saja mengaji karna mukena putih gading itu masih melekat di tubuhnya.  

Ia menggeleng perlahan. 

"Kamu gak ikut?" tanyaku lagi. Aku duduk di samping Uswa dan berusaha mengetahui apa aku salah melihat. 

Wanita manis ini menarik napas. "Aku gak mau berlarut-larut dalam kesedihan, Zul. Mungkin aja, ini yang terbaik buatku dan Ilham. Walaupun sampai sekarang aku gak ngerti kenapa Ilham milih kamu buat gantiin dia." Uswa menunduk. Jemari lentik itu mengusap-usap alquran yang ia genggam. Tidak sengaja aku melihat setetes air jatuh di atas kitab suci itu. 

"Aku mau belajar ikhlas kalau Ilham mungkin aja bakal pergi, Zul." Uswa tiba-tiba saja menyandarkan kepalanya di bahuku sambil terisak. 

Terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Ingin sekali aku mengusap kepala wanitaku ini, tapi apa daya tanganku pun bergetar hebat. Aku membuang pandangan seketika dan berulang kali menarik napas agar Uswa tak menyadari kalau sebenarnya aku berusaha menetralisir jantung yang berdentum tak karuan ini.

"Uswa, kamu ikut abang, gak?" Terdengar Bang Adam datang dan langsung membuka pintu kamar. Ia pun melihat ke arah kami. 

Aku tergagap saat menyadari Bang Adam datang begitu saja. Belum sempat aku berucap, laki-laki berkumis tipis itu kembali menutup pintu. 

"Maaf, aku lupa." Ia kembali menutup pintu dengan cepat. 

Apa maksudnya? Bisa-bisanya ia berkata lupa. Aku dan Uswa juga tak melakukan apa-apa. 

"Aku kirim salam aja buat Bu Salamah." 

"Oke." 

Setelah memakai baju yang diberikan Bang Adam, tak lupa aku merapikan rambut dan mengambil sepatu. Kubuka pintu kamar perlahan. 

"Zul." 

Aku berhenti sejenak saat Uswa memanggil. "Hem." Aku menoleh dan melihatnya. 

"Hati-hati, ya." 

Kali ini aku tak bisa menahan senyum sambil menjawab, "Ya." 

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED