Bab 1

"Di, kamu ngapain disini?" Kaget Denisa.

Tanpa kata, Dion langsung memeluk tubuh indah Denisa, "I Miss You," bisiknya.

Tubuh Denisa menegang, jauh di lubuk hatinya dia juga merindukan lelaki yang ada di hadapannya ini.

"Di, kamu jangan gila," ujar Denisa.

"Aku memang gila sayang, gila karenamu," sahut Dion.

"Lalu, kenapa mesti Ziva?" Tanya Denisa.

"Karena dengan menikahi putrimu, aku bisa dekat denganmu," ujar Dion.

"Tapi Di, kasihan Ziva kalau begitu," sanggahnya.

"Lalu, apa kamu mau menceraikan Zico dan menikah denganku?" Tanya Dion.

"Ya nggak begitu juga Di," jawab Denisa.

"Lalu bagaimana dong? Apa kamu tahu, aku selalu membayangkan wajahmu jika aku bermain dengan wanita lain," ujar Dion seraya menyentuh titik sensitif Denisa.

"Ahhh, Di … hentikan."

Dion yang sudah hafal dengan lekuk tubuh Denisa, terus menerus menyerang Denisa hingga wanita itu terus mengerang hingga suara mereka terdengar dari luar.

Dion dan Denisa dulunya adalah sepasang kekasih. Mereka terpaksa berpisah karena Denisa dijodohkan oleh Zico.

Hubungan mereka sudah jauh, mereka bahkan sering melakukan hubungan badan saat mereka berpacaran dulu. Dan Dionlah, lelaki yang pertama kali menyentuh Denisa.

"Di, please jangan lakukan ini," tolak Denisa seraya menutup matanya menikmati sentuhan Dion.

"Mulutmu berkata tidak, tapi tubuhmu bereaksi lain sayang, short time, please," iba Dion.

Denisa yang sudah terbakar gai*ah tak bisa lagi mengelak. Wanita itu akhirnya takhluk juga pada pesona Dion. Mereka meluapkan kerinduan yang selama ini membelenggu keduanya.

"Terima kasih sayang, kamu masih saja hebat seperti dulu," puji Dion.

Denisa hanya bisa tersenyum malu. Dion yang gemas dengan sikap Denisa membuatnya ingin kembali melakukannya. Dion kembali mencium Denisa dengan brutal. Namun sayang, kegiatan mereka terpaksa berhenti karena mendengar teriakan dari luar.

"Mama, Mama sama siapa di dalam?" teriak Ziva.

"Di, Ziva Di," ujar Denisa panik.

"Tenang sayang, jangan panik. Rapikan dulu pakaianmu, baru kamu keluar. Aku akan bersembunyi di dalam," kata Dion.

Denisa mengangguk, setelah merapikan pakaiannya, wanita itu pun keluar dari sana.

"Sayang, kamu mau ke toilet?" tanya Denisa.

"Tidak Ma, hanya cuci tangan saja. Ohh iya, tadi Ziva dengar suara Mama berteriak deh. Apa ada sesuatu?" tanya Ziva seraya melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi.

"Tidak, tadi hanya ada kecoak saja," alasan Denisa.

"Ayo kita kembali," ajak Denisa.

Ziva dan Denisa pun kembali ke dalam restoran. Zico sang suami tengah mengadakan pertemuan bisnis dengan Dion sekaligus menjodohkan Dion dengan Ziva.

"Kenapa lama sayang?" tanya Zico.

"Iya, tadi sakit perut," jawab Denisa asal.

"Jadi, kapan saya bisa menikahi putri Anda Tuan?" tanya Dion yang baru saja tiba.

"Terserah Anda Tuan, atur saja bagaimana baiknya. Toh, Ziva kuga sudah setuju dengan perjodohan ini. Iya kan sayang?" Zico kembali memastikannya.

"Iya Pa," jawab Ziva tertunduk malu.

Meski usia Dion sudah matang, tapi wajahnya sangat menawan. Garis wajahnya terlihat tegas, apalagi hidungnya yang kayak perosotan. Serta bibirnya yang tipis dan seksi membuat semua orang yang melihatnya ingin menciumnya. Tubuhnya yang atletis, ditambah bulu bulu di tangannya yang banyak membuat dia terlihat seksi.

Setelah berbasa basi, akhirnya Dion menandatangani proposal kerjasama mereka. Dion dan Zico saling berjabat tangan sebagai simbol kerjasama mereka.

Makanan pun dihidangkan, sembari memasukkan makanan ke mulutnya, pandangan Dion tak lepas dari wajah Denisa, membuat wanita itu tersipu malu.

Keesokannya, Dion yang merindukan mantan kekasihnya segera menelepon Denisa.

"Datang ke hotel X sekarang, aku menginginkanmu sayang," titah Dion.

"Kamu jangan gila Di, suamiku ada di rumah. Dia bahkan sedang sakit saat ini, mana mungkin aku meninggalkannya," protes Denisa saat Dion meneleponnya.

"Aku tidak mau tahu sayang, datang sekarang, atau aku akan ke rumahmu membawa penghulu supaya aku bisa tidur denganmu malam ini," ancam Dion.

"Terserahlah," kesal Denisa lalu menutup panggilannya.

Denisa lalu kembali ke kamarnya. Dia melihat sang suami sudah tertidur. Denisa lalu memegang dahi suaminya, masih hangat. Dia lalu mengambil air dalam baskom lalu mengompres kepala Zico. Tak lama, pintu kamarnya diketuk oleh ART nya.

Ya Bi," sahutnya.

"Nyonya, di bawah ada beberapa orang yang mencari Tuan dan Nyonya," ujar Bibi.

"Bilang, Tuan lagi sakit dan tidak menerima tamu," sahut Denisa.

"Maaf Nyonya, mereka memaksa, jika Nyonya tidak turun, mereka bilang akan mengobrak abrik rumah ini," kata Bibi ketakutan.

Denisa lalu mengambil bathrobenya kemudian turun ke bawah, dia ingin memarahi tamu yang tidak tahu diri itu.

Sampai di bawah, Denisa kaget melihat kedatangan Dion dengan banyak orang.

"Mau apa kamu kesini?" Ketus Denisa.

"Bukankah sudah aku katakan di telepon tadi, atau, perlu aku ulangi di hadapan semua orang," tekan Dion.

Denisa menghela nafas panjang. "Lalu?"

"Panggil suamimu, dan nikahkan aku dengan putrimu," ujar Dion.

"Suamiku sedang sakit, besok saja kalian kembali kesini," ujar Denisa.

"Sekarang, atau aku akan membangunkan suamimu sendiri, yang tentunya dengan cara yang pasti tidak kamu inginkan," tegasnya.

Denisa akhirnya terpaksa masuk ke dalam dan membangunkan suaminya karena takut akan ancaman Dion.

"Pa, bangun, itu dibawah ada Dion," ujar Denisa.

"Dion?" Tanya Zico tak percaya. "Mau apa dia kemari?"

Denisa hanya mengedikkan bahunya. Setelah berganti pakaian, Zico lalu keluar dari kamarnya. Dia kaget saat melihat Dion ada di ruang tamunya dengan membawa banyak orang.

"Ada apa ini Tuan Dion?" Tanyanya.

"Nikahkan aku dengan putrimu sekarang juga atau aku akan menarik semua investasiku di perusahaanmu," ancam Dion.

Zico menghembuskan nafas kasar. Sungguh, dia tidak ingin berada di situasi seperti ini.

"Baiklah Tuan, Anda tunggu disini sebentar, saya akan memanggil putri saya," sahut Zico.

Lelaki itu pun mendatangi kamar sang putri bersama sang istri. Zico duduk di samping Ziva. "Sayang," ujar Zico seraya mengusap rambut putrinya.

"Ya Pa," sahutnya.

"Kamu masih ingat dengan lelaki yang kita temui di restoran Jepang kemarin?" Tanya Zico.

Ziva pun mengangguk. "Kenapa memangnya Pa?" Tanyanya.

"Dia ingin menikahimu sekarang sayang," jawab Zico sedikit kikuk, takut sang putri menolaknya.

Meski dia menyetujui perjodohan ini, bukan berarti Zico bisa bertindak semena-mena pada sang putri.

Ziva tersenyum, kali ini, tidak ada salahnya dia membantu Papanya. Dia tidak mau Papanya kesusahan akibat batalnya kerjasama ini. "Ziva mau Pa," ujarnya.

"Terima kasih sayang," balas Zico. "Sekarang kamu turun untuk bersiap siap."

Ziva sudah di make up oleh perias yang dibawa oleh Dion. Begitu juga Denisa. Kedua wanita itu keluar bersamaan. Dion memandang takjub sang mantan kekasih yang terlihat cantik malam ini.

Penghulu sudah berada di hadapan Dion, lelaki itu mengucapkan kalimat sakral itu dengan lantang dengan satu tarikan nafas. Hingga kata 'Sah' terucap dari para saksi. Ziva lalu mencium tangan suaminya, dan Dion pun mencium pucuk kepala sang istri.

Usai berfoto, mereka semua meninggalkan rumah mewah itu. Dion pun segera membawa Ziva ke kamar untuk melampiaskan hasratnya. Namun, belum juga Dion memulainya, Ziva sudah menahan bibirnya.

"Maaf Kak, Ziva sedang datang bulan saat ini," ujar Ziva sambil menundukkan kepalanya.

Dion mendengus kesal. "Tidurlah, aku akan keluar sebentar," ujarnya.

"Maaf Kak," lirih Ziva.

"Tidak apa, ini bukan salahmu, aku akan merokok sebentar di luar," kata Dion.

Dion lalu mencari Denisa. "Kemana dia? Dia harus bertanggung jawab karena telah membuatku begini," gumamnya.

Pucuk dicita ulam pun tiba. Dion melihat Ziva sedang membuat minuman di dapur. Dion lalu mengunci ruangan itu.

"Di, kamu mengagetkanku saja," ketus Denisa.

Dion pun memeluk tubuh wanita itu dari belakang. "Aku merindukanmu," bisiknya tepat di telinga Denisa.

"Di, jangan gila, gimana kalau terdengar dari luar," elak Denisa.

"Tidak, semua orang sedang tidur," ujar Dion. Lelaki itu pun menyerang mantan kekasihnya dengan brutal. Hingga akhirnya, suara desahan pun terdengar dari luar.

Ziva yang haus, ingin mengambil air minum di dapur. Dia bingung saat tak bisa membuka pintu dapur. Ziva pun menempelkan telinganya di pintu itu.

"Astaghfirullah, siapa yang sedang bermain di dapur?"

Bab 2

"Kakak darimana? Apa dari dapur?" Tanya Ziva curiga.

"Tidak, aku dari taman tadi cari angin sebentar," bohong Dion.

Ziva pun menelisik bau badan suaminya,kalau memang benar suaminya ini merokok, tentulah baju dan tubuhnya pasti bau asap.

"Tidak jadi merokok?" Ziva masih tidak percaya dengan ucapan sang suami.

"Tidak," ujar Dion singkat.

Ziva menghela nafas kasar, dia jelas mendengar suara desahan dari dapur, sewaktu ingin membuka pintunya ternyata dikunci. Tidak mungkin kan kalau Bibi melakukan itu. Ziva sedikit curiga pada suaminya, tapi dengan siapa Dion melakukannya? Sementara, dia tidak memiliki bukti untuk menuduh suaminya.

Dion lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, tubuhnya sedikit lelah setelah tenaganya dikuras habis oleh Denisa tadi. Dion bahkan tidur sambil membayangkan wajah Denisa.

Keesokannya, Dion terbangun. Dia melihat Ziva sudah tidak ada di sampingnya. Lelaki tampan itu pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia lalu turun ke meja makan untuk sarapan.

"Pagi sayang," sapanya seraya mencium pucuk kepala sang istri, tapi tatapan mata dan senyumnya mengarah pada Denisa membuat wanita itu tersipu malu.

"Pagi Ma, Pa," sapanya lalu duduk di samping istrinya.

Dion tersenyum bahagia saat melihat makanan kesukaannya ada di meja. "Terima kasih Ma, sudah membuatkan aku makanan ini," ujar Dion seraya mengedipkan sebelah matanya pada Denisa.

Denisa hanya tersenyum mengangguk. Ziva dan Zico saling pandang, kenapa Denisa dan Dion seolah saling kenal.

"Mama tahu darimana makanan kesukaan Kak Dion?" Tanya Ziva curiga.

"Perlu kalian ketahui, suamimu dan Mama adalah tetangga sebelah rumah, bahkan kami sangat dekat. Dia selalu membantu Mama jika Mama kesusahan, begitu pula sebaliknya," cerita Denisa.

"Pantas kalian begitu akrab," kata Zico.

"Tidak perlu cemburu gitu sayang, Mama kamu dan aku adalah sahabat dulunya," kata Dion.

"Apa sih Kak, siapa juga yang cemburu?" Elak Ziva.

Selesai sarapan, Dion mengantar sang istri pergi ke kampus, barulah dia pergi ke kantor. Sementara Zico, masih di rumah.

"Papa, masih sakit?" Tanya Denisa seraya memegang kepala sang suami.

"Masih sedikit pusing Ma," jawab Zico.

"Istirahatlah Pa, apa mau Mama kerokin?" Tawar Denisa.

"Boleh Ma," sahut Zico.

Denisa lalu mengambil minyak kayu putih kemudian membalurkan di punggung sang suami lalu mengerokinya. Denisa juga memijat punggung dan kaki Zico hingga membuat tubuh lelaki itu menjadi segar kembali.

"Terima kasih Ma. Mama memang yang terbaik," puji Zico.

"Sama sama Pa, sekarang Papa istirahat saja," kata Denisa.

Zico lalu memejamkan matanya, tak butuh waktu lama lelaki tampan itu sudah berada di alam mimpi. Denisa pun ikut berbaring di samping suaminya.

Siang hari, gawai Zico berdering, ternyata dari asistennya. Zico terpaksa bangun karena dering hapenya yang terus mengganggu tidurnya.

"Ada apa Alex?" Tanya Zico.

"Maaf Tuan, saya mengganggu istirahat Anda, klien dari kota S ingin memajukan meeting besok hari jadi sekarang," kata sang asisten.

"Tidak apa, saya sudah membaik kok, saya akan datang, kirim saja alamat tempat meetingnya," sahut Zico.

"Baik Tuan," ujar sang asisten.

Merasakan ranjangnya bergerak, Denisa membuka matanya. "Mau kemana Pa?" Tanyanya.

"Ada meeting dadakan Ma, dan kemungkinan Papa pulang terlambat," kata Zico.

"Baiklah, akan aku siapkan air hangat dan bajumu," kata Denisa.

Wanita cantik itu pun pergi ke kamar mandi, setelah menyiapkan air hangat, Denisa lalu menyiapkan baju sang suami. Wanita itu bahkan memakaikan baju untuk suaminya. Setelah sang suami pergi, Denisa kembali merebahkan tubuhnya, dia ingin istirahat sejenak sebelum membuat makan malam.

Baru saja dia terlelap, gawainya kembali berdering. Denisa mengira itu adalah sang suami. "Hem, ada apa Pa?" Jawabnya.

"Papa merindukanmu sayang, cepat datang ke kantor Papa sekarang ya," ujar Dion diiringi senyum licik.

Denisa melihat kembali nomornya, "Dion? Ngapain kamu telepon siang siang?" Omel Denisa.

"Haruskah aku ulangi lagi? Datang ke kantor sekarang, sopirku akan menjemputku," titah Dion.

"Tapi Di," Denisa ingin protes, tapi Dion sudah menyelanya, "Tidak ada bantahan Denisa, atau aku cabut investasi yang aku tanamkan di perusahaan suamimu."

Mau tak mau, Denisa akhirnya pergi ke kamar mandi lalu mengambil bajunya. Setelah berganti pakaian, sopir Dion sudah ada di bawah. Denisa pun memasuki mobil mewah itu.

Tak sampai 30 menit, mobil mewah Dion sudah sampai di halaman kantornya. Denisa langsung turun dan naik ke lantai 25. Begitu Denisa masuk ke dalam ruangan Dion, lelaki itu langsung menciumnya dengan brutal. Denisa yang awalnya hanya diam, lama lama terhanyut juga.

Mereka pun kembali melakukannya, Dion tersenyum puas, selama ini, tidak ada yang bisa menghilangkan dahaganya meski dia berulang kali bermain dengan wanita manapun. Hanya Denisa yang bisa membuatnya meledak ledak seperti sekarang ini.

Dion memeluk tubuh Denisa dari belakang kala mereka sudah selesai dengan permainan panasnya. Mereka tengah beristirahat di ruang pribadi Dion. Tiba tiba, gawai Dion berbunyi, tertera nama sang istri disana.

"Ya sayang," jawabnya.

"Kak, kuliahku sudah selesai. Aku ke kantor Kakak, atau Kakak yang jemput aku kesini?" Tanya Ziva.

"Tunggu disana, aku akan menjemputmu," kata Dion.

Bisa bahaya kalau Ziva datang kesini melihat bajunya dan Denisa berceceran di bawah. Dion lalu mencium kening Denisa yang masih terlelap karena kelelahan.

"Aku pergi dulu sayang, makan siang dan juga baju kamu sudah aku siapkan, terima kasih," tulis Dion pada kertas kemudian dia letakkan di samping Denisa.

Zico ternyata sudah sampai di rumah. Meetingnya hanya sebentar, dia mencari cari keberadaan sang istri yang tidak terlihat sejak tadi.

"Kemana dia? Kenapa pergi tidak pamit?" Gumamnya.

"Darimana kamu?" Tanya Zico saat sang istri baru saja tiba di rumah.

"Ehh Papa, kok sudah pulang? Katanya pulang terlambat," ujar Denisa.

"Bukan itu jawaban yang aku inginkan, Denisa. Jawab pertanyaanku tadi!" bentak Zico.

"Hehehe, maaf, tadi aku habis bertemu teman lama. Aku lupa tidak memberitahumu tadi," jawab Denisa kikuk.

"Teman lama? Siapa?" Zico mulai menginterogasi.

"Hehehe, itu sayang, dia teman lamaku, dia baru saja tiba tadi pagi, dan mengajakku berkumpul. Besok kapan-kapan aku kenalin," kilah Denisa.

Wanita itu pun memeluk suaminya, dia harus menjinakkan terlebih dahulu harimau tampannya ini sebelum lelaki ini mengamuk. Denisa memegang kening sang suami.

"Sudah tidak pusing?" Tanyanya.

"Tidak, setelah kamu pijat dan kerok tadi, badanku sudah membaik," jawab Zico.

"Baiklah, duduklah di meja, aku akan membuatkanmu teh jahe untuk menghangatkan tubuhmu," kata Denisa.

Lelaki itu hanya menurut saja, dia masih belum puas dengan jawaban sang istri tadi. Besok saja dia akan mencari tahu sendiri.

Setelah makan malam, Zico mengajak sang istri ke kamar. "Ma, Papa mau mandi, apa Mama tidak ingin mandi juga?" Goda Zico dengan mengedipkan sebelah matanya.

Tak ingin suaminya curiga, Denisa pun tersenyum mengangguk. Mereka pun melakukannya. Kamar mandi yang senyap kini ramai oleh suara des**an keduanya.

Zico menelisik semua bagian tubuh sang istri. Dia mencari, mungkin saja ada satu tanda yang bisa menguatkan dugaannya. Namun ternyata tidak ada. Zico jadi merasa bersalah karena telah menuduh Denisa yang bukan bukan.

Denisa tidur di pelukan sang suami karena lelah, bagaimana tidak, dia harus membuat dua orang lelaki mabuk kepayang di waktu yang berurutan.

Zico turun untuk makan, dia lapar karena tenaganya sudah habis dikuras oleh Denisa tadi. Dia melihat sang putri dan juga menantunya sedang bersenda gurau di meja makan.

"Loh Pa, Mama mana? Kok turun sendiri?" Tanya Ziva.

"Mamamu tertidur karena kelelahan," jawab Zico.

"Memangnya Mama habis ngapain kok kelelahan?" Tanya Ziva dengan lugunya.

"Tadi habis main dari rumah temennya, makanya dia kelelahan," jawab Zico sekenanya.

"Tumben Mama keluar, biasanya ngurung aja di rumah," kata Ziva.

"Iya, temennya baru datang dari luar kota, makanya mereka ketemuan," sahut Zico.

Dion tersenyum mendengar ucapan Papa mertuanya, ternyata mantan kekasihnya ini pandai juga berbohong. Sepertinya, ini akan semakin menarik. Memiliki 2 wanita cantik di waktu yang bersamaan. Mereka pun makan malam bersama.

Selesai makan, Zico membawakan Denisa makan malam. Dia tidak ingin sang istri sampai sakit gara gara terlambat makan.

"Sayang, makan dulu, setelah itu baru tidur lagi," ujar Zico.

"Ngantuk Pa," sahut Denisa.

"Ayo duduk dulu, biar aku suapi, setelah itu kamu boleh tidur kembali," titah Zico.

Denisa pun bangkit, dia duduk dengan mata terpejam. "Aakk."

Zico tersenyum melihat kelakuan istrinya. Dia lalu menyuapi sang istri hingga makanan di piring itu habis.

"Pa, Mama ngantuk, jangan ganggu Mama lagi," pintanya.

"Iya sayang," sahut Zico.

Zico menaruh piring itu di nakas. Setelah cuci muka dan menggosok gigi, Zico berbaring di samping sang istri. Dia memeluk tubuh indah Denisa dari belakang, lelaki itu menciumi bahu sang istri. "Kamu lelah ya, maaf," bisiknya.

Zico merapatkan pelukannya, namun saat akan memejamkan mata, dia melihat bekas kissmark di belakang telinga Denisa. Seperti masih baru. Zico mulai mengingat ingat kembali kegiatannya di kamar mandi tadi.

"Apakah ini ulahku, seingatku aku tidak melakukannya? Tapi, kenapa ada tanda disini? Apa Denisa habis bermain dengan lelaki lain sebelum aku. Siapa laki laki itu?"

Bab 3

"Ma, aku berangkat dulu ya, pagi ini aku ada meeting penting," pamit Zico seraya mencium pucuk kepala istrinya.

"Sayang, tidak sarapan dulu?" Ziva balik bertanya.

"Tidak, aku buru buru, bye," teriaknya dari parkiran mobil.

Pagi ini, Zico ingin menemui temannya yang ahli di bidang IT. Dia ingin mengetahui kemana perginya Denisa kemarin. Bukannya dia tidak mempercayai Denisa hanya saja, dia ingin memastikan dugaannya.

Melihat Papa mertuanya sudah pergi, Dion pun tersenyum licik. Apalagi istrinya sudah diantar oleh sopir tadi. Dia akan memanfaatkan momen ini untuk kembali merengkuh nirwana bersama Mama Mertuanya yang cantik dan seksi itu.

Dion lalu duduk di samping Denisa. Melihat kedatangan sang menantu, Denisa hanya meliriknya saja.

"Sarapan Di?" tanyanya.

"Tentu, pagi ini aku ingin sarapan spesial," ujar Dion penuh makna.

"Ya sudah kamu makan, aku mau ke kamar dulu," kata Denisa.

Dion mengikuti Denisa hingga ke kamarnya. Lelaki itu pun kemudian mengunci pintu kamarnya.

"Di, kamu ngapain disini?" tanya Denisa.

"Tentu saja bersenang senang dengan Mama mertuaku yang selalu membuatku tergila gila," kata Dion.

Lelaki itu kemudian mencium bibir Denisa dengan brutal. Denisa yang sudah berkabut gairah pun membalasnya. 

Perang barata yuda akhirnya terjadi antara Denisa dan juga Dion. Suara mereka bahkan terdengar nyaring sampai ke pavilion belakang. Bibi yang sudah biasa mendengar hal itu, mengira sang majikan sedang bermain bersama tuannya.

"Aish, Nyonya ini, sudah tua juga masih saja doyan begituan. Kayaknya dengerin lagu dangdut enak nih," gumam Bibi seraya menutup telinganya dengan headset.

Sesampainya di rumah sang sahabat, Zico langsung menceritakan masalahnya. Akmal, sahabat Zico sampai geleng geleng kepala melihat Zico yang over posesif pada istrinya.

"Ya sudah, gue lihat dulu, apa benar yang kamu pikirkan itu," kata Akmal.

Dia lalu mengambil laptopnya dan mulai melacak kepergian Denisa melalui CCTV jalan raya. Dia mulai mengamati dari awal Denisa masuk ke dalam mobil hingga mobil itu berhenti.

"Co, mobil itu berhenti di perusahaan D&D, dan istrimu masuk ke dalam sana," ujar Akmal.

"Mau apa dia kesana?" gumam Zico.

Akmal mengedikkan bahunya. "Mungkin, temannya bekerja di perusahaan itu," jawab Akmal sekenanya.

"D&D itu perusahaan menantuku," celetuk Zico.

"Ya mungkin, dia mengunjungi menantumu," sahut Akmal.

"Denisa bukan orang sekepo itu hingga harus menyambangi kantor menantuku di siang bolong," kata Zico.

"Ya udah, kita lihat saja, berapa lama dia disana?" ujar Akmal.

Tak lama kemudian, Zico melihat Dion keluar dari kantornya mengendarai mobilnya sendiri, sementara satu jam kemudian, barulah Denisa keluar dan pergi diantar sopir Dion.

"Tunggu, coba replay saat Denisa masuk ke dalam perusahaan," titah Zico.

Akmal pun memundurkan rekaman itu. Mereka mengamati lebih detail setiap gerakan yang terlihat di layar.

"Putar lagi saat Denisa keluar dari kantor Dion," titah Zico.

Rekaman pun diputar saat Denisa baru saja keluar dari kantor Dion. Keduanya saling pandang.

"Kamu melihat perbedaannya?" tanya Zico.

"Dia memakai baju yang berbeda saat keluar dari gedung itu," jawab Akmal yang diangguki oleh Zico.

"Apa kamu berpikir seperti yang ada di benakku?" tanya Akmal.

Sementara itu, Ziva baru saja sampai di kampus. Sebelum turun, dia mengobrak abrik tasnya guna mencari tugas yang harus dia kumpulkan pagi ini.

"Kemana buku itu? Mampus aku kalau sampai hilang, bisa bisa aku dihukum oleh Mr. Killer. Apa mungkin tertinggal di rumah?" gumam Ziva.

Ziva melirik jam tangannya, masih ada waktu 1 jam sebelum kuliah dimulai. "Pak, kita kembali ke rumah ya, ada tugas yang tertinggal," pinta Ziva pada sopir Dion.

"Baik Non," sahut sang sopir.

"Pak, kalau bisa lewat jalan tikus ya, soalnya nggak keburu nanti," kata Ziva.

Sopir itu pun mengangguk, kemudian melajukan mobilnya sedikit kencang. Untung saja dia hafal jalan tikus di sekitar kampus majikannya. 

Dalam waktu 20 menit, mobil sudah terparkir di halaman. Wanita itu segera masuk ke dalam dan mengambil bukunya.

Saat dia turun dari tangga, wanita itu pun menuju ke dapur karena ingin mengambil air minum. Dia melihat sang ART tengah berjoget sambil mendengarkan lagi dangdut.

"Kenapa setel musik kenceng-kenceng? Apa tidak tuli itu telinga?" tanya Ziva seraya mematikan radio ARTnya.

"Hehehe, itu Non, menghindari suara aneh," jawab Bibi.

"Suara aneh bagaimana?" tanya Ziva bingung.

"Coba Non dengar baik-baik. Sepertinya, Nyonya lupa kalau di rumah ini, masih ada saya," ujar Bibi.

Ziva menajamkan telinganya. Benar saja, terdengar suara desahan sang Mama yang mengalun indah. Wanita itu sampai menggelengkan kepalanya mendengar kegilaaan sang Mama saat bercinta.

"Ya sudah, kamu terusin kerjaanmu. Ziva berangkat dulu," ujarnya setelah meneguk habis air minum dalam gelas tadi.

"Hati-hati Non, jangan lewat depan kamar Nyonya, nanti Non jadi kepengen," teriak Bibi berniat menggoda Ziva.

Gadis itu ternyata kepo juga, dia malah sengaja lewat di depan kamar Mamanya. Dia sedikit canggung saat mendengar suara desahan sang Mama yang begitu kencang.

"Ya Tuhan, Papa dan Mama ini, apa tidak malu. Mama lagi, suaranya kenceng banget, aku aja yang denger rasanya panas dingin," gumam Ziva.

Gadis itu malah menempelkan telinganya pada kamar sang Mama. Dia berusaha menajamkan telinganya, supaya dapat mendengar dengan jelas.

"Ahh sayang, kamu memang hebat. Sudah lama aku tidak pernah mendapat kepuasan seperti ini. Lebih cepat Sayang, aku mau sampai," racau Denisa.

"Tunggu sayang, aku belum, bertahanlah sebentar …."

"Di, aku sudah tidak tahan."

"Baiklah, kita bersama," racau Zidan.

Tubuh Ziva menegang mendengar kalimat terakhir yang diucapkan sang Mama.

"Di? Siapa lelaki yang disebut Di oleh sang Mama? Papanya bernama Zico Wirawan, tidak ada nama Di. Apa Mamanya berselingkuh dengan lelaki lain? Atau … itu adalah panggilan sayang Mamanya untuk sang Papa," batin Ziva.

Ziva harus memastikannya. Siapa lelaki yang ada di dalam kamar sang Mama.

"Ma, Mama, bukain pintu, Ziva mau pinjem hairdryer. Punya Ziva rusak," teriaknya.

"Di, Ziva Di, bagaimana ini? Kenapa dia kembali? Bukannya tadi dia sudah berangkat ya? Kamu sembunyi dimana?" Denisa sudah kalang kabut dibuatnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED