Terpaksa Menikahi Duda Lumpuh
Part 1
Senja buru-buru melangkahkan kakinya. Dia tidak boleh terlambat. Ketua rumah sakit memanggilnya secara langsung. Ini agak aneh karena orang dengan jabatan rendah seperti dia jarang berurusan dengan pejabat tinggi rumah sakit. Namun benar, Senja tidak bermimpi. Dia mendapat telepon pukul tiga pagi dan jam enam pagi dia sudah harus sampai di rumah sakit.
Jarak rumahnya dengan rumah sakit tempatnya bekerja sejauh lima belas kilometer. Tidak ada angkutan umum pagi buta seperti itu. Angkutan umum biasanya tersedia pukul tujuh pagi. Akhirnya, Senja terpaksa berangkat dengan sepeda tuanya. Sepeda tua yang menemani masa sekolah menengah atasnya.
Senja terengah-engah berjalan di lorong. Dia bukan hanya lelah karena telah mengayuh sepeda selama satu jam. Senja juga merasa kalau dia hampir saja terlambat. Ini masih pagi yang dingin tapi peluh mengucur deras di pakaian kerja wanita muda itu.
Senja sudah sampai di depan pintu ruangan ketua rumah sakit.
"Masuk!" sebuah suara terdengar setelah ketukan ketiga yang dilakukan senja.
Senja menghadap ketua rumah sakit dengan gugup. Dia mengingat-ingat lagi apakah dirinya ada membuat kesalahan atau semacamnya. Tapi tidak! Senja tahu kalau dia selama ini bekerja sesuai prosedur dan tidak melakukan pelanggaran yang membuatnya harus dipecat.
"Senja Dwi Utami!"
"Saya, Bu," ucap Senja dengan gugup. Ketua rumah sakit menatap lekat di balik kacamata tebalnya. Senja merasa tidak nyaman. Dia merasa seperti akan mendapat masalah besar.
"Dari laporan yang saya baca ... juga laporan teman-teman kamu. Katanya kamu ...."
"Saya janji tidak akan membuat kesalahan apapun lagi, Bu. Tolong, jangan berhentikan saya. Saya mohon." Belum sempat wanita di depannya menyelesaikan kalimatnya, Senja sudah bersujud di lantai.
Bu Mega yang merupakan ketua rumah sakit menyeritkan kening melihat pekerja medisnya bersikap aneh seperti itu.
"Kamu kenapa, Senja?" tanyanya heran.
Senja bangkit dari sujudnya di lantai.
"Ibu mau memecat saya kan?" tanya Senja dengan air mata yang hampir menetes.
"Siapa yang memecat kamu? Makanya kamu dengarkan dulu perkataan saya sampai selesai!" Bu Mega berkata dengan geram. Wanita itu sesungguhnya memiliki kesabaran seluas ember cucian. Kecil.
Senja nyengir. Wanita muda itu merasa lega karena dia tidak dipecat. Tapi, apa tujuan dia dipanggil ke sini?
"Kamu dianggap sebagai tenaga medis yang kompeten. Kamu juga rajin, teliti dan sangat patuh pada prosedur. Jadi kamu akan dipekerjakan secara khusus untuk merawat anak salah satu pengusaha besar yang ada di kota ini."
"Maksud Ibu bagaimana?" tanya Senja yang masih belum mengerti. Perasaan yang tadi gugup sekarang berubah menjadi penasaran.
"Ya, kamu akan dipekerjakan untuk merawat seseorang secara khusus. Artinya, kamu merawat dia full enam belas jam. Hanya dia saja. Uang tambahan, pasti ada. Saya percayakan ini sama kamu. Bisa?"
Mendengar kata uang tambahan, Senja mengangguk dengan sangat bersemangat.
"Tentu saja bisa, Bu. Pasti bisa!" jawab Senja penuh semangat. Tidak hentinya senyum terukir di wajah cantiknya itu.
"Bagus. Kalau begitu kamu pergi ke ruangannya sekarang. Ruang eksklusif A. Kamu pelajari semua yang harus kamu lakukan di buku panduan." Bu Mega mempersilahkan Senja keluar. Senja berlari dengan girang. Dia tidak menyangka akan mendapat pasien semudah ini. Setidaknya selama beberapa hari atau bulan ke depan, Senja tidak akan berurusan dengan pasien cerewet lagi.
Senja masuk ke ruangan eksklusif A. Di sana terbaring seorang pria tampan dengan berbagai selang di tubuhnya. Senja mendekati pria itu. 'Tampan sekali,' bisiknya dalam hati. Tapi tentu saja wajah tampan tidak menjamin keberuntungan seseorang. Buktinya, pria itu terkapar di sini sekarang dengan keadaan koma.
Senja melihat buku prosedur yang diletakkan di sebelah ranjang pria itu. Dia membaca peraturannya. Membersihkan badan, membacakan cerita yang bisa merangsang saraf. Membersihkan badan dua kali sehari. Membacakan cerita tiga kali sehari. Senja sejujurnya ingin tertawa dengan peraturan kedua. Tapi dia paham, pasti ada manfaat dibalik perintah tersebut. Senja juga diharuskan mengecek infus, memeriksa tensi darah secara berkala dan beberapa hal lain yang biasa di kerjakan. Senja melihat jam di tangannya dan dia tahu kalau dia harus memulao semuanya dari tugas pertama. Membersihkan tubuh pasien.
Senja mengambil salah satu handuk basah yang ada di dalam baskom berisi air hangat. Dia memeras handuk itu dan mengelap tubub si pria dengan lembut. Senja takut kalau pria koma itu hanya tidak bisa membuka matanya saja dan dia akan merasa kesakitan.
Senja mengusap lembut wajah pria di depannya. Wajah itu semakin tampan jika basah. Senja bahkan tidak pernah bermimpi akan merawat pria setampan ini. Berdekatan dengannya membuat perasaan Senja berdebar hebat.
"Apakah ini cinta?" gumam Senja pada dirinya sendiri.
"Dasar bodoh. Bagaimana kau bisa jatuh cinta pada seseorang yang bahkan tidak bisa diprediksi apakah dia akan hidup atau mati besok." Senja merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang dia buat. Wanita itu akhirnya kembali melanjutkan tugasnya dengan serius. Senja tidak mau membuat kecewa ketua rumah sakit yang telah menunjuknya langsung untuk menjaga pasien PIV mereka.
Senja membersihkan tangan kekar itu. Dia tidak menyangka kalau tangan kekar lelaki ternyata adalah tangan terseksi yang pernah ada. Senja tidak pernah dekat dengan lelaki sehingga dia tidak pernah menganalisa bagian tubuh mereka dengan insting.
Senja menggosok tangan lelaki itu. Senja merasa kalau dia gemetaran ketika menyentuh pria tampan ini. Senja langsung melakukan kegiatannya seperti tidak terjadi apa-apa. Dia bersikap seolah-olah pria yang sedang dia bersihkan adalah patung.
"Ayolah, Senja. Fokus! Fokus!" Senja menyemangati dirinya sendiri. Dia tidak pernah segugup ini sebelumnya.
Selesai membersihkan tubuh pria ini, Senja kemudian mulai membacakan sebuah cerita. Awalnya, dia tidak bisa mempercayai kalau orang yang sedang koma bisa mendengar jika mereka tidak koma seratus persen. Jadilah Senja membacakan cerita dengan asal-asalan. Dia tidak peduli tentang betapa buruknya dia membacakan sebuah cerita untuk pria koma itu.
"Melelahkan sekali!" Senja melemparkan buku yang baru saja dia baca ke atas meja yang ada di ruamgan pasien. Dia merasa lelah sekali. Senja belum sarapan sejak dia baru bangun dari tidur. Semenjak dapat telepon mendadak dari ketua rumah sakit, senja bahkan tidak sempat minum.
Senja menatap pria di sebelahnya yang masih terbaring kaku tidak sadarkan diri. Kesadarannya ada dalam ensitas lain dan Senja percaya kalau pria itu tidak mungkin mendengar ucapannya. Jadi Senja dengan mudah berkata seeanaknya.
"Aku akan merawat kamu dengan baik. Sampai kamu sadar dan pulih kembali. Aku yakin, kamu akan sembuh, Aksa," lirih Senja yang sambil menatap dalam wajah tampan di depannya. Sepertinya Senja akan kecanduan menatap setiap inci wajah Aksa yang memang sangat tampan. Tanpa Senja sadari, jika sebenarnya dia sudah membuka hati untuk tersakiti.
Terpaksa Menikahi Duda Lumpuh
Part 2
Malam itu hujan turun sangat deras. Aksa mengemudi dengan cepat karena Delisha baru saja mengadu kalau pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya belum selesai. Delisha disuruh membuat video menyanyi bersama ayah bunda. Aksa tahu kalau besok dia akan sangat sibuk, jadi pria itu menyempatkan diri untuk menemani putrinya mengerjakan tugas sekolahnya sebab sang istri sudah mengaku sangat sibuk dan dia tidak memiliki kesempatan untuk menemani sang putri.
“Pelan-pelan, Mas!” ucap Riyanti pada sang suami. Wajah wanita cantik itu terlihat sangat cemas. Namun tiba-tiba dia kembali sibuk dengan ponselnya yang baru saja berdering beberapa saat lalu.
Riyanti memandang sang suami yang sedang menyetir di sebelahnya. Wanita itu sebenarnya sedikit ketakutan jika Aksa tahu kalau di pesta ulang tahun temannya tadi, mantan manajernya yang lama kembali meminta nomornya yang baru.
Riyanti sebenarnya sangat ingin kembali pada profesi lamanya. Namun Aksa melarang dan pria itu tentu saja menjamin nafkah yang jauh lebih banyak daripada yang biasa Riyanti hasilkan. Sebenarnya, Riyanti bisa menghasilkan lebih banyak dari hasil profesi selingan rahasia yang biasa dipakai oleh para selebritis tidak laku yang masih butuh banyak uang dan tidak mau bekerja keras untuk memenuhi kehidupan mereka. Tapi jelas, Riyanti masih bukan artis papan atas atau artis dengan bayaran tertinggi saat Aksa memintanya agar menjadi istrinya. Riyanti masih memasang topeng polosnya di hadapan pengusaha kaya yang mau menjamin hidupnya.
Inilah Riyanti sekarang. Istri yang baik dengan satu anak gadis yang cantik tapi masih sibuk ke sana kemari dengan segala gaya sosialitanya tapi tidak lagi terekspos media.
“Pesan dari siapa, Sayang?” tanya Aksa yang merasa kalau sang istri menyembunyikan sesuatu darinya.
“Teman,” jawab Riyanti. Wanita itu bergegas mengganti nama Bagas menjadi Bunga secepat mungkin.
“Boleh lihat?” tanya Aksa. Bukannya tidak percaya atau terlalu posesif, Aksa hanya merasa kalau Riyanti gugup ketika dia membaca pesan. Begitu melihat pesan yang isinya hanya bercanda dan gossip, Aksa kamudian mengabaikan Riyanti yang kembali berbalas pesan dengan Bagas yang namanya diganti menjadi bunga itu.
Hujan turun semakin lebat. Bahkan sekarang bertambah buruk dengan adanya badai akibat angin kencang. Aksa dilema antara melajukan mobilnya atau melambatkan kecepatan mobilnya. Jika Aksa melajukan mobilnya, maka dia bisa saja menabrak sesuatu di depannya. Atau jika Aksa melambatkan laju mobilnya, dia bisa saja terkena pohon yang roboh. Angin benar-benar kencang. Aksa memutuskan melajukan kecepatan mobilnya. Riyanti masih asik dengan ponselnya. Wanita itu merasa aman saja karena dia memakai sabuk pengaman dan jalanan yang mereka lewati juga merupakan jalan tol.
“Papa jangan terlalu cepat!” Delisha protes.
Aksa menoleh kebelakang sebentar.
“Jangan takut, sayang. Kita akan baik-baik saja,” ucap Aksa mencoba menenangkan ketakutan sang putri.
“Iya, sayang. Tidak usah takut. Papa kamu ini ahli menyetir. Kita tidak mungkin kecelaka ….”
Bugh!
Mobil yang dikemudikan Aksa menabrak sebatang pohon yang langsung tumbang dan mengenai sisi kanan kemudi. Aksa terhimpit antara pohon dan kemudi. Kepala pria itu terjepit. Sementara itu, Riyanti dan Delisha juga terkena benturan keras. Beruntung mereka tidak kenapa-kenapa.
Riyanti yang masih sadar langsung menghubungi polisi terdekat. Wanita itu mengirimkan lokasinya. Selang sepuluh menit menunggu, Ambulance dan Polisi datang ke tempat kejadian perkara. Riyanti dengan mudah diselamatkan. Sementara Delisha pingsan karena kepalanya terbentur kursi pengemudi terlalu keras. Yang memakan waktu lama adalah proses pengeluaran Aksa dari sana.
“Bu, apa yang Ibu rasakan?” tanya salah seorang petugas medis. Riyanti yang masih syok apalagi melihat banyaknya darah yang keluar dari kepala suaminya tidak bisa berkata-kata lagi. Riyanti diberi air minum. Dia menatap putrinya Delisha yang terbaring di atas ranjang dalam ambulance.
“Dia baik-baik saja. Sebaiknya Ibu tidak usah khawatirkan dia. Anak Ibu hanya pingsan biasa. Dalam beberapa jam dia akan sadar. Hanya ada luka kecil di dahinya. Itu tidak akan jadi masalah besar,” ucap petugas medis yang ada di dalam ambulance pada Riyanti. Riyanti hanya mengangguk. Kejadian tadi membuatnya sangat takut. Wanita itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia yang terhimpit oleh pohon dan bagaimana rasa sakitnya.
Riyanti benar-benar wanita egois yang sama sekali tidak pantas untuk Aksa. Lihatlah dari caranya yang merasa beruntung sebab pohon itu menghimpit suaminya. Menunjukkan betapa liciknya wanita itu.
**
“Bagaimana ini?” tanya polisi yang membantu mengeluarkan Aksa dari sana. Satu ambulance sudah menunggu.
“Kita harus berhati-hati. Kepalanya bisa saja sudah retak,” ucap rekannya yang lain. Begitu pohon itu berhasil diangkat sebentar, Aksa langsung dikeluarkan dari sana. Mobilnya di sisi kemudi sudah remuk.
Petugas medis langsung membawa Aksa ke dalam ambulance. Beruntung hal yang mereka takutkan tidak terjadi. Tengkorak kepala dan otak Aksa tidak retak dan remuk seperti yang ditakutkan. Pria itu baik-baik saja. Namun benturan yang teramat keras sudah membuat Aksa dalam keadaan koma. Tubuhnya langsung dipasangi berbagai macam kabel darurat. Aksa terus mengeluarkan darah dibagian telinga.
Ambulance melaju. Hujan sudah reda. Tidak ada lagi bekas badai yang tersisa selain dingin yang memeluk malam.
Aksa ada dalam pintu kehidupan dan kematian. Riyanti yang ada di rumah sakit, begitu melihat suaminya dalam ruangan unit darurat yang sama dengannya, wanita itu langsung saja mendekat. Wanita itu tidak berkata apa-apa lagi. Dia menatap Aksa sambil bertanya-tanya apakah lelakinya sudah mati. Tapi tidak, jika Aksa sudah mati dia pasti tidak ada di sini. Pria itu pasti sudah dibawa dalam unit gawat darurat.
“Aksa!”
Riyanti menoleh ke belakang. Tampak Ibu mertuanya masih dengan pakaian tidur dan mata sembab berlari menangisi sang putra yang terbaring tidak sadarkan diri dengan darah yang terus menetes di telinga.
“Aksa … bangun, nak. Riyanti! Kenapa anakku bisa seperti ini ….” sedu sedan sang mertua masih membuat Riyanti tak bergeming. Riyanti masih kaget dengan kejadian yang baru saja dia alami hari ini dan dia tidak bisa merespon apapun.
“Jawab Riyanti!” Mellisa meneriaki menantunya. Sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan karena bukan Riyanti yang menjadi penyebab kecelakaan.
Riyanti bergeming. Ibu mertuanya terus menerus menggoncang tubuh sang menantu.
“Semua ini pasti gara-gara kamu, kan? Kamu suka sekali pergi ke pesta. Coba saja tidak kamu ajak anak saya pergi ke pesta dan dia ada di rumah, dia pasti tidak akan seperti ini ….!” Ibu mertuanya terus saja menyalahkan Riyanti.
Petugas medis yang sejak tadi merasa terganggu dengan kekacauan yang dibuat Mellisa langsung menyuruh wanita itu pergi dengan tegas.
“Mohon jangan buat kekacauan di sini!”
Sebelum keluar, Mellisa masih menyalahkan menantunya.
“Jahat kamu, Riyanti! Semua ini gara-gara kamu.”
Riyanti masih diam. Namun diam-diam juga kebencian menguar di dadanya.
Terpaksa Menikahi Duda Lumpuh
Part 3
Tuan Wijaya Kusuma bolak-balik mencari dokter khusus yang bisa menyembuhkan putranya dan membangunkan Aksa lagi dari koma. Tapi tidak ada satupun dokter yang bisa melakukannya. Semua dokter mengatakan hal yang sama. Biarlah waktu yang akan membuat Aksa sadar.
Tuan Wijaya memasuki ruang perawatan anaknya dengan wajah sendu. Dia pria yang penuh energi dan semangat namun dia malah tidak memiliki apa-apa selain kesediahan yang dijadikan buah tangan untuk menjenguk sang putra.
“Aksa ….” Pak Wijaya memanggil putranya dengan lembut. Dia merasa kalau Aksa dengan tubuh yang besar di depannya adalah Aksa yang masih belajar membaca. Bagaimanapun, seorang anak akan selalu jadi anak kecil di mata ayahnya.
“Semenjak kamu seperti ini, rumah kita suram sekali. Mamamu hanya bisa menangis sepanjang waktu. Papa bisa apa, nak? Tidak ada lagi kebahagiaan di rumah.”
Tuan wijaya menghapus air matanya dengan saputangan linen yang dia bawa di kantong. Sepertinya pria itu tahu kalau dia akan menangis. Tidak bisa menahan air mata yang membasahi pipi melihat putranya masih belum sadar.
Aksa tidak menjawab sama sekali. Lelaki itu diam dengan seluruh alat yang penuh menghiasi badannya. Gambar di layar juga menunjukkan kalau detak jantung Aksa lemah. Sesuatu yang sangat menyeramkan karena bisa saja itu berarti kemungkinan untuk sadar sangat tipis.
Tuan Wijaya menghapus ingus yang keluar. Dia akhirnya jujur sebagai seorang pria yang katanya tidak bisa menangis. Tuan Wijaya menangis dengan sedu sedan yang dahsyat, dia tidak peduli jika tangisnya akan menarik perhatian. Tuan Wijaya ingin putranya bangun dan inilah satu-satunya harapan yang dia inginkan.
“Bangunlah, nak!” sebuah permintaan yang tidak masuk akal akhirnya terucap keluar juga dari mulut seorang pengusaha dengan nama besar itu.
Sementara di dalam tuan Wijaya sedang merayu putranya agar bangun, di luar ruangan, Mellisa menatap Riyanti dengan penuh rasa bersalah. Tidak seharusnya dia memperlakukan menantunya seperti itu. Apalagi Riyanti bukan penyebab kecelakaan.
“Mama minta maaf atas kejadian semalam,” ucap Mellisa pada Riyanti yang hanya menunduk. Riyanti merasa sedih melihat kondisi suaminya.
“Mama tahu kalau mama seharusnya tidak menyalahkan kamu. Semua memang sudah terjadi dan kita tidak bisa menghindar dari sesuatu yang bernama musibah. Iya, kan?”
‘Halah. Pas sudah tenang baru minta maaf,’ cibir Riyanti dalam hati. Sejak malam Ibu mertuanya menudingnya sebagai penyebab kecelakaan itu, Riyanti menyimpan dendam kesumat pada Ibu mertuanya. Dia tidak akan sudi lagi berbaik hati dengan wanita tua itu.
Mellisa merasa tidak nyaman dengan kebisuan yang sengaja dibuat oleh Riyanti. Riyanti sepertinya sedang memberinya sebuah pelajaran agar tidak seenaknya memperlakukannya seperti semalam. Riyanti sosok yang pendendam dan dia benar-benar sulit memaafkan kesalahan orang lain padanya.
“Aku kan penyebab kecelakaannya Aksa? Jadi Mama mau aku apa? Ikut celaka sama Aksa atau memang mengharapkan biar aku yang ada diposisi Aksa?” tanya Riyanti dengan tajam.
Mellisa menahan nafas mendengar ucapan menantunya yang penuh energi kebencian. Sepertinya Riyanti tidak akan pernah bisa memaafkan mertuanya lagi. Dia akan mengingat kejadian malam itu, dimana dia dituding sebagai penyebab kecelakaan suaminya sendiri akibat kehedonisan hidupnya.
Tuan Wijaya keluar dari ruang perawatan Aksa. Pria itu mengusap sisa air mata dan berusaha terlihat tegar di depan istri dan menantu.
“Aksa bagaimana, Pa?” tanya Mellisa pada suaminya.
“Masih sama,” jawab tuan Wijaya dengan suara agak berat. Mellisa hanya bisa menahan nafasnya. Remuk hati Mellisa berkeping-keping menghadapi kenyataan yang ada ini sebenarnya.
Riyanti tiba-tiba nyelonong masuk tanpa menyapa mertuanya sama sekali. Tuan Wijaya merasa kalau terjadi sesuatu antara istri dan menantunya.
“Riyanti kenapa, Ma?”
Mellisa hanya menggeleng. Wanita itu enggan menjawab pertanyaan sang suami terkait menantunya karena Mellisa sebenarnya sangat malu mengakui apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Dia sangat tidak elegan dan kehilangan kelasnya.
**
“Sayang, kapan kamu sadar lagi?” Riyanti memegang wajah Aksa dengan lembut. “Aku minta maaf soal malam itu. Aku bilang yang menghubungi aku itu Bunga, kan? Padahal dia Bagas, mantan manajer aku. Bagas menawarkan agar aku mau balik lagi ke dunia entertain. Tapi aku tahu, kamu pasti akan marah besar.”
Riyanti menatap lekat suaminya. Apapun yang dia katakan, Aksa juga tidak akan pernah tahu.
Riyanti mendesah. Sesungguhnya wanita itu sangat khawatir dengan kondisi sang suami yang masih belum ada kemajuan apa-apa. Tapi dia bisa apa? Kemudian batin Riyanti mulai menyalahkan Aksa sendiri yang lalai mengemudi sehingga menyebabkan semua orang harus repot menjenguk dan menungguinya di rumah sakit.
“Mas aku lelah!” Riyanti tidak tahan lagi. Riyanti juga butuh sesuatu yang menyenangkan dan dia enggan berlarut-larut dalam kesedihan.
“Kapan kamu bangun? Kalau kamu sudah tidak ada, siapa yang bisa menjamin kebutuhan aku? Lihatkan sekarang, Mas. Kamu terbaring tidak berdaya di sini dan aku jadi apa? Aku cuma menonton kamu dan memelas biaya hidup dari orang tua kamu. Aku malu, Mas. Aku malu!”
Riyanti keluar meninggalkan suaminya setelah dia mengungkapkan kekesalannya. Riyanti tidak betah berjaga dalam ruangan yang menurutnya sangat membosankan itu. Sudah dua hari Riyanti disini dan dia lebih banyak menghilang kesana kemari.
“Riyanti!” panggil tuan Wijaya pada sang menantu.
“Ya, Pa?”
“Kamu mau menunggui suamimu di sini?” Riyanti menyeritkan kening mendengar pertanyaan dari ayah mertuanya.
“Kenapa tidak papa atau mama saja? Kenapa harus aku?” tanya Riyanti kritis. Riyanti merasa orang tua suaminya tidak adil. Dia merasa kalau mereka menimpakan masalah padanya. Padahal selama ini yang sering menginap di rumah sakit adalah Mellisa. Bahkan bisa dihitung menggunakan jari Riyanti menjenguk Aksa.
Tuan Wijaya yang merasa kalau menantunya enggan menungui Aksa juga tidak bisa memaksa. Pria tua itu akhirnya bersikap sebagaimana seharusnya. Bijaksana.
“Papa akan minta rumah sakit ini untuk mencarikan orang yang bisa menjaga Aksa. Jadi kita semua tidak perlu menunggui Aksa selama dua puluh empat jam. Tapi kita bisa menjenguk dia kapanpun disini.”
Tuan Wijaya akhirnya mengambil keputusan. Riyanti diam saja mendengar keputusan dari ayah mertua. Wanita itu memutuskan melenggang pergi meninggalkan rumah sakit. Riyanti merasa sangat kesal dengan kedua orang tua suaminya.
Tuan Wijaya menatap istrinya dengan lembut. “Mungkin Riyanti butuh waktu untuk menerima kenyataan tentang kondisi suaminya, Ma.”
Tuan Wijaya mencoba berbaik sangka dengan sang menantu. Tapi istrinya, Mellisa malah mencibir.
“Dia itu hanya memikirkan dirinya sendiri. Jangan-jangan selama ini dia menikah dengan anak kita karena uang?” Melisa kembali membuat asumsi karena melihat reaksi Riyanti seperti ini.
Tuan Wijaya menggeleng. Istrinya yang curigaan ini harus diberi pengertian agar pikirannya tidak kemana-mana.
“Kalau Riyanti menikah dengan anak kita hanya demi uang, pasti dia tidak mau punya anak dari aksa.”
Mellisa mengangguk. Apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Namun Mellisa masih tidak bisa mempercayai sang menantu, apalagi setelah kejadian ini, Riyanti seperti tidak punya tanggung jawab mengurus suami. Dia malah melarikan diri.