Bab 2

Keesokan paginya, Ratu akhirnya bangun sambil memegangi kepalanya yang masih pusing. Tapi dia terkejut karena mendapati dirinya tidak memakai pakaian dan hanya dibalut selimut, sementara pakaiannya sudah tergeletak di lantai.

Ratu tiba-tiba teringat wajah seorang pria yang tadi malam membantunya di parkiran bar dan bertelanjang dada di hadapannya.

“Astaga! Jangan-jangan ...?” Ratu mendadak berpikiran buruk.

“Berengsek! Dia pasti memanfaatkan situasi!”

Tiba-tiba pandangan Ratu tertuju pada sebuah paper bag gold yang terletak di atas meja nakas, dia pun meraih paper bag itu dan membongkar isinya yang ternyata sebuah dress berwarna navy dan selembar uang pecahan seratus ribu.

Tapi tunggu! Ada sebuah kertas berisi catatan juga.

-UNTUK ONGKOS PULANG-

Ratu meremas kertas catatan itu dengan geram, “Dia pikir aku wanita apaan?”

Dia pun turun dari ranjang dan mengutip pakaiannya, tapi Ratu langsung menutup hidung saat mencium aroma tidak enak dari bajunya itu.

“Iiiiuuuhhh, bau sekali,” keluh Ratu jijik.

Mau tak mau akhirnya Ratu mengenakan dress navy itu dan bergegas keluar dari kamar. Ratu menanyakan identitas orang yang tadi malam membawanya ke hotel kepada resepsionis, setelah mendapatkannya, dia segera pergi.

Meskipun mabuk, dia masih bisa mengingat wajah Kaisar dan kejadian sebelum dia pingsan.

💘💘💘

Ratu pun tiba di depan kediaman Mahaprana, dia sempat terpana melihat rumah megah milik Frans itu.

“Jadi ini rumahnya? Wah, dia kaya banget,” ucap Ratu takjub.

Seorang penjaga yang melihat Ratu melongo di depan rumah majikannya langsung bertanya pada wanita itu.

“Anda sedang apa, Nona?”

Ratu tersentak dan mendadak gugup, “Hem, a-apa benar ini rumah Kaisar Mahaprana?”

“Iya, benar. Anda siapa?”

Ratu sempat terdiam, dia mencoba mencari alasan yang tepat dan untung otaknya bekerja dengan cepat.

“Saya temannya, Mas,” jawab Ratu, berharap pengawal itu percaya.

Si pengawal mengernyit heran, “Kalau teman Mas Kai, kenapa tidak tahu ini rumahnya?”

Ratu tergagap, “Hem, sa-saya tahu kok. Buktinya saya sampai ke sini.”

“Tapi kenapa tadi bertanya lagi?”

“Cuma memastikan saja,” dalih Ratu.

Si pengawal itu memandangi Ratu dari atas sampai bawah dengan saksama, membuat Ratu jadi risi.

“Anda ada perlu apa ke sini?”

“Ya, bertemu Kaisar lah. Masa mau bertemu Mas, sih!” balas Ratu ketus.

“Sebentar.”

Si pengawal itu masih belum percaya jika Ratu adalah teman Kaisar, dia menjauh dari wanita itu dan diam-diam menghubungi Kaisar untuk memastikan.

“Halo, ada apa?”

“Mas, di luar gerbang ada seorang wanita cantik mencari Mas Kai.”

“Siapa?”

“Tidak tahu, Mas. Katanya dia temannya Mas Kai.”

“Ya, ditanya dong namanya siapa.”

“Sebentar, Mas.”

Si pengawal itu kembali mendekati Ratu dan bertanya. “Nama anda siapa?”

“Ratu.”

Si pengawal kembali menjauh, “Namanya Ratu, Mas.”

“Aku tidak kenal. Tapi ya sudah, suruh masuk saja. Aku tunggu di teras.”

“Baik, Mas.”

Si pengawal tersebut lantas membukakan pintu gerbang dan mempersilakan Ratu masuk, wanita itu pun berjalan dengan angkuh memasuki halaman rumah mewah Frans.

Tak lama kemudian Kaisar muncul dari dalam rumah dengan mengenakan pakaian santai sebab hari ini dia tak ke kantor. Kaisar terkejut melihat kedatangan Ratu.

“Ternyata wanita menyebalkan ini? Tahu dari mana dia rumahku?” gumam Kaisar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Emosi Ratu sontak naik saat melihat Kaisar berdiri di hadapannya, saat jaraknya sudah semakin dekat dengan lelaki itu, Ratu langsung mengangkat tangannya.

Plak.

Satu tamparan mendarat kuat di pipi Kaisar, membuat lelaki itu terkejut bukan main.

“Apa-apaan kau ini? Kenapa menamparku?” hardik Kaisar sambil memegangi pipinya yang perih.

“Orang sepertimu seharusnya mendapatkan lebih dari ini!” sungut Ratu dan langsung menendang kemaluan Kaisar dengan sepatu heels miliknya.

Kaisar spontan berteriak dan berjongkok sambil memegang kemaluannya yang berdenyut.

“Nona, apa yang anda lakukan?” teriak si pengawal yang melihat kejadian itu dari jauh.

Pengawal itu berlari hendak mendekati Ratu, tapi langkahnya terhenti karena Ratu kembali mengangkat kaki dan bersiap untuk menendang kemaluannya. Si pengawal langsung mundur sambil menutup bagian sensitifnya dengan tangan.

“Kau gila, ya? Kenapa menendang ku?” ujar Kaisar sambil meringis menahan sakit.

“Kau pantas mendapatkannya! Dasar mesum! Menjijikkan!” bentak Ratu.

Kaisar semakin kebingungan, dia tak mengerti kenapa Ratu tiba-tiba datang lalu memukul dan memakinya?

“Memangnya apa yang aku lakukan, haa ...?”

“Kau ... kau memperkosaku,” tuduh Ratu penuh emosi.

“Apa?”

Kaisar terkejut dengan tuduhan Ratu itu.

“Bicara apa kau ini? Aku tidak pernah melakukan itu!” bantah Kaisar.

“Buktinya sudah jelas! Kau membawaku ke kamar hotel dan aku terbangun tanpa busana. Kau pasti melakukannya!” Ratu berteriak menuduh Kaisar.

“Kau salah paham. Dengarkan dulu penjelasan ku.” Kaisar berusaha bangkit dan mencoba menenangkan Ratu, tapi wanita itu semakin beringas.

Ratu menyerang Kaisar, dia memukuli dan menendang lelaki itu tanpa ampun. Kaisar hanya bisa mengelak, karena tak mungkin membalasnya.

“Hei, tenanglah! Jangan sampai aku kasar terhadapmu!” ancam Kaisar, tapi Ratu tak peduli.

Si pengawal juga ikut berusaha menenangkan Ratu yang seperti banteng mengamuk, tapi apes, Ratu akhirnya berhasil menendang kemaluan si pengawal.

“Aduh!” Si pengawal merintih sembari memegangi area sensitifnya.

Kaisar yang benar-benar kesal akhirnya berhasil memeluk erat tubuh Ratu sampai wanita itu tak bisa bergerak lagi.

“Lepaskan aku!” Ratu memberontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan Kaisar.

“Dengarkan aku dulu! Bisa?” pinta Kaisar sambil menatap Ratu penuh harap.

Ratu akhirnya berhenti memberontak, walaupun wajahnya masih diselimuti amarah.

“Kalau kau bisa tenang, aku akan jelaskan semua kesalahpahaman ini,” lanjut Kaisar.

“Kai, ada apa ini?” tanya Rossana bingung saat melihat Kaisar memeluk seorang wanita.

Dia dan Laura keluar dari dalam rumah setelah mendengar ada ribut-ribut.

“Dia memperkosaku, Tante,” adu Ratu tiba-tiba.

Rossana serta Laura terperangah mendengar pengakuan Ratu dan langsung menatap tajam Kaisar yang seperti tersangka.

Kaisar sontak melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Ratu agar menjauh darinya.

💘💘💘

Bab 3

Ratu dan Kaisar sudah duduk berhadapan dengan Rossana serta Laura, kedua wanita itu tak bisa percaya begitu saja dengan pernyataan yang mereka dengar, kini keduanya sedang menunggu penjelasan dari Kaisar.

“Ayo jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar kau melakukannya?” cecar Rossana dengan tatapan selidik.

“Iya, Ma, iya. Dari tadi juga mau aku jelaskan, tapi banteng betina ini tak mau mendengarkannya,” sungut Kaisar dengan wajah yang kesal dan langsung mendapat tatapan tajam dari Ratu.

“Semalam saat keluar dari Capitano Club, aku melihat dia dijambret dan terjatuh. Aku tolongin, eh, dia malah muntah di bajuku lalu tidak sadarkan diri. Aku bingung mau bawa dia ke mana? Ya sudah, aku pesankan kamar hotel saja,” ungkap Kaisar apa adanya.

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya di kamar hotel?” tanya Laura tak sabar.

Kaisar kembali melanjutkan ceritanya, dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di hotel semalam.

**

Flashback ....

Setelah membaringkan Ratu di atas ranjang, Kaisar buru-buru membuka bajunya sebab sudah tak bisa menahan rasa jijik karena terkena muntahan Ratu, dia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci bekas muntahan itu.

Namun saat di kamar mandi, Kaisar mendengar Ratu muntah-muntah lagi, dia yang tak tega pun menghampiri wanita itu. Kaisar terkesiap melihat cairan berbau itu sudah berserakan di lantai, bahkan sampai mengenai baju Ratu.

“Ish, kau ini jorok sekali! Menyusahkan saja!” gerutu Kaisar jengkel.

“Aku mau minum,” rengek Ratu.

Kaisar bergegas ke mini kulkas di dalam kamar, dan mengambil sebotol air mineral lalu memberikannya kepada Ratu.

“Nih, minum!”

Ratu yang haus dan kepanasan langsung menenggaknya.

Tapi entah apa yang ada di pikiran Ratu, dia tiba-tiba mengguyur tubuhnya dengan air mineral itu, sehingga membuat bajunya dan juga tempat tidur basah.

“Hei, apa yang kau lakukan? Lihat! Semuanya jadi basah!” bentak Kaisar marah.

“Rasanya panas sekali, apa AC nya tidak menyala?” Ratu berbicara sambil menatap Kaisar dengan mata yang sayu.

Kaisar yang bertelanjang dada hanya berdiri di hadapan Ratu sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita itu, memang tak ada gunanya bicara dengan orang mabuk. Dan itulah yang diingat Ratu, Kaisar yang tidak memakai baju berdiri di hadapannya.

“Aku mau muntah! Hooeeeekk ....”

“Muntah lagi?”

Kaisar terperangah melihat Ratu kembali muntah, dia sungguh jijik melihatnya.

“Cckk, kau benar-benar menyusahkan! Harusnya aku membiarkanmu di jalanan! Dasar pemabuk!” Kaisar mengomel sendiri.

Kaisar pun segera memakai bajunya yang lembab lalu keluar dari kamar.

Tak lama kemudian, Kaisar kembali dengan sebuah paper bag gold. Ternyata dia pergi ke toko baju yang kebetulan berada tak jauh dari hotel dan membelikan sebuah dress navy untuk Ratu, untung saja toko baju itu masih buka.

Kaisar pun memanggil housekeeping hotel yang wanita dan memintanya membersihkan kamar serta membuka semua pakaian Ratu, dia takut Ratu masuk angin kalau tidur dengan baju yang basah, apalagi baju itu sudah terkena muntahan.

Dia juga meninggalkan uang seratus ribu dan catatan kecil di dalam paper bag, dia tahu wanita itu sudah tak punya uang karena dijambret.

Entah mengapa hari ini jadi sangat peduli dengan orang yang bahkan tidak dia kenal sama sekali.

“Bagaimana? Sudah selesai semua?” tanya Kaisar saat housekeeping itu menghampirinya di luar kamar.

“Sudah, Mas. Tapi saya tidak bisa memakai kan baju yang baru, Mbak itu sepertinya tertidur sangat lelap, jadi saya kesulitan.”

“Tidak apa, yang penting kau sudah menyelimutinya, kan?”

“Sudah, Mas.”

“Baiklah. Ini tip untukmu, terima kasih, ya.” Kaisar memberikan bayaran atas jasa housekeeping itu.

“Sama-sama, Mas.”

“Setelah housekeeping itu berlalu, Kaisar pun pergi meninggalkan Ratu yang kini tertidur nyenyak tanpa memakai baju.

**

Ratu tertunduk malu saat mendengar penjelasan dari Kaisar itu, ternyata dia sudah salah sangka.

“Jadi ini cuma salah paham?” Rossana merasa lega.

“Aku kan sudah katakan dari tadi, tapi banteng betina ini tak mau mendengarkan ku,” gerutu Kaisar.

“Hem, berarti sudah tidak ada masalah lagi, kalau begitu saya permisi dulu. Mari Tante, Oma.” Ratu beranjak dan hendak kabur, tapi suara Kaisar menahannya.

“Kau mau pergi begitu saja? Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” sindir Kaisar.

Ratu mengerutkan keningnya. “Mengatakan apa?”

“Maaf,” ucap Kaisar mengingatkan.

“Oh, tidak masalah. Aku sudah memaafkan mu,” sahut Ratu seenaknya.

Kaisar tercengang, dia tak habis pikir, bagaimana ada orang yang tak merasa bersalah seperti ini?

Rossana dan Laura hanya menahan tawa melihat tingkah Ratu dan wajah kesal Kaisar, mereka seperti sedang menonton drama komedi.

“Aku bukan minta maaf, tapi menyuruhmu meminta maaf padaku! Kau sudah memfitnah dan memukuliku, bahkan kau menyakiti Oscar,” kecam Kaisar gemas.

“Oscar?” Ratu bingung.

“Siapa itu Oscar?” tanya Laura penasaran.

Wajah Kaisar mendadak tegang, terlalu malu rasanya jika harus memperkenalkan Oscar kepada sang Oma.

“Hem, bukan siapa-siapa, Oma. Sudah lupakan saja!” ujar Kaisar.

“Baiklah, aku minta maaf. Apa aku boleh pergi sekarang? Kan aku sudah minta maaf.”

“Sudah sana pergi! Jangan pernah perlihatkan batang hidungmu lagi!” bentak Kaisar.

“Aku juga tak sudi memperlihatkannya padamu,” balas Ratu, “kalau begitu saya pamit, maaf sudah membuat keributan.”

“Iya, tidak apa-apa,” sahut Rossana ramah.

Sementara Laura hanya tersenyum.

“Dia cantik, pemberani dan juga lucu. Oma menyukainya,” celetuk Laura.

“Siapa?” tanya Kaisar.

“Gadis itu, siapa tadi namanya?” tanya Laura.

“Ratu,” jawab Kaisar singkat.

“Nama yang bagus. Ratu dan Kaisar? Sepertinya cocok, ya?” goda Laura.

“Oma apa-apaan, sih? Kenapa nama aku di sandingkan dengan dia?” kesal Kaisar.

“Oma hanya bercanda. Serius banget, sih!”

Wajah Kaisar semakin masam mendengar candaan sang Oma. Sedangkan Rossana hanya tertawa.

Ratu pun meninggalkan kediaman Frans dengan perasaan lega, ternyata dia hanya salah paham saja dan sekarang dia akan ke kantor polisi untuk melapor penjambretan semalam. Saat melewati pos jaga, si pengawal tadi langsung pura-pura tidak melihat Ratu.

“Permisi, Mas. Maaf untuk yang tadi, ya?” ucap Ratu sambil berlalu pergi.

Si pengawal tak menjawab, dia hanya mengembuskan napas lega karena Ratu sudah pergi.

“Dasar wanita gila!”

💘💘💘

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED