Bab 1

Regina's POV

Mike...." panggilku saat dia melintas di depanku bersama segerombolan temannya. Mereka serempak berhenti dan menoleh padaku.

"Siapa kamu?"tanya Michael seraya memberikan tatapan penuh selidik ke arahku.

"Oh... aku anak kelas 1-b. Namaku Regina Larasati. Aku manggil kamu... untuk ngasih kamu ini,"jawabku sambil menyodorkan bingkisan berwarna merah padanya. Tapi alih-alih menerima bingkisan tersebut, dia malah memandangiku dari bawah sampai ke atas, seraya berkata,"Apa ini?"

Ditatap seperti itu, aku jadi gelagapan."Ini... cok...lat valentine."

"Aku tau ini coklat! Tapi kenapa kau ngasih ke aku?" Tampaknya dia mulai tak sabaran.

"A...ku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?"jawabku cepat-cepat. Selesai mengatakan itu rasanya wajahku panas sekali saking malunya. Ini pertama kalinya aku melakukan tindakan seberani ini. Kalau nggak gara-gara desakan teman-teman, aku nggak akan mungkin mau.

"Apa? Ulangi sekali lagi! Jangan-jangan aku salah dengar."

"Aku... suka kamu!"ulangku sambil lebih mendekatkan bingkisan itu ke arahnya.

"Hahahahahaha...... aduh perutku sampai sakit." Dia tertawa. Aku nggak menyangka dia akan tertawa. Tidak hanya dia, tapi juga teman-teman satu kelompoknya dan beberapa cewek yang melintas di tempat itu.

"Ke...napa tertawa? Ada yang salah dengan perkataanku?" Perasaanku mulai nggak enak.

"Hahahaha... gimana aku nggak tertawa, orang lucu banget gitu! Coba kamu pikir, pasteskah manusia tampan seperti aku ini, pacaran dengan... GAJAH seperti kamu? Nggak masuk akal kan?"cetusnya sambil menunjuk ke badanku yang gemuk. Mendengar itu, aku merasa bagaikan di tampar. Sakit sekali. Sayang rasa sakitnya tidak meradang di pipiku, tapi di hatiku.

"Tapi..."Bingkisan yang ku pegang mulai bergoyang-goyang, akibat dari tanganku yang gemetaran.

"Nggak usah tapi.. tapi.. Lebih baik kamu introspeksi diri dulu deh sana!"perintahnya sambil memimpin teman-temannya beranjak pergi dariku.

Cinta pertama. Ungkapan hati pertama. Hasilnya... hinaan dan patah hati.

***

Sepuluh tahun kemudian

"Gina... uda jam berapa ini? Ayo cepat sarapan! Nanti kamu terlambat kerja lho!"teriak mamaku dari luar.

"Iya ma... aku uda selesai kok,"jawabku seraya menghambur keluar dari kamar.

"Kamu ini hari pertama bekerja, kok malah bangun telat sih?"

"Aduh... gara-gara nonton drakor tuh tadi malam... sampai lupa aku hari ini harus bagun pagi,"seruku sambil menyendokkan nasi goreng cepat-cepat ke dalam mulutku. Saking cepatnya aku sampai hampir mati tersedak.

"Makanya... pelan-pelan kalau makan! Nih minum dulu!"

Setelah meneguk minumanku banyak-banyak, aku membereskan alat makanku dan membawanya ke tempat cuci piring.

"Lho, uda selesai? Kok dikit banget makannya?"

"Takut telat. Pergi dulu ya, ma!" Aku mencium pipi mamaku sekilas dan berlari menuju sepeda motorku.

Kurang lima belas menit lagi sudah jam delapan. Aku harus cepat-cepat. Kalau nggak, aku bisa dianggap 'tukang telat'. Tanpa peduli lagi dengan lalu lintas yang ramai dan susah dilewati, aku menyetir motorku sekencang-kencangnya. Untungnya pagi ini, tidak seperti biasanya, jalanan di Surabaya, walaupun ramai, tapi tidak diserang 'penyakit' macet, sehingga dalam waktu sepuluh menit saja aku sudah sampai di tempat kerjaku.

Hari ini memang hari pertamaku bekerja di tempat kerja yang baru. Sebelum ini, aku sudah bekerja sebagai sekertaris di tiga perusahaan swasta, yang pada akhirnya selalu memecatku saat ada pelamar lain yang jauh lebih cantik dan tentunya tidak gendut sepertiku. Karena itulah, aku menerima pekerjaan ini.

Memang sih kerjanya nggak di kantoran seperti dulu dan gajinya juga tidak terlalu besar. Tapi yang aku suka dari pekerjaan ini adalah aku nggak perlu takut lagi dipecat karna bentuk tubuhku. Itu semua karena, bosku kali ini adalah seorang penulis 'perempuan' dan sejak awal sudah menegaskan kalau dia hanya akan menghargaiku dari hasil kerjaku dan bukan dari penampilanku.

Dengan langkah yang penuh semangat, aku memasuki rumah mewah tiga lantai yang mulai hari ini jadi tempat kerjaku. Sesampainya di dalam, salah satu pembantu di rumah itu, segera menyuruhku masuk ke ruang makan untuk menemui bosku, ibu Amelia.

"Maaf ya, saya belum selesai sarapan. Mbak Regina, nggak keberatan kan menunggu? Atau mungkin mau bareng sarapan dengan saya?"ajaknya ramah sambil sesekali membuka mulut untuk menerima suapan dari perawatnya. Aku, yang heran melihat seorang wanita dewasa harus makan sambil disuapi, mengarahkan pandanganku ke arah tangannya. Tapi betapa terkejutnya aku, saat melihat kedua tangan di pangkuannya tersebut, bergetar sangat hebat.

"Makasih bu. Saya sudah sarapan tadi di rumah,"jawabku pelan dengan pandangan yang masih terarah pada kedua tangannya. Aku memang sudah diberitahu oleh sekretarisnya yang lama kalau bosku ini menderita penyakit yang serius, tapi aku mendengarkannya sambil lalu saja. Yang kupentingkan saat itu adalah secepatnya mendapatkan pekerjaan baru.

"Ya gini ini mbak, kalau uda kena parkinson. Tangan bisa tiba-tiba gemetaran nggak karuan,"serunya tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Rupanya dia tau aku memperhatikan tangannya sejak tadi. Wajahku langsung bersemu merah karena malu.

"Kenapa? Aneh ya mbak?"lanjutnya sambil tersenyum ke arahku.

"Oh maafkan saya, bu! Saya tidak bermaksud..."

"Nggak apa-apa kok, mbak. Saya sudah biasa. Setiap orang yang pertama kali melihat tangan saya yang gemetaran, ekspresinya pasti kayak mbak tadi."

Oh... perasaanku benar-benar nggak enak. Jangan-jangan aku menyinggung perasaannya. Bagus, Gina! Bagus sekali! Hari pertama bekerja kau sudah membuat masalah.

"Lho... masih dipikirin juga to? Saya kan bilang tadi, kalau saya nggak apa-apa."

"Saya benar-benar minta maaf, bu,"seruku sambil tertunduk malu.

"Iya mbak... nggak apa-apa."

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan dibuka lalu ditutup dengan kasar.

"Itu pasti anak bungsu saya. Dia memang nggak bisa pelan kalau berurusan dengan pintu. Tapi jangan kuatir, anaknya lucu kok."

Mendengar itu aku langsung mendongakkan kepalaku dan membenarkan cara dudukku. Berharap tidak lagi membuat kesan buruk di mata bosku dan keluarganya.

"Mama..."panggil laki-laki yang di sebut anak bungsu oleh bosku tersebut, dari arah yang terdengar tidak begitu jauh dari tempat kami berada.

"Mama di ruang makan sayang..."sahut ibu Amelia seraya mengisyaratkan pada perawatnya untuk mengambilkan dia minum.

"Oh baguslah, mama di sini. Aku tadi juga belum sarapan,"serunya sambil mengitari tempatku duduk untuk mengambil piring. Tampaknya dia tidak menyadari... atau mungkin tidak terlalu peduli dengan kehadiranku. Sebenarnya aku berharap dia akan bersikap seperti itu seterusnya. Karena sejak dia masuk tadi, aku sampai hampir terkena serangan jantung saking kagetnya. Oh Tuhan, aku mohon semoga dia tidak mengenaliku!

"Hei... kamu kok nggak sopan gitu sih! Sapa dulu dong sekertaris mama yang baru. Masak kok di cuekin aja!"

Aduh... mati aku!

"Iya... iya... sorry. Abisnya aku laper banget. Hai... aku Mike, anak bung..." Dengan kasar, dia tiba-tiba meletakkan piringnya ke meja seraya berteriak ke arahku, "Apa yang kau lakukan di sini, gajah?!"

Akhirnya dia mengenaliku juga! Dia, Michael Dharsono, cinta pertama sekaligus musuh terbesarku saat SMA, kini memandangku dengan tatapan penuh kebencian. Dari semua pria di dunia ini, ironisnya harus dialah yang menjadi anak bosku. Tampaknya aku harus terancam di pecat lagi deh. Ahhhh... kenapa sih aku harus sesial ini!!!

***

Bab 2

"Jawab gajah! Ngapain kamu disini?!"

Gajah. Sebutan itu lagi. Ejekan yang sama dan keluar dari mulut orang yang sama. Saat menyebutnya pun selalu disertai dengan ekspresi yang sama dari dulu. Ekspresi kebencian. Entah sejak kapan dia mulai... Oh ya aku ingat! Parkiran! Di tempat itulah Mike mulai membenciku. Tapi tepatnya kejadiannya seperti apa aku hanya ingat sedikit saja. Sebenarnya apa ya yang kulalukan di parkiran tersebut yang membuat dia membenciku. Tunggu... biar kuingat-ingat... kalau nggak salah waktu itu kan...

Teriakan Mike yang semakin membahana tidak kuhiraukan. Pikiranku melayang ke masa lalu. Ke masa dimana permusuhan kami dimulai.

"Gimana sukses?"tanya Indah, sahabatku sambil cengar-cengir.

"Sukses apanya? Kamu nggak liat apa mataku bengkak?!"jawabku ketus. Tidak seharusnya memang aku menjawabnya seperti itu, tapi emosiku sudah sampai di ubun-ubun.

"Iya ya, matamu bengkak banget. kamu abis ngapain tadi?" Ohhhh... kenapa sih di saat seperti ini, anak ini justru lemotnya kumat. Padahal aku lagi pengen dapat penghiburan dari dia setelah peristiwa menyakitkan tadi. Tapi kenapa... oh kenapa ya Tuhan... untuk mendapatkannya aku harus melewati ujian lagi???

"Ya tentu saja karna nangis to, ndah! Masak gara-gara disengat lebah!"

"Ha? Kamu nangis? Ya ampun kenapa?"

"Telat!"

"Ayolah... jangan ngambek dong. Kamu kan tau sendiri kadang-kadang tingkat kecerdasanku menurun kalau siang-siang begini. Ayolah... jangan marah. Cerita dong!"

"Abisnya kamu sih nggak ngerti-ngerti situasi dari tadi! Aku kan jadi sebel,"jawabku sambil menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Manjaku kumat deh!

"Iya... iya... iya... sorry. Sekarang ayo cerita. Ada apa sebenarnya?" Wajahnya langsung berubah super serius. Dengan raut muka begini pasti nggak ada yang percaya kalau anak ini, beberapa menit yang lalu, barusan terserang penyakit lemot. Di tambah lagi dengan kaca mata besar bergagang hitam yang sedari tadi berusaha ditahannya agar tidak melorot dari hidungnya, dia benar-benar terlihat seserius seorang profesor yang sdang meneliti sesuatu.

"Aku ditolak! Nggak hanya itu, dia bahkan mengejekku habis-habisan di depan teman-teman ganknya. Dia bilang GAJAH seperti aku nggak pantas jadian sama pangeran tampan seperti dia. Tuh kan apa aku bilang! Dari awal ini memang MISSION IMPOSSIBLE! Kalian sih maksa-maksa. Akhirnya jadi begini deh!"

"Ga...gajah?? dia bilang kamu gajah? Kuraang ajar betul! Bolehlah kalau dia nggak suka, tapi nggak suka pakai menghina segala. Dikatain binatang pula. Nggak ada sopannya tuh anak. Wajah aja kelihatan ganteng, tapi sikapnya... Wah... kalau sampai Loni tau, dia pasti marah besar!"

"Pastinya. Kamu kan tau dia orangnya gampang emosi. Apalagi kalau denger masalah begituan. Oh ya, mana dia? Bukannya tadi janjinya nungguin kabar dariku di kelas. Sekarang kok menghilang?!"

"Oh... dari tadi sih dia nungguin kamu. Tapi karna kelamaan, dia akhirnya nongkrong dulu. Bentar lagi dia juga datang."

"Nongkrong dimana?"tanyaku bingung.

"Ya... di mana lagi kalau nggak di kantin hehehe... Kamu kan tau kalau pas jam istirahat pertama dia ALWAYS dan tidak pernah NEVER absent dari jadwal rutinnya ngobrol soal BTS bareng sesama ARMY dari kelas sebelah,"jelas Indah dengan dibumbui bahasa Inggris acak kadut.

"Oalah... bisa rutin gitu ya ketemuannya. Ngomong-ngomong kamu ada tisu basah nggak? Mukaku cemong semua gara-gara nangis tadi."

"Punya. Bentar aku... nah... itu dia... yang ditunggu akhirnya datang juga,"seru Indah tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Loni yang sedang berjalan dengan wajah girang ke arah kami.

"Lama banget sih nongkrongnya!"semburku langsung sembari mengambil tisu yang disodorkan Indah.

"Sorry tadi lagi seru-serunya." Begitu Loni mendekat, wajahnya terlhat terkejut melihat kedua mataku yang terlihat sembab dan memerah. "Lho matamu kok bengkak? Kamu habis nangis?! Jangan-jangan... kamu ditolak???"

Aku mengangguk lesu.

"Nggak cuma ditolak. Dia juga diejek gajah sama Mike dan teman-temannya. Kurang ajar nggak tuh!"

"Haaa? Masak sih? Kok kasar gitu cara ngomongnya. Memang dia siapa seenaknya mengejek penampilan orang. Kayak dia uda cakepan aja!"teriak Loni dengan ekspresi yang seakan-akan berkata 'aku bisa membunuhnya sekarang juga!' ke arah pintu keluar.

"Kalau soal cakep sih... dia memang cakep. Luar biasa cakep malah,"sahut Indah dengan ekspresi setengah melamun.

"Indah! Tau situasi dong! Kamu di pihak mana sih?"semprot Loni seraya melotot ke arah Indah.

"Maaf... maaf... sesaat tadi aku sempat khilaf. Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk membalas mereka?"

"Nggak usah ada acara balas-membalas ah. Tadi aja aku uda luar biasa malu. Aku nggak mau menambah daftar 'perbuatan memalukan masa SMA ku' dengan cari masalah sama Mike dan kawan-kawannya."

"Tapi Gin, kalo kita nggak membalas, takutnya mereka akan meremehkan kita!"seru Indah dengan tampang meyakinkan.

"Biar aja diremehkan! Toh kelasnya beda dari kita, jadi nggak bakalan sering ketemu."

"Sadar, Gin! Mana harga dirimu sebagai penghuni kelas 1b?"tegas Loni berusaha meyakinkanku.

"Ha? Apaan tuh? Apa hubungannya kejadian aku diolok-olok Mike sama harga diri sebaga kelas 1b?"

Aku mulai nggak ngerti arah pembicaraan Loni.

"Masak kamu lupa? Bukankah selama ini kita sudah berjuang bersama-sama mengarungi pertarungan demi pertarungan melawan kelas lain. Lomba kebersihan, voli, basket, sepak bola, dan tarik tambang, semuanya kan kita menangkan bersama-sama dengan keringat dan air mata. Masak kau rela kebanggaan sebesar itu diinjak-injak oleh cecunguk-cecunguk nggak berguna macam mereka!"seru Loni berapi-api dengan diiringi anggukan berulang-ulang tanda setuju dari Indah.

"Ayolah teman-teman... kondisinya kan nggak seserius itu. Nggak perlu-"

Sayangnya tak ada yang menggubris. Mereka berdua malah bergerombol sendiri kayak kelompok sindikat gelap yang sedang merencanakan sesuatu yang sangat penting dan berbahaya.

"Oke ini yang akan kita lakukan. Kita kempesi aja motor mereka. Aku rasa ini ide yang bagus. Simpel dan jitu. Mereka kan-"jelas Loni menggebu-gebu disertai tatapan serius dari Indah.

"Hei... hei... hei... jangan cuekin aku dong!"

Tetap saja nggak didengarkan. Mereka malah meneruskan rapat khusus mereka.

"Mereka kan terkenal sayang banget tuh sama motor sport touring mereka yang terkenal super mahal itu. Sedikit lecet aja mereka stressnya minta ampun. Apalagi kalau ada yang ngempesin motornya, mereka pasti kesel berat. Ditambah lagi tukang pompa ban kan jauh dari sini. Bayangkan saja capeknya nuntun motor sebesar itu sampai ke jalan raya. Bisa keriting tuh betis hahahahaha..."lanjut Loni disertai tawa liciknya yang membahana. Mungkinkah di antara kami bertiga, hanya aku saja yang masih waras. Persoalan biasa saja kenapa harus ditanggapin segitunya.

"Emangnya kalian tau caranya ngempesin motor?"celetukku dengan nada meremehkan. Mereka sontak memalingkan wajah ke arahku bebarengan.

"Bapakku kan tukang tembel ban. Masak kamu lupa? Masalah kecil seperti ngempesin ban sih sudah aku pelajari dari kecil,"jawab Loni dengan ekspresi 'kau tak bisa menghentikanku' yang terpampang jelas di wajahnya.

Wah... jawaban yang tak disangka-sangka. Aku memang tau kalau bapaknya Loni tukang tambal ban, tapi aku nggak nyangka kalau keahlian tersebut juga diwariskan ke anak-anaknya. Gawat! Bukannya bisa menghentikan mereka, aku malah jadi bingung harus ngomong apa lagi supaya kejadian balas dendam yang direncanakan teman-temanku batal terjadi.

"Teman-teman please jangan gila dong! Aku aja yang jadi korban, nggak-" Kata-kataku terhenti saat tiba-tiba mendengar bel masuk berbunyi.

Loni dan Indah pun langsung berhamburan ke tempat duduk mereka masing-masing sambil melemparkan tatapan 'nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita' ke arahku.

Ah... padahal aku lagi pengennya berkelabu ria setelah di tolak Mike tadi. Ini bukannya bebas menghabiskan waktu menangis sepuas-puasnya di bangku pojok kelas, aku malah harus disibukkan mengurus kedua temanku yang lagi getol-getolnya merencanakan misi BALAS DENDAM.

Sudahlah... toh nanti mereka sadar sendiri kalau rencana mereka cuma buang-buang waktu saja. Paling-paling juga nggak bakalan jadi tuh rencana ngempesin ban Mike dan kawan-kawannya. Lebih baik aku konsentrasi dengerin guru aja dari pada nanti kena semprot kayak kemaren.

.

"Gin, ayo cepetan!"panggil Loni dari tempat duduknya setelah pelajaran usai. Dia tampak sibuk memasukkan buku-bukunya cepat-cepat ke dalam tas.

"Ha? Mau kemana?"tanyaku bingung.

"Gimana sih? Masak kamu lupa rencana kita waktu istirahat tadi?"jawab Indah seraya bolak-balik melihat ke jam tangannya.

"Rencana? Ha!!! Berarti kalian jadi ngempesin-"

"Ya iyalah. Udah ayo cepat! Mumpung kelas Mike belum bubar,"desak Loni seraya menarikku keluar menuju ke tempat parkir.

"Tunggu dulu dong. Bukannya tadi masih mau dibicarain dulu. Ini kok uda mau beraksi sih?"teriakku protes.

"Nggak ada waktu lagi. Toh kan cuma ngempesin ban doang. Gampang! Makanya cepetan larinya, Gin!"jawab Loni enteng.

"Kalian gila! Kalau ketauan gimana?"

Walaupun aku protes habis-habisan, mereka tetap aja nggak bisa dibujuk.

"Wah banyak banget motornya! Yang mana motornya Mike sama teman-temannya?"tanya Indah dengan nafas tersengal-sengal sesampainya di parkiran.

"Sport touring merah punya Mike, yang hitam dan biru punya temannya."jawab Loni seraya menyeretku menghampiri motor Mike.

"Sport touring itu apaan?"tanya Indah linglung.

"Ahhhh.... pokoknya cari motor yang besar dan yang kelihatan paling mahal. Cari yang warna biru atau yang hitam. Punya Mike biar aku dan Gina yang urus,"jawab Loni seraya memandang motor Mike layaknya sang pemburu pada korbannya.

"Lon, aku-"

"Ayo tunggu apa lagi, cepat lakukan!"

"Aku..." Benar-benar dilema. Aku nggak tahu harus bagaimana. Mau melakukan aku takut, nggak dilakukan nanti di bilang nggak setia kawan. Bagaikan dilanda peribahasa 'hidup segan mati tak mau' saja tiba-tiba.

"Aduh gimana sih kamu, Gin?! Udah sejauh ini kamu malah-"

"Sorry aku benar-benar nggak bisa."

"Ya uda biar aku saja!" Secepat kilat Loni dengan keahlian tingkat tinggi langsung membuat ban Mike kempes sekempes-kempesnya. Setelah selesai dia langsung berlari untuk melanjutkan misinya mengempesin motor temannya Mike. Aku yang lumayan terkagum-kagum, melongo saja melihat aksi Indah dan Loni. Sebenarnya bukan hanya aku saja yang melongo melihat mereka. Beberapa orang yang berada di situ termasuk beberapa teman sekelas kami juga ikut melongo dan kaget.

Tapi mereka hanya diam saja memperhatikan. Tidak ada satu pun yang mencoba menghentikan. Menurutku sih itu karna yang dikempesin adalah motornya Mike dan kawan-kawan. Maklumlah, selain kami, tidak sedikit juga yang nggak suka dengan tingkah mereka yang sok berkuasa.

Sebenarnya aku juga nggak suka dengan cowok yang sok, tapi nggak tau kenapa aku dengan bodohnya bisa jatuh cinta dengan si tolol Mike itu. Kalau saja waktu bisa diputar, aku pasti...

"Woi... gajah, ngapain kamu berdiri dekat motorku?! Mau nyatain cinta lagi?"tanya Mike, yang tanpa aku sadari sudah berdiri di belakangku sambil memandangku dengan tatapan merendahkan.

Aku berbalik perlahan sambil berdoa dalam hati kalau yang kudengar barusan hanya halusinasiku saja.

Sayangnya, yang berdiri di depanku sekarang beneran Mike. Saking kagetnya aku seperti merasakan seluruh udara di paru-paruku tersedot keluar sampai habis.

"Ngapain melotot! Kerasukan ya?!"bentaknya kasar.

Karna aku nggak menjawab dan masih aja melotot, dia lantas berteriak "Anybody home??? (Ada orang di dalam?)" ke arah wajahku sambil mengetuk-ngetuk kepalaku dengan jari telunjuknya.

"Ya Tuhan Gina-" Terdengar pekik Indah dan Loni dari kejauhan. Rupanya kedua temanku baru sadar kalau aku sudah tertawan oleh musuh. Mendengar teriakan mereka, Mike sontak menoleh.

"Ngapain juga tuh cewek-cewek?! Tunggu dulu... kenapa mereka ada di samping motor Jefry dan Peter? Jangan-jangan... wuasem... kamu apakan motorku, gajah???"teriak Mike membabi buta ketika sadar ban motornya kempes.

"Kamu apain motorku?! Kau duduki ya? Jawab!!!"

"Nggak kok, aku cuma-"

"Nggak apanya! Pokoknya aku nggak mau tau, aku mau kamu kembalikan semua udara yang kau ambil dari banku. Semua! Cepat!"perintahnya kejam sambil mencengkram lenganku.

Aku benar-benar panik. Yang jelas berputar-putar di pikiranku adalah secepatnya kabur dari cengkraman monster di depanku. Aku perlahan melihat sekeliling dan bersyukur karna tidak mendapati tanda-tanda kehadiran Jefry dan Peter. Kalau cuma Mike saja mungkin masih bisa kulawan.

"Masih diam saja! Kau tidak de-" Omelannya terhenti seketika dan digantikan dengan teriakan 'Auwww....' yang keras saat kakinya yang beralaskan sepatu bermerk tersebut aku injak kuat-kuat.

"Lariiiii cepat!"teriakku sambil melambai-lambaikan tangan ke arah Loni dan Indah.

Mereka berdua cepat-cepat berlari ke arahku dan segera menarik tanganku untuk lari bersama-sama. Namun betapa terkejutnya aku ketika tanganku yang satunya ditarik oleh Mike yang tampak luar biasa marah plus kesakitan. Karna panik, aku pukul saja dia dengan tasku yang berat satu kali, dua kali, tiga kali dan akhirnya dia terjatuh.

Walaupun berhasil membuat Mike terkapar, tapi aku sadar aku sudah membuat kesalahan yang besar. Dan benar juga setelah peristiwa di parkiran itu, Mike dan teman-temannya dengan giatnya tak pernah berhenti menyiksa kami. Pertengkaran demi pertengkaran tak elak mewarnai kehidupan kami berdua saat itu. Pertengkaran yang aku pikir berakhir di masa SMA itu, justru sekarang tak kusangka, kembali menghantuiku.

Benar-benar sial! Entah kenapa aku harus terlibat pertengkaran dengan bocah ini dulu. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, pasti aku akan menghindar sejauh-jauhnya agar tak terlibat apapun yang ada sangkut pautnya dengan Michael Dharsono. Tapi semuanya sudah terlambat, bagaimana pun juga aku harus tetap berusaha untuk menutupi perkara ini dan mempertahankan pekerjaan ini sampai titik darah penghabisan! Mike atau monster apapun takkan bisa menghalangiku untuk mendapatkan pekerjaan ini!!!

***

Bab 3

"Kamu tuli ya?! Kamu nggak dengar kata-kataku?!" teriakannya menarikku kembali dari lamunan.

"Mike jangan kasar dong! Sebenarnya ada apa ini? Kalian saling kenal to?" tanya ibu Amelia seraya memandang bingung ke arah kami berdua.

Mati aku! Kalau sampai bos baruku tau aku musuh besar anaknya, aku bisa langsung didepak dengan tidak hormat alias dipecat. Masak belum juga kerja sudah dipecat. Kalau sampai terjadi, berarti ini termasuk rekor tercepat aku dikeluarkan dari pekerjaan. Tidak! Aku nggak boleh dikeluarkan lagi! Aku harus cari cara gimana keluar dari masalah ini. Pakai otakmu, Gina! Pikirkan cara apa saja! Atau... gimana kalau aku pakai cara ini aja. Belum tentu berhasil sih tapi lumayan patut dicoba.

"Bwahahaha... kamu masih inget aja panggilan akrabku, bro. Nggak nyangka ya bisa ketemu di sini. Ini rumahmu to? Kenapa bisa kebetulan begini ya?"seruku dengan kegirangan yang BERLEBIHAN seraya menepuk lengan Mike layaknya teman akrab yang sudah lama tak bertemu.

"Hei... kamu sinting ya?!"hardik Mike sambil mendorongku menjauh.

"Michael! Kamu kok kasar banget sih dari tadi!"

"Nggak apa-apa, bu. Mungkin Mike masih marah karna salah paham kami dulu,"jelasku sambil berusaha keras menampilkan ekspresi sedih.

"Ssalah paham? Teman?! Sejak kapan!"

"Jangan gitu Mike, masak gara-gara salah paham lantas kamu nggak mau menganggapku teman lagi?"seruku dengan suara yang syarat dengan duka nestapa.

"Sudahlah Mike! Kasihan kan temanmu. Toh cuma salah paham doang. Maafkan anak saya ya mbak Gina. Memang suka nggak bisa dibilangi."

Yes... akhirnya bu Amelia percaya dengan sandiwaraku!

"Mama ini gimana sih! Mama nggak tau kalau dia ini dulu-." Perkataannya terhenti ketika melihat ibu Amelia tiba-tiba terbatuk-batuk dan memuntahkan semua nasi di mulutnya. Dengan secepat kilat, Mike mengambil air minum dan meminumkannya dengan lembut ke mulut mamanya. Aku yang tidak pernah melihat sisi ini dari Mike sampai terbengong-bengong melihatnya.

"Uda baikan, ma?" Ibu Amelia hanya mengangguk sekilas. Perawatnya yang melihat muntahan di dada dan pangkuan bos ku, langsung membawa beliau ke kamar untuk dibersihkan.

Segera setelah mamanya pergi, Mike langsung berbalik kepadaku seraya berkata,"Berani benar kamu berbohong di depan mamaku! Sudah bosan hidup ya?!"

Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain. Aku segera mengatupkan kedua tanganku ke atas kepala sambil berseru,"Please Mike... sekali ini aja! Aku nggak mau dipecat lagi! Aku mohon kamu mau ngerahasiain permusuhan kita. Please...."

"Gila apa?! Nggak! Nggak sudi!"

Kali ini tidak hanya pose menyembah, aku pun langsung menjatuhkan lututku di lantai alias berlutut.

"Tolonglah, Mike! Kamu suruh apapun aku mau deh asalkan jangan kamu kasih tau bu Amelia tentang kita yang sebenarnya. Ayolah bantu aku sekali ini aja."

"Apa saja?"

"Ha?"sahutku bingung seraya mendongakkan kepalaku kearahnya.

"Kamu tadi bilang mau aku suruh apa saja asal aku nggak buka rahasia permusuhan kita ke mama. Apa benar kamu mau lakukan apa pun?"

Aku mengangguk perlahan.

"Oke aku setuju. Apapun yang terjadi aku nggak akan buka mulut dengan syarat kamu mau melakukan apa saja yang kupinta. Detik kamu menolak permintaanku, detik itu juga perjanjian kita batal. Aku akan langsung memberitahu mamaku semuanya dan membuatmu ditendang secepatnya dari sini."

Aku mengangguk kembali sambil berpikir keras kenapa perasaanku justru nggak enak padahal Mike sudah berjanji tidak akan membuka sejarah permusuhan kami kepada bosku.

"Tenang... aku nggak akan memperkerjakan kamu hari ini kok. Mulai besok saja kerjanya. Aku kan tuan yang baik."

"Memperkerjakan? Tuan? Maksudnya?"

"Iya aku Tuanmu. Kamu hamba yang akan melayaniku. Jadi selama kamu jadi sekertaris mamaku, kamu juga harus jadi hambaku. Bukankah kamu tadi bilang mau melakukan apapun. Apa namanya itu kalau bukan hamba. Kamu seharusnya merasa terhormat lho bisa jadi hambaku, yang lain malah mohon-mohon supaya aku jadikan hamba tapi aku nggak mau."

Wah... makin gila aja nih bocah. Jaman apa ini pakai perbudakan segala. Setelah kena pukul tasku sepuluh tahun yang lalu mungkin otaknya jadi rusak permanen.

"Aku memang bilang mau di suruh apa saja tapi ya bukan jadi hamba. Kalau jadi hamba kan-"

"Jadi kamu nggak mau nih. Ya uda kalo gitu. Maaaaa...."

Brengsek nih anak. Selalu saja jadi duri dalam kehidupanku.

"Oke... oke... aku mau."

"Nah... gitu dong! Kalau gitu sampai ketemu besok. Aku mau tidur dulu. Mau mempersiapkan diri untuk hari besok yang indah."

Tidur kok pagi-pagi. Vampire kali dia. Tidak! dia bukan vampire, dia IBLIS! Oh Tuhan kumohon semoga besok makhluk yang bernama Michael Dharsono segera menghilang dari muka bumi ini. Terserah mau melempar dia ke luar angkasa atau ke lubang hitam sekalian, yang penting besok aku tak bertemu dia lagi. Tidak mau pokoknya! Please...

***

Mike's point of view

Aku tidak suka orang jelek. Aku juga tidak suka orang gendut. Tapi yang paling membuatku muak adalah orang yang memiliki keduanya, jelek dan gendut.

Kalau bisa menjauh, aku akan menjauh sejauh mungkin dari orang-orang seperti itu. Aku nggak mau mereka merusak pemandangan di sekitarku.

Untunglah, tanpa harus dikomando pun mereka langsung tau diri dan sebisa mungkin tidak berada di dekatku. Sehingga hidupku jadi berjalan dengan indah dan menyenangkan.

Tapi itu semua jadi berantakan sejak aku bertemu perempuan GAJAH itu.

Aku rasa namanya Tina. Atau... mungkin Rina. Entahlah nggak jelas. Pokoknya sepertinya di antara kedua itu namanya. Tapi itu nggak penting. Dia gembrot dan jelek. Jadi lebih baik dipanggil gajah.

Awalnya dia datang dengan ekspresi sok imut dan menyodorkan coklat ke hadapanku. Terang saja aku bingung. Pertanyaan yang ada di otakku saat itu adalah; cewek ini bego atau pura-pura bego sih? Apa dia nggak tau kalau aku paling benci ngelihat cewek kayak dia di sekitarku? Ini malah pakai mau kasih coklat segala!

Dan gilanya... dia dengan percaya dirinya nembak aku, di depan banyak orang lagi.

Dasar nggak tau diri! Yang jauh lebih cantik dari dia saja, banyak yang sudah kutolak. Ini bukannya ngaca, malah berani-beraninya menyukaiku.

Ingin sekali aku menceramahinya saat itu. Biar dia sadar kalau cewek kayak dia sama sekali bukan levelku. Tapi akhirnya aku mengurungkan niatku. Aku takut kalau aku terlihat terlalu lama ngobrol dengan orang kayak dia, derajatku bisa turun. Apa kata orang nanti!

Memang sih itu bukan seratus persen kesalahannya. Pesonaku memang seringkali membuat cewek lupa diri dan berbuat segala cara agar aku perhatikan hahaha... Termasuk juga cewek gajah itu pastinya.

Aku masih ingat pipinya yang memerah dan matanya yang berlinangan air mata saat aku menolaknya. Tampaknya dia benar-benar menyukaiku.

Tapi sedikitpun aku nggak merasa kasihan. Menghadapi cewek kayak dia harus tegas. Karena kalau dibaikin nanti tambah merajalela, tambah ngelunjak! Terserah dia mau nangis kek, patah hati kek, aku nggak peduli. Salahnya sendiri! Siapa suruh melewati batas. Kalau jelek ya harusnya tau diri. Ini malah berani-beraninya melirikku.

Dan dari pengalamanku yang sudah-sudah, biasanya cewek-cewek yang sudah aku tolak, nggak bakalan berani menunjukkan batang hidungnya di depanku lagi. Bahkan ada beberapa dari mereka yang lari terbirit-birit kalau tak sengaja berpapasan denganku. Tentunya... kupikir Sang gajah pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan menurutku dia bakalan langsung pindah sekolah keesokan harinya.

Sialnya dugaanku meleset. Bukannya menjauh, lari terbirit-birit, atau pindah sekolah, dia malah dengan santainya menyambutku di parkiran dengan tampang tak berdosa sedikitpun. Dan dengan kejamnya pula dia mengomando teman-temannya untuk menganiaya sepeda motor kesayanganku.

Aku masih ingat betapa syoknya aku waktu itu. Tidak pernah ada sekalipun yang berani melawanku sebelumnya. Seberapa pun mereka membenciku, palingan mereka cuma menyumpahiku diam-diam. Tapi manusia gajah yang satu ini berani-beraninya menyentuh motor kesayanganku dan menyiksanya dengan kejamnya di hadapanku.

Padahal paginya dia masih pamer senyum dan pura-pura baik di depanku. Nggak taunya beberapa jam kemudian dia bisa berubah sadis dan menakutkan. Dasar gajah berkepribadian ganda!

Mulai saat itulah, kehidupanku yang aman dan tentram berubah seratus delapan puluh derajat. Setiap hari selalu diwarnai peperangan. Bagaimana tidak? Berkali-kali sudah aku dan teman-temanku memberi pelajaran pada mereka supaya kapok tapi malah nggak digubris. Yang ada malah mereka membalas kembali dengan pembalasan yang jauh lebih keji. Alhasil, masa-masa indah yang harusnya aku nikmati di SMA berubah menjadi rentetan memori yang memalukan.

Ratusan bahkan ribuan kali aku berharap agar suatu waktu aku dapat menemukan si gajah itu dan membalaskan dendamku. Well... rupanya keberuntungan sedang berpihak padaku. Tak perlu aku cari pun ternyata dia muncul sendiri di hadapanku.

Kini... saatnya dia merasakan pembalasanku!

Dengan langkah gontai, aku langsung masuk ke kamarku dan segera mengutak-atik laptopku. Rencanaku adalah membuat jaminan yang membuat pembalasan dendam ini berjalan lancar dan mengasyikkan.

Surat Perjanjian. Ya aku akan membuatkannya surat perjanjian. Dengan ini aku akan bisa mengontrol dan membuatnya menuruti perintahku sesuka hatiku. Detik dia menandatangani perjanjian ini, detik itu juga dia menjadi milikku. Menjadi hambaku.

Berbagai ide brilian memenuhi otakku. Semakin girang rasanya aku mengetikkan kata perkata yang akan membuat si gajah itu menderita nantinya. Aku tak peduli dibilang jahat atau tak berperasaan. Menurutku ini pantas, mengingat aku juga di buatnya setengah mati dulu.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED