POV Citra
Sore ini aku baru saja tiba di Rumah Sakit Husada tempatku bekerja. Ketika memasuki ruangan bersalin untuk pergantian shift, aku melihat semua rekan kerjaku terlihat sedih, terutama Dokter Ardian. Ia masih memakai APD (Alat Pelindung Diri) lengkap yang menempel pada tubuhnya dan duduk di samping seorang pasien yang aku duga sudah meninggal dunia.
Aku menaruh tasku di dalam loker lalu duduk berkumpul dengan rekan-rekan kerjaku untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Ada apa?” tanyaku pada Dewi seraya berbisik dan menyenggol sikunya.
“Istri Dokter Ardian meninggal dunia,” jawab Dewi dengan setengah berbisik.
Aku pun melebarkan kelopak mataku tanda terkejut. Pantas saja semua orang terlihat berduka.
“Apa bayinya selamat?” tanyaku lagi pada Dewi.
“Hm,” sahut Dewi dengan menunduk tanpa memandang ke arahku.
Aku pun merasa sedikit lega mendengarnya. Paling tidak Dokter Ardian tidak kehilangan keduanya.
Satu jam berlalu. Kami sudah melakukan pergantian shift dari pagi ke sore. Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sebagian orang mengurus jenazah istri Dokter Ardian. Sedangkan aku melakukan cek TTV (Tanda-tanda Vital) dari ruangan ke ruangan pada pasien yang sudah melahirkan tadi pagi.
Seusai memeriksa empat belas pasien, aku kembali ke ruang bersalin untuk menyalin hasil pemeriksaanku pada buku status pasien.
Sebelum mencatat, aku mencuci tangan pada wastafel yang tidak jauh dari meja kursi tempatku akan mencatat. Dari pantulan cermin yang ada di depanku, aku bisa melihat Dokter Ardian sangat terpukul sekali.
Aku ingin menyapanya dan mengucapkan rasa bela sungkawaku padanya, tapi aku takut karena dia tidak mengenalku. Aku baru satu bulan bekerja di sini setelah lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan jurusan Kebidanan.
Setelah mencuci tangan, aku melanjutkan pekerjaanku menulis laporan pada lembar status pasien. Ketika aku sedang menulis, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku pun terjingkat karena terkejut.
“A-ada yang bisa saya bantu, Dok?” tanyaku setelah melihat orang yang menepuk bahuku, yang ternyata adalah Dokter Ardian.
“Tolong belikan saya teh hangat di kantin!” ucap Dokter Ardian dengan lirih seraya menyerahkan uang dua puluh ribu padaku.
“Baik, Dok!” sahutku dengan tersenyum. Aku pun segera bangkit dari tempat dudukku dan meninggalkan pekerjaanku untuk pergi ke kantin sebentar.
Di kantin, sambil menunggu tehnya siap, aku mengambil beberapa roti juga. Aku yakin Dokter Ardian juga belum makan siang saat ini. Setelah membayar, aku pun segera kembali ke ruang bersalin.
“Ini pesanannya, Dok,” kataku seraya menaruh nampan berisi satu gelas teh hangat dan beberapa roti di atas meja yang ada depan Dokter Ardian. Tidak lupa uang kembalian juga kuletakkan di atas nampan itu.
Dokter Ardian menatap nampan itu lalu menatap ke arahku. “Aku tidak memesan roti,” ujarnya lalu meraih gelas berisi teh hangat dan meminumnya.
“Iya saya tahu, Dok, tapi Dokter juga harus makan. Anak Dokter membutuhkan Papanya. Jadi, Dokter juga harus punya tenaga untuk merawat dan menjaganya,” kataku memberanikan diri berkata seperti itu pada Dokter Ardian. Padahal jantungku sudah berdegup kencang karena merasa takut membantah atasan.
Dokter Ardian pun menatapku sekilas dan berkata, “Terima kasih.”
“Sama-sama, Dok. Kalau begitu saya permisi,” pamitku seraya perlahan menjauh dari Dokter Ardian untuk melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.
“Tunggu!” cegah dokter Ardian tiba-tiba menghentikan langkah kakiku.
Aku pun berbalik menatap Dokter Ardian. “Iya, Dok!” sahutku.
“Ikut saya ke ruang Perinatologi!” ajak Dokter Ardian seraya bangkit dari tempat duduknya.
Aku pun mengangguk dan mengekor di belakang Dokter Ardian. Entah kenapa dia mengajakku ke ruangan para bayi itu. Padahal banyak orang di ruangan ini yang bisa diajak ke sana.
Sesampainya di ruang Perinatalogi, Dokter Ardian segera mendekati wastafel untuk mencuci tangan. Aku pun melakukan hal yang sama. Memang seharusnya seperti itu yang harus dilakukan sebelum menyentuh bayi.
Setelah mencuci tangan, Dokter Ardian mendekati ranjang bayi yang bertuliskan nama “By. Ny. Nadia Rahayu”. Nadia Rahayu adalah nama istri Dokter Ardian. Dokter Ardian mengulurkan tangan lalu mengangkat tubuh bayi itu dan mendekapnya di dada. Kulihat bayi laki-laki itu sangat tampan seperti Dokter Ardian. Aku bisa mengetahui jenis kelaminnya dari gelang warna biru yang ada di pergelangan tangannya.
Kulihat Dokter Ardian mendekap bayi itu dengan tubuh bergetar dan mata terpejam. Tidak lama kemudian tetesan bulir bening mengalir dari pelupuk matanya. Isak tangis pun mulai terdengar. Aku tahu apa yang dirasakan Dokter Ardian saat ini. Sedih dan sakit karena kehilangan orang yang dicintainya. Mataku pun berkaca-kaca melihatnya.
Setelah beberapa menit, Dokter Ardian menurunkan bayinya dan membaringkannya kembali di ranjangnya. Seusai mengusap air matanya, Dokter Ardian memandangku cukup lama. Kulihat ia tampak berpikir.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Dokter Ardian padaku tiba-tiba.
Aku pun terkejut dan menjawabnya dengan gugup. “Rumah kos depan rumah sakit, Dok.”
“Nanti malam kemasi semua barang kamu. Mulai besok tinggallah di rumah saya untuk menjaga anak saya,” ujar Dokter Ardian kemudian.
“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya di sini, Dok?” tanyaku dengan ragu. Aku baru saja lulus kuliah. Masih banyak yang harus aku pelajari di rumah sakit yang tidak aku dapatkan di bangku kuliah.
“Kamu bisa mengundurkan diri. Saya akan membayar kamu lebih dari yang kamu dapatkan di rumah sakit ini,” balas Dokter Ardian.
“Baik, Dok!” sahutku setuju tanpa berpikir panjang lagi. Saat ini, memang aku sangat membutuhkan banyak uang. Aku ingin membahagiakan Ibuku yang sudah membiayai kuliahku selama ini.
Hari pun semakin malam. Setelah bergantian dengan pegawai shift malam, aku pun kembali ke kosku yang berada di seberang rumah sakit.
***
POV Dokter Ardian
Hari ini aku merasa sangat bahagia ketika mendengar kabar bahwa istriku akan melahirkan. Akupun mempercepat kegiatanku di dalam ruang operasi. Untungnya, itu adalah jadwal operasiku yang terakhir. Aku pun segera bergegas ke ruang bersalin yang bersebelahan dengan ruang operasi di mana istriku tengah berjuang melahirkan anak kami setelah kegiatan operasi selesai.
Namun, ketika aku sampai di ruang bersalin, aku melihat istriku sudah tidak bernyawa lagi di atas tempat tidur.
“APA YANG TERJADI?!” tanyaku pada semua orang yang ada di ruangan itu dengan suara lantang. Kuedarkan pandanganku pada semua orang yang tengah tertunduk tidak berani menatapku, apalagi menjawab pertanyaanku.
“Terjadi emboli ketuban, Dok!” sahut Bidan Titik, salah satu Bidan senior yang membantu persalinan istriku.
Akupun segera menatap Bidan Titik yang berdiri tidak jauh dari ranjang istriku. Terlihat sekali kalau dia menjawab pertanyaanku dengan ketakutan.
“Emboli,” gumamku lirih dengan memejamkan mata.
Aku pun mendekat ke arah istriku yang tidak bergerak di atas tempat tidur. Aku meraih tangannya dan mengecup punggung tangan itu. Air mata tiba-tiba keluar dari pelupuk mataku.
Kenapa? Itulah pertanyaan yang ada di benakku saat ini. Kenapa harus istriku yang mengalami ini? Aku seorang Dokter Kandungan yang setiap hari memeriksa puluhan orang hamil dan membantu belasan orang melahirkan, tapi kenapa aku tidak bisa menyelamatkan istriku sendiri?
Aku merasa menjadi dokter yang tidak berguna. Percuma aku menjadi Dokter Kandungan kalau tidak bisa menyelamatkan istriku sendiri.
Nasi sudah menjadi bubur. Istriku sudah pergi untuk selama-lamanya. Meskipun aku seorang dokter, tetap saja aku tidak bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah mengikhlaskannya agar dia tenang di alam sana.
‘Maafkan aku, Sayang,’ gumamku dalam hati sambil menatap wajah istriku yang semakin pucat.
Pergantian shift pun berlalu. Aku masih termenung meratapi kepergian istriku. Rasanya aku masih belum percaya ia pergi secepat ini. Biasanya ia akan tersenyum hangat padaku ketika aku pulang dari rumah sakit. Kini ia sudah pergi untuk selamanya.
Aku pun merasa haus karena sedari tadi belum minum atau makan apa pun. Kulihat semua orang tengah sibuk mengurus jenazah istriku. Hingga akhirnya tatapanku tertuju pada seorang bidan muda sedang menulis laporan. Aku pun menghampirinya dan menepuk bahunya.
“A-ada yang bisa saya bantu, Dok?” tanyanya padaku. Tampak sekali kalau ia sangat terkejut.
“Tolong belikan saya teh hangat di kantin!” pintaku dengan lirih seraya menyerahkan uang dua puluh ribu padanya. Gadis itu pun setuju dan pergi ke kantin.
Tidak berapa lama kemudian gadis itu kembali dari kantin. “Ini pesanannya, Dok,” katanya seraya menaruh nampan berisi satu gelas teh dan beberapa roti di atas meja yang ada di depanku.
“Aku tidak memesan roti,” ujarku ketika melihat roti di samping teh itu. Karena sudah merasa sangat haus, aku pun meraih gelas berisi teh hangat itu dan meminumnya.
“Iya saya tahu, Dok, tapi Dokter juga harus makan. Anak Dokter membutuhkan Papanya. Jadi, Dokter juga harus punya tenaga untuk merawat dan menjaganya,” tuturnya padaku.
Akupun menatapnya. Aku bisa melihat ketulusannya. “Terimakasih,” ucapku padanya kemudian.
“Sama-sama, Dok. Kalau begitu saya permisi,” pamitnya.
“Tunggu!” ujarku tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
Gadis itu pun berbalik dan menatapku. “Iya, Dok!” sahutnya.
“Ikut saya ke ruang Perinatologi!” ajakku. Tiba-tiba aku ingin melihat anakku dan mengajak gadis itu.
Sesampainya di ruang Perinatalogi, aku mencuci tangan di wastafel sebelum menyentuh anakku.
Setelah mencuci tangan, aku mendekati ranjang di mana anakku berada. Aku menatapnya lalu mengangkat tubuhnya dan mendekapnya di dadaku. Dia sangat tampan. Andai istriku masih hidup, mungkin ia akan sangat bahagia saat ini. Lagi-lagi dadaku terasa sesak saat mengingat almarhumah istriku yang baru saja meninggal dunia beberapa jam yang lalu. Air mataku pun tak bisa terbendung lagi.
Setelah menidurkan bayiku dan mengusap air mataku, aku pun menatap gadis itu. Tiba-tiba terbesit di pikiranku meminta gadis itu untuk menjadi pengasuh anakku.
Untungnya dia langsung setuju setelah aku menawarkan gaji yang lebih besar dari gajinya di rumah sakit. Bagaimanapun aku harus tetap bekerja untuk menghidupi dan membahagiakan anakku. Karena istriku sudah tiada, mau tidak mau aku harus memperkerjakan seorang pengasuh. Aku rasa dia orang yang tepat karena terlihat belum menikah. Jadi ia bisa fokus mengurus anakku tanpa harus mengurus suami dan anaknya di rumah.
***
Pov Author
Keesokan harinya
Pagi ini adalah hari pemakaman almarhumah istri Dokter Ardian. Setelah beberapa orang pelayat meninggalkan pemakaman, Dokter Ardian masih berjongkok di samping makam mendiang istrinya.
“Ayo kita pulang, Yan!” ajak Pak Aryo, Papanya Dokter Ardian.
“Papa pulang dulu saja. Ardian masih ingin di sini,” sahut Dokter Ardian tanpa menoleh pada Pak Aryo yang berdiri di sampingnya.
“Baiklah kalau begitu,” tukas Pak Aryo lalu pergi meninggalkan Dokter Ardian. Ia tahu bagaimana perasaan Dokter Ardian saat ini.
“Tenanglah di sana, Sayang. Aku akan menjaga anak kita,” ucap Dokter Ardian seraya membelai batu nisan yang ada di depannya.
Setelah beberapa saat, Dokter Ardian bangkit dan menoleh ke makam mendiang istrinya sebelum pergi. Usai itu ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke rumah sakit untuk menjemput anaknya.
***
Kos Citra
Citra sedang mengecek barang-barangnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Tidak lama kemudian ponselnya berdering. Ia pun meraih ponselnya yang berada di atas tempat tidur.
“Siapa yang telepon?” gumam Citra dengan mengernyitkan keningnya saat melihat nomor tak dikenal pada layar ponselnya. Namun, ia tetap menggeser tombol hijau pada layar benda pipih itu untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.
“Hallo ...,” sapa Citra dengan pelan.
“Di mana kamu?” tanya seseorang di seberang telepon dengan tegas.
Citra pun membelalakkan matanya lantaran terkejut saat mendengar suara Dokter Ardian. Saking terkejutnya, ponselnya sampai terjatuh ke lantai.
“Di kos, Dok!” jawab Citra dengan gugup setelah mengambil ponselnya kembali.
“Cepat ke rumah sakit!” seru Dokter Ardian lalu memutuskan sambungan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Citra terlebih dahulu.
Citra pun mendengus pelan ketika melihat sambungan teleponnya sudah mati. Dengan segera ia membawa tas berisi barang-barangnya menuju rumah sakit. Untungnya tadi pagi ia sudah berpamitan pada pemilik kos. Sehingga ia tidak perlu berpamitan lagi.
Sesampainya Citra di rumah sakit, Dokter Ardian sudah menunggunya di depan ruang Perinatologi.
“Ayo masuk!” ajak Dokter Ardian tanpa menunggu Citra bernapas sebentar karena berjalan cepat menuju rumah sakit dengan membawa tas besar.
Mau tidak mau Citra pun mengekor di belakang Dokter Ardian. Tidak lama kemudian mereka keluar dengan bayi di gendongan Dokter Ardian.
Di dalam mobil, Citra duduk di samping Dokter Ardian dengan memangku anak Dokter Ardian. Selama perjalanan menuju rumah Dokter Ardian, tidak ada percakapan di antara mereka. Dokter Ardian pun fokus mengemudi hingga sampai di rumah.
Sesampainya mereka di rumah Dokter Ardian, para keluarga menghambur keluar rumah untuk menyambut anak Dokter Ardian. Mereka sudah tidak sabar untuk segera menggendongnya.
“Jangan menyentuhnya sebelum mencuci tangan!” seru Dokter Ardian setelah keluar dari dalam mobil. Setelah itu ia membuka pintu yang ada di samping Citra lalu mengangkat anaknya dari pangkuan Citra dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Citra pun buru-buru mengambil tasnya yang ada di kursi belakang lalu mengekor di belakang Dokter Ardian.
Ketika Dokter Ardian memasuki ruang tamu, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Pemilik sepasang mata itu pun tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan mengikuti Dokter Ardian.
“Kak!” sapa pemilik sepasang mata itu.
Dokter Ardian pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah sumber suara.
“Apa?” sahut Dokter Ardian dengan jutek.
Orang itu pun tersenyum dan memandang mata Dokter Ardian.
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya Kak Nadia,” ucap orang itu yang tidak lain adalah Widia, adik kandung Nadia Rahayu.
“Terima kasih,” balas Dokter Ardian datar.
“Kalau butuh teman atau apa, Kak Ardian bisa menghubungi aku. Aku akan selalu ada untuk Kakak,” ujar Widia seraya menatap sinis pada Citra.
Citra yang ditatap seperti itu tentu saja merasa takut dan segera menundukkan kepalanya.
Dokter Ardian tidak menanggapinya dan berlalu pergi. Citra pun mengikuti ke mana Dokter Ardian pergi.
Widia merasa dongkol karena Dokter Ardian tidak menyambutnya dengan hangat. Sedari dulu ia sudah mengincar Dokter Ardian, tapi sayangnya Dokter Ardian lebih memilih Nadia dari pada dirinya.
“Sebentar lagi aku akan mendapatkanmu Ardian Raditya!” gumam Widia dengan percaya diri dan tersenyum miring.
Sementara itu Dokter Ardian masuk ke dalam sebuah kamar di lantai dua. Kamar itu sangat luas dan sudah didesain seperti kamar anak-anak. Di dalam kamar itu terdapat tempat tidur besar, box bayi, mainan, dan semua keperluan bayi ada di dalam kamar itu. Dokter Ardian dan istrinya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan kamar itu untuk menyambut kelahiran buah hati mereka.
“Ini kamarmu. Semua keperluan bayi sudah tersedia,” tutur Dokter Ardian setelah menidurkan bayinya pada box bayi.
“Baik, Dok!” balas Citra patuh.
“Kalau ada yang kurang, kamu bisa bilang pada saya. Dan kalau kamu butuh sesuatu atau apa saat saya tidak ada, kamu bisa minta pada Bik Yati di dapur,” lanjut Dokter Ardian lalu pergi dan menutup pintu kamar Citra.
Usai Dokter Ardian menutup pintu, mata Citra pun memindai sekeliling kamar itu. Kamar itu lebih besar dari pada kamar kos Citra. Setelah itu Citra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Hm … nyaman sekali,” gumam Citra seraya membelai kasurnya.
***
Malam hari
Semua tamu, tetangga, dan keluarga sudah pulang setelah pengajian pembacaan tahlil dan surat Yasin di rumah Dokter Ardian. Dokter Ardian masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Kemudian ia meraih foto mendiang istrinya yang ada di atas nakas.
“Kenapa kamu pergi secepat ini?” gumam Dokter Ardian seraya membelai foto mendiang istrinya yang tengah tersenyum.
Kenangan saat mereka pertama kali bertemu pun melintas kembali di ingatan Dokter Ardian. Saat itu Nadia danWidia tengah berjalan di pinggir jalan seusai jalan-jalan pagi pada hari Minggu.
Tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang melaju dengan sangat kencang dan menyerempet mereka. Kebetulan Nadia berada di sebelah kanan. Hingga akhirnya Nadia pun terjatuh. Dokter Ardian yang melihat kejadian itu segera menghampiri mereka dan menolongnya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Dokter Ardian seraya membantu Nadia berdiri.
“Tidak apa-apa. Terima kasih,” balas Nadia seraya mendesis karena merasakan perih pada sikunya.
“Siku kamu berdarah,” ucap Dokter Ardian ketika melihat siku Nadia terluka.
“Tidak apa-apa. Hanya lecet sedikit,” sahut Nadia dengan meringis menahan perih.
Widia pun tertegun ketika memandang Dokter Ardian. Ia terpesona pada Dokter Ardian. Tidak hanya tampan, Dokter Ardian juga sangat perhatian. Sampai-sampai ia lupa untuk menolong Nadia.
Dari situlah awal perkenalan mereka. Dan dari situlah tumbuh perasaan cinta di hati Widia pada Dokter Ardian. Sayangnya, Dokter Ardian lebih tertarik pada Nadia dari pada Widia.
Di saat Dokter Ardian tengah mengenang awal pertemuannya dengan Nadia, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Dokter Ardian pun segera menaruh kembali foto Nadia di atas nakas. Kemudian ia bergegas keluar dari kamarnya menuju kamar Citra yang berada di samping kamarnya. Dokter Ardian dan Nadia memang sengaja menyiapkan kamar calon anaknya di samping kamar mereka.
Ketika sampai di depan pintu kamar Citra, Dokter Ardian segera membuka pintu kamar itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Kebetulan Citra juga tidak mengunci pintu kamarnya.
Citra pun terkejut saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia segera menoleh pada pintu kamarnya dan tampaklah Dokter Ardian berdiri di sana.
“Kenapa dia menangis?” tanya Dokter Ardian sembari berjalan mendekat ke arah Citra lalu mengambil alih bayi itu dari tangan Citra.
“Mungkin dia merindukan Mamanya, Dok,” jawab Citra dengan ragu. Sedari tadi ia sudah berusaha merawat dan menjaga anak Dokter Ardian agar tidak sampai menangis kencang.
“Apa kamu sudah mengganti popoknya?” tanya Dokter Ardian seraya meraba diapers yang dipakai anaknya.
“Sudah, Dok. Bahkan susu pun baru saja ia habiskan,” jawab Citra menjelaskan.
Dokter Ardian pun berusaha menenangkan bayi itu dengan menimang-nimangnya. Namun, hasilnya nihil. Ia pun berpikir bagaimana caranya membuat bayi itu berhenti menangis. Tiba-tiba terbesit sebuah ide yang mungkin bisa dikatakan ide gila, tapi apa salahnya mencoba, pikir Dokter Ardian.
“Coba susui dia,” ujar Dokter Ardian seraya mendekati Citra.
“Apa, Dok? Susui?” ulang Citra untuk memastikan ia tidak salah dengar dengan mengerutkan keningnya.
“Iya. Mungkin dia pengen nenen,” balas Dokter Ardian seraya memberikan bayinya pada Citra.
“Tapi, Dok, saya kan bukan ibunya. Saya juga tidak punya ASI,” tutur Citra berusaha menolak permintaan Dokter Ardian. Bagaimana pun ia masih perawan. Tubuhnya belum pernah dijamah siapapun. Masa iya, bayi Dokter Ardian yang akan menjamah tubuhnya untuk pertama kalinya. Tentu saja ia tidak rela. Apalagi bayi itu bukan anaknya.
Karena tangisan bayi itu semakin keras, Dokter Ardian pun segera meraih kancing atas piama Citra untuk segera membukanya. Ia tidak tega melihat anaknya menangis seperti itu.
“Dokter!” jerit Citra seraya menepis tangan Dokter Ardian dengan kasar dari dadanya.
Dokter Ardian pun melihat tangannya sendiri yang ditepis Citra. Ia menyesal telah berlaku kurang ajar pada Citra.
“Maaf,” ucap Dokter Ardian dengan pasrah dan menundukkan kepalanya.
Citra pun mengerti dan menyesal karena sudah berteriak pada Dokter Ardian.
“Saya akan melakukannya, tapi tolong Dokter keluar dulu dari kamar ini,” tutur Citra akhirnya mengalah. Ia juga tidak tega melihat bayi itu menangis terus menerus.
“Oke, baiklah. Kalau kamu butuh bantuan apapun, kamarku ada di sebelah kamar ini,” ujar Dokter Ardian lalu keluar dari kamar Citra dan menutup pintunya.
Setelah Dokter Ardian keluar dari kamarnya, Citra membuka kancing atas piamanya dan mengeluarkan buah dadanya. Meskipun agak ragu, ia akan mencoba menyusui bayi itu untuk pertama kalinya. Memang tidak mengeluarkan ASI, paling tidak bayi itu bisa mengempeng tanpa kembung dan kekenyangan.
Tidak lama kemudian tangisan bayi itu sudah tidak terdengar lagi. Dokter Ardian yang berdiri di depan pintu kamar Citra pun tersenyum dan merasa lega. Setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya kembali.
Sementara itu Citra di dalam kamarnya sedang menyusui bayi Dokter Ardian dengan menahan sakit karena bayi itu menyedotnya dengan sangat kuat.
“Cepat tidur ya, Sayang …,” gumam Citra seraya membelai kepala bayi itu. Ia merasa kasihan pada bayi itu karena sejak lahir sudah tidak bisa melihat wajah Ibunya.
***
Keesokan harinya
Pagi-pagi sekali Widia sudah datang ke rumah Dokter Ardian dengan membawa banyak belanjaan di tangannya. Kemudian ia menuju dapur untuk memasak sebelum Dokter Ardian turun ke lantai bawah untuk sarapan.