Pagi itu, matahari bersinar lembut menembus tirai kamar Marissa, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di lantai kayu yang bersih. Marissa menarik selimut lebih rapat, mencoba menahan rasa malas yang aneh menghantuinya. Hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan; undangan pesta keluarga besar dari pamannya menunggu, dan Marissa, sebagai cucu kesayangan keluarga, tentu harus hadir.
Ia menatap bayangan dirinya di cermin. Rambut cokelat panjangnya tergerai sempurna, wajahnya yang cantik tanpa cela tersenyum sendiri. "Semua akan baik-baik saja," gumamnya sambil merapikan gaun berwarna peach yang baru ia beli semalam.
Namun, hatinya gelisah. Beberapa hari terakhir, rumor tentang dirinya yang beredar di kalangan kerabat membuatnya tak nyaman. "Hanya khayalan mereka," ia menenangkan diri. Tapi entah kenapa, perasaan tak enak itu sulit hilang.
Di luar kamar, terdengar langkah cepat Hendra, sopir pribadinya. Ia datang dengan setelan sederhana-kemeja putih, celana hitam rapi, dan senyum canggung yang selalu membuat Marissa merasa ada jarak di antara mereka.
"Hendra, kau sudah siap?" suara Marissa terdengar ramah tapi sedikit gugup.
Hendra menunduk, tangan kanannya memegang setumpuk amplop undangan yang sudah dikemas rapi. "Iya, Bu Marissa. Semuanya sudah siap. Mobil juga sudah di parkiran." Ia ragu-ragu sejenak, kemudian menambahkan, "Tapi... tadi pagi ada telepon dari keluarga. Mereka... mereka ingin memastikan semuanya aman."
Marissa mengangkat alis. "Aman? Maksudmu?"
Hendra menghela napas panjang. "Ah... tidak apa-apa, Bu. Hanya mereka ingin... memastikan tidak ada kesalahan." Ia menunduk lagi, seolah menyesal karena tidak bisa menjelaskan lebih banyak.
Marissa menggigit bibir. Ada sesuatu yang tidak benar, tapi ia menepisnya. "Baiklah, Hendra. Mari kita pergi."
Mereka berangkat dengan mobil hitam panjang yang biasanya digunakan keluarga. Jalanan Jakarta pagi itu sudah mulai padat, tapi Marissa menikmati perjalanan dengan menatap pemandangan di luar. Gedung tinggi, lalu lintas yang padat, pedagang kaki lima-semuanya seperti panggung di mana ia hanya bisa menjadi penonton.
Saat mobil berhenti di depan rumah pamannya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Marissa, yang terburu-buru keluar, menabrak seorang wanita tua yang membawa sekantong belanjaan. Wanita itu terjatuh, barang-barangnya berserakan di trotoar.
"Oh, maafkan saya!" Marissa cepat-cepat menolong. Tapi sebelum ia sempat mengangkat barang-barang itu, beberapa kerabat yang sudah menunggu di depan rumah pamannya menatapnya dengan mata penuh tuduhan.
"Kau... Marissa? Apa yang kau lakukan?!" teriak salah satu sepupunya.
Marissa bingung. "Aku... aku hanya menolong...."
"Cukup! Semua orang sudah melihat sendiri," interupsi seorang paman dengan nada tegas. "Ini... ini tidak bisa dibiarkan."
Seketika, Marissa merasa dunianya runtuh. Apa yang terjadi? Mengapa mereka begitu marah?
Dan di tengah kekacauan itu, keputusan yang mengerikan muncul: sebagai "solusi cepat" agar skandal tidak melebar, Marissa harus menikah dengan Hendra, sopir pribadinya sendiri.
Marissa menatap Hendra, yang tampak canggung dan menunduk. Hendra bukanlah pria yang pernah ia bayangkan akan menjadi pasangan hidupnya. Wajahnya biasa, tak ada ketampanan luar biasa, dan aura yang dimilikinya lebih sederhana dari apa pun yang ia kenal.
"Apa kau gila?!" Marissa menjerit, suaranya pecah karena campuran marah dan panik. "Ini tidak adil! Aku tidak mau menikah denganmu!"
Hendra menatapnya dengan mata sayu. "Bu Marissa... aku tidak punya pilihan. Dan... aku tidak ingin ini juga. Tapi... ini keputusan keluarga."
Hati Marissa hancur. Ia merasa dikhianati oleh dunia yang ia kenal, oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Tangisnya pecah di depan semua orang, tapi tidak ada yang peduli.
Malamnya, setelah semua tamu pergi, Marissa duduk di kamar sendirian. Tangannya gemetar, matanya merah karena menangis. Hendra mengetuk pintu perlahan, masuk dengan langkah hati-hati.
"Bu Marissa... aku tahu ini sulit," katanya pelan. "Aku juga tidak ingin ini, tapi... kita harus melewati ini bersama."
Marissa menatapnya tajam. "Bersama? Kau pikir aku bisa menerima ini begitu saja? Aku... aku tidak ingin hidup seperti ini!"
Hendra menunduk. "Aku mengerti... tapi aku akan mencoba membuatmu merasa nyaman. Aku akan... berusaha menjadi suami yang baik."
Marissa terdiam. Kata-kata itu seperti angin dingin yang menghantam hatinya. Ia tidak yakin bisa mempercayai Hendra, tapi ada satu hal yang jelas: hidupnya sekarang telah berubah selamanya.
Malam itu, Marissa menangis di bawah cahaya lampu kamar yang temaram. Setiap air mata adalah kesedihan atas mimpi-mimpi yang hancur, atas hidup yang tiba-tiba terasa seperti perangkap. Ia tahu, perjalanan ini akan panjang, menyakitkan, dan penuh ujian. Dan di ujung jalan itu, siapa yang tahu apakah ia akan menemukan kebahagiaan atau hanya kepedihan.
Di luar jendela, Hendra menatap bulan dengan ekspresi berat. Ia tahu perannya bukan hanya sebagai sopir atau suami yang dipaksa, tapi sebagai seseorang yang harus menanggung luka hati orang yang dicintainya-meskipun orang itu belum tentu mau mencintainya kembali.
Dan di sanalah mereka, dua orang yang berbeda dunia, dipaksa bersatu oleh sebuah kesalahpahaman. Satu kesalahan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Pagi berikutnya, Marissa terbangun dengan kepala pusing. Malam sebelumnya terlalu berat-tangisannya masih meninggalkan bekas di pipinya. Ia menatap langit-langit kamarnya, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya terasa kosong. Setiap detik terasa seperti hukuman.
Di luar kamar, terdengar suara ketukan pelan. Hendra.
"Bu Marissa... sarapan sudah siap," suaranya terdengar lembut, berbeda dari biasanya. "Aku juga sudah menyiapkan pakaian untuk hari ini."
Marissa menatap pintu dengan mata setengah marah, setengah lelah. "Aku tidak butuh semuanya, Hendra. Biarkan aku sendiri."
Hendra mengangguk perlahan. "Baik, Bu. Tapi aku akan tetap di luar. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku saja."
Marissa mendesah dan kembali menatap langit-langit. Ia tahu Hendra hanya ingin membantu, tapi hatinya belum siap untuk menerima keberadaan pria itu di hidupnya. Menikahinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya-setidaknya, itulah yang ia rasakan saat ini.
Beberapa jam kemudian, Marissa harus bersiap menghadiri pesta resmi pertama mereka sebagai pasangan. Gaun yang dipilih keluarga tampak indah, tapi baginya itu hanya penjara. Hendra menunggu di sampingnya, mengenakan setelan sederhana tapi rapi. Pandangan mereka bertemu, dan ada ketegangan yang sulit diurai.
"Marissa... aku tahu ini sulit," Hendra memulai. "Tapi aku ingin... kita mencoba. Hanya... mencoba."
Marissa menatapnya tajam. "Mencoba? Kau pikir aku bisa mencintai orang yang dipaksakan menikah denganku hanya karena kesalahan orang lain?"
Hendra menunduk, wajahnya merah. "Aku tidak minta kau mencintaiku. Aku hanya ingin kau merasa nyaman. Sedikit saja. Itu cukup untukku."
Marissa terdiam. Kata-kata Hendra sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat hatinya bergetar meskipun ia tidak mau mengakuinya. Namun, ia tetap keras.
"Tidak. Aku tidak bisa nyaman denganmu. Aku tidak pernah memintamu. Dan aku... aku benci ini!"
Hendra menelan ludah, menahan rasa sakit di hatinya. Ia tahu ia harus sabar. Menjadi suami Marissa bukan hal yang mudah. Tapi ia bertekad, meski berat, untuk menjaga wanita ini.
Mobil melaju menuju rumah pamannya Marissa. Jalanan Jakarta terasa lebih ramai dari biasanya. Marissa menatap luar jendela, hatinya campur aduk. Ia merasa terjebak, tidak hanya oleh pernikahan yang dipaksakan, tapi juga oleh pandangan orang-orang yang selalu menghakimi.
Begitu mereka tiba, kerabat sudah menunggu. Mata semua orang tertuju pada mereka. Marissa merasakan tekanan yang luar biasa. Beberapa sepupu menatapnya sinis, beberapa paman dan bibi berbicara berbisik. Semua itu membuatnya semakin marah.
"Marissa, kau harus tersenyum!" seru salah satu sepupunya sambil menatap Hendra. "Dan kau... jangan hanya diam! Kau suaminya sekarang, tunjukkan sedikit kejantanan!"
Hendra tersenyum canggung. "Aku hanya ingin memastikan Bu Marissa nyaman," jawabnya pelan.
Marissa menatapnya, ingin menampar pria itu-tapi ia menahan diri. Terkadang, ketenangan Hendra membuatnya bingung, bahkan mengganggu. Ia merasa tersiksa oleh perasaannya sendiri.
Pesta berlangsung dengan penuh ketegangan. Semua mata tertuju pada Marissa dan Hendra. Setiap langkah mereka diiringi bisik-bisik dan pandangan menghakimi. Marissa merasa seperti boneka yang dikendalikan orang lain, sementara Hendra mencoba sebisa mungkin membuatnya merasa aman.
Di tengah pesta, seorang kerabat mengangkat topik yang membuat Marissa panas dingin. "Marissa, bagaimana rasanya menikah dengan Hendra? Kau pasti sangat... terkejut, ya?"
Marissa menatap mereka, hatinya berdebar. "Ini bukan hal yang bisa kubicarakan dengan santai," jawabnya dingin.
Hendra menepuk punggungnya pelan. "Biarkan mereka. Kita tidak perlu menjawab semua pertanyaan."
Namun, pertanyaan itu terus datang. Beberapa tamu bahkan berbisik tentang betapa jeleknya Hendra, membuat Marissa semakin marah dan merasa dipermalukan. Hati kecilnya memberontak, tapi ia tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ketika pesta hampir selesai, Marissa memutuskan untuk keluar sejenak, berjalan di halaman belakang yang luas. Udara malam yang sejuk sedikit menenangkan hatinya. Hendra menyusul, tetap di jarak yang sopan.
"Kenapa kau harus begitu... baik padaku?" tanya Marissa tiba-tiba, suaranya rendah.
Hendra menatapnya. "Karena aku tidak bisa membiarkan orang yang dipaksa menikah denganku menderita. Setidaknya, aku bisa membuat satu hal lebih ringan. Itu saja."
Marissa diam. Kata-katanya menyentuh sesuatu di hatinya yang selama ini ia coba tutupi: bahwa Hendra, meski biasa dan tampak jelek menurut standar dunia, memiliki kebaikan yang tulus. Ia mulai menyadari, bahwa ketulusan itu adalah hal yang belum pernah ia hargai.
Malam itu, setelah pesta selesai dan mereka kembali ke rumah, Marissa duduk sendiri di balkon. Matanya menatap bintang di langit, hati masih penuh amarah, tapi ada sedikit rasa penasaran yang sulit ia jelaskan.
Hendra berdiri di dekatnya, menunduk pelan. "Aku akan menunggu... selama kau membutuhkanku. Tidak lebih."
Marissa menarik napas panjang. Kata-kata itu sederhana, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat hatinya tidak sepenuhnya menolak. Ia merasa, mungkin-hanya mungkin-perjalanan ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan.
Namun, di balik semua itu, ancaman lain sudah mengintai: desas-desus dari keluarga, gosip teman-teman, dan rahasia yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Semua itu bisa merusak segalanya, kapan saja.
Dan di sanalah mereka-dua orang yang berbeda dunia, terpaksa hidup bersama oleh sebuah kesalahan yang mengubah jalan hidup mereka. Perasaan Marissa masih campur aduk antara kebencian, kesedihan, dan sedikit penasaran terhadap pria di sampingnya.
Hendra tahu, perjalanan mereka masih panjang. Dan ia siap menghadapi apa pun demi menjaga wanita ini-meskipun hatinya sendiri terluka, meskipun dunia tidak pernah memberi mereka kesempatan.
Pagi itu, Marissa membuka jendela kamarnya dengan perasaan campur aduk. Udara segar masuk ke dalam ruangan, tapi tidak mampu menyingkirkan rasa penyesalan dan amarah yang masih bersarang di hatinya. Selama seminggu terakhir, hidupnya benar-benar berubah. Ia kini bukan lagi Marissa yang bebas dan mandiri, melainkan seorang wanita yang dipaksa menikah dengan pria yang tak pernah ia pilih.
Ia memutuskan hari itu untuk berjalan-jalan sendiri, mencoba menenangkan pikiran. Tanpa memberi tahu Hendra, ia mengenakan jaket panjang, sepatu nyaman, dan membawa tas kecil. Jalanan di sekitar kompleks rumah keluarga Marissa cukup ramai, tapi Marissa lebih memilih melewati jalan kecil yang sepi. Setiap langkah terasa berat; setiap wajah yang ia lewati seolah menatap dan menilai kehidupannya yang kini kacau.
Di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut jalan, Marissa duduk sendirian sambil memandangi secangkir kopi hangat. Di antara hiruk-pikuk lalu lintas dan suara percakapan, ia merasa sedikit lega. Ini pertama kalinya sejak menikah, ia bisa bernapas tanpa merasa diawasi.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Dari pintu kafe, seorang wanita muda menatapnya penuh selidik. “Hei… Marissa, kan? Aku dengar kau… menikah?” Suara itu terdengar sinis.
Marissa menatapnya dengan dingin. “Ya. Ada urusan?”
Wanita itu tertawa kecil, lalu duduk di meja dekatnya, seolah sengaja ingin memancing konfrontasi. “Aku cuma penasaran. Kau pasti merasa terkejut ya? Suamimu… cukup… biasa, kan?”
Marissa menatap secangkir kopinya, menenangkan diri sebelum menjawab. “Kalau maksudmu penampilan, itu urusan pribadiku.”
Wanita itu tersenyum penuh kemenangan. “Ah, aku cuma ingin melihat bagaimana kau menghadapi kenyataan. Kau pasti kesal, ya?”
Marissa menatapnya tanpa sepatah kata pun. Ia tahu, percakapan ini hanya akan membuat gosip berkembang lebih cepat. Ia memutuskan untuk meninggalkan kafe itu, tapi wanita itu mengikuti.
Di luar, Marissa mulai berjalan cepat, mencoba menghindari kejaran sang wanita. Ia merasa ketakutan—bukan hanya karena pria itu, tapi juga karena kebebasan yang baru ia dapatkan bisa hilang begitu saja.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Marissa menoleh dan melihat Hendra, yang tampak lelah tapi tegas. “Bu Marissa… kau sendirian? Kenapa tidak memberitahuku?”
Marissa menatapnya, campuran marah dan lega. “Aku hanya ingin keluar sebentar. Tidak ada yang perlu kau urus.”
Hendra menatapnya dalam-dalam. “Aku mengerti, tapi aku tidak bisa membiarkan orang lain mengganggumu.”
Marissa menunduk, hatinya terasa aneh. Ada sesuatu dalam tatapan Hendra yang berbeda. Tidak ada rasa paksaan, tidak ada tuntutan. Hanya… perhatian yang tulus.
Mereka berjalan bersama, meninggalkan wanita muda itu yang masih menatap dengan sinis. Sepanjang jalan, Marissa menyadari bahwa Hendra lebih dari sekadar sopir yang dipaksa menikahinya. Ia melihat sisi pria itu yang sabar, penuh pertimbangan, dan selalu ingin melindunginya. Hal itu membuat hatinya mulai goyah, meskipun ia menolak mengakuinya.
Di rumah, suasana tetap tegang. Keluarga Marissa menunggu dengan tatapan menghakimi. Namun kali ini, Hendra mengambil inisiatif. Ia menenangkan situasi dengan sopan tapi tegas. “Kita tidak perlu membicarakan hal-hal yang tidak perlu,” katanya, menatap setiap orang. “Yang terpenting adalah Bu Marissa merasa nyaman di rumahnya sendiri.”
Kata-kata itu membuat beberapa kerabat terdiam. Mereka tidak menyangka pria yang mereka anggap biasa saja bisa memiliki keberanian seperti itu.
Malam harinya, Marissa duduk di balkon sambil menatap langit malam. Ia mulai merenungkan banyak hal: pernikahannya yang dipaksakan, Hendra yang selalu ada di sampingnya, dan dunia yang kini terasa semakin rumit. Ia sadar satu hal: meskipun ia menolak kenyataan, hidup tidak akan kembali seperti semula.
Di dalam kamar, Hendra menyiapkan teh hangat dan meletakkannya di meja dekat Marissa. “Aku tahu kau masih marah,” katanya pelan, “tapi aku ingin kau tahu… aku tidak akan pernah menyakiti hatimu. Bahkan jika kau membenciku, aku tetap akan ada di sini untukmu.”
Marissa menatap pria itu, hatinya bergetar. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin tertekan. Perasaan campur aduk ini membuatnya bingung, tapi ada satu hal yang jelas: Hendra berbeda dari semua orang yang pernah ia kenal.
Di luar jendela, bulan bersinar lembut. Malam itu, angin seolah membawa pesan yang tak terdengar: bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai, penuh liku-liku, ujian, dan kejutan.
Sinar matahari pagi masuk melalui jendela ruang kerja Marissa dengan lembut, menyingkap debu tipis di permukaan meja. Ia menatap layar laptop dengan rasa frustrasi. Berhari-hari ia mencoba menyelesaikan proyek penting untuk perusahaan keluarga, tapi konsentrasinya terpecah oleh pikiran tentang pernikahannya yang baru dan kehidupan yang tak lagi sama.
Marissa menutup laptop dengan sedikit gemas. "Aku tidak mengerti... kenapa semua harus berubah begini?" gumamnya sendiri. Ia menegakkan punggung, berusaha menenangkan diri. Tapi setiap detik terasa seperti dorongan untuk menyerah.
Di depan pintu, terdengar ketukan ringan. Hendra muncul dengan nampan berisi sarapan sederhana: roti panggang, telur rebus, dan teh hangat. Wajahnya terlihat serius, namun ada ketulusan di matanya.
"Bu Marissa... sarapan. Aku pikir kau butuh energi untuk hari ini," katanya pelan.
Marissa menatapnya dingin, tapi tak menolak. "Terima kasih," jawabnya singkat. Ia tahu Hendra niatnya baik, tapi hatinya masih dipenuhi kemarahan dan rasa sakit.
Setelah sarapan, Marissa memutuskan untuk pergi ke kantor sendiri. Hendra menawarkan untuk mengantar, tapi Marissa menolak. Ia ingin merasakan sedikit kebebasan-walau sadar, kebebasan itu kini selalu dibayangi oleh kenyataan pahit pernikahannya.
Di jalan, Marissa merasakan tatapan orang-orang yang mengenalnya. Beberapa tersenyum sinis, beberapa menatap penuh rasa ingin tahu. Gosip tentang pernikahannya sudah menyebar, dan ia menjadi bahan perbincangan di mana-mana. Hatinya panas, tapi ia mencoba menenangkan diri.
Sesampainya di kantor, Marissa menemukan tantangan baru. Klien penting yang akan ditemui hari itu tiba-tiba membatalkan pertemuan karena mendengar rumor tentang pernikahannya. Marissa menahan napas, berusaha tetap profesional, tapi amarahnya semakin memuncak.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Hendra:
"Aku tahu ini sulit, tapi aku percaya kau bisa melewati ini. Jangan biarkan orang lain menentukan nilai dirimu."
Marissa menatap pesan itu. Hatinya berdebar, campur aduk antara rasa marah dan sedikit terhibur. Ia menatap luar jendela, menyadari bahwa Hendra-meski bukan pria yang ia idamkan-mulai menunjukkan sisi yang tak pernah ia duga.
Sore harinya, setelah pertemuan yang melelahkan, Marissa memutuskan untuk berjalan kaki pulang. Tiba-tiba, seorang pria yang ia kenal dari masa lalu muncul di depannya. "Marissa... lama tak jumpa," kata pria itu sambil tersenyum, tapi ada nada sinis di suaranya.
Marissa menegakkan tubuhnya. "Apa yang kau mau?"
Pria itu tertawa kecil. "Aku hanya ingin tahu... bagaimana rasanya menikah dengan Hendra. Orang bilang kau sangat... tidak bahagia."
Marissa menatapnya dingin. "Kau sebaiknya pergi. Aku tidak ingin berbicara denganmu."
Pria itu mendekat, mencoba mengganggu. Marissa terhenti, hatinya panik. Saat itu, Hendra tiba-tiba muncul di belakangnya, memegang lengan pria itu dengan tegas. "Cukup. Kau tidak boleh mendekati Bu Marissa lagi."
Pria itu terkejut dan melepaskan tangannya. Hendra menatapnya tajam. "Jika kau tidak pergi sekarang, aku akan memastikan kau menyesal."
Marissa menatap Hendra dengan mata terbelalak. Hatinya berdebar bukan karena takut, tapi karena rasa kagum dan sedikit lega. Hendra bukan hanya sekadar sopir atau suami yang dipaksa menikahinya-pria itu benar-benar melindunginya, meski ia tak pernah memintanya.
Malam itu, di rumah, Marissa duduk di ruang tamu dengan secangkir teh. Hendra menempatkan kursi di sampingnya, duduk dengan tenang. "Hari ini berat, ya?" katanya lembut.
Marissa menatapnya. "Aku... aku tidak tahu harus bilang apa. Kau... kau benar-benar berbeda dari yang kubayangkan."
Hendra tersenyum kecil. "Aku hanya ingin kau tahu... aku ada di sini, untukmu. Apapun yang terjadi."
Marissa terdiam, hatinya bergejolak. Ia menyadari satu hal: meski awalnya ia membenci situasi ini, Hendra perlahan mulai menembus benteng kebenciannya. Tidak karena wajah atau status, tapi karena ketulusan dan kesetiaan yang tulus.
Di balkon malam itu, mereka duduk berdampingan, diam tapi terasa nyaman. Angin malam membawa aroma bunga dari taman belakang rumah, dan sejenak Marissa merasa tenang. Ia menyadari perjalanan mereka masih panjang, penuh ujian dan gosip yang tak berhenti. Namun ada sesuatu yang berubah: sedikit demi sedikit, hatinya mulai membuka celah untuk menerima Hendra, meski ia belum berani mengakuinya.
Pagi itu, Marissa membuka matanya dengan perasaan cemas yang tak biasanya. Ia menatap jam di samping tempat tidurnya; pukul tujuh pagi. Tugas penting menunggu di kantor, tapi pikirannya terus melayang pada kabar yang baru saja sampai padanya: ada masalah besar di salah satu proyek perusahaan yang melibatkan klien lama, seorang pengusaha yang terkenal keras kepala.
Dengan cepat ia bangkit, mandi, dan bersiap. Pakaian kerja yang ia kenakan terasa kaku, seolah mencerminkan ketegangan hatinya. Ia menatap dirinya di cermin: wajahnya tampak lelah, tapi matanya masih menyala penuh determinasi. Meski hidupnya baru saja berubah drastis, insting profesionalnya tetap tidak bisa dikalahkan.
Saat ia turun ke ruang makan, Hendra sudah menunggu dengan sarapan sederhana namun tertata rapi. Senyum tipisnya mencoba menghangatkan suasana.
“Bu Marissa, sarapan sudah siap. Aku sudah menyiapkan semua yang kau butuhkan untuk hari ini,” katanya sambil menyerahkan nampan berisi roti, telur, dan jus.
Marissa menatap sekilas, menarik napas panjang, lalu duduk. “Terima kasih. Hari ini… aku mungkin akan sangat sibuk,” ucapnya, mencoba menenangkan diri.
Hendra duduk di kursi sebelahnya, diam tapi tetap terlihat waspada. “Aku akan menunggu di sini sampai kau siap berangkat. Tidak masalah,” katanya pelan.
Marissa menatap pria itu. Ada ketulusan yang sulit diabaikan di matanya. Ia menelan rasa frustrasinya, lalu makan sedikit sarapan. Meskipun ia belum sepenuhnya menerima kenyataan pernikahan ini, Hendra selalu ada, tanpa menekan, tanpa menuntut—hanya hadir.
Sesampainya di kantor, masalah baru muncul. Klien lama yang terkenal keras kepala itu tiba-tiba menolak bertemu karena mendengar kabar pernikahan Marissa yang viral. Gosip yang beredar membuat reputasi Marissa di dunia bisnis sedikit terguncang. Ia menatap layar ponsel, membaca pesan masuk dari stafnya yang panik.
Marissa menghela napas panjang. Ia tahu satu hal: ia harus menyelesaikan ini sendiri. Menyerah bukan pilihan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan dari Hendra:
"Aku tahu kau bisa melewati ini. Jangan biarkan orang lain mengatur hidupmu."
Marissa menatap pesan itu, hatinya sedikit hangat. Kata-kata itu sederhana, tapi ada kekuatan di dalamnya. Hendra bukan hanya sekadar pria yang dipaksa menikahinya; ia mulai menunjukkan kesetiaan yang tulus, tanpa pamrih.
Di tengah kesibukan itu, Marissa mendapat panggilan mendesak dari kantor cabang. Ada masalah dengan salah satu proyek baru yang membutuhkan kehadirannya di lokasi. Ia bergegas menuju mobil, tapi lalu lintas padat membuatnya frustasi.
Di saat itulah Hendra tiba-tiba muncul dengan mobilnya sendiri, menepuk bahu Marissa. “Aku akan mengantarmu. Tidak masalah kalau aku harus melewati kemacetan ini,” katanya tegas.
Marissa menatapnya, terkejut. Ia merasa ada rasa aman yang aneh saat berada di dekat Hendra, meskipun hatinya masih menolak untuk menerima kenyataan.
Di lokasi proyek, situasinya lebih rumit dari yang dibayangkan. Beberapa pekerja protes, ada laporan kesalahan teknis, dan klien yang marah menunggu. Marissa mencoba tetap profesional, tapi tekanan yang datang bertubi-tubi membuatnya hampir menyerah.
Tiba-tiba Hendra muncul lagi, membantu menenangkan situasi. Ia berbicara dengan pekerja, menenangkan klien, dan menunjukkan ketegasan yang membuat semua orang terdiam. Marissa menatapnya dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka bahwa Hendra bisa begitu cekatan dan berani menghadapi situasi sulit.
Saat semuanya mulai terkendali, Marissa menyadari satu hal: Hendra bukan hanya sosok suami yang dipaksa menikahinya, tapi juga seseorang yang mampu membantunya bertahan di dunia yang penuh tekanan. Hatinya sedikit goyah, meski ia menolak mengakuinya.
Malam harinya, setelah proyek selesai, mereka kembali ke rumah. Marissa duduk di balkon dengan secangkir teh, menatap langit malam yang gelap tapi indah. Hendra duduk di sampingnya, diam tapi tetap hadir.
“Hari ini sangat berat,” kata Marissa akhirnya, suara bergetar. “Aku… aku hampir menyerah.”
Hendra menatapnya dengan lembut. “Tapi kau tidak menyerah. Itu yang membuatku kagum padamu. Aku tahu kau kuat, Bu Marissa. Dan aku… aku ingin kau tahu, aku akan selalu ada untukmu. Tidak peduli apapun yang terjadi.”
Marissa menatapnya, campur aduk antara marah, frustrasi, dan sedikit rasa kagum. Ia menyadari satu hal: meski awalnya ia membenci kenyataan ini, Hendra perlahan menembus pertahanan hatinya. Tidak karena penampilan atau status, tapi karena ketulusan, kesetiaan, dan keberanian yang tak pernah ia duga.
Di luar balkon, angin malam membawa aroma bunga dari taman belakang. Marissa menarik napas panjang. Ia tahu perjalanan mereka masih panjang, penuh ujian, gosip, dan tekanan dari dunia luar. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan sedikit rasa aman—sebuah perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sejak hidupnya berubah.