Bab 1

"Aku ingin, kita putus!!" Ucap tegas seorang

wanita berkulit sawo matang, rambut panjang terikat. Ia bernama Laras Nur

Hayati.

"Nggak! Aku gak akan putusin kamu!" Ujar

seorang lelaki berbadan agak sedikit gemuk. Berkulit sawo matang tapi bersih.

Ia bernama Rio.

"Kamu sadar gak sih!! Apa kesalahan kamu?!!"

Tanya Laras sambil menangis.

"Aku tau, aku minta maaf. Aku gatau kamu akan

semarah ini."

"Apa?!" Laras terkejut mendengar pernyataan

dari Rio. "Gatau?!" Sambung Laras.

"Iya,"

"Kamu pegang tangan Lina dan menyuruhnya masuk ke

dalam kantor Bu Yulia. Depan aku, pas di dalam pabrik!!. Kamu bilang gatau?!!.

Kamu bahkan sangat tau kalau aku ini gak suka liat kamu deket sama wanita lain.

Apalagi menggenggam tangan wanita lain!!" Sentak Laras emosi. Air mata

mengalir tanpa henti di pipi manisnya.

Rio terdiam. Sedangkan Laras diam-diam selalu melirik

ke belakang menunggu angkot yang lewat.

" Duhh,, lama banget angkot lewat nya. "

Ujar Laras dalam hatinya.

" Kamu salah paham sayang, tolong maafkan aku.

Aku gamau kita putus." Ujar Rio memasang wajah sedih menatap Laras.

Laras diam. Menghapus air matanya. Suasana hening

seketika.

Tak lama kemudian ada angkot yang berhenti di posisi

Laras berdiri. Tak ingin membuang waktu, Laras langsung naik. Rio mencoba

menggapai tangannya, namun gagal. Mobil langsung melaju dengan kecepatan

sedang. Laras mengeluarkan handphone dan headseat, lalu memutar musik

favoritnya. Yaitu Taeyeon - If. Sedangkan Rio, menatap angkot yang di naiki

Laras. Setelah angkot berlalu tak terlihat. Rio melangkahkan kaki dengan rasa

sedih yang menyelimutinya, malas pulang. Tapi ia tak tau harus kemana selain

rumah. Karena, sedari dulu ia tak pernah bermain seperti anak muda lainnya.

Sampai di depan rumah, Laras mengambil kunci pintu

yang di taruh di pinggir plafon atas pintu.

KRREETT,,,

Pintu di buka. Setelah masuk, di biarkan terbuka

setengah karena gerah.

Hari ini hari sabtu, jadi Laras pulang sore.

Saking lelahnya, setelah membuka kerudung, jaket dan

tas. Laras langsung naik kasur. Ia menatap langit langit rumah sambil

tersenyum.

"Ahh,,, akhirnya!! Aku akan bebas darinya!"

Ucap Laras sambil tersenyum girang dan memeluk bantal guling.

TRINING,,

Tiba-tiba ponselnya bunyi, suara pesan whatsapp masuk.

Laras merogoh sakunya dan melihat ke layar ponselnya.

"Rio??"

Pesan belum di buka, tapi laras sangat tegang mendapat

pesan itu. Yah,, ia sudah mengetahui isi pesan itu. Pasti isinya foto luka

tangan Rio yang di lukai dengan kater. Itu selalu terjadi setiap Laras meminta

putus.

Laras membuka pesan itu dan ternyata benar. Rio

melukai tangannya lagi. Kali ini darahnya sangat banyak.

"Astagfirullah,,, kenapa sulit sekali bebas

darinya. Kalau aku tidak memperdulikanmya. Aku takut dia lebih nekat dari

ini." Ucap Laras dalam hatinya.

Rio mengiriminya pesan lagi.

"Aku gamau kehilangan kamu. Aku lebih baik mati

dari pada harus pisah dengan mu. Aku cinta kamu, Laras. Aku sayang kamu. Tolong

maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

Laras hanya membaca tanpa membalas. Ia kesal, sudah

1tahun ia berusaha akting marah-marah ketika Rio dekat dengan wanita. Seperti

cemburu buta, agar bisa putus dengan Rio. Tapi semua itu selalu gagal. Ia

selalu luluh lagi dan lagi. Entah harus memakai cara apa lagi.

*****

POV LARAS

Untungnya, hari ini hari minggu. Sangat malas untuk

bekerja setelah kejadian kemarin.

Seperti biasa, Mamah selalu pergi ke pasar minggu. Dan

kulihat jam, ternyata sudah jam 7. Pantas saja rumah sepi. Ka Bilal selalu

latihan band di studio, Ka Yudi ia main dengan teman-temannya atau kadang dia

tetap kerja di hari minggu. Pekerjaannya jadi sopir angkot sama seperti Bapak.

Karena saat Ka Yudi masih sekolah SMP sudah di ajari caranya menyetir mobil. Dan,

Bapak tentunya sudah pergi bekerja.

TRINING,,,

Suara pesan masuk. Aku raih ponselku di dekat bantal.

Saat ku liat, ternyata pesan dari Rio lagi. Kenapa sih ni orang gak ngerti

juga!! Aarrgghh kesel!!.

"Aku sedang perjalanan ke rumahmu, aku ingin

meluruskan masalah kita."

Apa lagi yang harus di luruskan??!! Sudah jelas aku

minta putus. Bodoh atau oon sih!.

Sengaja aku tidak mandi. Hanya cuci muka saja dan

gosok gigi. Agar dia ilfeel dengan kejorokan ku.

Tak lama kemudian, Rio datang.

TOK...TOK...TOK...

Aku bukakan pintunya, Rio langsung masuk sebelum di

suruh.

"Assalamualaikum.." Ucap salam Rio sambil

melangkah kaki ke dalam rumah, lalu ia duduk di lantai.

Keluargaku bukan keluarga kaya, rumah saja ngontrak.

Jangankan untuk beli kursi atau sofa tamu. Untuk makan sehari hari saja

seadanya. Tapi aku bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Karena di luar

sana banyak yang jauh lebih sulit dari ku.

Aku menjawab salamnya dalam hati.

Lalu pergi ke dapur untuk membawakan air minum.

Setelah itu aku duduk di depan Rio. Pintu rumah selalu aku buka kalau di rumah

tidak ada siapa-siapa. Untuk menghindari netizen tetangga agar tak salah paham.

"Duduk disini," Ujar Rio sambil mengarahkan

tangannya ke tempat di sampingnya. Ia ingin aku duduk di sampingnya. Dihh,

males..

Aku diam dan hanya memainkan ponsel.

"Lihat aku Laras,,"

"Gamau,"

Rio tak menyerah, ia berpindah ke tempatku dan kini ia

sudah berada di depanku.

Rio mengambil ponselku dan di sembunyikan di belakang

badannya. Aku menatap Rio tajam karena kesal.

"Lihat aku Laras" Ucapnya lagi dengan

lembut.

Aku pun menurutinya dan menatap matanya.

"Aku minta maaf, gak akan terulang lagi. Tolong

maafkan aku. Aku tidak ingin kita putus, aku sayang kamu Laras." Rio

hampir menangis, dan entah kenapa setiap kali ku lihat matanya seperti di

situasi ini. Aku selalu luluh. Rasanya hatiku tak tega untuk meninggalkannya.

"Jangan di ulangi lagi," Ujarku

Rio mengangguk, "Iya". Rio memelukku, tapi

aku lepaskan pelukannya. Karena kami berada di ruang tamu dekat pintu. Aku

tidak ingin ada orang yang melihat lalu menggosipkan yang tidak - tidak. Aku

tidak ingin nama baik orang tua ku buruk.

"Jangan peluk, nanti ada yang lihat"

Kenapa selalu seperti ini, aku luluh padanya lagi dan

lagi. Bukan hanya sekali atau dua kali. Ini sering terjadi setiap kali aku

pura-pura marah atau cemburu untuk meminta putus.

Dan anehnya, itu terjadi setiap kali aku menatap

matanya. Ada rasa tak tega meninggalkan nya. Ia terlihat sangat menyayangiku.

Dan juga, aku takut dia berbuat lebih nekat lagi.

Entahlah,,

Apapun itu, aku harus cari cara lagi agar bisa putus

dengannya.

Tapi apa?

Selama ini sudah ku coba segala cara, namun selalu

gagal. Belum ada ide yang muncul lagi di otakku.

Sepertinya, aku harus menjalani hubungan ini lagi

sampai aku mendapatkan ide lagi.

Ya Allah,, bantulah aku...

Bab 2

Beberapa bulan kemudian,,

Kini, hubungan ku dengan Rio sudah 2tahun. Setiap bertemu, Rio selalu

mencium bibirku. Meski begitu, aku tetap menjaga mahkotaku. Aku tidak

membiarkan dia merenggut keperawananku.

Setiap malam, aku tak bisa tidur nyenyak. Sejak berpacaran dengannya. Baru

2mnggu pacaran ia sudah berani mencium bibirku. Pikir ku saat itu mungkin wajar

namanya juga pacaran pasti ada adegan kissing nya.

Tapi, lama lama. Rio semakin berani dan aku sulit untuk menghindar saat

pertama kali ia mencium bibir, lalu ke leher. Sejak saat itulah aku jadi sering

buat drama seolah aku cemburu buta atau marah marah karena cemburu. Padahal

tujuan ku adalah ingin putus dengannya. Namun sulit, ia selalu mengancam dengan

melukai tangannya. Ia juga pemarah, hingga selalu merusak ponselnya.

Sabtu minggu ia selalu datang ke rumah. Hingga sulit untukku ber istirahat.

Terkadang, aku merasa takut kehilangannya karena dia telah merenggut ciuman

pertamaku hingga aku takut tak akan ada lelaki lain yang akan menerimaku yang

telah ternoda. Tapi, lama lama aku semakin muak dan lelah. Aku tidak ingin

hubungan yang seperti ini. Percuma aku sholat 5 waktu. Tapi aku membiarkan dia

menciumku yang masih status pacaran.

Kini, aku memutuskan untuk benar-benar putus dengannya. Sebelum dia

melakukan hal yang melebihi batas. Aku takut hidupku semakin hancur karena dia.

Hari ini hari minggu, pukul 05.50 wib. Rio bilang dia akan sampai rumah

sekitar jam 07:00 wib.

Seperti biasa, mamah selalu belanja ke pasar minggu. Pulangnya selalu agak

siang sekitar jam 10. 00 wib.

Aku bergegas untuk mandi, sedangkan mamah bergegas siap-siap akan berangkat

ke pasar minggu.

Jam sudah, menunjukkan pukul 06.00 wib. Tiba-tiba, mamah memberitahu bahwa

di depan sudah ada Rio.

"Laras, Rio sudah ada di depan"

Aku terkejut, karena dia bilang akan sampai jam 7.

"Iya Mah,,"

Mamah berangkat ke pasar minggu, dan aku bergegas menyelesaikan mandi.

Kamar mandi di rumah ku menyatu dengan dapur. Dapurnya lumayan lega. Kamar

hanya ada satu yaitu untuk orangtuaku. Tapi, kamarnya hanya di sekat oleh

triplek bukan bata. Dan, tidak ada pintu. Hanya di tutupi tirai. Ini bukan

rumah milik kami. Kami hanya mengontrak tak punya rumah sendiri.

Setelah selesai mandi, aku sangat terkejut melihat Rio sudah duduk di dalam

rumah. Di ruang tamu dekat pintu dan tentunya ia terlihat jelas menatapku dari

bawah hingga rambut. Tak menghiraukannya. Aku bergegas masuk kamar lalu memakai

baju.

Baru ku buka handuk, Rio membuka tirai kamar dan langsung masuk ke kamar.

Aku menarik handuk untuk menutupi badanku. Tapi, Rio malah manjauhkan

handuknya.

"Kamu ngapain masuk!! Pergi!!"

Tak lama kemudian dia mencium bibirku dengan penuh nafsu. Aku berusaha untuk

lepas darinya. Namun sia sia. Tanganku di pegang erat, saat aku mau menendang

kelaminnya dengan kaki, Rio lebih dulu merebahkan badanku ke kasur, tapi

bibirnya tak hentinya melumat bibirku dengan penuh nafsu. Kakiku sulit sekali

di gerakkan. Tangan pun sama, di genggam erat olehnya. Tenagaku jauh lebih

lemah dari Rio. Pada akhirnya aku pasrah, hanya menangis dan menangis. Tak

menyangka, Rio tega melakukan ini padaku. Ia menghancurkan hidupku.

Saat Rio hampir mau memasukkan kelaminnya, ia tersadar saat melihatku

menangis terisak. Itu berarti mahkotaku masih utuhkan?.

Rio membenarkan celananya lalu duduk dan menutupi badanku dengan handuk.

"Maaf,," Ujar Rio. Terlihat merasa bersalah.

Maaf?? Setelah ia nikmati, mudahnya ia bilang maaf? Apakah dengan maafnya

harga diriku bisa kembali? Tidak! Dia sudah menodaiku, juga menghancurkan masa

depanku!! Tega!!

Aku hanya menangis tanpa menghiraukan ucapannya.

"Pakai bajumu, Aku mau bicara.."

Aku tak menjawab nya, aku tak tau bagaimana aku bisa menjalani hidupku

dengan penuh dosa ini. Rasanya ingin mati saja!

Kesal,sakit, marah. Semuanya menyatu. Hidupku kini hancur, masa depanku

hancur, impian dan cita cita ku pun hancur. Aku malu pada diriku sendiri yang

tak mampu menjaga diri sendiri. Andai Mamah tau, apakah aku akan di usir dari

rumah? Apakah Mamah masih menganggapku anaknya? Aku takut, aku takut Mamah tak

menganggapku anak nya lagi jika ia tahu aku telah di nodai. Aku takut.

***

Setelah satu jam, Laras keluar dari kamar dan duduk berjauhan dengan Rio di

ruang tamu. Laras hanya memandang ke bawah seperti tak sudi lagi melihat Rio.

Karena apa yang telah Rio lakukan itu sudah melewati batas.

"Duduk disini," Ujar Rio sambil menepuk tempat di sisinya.

Laras hanya diam tak menjawab. Ia masih menangis, mata nya sangat merah dan

sembab.

Rio menghampiri Laras dan duduk di sebelahnya. Mencoba meraih tangan Laras,

tapi tangan Laras langsung menghindari tangan Rio dengan cepat.

"Sayang, Maaf. Aku pasti akan tanggung jawab. Aku gak akan ninggalin

kamu. Maafkan aku Laras, Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Maafkan aku."

Ucap Rio.

"Maaf? Tanggung jawab? Apa dengan begitu, harga diriku sebagi wanita

bisa kembali?! Hiks..."

"Aku udah lama pengen putus dari kamu, dan hari ini aku udah siapin

hati dan mental aku untuk ngadepin kamu setelah memutuskan mu. Tapi apa?! Semua

gagal! Hiks..."

"Kamu malah menghancurkan hidupku Rio!! Hiks,, bagaimana bisa kamu

lakukan ini padaku??!! Hiks,,, apa salah ku sama kamu!! Kenapa kamu

tega!!" Ucap Laras sambil menangis.

Rio memeluk Laras, namun Laras menangkisnya. Seolah ia benci di sentuh Rio.

"Aku minta maaf, tolong jangan nangis lagi. Sebentar lagi mamah kamu

pulang."

Tak lama kemudian Bu Fatimah datang.

"Assalamualaikum" Ucap salam Bu Fatimah. Langsung masuk ke dapur.

"Waalaikumslam" Balas Rio pelan.

"Apa aku beritahu mamah? Bahwa Rio telah menodaiku? Nggak,, aku takut

mamah malah mengusirku. Aku takut mamah kecewa padaku. Aku harus

bagaimana?" Ucap Laras dalam hati.

Meski Laras sudah diam. Namun, air matanya tak juga berhenti. Tentu saja,

wanita mana yang bisa tenang setelah di nodai?

Laras, ia anak yang pendiam. Ia bahkan tak bergaul seperti layaknya anak

muda jaman sekarang. Pernah beberapa kali di ajak ke puncak,tapi ia menolak.

Pergaulannya tak sebebas gadis lain. Ia mudah di bodohi,penakut,dan tertutup.

Di saat seperti ini pun ia tak bisa terbuka pada orangtuanya. Ia terlalu

penakut. Wajar saja, umurnya masih 17th kurang. Belum bisa berpikiran

panjang dan banyak rasa takut.

Waktu sudah menunjukan pukul 24.20 wib. Rio sudah pulang sejak pukul 23.00

wib. Seharian, Laras dan Rio hanya saling diam. Rio sudah berusaha meminta

maaf, tapi tak ada sedikitpun respon dari Laras sampai Rio pulang.

Semuanya sudah tidur kecuali Laras. Laras melamun sambil menangis.

Tring,,

Suara pesan masuk di ponsel, Laraspun membuka layar ponselnya.

"Laras, aku minta maaf. Tolong jangan marah lagi. Kamu boleh bilang

kasar, kamu boleh marah.keluarkan semua amarahmu sampai kamu lega. Setelah itu,

aku mohon maaf kan aku. Kamu jangan khawatir. Aku pasti akan bertanggung

jawab"

Laras tak membalas pesan Rio. Ia bangkit dari tidurnya. Menuju dapur. Lalu

meraih pisau yang paling tajam. Ia arahkan pisau yang ia genggam ke dadanya.

Tatapannya sangat kosong, air matanya sudah kering, matanya merah dan bengkak.

Badannya sangat lesu dan pucat. Laras sudah sangat putus asa.

"Gak ada gunanya lagi aku hidup, aku sudah di nodai. Dosaku sudah

terlalu besar. Hidupku telah hancur, harapan dan impian ku pun hancur

bersamaan. Aku tak ingin bersamanya, dari pada harus hidup bersamanya. Lebih

baik aku mati!" Ucapnya dalam hati.

Laras mengangkat pisaunya dengan penuh tenaga dan..

" Apa kamu sanggup menerima hukuman Allah di akhirat? "

Seketika Laras terhenti, pisau yang di ganggamnya jatuh. Ia melihat ke

seluruh arah. Tak ada siapa pun.

" Suara siapa itu? Kenapa suaranya sangat jelas berbisik di

telingaku?" Tanya Laras dalam hati.

Laras bingung.

Laras meletakkan kembali pisau pada tempatnya. Dan kembali ke tempat tidur.

Sebelum itu, ia mencoba mengintip kedua Orangtua nya untuk memastikan. Semuanya

tidur. Setelah memastikan, Laras kembali merebahkan badannya di tempat tidur.

"Tadi siapa? Jelas sekali ada seseorang yang membisikan itu

padaku" Tanya Laras dalam hati.

Bab 3

Sudah 3 hari Laras tak bisa tidur di malam hari. Kerja pun kurang fokus. Sering sekali jarinya terkena jarum saat menjalankan mesin jahit.

"Aww!!"

"Kena jarum lagi" gumam Laras sambil menghisap darah di tangannya.

Tririririring,,,,

Suara bell pulang,,

Semua karyawan bergegas pulang.

"Kenapa kakiku sakit banget?" Gumam Laras

Sejak berpacaran dengan Rio, Laras lebih sering sakit. Bahkan, setiap kerja tak pernah awet gara gara sakitan. Misalkan, kerja 2 atau 3 bulan sakit trus keluar. Karena sakit nya lebih dari 3 hari, sebelum di pecat lebih baik mengundurkan diri itu prinsip Laras. Karena jika di pecat, selain kehilangan pekerjaan. Pasti akan kena marah dan sentakan dari atasan.

Sampai di rumah, Laras langsung mandi.

Setelah mandi, sakit kakinya semakin parah. Ia sulit untuk menggerakkan kakinya. Entah penyakit apa itu. Karena pernah di periksa lab. Hasilnya bagus ga ada penyakit apapun. Tapi, kenapa setiap kerja selalu sakitan? Anehnya, Itu terjadi setelah Laras berpacaran dengan Rio.

"Mamah sakit!,, hiks" Rengek Laras karena kakinya terasa sangat menyakitkan juga sulit untuk bangun.

"Besok kita ke rumah sakit aja ya,? ," Tanya Bu Fatimah.

"Iya, Mah" Jawab Laras sambil menangis.

Jangankan sakit seperti ini, nonton drakor atau sinetron aja Laras ikutan nangis kalau kisahnya memilukan. Haha maklum lah. Namanya juga cewek.

Trining,,

Suara pesan masuk di ponsel Laras.

"Udah pulang belum?" Tanya Rio

Laras hanya membaca tanpa membalasnya.

"Laras?"

Rio mengirim banyak pesan spam hingga ratusan kali. Tapi tak di hiraukan. Suara ponsel di

alihkan ke mode senyap agar tak mengganggunya istirahat.

Esok paginya, Laras ijin tak masuk kerja karena ijin ke rumah sakit di antar oleh Bu Fatimah tentunya.

Setelah sampai di rumah sakit. Bu Fatimah langsung mendaftar dan mengambil no antrian.

Setelah selesai di periksa. Laras dan Bu Fatimah menuju ke ruang Rontgen atas rujukan dokter.

Selesai di rontgen, beberapa jam kemudian Bu Fatimah menerima hasil rontgen milik Laras. Dan langsung menuju ke ruangan Dokter.

"Sus, saya di suruh kembali untuk memperlihatkan hasil rontgen anak saya ke Pak Dokter." Ujar Bu Fatimah pada suster.

Tak lama kemudian, Bu Fatimah dan Laras masuk. Bu Fatimah langsung menyerahkannya.

Pak Dokter pun langsung memeriksa hasil rontgen nya.

"Begini ya Bu, di pinggul kanan belakang Laras ada penyempitan. Itulah penyebab kakinya sering sakit. Juga Lambungnya sudah kronis. Jangan telat makan. Saya kasih resep vitamin juga ya."

Bu Fatimah dan Laras mengangguk yang artinya mengerti dengan penjelasan dokter.

Sampai di rumah, pukul 13.00 wib.

Laras membuka ponselnya yang belum ia periksa. Ada puluhan telfon tidak terjawab dan ratusan spam chat dari Rio. Sengaja ponsel nya di mode senyapkan.

"Lebay amat" Gumam Laras.

Tanpa membalas pesan Rio, Laras tidur untuk istirahat.

Namun, sudah mencoba untuk memejamkan matanya. Tetap tak barhasil untuk membuatnya tidur.

Laras memainkan ponselnya. Ia mengklik browser untuk searching `Bagaimana cara menebus dosa zina menurut islam'

Munculah beberapa artikel. Laras mengklik salah satunya. Dan...

-------------

------------

-----------

Taubat yang dilakukan harus memenuhi syaratnya. Berikut ini syarat taubat yang harus dipenuhi:

syarat taubat, yaitu:

1. Ikhlas karena Allah ta’ala : Maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya.

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut.

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

6. Putuskan bila ia bukan mukhrim mu.

7. Lanjut ke pernikahan bila tak ingin putus. Untuk menghindari kesalahan berulang.

“Aku ingin putus, tapi Rio sudah terlanjur menodaiku. Ya Allah,, Aku harus bagaimana? "

Ujarnya dalam hati dengan air mata yang tak bisa lagi di bendung.

***

POV RIO

Aku tak akan memutuskan orang yang ku cintai. Aku melakukan hal itu karena aku sangat takut kehilangan nya. Berulang kali bahkan tak terhitung Laras selalu meminta putus. Karena rasa sayangku sudah sangat dalam padanya. Aku tak bisa hidup tanpanya.

Sedari pagi, aku kirim pesan padanya. Aku juga menelfonnya. Namun, Laras tak membalas atau menelfon balik. Terlihat centang dua nya sudah berwarna biru sedari tadi, yang artinya sudah ia baca.

Apakah Laras mengabaikanku? Apakah dia masih marah atas perbuatan ku padanya? Apakah caraku salah untuk mempertahankannya?

Tak lama kemudian akhirnya aku mendapatkan balasan dari Laras.

“Aku ingin kita bertemu sebulan sekali atau 2minggu sekali"

Hah??! Ko tiba tiba Laras mengatakan itu? Kenapa?

Aku gak mau menunggu bertemu dengannya selama itu.

"Gamau, aku ingin seperti biasanya. Sabtu minggu ke rumahmu. Bertemu kamu." Balasku

Send.

"Kalau begitu, buatlah keputusan. Hubungan kita selesai sampai sini atau lanjut ke pernikahan!"

Putus? Nikah? Lebih baik menikahinya dari pada harus kehilangannya untuk selamanya.

Aku pun langsung membalasnya dengan yakin.

“Lanjut ke pernikahan" Balasku lagi

Send.

Lagi-lagi Laras hanya membaca pesanku tanpa membalas.

Ku rebahkan tubuhku ke kasur, sebenarnya aku sangat senang bisa menikmati tubuh Laras. Aku sengaja membuat nya sulit untuk berteriak dan melawan. Karena aku tahu, Laras itu tenaganya lemah tak akan mungkin bisa menandingi tenagaku. Apalagi aku sangat nafsu saat melihat tubuhnya yang tak memakai sehelai kain pun.

Tapi, gara-gara kejadian itu, hubungan ku dengannya malah menjadi renggang.

Aku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Ia manis meskipun tanpa riasan. Ia sangat pendiam membuatku penasaran.

Trining..

Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Laras membalas.

“Nikahi aku pertengahan bulan depan. Jika kamu mau lanjut ke pernikahan. Tapi, jika kamu tidak sanggup lebih baik kita selesai sampai disini. "

Pertengahan bulan depan? Itu artinya waktuku 2minggu lebih 5 hari. Bagai mana bisa secepat itu?! Uang dari mana?

Lebih baik aku setujui. Aku tak ingin kehilangan Laras. Aku harus bicarakan dengan kedua orangtua ku terlebih dahulu.

“Aku sanggup, tapi kita harus bicara dulu dengan kedua orang tua kita Laras, " Balasku

Send.

" Nanti malam setelah Bapak pulang akan aku bicarakan. Beritahu orang tua mu malam ini juga" Balas Laras.

"Iya sayang,," Balasku lagi.

Send.

Aku ingat, kalau aku punya uang arisan yang belum cair.

Yang akan ku dapatkan sebesar 8. 000.000.

Akan aku pakai uang itu untuk biaya nikah meskipun masih harus membayar arisan setelah menikah nanti.

Karena hanya itu satu satunya jalan.

Bagaimanapun caranya, aku tidak ingin kehilangan Laras. Karena aku sangat mencintainya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED