Bagaimana rasanya jadi pria buta?
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berarti buat keluarganya?
****
Cho Bae-Hyun, pria tampan dengan mata coklatnya yang terlahir di Seoul-Korea selatan. Banyak yang suka dengan tempat itu, terutama dirinya. Bisa di bilang tempat itu sangat damai, bahkan jarang yang tinggal ditempat tersebut.
Alasan lainnya, dirinya tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang yang berada dilingkungannya, maka dari itu dia bertahan di rumah warisan dari Kakeknya itu.
Dulu, banyak yang mengagumi pria tersebut, karena ketampanannya dan kekayaannya.
Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu, yang menimpa dirinya. Akhirnya banyak perempuan yang tidak menginginkannya dikarenakan dirinya sudah buta permanen. Mulai dari itu, dirinya tidak ingin mengenal perempuan jika mereka hanya memanfaatkannya saja.
Menjadi pria buta sangat tidak menyenangkan, itu yang dirasakan oleh Cho Bae-Hyun. Semua sangat gelap, dia tidak bisa melihat apapun dari tempat yang ia singgahi bahkan wajah keluarganya sendiri. Dia ingin seperti orang lain, seperti pria yang normal dan bisa kerja kembali menjadi CEO di perusahaan sebelumnya.
Semua berawal dari kecelakaan yang berujung maut sewaktu acara party yang dilaksakanan di kediamannya. Air keras di dalam gelas yang di bawa oleh Mamanya membuat dirinya buta untuk selama-lamanya. Entah itu disengaja atau tidak. Dia tidak pernah menganggapnya serius, tapi jujur saja dia sangat kecewa dengan perlakuan Mamanya itu.
Bukan hanya kehilangan itu saja, tetapi dirinya juga kehilang Kakeknya yang pernah menjadi teman ceritanya. Karena pembunuhan secara sengaja oleh seseorang yang diam-diam masuk ke dalam rumahnya.
"Ma, Pa, lebih baik Bae-Hyun saja yang menikah dengan gadis itu, aku sudah mempunyai kekasih Ma." Bae-Jeon terus memohon untuk menunda pernikahannya dengan gadis yang di maksud.
"Lagipula Ga-Eun tidak akan melihat wajah asliku bukan?" lanjutnya.
"Benar juga ya? Pa? Kita nikahkan saja si buta itu," saran Kim-Aera, selaku Mama dari Bae-Hyun.
Jun-Bae mengangguk kecil, sesekali memungutkan wajahnya. "Benar juga, kita nikahkan si buta saja. Papa setuju sama kalian," kata Jun-Bae menatap mereka, pertanda dirinya mengiyakan. Tentunya membuat mereka tersenyum puas dengan pernyataan dari Papanya.
Suara bisingan dari bawah, yang membuat Bae-Hyun semakin penasaran. Terdengar sangat samar, tapi dirinya yakin kalau mereka sedang membicarakan dirinya.
"Ya, kau tidak perlu khawatir. Lagipula kalian saudara kembar. Biarkan Bae-Hyun menikah dengan Ga-Eun."
Menikah? Apa yang mereka bicarakan? Batinnya.
Bae-Hyun menghentikan langkahnya saat sampai di bawah tangga.
"Apa yang kalian bicarakan hah?" tanya Bae-Hyun dengan nada tidak suka.
"Ah, saudaraku. Tidak-- kita hanya mempersiapkan pernikahanmu dengan keluarga Eun," ujar seorang pria yang mirip dengannya, siapa lagi kalau bukan Bae-Jeon, saudara kembarnya.
"Pernikahan?" Bae-Hyun meringis kecil.
"Iya Sayang, kita tidak perlu mengurusmu lagi, kalau kau sudah mempunyai istri," lanjut Aera selaku Mama kandung mereka.
"Jangan main-main soal pernikahan, Ma. Lagipula, aku tidak mengingikan semua itu."
Aera meringis kecil, lalu memalingkan wajahnya sekilas. "Keras kepala," gumamnya.
"Kita tidak main-main anakku. Dan ini demi kebahagiaanmu, bukan begitu Pa? Bae-Jeon?"
"Terus saja begitu Ma," batin Bae-Hyun.
Bae-Jeon dan juga Jun-Bae mengangguk mantap. "Benar!"
"Sudahlah Sayang, kau ituti kemauan kami okay, kau akan bahagia nanti," ujar Aera sembari mengusap bahu Bae-Hyun dengan lembut.
"Lihatlah Ma, Bae-Hyun, aku mempunyai gambar Ga-Eun."
"Ouh-- Sayang sekali ya, kau tidak bisa melihatnya," ujar Bae-Jeon sesekali menatap saudaranya itu. Sedikit ketawa kecil, seperti meremehkannya.
Bae-Hyun tersenyum getir mendengarkan ucapan saudaranya barusan. "Picik," gumamnya.
Pasalnya, pernikahan adalah sesuatu yang berlangsung selama sehidup sekali, dan Bae-Hyun tidak suka memainkan itu semua.
Bahkan dirinya tidak mengenali seseorang yang akan dijodohkan oleh keluarganya, gadis muda dari keluarga Eun.
"Ga-Eun, gadis ini sangat anggun, dan dia sangat ramah. Wajahnya lumayanlah, dia dari keluarga Eun. Pasti kau pernah mendengarnya," jelas Aera.
"Tidak."
Bae-Hyun menghela napasnya dengan pelan. "Sampai kapan kalian memaksaku seperti ini hah?"
Sampai kau sudah menghilang dari dunia ini, Bae-Hyun. Batin Bae-Jeon, menyunggingkan senyuman getirnya.
"Siapa yang memaksamu?" timpal Bae-Jeon dengan nada santainya.
"Iya, kita tidak pernah memaksamu Bae-Hyun. Lagipula ini demi kau Bae-Hyun," lanjut Jun-Bae selaku Papa dari Bae-Hyun.
Bae-Hyun menghela napasnya dengan pelan. "Percuma berbicara sama kalian," desisnya, sebelum ia melangkah pergi dari hadapan mereka.
***
Brak! suara pintu mobil sempat terdengar keras di telinga Bae-Hyun, sehingga membuat sebagian penjuru jalanan melihat ke mobil tersebut. Dan siapa kira, kalau pria itu akan di turunkan di tempat yang tidak pernah dia kunjunginya.
"Ada apa? Kenapa aku diturunkan di sini?" tanya Bae dengan wajah bertanya-tanya.
Sebenarnya pagi itu, Bae-Hyun ingin keluar dari rumahnya itu, keluar dari jebakan setan di rumah tersebut, sekalian mencari kucing kesayangannya yang sudah seharian menghilang. Tapi, tidak disangka dirinya diturunkan di tempat yang asing?
"Maaf, Tuan. Ini keinginan Nyonya," ujar salah satu bodyguard dengan ramah sebelum mobil itu pergi begitu saja.
Bae-Hyun mengkerutkan keningnya, lalu menggertakkan giginya. "Sial, kenapa mereka mau saja disuruh oleh nenek lampir itu," gertaknya dengan kesal. Kakinya melangkah ke arah jalan raya. Pikirannya sangat kacau, wajahnya sangat marah, kesal dan ah-- tidak bisa dibayangan bagaimana perasaan Bae-Hyun saat ini.
"Tuan! Awas!" jerit seorang gadis, lalu menarik pria itu hingga menepi.
Napas Ga-Eun terengah-engah, matanya menatap pria tersebut dengan lekat. Memastikan pria itu tidak kenapa-kenapa. Tangannya dilambaikan di depan mata pria tersebut.
"Apa? Kau pasti akan bilang. Kenapa aku buta?" tanyanya dengan santai. Jujur saja, meskipun dirinya buta, tapi dia masih merasakannya.
Ga-Eun menyimpan tangannya di belakang punggungnya sembar menerjapkan matanya. "Ti--tidak kok, bukan begitu."
"Hati-hati," lanjutnya.
Bae-Hyun tersenyum simpul, lalu mengulurkan tangannya. "Terimakasih, aku berhutang budi denganmu."
Ga-Eun membalas ulurannya, lalu tersenyum kikuk. "Engh, iya."
"Tuan Bae bukan?" tanya Ga-Eun dengan spontan.
Bae-Hyun sempat terdiam. "Kau kenal denganku?"
Ga-Eun menegukkan ludahnya gugup, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya, aku sering mendengarkan keluargaku berbicara. Jadi, aku sering mendengarkan namamu."
Ga-Eun meringis pelan.
"Namamu siapa? Ah--ya bisa minta tolong?"
"Minta tolong? Boleh. Mau minta tolong apa?"
"Bawa aku ke halte. Aku akan menunggu bus di sana, kalau kau tidak keberatan."
Ga-Eun menerjapkan matanya. "Ah- Okey. Aku tidak keberatan kok, aku akan membantumu." Ga-Eun memapah tubuh pria itu menuju ke halte yang tidak jauh dari tempat tadi. Pandangannya tidak berhenti menatap Bae-Hyun.
"Apa benar dia Tuan Bae-Hyun yang dimaksud dengan Mamaku?" batin Ga-Eun terus memastikannya terus memandangi wajah tampan pria tersebut.
"Kenapa kau bisa di sini sendirian? Harusnya kau tetap stay di rumahmu?" tanya Ga-Eun hati-hati. Dia pernah mendengar, kalau dirinya harus berhati-hati kalau berbicara dengan keluarga Bae.
"Harusnya begitu, tapi aku sedang mencari kucingku."
"Kucing? Mencari sendiri?"
Bae-Hyun menggelengkan kepalanya. "Ah tidak, tadi aku bersama orang. Tapi aku diturunkan di jalanan karena nenek lampir itu."
"Nenek lampir?"
Ga-Eun sempat ingin tertawa ketika mendengarkan ucapan Bae-Hyun barusan.
"Pftt ...."
"Kenapa tertawa hah?"
"Siapa yang tertawa coba?"
"Kau kira aku tuli?"
Mereka berhenti di halte tersebut. Tangan Ga-Eun dilepaskan di lengan pria tersebut.
"Sudah sampai, aku harus kembali."
Belum saja Ga-Eun melangkah, akan tetapi pria itu menahan lengannya. "Namamu siapa?"
Mata Ga-Eun menatap tangan pria itu yang melingkar dilengannya, sekilas ia menatap wajah tampan milik Bae-Hyun. "Ga-Eun."
Deg! Mendadak tubuh Bae-Hyun membeku. "Ga-Eun? Apa dia gadis yang akan dinikahkan denganku nanti?" batin Bae-Hyun bertanya-tanya.
Masih dengan Ga-Eun, Bae-Hyun masih terdiam, melamunkan apa yang dibicarakan Mamanya dan keluarganya tentang gadis yang akan di nikahinya nanti. Sedetik pula, akhirnya dia tersadar kembali. "Oh--okey. Sekali lagi terimakasih sudah membantuku."
Ga-Eun tersenyum lebar. "Itu sudah kewajibanku Tuan. Kalau butuh batuan bilang saja, aku akan mencatat nomorku. Wait." gadis itu menarik tangan pria tersebut, satu persatu nomor di tulis di telapak tangan Bae-Hyun dengan menggunakan pulpen yang dia bawa. Setelah itu, dia memberikan kertasnya untuk Bae-Hyun.
"Harusnya aku membawa ponsel tadi," ujar Bae-Hyun spontan, menatap gadis tersebut.
"Tidak masalah Tuan, nanti kau catat saja, aku tidak bisa lama-lama. Nanti aku bisa dimarahi, sampai jumpa Tuan!"
Ga-Eun berlalu di hadapannya tanpa berpikiran apakah pria itu akan bisa membaca tulisan tersebut, padahal pria itu buta.
Pria itu masih merasakan akan adanya gadis itu di sampingnya.
"Aku harap gadis itu kau, Ga-Eun," ujar Bae-Hyun spontan, sedetik pula terenyum tipis.
Selang beberapa menit, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kearahnya dan mengklaksonnya dengan keras. Bae-Hyun mendengarkan itu dan tau persis mobil siapa itu.
"Pasti Bae-Jeon," desisnya dengan senyuman mirisnya.
"Ah-- saudara kembarku. Sedang menungguku ya?"
Bae-Hyun mendengkus kesal. "Buat apa kemari hah?"
"Buat menjemput saudarakulah. Apa lagi?"
"Bitch!"
Bae-Jeon membukakan pintu untuk saudara kembarnya itu. "So? Mau ikut denganku?"
Pandangannya menatap punggung seorang gadis yang sudah menghilang dari tikungan. "Kau sudah melihat gadis itu?"
Bae-Hyun mengdengkus pelan. Mau tidak mau, dirinya harus ikut dengan Bae-Jeon tanpa menjawab satu katapun. Lalu, memasuki mobil milik saudaranya itu.
Tidak lama kemudian, mobil itu melaju pergi dari halte tersebut dengan kecepatan rata-rata.
Di setiap perjalanan tidak ada gumaman sedikitpun, yang di dengarkan oleh mereka hanya hembusan napas dan juga suara mobil yang melaju.
"Ternyata sebentar lagi kau tidak sendiri lagi Bae-Hyun. Aku turut bahagia," kata Bae-Jeon mendahulu pembicaraannya dengan santainya. Sembari menatap saudara kandungnya itu dari spion.
Bae-Hyun mengulas senyumanya. Sekilas dirinya menghembuskan napasnya dengan pelan. "Terimakasih, Bae-Jeon."
Setelah itu, tidak ada pembicaraan kembali. Lagipula, Bae-Hyun sangat malas berbicara lagi dengan Bae-Jeon.
***
Ga-Eun hendak masuk ke dalam rumah kediamannya. Mendadak langkahnya terhenti ketika melihat kucing yang berjalan dengan lamban.
"Astaga, pussy?" Ga-Eun berlari mendekatinya, lalu menggendong kuncing tersebut dengan pelan. Pandangannya menuju ke kalung merah yang berbentuk bintang.
"Bintang? Bukannya ini kalung dari keluarga Bae? Apa ini kucing yang di cari Tuan Bae tadi?" ujar Ga-Eun memegang bentuk bintang yang hampir retak, sesekali memikirkan ucapan Bae-Hyun tadi.
"Meong!"
Ga-Eun menatap kucing tersebut. "Kau kenapa?"
Kucing tersebut mengusap wajahnya dengan tangannya dengan lucunya.
"Ah-- lucunya. Biar ak-- eh sebentar kakimu berdarah siapa yang melukaimu hah?"
"Astaga! Aku akan mengobatimu. Tuanmu di mana? Kenapa kau sendirian?" tanyanya pada kucing tersebut dengan nada lembut.
Ga-Eun berlari menuju ke dalam rumahnya dengan membawa kucing yang ditemukan di depan rumah.
"Ga-Eun kenapa kau membawa kucing itu ke dalam hah!" ucap seorang wanita yang berpayuh bayah itu dengan nada tinggi.
Sontak membuat gadis itu menoleh ke wanita itu. "Maaf, Ma. Kucingnya sedang sakit. Jadi, Ga-Eun mau mengobatinya," ujar Ga-Eun dengan menundukkan kepalanya.
Wanita itu sontak menggeram dengan pelan. "Pintar ya, keluar tidak izin Mama. Terus? Itu kuci--" ucapan wanita itu terhenti.
"Kenapa kau membawa kucing itu kemari hah! Cepat bawa keluar!"
Ga-Eun melindungi kucing tersebut ke dekapannya. "Ma! Dia terluka. Ga-Eun harus mengobatinya."
"Tau tidak tadi Mama sudah mati-matian membuang kucing itu keluar!" bentak Mama Ga-Eun dengan keras.
Ha-Eun, Mama Ga-Eun yang terkenal dengan keras, bahkan sangat pemaksa dengan anaknya sendiri.
Ga-Eun menghela napasnya.
"Buang sekarang juga!" bentak Ha-Eun dengan keras, matanya memerah.
Mau tidak mau, Ga-Eun keluar dari rumahnya dan meletakkan kucing tersebut di depan rumahnya. "Tunggu ya Pussy. Maaf, tidak bisa membantumu," lirihnya, lalu dirinya mengambil sapu tangan ke kaki kucing tersebut.
"Ga-Eun!"
"Iya Ma!" teriak Ga-Eun, lalu melangkah pergi masuk ke dalam rumahnya. Sampai kapan dirinya keluar dari rumah ini.
Ga-Eun menutup kamarnya, sekilas menghela napasnya dengan pelan saat mengingat ucapan Mamanya kemarin malam.
Flassback
"Ga-Eun, kau harus menikah sama keluarga Bae. Mama tidak mau tau, Mama sudah lelah hidup seperti ini, Mama butuh uang."
"Iya, Kakakmu juga ingin seperti orang lain."
"Tapi, kak kenapa harus Ga-Eun. Ga-Eun juga ingin seperti mereka. Yang masih nikmati masa remajanya."
"Ga-Eun percaya sama Mama. Kau akan bahagia dengan pilihan Mama," ujar Mamanya dengan senyuman hangat sembari menangkup kedua pipi gadis itu dengan lembut sebelum pergi dari hadapannya.
Ga-Eun hanya diam di tempat sana, menatap punggung Mama dan Kakaknya menghilang dari penglihatannya. Apa harga dirinya seperti barang yang akan dijual. Kenapa mereka tidak menganggapnya ada di sini?
"Aku akan melakukannya demi kalian, Ma, Kak." batinnya sembari menatap nanar. Jujur saja dia tidak ingin menikah dengan orang tidak dikenal. Ia ingin bebas seperti orang lain dan juga ingin melanjutkan kuliahnya.
Tapi, apa boleh buat itu semua juga keinginan orangtuanya. Kalau tidak, dia pasti akan dicap durhaka kepada orangtuanya. Sekilas ia memejamkan matanya untuk menahan air matanya yang hendak menetes. Dengan cepat ia menepis air mata yang menetes di kelopak matanya, lalu gadis itu pergi dari tempat tersebut untuk memenangkan dirinya.
Kamar, itu adalah tempat yang paling nyaman diantara tempat lainnya untuk menenangkan pikirannya dan juga hatinnya.
Ga-Eun hanya pasrah, apa yang akan terjadi nantinya. Semoga saja dia akan bahagia setelah keluar dari rumahnya sendiri, dan mendapatkan tempat ternyamannya lagi.
Tanpa berpikir panjang dia mematikan lampu utamanya dan menyisakan lampu tidurnya. Setelah itu, Ga-Eun membaringkan tubuhnya dan menutup matanya untuk tidur. Namun, dia tidak bisa tidur juga.
Ga-Eun menghempaskan tubuh kecilnya kembali di kasur miliknya karena dirinya tidak bisa tidur, sembari menatap langit-langit yang berada di dalam kamarnya sendiri. Kamarnya tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, dengan warna pich yang tidak tidak menyentrong ke matanya sendiri dan juga sangat rapih.
Sejenak ia memikirkan ucapan Mamanya kembali, dia akan dinikahkan oleh seorang pria kaya raya, bahkan dia juga tidak tau apa pekerjaan pria itu, bagaimana asal-usul pria itu. Apa dia bisa hidup bahagia dengan pria itu? Pikirnya.
Lucunya, kenapa tidak Kakaknya saja yang akan dinikahkan. Tetapi dirinya?
"Apa mereka merencanakan semuanya?" pikirnya.
"Bae, apa pria itu. Orang yang aku lihat tadi? Sepertinya iya, tapi kenapa dia buta," gumamnya.
"Apa karna alasan itu juga, Kakak tidak mau menikah dengan pria itu? Lagipula, dia sangat tampan juga?" tanyanya pada dirinya sendiri, banyak sekali yang ingin dipertanyakan kepada mereka. Tetapi itu semua hanya angan belaka, dia tidak berani menanyakan hal itu semua.
Ga-Eun beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka ponsel dan melihat gambar Bae-Jeon yang terpampang di layar ponselnya. Memang tidak ada perbedaannya, tapi dia belum yakin kalau Bae yang di temui tadi adalah Bae-Jeon.
"Apa dia Bae yang aku maksud?" gumamnya, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Ga-Eun menghela napasnya, kadang dirinya juga merasa bingung karena Mamanya bersikap seperti bunglon. Kadang manis, kadang sebaliknya.
Jujur saja dia mengingikan orangtua yang selalu memberi perhatian dan kasih sayang padanya, bukan Mama yang selalu memanfaatkan anaknya hanya untuk uang.
"Ma, Mama kenapa tidak mengerti Ga-Eun," lirihnya, matanya terpejam. Tidak lama kemudian gadis itu masuk ke dalam alam yang berbeda.
****
Tidak terasa pagi hari ini adalah hari pernikahan Bae-Hyun dengan gadis yang dimaksud keluarganya, yaitu Ga-Eun.
Memang perjodohan sudah turun menurun dari dulu, tapi sebenarnya Bae-Hyun tidak menginginkan perjodohan tanpa rasa cinta, dilain sisi dirinya juga harus melakukan ini karena paksaan orangtuannya.
Soal dekor dan prasmanan sudah di urus oleh keluargannya sendiri. Bahkan semua pembayarannya.
"Tuan, kita turun sekarang juga. Acaranya akan segera di mulai," ujar salah satu Bibi yang berada di sana.
Bae-Hyun membenarkan toxedo miliknya, dan juga rambut yang sudah ditata rapih. Lalu menoleh ke sumber suara, sekilas dirinya mengangguk kecil dan tersenyum lembut pada Bibi itu.
"Sebentar, aku segera keluar," ujar Bae-Hyun dengan sopan. Meskipun posisi dirinya di atas mereka, tapi dia juga harus sopan dengan orang yang lebih tua.
Tidak bisa disangka kalau dirinya akan melepaskan status lajang demi keluarganya. Tidak masalah.
Dan seharusnya dia bersikap dewasa setelah ini, tanpa memperlihatkan emosinya di depan istrinya nanti. Dia harus siap.
Setelah bersiap-siap Bae-Hyun segera keluar dari kamarnya untuk melakukan akad yang harus di lakukan. Sembari menunggu pengantin wanita yang belum juga keluar dari kamar sebelah.
"Bae-- kau sangat tampan hari ini," puji Bae-Jeon. Mendengar perkataan itu, sekilas Bae-Hyun menyunggingkan senyumannya. Sebenarnya ia sangat mual dengan ucapan saudaranya itu.
"Pasti gadis itu sangat cantik, sampai kau menyerahkan dia kepadaku, Bae-Jeon," desisnya sembari tersenyum devil.
Tatapan Bae-Jeon seketika mendatar ketika mendapatkan perlakuan Bae-Hyun yang menurutnya tak pantas. Sedetik pula dia pergi dari hadapan Bae-Hyun tanpa berbicara sedikitpun.
Bae-Hyun tersenyum puas ketika saudaranya tidak membalasnya dengan ucapan panasnya.
"Tuan Bae, pengantin wanitanya sudah datang. Kita tunggu di depan ya?" seorang salah satu seorang perias membantu memapah pria tersebut keluar.
Tentunya Bae-Hyun mengikutinya. "Biar saya berjalan sendiri, terima kasih Bi," ujar Bae-Hyun dengan sopan.
"Iya tidak apa Tuan. Itu sudah kewajiban saya. Saya duluan ya Tuan," ucapnya sembari menunduk 90 derajat dengan sopan, sebelum dirinya pergi dari tempat tersebut.
Bae-Hyun hanya mengulas senyumannya. Terdengar alunan musik yang merdu di sana, dan tentunya membuat suasana hati semakin damai dan juga suara tamu yang mengisi kediaman rumah Bae-Hyun. Ya, pernikahannya berlangsung di tempat tertutup yaitu di rumah kediaman Bae-Hyun sendiri. Akan tetapi dekornya sangatlah bagus, sehingga membuat orang-orang yang berada di sana menginginkan pernikahan mewah seperti yang dilakukan oleh keluarga Bae-Hyun.
"Silahkan pengantin wanita, memasuki tempatnya," ujar salah satu pembawa acara yang berada di sana.
Ga-Eun masih terdiam di tempat melihat pria yang sudah di tempat yang sudah di sediakan di atas sana. Dia tidak salah kalau pria kemarin adalah pria yang akan di nikahinnya.
"Ayo Sayang, suamimu sudah menunggumu di atas," suruh Mamanya dengan nada lembut. Tentunya membuat lamunan Ga-Eun buyar. Dengan perasaan gugup, jantung berdegup dengan kencang, dirinya melangkah ke red karpet yang sudah disediakan menuju ke panggungnya. Beberapa dayang membantu dirinya untuk memapah ke tempat tersebut.
Tidak butuh waktu lama, dirinya sudah di hadapan calon suaminya. Pandangannya seperti kemarin, dan dia tidak melihatnya.
"Pria kemarin bukan?Apa aku menikah dengan orang buta seperti dia? Terus bagaimana kalau dia tidak kenal aku waktu dia sudah bisa melihat?" batinnya sembari menatap Bae-Hyun iba.
"Apa kau menatapku? Kau berpikir kalau kau akan pergi setelah ini kan? Because I'm blind?"
Mata Ga-Eun membulat. "Apa dia bisa mendengar suara hatiku?" batinnya, gadis itu sangat tidak percaya.
Bae-Hyun menyunggingkan senyuman devilnya, dia salah paham dengan gadis itu. Ya, meskipun dia tidak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan apa yang orang itu rasakan.
Ga-Eun menggeleng dengan cepat. "Ti-tidak---"
Pernikahan mereka berlangsung dalam satu hari itu, dan acara terakhir adalah acara pemasangan cincin di jari manis dua orang mempelai.
"Pinjam tanganmu," ucap Bae-Hyun dengan lembut, sembari menarik lembut tangan milik gadis tersebut dan memakaikan cincin tersebut tepat dijari manisnya. Ga-Eun membiarkan pria tersebut memeakaikan cincin tersebut, jujur saja tangan pria itu sangat lembut.
Setelah memasangkan cincinnya, Bae-Hyun mencium punggung tangannya dengan lembut, lalu mencium kening gadis itu.
"Aku akan menjagaku, kau tidak perlu khawatir," ujar Bae-Hyun dengan pelan. Entah kenapa hati gadis itu terhanyut dengan perkataannya. Entah benar atau tidak, dia sekarang hanya menginginkan pria di hadapannya.
Begitu sebaliknya, Ga-Eun memakaikan cincin pernikahannya ke jari manis Bae-Hyun. Semua bersorak gembira dan bertepuk tangan meriah ketika keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Berbahagialah denganku," ucap Bae-Hyun dengan tulus. Pipi Ga-Eun memerah, bibirnya di kulum pelan untuk menahan rasa gugupnya.
Bae-Hyun menarik dagu Ga-Eun. "Entah kau akan mencintaiku atau tidak, atau kau hanya memanfaatkan kekayaanku. Aku tidak peduli, di sini tugasku hanya menjagamu, melindungimu, dan menafkahimu. So? Thanks for being my wife," ucapnya dengan lirih, sembari menatap ke gadis itu dengan tatapan kosong.
"Tidak, seharusnya aku berterimakasih padamu," gumamnya sembari menangis haru menatap pria tersebut.
Bae-Hyun berharap kalau Ga-Eun mengerti ucapannya barusan.
Sebenarnya pria tersebut mengerti apa yang dilakukan keluarganya padanya, gadis itu pasti dipaksa menikah seperti dirinya. Hanya saja dia berpura-pura tidak tau supaya tidak mempengkeruh masalah.
Tugas dia sekarang hanya menjaga Ga-Eun dan memperlakukan gadis itu seperti Tuan Putri.
Bae-Hyun manarik pinggangnya mendekat. Lalu menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
Ga-Eun menatap Bae-Hyun dari samping, tidak sadar senyumannya semakin melebar. Tangan Bae-Hyun mengusap lembut pipi Ga-Eun, wajahnya di dekatkan ke wajah Ga-Eun. Sehingga tidak ada jarak diantara mereka.
Satu kecupan mengenai bibir Ga-Eun dengan lembut, tentunya membuat jantung Ga-Eun berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Tidak lama, Ga-Eun membalas lumatannya. Walaupun terlihat sangat kaku, tapi setidaknya dia menerima ciuman dari suaminya itu.
"Astaga, mereka sangat cocok!" ucap salah satu tamu yang berrada di sana.