Bab 1

KENZO

"Partyyyy!!! Yeay!!!"

Aku pantas merayakannya. Proyek empat milyar pengadaan bantuan mesin tempel bagi nelayan memang bukanlah apa-apa di mata kerajaan bisnis keluargaku. Bahkan kurasa mungkin sebagian anggota keluarga besarku diam-diam menertawakan aku karena menerima proyek 'receh' dari pemerintah setempat.

Namun bagiku yang baru berusia dua puluh tahun dan akan lulus dua tahun lagi, ini adalah pencapaian besar. Sejak mendirikan perusahaan-dengan bantuan orang tuaku, tentu saja-enam bulan silam, aku lebih banyak berkutat dengan proyek pengadaan bernilai kecil, paling tinggi seratusan juta nilainya. Jadi, tentu saja aku merasa senang dan bangga atas pencapaianku. Baru pertama kali ikut lelang, langsung menang dan mendapatkan proyek milyaran. Masih muda, pula.

Siang ini pembayaran dari pemerintah sudah masuk ke rekening perusahaanku. Aku sangat puas karena kerja keras yang dimulai dari mengikuti lelang pengadaan dan menyediakan barang, hingga menyerahkan barang ke pemerintah untuk disalurkan dan menyelesaikan administrasi pencairan yang memakan waktu hingga tiga bulan, terbayar sudah. Aku bahkan tak percaya, aku ternyata mampu melakukan ini semua!

Sekarang, saatnya berpesta. Aku dan tiga orang stafku mengunjungi sebuah night club dan bermaksud merayakan keberhasilan kami hingga pagi menjellang. Pencapaian besar layak mendapatkan penghargaan tinggi pula, bukan?

Kami berpesta dengan liar dengan ditemani wanita-wanita seksi yang hanya ingin ditraktir. Sebab, kami tidak tertarik dengan para hostess yang sudah kami hafal wajah dan penampilannya. Kami ingin wanita yang berbeda, agar pikiran dan tubuh kami kembali segar usai berjibaku selama berbulan-bulan untuk mengadakan proyek sebesar ini.

Aku sendiri tentu saja mendapatkan wanita yang paling cantik dan menarik, sesuai dengan statusku sebagai orang yang membayar kemeriahan pesta di ruang privat malam ini.

Nama wanita itu tidak aku ingat. Mungkin Marcy, Daisy, atau Sherry? Ah, masa bodoh. Yang penting ia bisa membuatku senang.

Tengah malam, satu per satu anak buahku meninggalkan club. Satu orang membawa pulang teman kencannya, dengan dalih mengantarnya pulang. Heh, aku tahu dia mungkin membawa gadis itu ke hotel. Benar-benar buaya.

Dua orang lagi berpisah dengan gadis pesta mereka masing-masing. Kupikir mereka terlalu mabuk untuk meneruskan pesta di tempat lain, jadi aku percaya bahwa mereka pasti benar-benar pulang ke rumah masing-masing.

Tinggallah aku berdua dengan Marcy, Daisy atau Sherry. Tapi rupanya gadis itu tertular para stafku yang sudah meninggalkan club lebih dahulu.

"Kenzo," kata gadis berambut hitam, panjang dan berkilau itu, "kita pindah, yuk? Aku bosan di sini."

Boleh juga. Dia ingat namaku tapi aku tidak mau membuang waktu untuk mengingat secuil pun tentang dirinya.

Tapi aku setuju dengannya. Tempat ini jadi membosankan setelah para anak buahku pergi. Maka, aku pun mengajaknya pergi. Mungkin mengajaknya ke hotel dengan mengendarai mobil sport McL*r*n 540* milikku boleh juga....

***

HUSNA

Aku membuka mata. Sudah pukul 02.00. Saatnya mengerjakan pesanan yang aku terima agar dapat diantarkan pagi-pagi sekali sebelum berangkat kerja.

Maka, dengan hati-hati aku beringsut turun dari tempat tidur agar tidak membangunkan adikku, Asma. Gadis empat belas tahun itu menggeliat saat aku sudah menjejakkan kaki di lantai. Kupikir ia akan terbangun. Namun ternyata ia tetap nyenyak.

Aku tersenyum melihat gaya tidurnya yang 'ajaib'. Lengan kiri terentang sementara lengan kanan ditekuk dengan telapak tangan diletakkan di dada. Posisi kedua kakinya juga sama. Asma jadi terlihat seperti pendekar yang sedang melancarkan serangan udara ke musuhnya.

Setelah puas memandangi adikku yang lucu, aku lalu melangkah pelan meninggalkan kamar kami yang sempit. Pagi ini aku tidak boleh berleha-leha. Ada cuan tambahan yang menanti.

Aku mulai membuat brownies sebanyak dua loyang yang rencananya akan Tiga puluh menit kemudian, aku sudah memasukkan adonan ke dalam oven. Aku lalu melaksanakan salat tahajud.

Pukul 03.30, aku sudah mendinginkan brownies dua loyang yang aku buat dan menyiapkan berbagai bahan untuk digunakan sebagai hiasannya. Kedua brownies itu sengaja aku letakkan di depan sebuah kipas angin agar lebih cepat dingin.

Azan subuh masih lama berkumandang. Kupikir aku juga bisa tidur sebentar sebelum mulai menghias brownies. Maka, setelah memasang alarm di ponselku, aku merebahkan diri di lantai dan mulai menutup mata. Berharap istirahat sejenak bisa memulihkan tenagaku.

Tapi, sepertinya aku tidak bisa tidur nyenyak. Sebab, bunyi di luar kos-kosan membuatku terkejut bukan main.

CKIIIT!!! BRAAKKK!!!

Aku membuka mata dengan jantung yang berdebar kencang. Sejenak bingung, suara keras apa yang kudengar barusan.

Apakah ada kecelakaan? Kalau iya, ini pasti bukan kecelakaan motor. Pasti melibatkan kendaraan yang lebih besar. Mobil.

Masih mengenakan mukena, aku berlari keluar untuk melihat keadaan. Sepertinya aku yang pertama kali keluar karena penghuni kos-kosan lain belum ada yang membuka pintu.

Aku berlari menuju ke jalan besar. Pemandangan yang kulihat membuatku memekik tertahan sambil menutup mulutku dengan tangan.

"Subhanallah!"

Bab 2

KENZO

Apa yang terjadi? Hal terakhir yang aku ingat adalah aku mendadak menginjak rem di sebuah perempatan. Sebab, ada mobil lain yang melintas di depan mobilku.

Selanjutnya, ingatanku masih kabur. Aku memang sempat mendengar bunyi tubrukan yang sangat keras saat mobilku menabrak mobil lain itu. Tapi setelah itu, pandanganku gelap. Aku kira, aku tak sadarkan diri setelah tabrakan itu.

Saat aku mulai dapat membuka mataku, aku mendengar bunyi klakson mobil yang memekakkan telinga. Kupastikan bunyi itu bukan berasal dari mobilku. Mungkinkah dari mobil yang kutabrak? Dengan kepala pusing, aku mencoba melihat ke depan, untuk melihat situasi saat ini.

Saat mendongak itulah, aku melihat sebuah mobil yang sudah ringsek di bagian sampingnya. Kulihat seseorang di belakang kemudi, tampaknya tak sadarkan diri. Kepalanya terkulai menimpa klakson. Ternyata, dari situlah bunyi klakson itu berasal.

Selanjutnya, pandanganku berpindah ke mobilku sendiri. Bagian depan mobilku juga ringsek. Tingkat kerusakannya sepertinya sama parahnya dengan kerusakan mobil yang aku tabrak barusan.

Tapi, bukan kerusakan itu yang aku khawatirkan sekarang. Sebab, meski hanya mengandalkan penerangan lampu jalan, aku sepertinya mengenali mobil yang kutabrak itu.

Bukannya sombong, di kota ini, berapa banyak orang yang memiliki mobil seperti mobil yang aku tabrak itu? Aku semakin yakin bahwa aku mengenali mobil tersebut.

Berbekal pengetahuanku atas mobil yang aku tabrak tersebut, samar-samar aku mulai mengenali sosok yang kepalanya terkulai di atas kemudi itu. Entahlah, aku harus mendekat untuk memastikannya.

Aku lalu mencoba bergerak agar dapat keluar dan menghampiri sosok yang menjadi korban dari ulahku itu, tapi tidak bisa. Sepertinya tubuhku terjepit. Tapi aku tidak mungkin pasrah begitu saja.

Aku lalu menoleh untuk meminta bantuan gadis yang kubawa malam ini. Kulihat Cindy-ya ampun, aku baru mengingat namanya di saat seperti ini-masih duduk di sebelahku. Kepalanya terkulai ke sisi kiri. Darah mengucur, membasahi wajahnya yang cantik.

Aku panik melihat keadaannya. Lalu memanggil-manggil namanya. Dia masih hidup, 'kan? Iya, 'kan?! Astaga, apa aku sudah membunuh orang dalam insiden ini?!

"Subhanallah!"

Tiba-tiba suara seorang wanita lain menarik perhatianku. Aku mencari-cari sosok yang berteriak itu. Siapa tahu, aku bisa meminta tolong padanya.

Kulihat seorang gadis tengah mengenakan pakaian panjang berwarna putih yang mirip dengan pakaian yang Mami kenakan setiap lebaran. Apa ya namanya? Mukena?

Ah, kenapa aku ini?! Bukan itu yang seharusnya aku perhatikan. Aku berteriak keras, meminta tolong pada gadis cantik yang terkejut melihat kecelakaan ini.

Sebentar, cantik? Di bawah remang lampu jalan, pagi-pagi buta begini, usai kecelakaan yang mungkin memakan korban jiwa, aku masih sempat memuji seorang gadis asing? Gila kau, Kenzo! Fokus pada kecelakaan ini! Otakku pasti sudah bergeser karena memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan dalam keadaan gawat seperti ini.

Namun gadis itu mengabaikan aku. Sepertinya memang tak mendengar suaraku. Ia bahkan berlari ke balik mobil yang aku tabrak, lalu kembali terlihat memapah seseorang yang sangat aku kenali.

"Papi??!!" sergahku terkejut.

Iya, itu Papi. Ayahku. Pria yang membesarkan aku selama ini. Jadi dia adalah penumpang mobil yang aku tabrak ini?!

Benakku kembali mengingat bahwa pagi ini, pesawat pribadi Papi tiba dari perjalanan bisnis ke Eropa. Aku tak mengira, jadwalnya bisa dipercepat seperti ini. Mungkin Papi hendak memberi kejutan pada aku dan Mami. Entahlah.

Aku hanya bisa memandang gadis itu yang tengah membawa Papi yang terluka ke tepi jalan. Mulai menyesali kecerobohanku yang mengemudi dalam pengaruh alkohol.

Gadis itu masih mengabaikan aku. Setelah menolong pria yang duduk di jok sebelah jok pengemudi-ya ampun, ternyata dia adalah asisten Papi, Bang Rano, gadis itu berusaha mengeluarkan supir pribadi Papi.

Saat supir yang tidak aku ingat namanya itu sedang dievakuasi oleh gadis itu, orang-orang mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Aku kembali berteriak, meminta tolong pada mereka yang baru tiba.

Aku hanya ingin mendekat, memastikan keadaan Papi. Beliau masih hidup, tapi aku tidak tahu seberapa parah keadaannya....

***

HUSNA

"Orang-orang di mobil yang satunya, bagaimana, Pak?" tanyaku pada Pak RT saat menyadari bahwa masih ada korban selamat di mobil lain yang terlibat dalam kecelakaan ini.

"Nanti ditangani polisi dan damkar, karena mereka terjepit. Kita bawa dulu tiga orang ini," jawab Pak RT.

Di lingkunganku, orang yang memiliki mobil hanya Pak RT. Sehingga, Pak RT menyuruh putranya mengantar ketiga korban di mobil pertama ke rumah sakit.

Pak RT lalu menoleh pada kerumunan orang yang tengah melihat lokasi kecelakaan. Kemudian menatapku.

"Nak Husna bisa menemani para korban ke rumah sakit? Menjaga dulu sampai keluarganya tiba di sana."

Aku tersentak. Teringat pada Asma dan brownies yang sedang kusiapkan. Tapi kelihatannya, Pak RT sangat berharap agar aku yang menemani anaknya ke rumah sakit. Apakah benar, di antara kerumunan warga, tidak ada satu pun yang bisa dimintai tolong mengurus korban di rumah sakit?

Lima menit kemudian, aku sudah duduk memangku Asma di jok penumpang bagian depan. Di jok tengah, para korban duduk dengan tubuh penuh luka.

Sebelum mobil yang kami tumpangi berbelok ke salah satu jalan, aku menyempatkan diri melihat keadaan mobil lain yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Berdoa semoga para korban di sana juga bisa diselamatkan tepat waktu.

Bab 3

KENZO

Sudah tiga bulan berlalu sejak kecelakaan di pagi buta itu. Aku sudah pulih setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Cindy juga sudah dioperasi hingga patah tulang kaki yang ia alami, sudah tertangani. Korban-korban lain, yakni Bang Rano dan supir Papi, juga sudah membaik.

Akan tetapi, yang paling aku syukuri adalah keadaan Papi. Beliau kini sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Bahkan, beliau baru saja pulang dari Jepang dengan membawa serta Mami agar Mami tidak marah-marah terus setiap kali melihatku.

Mami masih marah padaku. Ya, aku menyadarinya. Ulahku yang mengemudi dalam keadaan mabuk, sudah membawa musibah bagi kami dan orang-orang kami kenal.

Setelah pulang dari Jepang, aku belum tahu apakah Mami sudah melupakan kemarahannya padaku atau masih menyimpannya. Aku sendiri hanya bisa diam. Sudah terlalu banyak kekacauan yang aku lakukan hingga membuatku pasrah setiap kali Mami memarahiku.

Orang tuaku juga menuntutku untuk ikut memberikan sumbangan yang cukup besar pada para korban. Keuntungan proyek yang aku dapatkan, habis hanya untuk membayar biaya kesehatan, ganti rugi dan uang tutup mulut agar insiden yang melibatkan keluarga kami, tidak tersiar ke mana-mana.

Meskipun tidak sampai jatuh miskin apalagi sampai kelaparan, aku tetap merasa sedih. Kerja kerasku tidak bisa kunikmati lagi. Pesta sesaat sebelum kecelakaan terjadi, hanya tinggal kenangan.

Selain ikut membayar semua kerugian yang ditimbulkan olehku, orang tuaku juga memberi hukuman tambahan: membekukan bisnisku. Aku disuruh bekerja sebagai asisten ketiga Papi di sela-sela waktu kuliahku. Gajiku digunakan untuk membayar uang yang dikeluarkan oleh orang tuaku untuk mengatasi dampak dari kecelakaan yang aku timbulkan.

Aku pun tidak bisa kabur karena Mami tahu betul jadwal kuliahku. Papi juga memperlakukan aku dengan sama kerasnya. Menyuruhku melakukan pekerjaan remeh tapi melelahkan seperti membeli kopi di kafe yang terletak di lantai bawah gedung dua hingga tiga kali dalam sehari dan mengangkat tas dan berbagai barang keperluan Papi ke mana-mana.

Tidak ada lagi predikat 'pengusaha belia'. Yang ada hanya Kenzo, pekerja kelas rendah di PT. Trisula Rama Perkasa.

Siang ini, aku ditugaskan menjemput Papi dan Mami di bandara. M*rced*s S-Cl*ss S 450 Luxury yang kukendarai melaju mulus di jalanan.

Kulirik Papi yang duduk di sampingku. Beliau memejamkan mata. Tampak lelah usai melakukan perjalanan jauh yang tidak hanya menguras tenaga dan waktu, tetapi juga pikirannya sebagai seorang pengusaha kelas kakap.

Mami yang duduk di belakang tampak sibuk dengan ponselnya. Tumben beliau tidak marah-marah padaku.

"Besok Ken jemput Husna dan Asma, ya," kata Mami sekonyong-konyong, tanpa paragraf pembuka sama sekali.

Husna? Asma? Siapa itu?

"Itu loh, anak yang menolong Papi waktu kamu menabrak Papi tiga bulan lalu," sahut Papi yang ternyata sudah membuka matanya. "Besok Papi dan Mami mengundang dia dan adiknya untuk menginap di rumah kita."

Aku tersentak. Oh iya, gadis yang bernama Husna itu. Setelah menolong Papi dan anak buahnya, dia juga yang membawa mereka ke rumah sakit dan menunggu di sana hingga Mami datang. Aku dan Cindy sendiri harus ditolong oleh petugas pemadam kebakaran karena tubuh kami terjepit, sehingga kami baru bisa dibawa ke rumah sakit satu jam kemudian.

Mami sangat berterima kasih pada gadis yang konon juga adalah penjual kue itu. Papi pun demikian. Kudengar Mami menawarkan beasiswa bagi dia dan adiknya, tapi ditolak.

Tidak kehabisan akal, Mami bertindak menjadi 'pembeli bayangan' bagi brownies buatan Husna. Melalui orang lain, Mami memesan brownies setiap hari dalam jumlah yang cukup banyak sehingga Husna kewalahan.

Dalam tiga bulan, usaha kecil-kecilan Husna berkembang. Saat mengetahui bahwa Husna mencari rumah kontrakan karena kos-kosan tempatnya sudah tak mampu menampung peralatan dan bahan-bahan yang Husna perlukan, Mami langsung bergerak cepat dengan mengirim iklan khusus ke akun sosial media gadis itu. Menawarkan sebuah rumah kontrakan dengan sewa yang sangat murah namun letaknya strategis. Dengan begitu, Husna bisa membuka toko kecil di sana untuk semakin mengembangkan usahanya.

Menurutku, apa yang Mami lakukan untuk Husna, sudah lebih dari cukup. Balas budi Mami pada pengorbanan gadis itu, sudah sepadan dengan apa yang dia lakukan untuk menyelamatkan Papi dan para anak buahnya. Aku pikir, sudah sepatutnya Mami, juga Papi, berhenti sampai di sini.

Namun, ternyata aku keliru. Mami, juga Papi, ternyata masih merasa berutang budi pada Husna. Untuk menuntaskan balas budi mereka, Mami dan Papi pada akhirnya mengorbankan aku, biang kerok kemalangan yang menimpa Papi.

Aku tidak pernah mengira, gadis yang asing bagiku itu akan membuat hidupku kelak jungkir balik. Bukan karena dia menggangguku, melainkan karena justru akulah yang mencoba menghindarinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED