"Daniel, aku pulang ..." bisik Karina, tersenyum kecil penuh harapan. Berdiri di depan pintu apartemen tunangannya, ia meremas buket bunga dan hadiah kecil di tangannya. Perasaan gugup dan bahagia bercampur, membayangkan wajah terkejut Daniel, pelukan hangat yang akan menyambutnya setelah setahun terpisah.
Namun, begitu pintu terbuka, bukan kebahagiaan yang ia temukan.
Di ambang pintu, Daniel berdiri dengan ekspresi yang tak pernah Karina bayangkan. Di sampingnya, seorang wanita berdiri terlalu dekat. Vera. Sahabat yang ia percayai seperti saudara, kini berada di samping Daniel, dalam keintiman yang tak bisa diabaikan.
"Aku ... aku bisa jelaskan ...." Daniel mencoba bicara, tapi kata-katanya menggantung di udara. Vera hanya menatap Karina dengan senyum tipis yang lebih terasa seperti ejekan daripada permintaan maaf.
Karina memandang mereka dengan perasaan campur aduk-kecewa, marah, sakit hati. Rasanya seperti ada yang mencengkeram kuat jantungnya, mematahkan semua harapan yang ia bawa pulang.
"Karina..." Daniel memanggil, suaranya bergetar. Namun, Karina tak ingin mendengarnya. Tak ada lagi yang ingin ia dengar dari pria yang telah menghancurkan kepercayaannya.
"Jelaskan?" Karina tertawa pendek, getir. "Apa yang mau kau jelaskan, Daniel? Bahwa kau berkhianat di belakangku? Bahwa semua janji dan kata-katamu itu hanya omong kosong?"
Vera mengangkat alis, sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. "Karina, ini adalah risiko dari hubungan jarak jauh. Kau yang memilih pergi dan meninggalkan Daniel. Apa kau pikir dia akan menunggu selamanya?"
"Jadi ini salahku?" Karina menelan ludah, tangannya bergetar menahan marah. "Salahku karena percaya pada kalian? Salahku karena berpikir kalian, orang-orang yang paling aku percayai, tidak akan menusukku dari belakang?"
Daniel mencoba melangkah mendekat, wajahnya panik. "Karina, ini... ini bukan seperti yang kau pikirkan..."
"Tidak seperti yang kupikirkan?" Karina mendekat, matanya penuh kemarahan. "Kau tidak tahu bagaimana menghargai perasaan orang lain, Daniel. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri."
Daniel terdiam, tak bisa membela diri. Sementara itu, Vera tersenyum sinis, senyum yang membuat Karina ingin berteriak.
"Daniel, kau tak pernah pantas untukku," bisik Karina, suaranya bergetar. "Dan Vera ... kau lebih hina dari yang pernah kubayangkan."
Vera hanya tersenyum angkuh. "Kau boleh berkata apa saja, tapi kenyataannya, kaulah yang ditinggalkan."
Tanpa menunggu jawaban, Karina berbalik dan berjalan menjauh. Tangannya masih gemetar saat menutup pintu, seperti menutup babak hidup yang paling kelam. Begitu keluar dari gedung, hujan mulai turun, menambah kesunyian hatinya. Langkahnya berat, membawa beban rasa sakit yang tak tertahankan.
Hujan membasahi tubuhnya, tapi ia tak peduli. Dingin hujan tak seberapa dibanding dinginnya perasaan yang menghujam di dalam dada. Setiap kali melangkah, bayangan Daniel dan Vera muncul, menghantui benaknya. Karina ingin berlari, namun setiap langkah terasa semakin lambat, seakan rasa sakit itu tak pernah ingin pergi.
Di tepi jalan, ia berhenti. Napasnya terengah, berusaha menahan emosi yang memuncak. Tanpa sadar, ia bergumam, "Kenapa?" suaranya tenggelam dalam hujan. Tapi tak ada jawaban. Hanya gemuruh hujan yang semakin deras, membuat tubuhnya semakin dingin.
Di tengah lamunannya, sebuah cahaya terang mendekat dari arah yang tak ia sadari. Suara klakson memecah keheningan, dan sebelum ia sempat bereaksi, tubuhnya terpental, jatuh menghantam kerasnya aspal yang basah.
Dunia seketika gelap.
---
Kecelakaan itu terjadi begitu cepat, dan dampaknya cukup parah. Berhari-hari setelah itu, Karina merasakan nyeri di tubuhnya. Ia menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit sebelum diizinkan pulang, dengan berbagai obat pereda nyeri yang harus diminumnya secara teratur.
Tapi seminggu setelahnya, ia mulai merasa mual setiap pagi. Awalnya, ia berpikir itu efek dari kecelakaan dan obat-obatan yang harus ia konsumsi. Namun, rasa mual itu semakin sering datang, tak hanya di pagi hari, dan bahkan sering kali disertai pusing yang hebat.
Karina kembali ke rumah sakit, kali ini untuk memeriksakan kondisinya yang semakin lemah. Dokter menanyakan beberapa hal tentang keluhannya dan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk beberapa tes laboratorium.
Setelah beberapa waktu menunggu, seorang perawat datang dan meminta Karina untuk menemui dokter di ruangan konsultasi. Karina masuk dengan raut wajah lelah, masih merasa lemas setelah beberapa hari mual dan muntah yang tak kunjung reda.
Dokter menatapnya dengan sorot mata serius. "Nona Karina, kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan."
Karina hanya mengangguk, menunggu dengan hati yang cemas.
"Dari hasil tes, kondisi Anda ternyata lebih dari sekadar efek samping kecelakaan. Anda ... sedang mengandung."
Kata-kata itu menghantamnya seperti badai. Karina membeku, sulit percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Maaf, apa ... apa Anda bilang saya hamil?"
Dokter mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan pemahaman terhadap keterkejutan Karina. "Kami memastikan hasilnya dengan pemeriksaan lanjutan. Kondisi Anda stabil, tapi kami sarankan untuk mulai menjaga kesehatan Anda lebih intensif."
Karina hanya bisa terdiam. Pikirannya kalut. Mengandung? Dari siapa? Kapan? Bagaimana mungkin? Tubuhnya terasa lemas, dan ia hanya bisa memandang kosong ke arah dokter, mencoba memproses kenyataan yang baru saja dilemparkan padanya.
Dokter itu melanjutkan, "Kami akan memberikan panduan lebih lanjut untuk menjaga kehamilan Anda. Jika Anda butuh konseling atau ingin berkonsultasi tentang pilihan-pilihan yang Anda miliki, kami juga siap membantu."
Karina mencoba menguatkan diri, mengumpulkan setiap sisa energi yang ia punya. "Terima kasih, Dok. Saya ... saya butuh waktu untuk memikirkan semuanya."
Sang dokter tersenyum lembut, "Tentu, Nona Karina. Kami akan selalu ada untuk membantu Anda."
---
Namun, tubuh Karina ternyata belum cukup kuat untuk menanggung semuanya. Beberapa hari setelah pemeriksaan tersebut, tubuhnya kembali melemah. Mual yang tak tertahankan, rasa pusing yang semakin parah, serta nyeri dari sisa-sisa kecelakaan membuatnya harus kembali ke rumah sakit. Kondisinya belum stabil, dan sekarang, dengan kehamilan yang baru ia ketahui, pihak rumah sakit memutuskan untuk menahannya lebih lama demi pemulihan yang lebih terjaga.
Di ruangan putih itu, Karina terbaring lemah. Selang infus terpasang di tangannya, wajahnya pucat, matanya menerawang, menatap langit-langit. Pikiran dan perasaannya berkecamuk, mencoba mencerna perubahan besar dalam hidupnya. Setiap hembusan napas terasa berat, bukan hanya karena tubuhnya yang lemah, tapi juga beban mental yang kini harus ia pikul sendirian.
Seorang perawat masuk ke kamarnya, meletakkan tangan lembut di bahu Karina, mencoba memberinya ketenangan. "Nona Karina, jika Anda membutuhkan seseorang untuk mendengar, kami semua ada di sini. Tidak mudah memang, tapi kesehatan Anda sangat penting sekarang."
Karina tersenyum lemah, mencoba menguatkan diri meski tubuh dan pikirannya terasa begitu rapuh. "Terima kasih. Saya akan berusaha untuk bertahan."
Perawat itu mengangguk, meninggalkan ruangan, membiarkan Karina dalam kesendiriannya. Karina memejamkan mata, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir. Semua perasaan sakit, kecewa, marah, dan putus asa ia biarkan meluap.
Namun di balik semua itu, ada janji yang ia buat dalam hatinya sendiri. Janji untuk bertahan, untuk tetap kuat, untuk bayi yang kini tumbuh di dalam dirinya. Perlahan ia menyentuh perutnya yang masih datar, berusaha menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah. Meski terasa menakutkan dan penuh ketidakpastian, ia tahu, ia tak lagi sendirian.
Dalam keheningan malam itu, dengan tubuh yang lemah dan hati yang penuh luka, Karina berbisik pada dirinya sendiri, "Aku akan melewati ini semua. Aku akan bertahan."
Setelah kecelakaan itu, hari-hari Karina di rumah sakit terasa suram. Ia terbangun dari rasa sakit fisik, namun hati dan pikirannya lebih kacau. Setiap kali mengingat Daniel dan Vera, ada perasaan marah yang tidak bisa diredam, bercampur dengan rasa kecewa yang menyesakkan dada. Tapi di sisi lain, ia harus menghadapi kenyataan baru bahwa ada kehidupan yang tumbuh dalam dirinya.
Karina duduk di ranjang rumah sakitnya, menatap kosong keluar jendela. Pikirannya terus berputar, tak henti bertanya-tanya bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya.
"Seharusnya aku lebih berhati-hati," gumamnya pelan.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan seorang dokter muda masuk bersama perawat. Ia menatap Karina dengan senyum tenang, membawa tablet yang berisi hasil pemeriksaannya.
"Selamat pagi, Nona Karina. Bagaimana perasaan Anda hari ini?" tanya dokter itu ramah.
Karina mencoba tersenyum, meski samar. "Lumayan, Dok."
Dokter itu mengangguk. "Saya membawa kabar baik. Kondisi Anda dan kandungan Anda stabil. Kami akan memantau Anda dengan lebih ketat untuk memastikan semuanya berjalan lancar."
Karina hanya mengangguk pelan, merasa lega tapi juga bingung. "Terima kasih, Dok. Tapi ... saya masih merasa cemas. Saya ... saya belum tahu harus bagaimana dengan semuanya."
Dokter itu meletakkan tangannya di bahu Karina, memberi sentuhan menenangkan. "Itu wajar, Nona Karina. Menghadapi perubahan besar memang tidak mudah, apalagi dengan keadaan yang tidak terduga seperti ini. Tapi Anda tidak sendiri. Kami di sini untuk membantu."
Perawat yang mendampinginya menambahkan, "Jika Anda membutuhkan bantuan konseling atau dukungan psikologis, kami bisa mengaturkannya."
Karina hanya mengangguk. "Mungkin itu ide yang bagus. Saya ... saya merasa semuanya terlalu cepat."
Namun, sebelum sempat menjawab lebih banyak, Karina merasa mual lagi. Ia buru-buru mengambil kantong plastik di sampingnya, menahan muntah yang tiba-tiba datang. Perawat sigap membantunya, sementara dokter itu memperhatikan dengan penuh perhatian.
"Reaksi tubuh Anda ini normal, tapi kami akan memberikan obat untuk membantu meredakannya," ucap dokter itu setelah Karina merasa lebih baik.
Setelah beberapa menit, dokter dan perawat meninggalkan ruangan, memberi Karina waktu untuk beristirahat. Namun, pikirannya tak kunjung tenang. Perasaannya terlalu campur aduk.
---
Beberapa hari berlalu, dan Karina mulai mencoba menerima kenyataan bahwa ia kini mengandung seorang anak. Namun, setiap kali ia mencoba berpikir lebih dalam, rasa sakit akibat pengkhianatan Daniel dan Vera kembali membayanginya. Apakah ia harus memberitahu Daniel? Atau lebih baik membesarkan anak ini seorang diri?
Di tengah kebimbangan itu, ia tak tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi-sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
---
Pada saat yang sama, di sisi lain rumah sakit, seorang pria bernama Adrian menunggu dengan gelisah di ruang tunggu. Adrian adalah pewaris perusahaan besar dan sedang menjalani proses bayi tabung bersama istrinya, Alicia, yang seorang model terkenal. Tapi hubungan mereka tak pernah harmonis; Adrian tahu bahwa Alicia lebih mencintai kariernya dibandingkan dirinya atau keluarga yang seharusnya mereka bangun.
"Seharusnya ini tak perlu sesulit ini," gumam Adrian pelan, melirik jam tangannya.
Sementara itu, Alicia, yang duduk di sebelahnya, hanya sibuk dengan ponselnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan atau perhatian pada proses bayi tabung yang sedang mereka jalani.
"Alicia, kau yakin dengan keputusan ini?" tanya Adrian, mencoba mencari jawaban dari wajah dingin istrinya.
Alicia hanya mendesah pendek, meletakkan ponselnya sejenak. "Adrian, kita sudah membicarakannya. Aku tidak punya waktu untuk hamil. Ini cara terbaik untuk kita berdua."
Adrian menghela napas panjang, merasa hubungan mereka semakin berjarak. Tapi demi warisan dari kakeknya dan demi reputasi keluarga, ia harus mengikuti semua ini, setidaknya untuk sementara.
Di saat itulah seorang perawat mendekati mereka, wajahnya tampak sedikit tegang.
"Tuan Adrian, Nyonya Alicia, saya minta maaf, tetapi ada kesalahan kecil dalam proses ini. Kami sedang melakukan pengecekan ulang untuk memastikan semuanya aman."
Wajah Adrian mengeras. "Kesalahan? Maksud Anda bagaimana?"
Perawat itu terlihat gugup. "Ini hanya masalah administrasi, tapi kami akan menyelesaikannya secepat mungkin. Kami mohon pengertiannya."
Alicia hanya mengangkat bahu, kembali sibuk dengan ponselnya. Adrian merasa semakin frustasi, namun memilih untuk menunggu penjelasan lebih lanjut.
Namun yang Adrian dan Alicia tidak ketahui, kesalahan yang dimaksud itu lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
---
Sementara itu, di kamar Karina, seorang perawat datang membawa hasil pemeriksaan lanjutan. Tanpa curiga, Karina hanya menerima kertas yang diberikan perawat tersebut, meskipun tak sepenuhnya mengerti arti dari beberapa istilah medis di dalamnya. Ia berpikir itu hanyalah hasil pengecekan umum.
Beberapa hari setelahnya, Karina diperbolehkan pulang dengan beberapa instruksi dari dokter untuk menjaga kondisi kehamilannya. Ia mencoba menguatkan diri, berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa meski dengan perasaan yang masih campur aduk. Namun, bayangan tentang masa depannya masih terasa berat.
Di hari yang sama, Adrian menerima panggilan telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa proses inseminasi telah selesai. Tanpa mengetahui bahwa kesalahan yang terjadi membuat anak yang ia harapkan tidak ditanamkan pada ibu pengganti yang direncanakan, ia merasa sedikit lega, meskipun masih tidak sepenuhnya yakin akan masa depannya bersama Alicia.
Karina kembali ke apartemennya, mencoba menyusun kembali hidupnya yang terasa berantakan. Tapi kenyataan tentang kehamilannya terus menghantui. Seiring waktu, ia menyadari bahwa ia harus membuat keputusan penting tentang masa depan anak yang ia kandung.
Beberapa minggu kemudian, ia mulai bekerja di sebuah perusahaan baru sebagai cara untuk memulai hidup dari awal dan melupakan semua yang terjadi dengan Daniel dan Vera. Di hari pertamanya bekerja, ia diperkenalkan kepada atasannya, seorang pria tampan dengan wajah dingin dan pandangan tajam.
"Selamat datang, Nona Karina. Nama saya Adrian," ucap pria itu, mengulurkan tangannya.
Karina menerima uluran tangan itu, sedikit terkejut dengan tatapan tajam pria di depannya. Ada sesuatu dalam diri Adrian yang membuatnya merasa gugup, namun ia berusaha tetap tenang.
"Terima kasih, Tuan Adrian. Senang bisa bergabung di perusahaan ini."
Mereka bertukar tatapan sejenak, namun tak ada yang menyadari bahwa takdir mereka telah terjalin dalam cara yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Karina, tanpa sadar, telah mengandung anak Adrian, dan pertemuan mereka adalah awal dari perjalanan yang lebih rumit.
Adrian tidak pernah menduga bahwa wanita yang berdiri di depannya adalah orang yang tanpa sengaja membawa anak yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga yang ia rencanakan dengan Alicia. Dan Karina, yang kini mencoba menata kembali hidupnya, tak pernah tahu bahwa pria di depannya akan menjadi pusat dari babak baru dalam hidupnya yang penuh teka-teki.
Setiap hari, keduanya mulai saling mengenal di tempat kerja, meski dengan cara yang profesional. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ada rasa penasaran dan ketertarikan di antara mereka. Adrian merasa ada sesuatu yang istimewa pada Karina, sementara Karina merasakan kehangatan yang aneh meski Adrian sering terlihat dingin dan keras kepala.
Namun, setiap kali Karina mulai merasakan ketertarikan pada Adrian, ia selalu mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Kehamilannya adalah rahasia yang ia simpan rapat-rapat, dan ia berjanji tidak akan melibatkan siapa pun dalam masalah pribadinya, termasuk pria yang kini menjadi atasannya.
Di balik semua ketegangan itu, kehidupan mereka mulai terjalin dalam cara yang tak terduga, membawa keduanya semakin dekat dalam rahasia besar yang hanya menunggu waktu untuk terungkap.
Karina memandang pantulan wajahnya di cermin kamar mandi. Kulitnya tampak sedikit pucat, dan matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan, meski ia sudah berusaha tegar sejak keluar dari rumah sakit. Namun, di balik kepenatan itu, ada percikan semangat yang membuatnya bertahan. Bagaimanapun, ada kehidupan di dalam dirinya yang menunggu untuk tumbuh, dan ia tidak ingin menyerah begitu saja.
Hari ini, ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan bahwa kondisinya benar-benar baik. Bayangan dokter yang mengatakan kondisi janinnya stabil memberikan sedikit kelegaan, namun ada kegelisahan yang tak bisa ia abaikan. Entah kenapa, perasaan bahwa sesuatu yang janggal sedang terjadi tak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.
Pintu ruang praktik terbuka, dan dokter itu kembali masuk dengan ekspresi serius yang sulit diartikan.
"Selamat pagi, Nona Karina. Bagaimana perasaan Anda hari ini?" sapanya hangat.
Karina mencoba tersenyum, meski hatinya berdebar tak menentu. "Lebih baik, Dok."
Dokter mengangguk, namun sorot matanya masih serius. Ia lalu duduk di depan Karina dan membuka beberapa lembar hasil pemeriksaan.
"Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Anda mengenai kondisi kandungan Anda," ucapnya perlahan.
Karina menggigit bibirnya, cemas menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir, kami mendapati bahwa ada perubahan pada kondisi janin Anda. Setelah kecelakaan itu, kami awalnya menduga bahwa janin Anda mungkin tidak dapat bertahan ... tapi, secara mengejutkan, kondisi kehamilan Anda tetap stabil." Dokter berhenti sejenak, seolah mencoba mencari kata yang tepat.
Karina hanya bisa menatap, bingung sekaligus resah. "Maksud Dokter ... ada sesuatu yang tidak beres?"
Dokter menggeleng pelan. "Tidak ada yang berbahaya sejauh ini. Namun, ada hal yang agak tidak biasa. Biasanya, dengan cedera yang Anda alami, kemungkinan untuk tetap hamil cukup kecil, namun kondisi Anda berbeda. Saya tak bisa menjelaskan lebih lanjut tanpa pemeriksaan yang lebih mendalam, namun sejauh ini, bayi Anda dalam kondisi sehat."
Karina merasakan denyut kuat di dadanya. Perasaan aneh yang menyelimuti pikirannya selama ini semakin kuat. Namun, ia memilih untuk mengabaikan rasa takut yang perlahan merayap. Bagaimanapun, hidupnya sudah cukup berantakan; ia tidak ingin menambah beban dengan mencurigai kehamilan ini.
"Apakah ini ... mungkin efek dari kecelakaan itu?" tanyanya pelan.
Dokter mengangguk ringan. "Bisa jadi. Tapi Anda tak perlu terlalu khawatir. Yang penting adalah menjaga kesehatan Anda dan bayi Anda. Jika ada hal lain yang mencurigakan, kami akan segera memberi tahu."
Karina mengangguk, meski hatinya masih dirundung kebingungan. Ia mengucapkan terima kasih kepada dokter, kemudian keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega bahwa bayinya baik-baik saja. Namun, di sisi lain, ada perasaan ganjil yang tak bisa ia abaikan.
---
Waktu berlalu, dan Karina mulai mencoba menjalani hidup baru. Ia mengalihkan fokusnya pada pekerjaan dan kehamilannya, berusaha melupakan segala hal buruk yang pernah terjadi dengan Daniel dan Vera. Namun, kenangan tentang mereka masih sering datang mengganggu, terutama ketika ia teringat betapa ia dulu sangat mempercayai Daniel.
Ketika tiba di kantornya hari itu, Karina merasa sedikit mual dan lelah, namun ia tetap berusaha tersenyum pada rekan-rekannya. Seorang kolega baru datang menyapanya dengan senyum ramah.
"Bagaimana kabar kamu, Karina? Apa semuanya berjalan lancar?" tanyanya dengan penuh perhatian.
Karina mengangguk pelan. "Lumayan, terima kasih. Aku hanya perlu sedikit waktu untuk menyesuaikan diri."
Obrolan mereka terputus saat sosok Adrian mendekat, membuat jantung Karina berdegup sedikit lebih cepat. Meski sikapnya dingin, ada sesuatu dalam sorot matanya yang selalu menarik perhatian Karina, membuatnya merasa seolah ia tak pernah benar-benar bisa menjauh.
Adrian berhenti di depan Karina dan rekan kerjanya, pandangannya tajam namun penuh wibawa.
"Nona Karina, saya ingin berbicara dengan Anda mengenai proyek yang sedang kita kerjakan," ujarnya dengan nada serius.
Karina mengangguk, mengikuti Adrian ke ruangan kerjanya. Suasana di dalam ruangan terasa hening ketika Adrian menutup pintu, membuat Karina semakin gugup. Ia berusaha menjaga ketenangannya, namun perasaan bahwa ia selalu merasakan kehangatan yang aneh di sekitar pria ini membuatnya semakin sulit berkonsentrasi.
"Silakan duduk," ucap Adrian, duduk di kursinya dan menatap Karina dengan pandangan serius.
Karina duduk dengan canggung, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang semakin kencang.
"Ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan tentang progres proyek ini," ucap Adrian, membuka dokumen di meja. Namun, ketika ia mulai berbicara, pandangannya sekilas bertemu dengan mata Karina, dan untuk sejenak, Karina merasakan sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu.
"Apakah semuanya baik-baik saja, Nona Karina?" tanya Adrian tiba-tiba, nadanya sedikit melunak.
Karina terdiam sejenak, kaget dengan perubahan nada bicara Adrian. "Ya, semuanya baik-baik saja, Pak Adrian. Hanya ... sedikit penyesuaian setelah keluar dari rumah sakit," jawabnya pelan.
Adrian mengangguk, namun ia tampak berpikir sejenak sebelum kembali menatap Karina. "Jika ada yang mengganggu atau Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa mengatakannya. Saya bisa mengatur agar pekerjaan Anda tidak terlalu membebani."
Karina tersenyum samar, merasa sedikit tersentuh. "Terima kasih, Tuan Adrian. Tapi saya baik-baik saja. Saya justru ingin fokus pada pekerjaan ini untuk membantu melupakan ... hal-hal yang terjadi."
Adrian menatapnya sejenak, matanya penuh sorot penasaran namun juga kehangatan yang samar.
"Baiklah, jika itu yang Anda inginkan," jawabnya akhirnya, mencoba menjaga profesionalisme meskipun Karina bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam dalam nada bicaranya.
Pembicaraan mereka berlanjut dengan lebih serius, namun setiap kali pandangan mereka bertemu, ada sesuatu yang tak terucapkan, seolah masing-masing menyimpan rahasia yang tak bisa diungkapkan. Karina berusaha menjaga jarak, namun ada perasaan aneh yang semakin sulit ia abaikan setiap kali berada di dekat Adrian.
---
Hari itu berlalu dengan cepat. Ketika Karina pulang, ia merasa tubuhnya lelah namun hatinya sedikit lebih tenang. Keberadaan Adrian yang tenang namun penuh karisma sedikit banyak memberinya kekuatan untuk menjalani hari-harinya yang semakin berat.
Namun, di malam harinya, ketika ia berbaring di tempat tidur, bayangan masa lalunya kembali menghantui. Ingatan tentang pengkhianatan Daniel masih menyisakan luka yang belum sepenuhnya pulih. Bagaimana bisa ia begitu percaya pada seseorang yang ternyata begitu mudah mengkhianatinya? Rasa sakit itu terkadang begitu menyiksa hingga ia merasa seperti tak sanggup bernapas.
Karina mengelus perutnya yang mulai sedikit membesar, merasakan kehidupan kecil yang tumbuh di dalamnya. "Aku akan melindungi mu," bisiknya lembut. "Aku akan berjuang untukmu, meski aku harus melakukannya sendirian."
Namun, dalam hatinya, ada perasaan ragu yang tak bisa ia hilangkan. Apakah ia benar-benar bisa menghadapi semua ini sendiri? Apakah ia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak ini, tanpa dukungan siapa pun?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di pikirannya, mengantarkannya ke dalam tidur yang penuh dengan mimpi-mimpi tak menentu.
---
Keesokan harinya, Karina kembali ke kantor dengan semangat baru. Namun, saat berjalan menuju meja kerjanya, ia mendapati sosok Adrian berdiri di dekat jendela, memandang ke luar dengan tatapan kosong. Ada ekspresi muram di wajahnya yang tak biasa terlihat.
Karina merasa ragu sejenak, namun akhirnya mendekat. "Tuan Adrian, apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya pelan.
Adrian menoleh, tampak sedikit kaget melihat Karina. Namun, ia segera tersenyum tipis, meski senyumnya terlihat dipaksakan. "Hanya ... memikirkan beberapa hal."
Karina mengangguk, mencoba memahami tanpa bertanya lebih lanjut. Namun, ada dorongan dalam hatinya untuk mengatakan sesuatu yang lebih, untuk menghiburnya.
"Kadang-kadang ... menghadapi masalah seorang diri memang tidak mudah," ujarnya, mencoba tersenyum.
Adrian menatapnya sejenak, tampak terkejut dengan pernyataan itu. "Anda benar, Nona Karina. Tapi terkadang, ada masalah yang tidak bisa diungkapkan kepada siapa pun."
Karina merasakan debaran di dadanya. "Jika ada sesuatu yang bisa saya bantu, saya ... saya siap mendengarkan."