Bab 2

Aku melihat Mas Arman tak berkedip melihat gadis di hadapannya.

Gadis itu datang bersama sang ayah. Kutaksir usianya sekitar 2 atau tiga tahun di bawahku. Ia memakai rok depan di atas lutut dengan belahan yang cukup tinggi. Jika duduk paha mulusnya terekspos dengan sempurna.

Wajahnya cantik, sangat cantik bila dibandingkan denganku yang jarang tersentuh make-up atau skincare mahal.

Rambut panjangnya terurai. Warna hitam legam sangat kontras dengan kulit putihnya yang mempesona.

Aku melirik Mas Arman. Kulihat beberapa kali ia meneguk ludah. Begitu juga dengan para iparku.

Laki-laki. Semuanya sama. Dikasih ikan segar pasti berebut.

"Mas Arman sehat? Kita bertemu lagi, ya, Mas? Padahal baru kemarin, hihihi," ucapnya mendayu.

Telingaku gatal mendengarnya mulai berbicara. Apa katanya tadi? Kemarin bertemu? Kapan? Jam berapa? Apakah pagi saat Mas Arman izin padaku untuk ke bengkel.

Aku menatap Mas Arman meminta penjelasan. Sudah kuduga, ia tak berani menatapku. Ia hanya cengengesan pada jalang itu.

"Hahahaha, Arman kangen itu sama kamu Mila. Sudah gak sabar," kelakar lelaki paruh baya di sebelahnya. Ia adalah Pak Handoko ayah gadis di hadapan kami yang bernama Mila.

Dua orang ini? Apakah mereka tak tahu ada istrinya di sini? Inikah yang kata ibu mertuaku orang yang bermartabat itu.

Bapak, Ibu, dan iparku tertawa bersamaan. Akrab sekali sepertinya dua keluarga ini. Apakah ada yang tidak aku ketahui?

Hanya Mas Arman saja yang kikuk berkali-kali ia melirikku. Dapat kupastikan wajahku saat ini. Sudah merah bak kepiting rebus.

"Ehem. Ini istri saya, Pak, Dek Mila." Mas Arman merangkul bahuku sambil memperkenalkan aku pada mereka. Apa tadi? Dek Mila? Oh, sudah punya panggilan sayang rupanya.

Mendadak suasana riuh itu berubah senyap.

Aku berusaha tersenyum dengan santai. Tak akan kutunjukkan di depan mereka bahwa aku lemah.

"Hai, Mbak Ririn, ya," ucap jalang itu sambil mengulurkan tangan. Ah, kusebut lagi ia jalang. Lantas sebutan apa yang pantas untuknya selain itu? Wanita yang mau suami orang ya memang pantas disebut jalang.

"Ya," ucapku sambil tersenyum menyambut tangannya.

"Oh, Nak Ririn. Salam kenal, ya. Semoga bisa jadi kakak madu yang baik buat Mila," ucap Pak Handoko.

Apa? Percaya diri sekali bapak ini? Sejak kapan aku setuju dimadu dengannya.

"Oh, memang kapan rencana pernikahannya, Pak? Saya belum bilang boleh, loh," jawabku sesantai mungkin.

Semua orang dalam ruangan itu menatapku terkejut. Terutama Bapak dan Ibu mertua kesayangan.

"Lho, bukannya kemarin kamu bilang sudah setuju?" tanya Bapak. Ibu mertua mengangguk. Tatapannya mengintimidasi agar aku segera menarik ucapanku.

"Maaf, Pak, Bu. Bukannya Ririn bilang keputusannya setelah Ririn melihat calon madu Ririn," jawabku.

"Oh, sekarang sudah lihat, kan? Lihat dia cantik sekali pas jika bersanding dengan Arman," jawab Ibu mertuaku.

Mila yang duduk berdekatan dengan ibu mertuaku mengusap lengan wanita itu. Akrab sekali. Seperti mertua dan mantu idaman.

"Ya, sih, cantik. Tapi, kok mau ya sama bekasku?" sindirku.

Seketika wajah manis yang tadinya terus tersenyum itu berubah kecut. Ibu mertua melotot ke arahku. Takut sekali ia sepertinya kehilangan calon mantu kebanggaan.

"Hahahaha, santai aja cuma bercanda, kok." Aku mengambil teh hangat yang tersedia di meja.

"Ayo, minum. Tehnya enak lho ini. Ibu pasti yang buat. Jarang-jarang aku bisa minum teh di rumah ini sambil santai. Biasanya aku yang repot di dapur," ujarku.

Aku terus meracau, tak ada satupun dari mereka berniat menjawab perkataanku. Ah, bahkan Ibu rela membuat teh hangat demi meluluhkan hatiku. Tapi, aku tak akan mudah luluh begitu saja.

Kulihat dengan kikuk mereka mengambil tehnya masing-masing. Lucu sekali.

"Rin, ikut ibu sebentar ke belakang, yu," ucap Ibu.

"Ada apa, ya, Bu?" tanyaku.

"Ada yang ingin ibu bicarakan," ucap Ibu mertuaku.

"Lho, di sini saja? Bukankah mereka sebentar lagi jadi keluarga?" jawabku.

"Ehem, iya Jeng di sini saja," ucap wanita bersanggul tinggi dengan dandanan menor. Pasti itu ibunya Mila.

Ibu akhirnya duduk kembali. Aku tahu hendak apa ia memanggilku ke belakang.

"Jadi, Nak Ririn. Ibu sebelumnya minta maaf kalau menyinggung Nak Ririn." Ibu Mila memulai obrolan denganku.

"Tapi, sebenarnya dahulu Mila dan Arman itu sudah dijodohkan. Namun, Arman memaksa menikah dengan Nak Ririn," ucapnya lagi.

Oh, tentu saja. Dahulu ia sangat mencintaiku.

"Tapi ... ternyata Mila masih memendam perasaan pada Nak Arman. Sampai sekarang ia belum mau menikah. Padahal banyak lelaki yang sudah meminangnya," lanjutnya.

Benarkah? Bukan gak laku ya?

"Jadi, ibu sangat berharap sekali Nak Ririn berbesar hati mau menerima Mila sebagai adik Nak Ririn," ucapnya mengiba.

"Ya, ini sebenarnya pernikahan yang tertunda. Meski kamu gak setuju juga akan kami laksanakan," ucap Ibu.

Apa? Frontal sekali bicara ibu mertuaku ini. Ngebet sekali ingin punya menantu kaya sepertinya.

Oke. Aku tahu, sejak awal memang begitu. Setuju atau tidaknya aku pernikahan ini akan dilaksanakan. Bahkan mereka sepertinya akan membuang ku jauh-jauh.

Sakit? Tentu saja. Hatiku sakit sekali, terlebih pada Mas Arman yang tak bisa berbuat apa-apa. Ah, sebenarnya ia bisa namun tak mau. Entah apa yang telah ibu mertuaku lakukan atau jalang itu perbuat sampai Mas Arman yang biasanya teguh berpendirian sampai melempem seperti kerupuk terkena angin.

Aku harus bermain cantik. Aku tak boleh sembrono. Setidaknya hak Haidar tidak begitu saja diambil oleh jalang ini. Aku yakin Bapak dan Ibu mertua pun tak perduli pada Haidar. Ah, anakku yang malang. Andai dulu aku tetap bekerja.

Aku menghela napas panjang.

"Hmm. Baiklah. Ririn setuju," ucapku.

Wajah sumringah Bapak dan Ibu terpancar seketika mendengarku. Mas Arman mengambil tanganku kemudian menggenggamnya.

Hanya saja, wajah Mila tak sebahagia yang aku kira. Tak mau, kah ia menjadi maduku? Padahal aku sudah berbesar hati padanya.

"Terima kasih, Sayang," ujar Ibu padaku. Ia menghambur memelukku. Ah, basa basi sekali. Jika bukan karena pernikahan kedua ini, sudah pasti aku sangat senang ibu begini. Meski kutahu itu palsu. Namun, maaf, Bu. Hatiku sudah beku. Cukup enam tahun aku disiksa batin olehmu. Keputusanku sudah bulat. Meski nanti Ibu memintaku kembali, aku tetap pada keputusanku.

Untuk sekarang nikmati saja kebahagiaan kalian. Pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit aku akan melepaskan rasa bahagia itu dari tubuh kalian.

"Mila, tapi mbak punya satu syarat," ucapku pada Mila.

Mila menatapku pernasaran. Kemudian mengangguk.

"Nanti biar mbak yang siapkan pesta pernikahan kalian, ya," ucapku sambil tersenyum semanis mungkin.

Dapat kulihat perubahan raut wajah dari calon maduku itu. Rencana pertama sudah kususun tapi dalam kepala. Bersiaplah calon adik maduku sayang.

Bersambung

Bab 3

"Tapi, Mbak. Aku gak mau pernikahan yang biasa, lho. Aku malu nanti sama temanku. Apa Mbak Ririn sanggup?"

Calon maduku tersayang ini ternyata banyak maunya. Okelah untuk menyenangkannya aku sanggup segala permintaannya.

"Tenang saja. Nanti semua mbak yang atur. Mbak juga bahagia Mas Arman bisa menikah dengamu. Terlebih, mbak bisa mendukung Mas Arman jadi anak berbakti," ucapku.

Ibu mertua sumringah mendengar perkataanku. Berulangkali kulihat anting bulat besar di telinganya bergoyang-goyang karena setuju dengan ucapanku.

"Benar, gak apa-apa Mila. Nanti biar ibu pantau kerja Ririn," ucap Ibu.

Ah, Ibu apa yang ingin kau pantau?

"Tapi, Bu. Kayaknya Ririn akan banyak butuh bantuan Ibu. Nanti Ririn minta dibimbing, ya," ucapku manis.

"Lha, iya. Harus itu," ujar Ibu bersemangat.

"Ta-." Mila tak melanjutkan perkataannya. Lengannya di senggol sang mama. Dapat kulihat mama Mila memberi kode agar Mila mengikuti saja mauku.

Ah, aku tak sabar.

"Wah, sudah bersemangat sepertinya. Gimana kalau sekarang kita menentukan tanggal pernikahan," ucap Bapak.

"Wah, iya mumpung ada di sini," balas Pak Handoko.

Ada rasa nyeri ketika mereka mengucapkan itu. Namun, aku harus tahan. Demi Haidar anakku. Belum saatnya aku mengucap kata cerai.

'Tunggu Ririn gak akan lama,' batinku menguatkan diri.

"Rin, Sayang. Makasih banyak, ya, Nak." Ibu mertua manis sekali berucap padaku.

Aku menatapnya. Andai ia berlaku begini terus padaku. Sungguh, aku tak tega menyakitinya. Namun, apa mau dikata ia bersikap manis karena aku mau dimadu.

Masih terus menggenggam tanganku. Ibu mertua mengobrol bersama calon besan.

Tak apa, aku akan memberikan sedikit bahagia pada kalian sebelum semuanya berbalik.

"Bagaimana kalau tiga bukan lagi," ucap Pak Handoko.

"Bagaimana, Rin. Apa cukup?" tanya Ibu.

"Sedikit mepet, Bu. Tapi Ririn usahakan," ujarku.

"Tiga bulan? Apa gak kelamaan. Aku pikir sebulan cukup," sanggah Mila.

Ah, gadis itu seperti orang ngebet kawin.

"Ya, terserah, sih. Kalau mau pesta yang biasa mungkin sebulan bisa. Tapi, kan. Kamu maunya yang wah. Kita perlu booking gedung yang bagus. Sedangkan gedung yang bagus pasti sudah laris. Tiga bulan menurutku terlalu mepet. Tapi, masih untung jika bisa dapet gedung yang oke. Belum lagi gaun. Tentu kamu gak mau, kan pake gaun yang biasa aja?" Aku menjelaskan panjang lebar. Ibu mertua dan ibu Mila mengangguk menyetujui ucapanku. Memang, pernikahan wah setidaknya butuh waktu paling cepat enam bulan untuk persiapan. Tiga bulan, termasuk mepet sekali. Tapi, tak apa aku bisa akali ini.

"Bener kata Ririn, Mil. Sudah tiga bulan saja. Itu juga sudah terlalu cepat. Lagipula kita gak mau kan pernikahan putri kita ini biasa saja," ujar ibu Mila.

"Iya, Mil. Biar Ririn yang atur. Ibu percaya sama dia." Ibu mertua mendukungku.

Didesak sana sini, akhirnya Mila pasrah. Ia mengikuti kemauan orangtuanya dan calon mertua.

'Horee!!!' Aku bersorak dalam hati.

Setidaknya aku harus buat orang percaya padaku dulu. Rencana pertama berhasil.

"Baiklah tiga bulan lagi. Tanggalnya tanggal berapa?" tanya Bapak.

"Hmm. Maaf, Pak. Bagaimana kalau pas ulang tahun Mas Arman?" usulku.

"Kenapa?" tanya Bapak.

"Ya, aku ingin pernikahan keduanya jadi hadiah dariku untuk Mas Arman."

Bapak mengangguk, paham.

"Bagaimana, Pak, Bu? tanya Bapak meminta persetujuan Bapak dan Ibu Handoko.

"Hmm. Kami setuju saja, ya, kan, Ma?"

"Iya, Pa," jawab Ibu Mila.

"Urusan biaya bagiamana, Pak?" tanyaku.

"Hmm. Bagaimana enaknya, ya," ucap Bapak.

Bapak dan Ibu Handoko diam. Mereka berdua saling sikut.

"Ehem. Begini saja. Bagiamana kalau dari Bapak Bagus dulu. Toh yang mengatur Ririn. Nanti habisnya berapa tinggal kita hitung bersama," ujar Pak Handoko.

Bapak tercengang mendengar ucapan calon besannya. Mungkin ia tak menyangka menikahi gadis kaya bakal ke luar uang juga.

Melihatnya seperti itu ingin rasanya aku tertawa.

"Iya, Jeng. Jangan khawatir, nanti kami akan bertanggung jawab. Kan Pak Bagus dan Jeng Marni tahu perusahaan kami banyak sedangkan Mila anak kami satu-satunya. Nanti harta kami, kan, pasti jatuh ke Arman juga," jelas Ibu Mila.

Wow! Amazing. Pernikahan macam apa ini?

Kulirik Mas Arman. Namanya disebut sebagai calon pewaris perusahaan besar membuat hidungnya kembang kempis.

Beralih kulirik Ibu mertua. Ia sudah senyum-senyum sendiri membayangkan anaknya mewarisi beberapa perusahan milik calon besan.

"Ah, iya-iya. Tentu saja. Bisa diatur," jawab Bapak.

***

Aku sedang mencuci piring bekas makan malam ketika sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.

"Bun, makasih, ya," ucapnya sambil menempelkan dagu di bahuku.

Ingin aku mengelak. Namun, belum saatnya. Aku harus mengikuti permainan mereka.

"Bunda gak marah, kan?" tanyanya.

Hahahah. Entah aku harus tertawa atau menangis mendengar pertanyaannya.

Lelaki ini, bertanya seperti Haidar jika ketahuan makan permen lantas aku perbolehkan.

Aku diam. Ia terus menciumi tengkuk dan pipiku. Ingin kudorong saja tubuh besarnya.

'Sabar, Rin.' Itu terus yang aku gumamkan dalam hati.

"Hmm. Mas, apa nanti setelah Mas menikah dengan Mila. Mila akan tinggal di sini?" tanyaku.

"Sepertinya gak, Sayang. Eh, tapi apa kamu mau serumah dengannya? Biar ramai?" tanyanya.

What? Lelaki ini bercanda. Otaknya sudah geser atau bagaimana?

"Ehm. Sepertinya mending dipisah aja deh, Mas. Aku takut khilaf kalau cemburu," ujarku memelas.

Mas Arman memasang wajah bersalah.

"Maaf, ya, Sayang." Mas Arman menangkup wajahku kemudian menempelkan dahiku dengan dahinya. Duku aku suka jika diperlakukan seperti ini. Namun, sekarang aku muak.

Aku mengangguk. Kemudian memaksakan diri tersenyum.

"Oh, iya Mas. Rumah yang kalian tempati itu milik Mila?" tanyaku.

Mas Arman mengangguk.

"Wah, Mila hebat, ya. Sudah punya rumah sendiri. Besar, Mas?" tanyaku lagi.

"Hmm. Mas belum pernah lihat, sih. Tapi, kata Bapak sama Ibu besar," ucapnya.

"Terus, Mas. Tadi aku dengar kalau Mas menikah dengannya, Mas akan pegang salah satu perusahaan mereka? Bener itu, Mas?" tanyaku masih penasaran.

Mas Arman mengangguk.

"Bukan hanya satu, Sayang. Hampir semua Mas akan pegang."

"Yang bener, Mas?" tanyaku pura-pura antusias. Sebenarnya ada maksud aku bertanya seperti ini.

"Iya. Enak, kan. Nanti kamu kebawa enak, Sayang." Mas Arman memainkan rambutku.

"Lho, kenapa?" tanyaku.

"Nanti, Mas akan kasih kamu bagian."

"Waw. Mau, Mas. Eh, tapi berarti rumah ini, Mas gak perlu lagi dong?" pancingku.

"Iya, nanti kita akan pindah ke rumah yang lebih besar," jawabnya.

"Ehm. Kalau rumah ini dibalik nama atas namaku gimana, Mas? Lagipula Mas nanti akan dapat yang lebih besar dan bagus dari ini," rayuku.

Mas Arman mengerenyitkan dahi. Ia berpikir. Beberapa saat kemudian ia merengkuh tubuhku. Kemudian membisikan kata-kata yang membuatku senang.

"Besok kita urus ya, Sayang. Rumah ini akan mas kasih sebagai hadiah karena kamu mengijinkan mas menikah lagi," ucapnya.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED