Bab 1

Di ruangan yang harusnya dingin ini, kulihat Mas Arman bercucuran keringat.

Kupandangi satu persatu wajah yang beberapa saat lalu begitu kuhormati.

Bapak mertua. Orang yang selama ini begitu kusegani. Tak menyangka ia akan tega melakukan hal ini padaku.

Ibu mertua. Wanita yang selama ini dengannya aku berusaha menahan sabar. Wajah itu, entah kenapa seperti menampakkan senyum kemenangan. Tutur lembutnya sejak dahulu memang pura-pura.

Para ipar. Kakak-kakak dari suamiku ini seperti tak mau tahu. Aku penasaran, jika mereka berada di posisiku apa yang akan mereka lakukan.

"Jadi gimana, Rin? Bapak berhutang budi banyak pada Pak Handoko. Salah satu caranya ya hanya itu," ucap Bapak.

Aku terdiam tak menanggapi.

"Lagi pula, bukankah di agama dibolehkan lelaki menikah sampai empat kali," ucap Ibu.

Aku mendongak menatapnya. Ajaib sekali wanita ini. Sesaat yang lalu ia meminta maaf dengan lembut. Namun, sekarang belum juga ada satu jam ia berkata seolah ini hal yang mudah.

Aku menatap Mas Arman. Lelaki itu sejak tadi tak juga bersuara. Hanya butiran keringat sebesar biji jagung yang menetes dari dahinya.

Aku menghela napas panjang. Kucoba memupuk kekuatan. Aku sendiri. Masalah ini harus selesai dengan caraku. Tak ingin kulibatkan keluarga yang ada di kampung.

"Ririn terserah Mas Arman saja, Pak," ucapku. Aku harus kuat, sekuat tenaga kutahan agar tak menangis di depan mereka.

Kulihat Bapak tersenyum. Senang sekali sepertinya.

"Nah, Arman. Sudah beres. Apa yang perlu dikhawatirkan lagi. Ririn sudah setuju," ucapnya pada suamiku.

"Tapi, Pak," ucap Mas Arman. Ia seraya melihat ke arahku.

Ayo, Mas. Kenapa diam? Ayo tolak permintaan bapakmu. Aku ingin lihat kesungguhan cinta yang selama ini kau selalu ucapkan.

Aku menunggu Mas Arman menyanggah ucapan bapaknya. Namun, ternyata jawabannya di luar dugaan.

"Ya, sudah. Kalau begitu Arman setuju." Bagai ada petir di siang bolong, tubuhku bergetar mendengar ucapan Mas Arman.

Sekuat tenaga aku menahan bulir bening yang hendak melesak ke luar. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau ini terjadi.

Bersamaan dengan hancurnya hatiku, aku mendengar Bapak tertawa dengan keras. Ibu mertua mengucap syukur. Bahagia sekali sepertinya mereka.

Harus kucegah, setidaknya aku tak mau sakit sendiri.

"Tapi, Ririn punya syarat, Pak." Dengan lantang aku berucap.

Ruangan yang beberapa saat lalu riuh dengan suasana sukacita mendadak senyap.

Semua mata memandang ke arahku. Terlihat Ibu mertua mengerutkan keningnya.

"Ririn mau calon bertemu dengan calon madu Ririn sebelum memutuskan Mas Arman boleh menikah lagi atau tidak," ucapku.

Terlihat helaan napas dari Bapak dan Ibu.

"Oh, tenang aja, Rin. Nanti kamu pasti suka. Anaknya baik, cantik, sudah gitu kaya lagi. Ya setidaknya pas dengan Arman. Pokoknya mantu idaman ibu, deh." Ibu mertua begitu antusias membicarakan wanita yang akan menjadi maduku.

Saat ia mengatakan itu, ada yang tercubit di dalam sini. Sakit sekali. Ia sepertinya menyadari perubahan di wajahku.

"Ibu juga mau merasakan punya mantu kaya, Rin. Karir bagus, cantik, besan yang bisa dibanggakan. Apalagi Arman anak lelaki satu-satunya," ucapnya lagi.

"Setidaknya, calon mantu ibu yang ini tak hanya pandai menghabiskan uang suami saja," ucapnya menyindirku.

Bagaimana ia memandangku selama ini? Ah, aku tahu aku tidak kaya. Akupun rela meninggalkan karirku yang tak hebat demi berbakti pada keluarga ini. Tapi, tak bisakah itu mengambil hatinya. Kebaikanku selama enam tahun ini.

Tak bisakah ia melihat perjuanganku yang bertaruh hidup dan mati demi melahirkan generasi penerus keluar ini. Aku rela pindah dan jauh dari orang tua demi Mas Arman fokus pada pekerjaannya. Jarak tempuh satu jam membuat Mas Arman capek kalau harus bolak balik dan aku mengalah demi itu.

Mendadak aku menjadi rapuh saat mengingat ada anak yang harus diperjuangkan.

"Ririn minta secepatnya, Pak. Setelah itu, Ririn akan beri keputusan," ucapku.

"Oh, tentu. Besok kita bicarakan hal ini lagi. Lebih cepat lebih baik."

Setelah pembicaraan itu, aku dan Mas Arman pulang ke rumah kami. Aku diam sepanjang jalan. Ia pun tak berusaha mengajakku mengobrol.

Aku Ririn sebenarnya sangat sakit hati ketika keluarga suami memintaku agar mau dimadu. Ah, bukan meminta sepertinya. Tapi, memaksa. Mau tak mau harus mau.

Suami yang aku harapkan menjadi tameng dan mau menolak pernikahan keduanya, ternyata hanya diam. Bagai kerbau dicicil hidungnya oleh burung gagak ia hanya diam.

Saat itu, rasanya ingin sekali aku berteriak perceraian. Namun, ada Haidar. Anak lelaki lima tahun, buah cinta aku dan suami yang harus diperjuangkan masa depannya.

Menikah dengan Mas Arman enam tahun lalu, merupakan sebuah anugerah terindah yang kudapatkan. Mendapatkan suami tampan, pekerja keras, dan yang terpenting sangat mencintaiku membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Dahulu, meski penolakan datang bertubi dari keluarganya terutama sang ibu, Mas Arman tetap maju. Ia memperjuangkan hubungan kami sampai Ibu mertua mau menerimaku.

Tapi, sepertinya ia belum sepenuhnya menerimaku. Karena, sejak menikah kami tak boleh tinggal berjauhan dengannya. Mulai dari tempat tinggal, model rumah, dan hal-hal sepele dalam kehidupan pernikahan kami semua diatur olehnya. Baik Bapak maupun Ibu mertuaku.

Aku berusaha sabar dan menurut saja. Sampai permintaan tak masuk akal itu terlontar dari mulut mereka.

"Rin ...," lirih Mas Arman memanggil namaku. Saat ini kami sudah berada di rumah kami. Tak jauh dari tempat tinggal mertuaku.

"Hmm." Aku menjawab sambil mengusap punggung Haidar yang sedang tertidur pulas.

"Maaf," ucap Mas Arman.

Aku bergeming.

"Mas gak bisa nolak," ucapnya lagi.

"Kenapa?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirku. Sekuat tenaga aku berusaha menahan tangis.

"Mas gak bisa, Rin," ucapnya.

"Iya, kenapa?" desakku.

"Kamu tahu, kan Ibu dan Bapak?" Ia balik bertanya.

"Aku tahu," ucapku singkat.

Terlihat wajah penuh lega di sana.

"Mas minta dukungan dan sedikit pengorbananmu, Rin." Mas Arman menggenggam tanganku.

Pengorbanan? Apa lagi ini? Bukankah selama ini aku yang banyak berkorban. Aku berhenti bekerja, jadi babu di rumah ibunya, berusaha menurut meski hati tak mau. Lalu pengorbanan seperti apa lagi?

"Mas minta kamu mau dimadu. Mas mohon. Mas hanya ingin berbakti," tutur Mas Arman.

Berbakti. Ya, itu yang selalu dijadikan senjata kedua mertuaku. Bagi mereka Mas Arman bukan anak berbakti karena memaksa menikah denganku.

"Kalau begitu, Mas sudah siap apapun keputusanku?" tantangku.

Mas Arman terbelalak.

"Memang apa keputusanmu?" tanyanya.

"Besok kita akan tahu," ujarku.

Kita lihat besok, Mas. Apa kamu akan terkejut dengan keputusanku? Bahkan sepertinya bukan hanya kamu saja, tapi Ibu dan Bapak juga.

Bersambung

Bab 2

Aku melihat Mas Arman tak berkedip melihat gadis di hadapannya.

Gadis itu datang bersama sang ayah. Kutaksir usianya sekitar 2 atau tiga tahun di bawahku. Ia memakai rok depan di atas lutut dengan belahan yang cukup tinggi. Jika duduk paha mulusnya terekspos dengan sempurna.

Wajahnya cantik, sangat cantik bila dibandingkan denganku yang jarang tersentuh make-up atau skincare mahal.

Rambut panjangnya terurai. Warna hitam legam sangat kontras dengan kulit putihnya yang mempesona.

Aku melirik Mas Arman. Kulihat beberapa kali ia meneguk ludah. Begitu juga dengan para iparku.

Laki-laki. Semuanya sama. Dikasih ikan segar pasti berebut.

"Mas Arman sehat? Kita bertemu lagi, ya, Mas? Padahal baru kemarin, hihihi," ucapnya mendayu.

Telingaku gatal mendengarnya mulai berbicara. Apa katanya tadi? Kemarin bertemu? Kapan? Jam berapa? Apakah pagi saat Mas Arman izin padaku untuk ke bengkel.

Aku menatap Mas Arman meminta penjelasan. Sudah kuduga, ia tak berani menatapku. Ia hanya cengengesan pada jalang itu.

"Hahahaha, Arman kangen itu sama kamu Mila. Sudah gak sabar," kelakar lelaki paruh baya di sebelahnya. Ia adalah Pak Handoko ayah gadis di hadapan kami yang bernama Mila.

Dua orang ini? Apakah mereka tak tahu ada istrinya di sini? Inikah yang kata ibu mertuaku orang yang bermartabat itu.

Bapak, Ibu, dan iparku tertawa bersamaan. Akrab sekali sepertinya dua keluarga ini. Apakah ada yang tidak aku ketahui?

Hanya Mas Arman saja yang kikuk berkali-kali ia melirikku. Dapat kupastikan wajahku saat ini. Sudah merah bak kepiting rebus.

"Ehem. Ini istri saya, Pak, Dek Mila." Mas Arman merangkul bahuku sambil memperkenalkan aku pada mereka. Apa tadi? Dek Mila? Oh, sudah punya panggilan sayang rupanya.

Mendadak suasana riuh itu berubah senyap.

Aku berusaha tersenyum dengan santai. Tak akan kutunjukkan di depan mereka bahwa aku lemah.

"Hai, Mbak Ririn, ya," ucap jalang itu sambil mengulurkan tangan. Ah, kusebut lagi ia jalang. Lantas sebutan apa yang pantas untuknya selain itu? Wanita yang mau suami orang ya memang pantas disebut jalang.

"Ya," ucapku sambil tersenyum menyambut tangannya.

"Oh, Nak Ririn. Salam kenal, ya. Semoga bisa jadi kakak madu yang baik buat Mila," ucap Pak Handoko.

Apa? Percaya diri sekali bapak ini? Sejak kapan aku setuju dimadu dengannya.

"Oh, memang kapan rencana pernikahannya, Pak? Saya belum bilang boleh, loh," jawabku sesantai mungkin.

Semua orang dalam ruangan itu menatapku terkejut. Terutama Bapak dan Ibu mertua kesayangan.

"Lho, bukannya kemarin kamu bilang sudah setuju?" tanya Bapak. Ibu mertua mengangguk. Tatapannya mengintimidasi agar aku segera menarik ucapanku.

"Maaf, Pak, Bu. Bukannya Ririn bilang keputusannya setelah Ririn melihat calon madu Ririn," jawabku.

"Oh, sekarang sudah lihat, kan? Lihat dia cantik sekali pas jika bersanding dengan Arman," jawab Ibu mertuaku.

Mila yang duduk berdekatan dengan ibu mertuaku mengusap lengan wanita itu. Akrab sekali. Seperti mertua dan mantu idaman.

"Ya, sih, cantik. Tapi, kok mau ya sama bekasku?" sindirku.

Seketika wajah manis yang tadinya terus tersenyum itu berubah kecut. Ibu mertua melotot ke arahku. Takut sekali ia sepertinya kehilangan calon mantu kebanggaan.

"Hahahaha, santai aja cuma bercanda, kok." Aku mengambil teh hangat yang tersedia di meja.

"Ayo, minum. Tehnya enak lho ini. Ibu pasti yang buat. Jarang-jarang aku bisa minum teh di rumah ini sambil santai. Biasanya aku yang repot di dapur," ujarku.

Aku terus meracau, tak ada satupun dari mereka berniat menjawab perkataanku. Ah, bahkan Ibu rela membuat teh hangat demi meluluhkan hatiku. Tapi, aku tak akan mudah luluh begitu saja.

Kulihat dengan kikuk mereka mengambil tehnya masing-masing. Lucu sekali.

"Rin, ikut ibu sebentar ke belakang, yu," ucap Ibu.

"Ada apa, ya, Bu?" tanyaku.

"Ada yang ingin ibu bicarakan," ucap Ibu mertuaku.

"Lho, di sini saja? Bukankah mereka sebentar lagi jadi keluarga?" jawabku.

"Ehem, iya Jeng di sini saja," ucap wanita bersanggul tinggi dengan dandanan menor. Pasti itu ibunya Mila.

Ibu akhirnya duduk kembali. Aku tahu hendak apa ia memanggilku ke belakang.

"Jadi, Nak Ririn. Ibu sebelumnya minta maaf kalau menyinggung Nak Ririn." Ibu Mila memulai obrolan denganku.

"Tapi, sebenarnya dahulu Mila dan Arman itu sudah dijodohkan. Namun, Arman memaksa menikah dengan Nak Ririn," ucapnya lagi.

Oh, tentu saja. Dahulu ia sangat mencintaiku.

"Tapi ... ternyata Mila masih memendam perasaan pada Nak Arman. Sampai sekarang ia belum mau menikah. Padahal banyak lelaki yang sudah meminangnya," lanjutnya.

Benarkah? Bukan gak laku ya?

"Jadi, ibu sangat berharap sekali Nak Ririn berbesar hati mau menerima Mila sebagai adik Nak Ririn," ucapnya mengiba.

"Ya, ini sebenarnya pernikahan yang tertunda. Meski kamu gak setuju juga akan kami laksanakan," ucap Ibu.

Apa? Frontal sekali bicara ibu mertuaku ini. Ngebet sekali ingin punya menantu kaya sepertinya.

Oke. Aku tahu, sejak awal memang begitu. Setuju atau tidaknya aku pernikahan ini akan dilaksanakan. Bahkan mereka sepertinya akan membuang ku jauh-jauh.

Sakit? Tentu saja. Hatiku sakit sekali, terlebih pada Mas Arman yang tak bisa berbuat apa-apa. Ah, sebenarnya ia bisa namun tak mau. Entah apa yang telah ibu mertuaku lakukan atau jalang itu perbuat sampai Mas Arman yang biasanya teguh berpendirian sampai melempem seperti kerupuk terkena angin.

Aku harus bermain cantik. Aku tak boleh sembrono. Setidaknya hak Haidar tidak begitu saja diambil oleh jalang ini. Aku yakin Bapak dan Ibu mertua pun tak perduli pada Haidar. Ah, anakku yang malang. Andai dulu aku tetap bekerja.

Aku menghela napas panjang.

"Hmm. Baiklah. Ririn setuju," ucapku.

Wajah sumringah Bapak dan Ibu terpancar seketika mendengarku. Mas Arman mengambil tanganku kemudian menggenggamnya.

Hanya saja, wajah Mila tak sebahagia yang aku kira. Tak mau, kah ia menjadi maduku? Padahal aku sudah berbesar hati padanya.

"Terima kasih, Sayang," ujar Ibu padaku. Ia menghambur memelukku. Ah, basa basi sekali. Jika bukan karena pernikahan kedua ini, sudah pasti aku sangat senang ibu begini. Meski kutahu itu palsu. Namun, maaf, Bu. Hatiku sudah beku. Cukup enam tahun aku disiksa batin olehmu. Keputusanku sudah bulat. Meski nanti Ibu memintaku kembali, aku tetap pada keputusanku.

Untuk sekarang nikmati saja kebahagiaan kalian. Pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit aku akan melepaskan rasa bahagia itu dari tubuh kalian.

"Mila, tapi mbak punya satu syarat," ucapku pada Mila.

Mila menatapku pernasaran. Kemudian mengangguk.

"Nanti biar mbak yang siapkan pesta pernikahan kalian, ya," ucapku sambil tersenyum semanis mungkin.

Dapat kulihat perubahan raut wajah dari calon maduku itu. Rencana pertama sudah kususun tapi dalam kepala. Bersiaplah calon adik maduku sayang.

Bersambung

Bab 3

"Tapi, Mbak. Aku gak mau pernikahan yang biasa, lho. Aku malu nanti sama temanku. Apa Mbak Ririn sanggup?"

Calon maduku tersayang ini ternyata banyak maunya. Okelah untuk menyenangkannya aku sanggup segala permintaannya.

"Tenang saja. Nanti semua mbak yang atur. Mbak juga bahagia Mas Arman bisa menikah dengamu. Terlebih, mbak bisa mendukung Mas Arman jadi anak berbakti," ucapku.

Ibu mertua sumringah mendengar perkataanku. Berulangkali kulihat anting bulat besar di telinganya bergoyang-goyang karena setuju dengan ucapanku.

"Benar, gak apa-apa Mila. Nanti biar ibu pantau kerja Ririn," ucap Ibu.

Ah, Ibu apa yang ingin kau pantau?

"Tapi, Bu. Kayaknya Ririn akan banyak butuh bantuan Ibu. Nanti Ririn minta dibimbing, ya," ucapku manis.

"Lha, iya. Harus itu," ujar Ibu bersemangat.

"Ta-." Mila tak melanjutkan perkataannya. Lengannya di senggol sang mama. Dapat kulihat mama Mila memberi kode agar Mila mengikuti saja mauku.

Ah, aku tak sabar.

"Wah, sudah bersemangat sepertinya. Gimana kalau sekarang kita menentukan tanggal pernikahan," ucap Bapak.

"Wah, iya mumpung ada di sini," balas Pak Handoko.

Ada rasa nyeri ketika mereka mengucapkan itu. Namun, aku harus tahan. Demi Haidar anakku. Belum saatnya aku mengucap kata cerai.

'Tunggu Ririn gak akan lama,' batinku menguatkan diri.

"Rin, Sayang. Makasih banyak, ya, Nak." Ibu mertua manis sekali berucap padaku.

Aku menatapnya. Andai ia berlaku begini terus padaku. Sungguh, aku tak tega menyakitinya. Namun, apa mau dikata ia bersikap manis karena aku mau dimadu.

Masih terus menggenggam tanganku. Ibu mertua mengobrol bersama calon besan.

Tak apa, aku akan memberikan sedikit bahagia pada kalian sebelum semuanya berbalik.

"Bagaimana kalau tiga bukan lagi," ucap Pak Handoko.

"Bagaimana, Rin. Apa cukup?" tanya Ibu.

"Sedikit mepet, Bu. Tapi Ririn usahakan," ujarku.

"Tiga bulan? Apa gak kelamaan. Aku pikir sebulan cukup," sanggah Mila.

Ah, gadis itu seperti orang ngebet kawin.

"Ya, terserah, sih. Kalau mau pesta yang biasa mungkin sebulan bisa. Tapi, kan. Kamu maunya yang wah. Kita perlu booking gedung yang bagus. Sedangkan gedung yang bagus pasti sudah laris. Tiga bulan menurutku terlalu mepet. Tapi, masih untung jika bisa dapet gedung yang oke. Belum lagi gaun. Tentu kamu gak mau, kan pake gaun yang biasa aja?" Aku menjelaskan panjang lebar. Ibu mertua dan ibu Mila mengangguk menyetujui ucapanku. Memang, pernikahan wah setidaknya butuh waktu paling cepat enam bulan untuk persiapan. Tiga bulan, termasuk mepet sekali. Tapi, tak apa aku bisa akali ini.

"Bener kata Ririn, Mil. Sudah tiga bulan saja. Itu juga sudah terlalu cepat. Lagipula kita gak mau kan pernikahan putri kita ini biasa saja," ujar ibu Mila.

"Iya, Mil. Biar Ririn yang atur. Ibu percaya sama dia." Ibu mertua mendukungku.

Didesak sana sini, akhirnya Mila pasrah. Ia mengikuti kemauan orangtuanya dan calon mertua.

'Horee!!!' Aku bersorak dalam hati.

Setidaknya aku harus buat orang percaya padaku dulu. Rencana pertama berhasil.

"Baiklah tiga bulan lagi. Tanggalnya tanggal berapa?" tanya Bapak.

"Hmm. Maaf, Pak. Bagaimana kalau pas ulang tahun Mas Arman?" usulku.

"Kenapa?" tanya Bapak.

"Ya, aku ingin pernikahan keduanya jadi hadiah dariku untuk Mas Arman."

Bapak mengangguk, paham.

"Bagaimana, Pak, Bu? tanya Bapak meminta persetujuan Bapak dan Ibu Handoko.

"Hmm. Kami setuju saja, ya, kan, Ma?"

"Iya, Pa," jawab Ibu Mila.

"Urusan biaya bagiamana, Pak?" tanyaku.

"Hmm. Bagaimana enaknya, ya," ucap Bapak.

Bapak dan Ibu Handoko diam. Mereka berdua saling sikut.

"Ehem. Begini saja. Bagiamana kalau dari Bapak Bagus dulu. Toh yang mengatur Ririn. Nanti habisnya berapa tinggal kita hitung bersama," ujar Pak Handoko.

Bapak tercengang mendengar ucapan calon besannya. Mungkin ia tak menyangka menikahi gadis kaya bakal ke luar uang juga.

Melihatnya seperti itu ingin rasanya aku tertawa.

"Iya, Jeng. Jangan khawatir, nanti kami akan bertanggung jawab. Kan Pak Bagus dan Jeng Marni tahu perusahaan kami banyak sedangkan Mila anak kami satu-satunya. Nanti harta kami, kan, pasti jatuh ke Arman juga," jelas Ibu Mila.

Wow! Amazing. Pernikahan macam apa ini?

Kulirik Mas Arman. Namanya disebut sebagai calon pewaris perusahaan besar membuat hidungnya kembang kempis.

Beralih kulirik Ibu mertua. Ia sudah senyum-senyum sendiri membayangkan anaknya mewarisi beberapa perusahan milik calon besan.

"Ah, iya-iya. Tentu saja. Bisa diatur," jawab Bapak.

***

Aku sedang mencuci piring bekas makan malam ketika sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.

"Bun, makasih, ya," ucapnya sambil menempelkan dagu di bahuku.

Ingin aku mengelak. Namun, belum saatnya. Aku harus mengikuti permainan mereka.

"Bunda gak marah, kan?" tanyanya.

Hahahah. Entah aku harus tertawa atau menangis mendengar pertanyaannya.

Lelaki ini, bertanya seperti Haidar jika ketahuan makan permen lantas aku perbolehkan.

Aku diam. Ia terus menciumi tengkuk dan pipiku. Ingin kudorong saja tubuh besarnya.

'Sabar, Rin.' Itu terus yang aku gumamkan dalam hati.

"Hmm. Mas, apa nanti setelah Mas menikah dengan Mila. Mila akan tinggal di sini?" tanyaku.

"Sepertinya gak, Sayang. Eh, tapi apa kamu mau serumah dengannya? Biar ramai?" tanyanya.

What? Lelaki ini bercanda. Otaknya sudah geser atau bagaimana?

"Ehm. Sepertinya mending dipisah aja deh, Mas. Aku takut khilaf kalau cemburu," ujarku memelas.

Mas Arman memasang wajah bersalah.

"Maaf, ya, Sayang." Mas Arman menangkup wajahku kemudian menempelkan dahiku dengan dahinya. Duku aku suka jika diperlakukan seperti ini. Namun, sekarang aku muak.

Aku mengangguk. Kemudian memaksakan diri tersenyum.

"Oh, iya Mas. Rumah yang kalian tempati itu milik Mila?" tanyaku.

Mas Arman mengangguk.

"Wah, Mila hebat, ya. Sudah punya rumah sendiri. Besar, Mas?" tanyaku lagi.

"Hmm. Mas belum pernah lihat, sih. Tapi, kata Bapak sama Ibu besar," ucapnya.

"Terus, Mas. Tadi aku dengar kalau Mas menikah dengannya, Mas akan pegang salah satu perusahaan mereka? Bener itu, Mas?" tanyaku masih penasaran.

Mas Arman mengangguk.

"Bukan hanya satu, Sayang. Hampir semua Mas akan pegang."

"Yang bener, Mas?" tanyaku pura-pura antusias. Sebenarnya ada maksud aku bertanya seperti ini.

"Iya. Enak, kan. Nanti kamu kebawa enak, Sayang." Mas Arman memainkan rambutku.

"Lho, kenapa?" tanyaku.

"Nanti, Mas akan kasih kamu bagian."

"Waw. Mau, Mas. Eh, tapi berarti rumah ini, Mas gak perlu lagi dong?" pancingku.

"Iya, nanti kita akan pindah ke rumah yang lebih besar," jawabnya.

"Ehm. Kalau rumah ini dibalik nama atas namaku gimana, Mas? Lagipula Mas nanti akan dapat yang lebih besar dan bagus dari ini," rayuku.

Mas Arman mengerenyitkan dahi. Ia berpikir. Beberapa saat kemudian ia merengkuh tubuhku. Kemudian membisikan kata-kata yang membuatku senang.

"Besok kita urus ya, Sayang. Rumah ini akan mas kasih sebagai hadiah karena kamu mengijinkan mas menikah lagi," ucapnya.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED