Sara mengerjapkan mata berulang kali, mencerna kembali apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Jika dia menganggukkan kepala, maka keajaiban luar biasa akan terjadi.
Setahun menikah, Sara tidak hanya sekali melihat tubuh suaminya. Dia tahu kalau Rion memiliki apa yang diidamkan para wanita. Mustahil jika dia tidak gugup, mustahil jika dia tidak memikirkan soal hubungan intim.
"Sara, kau mendengarkanku?"
"Y—ya, aku mendengarkanmu."
Betapa malunya berada di punggung sang suami dengan pipi yang merona merah. Sara ingin sekali memeluk pahatan sempurna itu dari belakang namun dia bukanlah seseorang yang aktif perihal bersentuhan.
"Kau masih bisa membatalkan niatmu jika tidak yakin untuk melakukannya."
"Tidak! Aku sangat yakin! Bisakah kau melepaskan pakaianmu?"
Rion menganggukkan kepala, tanpa ekspresi bersalah atau menyesal menunjukkan bagaimana bidangnya dada seorang pria, sedangkan Sara menanti dengan jantung berdegup kencang.
Sara tidak sabar, sungguh tidak sabar menodai matanya dengan pemandangan menakjubkan. Dia segera menyentuh pundak yang keras setelah baju berhasil dilepaskan, termenung beberapa saat hanya untuk sekadar menyadarkan diri kalau ini bukanlah mimpi.
"Ada apa, Sara?"
Mendengar suara itu membuat Sara sadar dan seketika menjadi canggung. Tangan yang terulur seolah sedang menyentuh tas mahal di toko besar juga mendadak kaku.
Apa yang dia lakukan?! Di depan suami sendiri terlihat seperti wanita tidak tahu malu!
Sara langsung meremas bahu suaminya sehingga Rion meringis kesakitan. Itu hampir seperti cubitan yang banyak, dilakukan dalam satu waktu. Bahkan, kulitnya memerah dan meninggalkan jejak tangan sesaat.
"Ma—maafkan aku!"
Rion mengernyitkan alis, melemparkan pandangan heran bercampur rasa sakit dalam ekspresi. "Apa kau yakin bisa memijat dengan baik?"
Sejujurnya, dia agak ragu soal itu.
"T—tentu saja! Aku bisa memijatmu dengan sangat baik."
Kini Sara memperlihatkan kemampuannya. Dia memijat bahu sang suami dengan lembut, membuat kepercayaan yang sempat lenyap timbul kembali. Rion tampaknya bisa menikmati bagaimana gerakan tangan Sara melemaskan otot-ototnya yang tegang.
"Aku harap kau tidak masalah jika keluargaku tinggal begitu lama bersama kita di sini."
"Kau tidak perlu khawatir."
Suasana hening selama beberapa saat. Mereka jarang berada dalam waktu seperti ini, ditambah Rion bukan orang yang suka bicara. Sara pun memiliki ketakutan soal menunjukkan siapa dirinya. Jadi, mereka pun sama-sama membuat batasan tanpa mencampurkannya dalam pernikahan, karena perjodohan yang terjadi membuat mereka membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan membentuk kepercayaan.
"Maaf, Sara. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Aku hanya sibuk bekerja, sedangkan kau sering terabaikan. Seharusnya, aku tidak berlaku demikian pada istriku sendiri."
"Kau tidak harus menekan dirimu. Aku sungguh baik-baik saja."
Mereka tidak menolak perjodohan, bukan berarti pula saling menyukai satu sama lain ketika pernikahan terjadi. Meskipun begitu, mereka sama-sama memberikan kesempatan untuk sebuah hubungan. Apa yang terjadi sampai detik ini adalah karena mereka berusaha melakukan yang terbaik.
Rion membalikkan badan, menyentuh tangan Sara sambil menatap kedua bola mata wanita itu dalam-dalam. Jantung Sara akan copot sebentar lagi, sepertinya begitu jika tatapan Rion yang selalu membuatnya gugup terus tertuju padanya.
"Aku masih belum bisa menata hatiku atas kepergian kakek. Maka dari itu, sulit bagiku berpikir dengan baik dan terkadang lupa dengan orang-orang di sekelilingku. Jadi, yang ingin aku katakan adalah jika ada yang ingin kau lakukan atau minta, katakan saja tanpa merasa terbebani."
Tidak Sara kira kalau suaminya akan memikirkannya sampai seperti itu. Dia hanya ingin mengerti akan kondisi Rion, lalu bertekad untuk menunggunya sampai suasana kembali membaik. Satu minggu sampai akhirnya mereka bisa bicara seperti ini tidaklah mudah, berada dekat namun terasa jauh.
Sara tersenyum, kemudian menganggukkan kepala. "Aku mengerti."
Rasa lapar membangunkan Sara lebih awal keesokan hari. Dia terkejut mendapati dirinya berada di pelukan Rion, sebelumnya pun bersandar di dada pria itu dengan nyaman. Bagaimana bisa berakhir begitu?
Tadi malam setelah memijat, dia sangat mengantuk dan akhirnya ikut tertidur. Pagi ini pun terbangunkan oleh rasa lapar karena tidak jadi turun untuk makan malam.
Dibandingkan hal itu, bisa menatap Rion dengan jarak begitu dekat sangatlah langka. Kalau saja bisa sedikit terbuka dengan kehidupan masing-masing, pasti hubungan mereka akan semakin erat. Atau ... tidak?
Sara tidak begitu tahu kepribadian suaminya, karena mereka bisa dikatakan jarang berinteraksi lebih mendalam. Pertama kali sesaat mereka resmi menjadi pasangan yang sudah menikah. Rion sempat bertanya banyak hal sampai membuat dia terkantuk-kantuk di malam pernikahan.
“Apa bunga favoritmu?”
“Tulip.”
“Kenapa memilih tulip?”
“K—karena dia cantik?”
“Kau tahu apa arti dari bunga tulip?”
“Sepengetahuanku, mereka memiliki arti yang berbeda-beda tergantung warnanya.”
“Benar.”
Itu merupakan kejadian yang lucu di mana kecanggungan sempat merebak di antara mereka. Siapa yang akan membahas soal bunga tulip di malam pertama pernikahan? Mungkin, hanya mereka orangnya. Topik yang dipilih secara asal adalah jalan untuk mengatasi kecanggungan menurut mereka.
Berbicara tentang malam pernikahan membuat pipi Sara merona merah. Mereka sudah pernah melakukan hubungan intim ketika menjalani bulan madu. Itu malam pertama yang canggung, karena mereka tidak memiliki pengalaman.
Kruk, kruk.
Sara segera menahan perutnya. Dia harus cepat-cepat ke luar kamar sebelum suara memalukan itu membangunkan Rion. Padahal, dia ingin tinggal sedikit lebih lama. Sangat disayangkan.
Turun ke lantai bawah, Sara langsung bertemu dengan ibunya Rion yang tampak tidak senang ekspresinya. Apa karena tadi malam dia tidak ke luar dari kamar untuk makan malam bersama?
"Selamat pagi, Bu," ucap Sara.
Belinda mengernyitkan alis. "Aku selalu ingin mengatakannya padamu bahwa aku bukanlah ibumu dan tidak akan pernah menjadi ibumu."
Dikatakan seperti itu, Sara ciut nyalinya. Dia menundukkan kepala dan berkata, "Maaf, T—tante."
Belinda tidak menghiraukan lagi, lantas menata makanan di meja. Tentu sebagai menantu Sara tidak ingin tinggal diam saja. Dia membantu pekerjaan rumah tangga yang biasanya dilakukannya itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Belinda dengan nada sinis andalan.
"Tante tidak seharusnya repot membuatkan sarapan. Saya yang akan melakukannya bersama para pelayan."
"Selain hobi membantah, ternyata kau juga hobi mengatur orang lain, ya?"
"Bukan seperti itu, saya hanya—"
"Pelayan memang berbaur dengan sesamanya." Charla muncul dan berkata.
"Apa maksudmu?"
Sara merasa kalau ucapan itu sudah sangat keterlaluan jika memang benar dirinya disebut sebagai pelayan.
"Orang yang hanya melakukan pekerjaan rumah, bukankah namanya pelayan?"
Sara tersenyum pahit. "Mengatakan diriku pelayan di rumah suami sendiri, bukankah itu sangat keterlaluan?"
"Rumah suamimu? Heh, kau pikir ada cap air yang mengatakan siapa pemilik rumah ini?"
"Dalam surat wasiat sudah jelas kalau kakek meninggalkan sebagian besar hartanya untuk Rion."
"Kalau memang begitu, kau sebaiknya pergi dari rumah ini, karena kakek tidak meninggalkan satu pun untukmu."
"Rion—"
"Kau pikir kak Rion akan membagikannya untukmu? Dia memang suamimu, tapi jika dia berpisah darimu, kau akan berbuat apa?"
"Berpisah?"
Sara yang sudah di ambang batas, langsung menjambak rambut Charla hingga sang adik ipar berteriak kesakitan. Belinda sendiri berusaha melerai namun sulit karena mereka berdua adalah ayam betina yang brutal.
"Setelah menyebutku pelayan, sekarang kau berani-beraninya berkata bahwa kami akan berpisah?!"
"Ibu, tolong aku! Wanita ini sudah gila!"
"Kau pikir aku akan mengalah hanya karena kau anak kecil? Aku sudah cukup bersabar selama ini dan tidak mengadukanmu pada Rion, tapi kau tetap saja tidak mengontrol ucapanmu sebagai anak kecil."
"Hah, anak kecil? Aku memang berumur delapan belas tahun, tapi otakku lebih dewasa dibandingkan dirimu!"
"Kau pikir berkata-kata buruk adalah sikap yang dewasa, hah?!"
"Kau sendiri menjabak rambutku!"
Mereka berakhir jambak-jambakan dan di pertengahan itu semua tidak sengaja menghadap tangga, langsung terdiam saat menemukan seseorang berdiri di atas sana sambil menatap mereka. Dia adalah Rion.
Charla segera menarik tangannya, merapikan rambut yang berantakan. Sara juga melakukan hal serupa.
"K—kak Rion, bukan aku yang memulainya."
Sara mengerutkan alis, tampak tidak terima. "Kau jelas yang memulainya lebih dulu."
Rion menghampiri mereka bertiga, lalu menatap Belinda dan berkata, "Maaf, seharusnya istriku tidak membuat keributan."
Sara melupakan keberadaan sang mertua, melihat Rion yang mewakilinya untuk meminta maaf. Dia lebih tidak bisa diandalkan sekarang. Hal itu membuat keberaniannya surut digantikan penyesalan lantaran tersulut emosi dan mengecewakan suaminya.
Belinda berdeham. "Lain kali, aku tidak ingin melihat kejadian ini lagi."
Belinda beranjak pergi bersama Charla, sedangkan Rion menatap istrinya dengan pandangan mata yang buruk. Baru kali ini Sara menerima tatapan mengerikan begitu dari suaminya.
"Ikut aku, Sara."
Sara terkejut saat dirinya dipeluk. Jika suasana yang terjadi begitu buruk dan mengingat ekspresi Rion tadi seharusnya pria itu marah, bukan?
Pelukan mereka lepas seiring Rion membuat jarak. Sara bingung harus bersikap bagaimana, karena dia berada di posisi yang salah. Dia tidak ingin jika bersuara nantinya hanya akan memperumit keadaan.
"Jangan melakukan hal tadi lagi."
Sara sendiri masih tidak terima sebenarnya, jadi dia berada dalam pergolakan batin. "Aku tidak senang dengan sikap mereka."
"Kau tidak perlu merasa senang. Hanya ... diam saja tanpa harus melakukan apa pun."
Sara mengernyitkan alis. "Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Dia menyamakan istrimu seperti pelayan, lalu mengatakan hal yang tidak-tidak soal pernikahan kita."
"Aku minta tolong padamu untuk tidak melakukan apa pun."
"Kenapa? Tidak hanya satu kali mereka menginjak harga diriku."
"Tetap saja, kau tidak perlu sampai emosi."
"Bagaimana tidak emosi? Aku juga memiliki hati, bukan hanya mereka saja."
"Tidak bisakah aku meminta tolong saja padamu? Sesungguhnya, ini membuatku sangat gila."
Rion tampak tertekan dan Sara tidak ingin keras kepala lebih jauh. Mereka baru saja kehilangan kakek, masih belum terbiasa betul dengan keadaan. Sara tidak ingin melihat Rion lebih bersedih lagi.
Sara menganggukkan kepala pada akhirnya. Mereka pun saling berpelukan. Sementara di balik itu, Sara harus meredam keinginan untuk memperjuangkan harga diri di depan keluarga Rion sehingga dia menjadi Sara yang tetap diperlakukan dengan buruk.
Sebelumnya, Sara berpikir kalau mereka akan berbelanja layaknya keluarga namun dia justru menjadi seperti pesuruh. Hanya karena dia bergantung pada Rion, maka orang-orang jadi menghinanya.
"Bawakan ini juga," ucap Charla, menyerahkan kantong berisi sepatu mahal yang baru saja dibeli dari sebuah toko.
"Lihat itu, Anakku! Sepertinya pakaian yang terpajang di manekin akan sangat cocok untukmu."
"Benarkah? Kalau begitu, ayo, kita ke sana."
Sara mengikuti mereka dalam keadaan kedua tangan yang penuh oleh barang belanjaan. Dia persis seperti pelayan yang menemani majikan. Sampai kapan dia akan merasakan penghinaan di dalam hidupnya?
"Sara, kemarilah!"
Sara menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Tentu saja. Memang, siapa lagi?" ucap Belinda.
Sara menghampiri mereka, dipilihkan satu pakaian yang menurutnya cukup minim. Dia disuruh untuk mencobanya dengan alasan Rion menyukai wanita berpenampilan menarik. Meskipun dia ragu soal itu namun tetap mencobanya.
Benar saja, Sara bisa dikatakan sangat cantik mengenakan gaun merah itu. Ibu dan anak juga menata penampilan Sara dengan harapan dapat mengubah nilai biasanya di mata Rion menjadi lebih baik.
"Maafkan aku, Kak Sara. Aku juga akan mengakui kesalahanku di depan Kak Rion. Jangan marah lagi padaku, ya?" Charla tiba-tiba berkata.
"Kakak adik sebaiknya tidak bertengkar dan selalu hidup rukun," tambah Belinda.
Sara merasa janggal, akan tetapi dia tidak tahu harus mencurigai tentang apa dari perlakuan mereka yang tiba-tiba berubah baik dalam sekejap mata.
Mereka juga memesankan kamar hotel untuk dia dan Rion. Pada saat itulah Sara agak gugup, menunggu kehadiran Rion di kamar hotel. Dia berdebar membayangkan akan bagaimana reaksi suaminya jika tahu dia berpenampilan berani begitu.
Jujur saja, dia tidak berdandan lantaran tidak tahu bagaimana tipe Rion. Dia takut nanti dibenci jika melakukan hal di luar kebiasaannya. Itu adalah caranya menjaga hubungan pernikahan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Pintu kamar hotel terbuka, menunjukkan sosok seorang pria. Sara terkejut melihat siapa yang datang.
"K—kau siapa? Kenapa bisa masuk ke mari?"
Pria asing itu tidak menjawab atau pun menyerah akan langkah Sara yang terus menjauh. Dia terus mendekat sampai sang wanita harus naik ke ranjang agar bisa pergi ke sisi lain. Sayangnya, Sara berhasil diraih dan membuat dia berusaha menahan diri dengan memberatkan tubuhnya di ranjang.
"Lepaskan aku!"
Pakaian Sara robek ketika berusaha melepaskan diri. Kekuatan wanitanya tidak dapat menandingi kekuatan seorang pria. Dia berhasil diperangkap.
Pada saat itu, sebuah ide muncul untuk memukul selangkangan sang pria asing dengan lutut. Sara bergegas ke luar kamar kemudian, dengan tergopoh-gopoh meninggalkan hotel. Dia pulang menggunakan taksi, menutupi tubuhnya dengan tangan. Selama itu dia menangis.
Pantas saja Charla dan sang mertua baik. Ternyata, mereka ingin melakukan hal keji dengan menyuruh orang untuk menodai dirinya di hotel. Rion hanyalah dalih supaya dia terjebak dalam permainan ibu dan anak itu.
Sesampainya di rumah, Sara hendak mencari orang yang telah berlaku demikian buruk padanya. Hanya saja, dia menemukan hal mengejutkan lain ketika berhasil melewati pintu utama.
Sara berpapasan dengan suaminya. Dia tidak ingin membayangkan apa yang dipikirkan Rion mengenai penampilan dan juga keadaan, karena dia sendiri sedang kesulitan menata diri setelah hendak dinodai oleh pria lain.
"Kau di rumah, Rion? Bukankah sekarang seharusnya berada di kantor?"
Rion menunjukkan berkas di tangannya. "Aku pulang untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Kau sendiri, kenapa berkeliaran dengan penampilan seperti itu?"
"Rion."
Percakapan mereka terpaksa selesai sampai di sana saat Belinda dan Charla datang.
"Kau harus melihat ini."
Belinda menyerahkan sesuatu pada Rion. Itu adalah video singkat, menunjukkan Sara dan seorang pria. Pakaian yang dikenakan sama dengan pakaian Sara saat ini.
Apa yang akan dipikirkan Rion soal itu?
Rion menatap istrinya dengan berang, sedangkan yang ditatap tampak bingung. Sara masih belum tahu kalau video yang ditunjukkan adalah dirinya bersama seorang pria di kamar hotel.
"Kau sudah melihatnya sendiri, bukan? Istrimu bukanlah wanita baik," ucap Belinda.
Sara mengerutkan dahi. "Apa maksud Tante?"
Belinda menunjukkan video rekaman di ponselnya. "Seorang teman melihat menantu keluarga Atkinson masuk ke kamar hotel bersama pria. Dia mengirimkan bukti ini padaku. Bisakah kau menjelaskannya, Sara? Kau telah membuat malu kami dengan sikap kotormu."
"A—aku ...."
Sara menatap suaminya yang melemparkan pandangan ke arah lain. "Rion, aku tidak seperti yang dituduhkan. Kau percayalah padaku bahwa aku bukan orang seperti itu."
"Sudah seperti ini, tunggu apa lagi, Rion? Kau harus berpisah dengan orang yang telah mencoreng nama baik keluarga Atkinson!"
"Benar, Kakak! Kakek pasti juga sedih melihat kelakuan kakak ipar yang begini."
"Apa maksud kalian? Bukankah kalian yang memilihkan pakaian ini dan mengatakan padaku kalau Rion akan datang ke hotel?"
"Hah?! Kau sudah gila, ya, Kak? Kami hanya duduk diam di rumah hari ini."
"Tidak mungkin seperti itu. Kalian—"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sara! Kau sudah membuatku sangat marah!" Belinda memukul-mukul dadanya. "Oh, Tuhan! Bagaimana bisa wanita ini datang ke rumah kami dan membuat kekacauan besar?"
"Ibu, tenanglah. Aku akan membantu Ibu untuk duduk."
Sara menyentuh tangan suaminya. "Rion, kau percaya kalau aku bukan wanita seperti itu, bukan?"
"Aku mendapatkan notifikasi pengeluaran rekeningku. Kau berbelanja begitu banyak hari ini."
"Apa?"
Sara memeriksa tas, tidak sadar kalau kartu pembayarannya hilang. Apa ibu dan anak yang sedang melakukan drama itu mengambilnya secara diam-diam? Dia tidak menyadari sama sekali.
Rion melepaskan tangan sang istri darinya, lalu berkata dengan ekspresi pahit, "Kita sampai di sini saja, Sara."
"Maksudmu apa?"
"Aku akan meminta pengacara untuk mengurus perpisahan kita."
Setelah berucap hal memilukan, Rion ke luar dari rumah. Charla dan Belinda tertawa penuh kemenangan lantaran rencana mereka berhasil. Sementara Sara terduduk di lantai dengan raut wajah terkejut tidak percaya.
Dia dan Rion akan berpisah. Apa ada makna lain dari kata-kata itu kecuali perceraian?