Suasana di rumah mewah itu kelihatan suram, alasannya karena duka menyelimuti keluarga besar Atkinson. Tangisan orang-orang yang kehilangan sudah terkuras habis, tinggal merenungi nasib ke depan tanpa sang kakek yang selalu menjadi panutan.
Sara dan ibu mertuanya mengantarkan tamu duka sampai ke depan pintu sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih pada mereka yang telah hadir. Kesunyian pun menjadi semakin dekat, melebarkan sayap untuk segera dipeluk oleh kesedihan.
Sara memperhatikan sekeliling, tidak menemukan sosok suaminya yang menemani tamu duka terakhir. Jika kedatangan rekan bisnis ke mari bertujuan untuk menghibur hati yang sedang bersedih, justru Rion selama itu hanya mendengar tanpa berkata-kata.
Sara tahu bagaimana kedekatan antara Rion dan kakek, wajar jika sulit mengharapkan pria itu melupakan kesedihan dengan cepat. Walaupun begitu, dia akan terus berada di sisi Rion sebagai seorang istri pilihan kakek.
Mencari-cari keberadaan sang suami, Sara menemukannya tengah duduk di bangku taman seorang diri. Saat langkah sudah bertemu pada tujuan, dia melihat jelas raut wajah lesu Rion kembali.
Sara duduk pula di sana. Dia menyodorkan minuman yang sebelumnya diambil dari dapur dan berkata, "Kau tidak makan apa-apa sejak tadi pagi. Setidaknya, biarkan air putih ini membasahi tenggorokanmu sebentar."
Rion menolak, sedangkan Sara yang keras kepala membuat sang suami mau tidak mau meneguk minuman tersebut sampai habis. Sara meraih gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di samping dia duduk. Hanya saja, raut wajah murung Rion tidak lenyap begitu mudah hanya dengan satu gelas minuman, lantas Sara memberikan pelukan.
"S—sara ...." Rion terkejut akan pelukan yang tiba-tiba.
Rasa terkejut itu berkurang ketika Rion merasakan sentuhan lembut di punggungnya. Sara mengusap-usap seolah ingin menenangkan. Apa istrinya sedang berusaha untuk mengurangi kesedihannya?
"Kakek pernah berkata padaku kalau dia sangat menyayangimu."
Rion membalas pelukan sang istri. Baginya yang diasuh oleh sang kakek setelah kepergian orangtua, tidak ada kebahagiaan lain kecuali menyenangkan beliau. Sekarang dia tidak bisa membahagiakan, bahkan melihat senyuman pria tua itu hanya bisa melalui foto saja.
“Apa kakek benar berkata begitu?”
Sara menganggukkan kepala. “Kau tahu kalau kakek tidak mungkin berbohong soal cucu kesayangannya.”
Mendengar pernyataan kecil dari Sara setidaknya membuat hati lega. Kemurungan yang pekat di wajah Rion pun berangsur memudar. Apa itu juga efek dari sebuah pelukan? Yang jelas di saat bersedih seperti sekarang, Rion memang membutuhkan seseorang seperti Sara di sisinya.
Satu minggu setelah masa berkabung, Rion masih merasakan kesedihan, akan tetapi lebih baik dari sebelumnya. Dia bisa bertahan lantaran disibukkan oleh urusan pekerjaan yang membuat dia tidak bisa berlarut-larut meratapi kepergian sang kakek.
Di sisi lain, Sara juga berusaha untuk menjadi sosok lebih baik lagi sebagai seorang istri. Dia tidak ingin memberatkan pikiran Rion dengan hal yang bisa dilakukannya sendiri. Sudah cukup pria itu berduka atas kepergian kakek.
“Apa kebutuhan rumah tangga yang perlu dibeli sebanyak ini?” tanya Sara.
Ketua pelayan yang mendengarnya menjawab, “Nyonya besar dan nona Charla berkata bahwa mereka membutuhkan semua itu.”
Sebelumnya Sara tinggal bersama Rion dan juga sang kakek, akan tetapi semenjak kabar duka entah bagaimana orang-orang yang tidak tinggal bersama mereka jadi menempati kamar di rumah ini. Bukan berarti dia tidak senang dengan keberadaan keluarga sendiri, hanya terkejut dengan pengeluaran rumah tangga mereka. Tidak masalah jika itu satu kali atau dua kali, tetapi akan berbeda kasusnya jika terjadi terus-menerus.
Sekarang adalah waktu yang tidak mudah bagi Rion yang harus menangani perusahaan sendirian. Tidak tahu kejadian apa yang telah menunggu di depan nanti, mereka seharusnya lebih berhati-hati mengambil keputusan.
“Aku akan membicarakan hal ini pada ibu dan juga Charla.”
“Baik, Nyonya.”
Teriakan yang memanggil namanya membuat Sara mengerutkan dahi. Dia beranjak dari dapur dan pada saat itu melihat sosok Charla muncul dengan raut wajah yang buruk. Hal apa yang membuat adik iparnya terlihat sangat kesal?
"Kau tidak memiliki telinga, ya, Sara?! Aku memanggilmu sejak tadi!”
“Oh, Charla! Ada apa?”
"Berhenti memanggil namaku dengan ekspresi seolah kita sangat dekat."
Sara berpikir kalau adik iparnya hanya emosional, jadi tidak sengaja bersikap buruk padanya. Dia menyingkirkan keinginan hati untuk menasihati dan berkata, “Maaf."
Charla melipatkan tangan di dada, melempar pandangan sinis. "Kau sudah melakukan permintaanku?"
"Aku sudah meminta pelayan untuk melakukannya. Apa sudah dilakukan, Bi?” tanya Sara pada ketua pelayan yang berdiri di sampingnya.
“Sudah, Nyonya.”
"Apa?! Kau meminta pelayan mengisi bak mandi dengan tangan mereka yang menjijikkan itu?"
Sara tersentak, begitu pula dengan para pelayan yang sedang bekerja dan tidak sengaja mendengar perdebatan. Mereka sudah pasti tersinggung dengan perkataan anak berusia 22 tahun ini. Sejak kapan Charla memiliki sifat tidak sopan? Jauh berbeda dari yang Sara tahu.
"Aku harus mengerjakan hal lain. Jadi, tidak sempat mengisi air bak mandimu. Itu juga bukan tugasku. Kau bisa meminta tolong pada pelayan."
"Hah? Kau ingin membantah, ya?!"
"Kenapa pagi hari sudah begitu ribut?"
Seorang wanita paruh baya muncul di tengah perdebatan. Dia adalah orang yang harus Sara hormati yaitu ibu mertuanya. Setelah kepergian kakek, dia menjadi orang paling tua di rumah ini dan suaranya mutlak didengar, meskipun Sara selalu memiliki firasat buruk soal beliau. Dia berusaha untuk menolak anggapan tidak berdasar itu.
"Lihatlah, menantu ibu yang suka mencari muka di depan kakek dan kakak ini. Aku hanya meminta bantuan mengisikan air bak mandi, tetapi dia justru melemparkan tugasnya pada pelayan."
"Itu karena saya harus memeriksa kebutuhan bulanan. Dan lagi, saya pikir mengisikan air bak mandi bukanlah tugas seorang menantu di rumah ini."
Belinda tersenyum miring, menatap jijik pada sang menantu. “Ternyata beginilah sikapmu yang sebenarnya. Aku tidak tahu kalau kau ingin berkuasa di rumah ini hanya karena label seorang istri.”
“S—saya tidak bermaksud begitu. Ibu memikirkannya terlalu berlebihan.”
Belinda mencengkeram bahu Sara dengan kuat, membuat sang menantu kesakitan oleh kuku panjang terpoles cat berwarna merah. “Jangan bertingkah, Sara. Di hadapan kami, kau hanyalah rumput liar yang tumbuh di halaman.”
Sara menatap kedua mata ibu mertua yang tajam. Dia gemetar oleh gejolak perasaan asing yang tidak pernah dirasakannya selama ini. Apa itu marah atau takut?
Belinda menarik tangannya untuk kemudian dilipatkan di dada. “Kami sudah lama tidak ke mari, setidaknya perlakukan kami lebih baik dari ini.”
"Saya akan mengisi bak mandinya dengan yang baru.”
"Tidak perlu," ucap Charla dengan tegas. "Jika tidak mau membantu seharusnya katakan sejak awal agar waktuku tidak terbuang. Sangat tidak bisa diandalkan."
Charla berdecak, lalu pergi meninggalkan mereka. Sara tidak tahu harus berkata apa lagi karena dia merasa apa yang terjadi bukanlah kesalahannya. Di sisi lain, dia juga tidak ingin mengecewakan Rion jika tahu kalau dirinya kesulitan lantaran masalah sepele.
"Jangan besar kepala hanya karena kau istrinya Rion. Kami semua tidak pernah menerimamu masuk ke keluarga Atkinson, asal kau tahu saja. Maka dari itu, bersikaplah tahu diri pada orang yang menolong hidupmu.”
Sepeninggal Belinda, Sara terdiam begitu lama. Dia cukup terkejut mendengar pengakuan tersebut. Apa maksudnya kalau dia tidak pernah diterima masuk ke keluarga Atkinson?
Sara menepis pemikiran buruk tentang mereka. Dia berpikir mungkin kemarahan membuat apa yang seharusnya tidak diucapkan jadi terucap. Mustahil dia dianggap begitu, karena selama ini semua baik-baik saja.
“Bagaimana dengan kebutuhan rumah tangganya, Nyonya?”
Sara melihat buku catatan khusus yang ada di tangannya. Bagaimana dia akan menanyakan soal itu pada mereka saat kondisi buruk begini?
“Bersiaplah dan temani aku untuk membelinya.”
Rion pulang kerja pada malam hari. Dia datang langsung disambut oleh sang istri yang sudah lama menanti. Sara sendiri berpikir kalau kehidupannya sekarang sangat sempurna, menjalani pernikahan dengan orang seperti Rion. Suaminya tipikal pemimpin perusahaan seperti yang ada di dalam novel-novel, tampan, dan kaya. Dia tidak berbohong jika pria idamannya juga serupa.
"Aku sudah mengisi bak mandi untukmu," ucap Sara.
"Terima kasih."
Rion membasuh diri, sedangkan Sara duduk di tepi ranjang. Dia bahkan sudah menyiapkan pakaian ganti. Tidak lama kemudian, Rion ke luar dengan jubah mandi dan mengenakan pakaian yang sudah tersedia.
Rion tidak makan malam hari ini. Dia sudah melakukannya ketika bertemu dengan klien, mereka makan bersama. Jadi, hanya Sara yang akan turun, menghabiskan makan malam bersama anggota keluarga lainnya.
"Aku akan beristirahat lebih dulu."
Sara menganggukkan kepala. Dia tahu kalau beberapa hari terakhir adalah waktu yang sibuk bagi suaminya bekerja, jadi tidak ingin memaksa untuk menemaninya di ruang makan.
"Kau ingin aku pijat?"
Rion yang baru menarik selimut itu langsung berhenti. Dia agak bingung, karena baru kali ini selama mereka menikah ditawari perihal memijat.
"Sejujurnya, aku cukup lelah, tapi aku juga tahu kalau kau pasti juga lelah melalui aktivitasmu hari ini."
"Tidak masalah. Aku masih bisa memijatmu sebentar, dengan begitu kau bisa tidur dengan nyenyak."
Rion menggaruk kepala. Dia tidak begitu butuh sebenarnya namun jika dipikir-pikir, mereka tidak memiliki banyak waktu berdua satu minggu ini. Mungkin, jika mereka duduk sekitar sepuluh menit saja, bukan sebuah masalah besar, bukan?
"Baiklah. Aku meminta bantuanmu."
Sara tersenyum, lalu dia naik ke ranjang dan duduk di belakang sang suami. Dia menatap punggung lebar di depannya dengan terkagum-kagum. Itu seperti aset negara.
Bagaimana dada bidangnya Rion? Bukan berarti dia tidak pernah melihatnya, akan tetapi memikirkan seperti ini cukup membuat jantung berdebar lima kali lipat.
Rion menoleh ke belakang sebentar, dengan kebingungan berkata, "Oh, apa aku harus membuka pakaianku agar kau bisa memijatku dengan mudah?"
Sara menaikkan kedua alis, reaksinya agak terlambat. "Apa?”
Sara mengerjapkan mata berulang kali, mencerna kembali apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Jika dia menganggukkan kepala, maka keajaiban luar biasa akan terjadi.
Setahun menikah, Sara tidak hanya sekali melihat tubuh suaminya. Dia tahu kalau Rion memiliki apa yang diidamkan para wanita. Mustahil jika dia tidak gugup, mustahil jika dia tidak memikirkan soal hubungan intim.
"Sara, kau mendengarkanku?"
"Y—ya, aku mendengarkanmu."
Betapa malunya berada di punggung sang suami dengan pipi yang merona merah. Sara ingin sekali memeluk pahatan sempurna itu dari belakang namun dia bukanlah seseorang yang aktif perihal bersentuhan.
"Kau masih bisa membatalkan niatmu jika tidak yakin untuk melakukannya."
"Tidak! Aku sangat yakin! Bisakah kau melepaskan pakaianmu?"
Rion menganggukkan kepala, tanpa ekspresi bersalah atau menyesal menunjukkan bagaimana bidangnya dada seorang pria, sedangkan Sara menanti dengan jantung berdegup kencang.
Sara tidak sabar, sungguh tidak sabar menodai matanya dengan pemandangan menakjubkan. Dia segera menyentuh pundak yang keras setelah baju berhasil dilepaskan, termenung beberapa saat hanya untuk sekadar menyadarkan diri kalau ini bukanlah mimpi.
"Ada apa, Sara?"
Mendengar suara itu membuat Sara sadar dan seketika menjadi canggung. Tangan yang terulur seolah sedang menyentuh tas mahal di toko besar juga mendadak kaku.
Apa yang dia lakukan?! Di depan suami sendiri terlihat seperti wanita tidak tahu malu!
Sara langsung meremas bahu suaminya sehingga Rion meringis kesakitan. Itu hampir seperti cubitan yang banyak, dilakukan dalam satu waktu. Bahkan, kulitnya memerah dan meninggalkan jejak tangan sesaat.
"Ma—maafkan aku!"
Rion mengernyitkan alis, melemparkan pandangan heran bercampur rasa sakit dalam ekspresi. "Apa kau yakin bisa memijat dengan baik?"
Sejujurnya, dia agak ragu soal itu.
"T—tentu saja! Aku bisa memijatmu dengan sangat baik."
Kini Sara memperlihatkan kemampuannya. Dia memijat bahu sang suami dengan lembut, membuat kepercayaan yang sempat lenyap timbul kembali. Rion tampaknya bisa menikmati bagaimana gerakan tangan Sara melemaskan otot-ototnya yang tegang.
"Aku harap kau tidak masalah jika keluargaku tinggal begitu lama bersama kita di sini."
"Kau tidak perlu khawatir."
Suasana hening selama beberapa saat. Mereka jarang berada dalam waktu seperti ini, ditambah Rion bukan orang yang suka bicara. Sara pun memiliki ketakutan soal menunjukkan siapa dirinya. Jadi, mereka pun sama-sama membuat batasan tanpa mencampurkannya dalam pernikahan, karena perjodohan yang terjadi membuat mereka membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan membentuk kepercayaan.
"Maaf, Sara. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Aku hanya sibuk bekerja, sedangkan kau sering terabaikan. Seharusnya, aku tidak berlaku demikian pada istriku sendiri."
"Kau tidak harus menekan dirimu. Aku sungguh baik-baik saja."
Mereka tidak menolak perjodohan, bukan berarti pula saling menyukai satu sama lain ketika pernikahan terjadi. Meskipun begitu, mereka sama-sama memberikan kesempatan untuk sebuah hubungan. Apa yang terjadi sampai detik ini adalah karena mereka berusaha melakukan yang terbaik.
Rion membalikkan badan, menyentuh tangan Sara sambil menatap kedua bola mata wanita itu dalam-dalam. Jantung Sara akan copot sebentar lagi, sepertinya begitu jika tatapan Rion yang selalu membuatnya gugup terus tertuju padanya.
"Aku masih belum bisa menata hatiku atas kepergian kakek. Maka dari itu, sulit bagiku berpikir dengan baik dan terkadang lupa dengan orang-orang di sekelilingku. Jadi, yang ingin aku katakan adalah jika ada yang ingin kau lakukan atau minta, katakan saja tanpa merasa terbebani."
Tidak Sara kira kalau suaminya akan memikirkannya sampai seperti itu. Dia hanya ingin mengerti akan kondisi Rion, lalu bertekad untuk menunggunya sampai suasana kembali membaik. Satu minggu sampai akhirnya mereka bisa bicara seperti ini tidaklah mudah, berada dekat namun terasa jauh.
Sara tersenyum, kemudian menganggukkan kepala. "Aku mengerti."
Rasa lapar membangunkan Sara lebih awal keesokan hari. Dia terkejut mendapati dirinya berada di pelukan Rion, sebelumnya pun bersandar di dada pria itu dengan nyaman. Bagaimana bisa berakhir begitu?
Tadi malam setelah memijat, dia sangat mengantuk dan akhirnya ikut tertidur. Pagi ini pun terbangunkan oleh rasa lapar karena tidak jadi turun untuk makan malam.
Dibandingkan hal itu, bisa menatap Rion dengan jarak begitu dekat sangatlah langka. Kalau saja bisa sedikit terbuka dengan kehidupan masing-masing, pasti hubungan mereka akan semakin erat. Atau ... tidak?
Sara tidak begitu tahu kepribadian suaminya, karena mereka bisa dikatakan jarang berinteraksi lebih mendalam. Pertama kali sesaat mereka resmi menjadi pasangan yang sudah menikah. Rion sempat bertanya banyak hal sampai membuat dia terkantuk-kantuk di malam pernikahan.
“Apa bunga favoritmu?”
“Tulip.”
“Kenapa memilih tulip?”
“K—karena dia cantik?”
“Kau tahu apa arti dari bunga tulip?”
“Sepengetahuanku, mereka memiliki arti yang berbeda-beda tergantung warnanya.”
“Benar.”
Itu merupakan kejadian yang lucu di mana kecanggungan sempat merebak di antara mereka. Siapa yang akan membahas soal bunga tulip di malam pertama pernikahan? Mungkin, hanya mereka orangnya. Topik yang dipilih secara asal adalah jalan untuk mengatasi kecanggungan menurut mereka.
Berbicara tentang malam pernikahan membuat pipi Sara merona merah. Mereka sudah pernah melakukan hubungan intim ketika menjalani bulan madu. Itu malam pertama yang canggung, karena mereka tidak memiliki pengalaman.
Kruk, kruk.
Sara segera menahan perutnya. Dia harus cepat-cepat ke luar kamar sebelum suara memalukan itu membangunkan Rion. Padahal, dia ingin tinggal sedikit lebih lama. Sangat disayangkan.
Turun ke lantai bawah, Sara langsung bertemu dengan ibunya Rion yang tampak tidak senang ekspresinya. Apa karena tadi malam dia tidak ke luar dari kamar untuk makan malam bersama?
"Selamat pagi, Bu," ucap Sara.
Belinda mengernyitkan alis. "Aku selalu ingin mengatakannya padamu bahwa aku bukanlah ibumu dan tidak akan pernah menjadi ibumu."
Dikatakan seperti itu, Sara ciut nyalinya. Dia menundukkan kepala dan berkata, "Maaf, T—tante."
Belinda tidak menghiraukan lagi, lantas menata makanan di meja. Tentu sebagai menantu Sara tidak ingin tinggal diam saja. Dia membantu pekerjaan rumah tangga yang biasanya dilakukannya itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Belinda dengan nada sinis andalan.
"Tante tidak seharusnya repot membuatkan sarapan. Saya yang akan melakukannya bersama para pelayan."
"Selain hobi membantah, ternyata kau juga hobi mengatur orang lain, ya?"
"Bukan seperti itu, saya hanya—"
"Pelayan memang berbaur dengan sesamanya." Charla muncul dan berkata.
"Apa maksudmu?"
Sara merasa kalau ucapan itu sudah sangat keterlaluan jika memang benar dirinya disebut sebagai pelayan.
"Orang yang hanya melakukan pekerjaan rumah, bukankah namanya pelayan?"
Sara tersenyum pahit. "Mengatakan diriku pelayan di rumah suami sendiri, bukankah itu sangat keterlaluan?"
"Rumah suamimu? Heh, kau pikir ada cap air yang mengatakan siapa pemilik rumah ini?"
"Dalam surat wasiat sudah jelas kalau kakek meninggalkan sebagian besar hartanya untuk Rion."
"Kalau memang begitu, kau sebaiknya pergi dari rumah ini, karena kakek tidak meninggalkan satu pun untukmu."
"Rion—"
"Kau pikir kak Rion akan membagikannya untukmu? Dia memang suamimu, tapi jika dia berpisah darimu, kau akan berbuat apa?"
"Berpisah?"
Sara yang sudah di ambang batas, langsung menjambak rambut Charla hingga sang adik ipar berteriak kesakitan. Belinda sendiri berusaha melerai namun sulit karena mereka berdua adalah ayam betina yang brutal.
"Setelah menyebutku pelayan, sekarang kau berani-beraninya berkata bahwa kami akan berpisah?!"
"Ibu, tolong aku! Wanita ini sudah gila!"
"Kau pikir aku akan mengalah hanya karena kau anak kecil? Aku sudah cukup bersabar selama ini dan tidak mengadukanmu pada Rion, tapi kau tetap saja tidak mengontrol ucapanmu sebagai anak kecil."
"Hah, anak kecil? Aku memang berumur delapan belas tahun, tapi otakku lebih dewasa dibandingkan dirimu!"
"Kau pikir berkata-kata buruk adalah sikap yang dewasa, hah?!"
"Kau sendiri menjabak rambutku!"
Mereka berakhir jambak-jambakan dan di pertengahan itu semua tidak sengaja menghadap tangga, langsung terdiam saat menemukan seseorang berdiri di atas sana sambil menatap mereka. Dia adalah Rion.
Charla segera menarik tangannya, merapikan rambut yang berantakan. Sara juga melakukan hal serupa.
"K—kak Rion, bukan aku yang memulainya."
Sara mengerutkan alis, tampak tidak terima. "Kau jelas yang memulainya lebih dulu."
Rion menghampiri mereka bertiga, lalu menatap Belinda dan berkata, "Maaf, seharusnya istriku tidak membuat keributan."
Sara melupakan keberadaan sang mertua, melihat Rion yang mewakilinya untuk meminta maaf. Dia lebih tidak bisa diandalkan sekarang. Hal itu membuat keberaniannya surut digantikan penyesalan lantaran tersulut emosi dan mengecewakan suaminya.
Belinda berdeham. "Lain kali, aku tidak ingin melihat kejadian ini lagi."
Belinda beranjak pergi bersama Charla, sedangkan Rion menatap istrinya dengan pandangan mata yang buruk. Baru kali ini Sara menerima tatapan mengerikan begitu dari suaminya.
"Ikut aku, Sara."
Sara terkejut saat dirinya dipeluk. Jika suasana yang terjadi begitu buruk dan mengingat ekspresi Rion tadi seharusnya pria itu marah, bukan?
Pelukan mereka lepas seiring Rion membuat jarak. Sara bingung harus bersikap bagaimana, karena dia berada di posisi yang salah. Dia tidak ingin jika bersuara nantinya hanya akan memperumit keadaan.
"Jangan melakukan hal tadi lagi."
Sara sendiri masih tidak terima sebenarnya, jadi dia berada dalam pergolakan batin. "Aku tidak senang dengan sikap mereka."
"Kau tidak perlu merasa senang. Hanya ... diam saja tanpa harus melakukan apa pun."
Sara mengernyitkan alis. "Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Dia menyamakan istrimu seperti pelayan, lalu mengatakan hal yang tidak-tidak soal pernikahan kita."
"Aku minta tolong padamu untuk tidak melakukan apa pun."
"Kenapa? Tidak hanya satu kali mereka menginjak harga diriku."
"Tetap saja, kau tidak perlu sampai emosi."
"Bagaimana tidak emosi? Aku juga memiliki hati, bukan hanya mereka saja."
"Tidak bisakah aku meminta tolong saja padamu? Sesungguhnya, ini membuatku sangat gila."
Rion tampak tertekan dan Sara tidak ingin keras kepala lebih jauh. Mereka baru saja kehilangan kakek, masih belum terbiasa betul dengan keadaan. Sara tidak ingin melihat Rion lebih bersedih lagi.
Sara menganggukkan kepala pada akhirnya. Mereka pun saling berpelukan. Sementara di balik itu, Sara harus meredam keinginan untuk memperjuangkan harga diri di depan keluarga Rion sehingga dia menjadi Sara yang tetap diperlakukan dengan buruk.
Sebelumnya, Sara berpikir kalau mereka akan berbelanja layaknya keluarga namun dia justru menjadi seperti pesuruh. Hanya karena dia bergantung pada Rion, maka orang-orang jadi menghinanya.
"Bawakan ini juga," ucap Charla, menyerahkan kantong berisi sepatu mahal yang baru saja dibeli dari sebuah toko.
"Lihat itu, Anakku! Sepertinya pakaian yang terpajang di manekin akan sangat cocok untukmu."
"Benarkah? Kalau begitu, ayo, kita ke sana."
Sara mengikuti mereka dalam keadaan kedua tangan yang penuh oleh barang belanjaan. Dia persis seperti pelayan yang menemani majikan. Sampai kapan dia akan merasakan penghinaan di dalam hidupnya?
"Sara, kemarilah!"
Sara menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Tentu saja. Memang, siapa lagi?" ucap Belinda.
Sara menghampiri mereka, dipilihkan satu pakaian yang menurutnya cukup minim. Dia disuruh untuk mencobanya dengan alasan Rion menyukai wanita berpenampilan menarik. Meskipun dia ragu soal itu namun tetap mencobanya.
Benar saja, Sara bisa dikatakan sangat cantik mengenakan gaun merah itu. Ibu dan anak juga menata penampilan Sara dengan harapan dapat mengubah nilai biasanya di mata Rion menjadi lebih baik.
"Maafkan aku, Kak Sara. Aku juga akan mengakui kesalahanku di depan Kak Rion. Jangan marah lagi padaku, ya?" Charla tiba-tiba berkata.
"Kakak adik sebaiknya tidak bertengkar dan selalu hidup rukun," tambah Belinda.
Sara merasa janggal, akan tetapi dia tidak tahu harus mencurigai tentang apa dari perlakuan mereka yang tiba-tiba berubah baik dalam sekejap mata.
Mereka juga memesankan kamar hotel untuk dia dan Rion. Pada saat itulah Sara agak gugup, menunggu kehadiran Rion di kamar hotel. Dia berdebar membayangkan akan bagaimana reaksi suaminya jika tahu dia berpenampilan berani begitu.
Jujur saja, dia tidak berdandan lantaran tidak tahu bagaimana tipe Rion. Dia takut nanti dibenci jika melakukan hal di luar kebiasaannya. Itu adalah caranya menjaga hubungan pernikahan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Pintu kamar hotel terbuka, menunjukkan sosok seorang pria. Sara terkejut melihat siapa yang datang.
"K—kau siapa? Kenapa bisa masuk ke mari?"
Pria asing itu tidak menjawab atau pun menyerah akan langkah Sara yang terus menjauh. Dia terus mendekat sampai sang wanita harus naik ke ranjang agar bisa pergi ke sisi lain. Sayangnya, Sara berhasil diraih dan membuat dia berusaha menahan diri dengan memberatkan tubuhnya di ranjang.
"Lepaskan aku!"
Pakaian Sara robek ketika berusaha melepaskan diri. Kekuatan wanitanya tidak dapat menandingi kekuatan seorang pria. Dia berhasil diperangkap.
Pada saat itu, sebuah ide muncul untuk memukul selangkangan sang pria asing dengan lutut. Sara bergegas ke luar kamar kemudian, dengan tergopoh-gopoh meninggalkan hotel. Dia pulang menggunakan taksi, menutupi tubuhnya dengan tangan. Selama itu dia menangis.
Pantas saja Charla dan sang mertua baik. Ternyata, mereka ingin melakukan hal keji dengan menyuruh orang untuk menodai dirinya di hotel. Rion hanyalah dalih supaya dia terjebak dalam permainan ibu dan anak itu.
Sesampainya di rumah, Sara hendak mencari orang yang telah berlaku demikian buruk padanya. Hanya saja, dia menemukan hal mengejutkan lain ketika berhasil melewati pintu utama.
Sara berpapasan dengan suaminya. Dia tidak ingin membayangkan apa yang dipikirkan Rion mengenai penampilan dan juga keadaan, karena dia sendiri sedang kesulitan menata diri setelah hendak dinodai oleh pria lain.
"Kau di rumah, Rion? Bukankah sekarang seharusnya berada di kantor?"
Rion menunjukkan berkas di tangannya. "Aku pulang untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Kau sendiri, kenapa berkeliaran dengan penampilan seperti itu?"
"Rion."
Percakapan mereka terpaksa selesai sampai di sana saat Belinda dan Charla datang.
"Kau harus melihat ini."
Belinda menyerahkan sesuatu pada Rion. Itu adalah video singkat, menunjukkan Sara dan seorang pria. Pakaian yang dikenakan sama dengan pakaian Sara saat ini.
Apa yang akan dipikirkan Rion soal itu?
Rion menatap istrinya dengan berang, sedangkan yang ditatap tampak bingung. Sara masih belum tahu kalau video yang ditunjukkan adalah dirinya bersama seorang pria di kamar hotel.
"Kau sudah melihatnya sendiri, bukan? Istrimu bukanlah wanita baik," ucap Belinda.
Sara mengerutkan dahi. "Apa maksud Tante?"
Belinda menunjukkan video rekaman di ponselnya. "Seorang teman melihat menantu keluarga Atkinson masuk ke kamar hotel bersama pria. Dia mengirimkan bukti ini padaku. Bisakah kau menjelaskannya, Sara? Kau telah membuat malu kami dengan sikap kotormu."
"A—aku ...."
Sara menatap suaminya yang melemparkan pandangan ke arah lain. "Rion, aku tidak seperti yang dituduhkan. Kau percayalah padaku bahwa aku bukan orang seperti itu."
"Sudah seperti ini, tunggu apa lagi, Rion? Kau harus berpisah dengan orang yang telah mencoreng nama baik keluarga Atkinson!"
"Benar, Kakak! Kakek pasti juga sedih melihat kelakuan kakak ipar yang begini."
"Apa maksud kalian? Bukankah kalian yang memilihkan pakaian ini dan mengatakan padaku kalau Rion akan datang ke hotel?"
"Hah?! Kau sudah gila, ya, Kak? Kami hanya duduk diam di rumah hari ini."
"Tidak mungkin seperti itu. Kalian—"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sara! Kau sudah membuatku sangat marah!" Belinda memukul-mukul dadanya. "Oh, Tuhan! Bagaimana bisa wanita ini datang ke rumah kami dan membuat kekacauan besar?"
"Ibu, tenanglah. Aku akan membantu Ibu untuk duduk."
Sara menyentuh tangan suaminya. "Rion, kau percaya kalau aku bukan wanita seperti itu, bukan?"
"Aku mendapatkan notifikasi pengeluaran rekeningku. Kau berbelanja begitu banyak hari ini."
"Apa?"
Sara memeriksa tas, tidak sadar kalau kartu pembayarannya hilang. Apa ibu dan anak yang sedang melakukan drama itu mengambilnya secara diam-diam? Dia tidak menyadari sama sekali.
Rion melepaskan tangan sang istri darinya, lalu berkata dengan ekspresi pahit, "Kita sampai di sini saja, Sara."
"Maksudmu apa?"
"Aku akan meminta pengacara untuk mengurus perpisahan kita."
Setelah berucap hal memilukan, Rion ke luar dari rumah. Charla dan Belinda tertawa penuh kemenangan lantaran rencana mereka berhasil. Sementara Sara terduduk di lantai dengan raut wajah terkejut tidak percaya.
Dia dan Rion akan berpisah. Apa ada makna lain dari kata-kata itu kecuali perceraian?