Keesokannya, Yonna terbangun dini hari karena mimpi yang selalu menggerayanginya selama tidur. Sungguh ia merasa lelah, tak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin mimpi aneh itu berhenti datang.
"Apa arti semua ini?" Helaaan napas panjang terbit dari bibirnya.
Merasakan serak di tenggorokan, Yonna pergi ke dapur. Dahinya mengernyit saat matanya menangkap cahaya terang dari sana, biasanya lampu dapur sengaja dibuat redup ketika mereka tidur.
"Mama?"
Yuliisa tersentak di tempat, kaget mendengar suara dari belakang tubuhnya.
"Yonna? Kamu mengejutkan Mama."
"Maaf, Ma. Mama sedang apa di dapur Jam segini?" Bunyi air yang mengisi gelas terdengar.
"Mama tidak bisa tidur, kamu kenapa bangun sepagi ini?"
"Tiba-tiba kebangun aja, Ma."
Yulissa membuang napasnya kasar. "Kamu sudah dengar kabar penembakan malam tadi?"
Pupil mata Yonna mengecil mendengar ucapan Mamanya.
"Iya, aku dengar waktu diantar pulang sama Luther dari restoran tempat Akia kerja."
"Kamu lihat kejadiannya?" Yulissa memajukan tubuhnya merapati tepi meja.
"Nggak, soalnya jauh di belakang, tapi masih terdengar. Terus ada yang menjerit juga. Mama tahu dari mana?"
"Pas Mama pulang tadi, di sana masih ramai, banyak polisi. Karena penasaran, Mama tanya sama Bu Lika pemilik toko di persimpangan. Katanya, dia melihat dua remaja laki-laki bertemu dari arah berlawanan. Satu membawa cutter dan satunya lagi pistol. Awalnya Bu Lika tidak tahu kalau mereka membawa senjata, karena sebelumnya dua remaja itu terlihat biasa saja. Sampai tiba-tiba remaja yang membawa cutter menyerang lebih dulu, dia menyayat tepat di nadi leher dan menusuk bagian dada. Rupanya si pembawa pistol masih memiliki tenaga, jadi dia menekan pelatuk mengarah tepat ke tengah kepala lawannya. Naas, keduanya wafat di tempat."
Yonna masih diam mencerna apa yang baru ia dengar.
"Nggak ada yang membantu? Mungkin aja melerai atau bawa ke rumah sakit?"
"Semuanya terjadi tiba-tiba, Nak, siapa yang menduga kalau akan ada aksi saling bunuh seperti itu? Siapa yang berani mendekat? Mereka bersenjata, satu menggunakan pistol. Kamu bisa tertembak kapan saja. Kematian keduanya pun berlangsung cepat, meski sempat dibawa ke rumah sakit, Mama rasa tetap tidak selamat. Nyawa pasti terenggut di perjalanan menuju rumah sakit."
"Mama dengar apa motif dua orang itu?"
"Belum diketahui, tapi berdasarkan salah satu rekan mereka mengatakan kalau keduanya berteman dekat. Mungkin masalah pribadi di mana hanya dua remaja itu yang tahu."
Yonna terdiam, ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa. Ia juga tidak memiliki bayangan, banyak kata yang melayang-layang di pikirannya. Tetapi tidak ada satu pun kemungkinan yang masuk akal, siapa pun, waras atau tidak.
/////
"Siapa yang memilih membunuh teman sendiri di muka umum?" Akia heran setengah mati.
"Itu yang aku pertanyakan, jika benar mereka memilik hubungan pertemanan, kenapa saling bunuh?" Yonna meminum minuman yang ia pesan tadi.
"Mana di depan toko, berani sekali," Dovis menambahi.
"Dari buku yang aku baca, psikopat sekalipun pilih-pilih tempat buat bunuh korbannya. Tidak terbaca dan tak terdeteksi, tahu-tahu ada mayat tergeletak." Malilah menyuap baksonya.
"Kalaupun terdeteksi, misalnya nggak? Nggak pernah ada yang tahu kalau seseorang baru membunuh manusia lain secara ganas. Mungkin pihak kerabat mikirnya hilang atau diculik." Yonna menggeleng kuat saat membayangkan bagaimana aksi saling bunuh terjadi.
"Iya, ngeri."
"Meskipun tindakan itu salah, tetapi janggal sekali bila mereka melakukannya terlalu transparan. Seolah ingin menunjukkan apa yang terjadi kepada khalayak," Clovis menyampaikan pemikirannya.
"Masalah hati, mungkin? Cinta itu, kan, liar." Dovis berkedip nakal ke arah Malilah.
"Benar, saya rasa begitu. Mengingat siswi yang bunuh diri di belakang sekolah, bisa jadi dua orang itu juga menggunakan alasan yang sama, cinta. Berdasarkan pengamatan saya selama hidup, siapa saja bisa melakukan apa saja demi satu orang biasa, atas nama cinta." Akia menatap gelas di depannya datar.
"Aku antara setuju dan tidak. Cinta bisa segila itu apabila sudah mencapai tahap obsesif, bahkan yang terobsesi sekalipun masih bisa kembali pada kehidupan sebenarnya, keluar dari lingkaran hitam yang selama ini mengurung."
Akia menolehkan sedikit kepalanya, tanpa menatap pada Clovis.
"Buktinya, Luther dan Yonna. Perasaan yang hadir dalam diri mereka masih bisa terkendali, di batas wajar. Apabila menghadapi sebuah masalah, mereka pun masih dapat menemukan jalan keluar. Kita semua tahu, cinta seperti ini tidak liar dan gila."
"Ralat, setidaknya tidak segila sampai harus mencabut nyawa orang lain," ralat Yonna.
Secara pribadi, Yonna terkadang merasa seakan diombang-ambingkan oleh perasaan itu sendiri. Hampir setengah emosinya dipengaruhi oleh apa yang ia rasakan dari pasangannya—Luther. Yonna bisa tiba-tiba sedih, murung, bahkan mendadak bahagia karena pesan dari Luther.
Jika diperkirakan, ia berada di tengah-tengah pendapat Akia dan Clovis. Baginya, cinta itu tidak gila bagai obsesi tetapi bukan pula sesederhana seperti rasa suka biasa. Meski beberapa hal mengenai hal tersebut masih sulit dijelaskan secara teori.
Setiap individu memiliki rasa dan pengalaman masing-masing, sehingga hasil pikiran yang tertanam perihal cinta juga berbeda-beda.
Terlepas dari pendapat Yonna tentang cinta, ia justru dibuat heran dengan kejadian beberapa hari ini. Sebelumnya bunuh diri, dan semalam saling bunuh. Sepertinya aksi kriminal mulai bermunculan.
"Ayo, ke parkiran!" Luther mengait tangan Yonna.
Sebelum itu, Akia izin memisahkan diri. "Saya ke luar duluan, ya, sampai jumpa besok!"
"Tunggu, Ki. Kau hari ini dapat jam kerja sore lagi?"
"Tidak, Lil. Ada apa?"
"Pas! Sore ini belanja, yok? Bertiga!" Malilah menekankan kata 'bertiga' saat ia melihat Dovis ingin bicara.
"Yah, paham aja kalau aku mau ikut. Ther, kau nggak cemburu lihat pacarmu pergi bareng teman-temannya terus?" pancing Dovis.
"Nggak, kami kan pergi-pulang sekolah bareng. Kalau Yonna mau pergi sama teman-temannya aku nggak pernah permasalahkan, asal tujuannya jelas dan dia aman," jawab Luther santai.
Tidak lupa Luther menarik kecil hidung pacarnya, mendadak membuat kedua pipi gadisnya itu bersemu malu.
"Aduh, sudah aku bilang jangan tebar kemesraan di depanku. Bikin sesak aja," protes Malilah.
"Kau bisa, kan, Ki?"
"Iya, bisa. Kabarin aja waktu dan tempatnya."
"Nanti kalian berdua aku jemput!" Malilah mengeluarkan kunci mobilnya.
"Wah, sip!"
Setelah menyetujui rencana, mereka berpisah.
/////
"Yep, sudah sampai sahabatku." Malilah menarik rem tangan mobilnya.
"Mau ke mana dulu, nih? Atasan, bawahan, kakian?" tawar Yonna bercanda.
"Tidak jadi menonton?"
"Astaga, lupa! Ayo, cepat. Keburu mulai filmnya." Malilah menarik dua sahabatnya memasuki pusat perbelanjaan.
"Permisi, Mbak. Kami mau beli tiket film The Protectors." Malilah merogoh tasnya, mengambil uang.
"Mohon maaf, Kakak sekalian, penayangan film tersebut sudah usai dua jam yang lalu."
"Apa?" Yonna menatap Akia bingung.
"Loh? Bukannya baru mau mulai, ya, Mbak?"
"The Protectors dijadwalkan tayang pukul 14:00 p.m tadi, Kak."
"Lil, gimana, sih?"
"Jam dua siang, Mbak?" tanya Malilah memastikan.
"Benar, Kak."
"A-aduh, kayaknya aku salah baca jadwalnya, deh."
"Bisa-bisanya kau salah baca." Yonna tertawa.
"Ya, maaf."
"Nggak papa, santai. Jadi kau mau nonton yang lain atau gimana?"
"Jalan aja, yok? Aku cuma pengen film tadi, mangkanya ajak kemari. Eh, salah jadwal." Malilah menggaruk belakang telinganya.
"Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati," peringat Akia.
"Iya, Ki. Sekarang ke toko baju aja, mau?"
Akia dan Yonna mengangguk pertanda setuju.
"Kami permisi dulu, Kak. Maaf merepotkan," ujar Yonna sebelum akhirnya mereka bertiga menelusuri setiap toko yang memikat pandangan.
"Berhenti," pinta Malilah, "itu Siri, kan?" sambungnya.
"Masa? Kok, peluk om-om?"
"Nah itu dia, katanya Siri nggak punya keluarga lagi."
"Perasaan, pagi tadi Siri izin libur karena sakit," ujar Akia.
"Tapi dilihat dari tingkahnya, nggak mirip Siri."
"Kebetulan serupa fisik, mungkin?" Akia berpikir positif.
"Iya, kembar tak serupa, kali. Lagian suratnya langsung dari rumah sakit, bakal rawat inap selama tiga hari. Nggak mungkin beberapa jam di rawat langsung keliling mal."
Keduanya membenarkan ucapan Yonna, lalu memilih untuk mengabaikan kejadian barusan dan melanjutkan acara belanja yang sempat tertunda.
/////
Yonna memasuki ruangan kelas, ternyata kelompok penggosip—Rasia, Poli, dan Gisel—membawa kabar terbaru.
"Dari sekolah mana?" tanya Malika, cowok yang memiliki suara emas dan juga menguasai banyak alat musik.
"SMA Merah Putih," jawab Razia. Bulu matanya yang panjang karena maskara, naik turun melambai-lambai.
"Kayaknya, dia takut jadi korban berikutnya," duga Gisel.
"Oi, korban apa nih?" Malilah yang baru datang langsung menyerobot masuk pembicaraan mereka.
"Apaan, sih. Ikut-ikut, aja," kesal Poli.
"Ye, jangan marah. Kan, aku juga mau tahu," ujar Malilah setelah menyimpan tasnya.
"Aku juga penasaran, korban apa?" tanya Dovis tiba-tiba.
"Hari ini, kita bakal kedatangan murid baru dari SMA Merah Putih."
"Oh, ya? Kalian tahu dari mana?"
"Kami kan, punya banyak narasumber," sombong Rasia.
"Hm. Iyalah, narasumber."
"Terus hubungannya sama takut jadi korban apa?" Dovis melipat kedua tangannya.
"Kayaknya kalian belum tahu berita terbaru dari sana."
Malilah menatap Poli bingung. "Berita apa memangnya?"
"Bunuh diri." Poli mencoba menebarkan kesan horor.
Yonna yang semula tidak begitu tertarik, langsung menajamkan pendengaran.
"Hah?! Ada lagi?" tanya Dovis histeris.
"Jam sepuluh malam tadi, ada anak kelas 12 yang lompat dari lantai empat sekolah."
"Terus, dia dikenal sebagai anak penyakitan. Dalam seminggu dia nggak pernah nggak sakit, kalau bukan anak orang kaya pasti sudah didepak. Banyak banget liburnya," Gisel melanjutkan penjelasan Rasia.
"Nyolot lagi," Poli berucap agak kesal.
"Nyolot gimana?" tanya Malika.
"Iya. Kalau dia ngomong nggak pernah disaring dulu, sudah tahu salah masih aja ngeyel. Jelek lagi, wajar banyak yang benci sama dia."
"Tidak baik berbicara seperti itu, Rasia," timpal Akia memperingati.
"Kesel aku," ujar Rasia.
"Bubar! Ibu Grase sudah di kelas sebelah," pinta ketua kelas.
Semua murid yang tidak berada di tempatnya, mulai berlari kembali ke kursi masing-masing. Sesaat kemudian, Ibu Grase yang juga wali kelas mereka masuk bersama gadis yang tampak seumuran dengan mereka.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Selama pagi, Bu!"
"Hari ini kleas kita kedatangan murid pindahan. Nak, silahkan perkenalkan diri kamu," Ibu Grase mempersilahkan.
"Ha-hai!" sapanya canggung.
"Halo!"
"Pe-perkenalkan, nama say-ya Petunia Martin-nez. Saya pindahan da-dari SMA Me-merah Putih," ujarnya kaku dan terbata-bata.
"Santai, jangan gugup!" teriak Dovis dari belakang.
"Kenapa kau pindah sekolah?" celetuk Poli.
"E-em, saya han-nya mengikuti u-ucapan Papi, demi ke-keselamatan sa-saya."
"Halo, Petunia, saya Akia Baqiya. Salam kenal, ya," sapa Akia.
Bertepatan dengan guru yang keluar, Malilah langsung meminta kedua sahabatnya mendekati Petunia, berkenalan.
"Aku Yonna."
"Se-senang bertemu ka-kalian." Petunia memerhatikan tiga orang yang mengelilinginya.
"Kami juga. Em, Kau mau bareng kami ke kantin, 'kan?" Malilah menunggu jawaban Petunia.
Dengan pelan, murid pindahan tersebut mengangguk.
"Ayo!" ajak Yonna.
"Cie, ada personil baru," seru Rasia.
"Iya, dong. Biar pas." Malilah memasang nada sombong.
"Hati-hati, biasanya yang pendiam itu menghanyutkan," tambah Poli.
"Yon, jaga Luther, siapa tahu cewek pindahan itu peletnya kuat."
Rasia dan Poli tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Gisel barusan.
Yonna melihat wajah Petunia berubah murung. "Sudah, mereka memang gitu, ayo!"
"Em, boleh aku tanya sesuatu?"
Sesampainya di meja kantin, Malilah bertanya kepada Petunia.
"Bo-boleh."
"Aku dengar, tadi malam ada yang bunuh diri lagi di sekolah lamamu, betul?"
Melihat wajah Petunia memucat, Akia berucap, "Kami tidak memaksamu bercerita sekarang."
"Ti-tidak, saya han-hanya merasa takut sa-ja."
"Jadi, kabar itu betul?" Yonna memajukan tubuhnya sejengkal.
"I-iya."
"Alasannya bunuh diri?" Clovis menyeruput minuman kemasan Malilah.
"Apa keluarga kalian mendadak miskin? Berhenti meminum minumanku!"
"Jangan pelit, Mak Lilah."
"Ish, diam dulu. Petunia, kau tahu alasannya?" tanya Yonna lagi.
"Sepupu sa-saya bilang, di-dia bunuh diri karena meras-sa tertekan."
"Tertekan?"
"Di-dia selalu dijauhi ka-karena sering sakit, te-tetapi kabar yang ter-tersebar karena roh Vas-sya mem-meminta bayaran."
"Roh Vasya?" Malilah mencoba mengingat nama tersebut. "Oh! Itu nama siswi yang bunuh diri di halaman belakang, 'kan?"
"I-iya."
"Apa yang kamu maksud dengan bayaran?"
"Sa-saya tidak tahu ka-kalian akan percaya atau ti-tidak. Du-dulu perempuan i-itu yang menggoda pa-pacarnya, ja-jadi hubungan Vasya ber-rakhir. Untuk ba-balas dendam, rohnya me-memancing agar perempuan itu me-melopat," jelas Petunia.
"Berarti roh nya gentayangan." Malilah jadi merinding sendiri.
"Terus, kenapa kau pindah? Si Vasya-Vasya itu pasti sudah pergi, dendamnya sudah terbalaskan."
Mendapat pertanyaan dari Dovis, Petunia langsung menjawab, "Pa-papi saya men-mendapat penglihatan da-dari peramal, kalau r-roh Vasya masih te-te-terus mencari nya-nyawa lain sebagai jem-jembatan agar di-dia bisa pergi ke at-tas. Mang-mangka-kanya Papi min-minta saya pindah se-sekolah, Vasya bi-bisa mengambil nya-nyawa si-siapa saja."
"Seru, ya, ceritanya. Sampai lupa kalau bel sudah bunyi," Luther berbicara.
"Apa?!" pekik para perempuan di sana—kecuali Petunia.
"Kenapa nggak bilang, sih, Luther!" kesal Yonna.
Sejurus kemudian, Yonna berdiri dan meraup pergelangan Petunia, mengajak berlari.
"Sial," serapah Dovis melihat guru sudah mulai mengajar di kelas.
"Kalian dari mana saja?" tanya Ibu Nana santai.
"Kantin, Bu," jawab mereka jujur.
"Memangnya waktu yang diberikan sekolah tidak cukup?"
"Cukup, Bu."
"Terus kenapa masih telat? Kamu anak pindahan, baru masuk sudah berani telat. Kalian keliling lapangan sepuluh kali."
"Yah. Jangan sepuluh kali, Bu," keluh Malilah.
"Siapa suruh telat? Atau mau Ibu tambah?!"
"Nggak, Bu."
Dengan pasrah, lima murid itu berlari mengelilingi lapangan basket. Di sana, terdapat anak kelas 12-IPA 1 yang kebetulan jadwalnya olahraga.
"Pantes Clove sama Luther santai, mereka jam olahraga," kesal Dovis.
"Petunia, kami minta maaf. Gara-gara keasikan mengajak ngobrol, kau jadi ikutan dihukum," sesal Yonna.
"Iya, sepertinya pembahasan hari ini terlalu menarik perhatian kami semua, sampai-sampai lalai begini," timpal Akia.
"Ti-tidak apa-apa, kok. Sa-saya senang karena me-mengenal kalian." Senyum Petunia mengembang cerah.
/////
Malam ini, Yonna berniat membuat video cover lagu dari penyanyi internasional versi YouTuber yang Yonna sukai. YouTuber itu selalu menggunakan versi lembut untuk segala jenis genre musik, dan hal tersebut yang membuat Yonna menyukainya. Nadanya sangat sesuai untuk jenis suara Yonna, keahlian memetik ukulele dan tema musik yang selalu mellow.
Yonna menyiapkan kamera dan mikrofon. Setelah dirasa siap, ia mulai menekan tombol rekam. Perlahan, jari-jari lentiknya memetik senar ukulele pemberian Kakeknya sebelum meninggal, itulah mengapa Yonna menjaga ukulele itu dengan sangat baik.
Bait demi bait ia melantunkan lagu, penuh rasa, penghayatan dan emosi. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang perempuan yang masih mengingat dengan jelas perhatian dari lelaki pujaan hatinya, tetapi sayangnya lelaki itu sejak awal tidak pernah menganggap hubungan mereka lebih dari yang dipikirkan. Justru sang pujaan sudah memilih hati lain, dan orang itu ialah sahabatnya sendiri.
Usai bernyanyi, Yonna langsung memindahkan rekaman tadi ke dalam laptop, melakukan beberapa penyuntingan sebelum akhirnya dibagikan ke akun YouTube dan Instagram pribadi. Yonna cukup terkenal di kedua aplikasi itu sebagai peng-cover musik mellow.
Sebelum turun ke bawah, Yonna memeriksa akun YouTuber favoritnya. Sudah lebih dari enam bulan YouTuber dengan nama akun @Pertez_bee atau biasa dipanggil Bee itu tidak memperbaharui kirimannya, bahkan tidak pernah aktif di Instagram.
Hingga saat ini, Yonna belum pernah melihat bagaimana wajah asli Bee, karena perempuan tersebut selalu menutup bagian wajahnya, dan pada setiap video yang dibagikan hanya daerah mulut ke bawah saja yang terekam. Benar-benar misterius.
/////
"Kenapa kamu belum tidur?"
Yonna terkekeh mendengar kalimat pertama di panggilan suara mereka.
"Kenapa ketawa?"
"Aku masih belum terbiasa kau sebut pakai kamu."
"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri."
"Lebay, ah."
"Ck, kalau kamu nggak mau, biar aku aja."
"Hehe, nggak. Besok jadi, kan?"
"Pasar malam?"
"Iya, aku mau naik kapal bajak laut."
"Nanti kita duduk paling belakang."
"Yeay! Jangan muntah, ya?!"
"Kamu itu yang muntah."
"Nggak!"
"Iya, deh, cantikku."
"Okay! Sudah, aku mau tidur."
"Jangan ngomongnya tidur, tapi malah asik main hp."
"Nggak kebalik, pacar?"
"Nggak, tidur! Satu, dua, tiga!"
Yonna terkekeh, lalu mengucapkan selamat malam dan memutus panggilan.
/////
Usai mengirim pesan kepada Yulissa kalau ia akan pergi keluar jam tujuh nanti bersama Luther bersama yang lain, Yonna mulai bersiap-siap. Ia mengenakan A-line dress putih yang dipadukan dengan jaket jin over size berwarna biru pudar, outfit itu pun diperkuat dengan penggunaan ankle boots. Rambutnya yang lurus dibiarkan terurai begitu saja.
Menjelang jam tujuh, Yonna duduk menunggu Luther di luar. Sesekali ia menggambil gambar diri, kemudian membagikannya ke akun media sosial pribadinya. Saat ingin membuat video, Luther sampai lebih dahulu.
"Aku takut kamu nggak mau ninggalin motor besar kesayanganmu di rumah." Yonna memasang helm andalannya.
"Nggak, lah. Waktu kamu bilang pakai dress gini, aku langsung mutusin pakai skuter aja."
Yonna memeluk pinggang Luther, "Hehe, kamu itu yang terbaik. Ayo, berangkat!"
Meski motor yang dikendarai Luther adalah motor tua, kelakuan motor itu tidak selambat yang orang pikirkan. Dengan kecepatan yang terbilang cukup cepat untuk motor tua, Luther berhasil sampai ke lokasi pasar malam dilakukan tepat waktu. Bersamaan dengan teman-temannya yang juga datang.
"Woi, lah, tahu yang pacaran. Nggak usah pakai acara couple-an segala," seru Dovis malas melihat sepasang kekasih itu.
"Loh? Eh, iya!" Yonna baru sadar ternyata pakaian yang ia kenakan senada dengan Luther. Pacarnya itu juga memakai jaket jin biru muda dengan kaus polos putih di dalamnya, sedangkan celananya berwarna hitam.
"Nggak sengaja tahu, aku nggak ada janjian sama Luther," kilah Yonna.
"Kalau kamu janjian juga tidak apa-apa, Yon. Sama pacar sendiri juga," ucap Akia mendukung sahabatnya.
"Clovis juga pakai jaket jin, loh," tambah Malilah.
"Beda warna," sahut Dovis lagi.
"Tapi, kok, yang sana lebih terasa couple-nya?"
Lima murid SMA tersebut menoleh ke arah di mana Malilah menatap. Di sana, terlihat Petunia berjalan dengan otufit yang sangat mirip dengan pakaian Luther. Seolah yang couple adalah Petunia dan Luther, sedangkan Yonna hanya kebetulan mirip.
Luther menatap tak suka, dia langsung menukar jaketnya dengan yang dikenakan Clovis. Paham perasaan sahabatnya, Clovis menuruti.
"Waduh! Panas, nih," pancing Dovis.
"Apaan, Dove. Nggak sengaja itu," Malilah menyahut.
Tidak ingin berpikiran aneh, Yonna mencoba mengabaikan.
"Aku aja bisa secara nggak sengaja samaan bareng Luther, jadi orang lain juga bisa, dong."
"Kan, ini beda. Luther pacarmu, bisa aja ikatan batin atau gimana. Lah, itu?" Dovis menunjuk Petunia yang semakin dekat dengan dagu.
"Ish, jangan bikin Yonna overthinking kali, Dove!" Malilah mencubit perut Dovis. Membuat korban mengaduh kesakitan.
"Ha-halo, maaf sa-saya terlambat," sapa Petunia seraya mengatur deru napasnya.
"Nggak papa, kita juga baru sampai, kok," balas Yonna.
Melupakan insiden couple dadakan itu, Malilah langsung saja mengajak mereka semua memasuki pasar malam.
Sesampainya di dalam, seluruh mata dimanjakan dengan berpuluh-puluh stan makanan dan pakaian, serta banyak arena yang menyenangkan.
"Kita mau ke mana dulu, nih?" tanya Malilah seraya mengedarkan pandangan.
"Kita keliling saja dulu, habis itu baru naik wahana," saran Akia.
"Ayo!" pekik Yonna dan Malilah heboh.
Teriakan demi teriakan histeris menggelegar di setiap ayunan kapal bajak laut tersebut semakin cepat. Bahkan Dovis yang awalnya sok berani, pun turut berteriak histeris merasakan gelitikan aneh di perutnya, antara takut juga menikmati.
Sedangkan yang paling santai di antara mereka hanyalah Luther dan Clovis, dua orang itu seakan sedang menaiki komedi putar. Hanya Luther yang sesekali tersenyum manis menyaksikan Yonna yang sangat gembira menikmati wahana.
Setelah ayunannya melambat, Malilah mulai merasakan seisi perutnya tengah memberontak ingin keluar. Ia menepuk-nepuk pundak Yonna, agar bisa segera membantunya turun. Luther menahan kapal agar tidak bergerak, membantu Yonna membawa Malilah keluar dari kapal.
Saat ingin turun, lengan Luther ditarik oleh seseorang. Raut wajah Luther berubah seketika saat tahu siapa itu.
"Luther, jangan tinggalkan Petunia. Dia pasti merasa pusing juga," teriak Yonna dari tangga.
Lagi-lagi Luther mendesis tak suka, jika bukan Yonna yang meminta, Luther pasti membiarkan perempuan itu muntah di atas kapal.
Clovis membawa dua botol air mineral. Gadis berambut lurus itu menyerahkan botol yang sudah ia buka tutupnya kepada Malilah, sedangkan Clovis membukakan satu untuk Yonna.
"Kenapa kamu biarin Luther membantu Petunia?" tanya Clovis pelan.
Sambil mengurut tengkuk Malilah, Yonna menjawab, "Aku mau minta tolong Dovis, tapi dia sudah keburu lompat ke bawah. Kasihan ngebiarin Petunia di atas gitu aja."
"Kita baru kenal dia, Yon."
"Aku tahu, Clove, tapi nggak ada salahnya percaya. Dia nggak kelihatan jahat."
"Kamu harus hati-hati," bisik Clovis.