Di dalam sebuah kamar bernuansa klasik, duduklah seorang perempuan yang tengah memetik senar ukulele. Dari bibirnya terlantunkan kemerduan suara bersama lirik lagu penuh kebahagiaan, karya dari salah satu penyanyi pop terkemuka dunia. Meski apa yang ia nyanyikan sangat bertolak belakang dengan keadaannya saat ini, hatinya tetap berusaha tegar.
Satu hal yang Yonna percaya, kebahagiaannya pasti datang suatu hari nanti. Yang harus ia lakukan adalah bertahan hingga pintu kebahagiaan itu terbuka dan mengundangnya untuk menetap atau sekadar bertamu.
Menghapus bulir mutiara yang mengalir keluar, Yonna masih melanjutkan konser tunggalnya. Semua benda mati di sekitar merupakan penonton setia juga pendukung.
Saat ingin berganti lagu, ponsel pintarnya berdering, memanggil untuk diangkat.
"Halo," sapanya.
"Ada apa dengan suaramu?" tanya seorang di seberang dengan suara maskulin.
"Tidak ada apa-apa, Luther," kilah Yonna.
"Aku tahu kau berbohong. Masalah itu lagi?" Nada Luther melembut penuh perhatian.
"Iya, biarkan saja. Ada apa jam segini menelepon?" Yonna meletakkan ukulelenya di atas meja belajar, kemudian berjalan menuju tempat tidur.
"Hm? Adakah larangan menghubungi pacar di jam sebelas malam?" ujar Luther yang justru mendapati decakan dari Yonna—pacarnya.
"Apaan." Yonna menduduki kasurnya dengan wajah memerah.
Terdengar kekehan dari pengeras suara. "Bisakah kau kirimkan foto wajahmu saat ini?"
"Tidak."
"Kenapa? Karena pipimu bersemu merah?" tebak Luther yang semakin membuat pipi pacarnya memerah.
Yonna dapat merasakan seringaian Luther dari sini.
"Luther! Jika kau menelepon hanya untuk menggodaku, pergilah." Percayalah, Yonna tidak bermaksud mengusir.
Lelaki yang sudah berpacaran dengannya selama enam bulan itu tertawa mendapati balasan ketus Yonna.
"Jangan marah, cantik. Aku takut tukang kebun melihat wajahmu."
"Tukang kebun? Pak Gading? Kenapa?" Dahi Yonna terlipat.
"Nanti dia pingsan karena kau terlalu imut, kasihan istrinya."
"Apaan, Luther! Itu sama sekali tidak bekerja. Pak Gading bahkan pasti sedang tertidur sekarang."
"Bagaimana kau tahu? Apa kau baru saja memeriksanya? Beraninya kau."
"He, tidak."
"Benarkah?"
"Iya, apa gunanya aku memeriksa."
"Hm."
"Ck, kenapa jadi bahas Pak Gading?"
"Entah."
Yonna menghela napas, "Kenapa kau belum tidur?"
"Karena kau belum tidur, cantik. Apa saja yang kau lakukan?"
"Tidak ada, hanya duduk."
"Kalau begitu berbaringlah sekarang dan tutup matamu," titah Luther.
"Sudah," ucap Yonna setelah berbaring. Sebelum menutup mata, ia mematikan lampu tidur terlebih dahulu.
"Yakin?"
"Hm," gumam Yonna.
"Tidur!" pinta Luther tanpa penolakan.
Tidak terdengar respon dari pacarnya, Luther mendekatkan ponsel ke telinga. Tak lama, dia mendapati deru napas yang teratur. Menandakan bahwa miliknya baru saja tertidur. Membiarkan keadaan itu berlangsung setengah jam, akhirnya lelaki tampan itu menutup panggilan.
Dalam hubungan mereka, Luther merasa bersyukur menjadikan Yonna sebagai gadisnya, dia memiliki kekuatan juga sekaligus menjadi kekuatan bagi gadis rapuhnya itu.
Luther berjalan menuju balkon kamar, merogoh bungkus rokok dari kocek celana. Selepas membakar ujung rokok dengan pemantik, Luther menghisap dalam-dalam gulungan tembakau. Inilah salah satu dari caranya menghangatkan tubuh, membaui asap mentol, menikmati malam yang sunyi.
/////
Yonna bergerak gelisah dalam tidur, mimpi buruk terus saja menghantui setiap malamnya. Peluh bertebaran di seluruh wajah tirusnya, dahi pun ikut memanas. Yonna mulai menggumamkan beragam kata, samar-samar, dan tidak jelas.
Ia tersentak dari tidur, napasnya tersengal-sengal. Sayang sekali, ketika bangun ia sulit mengingat rekaman dari mimpinya selain satu warna, merah.
"Merah, merah, merah! Sebenarnya mimpi apa itu?!" Yonna berteriak kesal.
"Sulit sekali mengingatnya!"
Satu tangan Yonna menyeka peluh, melirik jendela yang menangkap cahaya matahari pagi dari luar. Ia menoleh menatap nakas, di sana tergeletak sebuah jam yang sedang menunjuk angka enam.
Seperti biasa, untuk menghapus kekesalannya, Yonna akan pergi ke kamar mandi guna menyegarkan diri. Harap-harap teror dari sang mimpi ikut luruh bersama air dan memasuki pembuangan.
Selesai bersiap dengan seragam sekolah, Yonna turun ke ruang makan. Ia menjumput roti lapis isi selai kacang, kemudian duduk. Mama Yonna—Yulissa—datang membawa segelas susu hangat.
"Mama pulang telat malam ini, jadi Mama sudah pesankan ke Bibi agar masak untuk kamu saja." Yulissa tersenyum ke anak semata wayangnya itu.
"Ayah juga pulang telat?"
"Tentu saja, Ayahmu selalu pulang larut malam, kan?" Terselip nada ketus dalam kalimat yang terlontar barusan.
"Baiklah."
"Kamu bisa mengundang teman-temanmu kemari atau pergi berbelanja, asal jangan sampai lupa waktu."
"Iya, Ma. Jangan khawatir."
Yulissa mengelus puncak kepala Yonna, rambutnya lurus turunan dari Yulissa sendiri. Mata lentik dan hidung yang mancung juga menuruti Yulissa, sedangkan tinggi dan bentuk tubuh yang kurus merupakan turunan ayahnya.
"Mama berangkat dulu, ya? Kamu yang benar sekolahnya!"
"Iya, Ma. Hati-hati di jalan!"
Yonna memandangi mamanya yang meninggalkan meja makan.
Saat hendak meminum tegukan terakhir, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Luther baru saja masuk, tertera dia sudah menunggu di depan rumah.
Dengan berlari kecil, Yonna sampai di luar gerbang depan rumah. Menyadari kehadiran Yonna, Luther membuka kaca helm, tangan kanannya mengambil helm lain yang biasa dia bawa khusus untuk gadisnya.
"Maaf, lama." Yonna menerima helm dari Luther.
"Santai. Ayo, naik!" titah lelaki pemilik kepopuleran di SMA Wondrous—sekolah mereka.
Setelah Luther merasakan Yonna menggenggam kedua sisi jaketnya, barulah dia memacu motor.
/////
Sebelum Yonna memasuki kelas, Luther menyempatkan mengacak rambut hitam gadisnya.
"Ish, rambutku berantakan." Yonna mencubit kecil pinggang lelaki didepannya.
"Sudah, masuk sana!"
Perempuan itu mengangguk lalu masuk ke kelas 12-IPA 2, meninggalkan Luther yang menduduki kelas 12-IPA 1.
Sampai di dalam, Yonna disambut oleh sahabatnya—Akia, yang duduk bersebelahan dengan Yonna. Gadis berkepribadian tenang itu sepertinya mengganti gaya rambut.
"Selamat pagi, Yonna," sapa Akia.
"Pagi, Ki. Udah ganti gaya rambut, nih?" tanya Yonna sambil mengaitkan tas di samping meja.
"Hehe, cocok tidak? Saya merasa aneh." Akia menyentuh rambut gelombangnya.
"Sangat cocok, kau terlihat lebih dewasa."
"Dewasa atau tua?"
Mendengar ucapan Akia barusan, mereka berdua tertawa singkat.
"Kamu sudah menyelesaikan makalah biologi?" tanya Akia mengganti pembahasan.
"Sudah, untung aku tidak lupa membawanya tadi." Yonna mengeluarkan tugas dari guru biologi.
"HALO SEMUA! SELAMAT PAGI!" teriakan itu berasal dari perempuan yang memiliki tubuh lebih rendah dari Yonna, sahabat mereka.
"Pagi, Kiya! Pagi, Yonna!" seru Malilah menyapa dua sahabat baiknya.
"Pagi!" balas mereka bersamaan.
"Apa itu, Yon?" tanya Malilah setelah berhasil duduk di kursi yang berada di belakang Yonna.
"Ini? Tugas makalah biologi. Kau sudah selesaikan?"
"Makalah? Ada disuruh buat, kah?" Raut Malilah penuh bingung.
"Astaga, jangan bilang kamu lupa?!" tanya Akia, meski mereka pun sudah tahu jawabannya.
"Jangankan lupa, aku aja nggak tahu ada tugas makalah begini, Ki."
"Sumpah, Lil. Modelan kaya kau kok, bisa naik kelas 12, sih?" Yonna melontarkan nada mengejek.
"Ya, mana aku tahu. Bukan aku yang urus kenaikan kelas. Lagian, baru juga kita naik kelas 12, tugas sudah banyak aja," keluh Malilah.
"Namanya juga sekolah, kalau bukan disuruh mengerjakan tugas, apa lagi?"
"Tok, tok, tok. Mak Lilah kusayang, Dovi yang tampan datang."
Tawa Malilah berhenti seketika, meski berteman, ia selalu malas jika berinteraksi dengan Dovis Elliot, kembaran Clovis Elliot yang sekelas dengan Luther.
"Lilah, sayang. Masa aku kau abaikan, sih? Tega!"
"Siapa, ya?"
"Aduh, sakit sekali," ujar Dovis dramatis.
"Nih, biar kesayanganku bisa langsung kenal sama pria jantan satu-satunya ini."
Dengan gagah, Dovis memberi Malilah tumpukan kertas yang dibuat menjadi buku. Makalah biologi yang harus dikumpul hari ini.
Seketika, manik Malilah berkilat senang, ia tidak akan jadi dihukum nanti.
"Bagaimana?" Dovis memainkan kedua alisnya.
"Wah! Terima kasih banyak Dovi yang tampan satu kabupaten." Dengan penuh bahagia, Malilah memeluk makalah tersebut.
"He, giliran dikasih beginian, langsung muji." Yonna menatap datar tindakan aneh sahabatnya yang satu itu.
"Nggak apa-apa, Yonna. Janji dia bahagia," timpal Akia.
Bel pertanda masuk berbunyi bertepatan dengan duduknya Dovis di samping bangku Malilah. Senyum lelaki itu tertampang sangat jelas, melihat Malilah yang masih tersenyum senang di atas kursinya.
/////
"Mari sahabat-sahabatku, kita serbu kantin." Malilah mengait masing-masing satu tangannya kepada Yonna dan Akia, menyeret mereka ke kantin.
Bel istirahat sudah berbunyi.
"Aku dengar, ada siswi yang bunuh diri di SMA Merah Putih kemaren sore." Kabar yang didapat Malilah menjadi pembuka acara gosip mereka.
"Bunuh diri? Kamu dengar dari mana?" Akia bertanya setelah berhasil meneguk air mineral dalam botol.
"Aku punya kenalan dari sana, katanya cewek itu bunuh diri karena patah hati."
"Apa? Patah hati?" Dahi Yonna berkedut heran.
"Iya! Kau tahu nggak gimana cara siswi itu bunuh diri?"
"Nggak, gimana? Gantung diri?"
"Gantung diri kayaknya sudah mainstream, deh."
"Terus?"
"Dia menusuk-nusuk perutnya sendiri pakai pisau, sampai darahnya itu muncrat ke mana-mana."
"Serius?!" Yonna bergidik ngeri membayangkan apa yang siswi itu lakukan.
Akia pun ikut meringis membayangkan.
"Serius! Di halaman belakang sekolah lagi, pasti gentayangan."
"Masa bunuh diri, sih? Bukan kasus pembunuhan, Lil?" tanya Akia.
"Bukan, dari laporan pihak kepolisian, cuma ada sidik jarinya di gagang pisau. Lagian aksinya itu terekam kamera CCTV!"
"Astaga! Merinding aku." Yonna mengelus dadanya, merasa takut.
"Iya! Apalagi aku semalam lihat video rekaman CCTV itu. Sumpah, kaya nonton film thriller."
"Kau dapat videonya? Mana?"
"Ada, Joan yang kasih. Mau lihat?"
"Iya!"
"Nih, kalian berdua nonton sendiri, pakai earphone sekalian." Malilah menyodorkan ponsel pintarnya, lalu meminjam milik Yonna—bertukar.
Yonna berbagi earphone bersama Akia, merotasikan ponsel menjadi melintang. Meski takut, Yonna memerhatikan setiap detik video yang tayang.
Di sana, mereka melihat perempuan seumurannya baru datang dari sisi luar gedung, berjalan lunglai menuju tengah-tengah halaman. Walau jarak antar dirinya dan kamera cukup jauh, tatapan dari perempuan itu terlihat kosong. Dengan badan menghadap ke luar, ia mengeluarkan sebilah pisau dari saku gaun tidur yang dikenakan.
Sepersekian detik berikutnya, ujung pisau yang tajam memasuki bagian dalam perutnya, lagi dan lagi. Berdasarkan hitungan Yonna, ada lima kali tusukan.
Darah menciprat ke tanah sebelum akhirnya jatuh, terlihat ia menyempatkan diri untuk tertawa. Mendengar tawa itu, Yonna merinding setengah mati. Bagaimana orang yang sekarat masih sempat berpikir untuk tertawa?
Lima detik selepas siswi dari salah satu sekolah yang juga terkenal itu kehilangan nyawa, video berhenti. Namun, tidak berhenti berputar di dalam pikiran Yonna. Ia menemukan satu hal yang dirasa aneh.
"Makanannya datang!" pekik Malilah kegirangan. Perutnya sudah menggerutu sejak tadi meminta diisi.
Keesokannya, Yonna terbangun dini hari karena mimpi yang selalu menggerayanginya selama tidur. Sungguh ia merasa lelah, tak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin mimpi aneh itu berhenti datang.
"Apa arti semua ini?" Helaaan napas panjang terbit dari bibirnya.
Merasakan serak di tenggorokan, Yonna pergi ke dapur. Dahinya mengernyit saat matanya menangkap cahaya terang dari sana, biasanya lampu dapur sengaja dibuat redup ketika mereka tidur.
"Mama?"
Yuliisa tersentak di tempat, kaget mendengar suara dari belakang tubuhnya.
"Yonna? Kamu mengejutkan Mama."
"Maaf, Ma. Mama sedang apa di dapur Jam segini?" Bunyi air yang mengisi gelas terdengar.
"Mama tidak bisa tidur, kamu kenapa bangun sepagi ini?"
"Tiba-tiba kebangun aja, Ma."
Yulissa membuang napasnya kasar. "Kamu sudah dengar kabar penembakan malam tadi?"
Pupil mata Yonna mengecil mendengar ucapan Mamanya.
"Iya, aku dengar waktu diantar pulang sama Luther dari restoran tempat Akia kerja."
"Kamu lihat kejadiannya?" Yulissa memajukan tubuhnya merapati tepi meja.
"Nggak, soalnya jauh di belakang, tapi masih terdengar. Terus ada yang menjerit juga. Mama tahu dari mana?"
"Pas Mama pulang tadi, di sana masih ramai, banyak polisi. Karena penasaran, Mama tanya sama Bu Lika pemilik toko di persimpangan. Katanya, dia melihat dua remaja laki-laki bertemu dari arah berlawanan. Satu membawa cutter dan satunya lagi pistol. Awalnya Bu Lika tidak tahu kalau mereka membawa senjata, karena sebelumnya dua remaja itu terlihat biasa saja. Sampai tiba-tiba remaja yang membawa cutter menyerang lebih dulu, dia menyayat tepat di nadi leher dan menusuk bagian dada. Rupanya si pembawa pistol masih memiliki tenaga, jadi dia menekan pelatuk mengarah tepat ke tengah kepala lawannya. Naas, keduanya wafat di tempat."
Yonna masih diam mencerna apa yang baru ia dengar.
"Nggak ada yang membantu? Mungkin aja melerai atau bawa ke rumah sakit?"
"Semuanya terjadi tiba-tiba, Nak, siapa yang menduga kalau akan ada aksi saling bunuh seperti itu? Siapa yang berani mendekat? Mereka bersenjata, satu menggunakan pistol. Kamu bisa tertembak kapan saja. Kematian keduanya pun berlangsung cepat, meski sempat dibawa ke rumah sakit, Mama rasa tetap tidak selamat. Nyawa pasti terenggut di perjalanan menuju rumah sakit."
"Mama dengar apa motif dua orang itu?"
"Belum diketahui, tapi berdasarkan salah satu rekan mereka mengatakan kalau keduanya berteman dekat. Mungkin masalah pribadi di mana hanya dua remaja itu yang tahu."
Yonna terdiam, ia sungguh tidak tahu harus mengatakan apa. Ia juga tidak memiliki bayangan, banyak kata yang melayang-layang di pikirannya. Tetapi tidak ada satu pun kemungkinan yang masuk akal, siapa pun, waras atau tidak.
/////
"Siapa yang memilih membunuh teman sendiri di muka umum?" Akia heran setengah mati.
"Itu yang aku pertanyakan, jika benar mereka memilik hubungan pertemanan, kenapa saling bunuh?" Yonna meminum minuman yang ia pesan tadi.
"Mana di depan toko, berani sekali," Dovis menambahi.
"Dari buku yang aku baca, psikopat sekalipun pilih-pilih tempat buat bunuh korbannya. Tidak terbaca dan tak terdeteksi, tahu-tahu ada mayat tergeletak." Malilah menyuap baksonya.
"Kalaupun terdeteksi, misalnya nggak? Nggak pernah ada yang tahu kalau seseorang baru membunuh manusia lain secara ganas. Mungkin pihak kerabat mikirnya hilang atau diculik." Yonna menggeleng kuat saat membayangkan bagaimana aksi saling bunuh terjadi.
"Iya, ngeri."
"Meskipun tindakan itu salah, tetapi janggal sekali bila mereka melakukannya terlalu transparan. Seolah ingin menunjukkan apa yang terjadi kepada khalayak," Clovis menyampaikan pemikirannya.
"Masalah hati, mungkin? Cinta itu, kan, liar." Dovis berkedip nakal ke arah Malilah.
"Benar, saya rasa begitu. Mengingat siswi yang bunuh diri di belakang sekolah, bisa jadi dua orang itu juga menggunakan alasan yang sama, cinta. Berdasarkan pengamatan saya selama hidup, siapa saja bisa melakukan apa saja demi satu orang biasa, atas nama cinta." Akia menatap gelas di depannya datar.
"Aku antara setuju dan tidak. Cinta bisa segila itu apabila sudah mencapai tahap obsesif, bahkan yang terobsesi sekalipun masih bisa kembali pada kehidupan sebenarnya, keluar dari lingkaran hitam yang selama ini mengurung."
Akia menolehkan sedikit kepalanya, tanpa menatap pada Clovis.
"Buktinya, Luther dan Yonna. Perasaan yang hadir dalam diri mereka masih bisa terkendali, di batas wajar. Apabila menghadapi sebuah masalah, mereka pun masih dapat menemukan jalan keluar. Kita semua tahu, cinta seperti ini tidak liar dan gila."
"Ralat, setidaknya tidak segila sampai harus mencabut nyawa orang lain," ralat Yonna.
Secara pribadi, Yonna terkadang merasa seakan diombang-ambingkan oleh perasaan itu sendiri. Hampir setengah emosinya dipengaruhi oleh apa yang ia rasakan dari pasangannya—Luther. Yonna bisa tiba-tiba sedih, murung, bahkan mendadak bahagia karena pesan dari Luther.
Jika diperkirakan, ia berada di tengah-tengah pendapat Akia dan Clovis. Baginya, cinta itu tidak gila bagai obsesi tetapi bukan pula sesederhana seperti rasa suka biasa. Meski beberapa hal mengenai hal tersebut masih sulit dijelaskan secara teori.
Setiap individu memiliki rasa dan pengalaman masing-masing, sehingga hasil pikiran yang tertanam perihal cinta juga berbeda-beda.
Terlepas dari pendapat Yonna tentang cinta, ia justru dibuat heran dengan kejadian beberapa hari ini. Sebelumnya bunuh diri, dan semalam saling bunuh. Sepertinya aksi kriminal mulai bermunculan.
"Ayo, ke parkiran!" Luther mengait tangan Yonna.
Sebelum itu, Akia izin memisahkan diri. "Saya ke luar duluan, ya, sampai jumpa besok!"
"Tunggu, Ki. Kau hari ini dapat jam kerja sore lagi?"
"Tidak, Lil. Ada apa?"
"Pas! Sore ini belanja, yok? Bertiga!" Malilah menekankan kata 'bertiga' saat ia melihat Dovis ingin bicara.
"Yah, paham aja kalau aku mau ikut. Ther, kau nggak cemburu lihat pacarmu pergi bareng teman-temannya terus?" pancing Dovis.
"Nggak, kami kan pergi-pulang sekolah bareng. Kalau Yonna mau pergi sama teman-temannya aku nggak pernah permasalahkan, asal tujuannya jelas dan dia aman," jawab Luther santai.
Tidak lupa Luther menarik kecil hidung pacarnya, mendadak membuat kedua pipi gadisnya itu bersemu malu.
"Aduh, sudah aku bilang jangan tebar kemesraan di depanku. Bikin sesak aja," protes Malilah.
"Kau bisa, kan, Ki?"
"Iya, bisa. Kabarin aja waktu dan tempatnya."
"Nanti kalian berdua aku jemput!" Malilah mengeluarkan kunci mobilnya.
"Wah, sip!"
Setelah menyetujui rencana, mereka berpisah.
/////
"Yep, sudah sampai sahabatku." Malilah menarik rem tangan mobilnya.
"Mau ke mana dulu, nih? Atasan, bawahan, kakian?" tawar Yonna bercanda.
"Tidak jadi menonton?"
"Astaga, lupa! Ayo, cepat. Keburu mulai filmnya." Malilah menarik dua sahabatnya memasuki pusat perbelanjaan.
"Permisi, Mbak. Kami mau beli tiket film The Protectors." Malilah merogoh tasnya, mengambil uang.
"Mohon maaf, Kakak sekalian, penayangan film tersebut sudah usai dua jam yang lalu."
"Apa?" Yonna menatap Akia bingung.
"Loh? Bukannya baru mau mulai, ya, Mbak?"
"The Protectors dijadwalkan tayang pukul 14:00 p.m tadi, Kak."
"Lil, gimana, sih?"
"Jam dua siang, Mbak?" tanya Malilah memastikan.
"Benar, Kak."
"A-aduh, kayaknya aku salah baca jadwalnya, deh."
"Bisa-bisanya kau salah baca." Yonna tertawa.
"Ya, maaf."
"Nggak papa, santai. Jadi kau mau nonton yang lain atau gimana?"
"Jalan aja, yok? Aku cuma pengen film tadi, mangkanya ajak kemari. Eh, salah jadwal." Malilah menggaruk belakang telinganya.
"Lain kali, kamu harus lebih berhati-hati," peringat Akia.
"Iya, Ki. Sekarang ke toko baju aja, mau?"
Akia dan Yonna mengangguk pertanda setuju.
"Kami permisi dulu, Kak. Maaf merepotkan," ujar Yonna sebelum akhirnya mereka bertiga menelusuri setiap toko yang memikat pandangan.
"Berhenti," pinta Malilah, "itu Siri, kan?" sambungnya.
"Masa? Kok, peluk om-om?"
"Nah itu dia, katanya Siri nggak punya keluarga lagi."
"Perasaan, pagi tadi Siri izin libur karena sakit," ujar Akia.
"Tapi dilihat dari tingkahnya, nggak mirip Siri."
"Kebetulan serupa fisik, mungkin?" Akia berpikir positif.
"Iya, kembar tak serupa, kali. Lagian suratnya langsung dari rumah sakit, bakal rawat inap selama tiga hari. Nggak mungkin beberapa jam di rawat langsung keliling mal."
Keduanya membenarkan ucapan Yonna, lalu memilih untuk mengabaikan kejadian barusan dan melanjutkan acara belanja yang sempat tertunda.
/////
Yonna memasuki ruangan kelas, ternyata kelompok penggosip—Rasia, Poli, dan Gisel—membawa kabar terbaru.
"Dari sekolah mana?" tanya Malika, cowok yang memiliki suara emas dan juga menguasai banyak alat musik.
"SMA Merah Putih," jawab Razia. Bulu matanya yang panjang karena maskara, naik turun melambai-lambai.
"Kayaknya, dia takut jadi korban berikutnya," duga Gisel.
"Oi, korban apa nih?" Malilah yang baru datang langsung menyerobot masuk pembicaraan mereka.
"Apaan, sih. Ikut-ikut, aja," kesal Poli.
"Ye, jangan marah. Kan, aku juga mau tahu," ujar Malilah setelah menyimpan tasnya.
"Aku juga penasaran, korban apa?" tanya Dovis tiba-tiba.
"Hari ini, kita bakal kedatangan murid baru dari SMA Merah Putih."
"Oh, ya? Kalian tahu dari mana?"
"Kami kan, punya banyak narasumber," sombong Rasia.
"Hm. Iyalah, narasumber."
"Terus hubungannya sama takut jadi korban apa?" Dovis melipat kedua tangannya.
"Kayaknya kalian belum tahu berita terbaru dari sana."
Malilah menatap Poli bingung. "Berita apa memangnya?"
"Bunuh diri." Poli mencoba menebarkan kesan horor.
Yonna yang semula tidak begitu tertarik, langsung menajamkan pendengaran.
"Hah?! Ada lagi?" tanya Dovis histeris.
"Jam sepuluh malam tadi, ada anak kelas 12 yang lompat dari lantai empat sekolah."
"Terus, dia dikenal sebagai anak penyakitan. Dalam seminggu dia nggak pernah nggak sakit, kalau bukan anak orang kaya pasti sudah didepak. Banyak banget liburnya," Gisel melanjutkan penjelasan Rasia.
"Nyolot lagi," Poli berucap agak kesal.
"Nyolot gimana?" tanya Malika.
"Iya. Kalau dia ngomong nggak pernah disaring dulu, sudah tahu salah masih aja ngeyel. Jelek lagi, wajar banyak yang benci sama dia."
"Tidak baik berbicara seperti itu, Rasia," timpal Akia memperingati.
"Kesel aku," ujar Rasia.
"Bubar! Ibu Grase sudah di kelas sebelah," pinta ketua kelas.
Semua murid yang tidak berada di tempatnya, mulai berlari kembali ke kursi masing-masing. Sesaat kemudian, Ibu Grase yang juga wali kelas mereka masuk bersama gadis yang tampak seumuran dengan mereka.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Selama pagi, Bu!"
"Hari ini kleas kita kedatangan murid pindahan. Nak, silahkan perkenalkan diri kamu," Ibu Grase mempersilahkan.
"Ha-hai!" sapanya canggung.
"Halo!"
"Pe-perkenalkan, nama say-ya Petunia Martin-nez. Saya pindahan da-dari SMA Me-merah Putih," ujarnya kaku dan terbata-bata.
"Santai, jangan gugup!" teriak Dovis dari belakang.
"Kenapa kau pindah sekolah?" celetuk Poli.
"E-em, saya han-nya mengikuti u-ucapan Papi, demi ke-keselamatan sa-saya."
"Halo, Petunia, saya Akia Baqiya. Salam kenal, ya," sapa Akia.
Bertepatan dengan guru yang keluar, Malilah langsung meminta kedua sahabatnya mendekati Petunia, berkenalan.
"Aku Yonna."
"Se-senang bertemu ka-kalian." Petunia memerhatikan tiga orang yang mengelilinginya.
"Kami juga. Em, Kau mau bareng kami ke kantin, 'kan?" Malilah menunggu jawaban Petunia.
Dengan pelan, murid pindahan tersebut mengangguk.
"Ayo!" ajak Yonna.
"Cie, ada personil baru," seru Rasia.
"Iya, dong. Biar pas." Malilah memasang nada sombong.
"Hati-hati, biasanya yang pendiam itu menghanyutkan," tambah Poli.
"Yon, jaga Luther, siapa tahu cewek pindahan itu peletnya kuat."
Rasia dan Poli tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Gisel barusan.
Yonna melihat wajah Petunia berubah murung. "Sudah, mereka memang gitu, ayo!"
"Em, boleh aku tanya sesuatu?"
Sesampainya di meja kantin, Malilah bertanya kepada Petunia.
"Bo-boleh."
"Aku dengar, tadi malam ada yang bunuh diri lagi di sekolah lamamu, betul?"
Melihat wajah Petunia memucat, Akia berucap, "Kami tidak memaksamu bercerita sekarang."
"Ti-tidak, saya han-hanya merasa takut sa-ja."
"Jadi, kabar itu betul?" Yonna memajukan tubuhnya sejengkal.
"I-iya."
"Alasannya bunuh diri?" Clovis menyeruput minuman kemasan Malilah.
"Apa keluarga kalian mendadak miskin? Berhenti meminum minumanku!"
"Jangan pelit, Mak Lilah."
"Ish, diam dulu. Petunia, kau tahu alasannya?" tanya Yonna lagi.
"Sepupu sa-saya bilang, di-dia bunuh diri karena meras-sa tertekan."
"Tertekan?"
"Di-dia selalu dijauhi ka-karena sering sakit, te-tetapi kabar yang ter-tersebar karena roh Vas-sya mem-meminta bayaran."
"Roh Vasya?" Malilah mencoba mengingat nama tersebut. "Oh! Itu nama siswi yang bunuh diri di halaman belakang, 'kan?"
"I-iya."
"Apa yang kamu maksud dengan bayaran?"
"Sa-saya tidak tahu ka-kalian akan percaya atau ti-tidak. Du-dulu perempuan i-itu yang menggoda pa-pacarnya, ja-jadi hubungan Vasya ber-rakhir. Untuk ba-balas dendam, rohnya me-memancing agar perempuan itu me-melopat," jelas Petunia.
"Berarti roh nya gentayangan." Malilah jadi merinding sendiri.
"Terus, kenapa kau pindah? Si Vasya-Vasya itu pasti sudah pergi, dendamnya sudah terbalaskan."
Mendapat pertanyaan dari Dovis, Petunia langsung menjawab, "Pa-papi saya men-mendapat penglihatan da-dari peramal, kalau r-roh Vasya masih te-te-terus mencari nya-nyawa lain sebagai jem-jembatan agar di-dia bisa pergi ke at-tas. Mang-mangka-kanya Papi min-minta saya pindah se-sekolah, Vasya bi-bisa mengambil nya-nyawa si-siapa saja."
"Seru, ya, ceritanya. Sampai lupa kalau bel sudah bunyi," Luther berbicara.
"Apa?!" pekik para perempuan di sana—kecuali Petunia.
"Kenapa nggak bilang, sih, Luther!" kesal Yonna.
Sejurus kemudian, Yonna berdiri dan meraup pergelangan Petunia, mengajak berlari.
"Sial," serapah Dovis melihat guru sudah mulai mengajar di kelas.
"Kalian dari mana saja?" tanya Ibu Nana santai.
"Kantin, Bu," jawab mereka jujur.
"Memangnya waktu yang diberikan sekolah tidak cukup?"
"Cukup, Bu."
"Terus kenapa masih telat? Kamu anak pindahan, baru masuk sudah berani telat. Kalian keliling lapangan sepuluh kali."
"Yah. Jangan sepuluh kali, Bu," keluh Malilah.
"Siapa suruh telat? Atau mau Ibu tambah?!"
"Nggak, Bu."
Dengan pasrah, lima murid itu berlari mengelilingi lapangan basket. Di sana, terdapat anak kelas 12-IPA 1 yang kebetulan jadwalnya olahraga.
"Pantes Clove sama Luther santai, mereka jam olahraga," kesal Dovis.
"Petunia, kami minta maaf. Gara-gara keasikan mengajak ngobrol, kau jadi ikutan dihukum," sesal Yonna.
"Iya, sepertinya pembahasan hari ini terlalu menarik perhatian kami semua, sampai-sampai lalai begini," timpal Akia.
"Ti-tidak apa-apa, kok. Sa-saya senang karena me-mengenal kalian." Senyum Petunia mengembang cerah.
/////
Malam ini, Yonna berniat membuat video cover lagu dari penyanyi internasional versi YouTuber yang Yonna sukai. YouTuber itu selalu menggunakan versi lembut untuk segala jenis genre musik, dan hal tersebut yang membuat Yonna menyukainya. Nadanya sangat sesuai untuk jenis suara Yonna, keahlian memetik ukulele dan tema musik yang selalu mellow.
Yonna menyiapkan kamera dan mikrofon. Setelah dirasa siap, ia mulai menekan tombol rekam. Perlahan, jari-jari lentiknya memetik senar ukulele pemberian Kakeknya sebelum meninggal, itulah mengapa Yonna menjaga ukulele itu dengan sangat baik.
Bait demi bait ia melantunkan lagu, penuh rasa, penghayatan dan emosi. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang perempuan yang masih mengingat dengan jelas perhatian dari lelaki pujaan hatinya, tetapi sayangnya lelaki itu sejak awal tidak pernah menganggap hubungan mereka lebih dari yang dipikirkan. Justru sang pujaan sudah memilih hati lain, dan orang itu ialah sahabatnya sendiri.
Usai bernyanyi, Yonna langsung memindahkan rekaman tadi ke dalam laptop, melakukan beberapa penyuntingan sebelum akhirnya dibagikan ke akun YouTube dan Instagram pribadi. Yonna cukup terkenal di kedua aplikasi itu sebagai peng-cover musik mellow.
Sebelum turun ke bawah, Yonna memeriksa akun YouTuber favoritnya. Sudah lebih dari enam bulan YouTuber dengan nama akun @Pertez_bee atau biasa dipanggil Bee itu tidak memperbaharui kirimannya, bahkan tidak pernah aktif di Instagram.
Hingga saat ini, Yonna belum pernah melihat bagaimana wajah asli Bee, karena perempuan tersebut selalu menutup bagian wajahnya, dan pada setiap video yang dibagikan hanya daerah mulut ke bawah saja yang terekam. Benar-benar misterius.
/////
"Kenapa kamu belum tidur?"
Yonna terkekeh mendengar kalimat pertama di panggilan suara mereka.
"Kenapa ketawa?"
"Aku masih belum terbiasa kau sebut pakai kamu."
"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri."
"Lebay, ah."
"Ck, kalau kamu nggak mau, biar aku aja."
"Hehe, nggak. Besok jadi, kan?"
"Pasar malam?"
"Iya, aku mau naik kapal bajak laut."
"Nanti kita duduk paling belakang."
"Yeay! Jangan muntah, ya?!"
"Kamu itu yang muntah."
"Nggak!"
"Iya, deh, cantikku."
"Okay! Sudah, aku mau tidur."
"Jangan ngomongnya tidur, tapi malah asik main hp."
"Nggak kebalik, pacar?"
"Nggak, tidur! Satu, dua, tiga!"
Yonna terkekeh, lalu mengucapkan selamat malam dan memutus panggilan.
/////
Usai mengirim pesan kepada Yulissa kalau ia akan pergi keluar jam tujuh nanti bersama Luther bersama yang lain, Yonna mulai bersiap-siap. Ia mengenakan A-line dress putih yang dipadukan dengan jaket jin over size berwarna biru pudar, outfit itu pun diperkuat dengan penggunaan ankle boots. Rambutnya yang lurus dibiarkan terurai begitu saja.
Menjelang jam tujuh, Yonna duduk menunggu Luther di luar. Sesekali ia menggambil gambar diri, kemudian membagikannya ke akun media sosial pribadinya. Saat ingin membuat video, Luther sampai lebih dahulu.
"Aku takut kamu nggak mau ninggalin motor besar kesayanganmu di rumah." Yonna memasang helm andalannya.
"Nggak, lah. Waktu kamu bilang pakai dress gini, aku langsung mutusin pakai skuter aja."
Yonna memeluk pinggang Luther, "Hehe, kamu itu yang terbaik. Ayo, berangkat!"
Meski motor yang dikendarai Luther adalah motor tua, kelakuan motor itu tidak selambat yang orang pikirkan. Dengan kecepatan yang terbilang cukup cepat untuk motor tua, Luther berhasil sampai ke lokasi pasar malam dilakukan tepat waktu. Bersamaan dengan teman-temannya yang juga datang.
"Woi, lah, tahu yang pacaran. Nggak usah pakai acara couple-an segala," seru Dovis malas melihat sepasang kekasih itu.
"Loh? Eh, iya!" Yonna baru sadar ternyata pakaian yang ia kenakan senada dengan Luther. Pacarnya itu juga memakai jaket jin biru muda dengan kaus polos putih di dalamnya, sedangkan celananya berwarna hitam.
"Nggak sengaja tahu, aku nggak ada janjian sama Luther," kilah Yonna.
"Kalau kamu janjian juga tidak apa-apa, Yon. Sama pacar sendiri juga," ucap Akia mendukung sahabatnya.
"Clovis juga pakai jaket jin, loh," tambah Malilah.
"Beda warna," sahut Dovis lagi.
"Tapi, kok, yang sana lebih terasa couple-nya?"
Lima murid SMA tersebut menoleh ke arah di mana Malilah menatap. Di sana, terlihat Petunia berjalan dengan otufit yang sangat mirip dengan pakaian Luther. Seolah yang couple adalah Petunia dan Luther, sedangkan Yonna hanya kebetulan mirip.
Luther menatap tak suka, dia langsung menukar jaketnya dengan yang dikenakan Clovis. Paham perasaan sahabatnya, Clovis menuruti.
"Waduh! Panas, nih," pancing Dovis.
"Apaan, Dove. Nggak sengaja itu," Malilah menyahut.
Tidak ingin berpikiran aneh, Yonna mencoba mengabaikan.
"Aku aja bisa secara nggak sengaja samaan bareng Luther, jadi orang lain juga bisa, dong."
"Kan, ini beda. Luther pacarmu, bisa aja ikatan batin atau gimana. Lah, itu?" Dovis menunjuk Petunia yang semakin dekat dengan dagu.
"Ish, jangan bikin Yonna overthinking kali, Dove!" Malilah mencubit perut Dovis. Membuat korban mengaduh kesakitan.
"Ha-halo, maaf sa-saya terlambat," sapa Petunia seraya mengatur deru napasnya.
"Nggak papa, kita juga baru sampai, kok," balas Yonna.
Melupakan insiden couple dadakan itu, Malilah langsung saja mengajak mereka semua memasuki pasar malam.
Sesampainya di dalam, seluruh mata dimanjakan dengan berpuluh-puluh stan makanan dan pakaian, serta banyak arena yang menyenangkan.
"Kita mau ke mana dulu, nih?" tanya Malilah seraya mengedarkan pandangan.
"Kita keliling saja dulu, habis itu baru naik wahana," saran Akia.
"Ayo!" pekik Yonna dan Malilah heboh.
Teriakan demi teriakan histeris menggelegar di setiap ayunan kapal bajak laut tersebut semakin cepat. Bahkan Dovis yang awalnya sok berani, pun turut berteriak histeris merasakan gelitikan aneh di perutnya, antara takut juga menikmati.
Sedangkan yang paling santai di antara mereka hanyalah Luther dan Clovis, dua orang itu seakan sedang menaiki komedi putar. Hanya Luther yang sesekali tersenyum manis menyaksikan Yonna yang sangat gembira menikmati wahana.
Setelah ayunannya melambat, Malilah mulai merasakan seisi perutnya tengah memberontak ingin keluar. Ia menepuk-nepuk pundak Yonna, agar bisa segera membantunya turun. Luther menahan kapal agar tidak bergerak, membantu Yonna membawa Malilah keluar dari kapal.
Saat ingin turun, lengan Luther ditarik oleh seseorang. Raut wajah Luther berubah seketika saat tahu siapa itu.
"Luther, jangan tinggalkan Petunia. Dia pasti merasa pusing juga," teriak Yonna dari tangga.
Lagi-lagi Luther mendesis tak suka, jika bukan Yonna yang meminta, Luther pasti membiarkan perempuan itu muntah di atas kapal.
Clovis membawa dua botol air mineral. Gadis berambut lurus itu menyerahkan botol yang sudah ia buka tutupnya kepada Malilah, sedangkan Clovis membukakan satu untuk Yonna.
"Kenapa kamu biarin Luther membantu Petunia?" tanya Clovis pelan.
Sambil mengurut tengkuk Malilah, Yonna menjawab, "Aku mau minta tolong Dovis, tapi dia sudah keburu lompat ke bawah. Kasihan ngebiarin Petunia di atas gitu aja."
"Kita baru kenal dia, Yon."
"Aku tahu, Clove, tapi nggak ada salahnya percaya. Dia nggak kelihatan jahat."
"Kamu harus hati-hati," bisik Clovis.