Bab 1

Tujuh tahun sebelumnya.

“Dua minggu lagi acara wisuda kita. Masa iya kamu mau di rumah terus. Ayolah sekali-sekali clubbing,” bujuk Hans Emanuel yang masih dalam posisi jongkok seraya menikmati rokok.

Asoka Ekadanta terkekeh, “Percuma juga aku datang, hanya akan menjadi bahan tontonan. Apalagi Eriska nggak ada. Bisa diomelin aku, kalau sampai ketahuan clubbing.”

Fano Yuwono tergelak mendengar alasan Asoka. Dia yang awalnya bersandar pada mobil sedan hitamnya segera beranjak dan ikut berjongkok agar bisa berhadapan dengan Asoka langsung yang duduk di jok belakang mobil dengan pintu terbuka. “Jadi kamu teh, lebih takut sama Eriska daripada Ambu?”

Asoka menghela napas panjang. “Bukan takut, tapi aku menghargai mereka.”

“Dengar Asoka, Eriska itu bukan istrimu nggak usah takut. Lagian apa yang akan terjadi coba?” ujar Hans.

“Iya atuh, kamu nggak minum juga nanti. Kami akan pesankan moktail yang non alkohol. Kamu pikir, kami berani macam-macam sama si Kembar. Duh … bisa keok aku kalau sampai Janu ngamuk,” tukas Fano seraya begidik dan menunjukkan bulu halus di tangan yang berdiri karena teringat bagaimana dulu Janu menghajar habis orang-orang yang berani menyakiti Asoka.

Asoka mengulum senyum memahami hal itu. Kedua saudara lelakinya yang lain tidak akan membiarkan dirinya tanpa pengawasan. Meski dirinya sudah dewasa tetapi sikap protektif keduanya bukannya berkurang tapi semakin menjadi.

“Apa kamu tidak merasa terkekang, selalu diawasi begitu? Sampai sewa bodyguard segala?” tanya Hans yang sangat penasaran padahal kedua orang tua Asoka bukan orang politik dan jelas bukan salah satu orang terkaya di negeri ini. Meski dirinya pun tahu, Asoka yang berada di hadapannya adalah orang yang sama sering mendapatkan terror dari orang-orang sinting yang sangat licin dan susah ditangkap.

“Kamu ini bego atau gimana? Gitu aja ditanyain, seperti baru kemarin aja kenal Asoka,” tegur Fano seraya memberikan tatapan sebal dan merebut bungkus rokok di tangan Hans.

Asoka tersenyum kecut, dia menyadari memang rasa penasaran Hans ada benarnya. Semua jika dilihat dengan kacamata orang awan akan sangat berlebihan. Memang siapa dia, sampai harus dijaga beberapa orang berbadan besar dengan tato sangar dan tampang tidak ramah meski mereka terlihat tak kalah tampan dari orang yang dijaga.

Itu sebab, Asoka dianggap lemah. Tidak bisa menjaga diri sendiri seperti saudara-saudaranya yang lain. Meski dirinya kadang ingin hidup seperti pemuda lainnya yang bebas ke mana saja sendirian. Belanja sendirian dengan uangnya sendiri, tidak harus dibuntuti banyak orang. Namun rasanya tidak memiliki privasi, apalagi saat ini dirinya sudah memiliki kekasih. Eriska Mahadewi, wanita yang lebih tua dua tahun darinya tapi bisa menerimanya dengan baik.

“Ayolah Ka, besok hari ulang tahunmu juga. Masa kamu mau merayakan di rumah saja?” Hans masih gigih membujuk sahabat karibnya sejak dulu.

“Eh … iya ya. Ayolah ultah ke dua dua gitu loh, masa iya mau di rumah, bae,” cetus Fano yang baru teringat.

Asoka menggeleng. “Aku akan merayakan nanti, bersama Eriska saat dia sudah kembali,” katanya.

Asoka lalu menoleh ke kiri, menyadari dari ekor matanya melihat Erni Elawati yang seperti berjalan cepat cenderung tergesa-gesa, tanpa menoleh ke arah mereka yang masih berada di halaman parkir mahasiswa. Asoka yakin Erni tahu, tapi sepertinya perempuan itu sengaja menjauh dan tak ingin berhubungan lagi.

Hans dan Fano mengikuti arah pandang Asoka dan keduanya lalu saling melempar pandang. Mereka berdua tahu, sejak Asoka memiliki kekasih. Satu-satunya sahabat perempuan mereka kini semakin menjauh. Tidak hanya dengan Asoka tetapi dengan ketiganya sekaligus. Erni seperti sengaja membuat jarak dan berlaku seperti orang asing.

Asoka mengikuti arah perempuan itu berjalan menuju parkiran sepeda motor seraya mengusap dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Rasa sakit bukan sebab fisik tetapi karena kelakuan Erni. Kini matanya membulat begitu melihat Erni ternyata tidak membawa motor butut merah 4 tak miliknya tetapi gadis itu dibonceng oleh seorang pria dengan motor sport.

Hans lantas bersiul melihat bagaimana Erni yang memeluk perut pria yang entah siapa itu sebab wajahnya tertutup helm full face hitam mengkilap seperti warna motornya. “Wah … pantas saja, Erni nggak mau dekat-dekat kita lagi. Seleranya anak balap motor.”

Asoka kesal karena tidak mengenali pengendara motor itu. Apalagi dia baru kali ini melihat motor itu ada. Suara knalpot mahalnya memecah keheningan parkiran pada siang ini—hanya tersisa dua mobil milik Fano itu saja dan mobil milik pengawal Asoka yang berjarak cukup jauh tapi masih dalam jangkauan penglihatan jika ada sesuatu kejadian yang tidak mengenakkan terjadi. Namun perkataan dari Hans membuat Asoka memusatkan perhatian pada temannya, yang seperti kereta batubara zaman dulu itu—dari tadi tak berhenti merokok sambil mengoceh.

“Memangnya kamu tahu, siapa orang itu?” tanya Asoka.

“Orang siapa?” Hans malah bertanya balik seraya melongo.

“Yang boncengin, Erni lah,” tukas Fano seraya geleng-geleng tak habis pikir dengan Hans yang tampak bolot hari ini. “Kamu kenapa sih? Pasti kebanyakan makan brutu deh … atau mabok jengki?”

“Sembarangan. Mana ada semur brutu bikin lupa ingatan!” protes Hans.

Asoka menghela napas panjang menyaksikan kedua temannya yang mulai berdebat tidak jelas dan keluar dari pokok pembicaraan mereka saat ini. Asoka sangat penasaran dengan pria pembawa motor sport itu. Jelas terlihat seperti orang kaya, motor yang dimiliki pria itu sama dengan milik Janu yang baru saja tiba minggu lalu.

“Guys … stop. Siapa dia?” tanya Asoka lagi seraya menepuk bahu Hans supaya kembali fokus kepadanya.

Hans menghela napas dan kemudian mematikan rokoknya. “Aku nggak tahu, tapi waktu Erni wisuda minggu lalu, orang itu ada. Dia sepertinya mewakili keluarga Erni.”

“Bukannya Erni anak yatim piatu, ya? Dia sudah lama tinggal di panti asuhan setahuku,” sanggah Fano.

“Mungkin cowok itu kakak angkat di panti,” balas Hans.

Masuk akal, tapi Asoka tidak percaya begitu saja dengan argument itu. Apalagi hatinya yang merasa jengkel. Ingin mengejar tapi sadar diri ,jangankan naik motor sport bawa motor saja dia tidak bisa. Ke mana-mana selalu diantar sopir atau merepotkan kedua temannya ini dan saudaranya yang lain tentu saja.

“Menurutmu siapa, Ka?” tanya Fano menghentikan lamunan Asoka.

“Emmh?! Oh … itu. Entahlah, saat wisuda kemarin saja aku tidak diundangnya. Apa kalian datang?”

Hans dan Fano pun menggeleng.

“Kami juga tidak diundang,” ujar Hans.

“Iya, betul,” kata Fano seraya manggut-manggut.

“Ada apa dengannya? Aku pikir dia marah karena aku sudah punya pacar,” celetuk Asoka yang kemudian mendapat hadiah timpukan bungkus rokok yang sudah kosong.

“Ge’er sekali … mana mungkin dia marah sama kamu. Mungkin dia lagi menikmati pacaran dengan orang kaya saat ini. Kasihan juga, paling nggak dia bisa naik derajat karena menikahi orang kaya,” kata Hans.

“Mulutmu ya, nggak mungkin Erni begitu. Sejak dulu dia nggak pernah mata duitan,” balas Fano.

“Bisa jadi. Segalanya mungkin saja. Apalagi zaman sekarang, ya kali mau dapat yang modal napas doang tanpa punya karir bagus dan keuangan yang oke. Aku salut sama Erni, paling tidak dia punya kekasih yang bisa menaikkan derajatnya. Logika paling masuk akalnya ya … itu, selain mungkin memang cowok itu kakak angkatnya di panti yang sukses,” terang Hans.

“Bagaimana menurutmu, Ka?” tanya Fano dan kemudian menambahkan, “Tapi memang masuk akal juga kalau dia pacaran dengan orang lain. Nggak mungkin juga dia memilih salah satu dari kita yang—”

“Kenapa tidak?” tanya Asoka memutus ucapan Fano.

Bab 2

Erni bukannya tidak melihat keberadaan Asoka bersama dengan Hans dan Fano tetapi saat ini ada yang lebih penting daripada berkumpul dengan ketiga sahabatnya itu. Erni harus bertemu dengan pria yang menolongnya kemarin.

Langkah Erni terhenti pada tempatnya biasa memarkir motor buntutnya. Benda itu tidak ada di tempatnya, Erni tertegun sembari mengingat-ingat bahwa dirinya sudah mengunci stang sejak datang tapi kini motor merah tersebut menghilang. Tidak ada jejaknya sama sekali padahal Erni memarkirkan di parkiran yang masih beralaskan tanah dan selalu di situ, di bawah pohon matoa. Motor 4 tak seperti miliknya selalu bergeser jika di parkir di bagian yang sudah berlantai konblok. Selalu ada yang memindah dan kali ini bend aitu malah menghilang.

Sedikit panik karena hari ini ia harus ke rumah sakit, dia pun mengedarkan pandangan ke sekeliling yang mulai lengang. Sama sekali tidak ada jejak keberadan motornya.

“Aduh, gimana ini?!” Erni menatap gelisah seraya menggigit bibirnya. Rasa hati ingin berbalik menuju para sahabat yang pasti tidak akan sungkan memberikan bantuan tetapi jelas hal itu tidak mungkin dilakukan saat ini.

Eriska muncul dari balik koridor toilet dan segera menghampiri Erni. “Kenapa masih di sini?”

Erni berbalik dengan mata memerah, harinya sudah cukup melelahkan bangun pagi hanya dengan durasi tidur satu jam dan segera legalisir supaya bisa mencari pekerjaan. Pekerjaan lamanya terpaksa dia hentikan karena sang bunda yang sakit-sakitan. Sekarang harus menghadapi pacar Asoka yang sangat pencemburu dan sejak hari pertama sudah menyuruh menjauhi sahabatnya itu.

“Kamu nggak dengar ya? Kenapa masih di sini? Mau ketemu Asoka?”

Erni memejamkan mata yang terasa perih dan menghela napas panjang. Sungguh malas berkonfrontasi dengan Eriska yang angkuh.

“Kamu budek!” gertak Eriska seraya mencengkram lengan kiri Erni lalu menyentaknya kasar.

“Aku sedang mencari motorku yang menghilang. Apa kamu tidak lihat,” balas Erni sengit, kekesalannya pun tersulut sebab perlakukan Eriska.

Eriska tersenyum mengejek. “Motor busuk gitu aja dicari. Bukannya kamu, lagi buru-buru ke rumah sakit?”

“Dari mana kamu tahu?” tanya Erni yang keheranan. Pasalnya tidak yang tahu tentang keadaan keluarganya, bahkan para sahabatnya. Kecuali satu orang pria yang dia temui di IGD kemarin.

Eriska menggeleng. “Dari mana aku tahu, tidak lah penting. Kamu, lagi butuh uang banyak buat operasi bypass jantung ibumu ‘kan?”

Rasa sesak dan khawatir menyerbu, banyak pertanyaan mengendap sekaligus rasa penasaran bagaimana bisa wanita di depannya ini bisa tahu. “Apa maumu?”

“Aku akan membantumu, 200 juta cukup?”

Erni terdiam lagi, meneliti apakah Eriska berbohong kepadanya. Erni sebetulnya tidak yakin jika Eriska memiliki uang sebanyak itu, kehidupan ekonomi mereka tidak jauh berbeda.

“Bisu benar, kamu lama-lama. Cepat jawab!” kesal Eriska.

“Mau apa kamu membantuku?” Erni sangat yakin ada sesuatu yang diinginkan Eriska darinya.

Eriska tersenyum sinis. “Kamu nggak tanya dulu aku dapat uangnya dari mana?”

“Jangan mengejekku, Riska. Hanya karena kamu berpacaran dengan Asoka, lantas kamu bisa berbuat semaumu. Melarangku dekat, padahal kami sudah bersahabat sejak sekolah, aku sudah turuti. Lalu kamu memusuhiku tanpa sebab. Jadi … apa maumu sebenarnya?”

Eriska mengikis jarak semakin merapat lantas kembali tersenyum dengan mimik wajah angkuh, mengesalkan. “Tentu saja menjauhkanmu dari Asoka.”

Erni menggeleng tidak paham dengan wanita aneh di depannya ini. “Apa maumu sebenarnya. Jika hanya dengan alasan itu saja aku tidak akan begitu saja menjauhi Asoka. Kami sudah bersahabat sejak dulu.”

“Karena aku tahu kamu menyukainya. Asoka hanya milikku, kamu harus pahami hal itu. Sadar diri lebih tepatnya.”

“Kamu, berpikir terlalu jauh. Sekarang katakan bagaimana caranya kamu akan membantuku mendapatkan biaya untuk operasi ibu?”

Eriska menghela napas panjang tak sabaran. “Kamu nggak perlu tahu, yang terpenting kamu janji untuk tidak muncul di acara Asoka.”

“Aku ….”

*

Malam sebelumnya.

Sift malam sudah berakhir setelah menyelesaikan pengepelan di ruang makan Flamboyan, Erni segera melepas clemek dan meraih jaket serta tas slempannya. Saat yang bersamaan ponselnya berdering.

“Halo,” sapanya pada nomor yang diketahui milik salah seorang tetangganya.

“Ibumu dibawa Bapak ke rumah sakit. Cepat menyusul sana.”

“Ibu?”

“Iya. Cepetan gih, tadi jatuh di kamar mandi luar.”

“Iya Kak, makasih.”

Tanpa menunggu lama, ia pun bergegas berlari menuju lantai 3 ruang pribadi untuk menemui sang bos. “Pak saya harus ke rumah sakit sekarang. Bisa saya minta gaji saya lebih dulu?”

Pria tambun yang duduk di depannya segera berdiri dan berjalan ke meja kasir membuka laci dan menyerahkan uang satu juta kepada Erni.

Erni menatap uang itu, dari tenmpatnya berdiri saja bisa menghitung lembar demi lembar dalam genggaman sang bos dan mengerutkan dahinya. “Bukannya dua juta, Pak?”

Gaji Erni selama sebulan diluar uang makan dan lemburan sebanyak dua juta. Oleh sebab itu dia menginginkan semua, paling tidak bisa untuk ongkos di rumah sakit sekalian dia berusaha untuk menjual barang lainnya yang ada di rumah. Dia sadar kemalangan malam ini yang menimpa sang bunda akan berakibat fatal. Perasaan tidak enak lebih dari biasanya mendera dan bercokol semakin hebat membuat rasa panik yang meningkat tetapi berusaha dia redam tak ingin menunjukkan pada pria mesum di depannya yang pasti akan memanfaatkan situasi dan Erni bisa untuk pada keinginan orang itu.

“Kalau mau segini dulu, ini belum habis bulan nanti uangmu sudah habis duluan. Aku nggak mau ada yang berhutang lagi atau kamu bisa membayar dengan cara lain,” ujar pria tambun dengan tatapan tidak senonoh itu.

Benar bukan, Erni menelan saliva kasar menatap seringai mesum sang bos lalu dia mengerjabkan mata yang sudah mulai perih menahan tangis dan kecewa pada bosnya itu. Bisa-bisanya pria itu masih berpikir bisa melecehkannya hanya karena uang. Beginilah derita wanita miskin dan putus asa. Benarkah dia tampak seputus asa itu.

“Ya sudah, kalau memang tidak bisa. Anggap saja saya sedekah buat Bapak. Saya keluar dari sini.”

Jelas Erni tidak ingin mendapatkan pelecehan dari pria itu. Harga dirinya yan paling berharga hanya untuk pria terkasih, belahan jiwanya yang akan menemaninya sampai ajal menjemput. Sang teman hidup.

Pria itu lantas berdiri dan menggeram, marah. “Enak saja kamu mau keluar begitu saja, kamu baru kerja 3 bulan di sini dan sudah mau keluar. Kontrak kerjamu selama 1 tahun!”

Pria itu sebenarnya marah bukan karena Erni yang meminta untuk keluar dari pekerjaannya tetapi karena wanita muda itu cepat menyerah dan tidak menanggapi rayuannya. Dia sangat berharap Erni akan mendesak tentang uang tersebut dan pada akhirnya menerima penawarannya. Tidak dipungkiri jika dirinya tertarik dengan Erni yang muda dan molek. Dadanya yang montok dan seolah mengundang untuk mendapatkan remasan sangat menggoda iman. Sudah tidak sabar rasanya menyusupkan wajah pada bongkahan padat yang pasti harum dan menyenangkan itu.

Erni terperangah tidak percaya sang bos malah semarah itu. Tanpa membuang waktu dan menunggu sampai sang bos keluar dari balik meja kerjanya. Erni segera berbalik badan dan berlari keluar dari sana. Dia pun tidak menghiraukan teriakan panggilan serta sumpah serapah dari pria itu.

Dengan napas terengah-engah setelah berlari cukup jauh dia pun sampai di depan IGD rumah sakit tempat sang bunda di rawat. Kebetulan jaraknya tidak sampai 2 km dari tempat kerjanya. Erni menyeka keringat yang mengucur di malam yang lumayan gerah ini. Cuaca kemarau panjang membuat suhu udara tak bersahabat dan membuat orang lebih mudah lelah.

Dari undakan menuju pintu IGD, dia sudah bisa melihat Pak Tono dan sang istri berada di bangku tunggu. “Pak, Bu … bagaimana keadaan Ibu saya?” tanya Erni tanpa membuang waktu.

“Masih diperiksa,” jawab Pak Tono.

“Sepertinya serangan jantung. Bukannya Witun seharusnya sudah dioperasi?” tambah sang istri.

Erni menghela napas panjang seraya duduk menghadap suami-istri tersebut. “Erni belum ada uang, Bu. Waktu ini rumah sudah ada yang nawar tapi harganya jauh banget.”

“Susah memang, mau jual rumah di bantaran Sungai begitu. Apalagi kalau hujan datang, banjir pasti,” balas Pak Tono.

“Itulah Pak, saya bingung.”

“Coba Bapakmu nggak pergi, Ni. Nggak sengsara hidupmu,” tukas Bu Tono.

Erni menunduk tak tahu lagi harus menjawab apa, sebab dirinya pun tak tahu pasti kenapa sang ayah yang berpamitan untuk bekerja di luar kota tidak pernah kembali lagi sejak 10 tahun yang lalu. Erni ditinggalkan hanya berdua dengan sang bunda sementara ketiga saudaranya yang lain juga memilih kabur karena sudah tidak tahan hidup dalam garis kemiskinan.

“Keluarga Nyonya Witun!” Seorang Perawat muncul dari balik pintu ruang tindakan 1.

Erni dan kedua orang dewasa lainnya segera menoleh dan bergegas menemui sang perawat. “Saya anaknya, Mbak Suster. Ibu bagaimana?”

“Mari masuk. Dokter akan menjelaskan di dalam.”

Erni menatap kedua tetangganya itu dan setelah keduanya mengangguk dia pun mengikuti perawat itu ke dalam.

Erni berhadapan dengan Dokter spesialis yang sudah dia kenal. Ibunya memang sudah mengidap penyakit jantung sejak sang ayah tidak pernah terdengar kabar beritanya lagi ditambah tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya.

“Bagaimana dengan keadaan Ibu?” tanya Erni begitu pantatnya menyentuh bantalan kursi berhadapan dengan Dokter Ibnu.

Dokter menatap teduh dengan raut tenang dan berkata, “Kamu sudah tahu ‘kan, kalau ibumu harus cepat dioperasi. Kita sudah tidak bisa menunda lagi. Kalau sampai jatuh pingsan lagi tanpa ada yang mengetahui semuanya bisa terlambat. Maaf, tapi Bapak nggak bisa menghiburmu lagi. Apakah BPJS sudah kamu urus?”

Erni tertegun dan menunduk seraya menggeleng.

“Kenapa?” tanya Dokter Ibnu. “Apa kamu nggak kasihan sama Ibu?”

“Ibu yang nggak kasih izin.”

“Lah, terus bagaimana ini? Ini demi nyawa ibumu, loh. Memangnya kamu nggak bisa cari biaya di mana gitu?”

Erni menegakkan kepala menatap nanar pada Dokter yang sekaligus tetangganya itu. “Erni nggak tahu lagi harus bagaimana. Rumah juga belum laku-laku. Barang-barang juga nggak ada yang bisa dijual. Hanya motor itu saja, tapi kalau nanti dijual kami repot ke mana-mana.”

“Repot juga kalau gini. Tapi yah, gimana caranya kamu harus bisa dapat jalan ya. Saya tunggu info secepatnya.”

Erni berjalan lunglai keluar ruangan dan duduk lemas di kursi tunggu. Sementara kedua tetangganya yang lain kini mengikuti ranjang sang bunda yang dipindahkan ke ruang perawatan.

“Di mana dapat duit sebanyak itu?” gumamnya lirih. Erni memang memiliki uang sebanyak lima puluh juta tetapi dengan uang segitu tentu saja tidak bisa menutup semua biaya perawatan dan operasi dan lain sebagainya. Sekarang saja sudah berkurang untuk mengurus administrasi masuk bangsal.

Kepalanya yang sedari tadi menunduk menghindari tatapan kasihan dari orang-orang berlalu-lalang kemudian mendongak begitu melihat ada sepasang kaki dengan sepatu yang jelas mahal dan tidak dia kenali berada di depannya.

Erni pun tertegun dan menyandarkan punggung yang baru terasa lelah pada sandaran kursi besi dingin itu. Dia menatap penuh tanda tanya pada pria tampan berambut ikal dan berkacamata di hadapannya saat ini yang tersenyum tipis kepadanya.

“Mas, siapa ya?” tanyanya karena pria itu hanya diam menatapnya.

“Aku melihatmu dari tadi seperti orang bingung,” ujar pria itu yang kini duduk di kursi yang saat awal tadi Erni duduk di sana.

“Saya rasa banyak orang bingung dan susah kalau ada kerabatnya masuk IGD.”

Pria itu hanya tersenyum. “Boleh tahu, apa yang menganggumu sampai terdiam di sini dan tidak ikut ke ruang inap ibumu.”

Erni tertegun tak percaya jika ada yang memperhatikan. Dia sendiri saja bingung, kenapa memilih tetap di sini daripada ikut ke ruang rawat inap sang bunda. Erni menatap lekat sang pria asing itu, ada keraguan di dalam hati untuk mengutarakan masalahnya. Tentu saja tidak mudah bukan, apalagi Erni sama sekali tidak kenal pria yang jelas bukan dari kalangan seperti dirinya itu. Semua yang ada pada diri pria itu meneriakkan kata mahal!

Pria itu tersenyum lebih lebar kali ini. “Aku bisa membantumu, kamu mau?”

Erni mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang didengar, hari gini ada yang mau menolong secara cuma-cuma? Bukan, bukan kelegaan yang dirasakannya tetapi waspada. Dia yang tadi hampir saja mendapat pelecehan dari sang bos kini malah ditawari oleh orang yang sama sekali asing. Sungguh sesuatu yang masih tidak bisa dia pikirkan akan didapatkan dengan mudah.

Ah, orang ini pasti bohong. Dia pasti akan menawariku yang tidak-tidak.

“Bagaimana kamu mau?” tanya pria tampan itu lagi.

“Apa imbalannya?”

Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Oh ya, kenalan dulu. Aku Setya. Kamu Erni ‘kan?”

*

Erni menghentikan ucapannya begitu pria yang ditemui di IGD berdiri di belakang Eriska. “Mas Setya … kok, bisa ada di sini?”

Erni menatap antara Eriska dan pemuda yang dipanggil Setya itu bergantian dan mendapati bahwa keduanya saling kenal.

“Aku yang bilang pada Eriska kalau ibumu di rumah sakit,” ujar Setya seraya tersenyum ramah.

Erni menatap wanita itu mencari kebenaran dan Eriska mengangguk.

Erni tidak langsung percaya begitu saja. “Bagaimana kalian saling kenal?”

“Kami masih bersaudara. Biasa ‘kan, kalau kami saling cerita. Apalagi melihat wajahmu yang sangat kacau kemarin.”

Sekarang Erni baru paham dengan maksud imbalan dari Setya kemarin adalah permintaan Eriska ini, rupanya. Hanya karena keinginan untuknya menjauhi Asoka. Meski terdengar terlalu berlebihan dan konyol tetapi namanya orang cinta menjauhkan batu sandungan adalah hal yang biasa bukan.

“Jadi bagaimana, kamu setuju? Jika iya, Mas Setya akan mengantarmu ke rumah sakit hari ini,” ujar Eriska dengan wajah ceria seolah sangat perhatian pada Erni tidak seperti raut wajahnya tadi.

Erni pada akhirnya mengangguk setelah melirik pada ponselnya yang berdering dengan nama Pak Tono tertera di layar. Dia tahu, tak bisa menunda mengambil keputusan untuk sang bunda. Lagi pula menjauhi Asoka tidak terlalu sulit bukan, paling tidak begitu pikirnya demi menghibur diri sendiri.

Eriska mengulurkan sebuah helm hitam mengkilap kepada Erni. “Cepat pergi.”

“Bagaimana dengan motorku?” tanya Erni dengan perasaan tidak rela dan resah karena benda berharganya itu belum ketemu.

“Sudahlah, dengan uang itu juga kamu bisa beli motor baru! Cepat pergi!”

Setya dengan motor sport mewahnya kini sudah berada di depan Erni. “Ayo naik, aku yang akan membereskan administrasi operasi dan rawat inap ibumu.”

*

Operasi Nyonya Witun berjalan lancar. Erni yang kelelahan kini tidur di sofa di kamar perawatan kelas 1 yang sengaja dipilihkan oleh Setya. Sejujurnya Erni merasa syarat yang diberikan oleh Eriska dan uang sebanyak itu sebagai imbalan memang terlalu berlebihan tetapi saat ini Erni tidak punya cukup energi untuk memikirkan apa yang direncanakan pacar aneh Asoka itu, yang terpenting saat ini adalah kesehatan sang bunda.

Nyonya Witun membuka mata dan memanggil Erni yang melamun menatap langit ruangan. “Ni, Erni ….”

Erni berbegas bangun dengan sedikit terhuyung mendekati ranjang sang bunda. “Ya Bu?”

“Dari mana kamu dapat uang operasi Ibu?”

“Itu … Erni pinjam, Bu.”

“Pinjam siapa? Bagaimana bisa cepat? Bukannya harus antri 2 bulan?”

“Ada teman Erni yang bantu.”

“Siapa, Asoka? Ni, Erni sudah berapa kali Ibu bilang jangan merepotkan orang lain. Nanti kamu dikira memanfaatkan keluarga Ekadanta. Ingat kita ini miskin tapi kita punya harga diri.”

Erni mengangguk. “Iya Bu, Erni tahu. Tapi benar kok, uang operasi Ibu bukan dari keluarganya Asoka.”

“Lalu dari mana kamu dapat? Jangan bilang kamu menjual diri?!”

Erni cepat menggeleng. Dia pun sejujurnya bingung dan sungkan bagaimana cara memberitahu sang bunda sementara memang apa yang terjadi terlalu lebai menurut dirinya sendiri. Erni pun masih berpikir mencari cara untuk mengembalikan uang tersebut.

“Dari mana, Erni!”

“Anu, Bu. Itu ….”

Saat yang bersamaan pintu terbuka dan muncul Setya di depan ambang pintu. Seketika Erni dan juga Ibunya menoleh ke arah sana.

“Kamu …” ucap Nyonya Witun yang terkejut.

Bab 3

“Saya teman kuliah Erni, Bu,” ujar Setya tersenyum lebar menunjukkan keramahan.

Akan tetapi hal yang berbeda terlihat di selebar wajah Nyinya Witun. Wajahnya yang pucat terlihat semakin pucat ditambah dengan keringat dingin yang mulai terlihat menghiasai dahinya.

“Ibu …” panggil Erni yang tidak terkejut melihat sang ibu yang semakin pucat. Perasaannya bukan semakin lega bisa mempertemukan Setya dengan Nyonya Witun tetapi menjadi firasat tidak enak. Sepertinya kedua orang dihadapannya saling kenal.

Nyonya Witun menoleh kepada sang putri. “Ibu capek. Mau tidur dulu. Kamu pulang aja sana istirahat.”

“Tapi … ada Mas Setya datang ini. Beliau yang membantu Erni bisa mengoperasi Ibu,” balas Erni dengan raut sungkan dan sedikit lega, paling tidak ibunya tidak lagi menuduh yang bukan-bukan.

“Dia yang membayar?” tanya Nyonya Witun menatap lekat sesaat pada Erni dan menoleh pada Setya yang berdiri di ujung ranjang Nyonya Witun dengan senyum yang masih tersemat.

“Iya Bu. Emangnya kalian saling kenal?”

“Nggak,” jawab Nyonya Witun cepat, sebelum Setya sempat berucap meski mulut pemuda itu sudah terbuka.

“Oh … yaudah sih, kalau gitu. Ibu jangan khawatir aku akan kembalikan uang yang kita pinjam dari mas Setya,” kata Erni berusaha menghibur sang ibu dengan getar di dada mengingat kembali syarat konyol yang diajukan oleh Eriska. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Eriska dan Setya, Erni tidak ingin menduga atau bahkan memikirkannya meski rasanya mengganjal di hati. Kesehatan sang ibu dan urusan hutang piutang lebih penting saat ini. Apalagi dirinya sudah menjadi pengangguran sejak sang bos tersinggung dengan ucapannya.

“Pulang sana, urus rumah pasti berantakan kamu tinggal di sini.”

Tanpa membalas apapun, Erni segera bangkit dari duduknya dan membereskan barang bawaannya dan pakaian kotor sang ibu sebelum beranjak menuju pintu keluar. Meninggalkan Setya bersama dengan sang ibu. Erni benar-benar tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi meski ada rasa berhutang budi dengannya.

Erni berjalan cepat menuju tangga darurat, dia tidak mau menggunakan lift agar tidak bertemu dengan Setya. Erni sangat yakin jika pria itu pasti akan menyusulnya.

Tebakan Erni tidak meleset, tak berselang lama setelah wanita tua dan pemuda tampan itu saling menukar tatapan tanpa kata. Pemuda itu menyusul keluar dan menghela napas kesal karena tak lagi menemukan keberadaan Erni. Dengan langkah kesal dirinya menuju motor sportnya dan menghubungi seseorang.

“Cari tahu alamat Erni Elawati yang asli.”

“Bukankah alamatnya sudah tertulis di data pasien?” balas suara wanita.

“Kamu pikir jika alamat yang ditulis asli, aku akan menghubungimu?”

“Baiklah akan segera aku cari tahu. Oh ya, kenapa kamu tidak tanyakan kepadanya saja? Kamu masih di rumah sakit bukan?”

Setya berdecak kesal. Jika saja Erni tidak menghilang seperti hantu sudah pasti dirinya tidak akan kehilangan jejak dan memiliki alasan untuk mengantarnya pulang. Setya jengkel juga pada dirinya sendiri karena terlalu lamban bereaksi di ruang rawat inap tadi. Itu semua karena dia tidak tahu juga Witun yang dikenal adalah ibu dari seorang Erni Elawati.

*

Beberapa kali Asoka, dalam seminggu ini menyambangi rumah wanita itu tetapi selalu kosong. Para tetangga juga tidak tahu ke mana perginya, sungguh aneh. Wanita itu seperti ditelan bumi. Hans dan Fano juga sama sekali tidak bisa menghubungi Erni.

“Kamu benar-benar, tidak akan datang Erni?” gumam Asoka seraya menatap foto dirinya dan ketiga sahabatnya dua laki-laki—Hans dan Fano serta satu perempuan bernama Erni, foto yang diambil saat kelulusan mereka di bangku SMA. “Bisa-bisanya dia menghilang seperti ini,” gerutunya kesal. Seumur hidup jarang sekali Asoka kesal karena sikap orang lain yang mengabaikannya.

Asoka sengaja menunda acara pesta ulang tahunnya seminggu sejak dia melihat Erni berboncengan dengan pria asing itu. Tidak ada semangat untuk merayakan tahun ini. Padahal dia sendiri sudah mengimpikan perayaan seru bersama dengan orang-orang penting dalam hidupnya. Terlebih sekarang dia memiliki kekasih yang tidak hanya cantik tetapi juga penyabar dan bisa menerima kekurangannya. Namun di sisi lain, dia merasa Erni justru menjauhinya begitupun dengan sang kekasih yang tiba-tiba melarangnya berhubungan lagi dengan Erni.

“Aku tidak mau kamu masih berurusan lagi dengan Erni. Aku tidak suka dia selalu ada diantara kalian,” rajuk Eriska saat mereka makan malam di café tak jauh dari kos wanita itu.

“Kenapa? Dia sahabatku sejak sekolah dulu. Kami tidak ada perasaan lebih,” jawab Asoka seraya menatap lekat wajah sang kekasih yang kini semakin masam mendengar jawabannya. Asoka sendiri pun mendengar jawabannya sendiri merasakan sesuatu yang lain, seperti tidak pas tapi jelas tidak mungkin dia ungkapkan saat ini bisa-bisa wanita yang duduk berseberangan dengannya ini meledak, marah.

“Tidak ada persahabatan laki-laki dan perempuan Asoka. Masa hal sederhana seperti ini aja kamu nggak paham?!”

Asoka menghela napas panjang. “Siapa bilang tidak bisa? Kamu hanya terbawa opini netizen saja. Buktinya persahabatan kami berempat baik-baik saja. Kami tidak pernah berebut mendapatkan perhatian Erni apalagi sampai berantem. Lalu, salahnya di mana?”

Mata Eriska menyipit, kesal. “Kamu sungguh tidak paham kalau aku cemburu ya? Aku dan dia sama-sama wanita. Aku bisa tahu hanya dengan melihat tatapannya kepadamu saja sudah berbeda.”

“Jangan mengada-ada Eriska. Aku tidak suka kamu menghina teman-temanku. Mereka orang yang berjasa dalam hidupku.”

Eriska mendengkus jengah. “Baiklah tapi aku tidak mau menunda pestamu lagi. Lagian kenapa sih, nggak mau dirayakan? Keluargamu tidak akan bangkrut dengan sekali perasaan ulang tahun.”

Oleh sebab itu, kali ini Asoka sudah tidak punya alasan untuk menunda lagi atau pacarnya akan semakin merajuk. Asoka sudah harus memikirkan prioritas lain dalam hidupnya. Dia sendiri menyadari jika selama ini terlalu bergantung dengan para sahabatnya.

“Hans, jemput aku ya nanti?” tanya Asoka di sambungan telepon seraya memilih kemeja yang akan dikenakan.

“Iya. Pakai saja kemeja biru yang aku belikan dulu.”

“Bagaimana kamu tahu aku sedang memilih kemeja?”

“Ambu tadi yang ngasih tahu. Katanya kamu ngeluh nggak punya kemeja padahal loh, tuh ngegantung 3 lusin. Ha ha ha, kamu ini jadi seperti perempuan aja. Banyak pakaian tapi bilang nggak punya.”

“Memangnya cuma perempuan saja yang bisa galau. Aku sepertinya terlalu tegang dengan pesta di klub. Bagaimana jika kita pindah tempat?”

“No … no … no … Abangku bisa ngamuk kalau kamu batal. Dia udah seneng banget seorang Ekadanta mau memakai ruang VVIP untuk pesta. Kapan lagi dari keluargamu bisa pesta di tempatnya.”

“Iya deh.”

*

“Ada yang lain lagi Kak. Kami ada promo tebus murah hari ini dengan pembelian minimal lima puluh ribu, kakak bisa membeli barang dalam katalog ini dengan hanya membayar setengahnya saja. Tetapi hanya berlaku untuk satu item saja,” kata kasir minimarket kepada Erni.

Sore ini Erni sedang membeli beras dan bahan pokok lainnya. Kebetulan sang ibu juga sudah kembali ke rumah. Ke kontrakan mereka yang terbaru. Erni benar-benar meninggalkan rumah mereka yang lama.

“Enggak deh.” Meski sangat tergoda dengan produk di katalog yang memang ada beberapa yang sangat dia butuhkan saat ini. Namun mengingat bahwa dirinya harus berhemat sampai mendapatkan pekerjaan sesungguhnya. Ibunya tidak boleh tahu, jika dirinya adalah pengangguran.

Erni duduk di barisan kursi yang memang disediakan oleh minimarket tersebut untuk pengunjung yang sekedar menikmati kopi dan kudapan sebelum melanjutkan perjalanan. Memang letak mini market yang berada di pinggir jalan raya utama lintas kabupaten menjadikan tempat tersebut sebagai persinggahan untuk sekedar melepas lelah sesaat.

Erni baru menegak es kopi di tangan saat seorang kenalannya datang mendekat. “Ada lowongan pekerjaan untukku?” tanyanya tanpa basa-basi, bahkan sebelum teman prianya itu memarkirkan sepeda motornya dengan benar.

“Ada. Tapi untuk sementara ini cuma sementara.”

“Nggak apa-apa, sementara juga yang penting aku kerja. Kerja di mana?”

“Nah itu masalahnya. Aku nggak yakin Mak Witun akan mengizinkan kamu.”

“Kalau begitu jangan bilang Ibu. Aku butuh banget kerja, uang semakin menipis. Kamu tahu kan?”

“Kami butuh tambahan LC di klub. Ada pesta VVIP orang kaya malam ini. Kalau kamu mau, cepat pulang dan mandi pakai baju biasa aja. Aku akan pinjamkan pakaian buat kamu di klub nanti. Jam 7 aku jemput.”

“Siap.” Tentu saja, Erni tidak akan melewatkan pekerjaan ini apapun alasannya. Kapan lagi punya kesempatan.

*

“Kamu mau ke mana?” tanya Nyonya Witun begitu Erni menutup pintu kamar dan sudah berdandan rapi.

“Ada kerjaan dikit Bu.”

“Sama siapa?”

“Fajar yang kasih.”

“Fajar yang kerja jadi sekuriti itu? Memang kerjaan apa?”

“Bantuin jadi pelayan di restoran tempat temannya kerja. Katanya butuh tambahan pekerja untuk malam ini. Ada pesta orang kaya katanya, tamunya banyak.” Erni merasa lega, paling nggak dia punya alasan meski tidak jujur 100%.

“Tapi kamu baru aja balik kerja. Masa udah pergi lagi. Mbok ya, cari kerjaan yang beneran.”

“Ini juga beneran Bu, nggak ada salahnya kan sementara Erni kerja paruh waktu? Erni digaji loh.”

“Ya udahlah terserah kamu deh.” Nyonya Witun lalu berbalik kembali ke kamarnya. “Jangan lupa bawa kunci rumah sekalian. Pasti kamu akan pulang malam.”

“Iya Bu.”

Mereka berdua tidak tahu apakah yang akan terjadi malam ini. Apakah pintu rumah kontrakan itu akan terbuka oleh Erni atau gadis itu menghilang untuk selamanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED