Bab 2

"Mas!"

Mas Firman menoleh ke arahku. Ku lihat ia sampai berpeluh membuka kelapa sebanyak itu.

"Maaf ya aku kesiangan. Tadi malam aku nggak bisa tidur," kataku sembari duduk di kursi panjang yang menghadap langsung ke pekarangan tetangga.

Mas Firman tetap menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengupas buah kelapa yang ada di tangannya dan menaruhnya bersama tumpukan yang lain lantas duduk di sampingku.

"Tumben nggak bisa tidur. Emangnya kebangun jam berapa? kok nggak bangunin aku?" tanya Mas Firman.

"Jam 12 kayaknya, Mas. Aku nggak bisa tidur karena mikirin Nida."

"Nida?" Aku tahu Mas Firman akan bereaksi seperti apa.

"Kenapa lagi sama Nida?" tanya Mas Firman skeptis. Aku tahu Mas Firman akan seperti itu.

"Nida ngirim pesan lagi, katanya Mas Aris pulang malam dalam keadaan mabuk dan memeluknya."

"Kamu percaya sama Nida?" Bola matanya memutar ke arahku. Ia selalu memberiku pandangan itu. Pandangan tak percaya. Sama seperti Mbak Nia. Dan Aku jengah sekali harus diperlakukan seperti itu.

"Kalau bukan aku yang percaya sama dia, mau siapa lagi, Mas? Ibunya aja nggak percaya!" Pagi ini aku mulai dibikin kesal sama Mas Firman.

"Nah justru itu. Ibunya aja nggak percaya, kenapa kamu percaya? Lagian ya sayang, kenapa dia nggak cerita aja sama Mas Deryl, tapi ceritanya selalu sama kamu. Kamu itu terlalu baik, gampang percaya sama orang." Mas Firman mulai memberiku ceramah panjangnya.

Padahal belum kuutarakan ide gilaku, tapi dia malah sudah merepet panjang. Bisa-bisa langsung ditolak kalau begini.

"Aku cuma nggak mau menyesal, Mas. Sekarang aku tanya sama kamu, Mas. Kalau misal kita tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kita tutup mata dan membiarkan hal buruk terjadi, sementara kita tadinya bisa mencegah, kira-kira apa yang akan kita rasakan nanti, Mas? Menyesal!! cuma ada penyesalan nanti. Sementara aku nggak mau menyesal, Mas!" kataku membabi buta. Aku heran, apa susahnya percaya dengan keponakan. Lagian dia untungnya apa kalau mau bohong?

"Baiklah ... baiklah. Sekarang gimana cara kita mencegah? Kita jauh, Jen! Kamu ingat kan kalau Nida ada di Kalimantan sedangkan kita ada di Jawa Tengah? Jauh, Jen, jauh!" Mas Firman membalasku dengan tak kalah bertenaga. Inilah saatnya aku mengutarakan niatku.

Aku menghela nafas panjang lantas menghembuskannya perlahan. Aku harus menata hatiku untuk mengatakan hal ini.

"Makannya aku punya rencana untuk membawa Nida ke sini, Mas," ucapku dengan suara yang lirih.

"Hah? Ke sini? Tinggal di sini?" Wajah Mas Firman tak bisa ditebak. Yang pasti dia sangat kaget, tapi dia belum menolak.

"Iya, Mas. Aku mau minta izin sama kamu kalau Nida tinggal di sini gimana?" Wajahku yang garang berubah jadi lembut seperti anak kucing yang minta dielus-elus.

Mas Firman melirik ke arahku sebentar lantas menatap kosong ke depan. Apakah ideku terlalu gila hingga dia enggan memberi tanggapan. Ku lihat ia melakukan seperti yang ku lakukan tadi. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, berkali-kali. Akhirnya ia membalikkan tubuhnya ke arahku.

"Jen apa kamu sudah memikirkan semuanya? Nida itu harus sekolah kan di sini? Emang Nida mau? Emang dibolehin sama mamahnya? Terus nanti mau ngomong sama Ibu gimana?"

Ia mengambil jeda lumayan lama. "Kamu jangan sembarangan mengambil keputusan! Bagaimana nanti Gilang menerima Nida. Meskipun mereka sepupu, tapi kan beda ceritanya kalau Nida tinggal di sini ."

Kini ia memalingkan pandangannya ke arah Gilang yang masih sibuk dengan kegiatannya. Aku belum memikirkan semua perkataan Mas Firman. Justru aku sengaja belum menanyakan tentang ide ini ke Mbak Nia maupun Nida, aku takut mengecewakan mereka andaikata mereka setuju tapi Mas Firman malah tidak setuju.

"Maafkan aku, Mas. Aku memang belum membicarakan tentang ini dengan Nida dan Mbak Nia. Aku cuma mau izin Mas Firman dan Ibu dulu. Ini kan rumah Ibu, jadi aku nggak berani melangkahi ibu, menawari Nida untuk tinggal di sini sementara Ibu dan Mas Firman belum tahu." Kepalaku tertunduk, aku melirik sekilas ke arah Gilang yang kini juga sedang menatap ke arah kami. Percakapan kami sepertinya menarik baginya sampai ia mengabaikan maina di tangannya.

"Mbak Nida mau tinggal di sini, Bu?" tanya Gilang pada akhirnya ikut buka suara. Ia berjalan ke arahku lantas duduk di pangkuanku. Meskipun badannya bongsor, Gilang memang sangat manja kepadaku.

Ku lingkarkan tanganku ke tubuhnya. "Enggak sayang. Ibu cuma asal bicara," kataku menatap matanya seraya tersenyum getir. Ku lihat dari ekor mataku kalau Mas Firman sedang memandangku tajam.

Mas Firman menghela nafas cukup lama dan menghembuskannya sedikit demi sedikit. "Aku bukannya nggak mau bantu Nida, Jen." Ku lihat dadanya sampai naik turun. "Tapi, semua ini harus dibicarakan dengan matang."

"Jadi Mas Firman setuju?" Begitu bukan sih maksud perkataanya tadi?

"Nggak, Jen." Rahangnya mulai mengeras lagi. "Kita butuh membicarakannya. Ayo kita bicarakan dengan ibu, dan kamu harus sudah siap dengan semua pertanyaan yang diajukan nanti, serta jawaban Ibu. Entah itu mau diterima ataupun ditolak!"

Wajahku berbinar-benar. Garis bibirku tertarik ke samping. Nggak apa-apa kalau nggak disetujui sekarang, tapi membicarakannya lagi berarti masih ada kesempatan.

Jawaban Mas Firman seakan mengangkat batu yang seakan tadi menghimpit dadaku. Aku bisa sedikit bernafas lega dan memikirkan langkah selanjutnya.

Mas Firman kembali berkutat dengan mengupas kelapa. Setelah semua kelapa terkupas, dia harus segera menyerut kelapa-kelapa itu untuk dijadikan santan. Dan Gilang mulai mengikuti ayahnya lagi, bergelut dengan dagangan di pagi hari.

Hari ini hari Minggu, aku lebih bisa bersantai karena Gilang libur. Aku harus segera pergi ke dapur karena ibu mertuaku pasti sedang sibuk memasak.

Ternyata betul, ibu sedang berdiri di depan kompor dengan tempe yang mengapung di atas minyak yang panas. Ia sesekali berjalan ke dalam sambil menyapu lantai.

"Ibu, maafkan aku kesiangan bangunnya, tadi malam nggak bisa tidur," ucapku seraya berjalan menuju tempat minum.

"Nggak apa-apa, Jen. Ini udah mateng semua, tinggal nyelesain goreng tempe. Memangnya kenapa nggak bisa tidur?" tanya Bu Firda sembari membungkukkan badan, berusaha menggapai kotoran yang dibawah meja dengan gagang sapu.

"Ibu ingat ceritaku tentang anaknya Mbak Nia?" tanyaku pada Ibu. Aku mengambil tiga gelas kosong dan mengisinya dengan gula dan teh lantas menuangkan air panas ke dalamnya.

"Iya ingat. Apa bener itu ayahnya agak mata keranjang?" Ibu mengayunkan sapunya dan membawa sampah ke luar pintu belakang.

"Tadi malam dia hubungin aku lagi, Bu. Katanya Mas Aris mabuk dan memeluknya dari belakang." Aku membawa tiga gelas teh itu ke atas meja makan dan duduk di sampingnya.

Setelah lantai terlihat bersih, Bu Firda lantas ikut duduk di kursi sebelahku.

"Astaghfirullah.. Itu Nia apa nggak mau bawa pergi si Nida. Ibu takut si Aris gelap mata." Bu Firda menyeruput teh bikinanku.

Bab 3

"Nah, itu dia, Bu. Aku juga berpikir begitu. Mbak Nia itu terlalu manut dengan suaminya," celotehku menanggapi pendapat ibu mertuaku. Aku tahu ibu mertuaku pasti mendukungku, soalnya Ibu itu baik, nggak kaya cerita-cerita tentang ibu mertua yang jahat di novel-novel online. Yang agak keras itu bapak mertuaku, tapi bapak sudah nggak ada beberapa tahun silam, dan Mas Firman itu mirip banget bapak mertua sifatnya.

"Ya begitulah, Jen, kalau wanita nggak bisa berdaya sendiri. Semua tergantung sama suami. Iya kalau suaminya bener, diajak ke syurga bersama, lah kalau suaminya bejad kaya gitu, mau kabur aja mikirnya dua belas kali. Takut nggak bisa makan, takut kalau kabur nggak ada yang nafkahi. Jadi biasanya memilih bertahan walaupun suaminya kaya gitu."

Aku tahu itulah prinsip Bu Firda yang sejak dulu beliau pegang. Matanya menerawang jauh, mungkin mengingat kisahnya dengan Pak Slamet. Ia lantas mengambil gelas tehnya dan menyesap cairan berwarna cokelat itu. Bibirnya mengecap-ngecap rasa manis yang tertinggal.

"Iya, Ibu benar. Padahal dengan suaminya yang dulu, Mbak Nia itu nggak begini lho, Bu."

"Itulah kenapa Ibu nggak pernah mau menikah lagi setelah Bapak meninggal. Ibu takut kalau suami kedua nanti tak sebaik bapak."

Wajah Bu Firda berubah sendu, matanya mulai mengembun. Bapak memang memberi memori tersendiri pada Bu Firda meskipun sudah lama bapak meninggal.

Aku jadi ikut menunduk, haru, lebih tepatnya bingung juga kalau Ibu sudah mulai menangis karena mengenang bapak.

"Eh, itu kalau Ibu ya, Jen. Kalau misal suami pertama memang jahat, ya sah-sah saja menikah lagi, siapa tahu dapat suami yang lebih baik." Bu Firda memegang lengan Jeni, membuat ia sedikit terkejut.

"I ... iya, Bu. Ibu benar." Tak berani aku berkomentar apapun lagi. Meskipun aku dekat dengan ibu tapi kalau bercerita tentang suamiku juga rasanya gak enak, apalagi dia termasuk anak kesayangan ibu.

Lama kami terdiam, aku memutuskan untuk memanggil Mas Firman dan Gilang untuk makan. Baru saja badan hendak bangkit dan berputar, Mas Firman dan Gilang muncul dari ruang tengah.

"Udah mateng, yah, Bu?" tanya Mas Firman sembari menghirup wangi tempe goreng yang baru matang.

"Udah nih. Ayo pada makan semuanya!" ajak Bu Firda, ia menepuk kursi di sebelahnya seraya tersenyum pada cucu kesayangannya.

Gilang beringsut mendekat ke samping neneknya, matanya tertuju pada segelas teh di depannya.

"Ini punyaku kan, Mbah?" tanya Gilang sambil memegang segelas teh yang hangat.

"Itu punya Bapak, Lang. Nanti ibu bikinkan buat kamu, tadi ibu lupa," sahut Jeni seraya bangkit berdiri.

Sebelum beranjak, Bu Firda mencegah menantunya. "Biar ibu saja yang bikin, Jen. Kalian makan saja dulu," ucap Bu Firda seraya bangkit dan menuju ke meja tempat teh dan kopi disimpan.

Firman menyenggol lengan istrinya, alisnya naik turun memberi kode pada istrinya.

"Apa?" tanya Jeni lirih, ia melirik ke arah Ibu yang sedang mengaduk gelas berisi air putih.

"Sudah ngomong sama ibu soal Nida?" Firman membalas istrinya dengan berbisik. Ia penasaran apakah istrinya benar-benar serius dengan idenya.

"Belum." Nida menjawab acuh. Ia sendiri belum tahu bagaimana memulai percakapan itu degan Ibu. Meskipun Ibu mertuanya baik, tapi ia justru merasa segan. Mengecewakan ibu mertuanya adalah hal yang paling ia hindari selama ini. Bu Firda sudah melebihi ibunya sendiri.

Firman menghela nafas dengan lega. Ia pikir istrinya akan nekad meminta izin pada ibu.

Bu Firda datang dengan membawa segelas teh hangat. Ia lantas bergabung dengan mengambil nasi. Tidak ada percakapan diantara mereka. Sayur oyong dengan sambal dan tempe goreng membuat mereka larut dalam sarapan pagi yang sederhana namun nikmat.

"Ehm." Tenggorokan jeni terasa gatal, kata-kata yang sudah ia susun tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu. Sampai sarapan selesai, tak ada satupun kata-kata tentang Nida yang muncul dari mulutnya.

Setelah selesai makan, Jeni membereskan sisa makanan dan membuat air gula merah serta cendol bersama suaminya. Ia harus buru-buru menyelesaikan semua pernak -pernik membuat es cendol sebelum waktu terlalu siang. Karena kalau kesiangan, biasanya cendolnya tidak akan habis.

Karena hari ini Mas firman dan Gilang libur, Jeni jadi bisa meminta tolong ke mereka untuk membawakan bahan-bahan yang sudah siap ke gerobak dorong yang ada di depan rumah. Gula cair, santan serta cendol nanti akan ditata lebih rapi kalau sudah di lapak.

Firman membawa termos jumbo berisi santan, dan Gilang membawa toples besar berisi gula merah cair. Jeni menyusul dibelakang mereka membawa termos berisi cendol.

"Sudah semua, Mas," ucap Jeni memberi aba-aba agar gerobaknya segera dibawa ke lapak.

"Yaudah aku berangkat sekarang." Firman membawa tas di pundaknya dan mendorong gerobaknya. Jeni dan Gilang mengikuti dari belakang.

Tempat jualan mereka tak terlalu jauh, hanya beberapa meter di perempatan jalan besar. Di sana ada juga pedagang gorengan dan seblak yang sudah ready di tempat saat gerobak Jeni datang.

"Eh, lagi libur yah Mas Firman?" Renita yang jualan gorengan menyambut kedatangan mereka.

"Iya nih Mbak Ren. Udah larisan belum!?" tanya firman melongok sisa gorengan di etalase.

"Alhamdulillah, masih pagi jadi masih agak sepi. Mbak Jum tuh yang larisan dari tadi. Anak-anak SMP pada libur jadi pada nyeblak pagi-pagi," jawab Renita sambil menunjuk ke arah Mbak Jum yang sedang sibuk membuat seblak.

Mbak Jum yang ditunjuk hanya tersenyum saja.

"Udah ya, Jen. Aku sama Gilang pulang dulu," pamit Firman pada istrinya. Jeni mengangguk-angguk sambil menata lagi sedotan dan plastik di atas meja.

"Iya, Mas. Gilang kalau mau main jangan jauh-jauh ya," jeni berpesan pada anak satu-satunya.

"Iya, Bu," jawab Gilang sambil berjalan menjauh.

Siang itu Jeni cukup sibuk melayani pembeli es dawetnya. Mungkin karena cuaca di luar sedang cukup panas sehingga orang-orang banyak yang mencari es cendol. Sampai pukul 1 siang, dagangannya sudah hampir habis. Saat pembeli terakhir selesai dilayani, ia menaruh tubuhnya di kursi pelanggan.

Jeni teringat kalau tadi ia membawa ubi rebus dadi rumah. Ia mengambil bungkusan di tas yang ia bawa. Sambil mencomot ubi rebus itu, ia juga iseng membuka ponselnya yang sejak pagi belum sempat ia sentuh.

Ternyata ia mendapatkan pesan yang cukup panjang dari Nida. Saat membaca pesan itu, wajah Jeni berkerut-kerut.

[ Tante Jeni, aku dimarahin Ibu karena mengadu soal Bapak. Tadi siang saat bapak bangun tiba-tiba dia langsung ke kamarku, Tan. Bapak lihat aku habis mandi tadi, terus bapak melukin aku. Aku teriak-teriak manggil ibu. Waktu ibu masuk, aku ceritain ke ibu tentang bapak yang tiba-tiba datang, Tan. Tapi malah aku yang dimarahin. Katanya aku ceroboh nggak bisa kunci kamar. Aku takut Tante. Aku takut sama bapak, aku takut sama ibu. Apa aku kabur aja ya Tan?"]

"Astaghfirullah!!! Aduh bagaimana ini?!"

Jeni Semain bingung harus bagaimana. Sepertinya keadaan Nida semakin parah. "Ya ampun, Mbak Nia kenapa jadi kaya gitu sih!!" Kesal, Jeni meremas jadi jemarinya sendiri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED