Getaran ponselku berkali-kali membuatku terbangun dari mimpi panjang. Beberapa pesan yang dikirim oleh keponakanku membuatnya benar-benar terjaga. Sebelum membukanya, aku menggulirkan layar ke bawah. Ternyata waktu sudah larut, hampir jam 12 malam tepatnya. Jeni membuka pesannya. Ternyata Nida, keponakanku yang tinggal di Kalimantan mengiriminya beberapa pesan.
"Tante, aku takut. Ayah pulang dalam keadaan mabuk. Karena ibu dan adik sedang tidur, aku yang membukakan pintu untuk ayah. Dia tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya. Untungnya aku bisa memberontak. Aku sekarang ada di kamar dan mengunci pintu kamarku."
Rasa kantuknya tiba-tiba hilang begitu saja. Nida? dia pasti ketakutan saat ini. Tapi pesan itu terkirim satu jam yang lalu. Bagaimana keadaanya saat ini? Apa dia sudah tertidur?
Aku membalas pesan Nida segera setelah pesan itu terbaca. Jeni bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ini bukan pesan pertamanya yang bercerita tentang ayah tirinya yang agak melenceng. "Nida, gimana keadaan kamu sekarang? Sudah dikunci kamarmu? Lain kali kalau Mas Aris pulang, jangan kamu yang buka pintunya. Bangunkan Mbak Nia, mamamu!"
Pesan itu tak langsung dibaca oleh Nida. Ia menunggu beberapa waktu dan tanda centang dua masih belum berubah warna. Sampai lewat tengah malam, pesan itu masih tetap sama, belum terbaca.
"Mudah-mudahan Nida sudah tertidur," batinku berdoa untuk keselamatannya. Aku ingin membangunkan suamiku tapi ia mendengkur dengan kencang, mungkin sangat kelelahan.
Membaca pesan Nida malah membuatku tak bisa tidur. Aku teringat pesan-pesan dia sebelum ini, banyak! Seringnya bercerita tentang sekolahnya dan ayahnya.
Nida memang masih SMP. Beberapa bulan lagi ia akan menginjak bangku SMA. Tubuhnya bongsor, ia sudah terlihat seperti anak perawan. Pantas saja ayahnya memandang Nida dengan tatapan yang berbeda.
Gara-gara memikirkan Nida, aku sampai bangun kesiangan. Sinar matahari sampai masuk ke dalam kamarku. Ku dengar suara panci beradu Sutil di dapur. Ibu mertuaku pasti sedang masak.
Ku lihat Mas Firman juga sudah bangun. Mungkin dia sedang bersama anak lelakiku di ruang depan.
Aku jadi teringat pesan Nida. Ku buka ponselku, pesanku ternyata sudah dibalas. Segera ku buka kunci layar ponselku.
"Maaf tante aku ketiduran semalam. Iya besok-besok aku nggak mau bukain pintu buat Ayah."
Sebuah balasan pesan yang membuatku lega.
Aku tidak tahu mau sampai kapan Nida bertahan di sana. Semakin lama, cerita yang Nida kirim tentang ayahnya semakin liar.
Awalnya aku tak langsung percaya apa yang dikatakan Nida. Ia bilang kalau Ayahnya pernah memeluknya dari belakang. Bukankah wajar saja seorang ayah memeluk anaknya dari belakang?
Tapi Nida bilang kalau ayahnya pernah masuk ke kamarnya ketika ia sedang berganti pakaian. Dan itu cukup mengherankan karena Nida sudah cukup dewasa untuk punya ruang privasinya sendiri.
"Nida, apa kamu pernah bercerita tentang ini ke ibumu?" Aku bertanya ke Nida saat ia bercerita tentang ayahnya yang selalu memberikan tatapan aneh kepadanya.
"Sudah, Tante. Tapi Nida malah dimarahi sama Ibu."
"Dimarahi bagaimana, Da?"
"Ibu marah katanya aku bikin hubungan ibu dan ayah tambah buruk. Ayah memang sering memarahi ibu, Tante. Tapi katanya sekarang lebih sering gara-gara aku. Sejak saat itu aku nggak pernah bilang lagi ke ibu, Tante."
Membaca pesan Nida membuatku mengusap dada. Apa Iya Mbak Nia jadi seperti itu. Padahal dulu ia berkata kalau menikahi Mas Aris demi Nida, biar ada yang menafkahi dan menyekolahkan anaknya, biar Nida punya Bapak seperti teman yang lain. Tapi sekarang?
Mbak Nia seakan lupa. Mas Aris malah menjadi momok menyeramkan bagi anaknya.
"Kak Nia, aku mau bicara, apakah Mas Aris disitu?" tanyaku memastikan kalau kak Nia memang sedang sendiri. Aku memutuskan menelpon Mbak Nia suatu sore setelah Nida menceritakan tentang Ibunya yang tak percaya dengannya. Aku butuh membicarakan ini degannya secara intim.
"Nggak ada, Jen. Mas Aris sedang ke ladang. Memangnya ada perlu apa sama Mas Aris?" tanya Mbak Nia dengan nada heran.
"Enggak, Mbak. Aku mau ngomongin soal Nida sama Mbak Nia, tapi aku nggak mau kalau Mas Aris tahu."
"Soal Nida? Nida kenapa?"
Berat sekali menanyakan hal ini ke Mbak Nia. Meskipun aku dekat dengan Mbak Nia, tapi dia agak keras kepala. Dan nggak enaknya, dia selalu menganggapku adik kecil yang nggak bisa apa-apa!
"Emmm ... begini, Mbak. Nida cerita sama aku kalau Mas Aris kadang meluk-meluk dia dari belakang ...."
Belum selesai aku bicara, Mbak Nia sudah menyemprotku dengan omelannya.
"Kamu dapet cerita itu dari siapa? Kamu percaya sama Nida? Dia itu cuma bikin cerita ngarang. Dia cuma kurang perhatian!" Ucap Mbak Nia memotong perkataanku.
"Kamu kan nggak di sini. Jadi kamu nggak akan tahu di sini kaya apa. Nggak usah percaya sama Nida!" Mbak Nia mengulangi perkataanya.
"Tapi Mbak, Nida kan nggak mungkin ngarang terus begitu. Buat apa dia bohong, Mbak?" tanyaku. Meskipun aku belum sepenuhnya percaya dengan perkataan Nida. Aku belum bisa bertanya sejauh mana pengetahuannya tentang pelecehan seksual, atau mana yang boleh dan tak boleh dilakukan. Aku takut ini semua cuma karena Nida nggak suka dengan Mas Aris.
"Nida itu iri sama Nayla. Mas Aris cuma sayang sama Nayla. Jadi dia bikin masalah sama Mas Aris. Ya mau bagaimana lagi. Nida itu kan bukan anaknya Mas Aris, yang anaknya Mas Aris cuma Nayla. Padahal Mas Aris sudah susah-susah cari duit buat sekolahin Nida. Nidanya aja nggak mikir sampai ke situ."
Ulu hatiku ngilu mendengar penjelasan panjang dari Mbak Nia. Nida pasti merasakan sakit yang tak jauh berbeda denganku. Kasihan dia tidak punya tempat untuk berkeluh kesah. Kasihan dia kalau semua orang tak percaya padanya.
"Sudah lah, Mbak. Mudah-mudahan saja semua ini seperti yang Mbak bilang kalau Mas Aris menyayangi Nida seperti anak sendiri. Jangan sampai nanti Mbak Nia menyesal."
Ku tutup telpon itu tanpa menunggu respon dari Mbak Nia. Aku cuma merasa iba dengan Nida.
Beberapa hari setelah percakapanku di telpon degan Mbak Nia, Nida memberiku pesan malam-malam saat ayahnya mabuk itu. Aku punya ide gila untuk Nida. Tapi ini harus dibicarakan dengan Mas Firman dan Ibu mertuaku. Maka, aku perlahan keluar kamar dan mendapati Mas Firman sedang bersama Gilang di samping rumah. Mereka tak menyadari kedatanganku. Gilang sedang sibuk memberi makan anak kambing yang baru dua Minggu lalu lahir. Sedangkan Mas Firman sedang membuka kulit buah kelapa tua yang akan dijadikan santan. Beberapa buah kelapa ku lihat sudah terkelupas, sedangkan beberapa yang lain sedang menunggu giliran untuk dibuka menggunakan linggis yang ditancapkan ke tatakan kayu.
"Mas!"
Mas Firman menoleh ke arahku. Ku lihat ia sampai berpeluh membuka kelapa sebanyak itu.
"Maaf ya aku kesiangan. Tadi malam aku nggak bisa tidur," kataku sembari duduk di kursi panjang yang menghadap langsung ke pekarangan tetangga.
Mas Firman tetap menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengupas buah kelapa yang ada di tangannya dan menaruhnya bersama tumpukan yang lain lantas duduk di sampingku.
"Tumben nggak bisa tidur. Emangnya kebangun jam berapa? kok nggak bangunin aku?" tanya Mas Firman.
"Jam 12 kayaknya, Mas. Aku nggak bisa tidur karena mikirin Nida."
"Nida?" Aku tahu Mas Firman akan bereaksi seperti apa.
"Kenapa lagi sama Nida?" tanya Mas Firman skeptis. Aku tahu Mas Firman akan seperti itu.
"Nida ngirim pesan lagi, katanya Mas Aris pulang malam dalam keadaan mabuk dan memeluknya."
"Kamu percaya sama Nida?" Bola matanya memutar ke arahku. Ia selalu memberiku pandangan itu. Pandangan tak percaya. Sama seperti Mbak Nia. Dan Aku jengah sekali harus diperlakukan seperti itu.
"Kalau bukan aku yang percaya sama dia, mau siapa lagi, Mas? Ibunya aja nggak percaya!" Pagi ini aku mulai dibikin kesal sama Mas Firman.
"Nah justru itu. Ibunya aja nggak percaya, kenapa kamu percaya? Lagian ya sayang, kenapa dia nggak cerita aja sama Mas Deryl, tapi ceritanya selalu sama kamu. Kamu itu terlalu baik, gampang percaya sama orang." Mas Firman mulai memberiku ceramah panjangnya.
Padahal belum kuutarakan ide gilaku, tapi dia malah sudah merepet panjang. Bisa-bisa langsung ditolak kalau begini.
"Aku cuma nggak mau menyesal, Mas. Sekarang aku tanya sama kamu, Mas. Kalau misal kita tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kita tutup mata dan membiarkan hal buruk terjadi, sementara kita tadinya bisa mencegah, kira-kira apa yang akan kita rasakan nanti, Mas? Menyesal!! cuma ada penyesalan nanti. Sementara aku nggak mau menyesal, Mas!" kataku membabi buta. Aku heran, apa susahnya percaya dengan keponakan. Lagian dia untungnya apa kalau mau bohong?
"Baiklah ... baiklah. Sekarang gimana cara kita mencegah? Kita jauh, Jen! Kamu ingat kan kalau Nida ada di Kalimantan sedangkan kita ada di Jawa Tengah? Jauh, Jen, jauh!" Mas Firman membalasku dengan tak kalah bertenaga. Inilah saatnya aku mengutarakan niatku.
Aku menghela nafas panjang lantas menghembuskannya perlahan. Aku harus menata hatiku untuk mengatakan hal ini.
"Makannya aku punya rencana untuk membawa Nida ke sini, Mas," ucapku dengan suara yang lirih.
"Hah? Ke sini? Tinggal di sini?" Wajah Mas Firman tak bisa ditebak. Yang pasti dia sangat kaget, tapi dia belum menolak.
"Iya, Mas. Aku mau minta izin sama kamu kalau Nida tinggal di sini gimana?" Wajahku yang garang berubah jadi lembut seperti anak kucing yang minta dielus-elus.
Mas Firman melirik ke arahku sebentar lantas menatap kosong ke depan. Apakah ideku terlalu gila hingga dia enggan memberi tanggapan. Ku lihat ia melakukan seperti yang ku lakukan tadi. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, berkali-kali. Akhirnya ia membalikkan tubuhnya ke arahku.
"Jen apa kamu sudah memikirkan semuanya? Nida itu harus sekolah kan di sini? Emang Nida mau? Emang dibolehin sama mamahnya? Terus nanti mau ngomong sama Ibu gimana?"
Ia mengambil jeda lumayan lama. "Kamu jangan sembarangan mengambil keputusan! Bagaimana nanti Gilang menerima Nida. Meskipun mereka sepupu, tapi kan beda ceritanya kalau Nida tinggal di sini ."
Kini ia memalingkan pandangannya ke arah Gilang yang masih sibuk dengan kegiatannya. Aku belum memikirkan semua perkataan Mas Firman. Justru aku sengaja belum menanyakan tentang ide ini ke Mbak Nia maupun Nida, aku takut mengecewakan mereka andaikata mereka setuju tapi Mas Firman malah tidak setuju.
"Maafkan aku, Mas. Aku memang belum membicarakan tentang ini dengan Nida dan Mbak Nia. Aku cuma mau izin Mas Firman dan Ibu dulu. Ini kan rumah Ibu, jadi aku nggak berani melangkahi ibu, menawari Nida untuk tinggal di sini sementara Ibu dan Mas Firman belum tahu." Kepalaku tertunduk, aku melirik sekilas ke arah Gilang yang kini juga sedang menatap ke arah kami. Percakapan kami sepertinya menarik baginya sampai ia mengabaikan maina di tangannya.
"Mbak Nida mau tinggal di sini, Bu?" tanya Gilang pada akhirnya ikut buka suara. Ia berjalan ke arahku lantas duduk di pangkuanku. Meskipun badannya bongsor, Gilang memang sangat manja kepadaku.
Ku lingkarkan tanganku ke tubuhnya. "Enggak sayang. Ibu cuma asal bicara," kataku menatap matanya seraya tersenyum getir. Ku lihat dari ekor mataku kalau Mas Firman sedang memandangku tajam.
Mas Firman menghela nafas cukup lama dan menghembuskannya sedikit demi sedikit. "Aku bukannya nggak mau bantu Nida, Jen." Ku lihat dadanya sampai naik turun. "Tapi, semua ini harus dibicarakan dengan matang."
"Jadi Mas Firman setuju?" Begitu bukan sih maksud perkataanya tadi?
"Nggak, Jen." Rahangnya mulai mengeras lagi. "Kita butuh membicarakannya. Ayo kita bicarakan dengan ibu, dan kamu harus sudah siap dengan semua pertanyaan yang diajukan nanti, serta jawaban Ibu. Entah itu mau diterima ataupun ditolak!"
Wajahku berbinar-benar. Garis bibirku tertarik ke samping. Nggak apa-apa kalau nggak disetujui sekarang, tapi membicarakannya lagi berarti masih ada kesempatan.
Jawaban Mas Firman seakan mengangkat batu yang seakan tadi menghimpit dadaku. Aku bisa sedikit bernafas lega dan memikirkan langkah selanjutnya.
Mas Firman kembali berkutat dengan mengupas kelapa. Setelah semua kelapa terkupas, dia harus segera menyerut kelapa-kelapa itu untuk dijadikan santan. Dan Gilang mulai mengikuti ayahnya lagi, bergelut dengan dagangan di pagi hari.
Hari ini hari Minggu, aku lebih bisa bersantai karena Gilang libur. Aku harus segera pergi ke dapur karena ibu mertuaku pasti sedang sibuk memasak.
Ternyata betul, ibu sedang berdiri di depan kompor dengan tempe yang mengapung di atas minyak yang panas. Ia sesekali berjalan ke dalam sambil menyapu lantai.
"Ibu, maafkan aku kesiangan bangunnya, tadi malam nggak bisa tidur," ucapku seraya berjalan menuju tempat minum.
"Nggak apa-apa, Jen. Ini udah mateng semua, tinggal nyelesain goreng tempe. Memangnya kenapa nggak bisa tidur?" tanya Bu Firda sembari membungkukkan badan, berusaha menggapai kotoran yang dibawah meja dengan gagang sapu.
"Ibu ingat ceritaku tentang anaknya Mbak Nia?" tanyaku pada Ibu. Aku mengambil tiga gelas kosong dan mengisinya dengan gula dan teh lantas menuangkan air panas ke dalamnya.
"Iya ingat. Apa bener itu ayahnya agak mata keranjang?" Ibu mengayunkan sapunya dan membawa sampah ke luar pintu belakang.
"Tadi malam dia hubungin aku lagi, Bu. Katanya Mas Aris mabuk dan memeluknya dari belakang." Aku membawa tiga gelas teh itu ke atas meja makan dan duduk di sampingnya.
Setelah lantai terlihat bersih, Bu Firda lantas ikut duduk di kursi sebelahku.
"Astaghfirullah.. Itu Nia apa nggak mau bawa pergi si Nida. Ibu takut si Aris gelap mata." Bu Firda menyeruput teh bikinanku.
"Nah, itu dia, Bu. Aku juga berpikir begitu. Mbak Nia itu terlalu manut dengan suaminya," celotehku menanggapi pendapat ibu mertuaku. Aku tahu ibu mertuaku pasti mendukungku, soalnya Ibu itu baik, nggak kaya cerita-cerita tentang ibu mertua yang jahat di novel-novel online. Yang agak keras itu bapak mertuaku, tapi bapak sudah nggak ada beberapa tahun silam, dan Mas Firman itu mirip banget bapak mertua sifatnya.
"Ya begitulah, Jen, kalau wanita nggak bisa berdaya sendiri. Semua tergantung sama suami. Iya kalau suaminya bener, diajak ke syurga bersama, lah kalau suaminya bejad kaya gitu, mau kabur aja mikirnya dua belas kali. Takut nggak bisa makan, takut kalau kabur nggak ada yang nafkahi. Jadi biasanya memilih bertahan walaupun suaminya kaya gitu."
Aku tahu itulah prinsip Bu Firda yang sejak dulu beliau pegang. Matanya menerawang jauh, mungkin mengingat kisahnya dengan Pak Slamet. Ia lantas mengambil gelas tehnya dan menyesap cairan berwarna cokelat itu. Bibirnya mengecap-ngecap rasa manis yang tertinggal.
"Iya, Ibu benar. Padahal dengan suaminya yang dulu, Mbak Nia itu nggak begini lho, Bu."
"Itulah kenapa Ibu nggak pernah mau menikah lagi setelah Bapak meninggal. Ibu takut kalau suami kedua nanti tak sebaik bapak."
Wajah Bu Firda berubah sendu, matanya mulai mengembun. Bapak memang memberi memori tersendiri pada Bu Firda meskipun sudah lama bapak meninggal.
Aku jadi ikut menunduk, haru, lebih tepatnya bingung juga kalau Ibu sudah mulai menangis karena mengenang bapak.
"Eh, itu kalau Ibu ya, Jen. Kalau misal suami pertama memang jahat, ya sah-sah saja menikah lagi, siapa tahu dapat suami yang lebih baik." Bu Firda memegang lengan Jeni, membuat ia sedikit terkejut.
"I ... iya, Bu. Ibu benar." Tak berani aku berkomentar apapun lagi. Meskipun aku dekat dengan ibu tapi kalau bercerita tentang suamiku juga rasanya gak enak, apalagi dia termasuk anak kesayangan ibu.
Lama kami terdiam, aku memutuskan untuk memanggil Mas Firman dan Gilang untuk makan. Baru saja badan hendak bangkit dan berputar, Mas Firman dan Gilang muncul dari ruang tengah.
"Udah mateng, yah, Bu?" tanya Mas Firman sembari menghirup wangi tempe goreng yang baru matang.
"Udah nih. Ayo pada makan semuanya!" ajak Bu Firda, ia menepuk kursi di sebelahnya seraya tersenyum pada cucu kesayangannya.
Gilang beringsut mendekat ke samping neneknya, matanya tertuju pada segelas teh di depannya.
"Ini punyaku kan, Mbah?" tanya Gilang sambil memegang segelas teh yang hangat.
"Itu punya Bapak, Lang. Nanti ibu bikinkan buat kamu, tadi ibu lupa," sahut Jeni seraya bangkit berdiri.
Sebelum beranjak, Bu Firda mencegah menantunya. "Biar ibu saja yang bikin, Jen. Kalian makan saja dulu," ucap Bu Firda seraya bangkit dan menuju ke meja tempat teh dan kopi disimpan.
Firman menyenggol lengan istrinya, alisnya naik turun memberi kode pada istrinya.
"Apa?" tanya Jeni lirih, ia melirik ke arah Ibu yang sedang mengaduk gelas berisi air putih.
"Sudah ngomong sama ibu soal Nida?" Firman membalas istrinya dengan berbisik. Ia penasaran apakah istrinya benar-benar serius dengan idenya.
"Belum." Nida menjawab acuh. Ia sendiri belum tahu bagaimana memulai percakapan itu degan Ibu. Meskipun Ibu mertuanya baik, tapi ia justru merasa segan. Mengecewakan ibu mertuanya adalah hal yang paling ia hindari selama ini. Bu Firda sudah melebihi ibunya sendiri.
Firman menghela nafas dengan lega. Ia pikir istrinya akan nekad meminta izin pada ibu.
Bu Firda datang dengan membawa segelas teh hangat. Ia lantas bergabung dengan mengambil nasi. Tidak ada percakapan diantara mereka. Sayur oyong dengan sambal dan tempe goreng membuat mereka larut dalam sarapan pagi yang sederhana namun nikmat.
"Ehm." Tenggorokan jeni terasa gatal, kata-kata yang sudah ia susun tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu. Sampai sarapan selesai, tak ada satupun kata-kata tentang Nida yang muncul dari mulutnya.
Setelah selesai makan, Jeni membereskan sisa makanan dan membuat air gula merah serta cendol bersama suaminya. Ia harus buru-buru menyelesaikan semua pernak -pernik membuat es cendol sebelum waktu terlalu siang. Karena kalau kesiangan, biasanya cendolnya tidak akan habis.
Karena hari ini Mas firman dan Gilang libur, Jeni jadi bisa meminta tolong ke mereka untuk membawakan bahan-bahan yang sudah siap ke gerobak dorong yang ada di depan rumah. Gula cair, santan serta cendol nanti akan ditata lebih rapi kalau sudah di lapak.
Firman membawa termos jumbo berisi santan, dan Gilang membawa toples besar berisi gula merah cair. Jeni menyusul dibelakang mereka membawa termos berisi cendol.
"Sudah semua, Mas," ucap Jeni memberi aba-aba agar gerobaknya segera dibawa ke lapak.
"Yaudah aku berangkat sekarang." Firman membawa tas di pundaknya dan mendorong gerobaknya. Jeni dan Gilang mengikuti dari belakang.
Tempat jualan mereka tak terlalu jauh, hanya beberapa meter di perempatan jalan besar. Di sana ada juga pedagang gorengan dan seblak yang sudah ready di tempat saat gerobak Jeni datang.
"Eh, lagi libur yah Mas Firman?" Renita yang jualan gorengan menyambut kedatangan mereka.
"Iya nih Mbak Ren. Udah larisan belum!?" tanya firman melongok sisa gorengan di etalase.
"Alhamdulillah, masih pagi jadi masih agak sepi. Mbak Jum tuh yang larisan dari tadi. Anak-anak SMP pada libur jadi pada nyeblak pagi-pagi," jawab Renita sambil menunjuk ke arah Mbak Jum yang sedang sibuk membuat seblak.
Mbak Jum yang ditunjuk hanya tersenyum saja.
"Udah ya, Jen. Aku sama Gilang pulang dulu," pamit Firman pada istrinya. Jeni mengangguk-angguk sambil menata lagi sedotan dan plastik di atas meja.
"Iya, Mas. Gilang kalau mau main jangan jauh-jauh ya," jeni berpesan pada anak satu-satunya.
"Iya, Bu," jawab Gilang sambil berjalan menjauh.
Siang itu Jeni cukup sibuk melayani pembeli es dawetnya. Mungkin karena cuaca di luar sedang cukup panas sehingga orang-orang banyak yang mencari es cendol. Sampai pukul 1 siang, dagangannya sudah hampir habis. Saat pembeli terakhir selesai dilayani, ia menaruh tubuhnya di kursi pelanggan.
Jeni teringat kalau tadi ia membawa ubi rebus dadi rumah. Ia mengambil bungkusan di tas yang ia bawa. Sambil mencomot ubi rebus itu, ia juga iseng membuka ponselnya yang sejak pagi belum sempat ia sentuh.
Ternyata ia mendapatkan pesan yang cukup panjang dari Nida. Saat membaca pesan itu, wajah Jeni berkerut-kerut.
[ Tante Jeni, aku dimarahin Ibu karena mengadu soal Bapak. Tadi siang saat bapak bangun tiba-tiba dia langsung ke kamarku, Tan. Bapak lihat aku habis mandi tadi, terus bapak melukin aku. Aku teriak-teriak manggil ibu. Waktu ibu masuk, aku ceritain ke ibu tentang bapak yang tiba-tiba datang, Tan. Tapi malah aku yang dimarahin. Katanya aku ceroboh nggak bisa kunci kamar. Aku takut Tante. Aku takut sama bapak, aku takut sama ibu. Apa aku kabur aja ya Tan?"]
"Astaghfirullah!!! Aduh bagaimana ini?!"
Jeni Semain bingung harus bagaimana. Sepertinya keadaan Nida semakin parah. "Ya ampun, Mbak Nia kenapa jadi kaya gitu sih!!" Kesal, Jeni meremas jadi jemarinya sendiri.