Alin tersentak kaget bangun dari tidurnya mendengar bunyi telp yang sangat nyaring dekat kepalanya. Setelah di jawab, bukannya suara seseorang yang berbicaraakan tetapi suara operator yang mengingatkan Alin akan tanggal jatuh tempo pinjaman onlinenya tinggal tiga hari lagi.
"Alin, kapan bisa bayar hutangnya? Saya perlu untuk membayar cicilan saya. Tolong di usahakan ya Lin" chat dari distributor goodiebag jualan online Alin, masuk di aplikasi berlogo hijau milik Alin. Semakin menambah keruwetan pikiran Alin di pagi hari itu.
Alin melihat anaknya, Sean yang berumur 12 tahun, tahun ini dan ingin masuk sekolah asrama. Sean masih tidur pulas di sebelahnya.
Akhirnya Alin bangun perlahan sambil menarik nafas panjang. Mengambil handuk mandibdan berjalan ke kamar mandi dengan langkah lesu.
"Och Tuhan ... Tolong aku. Merdekakan aku dari segala hutang ya Tuhan ... " jerit bathin Alin yang sering dia ucapkan.
Alin Musthofa adalah seorang ibu tunggal untuk anaknya, Matsuyama Sean. Papanya Sean orang Jepang asli dan Alin adalah istri kedua dari Matsuyama Seiji yang saat itu bertugas memimpin salah satu perusahaan Jepang yang ada di kawasan industri Jawa Barat. Alin memutuskan berpisah dengan Matsuyama Seiji sejak Sean masih berumur 2 tahun.
Selama menjadi istri Matsuyama dan setelah berpisahpun, Alin sering menggunakan uangnya untuk memberikan bantuan bagi orang yang terjerat pinjaman riba. Alin juga ikut tergabung di group donatur berantas riba untuk daerah Jawa Timur.
"Terima kasih kak Alin, dana 50juta nya sudah di salurkan, InsyaAllah rejeki kakak selalu di mudahkan Allah dan di berikan keberkahan dalam hidup kakak" salah satu admin group donatur berantas riba mengirimkan chat terima kasih ke Alin.
Itu adalah chat tahun lalu, sekarang Alin sendiri yang terjerat lilitan hutang riba pinjaman online.
Semuanya berawal dari bisnis yang Alin jalani mengalami kemerosotan. Koko Lai yang memasok produk jualan Alin bersedia memberikan Alin produk dengan bayaran tempo, akan tetapi saat tiba temponya Alin masih belum memegang uang. Alin mencoba-coba melakukan pinjaman online untuk membayar hutangnya ke koko Lai juga untuk kebutuhan hariannya. Dari awalnya yang coba-coba tersebut, Alin semakin terperosok ke dalam lilitannya. Bunga pinjaman online yang sangat mencekik, bisnis Alin juga masih belum menunjukkan progres yang lebih baik.
Alin terlalu malu untuk meminjam uang ke pamannya yang juga keadaannya tidak lebih baik dari Alin meskipun beliau tidak melakukan hutang pinjaman online, tapi dia punya keluarga dan anak-anak dalam masa sekolah dengan biaya yang tentu juga tidak sedikit. Alin tidak suka menjadi beban bagi orang lain.
Suatu hari salah satu aplikasi pinjaman online menawarkan Alin pinjaman sejumlah uang. Berhari-hari Alin memikirkannya, akhirnya dia mengambil keputusan melakukan pinjaman tersebut untuk membuka usaha jualan snack kue kering karena jualan online produk dari koko Lai sedang sepi penjualan
Paman Alin ikut membantu mengenalkan Alin pada distributor besar jualan snack kue kering.
"Dari mana kamu dapat uang?" tanya paman Alin ingin tahu.
"Aisyah yang pinjamin" bohong Alin pada pamannya. Aisyah adalah sahabat Alin, suaminya adalah pemilik sekolah tempat Sean belajar.
*
"Pagi Mom .... Kapan kamu sampai?" Sky Yuan berlari ke meja makan, di sana sudah ada Janette yang menunggunya untuk sarapan. Sky memberikan kecupan singkat di pipi Ibunya itu sebelum dia duduk di kursi pemimpin meja makan.
"Aku sudah sampai dari kemarin, anak muda. Tentu saja kamu tidak tau karena kamu tidak pulang semalaman" sarkas Janette melirik Sky dan mulai mengambilkan sarapan ke piring pemuda tampannya seperti biasanya.
"Maafkan aku, aku sibuk semalam. Bagaimana urusanmu di New York? Apakah lancar?"
"Sibuk dengan sekretaris mu lagi atau wanita yang sudah bersuami itu? Ach aku ingin memiliki cucu"
"Namanya Velisha, Mom. Kami sudah berteman lama. Kamu juga sudah mengetahuinya. Dia butuh bantuanku karena ada bermasalah dengan Keenan, suaminya"
"Ya! Kamu bisa membantunya tanpa harus menidurinya kan? Bisa saja itu hanya alasannya saja. Kenapa setelah beberapa tahun dia masih belum bercerai dari suaminya jika pernikahannya dengan Keenan bermasalah"
"Mom ... Kita sedang sarapan. Nanti kita bicarakan lagi hal ini. Kamu harus makan dengan baik. Jaga kesehatanmu. Jangan emosi. Hem?" Sky memotongkan daging steak dan menyuapkan ke ibunya itu yang sudah mulai cerewet membahas hal pribadinya.
"Sky ... Menikahlah dan berikan aku cucu" lirih Janette menatap netra biru Sky Yuan, anak sambungnya yang sangat dia sayangi.
Ibunya Sky Yuan, Katherine Moris meninggal beberapa jam setelah melahirkannya. Sebelum ajalnya, Katherine berpesan pada Janette untuk merawat bayinya dan juga menggantikannya mendampingi suaminya Thomas Yuan.
Beberapa bulan setelah kepergian Katherine, Thomas Yuan akhirnya menikahi Janette secara resmi agar bisa terus menjaga dan membesarkan bayinya yang di beri nama Sky sesuai dengan kesukaan Katherine yang menyukai langit biru dan kebetulan bola mata Sky berwarna biru, sebirunya langit.
Sky dan Janette baru saja selesai sarapan, Asisten pribadi Sky datang menghampiri dengan membawa laporan.
"Mereka sudah mulai bertindak bodoh. Orang kita di lapangan memberikan laporan tentang siapa saja yang terlibat di proyek yang rugi itu"
"Ini proyek yang di Jawa Barat itu kah?" sela Janette sambil menatap Asisten Sky kemudian menatap Sky.
"Benar, Madam"
"Sungguh orang-orang yang rakus. Bagaimana rencana kalian?" Janette merasa kesal mengingat orang tamak yang sudah membuat proyek perusahaan Sky tertunda selama setahun dengan kerugian melebihi 10 milyar rupiah.
Meskipun kekayaan Sky dan Janette tidak akan habis tujuh turunan, akan tetapi melihat ada yang berani menggigit mereka, tetap aja Janette merasa sangat kesal dan kecewa.
"Daf, siapkan jet. Kita berangkat malam ini ke Jakarta, paginya kita ke proyek" ujar Sky ke Daffa, Asisten kepercayaannya itu.
"Apa kamu juga akan membawa sekretarismu itu?" tanya Janette yang sepertinya sangat tidak setuju jika Merlin sekretaris Sky ikut di ajak juga.
"I Love You, Mom. Aku tidak akan mengajaknya. Hanya Daffa yang ikut. Apakah kamu merasa senang sekarang? Ku mohon, jangan emosi. Oke?" Sky meraih tangan Janette dan menciumnya lembut, kemudian dia permisi pergi ke ruang kerjanya bersama Daffa.
"Sky ... Mommy serius ingin memiliki cucu. Carilah waktu untuk bertemu wanita baik-baik dan Menikahlah" teriak Janette penuh harap pada Sky.
Sky kembali berbalik untuk memeluk Janette kemudian berbisik, "Apakah kamu ingin melihat wanita mati di bawah tubuhku, Mom? Aku mungkin tidak akan bisa menikah. Tapi aku akan mengabulkan keinginan mu untuk memiliki cucu, pulang dari Indonesia, kita bicarakan. Jaga kesehatan mu" Sky membungkuk untuk mencium kepala Janette dan memeluknya sebentar.
Di dalam ruang kerjanya, alis Sky Yuan berkerut melihat laporan dari Daffa. Wajahnya sangat dingin, tatapan tajam, tidak ada tersisa kelembutan yang dia perlihatkan saat di meja makan sewaktu bersama Ibu sambungnya tadi. Inilah aslinya Sky Yuan yang di kenal Daffa yang sudah mengikuti Sky lebih dari 10 tahun.
"Mereka terlalu berani" desis Sky, mengepalkan tangannya bertumpu di atas meja.
"Kita harus lebih hati-hati. Juga apakah kamu bisa untuk tidak menyentuh wanita yang nanti mereka tawarkan padamu?" Daffa berkata hati-hati. Maksudnya baik agar Sky bisa lebih tegas lagi. Selama ini penanggung jawab proyek selalu memberikan layanan wanita pada Sky yang membuat Sky tidak bertindak keras terhadap mereka. Wanita itu juga nantinya menjadi pekerjaan Janette yang turun tangan untuk menutup mulut para wanita bayaran itu karena setelah melayani hasrat Sky yang sangat besar, beberapa di antara mereka ada yang pendarahan atau masalah yang hampir serupa.
Sky Yuan, Billioner muda yang sangat tampan di abad ini. Tubuhnya atletis, tegap dengan kaki yang panjang. Seleranya sangat anti menggunakan bekas orang lain. Begitu juga dengan tuntutannya terhadap wanita. Wanita yang melayaninya haruslah masih suci bukan bekas orang lain. Namun banyak dari wanita-wanita tersebut yang tidak sanggup melayani hasrat seorang Sky Yuan yang bukan hanya tuntutannya saja yang ekstra namun ukuran di dalam celananya juga sangat ekstra.
"Aku mengerti. Pasti ini juga permintaan ibuku" sarkas Sky melirik Daffa yang malah tersenyum.
"Cari rumah sakit yang bisa membantuku memiliki anak. Janette sudah semakin tua, mulutnya juga ikut semakin cerewet"
"Tapi kamu sangat mencintainya" kekeh Daffa.
"Hanya dia keluargaku di dunia ini. Bisa menyenangkan hatinya akan membuat kupingku tidak akan kapalan mendengar ocehannya yang ingin memiliki cucu"
"Kenapa kamu tidak mengikuti permintaannya yang kamu menikah dan memiliki anakmu sendiri? Aku akan membantumu mencari wanita yang cocok denganmu"
"Apakah ada wanita yang bisa bertahan dari gempuranku?" ledek Sky dengan senyum melirik Daffa.
Sky tahu Daffa adalah pria lugu yang sangat menjaga tubuhnya dari sentuhan wanita. Bahkan pria yang sudah cukup umur untuk menikah itu belum pernah sekalipun terlibat affair dengan wanita. Sky bingung, bagaimana caranya Daffa bertahan dari hasrat biologisnya.
"Merlin dan Velisha ... Mereka sampai saat ini tidak ada keluhan terhadapmu"
"Janette tidak menyukai mereka. Apalagi Velisha, dia wanita yang sudah menikah. Merlin ... Hmm, dia sangat ambisius. Tak pantas menjadi istriku."
"Ohya, Kamu nanti bisa pulang ke rumah keluargamu, bukankah sudah lama kamu tidak mengunjungi mereka?" Sky mengalihkan topik.
"Kita selesaikan dulu urusan ini. proyek ini sudah setahun tertunda. Robert Yang sudah menunggu di Vegas untuk membicarakan bisnis pertambangan denganmu. Janette sudah menyerahkan urusan Robert padamu"
"Berikan semua data Robert Yang padaku dan letakkan di atas meja. Aku mau mandi dulu. Katakan pada Mr. Philippe untuk menyiapkan mobil, kita ke kantor"
Sky melangkah menuju kamarnya meninggalkan Daffa di depan komputer di ruangan kerja.
Daffa tahu, saat ini Sky sedang pusing memikirkan berbagai macam masalah pekerjaan dan Daffa juga sangat paham apa yang akan di lakukan Sky Yuan ketika kepalanya pusing. Pelukan wanita.
Di kantor ada Merlin yang siap sedia melayani kecuali jika tamu bulanannya datang maka Velisha yang akan datang untuk Sky atau masih banyak gadis-gadis yang bisa Sky dapatkan melalui kenalannya.
Yang tidak pernah bisa Daffa tanyakan pada Sky adalah dia selalu menginginkan wanita yang masih suci dan bersih untuk melayaninya. Tapi Merlin dan Velisha bukan wanita yang masih suci yang tidak hanya melayani Sky seorang. Meskipun jika Sky membutuhkan mereka, mereka bergegas datang untuk Sky.
Kedua wanita itu saling bersaing demi memuaskan Sky Yuan dan tidak pernah akur jika bertemu ataupun berpapasan.
Daffa terkadang merasa dirinya sangat beruntung terlahir sebagai laki laki, karena kalau terlahir perempuan dan menjadi asisten pribadi Sky Yuan, mungkin dirinya sudah lama mati konyol.
Alin mulai sibuk dengan aktifitas jualan snacknya di toko yang dia sewa murah. Alin melakukan repacking snack sendiri dan di jual seharga dua ribuan per bungkusnya karena target pasarnya adalah anak-anak. Meskipun untungnya tidak seberapa, jika di tekuni dengan baik, pasti mendapatkan hasil yang memuaskan. Begitulah yang Alin pikirkan.
Aisyah, Sahabat Alin juga menitipkan produk jualannya di toko Alin sehingga membuat toko Alin menjadi penuh, banyak jualan berbagai macam produk jualan. Tentu saja ini semakin bagus agar pembeli tertarik untuk membeli bahkan memborong di toko Alin.
"Bismillah ... Pokoknya semua hutang ku lunas. Alhamdulillah ... " Doa Alin setiap pagi sebelum membuka tokonya.
Akan tetapi pagi itu tidaklah mulus. Baru saja Alin menyemangati dirinya sendiri, Telpon dari debt collector aplikasi pinjaman online kembali datang mengganggu dengan suara operatornya.
Belum lagi bayaran kontrak rumah yang besok jatuh tempo menyusul kontrak toko. Token listrik di rumah juga sudah berteriak minta di isi ulang.
Bahkan tadi pagi Alin belum sempat memasak nasi karena beras juga habis.
Koko Lai yang baik hati, belum mengingatkan lagi akan hutang Alin. Koko Lai memang orang yang sangat baik. Alin merasa beruntung setidaknya Koko Lai sangat pengertian meski hutang Alin pada Koko Lai mencapai puluhan juta.
Alin hanya bisa berdoa agar Tuhan selalu melancarkan segala urusan Koko Lai meskipun Alin belum bisa membayar hutangnya. Dalam hati Alin juga terucap ribuan maaf untuk Koko Lai.
"Tuhan .... Please tolong aku. Aku benar-benar lelah, Tuhan" Doa Alin dan tanpa terasa matanya berlinang, sudut matanya sudah basah meskipun Alin sebenarnya bukan tipikal wanita cengeng.
Beberapa waktu lalu saat Alin baru saja di setujui pinjaman onlinenya, temannya datang sambil menangis meminjam uang pada Alin. Dasar Alin memang gampang kasihan, dia pun meminjamkan separoh dana dari pinjaman online tersebut. Sekarang temannya tidak bisa di hubungi, setidaknya Alin berharap temannya bisa mengembalikan uang pinjamannya agar Alin bisa membayar cicilan pinjaman online. Sekali lagi sangatlah sia-sia jika berharap pada manusia karena seringnya kecewa yang di dapat.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Ku mohon, Tuntun aku, bukakan jalan untukku agar bisa melunasi semua hutang-hutangku dan membesarkan anakku dengan baik"
Alin membuka dompetnya, kartu donor darah yang ada di dompetnya tiba-tiba jatuh ke lantai.
"Minggu lalu belum bisa donor darah karena HB rendah. Besok sepertinya sudah bisa" gumam Alin pada dirinya sendiri.
Sudah sejak beberapa tahun terakhir Alin rutin berdonor darah sekali tiga bulan. Meskipun beberapa kali HB nya rendah saat di periksa sebelum berdonor, Alin tetap tidak menyerah. Banyak istirahat dan tidak bergadang di malam hari sangat bagus untuk menaikkan HB yang rendah.
*
Daffa sedang fokus bekerja di rumah Sky Yuan, sedangkan yang punya rumah pergi ke kantor di kawasan Suntec yang berjarak 20 menit berkendara dari rumahnya yang terletak di kawasan Holland Village.
Holland Village terletak dekat kebun raya Singapura dan termasuk hunian ekspatriat kaya. Harga untuk apartemen mewah di kawasan ini bisa mencapai lima ratus milyar. Sky tidak tinggal di apartemen akan tetapi di rumah yang desainnya seperti gaya Belanda kuno bahkan lebih megah dari istana, dengan puluhan orang yang bekerja di rumahnya termasuk pelayan, tukang kebun, Koki.
Daffa sudah biasa ditinggal bekerja di ruangan kerja Sky sedangkan pemuda itu sedang bekerja memuaskan urusan bawah perutnya entah di mana, entah di kantor, apartemen atau hotelnya nya. Daffa tidak peduli akan urusan pribadi Sky tersebut dan itulah yang membuat Sky mempertahankan Daffa tetap bekerja padanya.
"Merlin, telp Angelo untuk siapkan barang untukku" ucap Sky sambil berjalan ke kamar mandi yang masih di dalam ruangan kerjanya. Baru saja dia selesai menggeluti Merlin yang entah kenapa hatinya merasa belum puas, kepalanya masih sangat pusing.
Merlin yang mendengar permintaan Sky langsung paham dengan barang yang di maksud bos nya itu.
Merlin merasa sangat sakit hati. Betapa tidak, dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa memuaskan Sky, akan tetapi sekarang pria itu baru saja menyuruhnya untuk menghubungi orang yang akan membawakan gadis untuk melayaninya. Kondisi Merlin sendiri sangat lelah ingin beristirahat tapi dia harus tetap profesional melanjutkan kerja sebagai sekretaris.
Merlin di perkerjakan Sky dua tahun lalu sebagai sekretaris pribadinya. Sebenarnya Sky tidak terlalu membutuhkan sekretaris pribadi, karena semua urusannya sudah di tangani oleh Daffa, Asisten pribadinya. Sekretaris pribadi baginya hanyalah kedok untuk membuat Merlin melayani urusan di bawah perutnya setelah dia bertemu Merlin di salah satu cafe di kawasan Rafles. Waktu itu Merlin sanggup bertahan melayaninya tanpa pingsan selama semalaman dan Sky cukup puas akan hal itu. Sky menawarkan kehidupan yang mewah untuk Merlin tentu saja dengan syarat wanita itu hanya di ijinkan untuk melayaninya saja.
"Kamu sudah menghubungi Angelo?" Sky keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan rendah handuk di pinggang seksinya. Rambutnya masih basah menetes di wajah tampan dan tubuh atletisnya. Pemandangan yang sangat menggiurkan itu kini membuat Merlin menelan ludah pahit.
"Sudahlah, aku akan langsung ke sana saja" kesal Sky berujar karena Merlin tidak melaksanakan perintahnya.
Merlin merapikan pakaiannya, kemudian memakaikan pakaian yang baru di ambilnya dari lemari pribadi ke tubuh Sky tanpa bicara apa-apa, seperti seorang istri yang sangat patuh dan pasrah terhadap suaminya yang akan pergi selingkuh.
"Pergilah berlibur, Aku akan menanggung semua biayanya. Tenagamu sudah mulai melemah melayaniku. Sudah ku katakan jangan pernah pakai perasaan, karena aku tidak suka perempuan lemah."
Merlin mendongak, memasangkan dasi untuk Sky namun di tolaknya.
"Merlin, kamu tau kesalahanmu? Kamu cemburu! Aku tidak menyukainy dan permainan mu tadi sama sekali tidak memuaskan ku!" sarkas Sky tajam memegang pergelangan tangan Merlin yang ingin memakaikan dasi ke lehernya.
"Sky .... " cicit Merlin lirih menatap wajah Sky yang masih sangat dia kagumi. Sky benar, Merlin sangat mencintai Sky yang meskipun memporak porandakan tubuhnya, sialnya dia semakin jatuh cinta untuk setiap sentuhan Sky di tubuhnya.
"Siapa yang memberimu hak untuk menyebut namaku? Kamu sudah melakukan kesalahan lainnya, Merlin. Pergilah!!" geram Sky dingin seakan bisa membekukan jantung Merlin.
Setiap wanita yang berhubungan dengan Sky hanya di perbolehkan memanggilnya dengan sebutan Mr. Yuan. Tidak ada satupun yang di ijinkan menyebut nama depannya.
Setelah Merlin berlari ke luar dari ruangannya, Sky menghubungi Velisha agar datang ke kantornya. Dia berubah pikiran tidak jadi ke cafe Angelo tapi memanggil sahabatnya sekaligus wanita pemuas nafsunya yang lain untuk datang.
Tik tok ... tik tok ...
Langkah kaki Velisha sangat gemulai meskipun dia terlihat terburu-buru namun keanggunannya masih sangat kental padanya.
Merlin melihat Velisha datang yang langsung memasuki ruangan Sky tanpa menyapanya, membuat hatinya seperti di iris sembilu. Sky tidak hanya mencelanya yang sudah melemah tapi dia juga sangat menghinanya karena sudah membawa wanita yang sangat dia benci datang ke kantor. Sky tahu kalau Merlin sangat membenci Velisha yang menurut Merlin, Velisha itu sangat munafik, berkedok sahabat padahal wanita itu sangat licik. Dia sudah menikah tapi tidak pernah malu-malu bertindak mesra pada Sky di depan umum sekalipun dimana Merlin tidak di ijinkan melakukan hal itu.
Merlin tidak bisa menerima penghinaan ini. Baru saja tubuhnya serasa rontok tulang belulangnya melayani Sky, sekarang bos kejamnya itu sudah mengundang orang yang sangat dia benci untuk apa lagi kalau bukan menghangatkan kasur di kamar pribadi dalam ruangan Sky yang beberapa menit lalu di tinggalkan Merlin. bahkan sepreinya masih berantakan, belum di ganti.
Telepon di meja Merlin berbunyi dari Sky yang meminta untuk di antarkan kopi ke dalam ruangannya.
Merlin mengetuk pintu ruangan Sky Yuan, membawa dua cangkir kopi yang sangat ingin dia beri tetesan racun untuk Velisha namun dia tidak tahu cangkir mana yang akan di minum Sky dan Velisha.
Merlin berjalan meletakkan kopi di atas meja, sudut matanya melirik ke arah sofa di mana Sky sedang duduk di sana dengan Velisha yang duduk di atas pangkuan Sky.
Darah Merlin mendidih melihatnya dimana kancing kemeja yang tadi dibantu Merlin pakaikan pada tubuh Sky sudah terlepas dan Velisha sudah tinggal pakaian dalam saja yang melekat di tubuhnya.
"Merlin, rapikan tempat tidur dan ganti sepreinya" perintah Sky yang sangat keterlaluan pada Merlin. Mau tidak mau Merlin menghubungi bagian binatu yang khusus menangani kamar pribadi Sky tersebut. Namun Sky sepertinya sudah tidak sabar, meminta Merlin segera mencopot seprei di kasurnya juga meminta Merlin bergegas memasangkan seprei baru di kasurnya setelah orang dari binatu datang.
"Kenapa tempat tidurmu berantakan? Siapa yang baru saja keluar dari sini?" tanya Velisha lembut membelai rahang Sky.
"Tidak perlu tahu. Yang kamu perlu tahu sekarang adalah aku sudah siap memasukimu!"
"Och kau Vulgar sekali!!!"
Velisha sengaja berteriak kesenangan agar di dengar Merlin karena insting wanitanya berkata wanita yang membuat tempat tidur Sky berantakan tentu saja Merlin. Sky tidak pernah membawa gadisgadisnya yang lain yang akan dia tiduri ke kantornya.
Telinga Merlin memanas mendengar desahan-desahan yang di sengaja Velisha lolos dari mulut manisnya. Sky juga tidak peduli, dia memang sangat pintar membuat wanita melayang dengan sentuhannya juga sekaligus sangat kejam dalam tindakannya. jari-jemari Sky menari-nari di tubuh Velisha.
Sky langsung membopong tubuh Velisha dan menidurkannya di kasur setelah Merlin selesai memasangkan seprei baru. Sky benar-benar mengabaikan Merlin yang masih berada di dalam ruangannya saat dia naik mengungkung Velisha di atas tempat tidur. Namun Velisha tentu saja tahu jika Merlin masih memperhatikan mereka dengan kedua tangan di tautkan, wajahnya sangat suram dan tatapannya sinis. Velisha semakin terpacu untuk bertindak lebih manja, sesekali menjerit nikmat. Sky memasuki tubuh Velisha di saksikan Merlin yang mendengkus nafas kasar berlari keluar dari ruangan Sky.
Menjelang tengah malam, Sky pulang ke rumahnya. Daffa sudah menunggunya dari sore dan data serta laporan yang di perlukan juga sudah siap.
"Daf, perintahkan Mr. Philippe untuk menyiapkan makan malamku sebelum kita berangkat. Apakah kamu sudah makan malam?"
"Baik. Apakah kamu juga ingin memakan soup daging kuda untuk menambah staminamu?" sarkas Daffa.
"Jika ada, boleh. Kamu juga harus mencicipi soup daging kuda itu nanti" Sky masuk ke kamar mandinya langsung menuju shower.
Daffa sudah menemui Mr. Philippe yang langsung menghubungi bagian dapur, Ternyata hanya ada Zia, gadis muda yang bertugas di dapur malam itu yang kebetulan sedang membuat soup daging kuda yang dia beli dengan harga murah di pasar karena pembelinya memaksanya untuk membelinya.
Daffa hampir mau muntah saat di hadapannya ada mangkop soup daging kuda. Sky tertawa tanpa suara, sangat menikmati kekesalan Daffa di hadapannya.
"Cepatlah di makan, bukankah kamu meminta soup daging kuda tadi?" kekeh Sky menatap Daffa yang terpaksa memakan soup di hadapannya dengan mata terpejam.
"Zia, terima kasih atas bantuanmu. Istirahatlah, kami tidak akan mengganggumu lagi"
Zia mengangguk kemudian menyerahkan urusan di meja makan ke Mr. Philippe. Zia adalah salah satu pelayan di kediaman Sky bukan koki namun kedua orangtua gadis itu dulunya bekerja di rumah Sky dan mereka adalah koki yang sangat hebat di masa Thomas Yuan, Ayahnya Sky masih hidup. Zia bahkan lahir di rumah Sky.
Sky juga ingat seperti apa Zia sewaktu dia masih bayi merah, tahun ini dia baru berumur 15 tahun. Janette yang membantu biaya sekolahnya dan membuat Zia tetap tinggal di kediaman Sky. Tindakan Janette ini sangat berani karena mengingat Sky sangat menyukai gadis muda suci polos namun sangat lega mengetahui bahwa Sky masih manusia beradab, tidak sekalipun dia ingin menyakiti atau melecehkan Zia.
Siang itu matahari bersinar sangat terik. Setelah mencuci baju, Alin pergi menuju gerai PMI. Toko snacknya belum buka, Sean sedang sekolah.
"Halo kak Alin, apakah sehat hari ini?" sapa petugas PMI yang bernama Ardi, nama yang tersemat di baju seragam yang di pakainya.
"Sehat Mas, Alhamdulillah. Apakah HB ku sudah oke untuk donor kali ini?"
"Mari kita cek dulu. Semalam tidurnya minimal 6 jam kan kak?"
"Sepertinya begitu mas, saya tidur jam 10 bangunnya subuh tadi"
"Oke kak, HB kaka 12,6. Mepet banget sih tapi bisa untuk donor darah" ujar Ardi saat melihat hasil pengukuran HB Alin. Minimal HB 12,5 untuk bisa berdonor darah.
Tiba-tiba pintu ruangan PMI di dorong beberapa orang dari luar.
"Maaf, kami butuh golongan darah A plus. Pasien sangat urgent. Stok darah di rumah sakit kosong untuk A plus" tutur salah satu pria yang paling dulu bergerak maju ke arah Alin dan Ardi duduk.
"Nona ... Apakah Nona bergolongan darah A plus? Kami akan sangat berterima kasih pada Nona, tolong donor kan pada pasien kami" Pria yang tidak lain adalah Daffa, asisten Sky Yuan memohon pada Alin setelah melihat kartu donor darah Alin yang menjelaskan golongan darah Alin A plus.
Alin tercekat melihat wajah kusut di hadapannya namun tidak menghilangkan ketampanannya kemudian dia menatap Ardi yang sudah pulih dari kagetnya.
"Saya akan mendampingi kak Alin untuk donor darah di sana kalau kaka Alin tidak keberatan" ujar Ardi sopan dan Alin pun mengangguk.
"Terima kasih Nona. Terima kasih banyak" ucap Daffa penuh hormat pada Alin.
Alin merasa jengah di perlakukan seperti itu, jadi dia bertanya cepat pada pria di hadapannya.
"Rumah sakit mana?"
Daffa langsung membawa Alin dan Ardi masuk ke dalam mobilnya yang dia kemudikan sendiri melaju ke arah rumah sakit tempat Sky sedang di tangani. Di belakang mobil mereka di ikuti tiga mobil yang merupakan para pengawal pribadi Sky Yuan.
Alin berbisik pada Ardi "Sepertinya pasiennya orang penting, apakah dia akan menghisap darahku sampai habis?"
"Itu adalah tindakan kejahatan serius. Jangan kuatir, Saya akan memastikan kak Alin hanya donor darah, tidak akan sampai menghabiskan stok darah di tubuh kak Alin" Ardi tersenyum melirik Alin. Setiap Alin berdonor darah, kebetulan Ardi yang sering bertugas membantu jadi sudah sedikit mengenal wanita itu yang terkadang melontarkan lelucon konyol seperti Vampire itu ada darahnya ga sih? Trus dia minum darah buat apa ya? kalau vampire minum darahnya dengan cara transfusi bisa ga yah?.
Mobil yang di kemudikan Daffa sudah sampai, dia langsung membawa Alin dan Ardi menuju ruangan operasi dimana Sky Yuan sedang di lakukan tindakan operasi mengeluarkan peluru dari tubuhnya dan masih belum sadarkan diri. Luka tempak di perut dan dadanya sudah banyak mengeluarkan darah. Sedikit saja peluru itu bergeser ke arah jantungnya, mungkin Sky sudah tidak bisa di selamatkan.
Petugas membawa Alin dan Ardi ke dalam ruangan operasi meninggalkan Daffa di luar ruangan bersama para pengawal yang baru saja sampai dari menyusul mereka.
Ardi melayani langsung bagian transfusi darah Alin untuk pasien yang mereka tidak tahu namanya dan operasi mengeluarkan peluru dari tubuhnya masih berlangsung sangat ketat.
Daffa menggigil pucat tidak bisa duduk dengan tenang, berjalan mondar-mandir di depan ruangan operasi. Masih jelas di ingatannya saat Sky mengemudikan mobil mereka menuju proyek dengan Daffa yang duduk di kursi penumpang. Tiba-tiba terdengar bunyi berdesing dan saat itu juga Sky langsung menginjak rem mendadak, dada dan perutnya sudah bersimbah darah. Begitu cepat dan tidak bisa di hindari.
Para pengawal yang berada di mobil di belakang mereka segera berhenti membantu memindahkan tubuh Sky ke kursi penumpang yang perlahan melemah dan kesadarannya hilang, sebagian mencari sumber peluru di tembakkan. Daffa mengambil alih kemudi dan melajukan secepat kilat mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Dokter segera melakukan tindakan dan mengatakan Sky harus di operasi namun Sky sudah kehilangan banyak darah, Darahnya bergolongan darah A plus saat itu sedang kosong stoknya. Itulah awal Daffa bertemu Alin untuk menyelamatkan Sky.
Telp Daffa berbunyi dan segera dia menjawabnya yang ternyata dari Janette.
"Setelah operasi selesai, segera terbang ke sini. Saya sudah siapkan dokter terbaik" ucap Janette yang sudah mengetahui mengenai keadaan Sky.
"Baik Madam. Maafkan saya gagal melindungi Sky"
"Bukan salahmu. Nicholas sudah menemukan orangnya dan dia bunuh diri di tempat saat para pengawal kalian mengejarnya. Untuk sementara Nicholas akan menyelidiki siapa orang di belakang ini. Mengenai proyek, besok saya akan menemui pemerintah Indonesia untuk menutupnya. Tidak masalah rugi beberapa milyar asalkan anakku selamat" Janette berkata panjang lebar dan sangat berwibawa. Memang seorang Sky Yuan bisa sehebat sekarang itu tak terlepas dari didikan Janette yang sangat tegas dan ilmu bisnisnya luar biasa. Janette sudah lama ingin menutup proyek di jawa barat tersebut namun Sky menolak. Entah apa yang ada di pikiran Sky.
Alin sudah memberikan darahnya lebih banyak dari dia biasa berdonor darah. Wajahnya pucat dan tenaganya bahkan tidak sanggup untuk membuka kelopak matanya. Ardi sudah menghentikan darah keluar dari tubuh Alin dan menutup lengannya dengan plester khusus.
"Kak Alin, minumlah" Ardi memegang gelas air putih dan memasukkan sedotan ke mulut Alin.
Alin menyesapnya sedikit, kepalanya pusing luar biasa.
"Apakah aku baik-baik aja mas Ardi? Apakah pasiennya baik-baik aja?" tanya Alin yang terdengar seperti desisan, bahkan untuk berkata aja dia harus mengumpulkan banyak tenaga.
"Pasiennya sudah baik-baik aja. Operasinya berjalan sukses. Kak Alin juga tolong bersemangatlah. Maafkan saya, seharusnya saya tidak mengambil lebih dari seharusnya. Maaf kak Alin. Minumlah lagi"
"Alhamdulillah ... Tidak apa-apa mas. Memang saya yang mau tadi. Mas Ardi ... A—apakah saya bisa minta jus korma?" Alin berkata dengan matanya yang masih tetap tertutup.
"Saya akan membelinya" ujar Daffa yang melihat keadaan Alin sangat lemah. Entah kenapa dia merasa sangat bersimpati pada wanita itu.
Sementara Daffa membeli jus korma, Alin dan Sky di dorong keluar dari ruangan operasi menuju ruangan perawatan.
Daffa kembali segera setelah mendapatkan jus korma dan membeli beberapa makanan untuk memulihkan tenaga Alin langsung menuju ruangan perawatan.
Setelah menghabiskan satu gelas jus korma, Alin baru bisa membuka matanya namun masih sangat terlihat lemah.
"Terima kasih. Saya harus pulang sekarang. Semoga dia cepat sadar dan sembuh total" ucap Alin melirik ke arah Sky seraya bangkit dari brangkar namun kakinya masih lunglai, tidak bisa menapak dengan tegak.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi makanlah dulu selagi makanan itu hangat" Daffa memegang tangan Alin, menuntunnya duduk bersandar kepala brangkar.
"Saya Daffa, terima kasih atas bantuannya ... Mas Ardi" Daffa memperkenalkan dirinya dan membaca nama Ardi dari pakaiannya yang kembali memastikan detak jantung Alin sudah mulai normal.
"Nona Alin Musthofa, terima kasih" Daffa berterima kasih dan menyebut nama Alin setelah Ardi memberikan kartu donor darah Alin kepadanya.
"Saya akan mengantarkan Nona Alin sampai ke rumahnya. Mas Ardi bisa kembali melanjutkan pekerjaannya" Daffa juga memberikan kartu namanya pada Ardi yang kemudian Ardi mengangguk sambil menatap Alin yang sudah mulai terlihat pulih.
"Kak Alin harus banyak istirahat dan habiskan makanannya. Saya permisi dulu" Ardi berkata sopan sebelum undur diri dari hadapan Alin.
"Aku bisa menyuapimu, kalau Nona Alin tidak keberatan"
"Tidak, terima kasih" Alin mengelap kedua tangannya dengan tisu basah yang di sediakan Daffa dan mulai menyuap makanan di hadapannya sampai habis separohnya karena dia sudah sangat kekenyangan.
"Apakah aku sudah boleh pulang sekarang?" tanya Alin sambil tersenyum menatap Daffa yang gelagapan di tatap netra coklat hazel Alin.
Daffa berpesan pada semua pengawal pribadinya agar menjaga Sky dan tidak boleh lengah, sebelum dia pergi untuk mengantarkan Alin pulang kembali ke rumahnya.
"Berhenti di depan gang itu. Rumahku di dalam gang kecil itu, tidak jauh kok. Terimakasih Mas Daffa"
"Kami yang harus berterima kasih pada Nona. Terimalah ini untuk membeli banyak makanan, meskipun kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Nona" Daffa mengulurkan amplop ke hadapan Alin yang langsung di tolak oleh Alin.
"Saya ikhlas kok mas. Ga usah begini. Saya tidak apa-apa"
"Saya mohon, terimalah" Akhirnya Alin menerima amplop yang di paksa Daffa untuk dia terima. Daffa juga ikut menuntun tangan Alin agar bisa berjalan dengan pelan sampai ke rumahnya.
Setelah mengantarkan Alin sampai ke rumahnya, Daffa segera kembali ke rumah sakit dan membawa Sky Yuan yang masih di bawah pengaruh obat bius sehabis di operasi, kembali ke Singapura menggunakan jet pribadi mereka bersama para pengawal.