Bab 2

Ketika kembali membuka mataku, aku sudah berada di pelukan hangat. Apa aku melakukan perjalanan melintasi waktu?

Sambil berpikir begitu, aku tiba-tiba melihat tatapan yang dipenuhi kehangatan dan kelembutan. Solana?

Meskipun terlihat sangat lelah, Solana dipenuhi cinta kasih ibu. Hanya saja, itu adalah wajah Solana yang bengis seperti siluman!

"Anakku, kamu kesayangan Ibu."

Aku menatap Solana dengan mata terbelalak. Ucapannya dipenuhi kasih sayang, tetapi aku malah merasa putus asa. Seketika, berbagai adegan saat dia menindasku di kampus membanjiri benakku.

Aku meronta-ronta di pelukan Solana. Aku menjulurkan kedua tanganku untuk menusuk matanya, tetapi tanganku terlalu pendek untuk menjangkau.

Solana terkejut melihatku melawan. "Eh! Jangan takut, Sayang."

Setelah mendengar suara familier Solana, aku akhirnya memastikan sesuatu. Aku terlahir kembali, bahkan menjadi putri Solana!

Bab 3

"Popok anak kita basah nggak?" tanya seorang pria.

Wajah Solana sontak tersipu. "Coba kulihat."

Solana membuka popokku untuk memeriksa. "Nggak kok, dia nggak pipis."

"Ah!" teriak Solana tiba-tiba. Kemudian, dia melemparkanku ke ranjang rumah sakit.

Aku sontak menangis. Pria itu segera mendekat dan menggendongku, lalu menghibur, "Jangan takut. Ada Ayah di sini."

Kemudian, pria itu menoleh dan membentak Solana, "Gimana saja kamu ini? Masa melempar anak sendiri?"

Solana buru-buru menunjuk wajahnya dan berujar, "Dia pipis di wajahku."

"Bayi kecil seperti ini memang nggak bisa mengontrol diri. Masa kamu juga nggak bisa? Gimana kamu jadi ibu kalau begini? Gimana kalau anak kita terluka? Aku nggak tenang kalau kamu yang jaga anak!" hardik pria itu.

Ekspresi Solana sontak dipenuhi kesedihan dan kekesalan. "Aku juga nggak sengaja."

Wajah pria itu menjadi masam. Dia berucap dengan dingin, "Mulai hari ini, aku blokir kartumu. Kamu harus belajar cara menjaga anak. Kamu nggak boleh ke mana-mana. Jangan cuma tahu belanja!"

Aku menoleh menatap wajah suram pria itu, lalu menatap Solana yang seperti ingin menangis. Seketika, aku merasa sangat senang dan tertawa gembira.

Ternyata ayahku ini adalah jagoan! Aku tidak menyangka Solana akan dikekang oleh suaminya seperti ini. Menghamburkan uang saja tidak boleh sembarangan.

Bagaimanapun, saat kuliah dulu, Solana paling tidak bisa diatur. Sekarang, bukankah roda kehidupan berputar?

Bab 4

Sejak saat itu, Solana melewati kehidupan "indah" dengan menjagaku 24 jam sehari. Setiap kali Solana ingin tidur, aku akan menangis. Dia akan menenangkanku selama satu jam, lalu aku akan menangis lagi.

Ketika Solana menyusuiku, aku akan menyemburkan susu ke wajahnya. Setiap kali ada kesempatan, aku akan menarik rambutnya dan memainkan wajahnya.

Solana hampir gila dibuatku. Dia awalnya masih memikirkan cara untuk mendapat kartu banknya kembali dan pergi foya-foya, tetapi akhirnya menyerahkanku kepada pengasuh.

Begitu digendong pengasuh, aku langsung menangis sekuat tenaga. Tangisanku yang histeris pun membuat seluruh orang di vila merasa kasihan padaku.

Ibu mertua Solana, nenekku, langsung memelototinya sambil membentak, "Solana, kamu ini ibu macam apa! Kamu nggak mau jaga anak ya? Keluar saja dari rumah ini!"

"Dasar sampah nggak berguna!" gerutu nenekku sambil membujukku. Aku pun tidak menangis lagi untuk menghargai nenekku.

Kemudian, aku menatap Solana sambil tersenyum bangga. Solana terkesiap. "Ibu! Di ... dia monster!"

Nenekku langsung mengernyit. "Ini anakmu sendiri. Kenapa bilang anak sendiri monster? Apa kamu sudah gila?"

Aku memicingkan mataku sambil tersenyum bangga lagi. Kemudian, aku memejamkan mata dengan tidak peduli.

"Ibu! Aku nggak bohong. Dia cuma bayi kecil, kenapa punya ekspresi seperti itu?" pekik Solana.

Nenekku menunduk untuk melihatku. Aku segera berpura-pura tertidur lelap.

Nenekku pun memelototi Solana dan membentak, "Omong kosong apa yang kamu katakan! Kalau kamu bicara aneh-aneh lagi, aku panggil psikiater kemari!"

"Aku nggak seharusnya membiarkan Pedro menikahimu dulu. Lihat kamu, demi belanja, kamu tega bilang anak sendiri monster."

Usai berbicara, nenekku sontak menampar Solana. "Siapa suruh kamu bicara omong kosong! Dasar wanita penggoda! Anak sendiri malah dihina!"

Solana menatapku dengan tatapan takut. Aku pun menatap matanya sambil tersenyum. Solana, ini baru permulaan lho ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari “B28904” di Goodnovel untuk membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B28904
Salin
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED