Bab 2

Mimpi apa Angelia sampai dirinya harus sesial ini. Bagaimana bisa dia menghina dan menuduh pencuri kepada putra direktur nya sendiri yang kini akan menjabat sebagai direktur utama di kantor tempatnya bekerja. Bahkan nama Mr. Danial sudah sangat terkenal di media sosial juga di Negara ini. Sayangnya Angelia tidak pernah mengetahui wajah dari Direktur yang menjadi incaran banyak wanita itu.

“Ya Tuhan... apa aku akan di pecat karena menghina nya semalam?” gumamnya merasa sangat gelisah.

Pertemuan tadi pagi sangatlah canggung dan membuat dirinya seakan sulit untuk berkata-kata.

“Tapi kenapa seorang presdir bisa di kejar-kejar beberapa orang?” gumamnya.

“Ah tau ah. Sepertinya aku butuh kopi sekarang,” gumamnya menangkup kedua pipinya. Ia merasa bodoh sendiri.

***

Angelia baru saja kembali dari makan siangnya. Ia makan siang bersama beberapa orang rekan kerja di divisinya. Ia berjalan menyusuri lobby kantor menuju lift. Langkah mereka terhenti di depan lift, menunggu pintu lift itu terbuka.

Angel terlihat asik memainkan handphone nya. Sampai ia mendengar suara berisik di sekitarnya. Ia pun mengalihkan pandangannya dari layar handphone ke sumber keributan dan saat itu juga matanya membelalak lebar. Ia melihat sosok Regan yang baru saja memasuki lobby kantor bersama sekretaris pribadinya Mr. Nickolas.

Mengetahui arah Regan menuju ke arahnya, membuat Angel menjadi gelisah. Pasalnya ia tidak ingin bertemu lagi dengan pria yang sempat ia anggap pencuri itu. Dengan gerakan cepat Angel berlari ke sudut lain dan menyembunyikan dirinya di balik dinding arah ke tangga darurat.

“Apa aku naik pake tangga darurat saja yah?” gumamnya mengintip ke arah Regan dimana ia sudah berdiri di depan lift khusus para petinggi.

Angel segera menarik kembali kepalanya saat mata tajam nan awas Regan menoleh ke arahnya.

“Dia tidak melihatku, kan?” gumamnya memejamkan matanya.

‘Duh bagaimana ini? Apa aku akan di pecat dari sini. Lagipula untuk apa sih Direktur itu menyamar sebagai pencuri. Kalau sampai aku di pecat dari kantor ini, bagaimana? Aku harus melamar pekerjaan kemana lagi. Pekerjaan ini sangat berarti untukku,’ batinnya.

Angel akhirnya memutuskan menuju ruangannya dengan menggunakan tangga darurat.

Sesampainya di mejanya, Angel segera mendaratkan pantatnya di kursi kebesarannya dan menyandarkan kepalanya ke ujung meja.

“Heh, kemana saja sih tadi. Tiba-tiba menghilang,” seru seseorang membuat Angel mengangkat kepalanya dan menoleh ke sumber suara.

“Tadi aku ke kamar mandi dulu,” jawab Angel.

“Pantas saja menghilang begitu saja. Tapi sayang banget kamu melewatkan sesuatu yang sangat penting,” seru orang yang tak lain adalah Rosie, rekan kerjanya.

“Memangnya apa?” tanya Angel mengernyitkan dahinya.

“Direktur baru kita. Pak Danial, kami tadi berdampingan menunggu lift,” seru Rosie dengan mata yang berbinar-binar.

‘Aku tau. Dan itu alasan kenapa aku kabur,’ batin Angel.

“Kau tau Angel. Dia sangat tampan, walau hanya tersenyum kecil tapi dia benar-benar sangat tampan. Ya Tuhan, jantungku sampai ingin meloncat keluar rasanya,” seru Rosie berlebihan membuat Angel mengernyitkan dahinya.

“Berlebihan,”

“Tapi kamu juga mengakui kalau Direktur kita itu sangat tampan, bukan?” seru Rosie.

“Kalau itu sih iya,” jawab Angel mengakuinya. Ia membayangkan saat mereka bertatapan dalam jarak dekat waktu itu. Regan sungguh sangat tampan dan penuh kharisma.

Membayangkan saat itu membuat Angelia merasa berdebar dan tak nyaman membuatnya segera menggelengkan kepalanya cukup keras.

“Ada apa?”

“Tidak ada. Sudah sana balik ke mejamu, aku mau mengerjakan pekerjaanku,” seru Angel mendorong Rosie.

“Iya iya.” Rosie pun berlalu pergi meninggalkan meja Angelia.

Angelia hanya bisa menghembuskan nafasnya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.

***

Angel baru saja keluar dari area kantornya. Ia berjalan menuju halte bus seperti biasanya.

“Angelia…!”

Panggilan itu menghentikan langkahnya dan ia menoleh ke sumber suara.

“Cristian!”

Pria yang di panggil Cristian itu berjalan menghampiri Angelia.

“Kamu baru pulang?” tanya Cristian yang kini sudah berada di hadapan Angel.

“Iya. Ngomong-ngomong kenapa kamu ada di daerah sini?” tanya Angel.

“Aku kebetulan lewat kemari, dan aku melihatmu sedang berjalan sendirian. Ayo aku antar kamu pulang,” seru Cristian.

“Itu aku takut merepotkanmu,” seru Angel.

“Tidaklah. Kan aku yang memintanya. Ayo,” ajak Cristian. Angel pun menurut dan mereka menaiki mobil milik Cristian yang parkir tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Cristian mengajak Angel untuk makan malam bersama di salah satu restaurant. Mereka pun segera memesan makanan yang mereka inginkan.

“Bagaimana harimu?” tanya Cristian.

“Lumayan, tidak terlalu buruk,” jawab Angel.

“Sepertinya hanya hariku saja yang buruk,” seru Cristian.

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Angel.

“Ya. Tender yang sudah lama aku targetkan malah jatuh ke tangan sainganku,” keluh Cristian.

“Pasti itu sangat mengecewakan,” seru Angel.

“Bukan lagi Ngel. Rasanya aku ingin mengamuk dan memarahi semua pegawaiku yang tidak berguna itu,” seru Cristian.

“Mungkin tender itu belum berjodoh denganmu. Ikhlaskan saja, aku yakin nanti kamu akan mendapatkan tender yang lebih besar dari itu,” seru Angel.

Cristian tersenyum ke arah Angelia. “Kamu tau alasan aku tadi mengambil jalan ke kantormu,” seru Cristian.

“Kenapa?”

“Aku sengaja ingin menemuimu,” seru Cristian. “Hanya melihatmu dan berbicara seperti ini bersamamu sudah membuatku lebih baik. Hariku jadi tidak begitu buruk setelah bertemu denganmu.”

Ucapan Cristian membuat pipi Angel bersemu merah. “Apasih kamu.”

Cristian adalah temannya sejak masa kuliah. Mereka memang tidak begitu dekat layaknya sahabat, tetapi mereka cukup dekat sebagai teman. Sebenarnya Angelia sudah lama memendam perasaan pada Cristian, tetapi sayangnya Cristian memiliki kekasih dan hubungan mereka sudah cukup lama.

Pesanan mereka pun datang dan keduanya mulai fokus menikmati menu makanan yang mereka pesan.

“Jadi apa kabar dengan Laura?” tanya Angelia.

“Dia sedang sibuk pemotretan. Dia sudah jarang memiliki waktu bersamaku,” jawab Cristian.

Angelia hanya bisa mengangguk paham.

---

Cristian baru saja mengantarkan Angelia sampai di rumahnya.

“Terima kasih, Cris.”

“Sama-sama. Kalau begitu aku pergi,” seru Cristian membuat Angelia menganggukkan kepalanya.

Angelia masih menatap mobil Cristian yang melaju menjauhinya.

“Hah, kapan perasaan ini akan hilang,” gumamnya.

***

Regan tampak sudah segar dengan rambut basahnya. Ia hanya menggunakan celana tranning putih dengan bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh sixpacknya. Ia berjalan menuju meja sudut, kemudian ia menuangkan wiski dari botolnya ke dalam gelas kecil.

Ia menyesap wiski itu perlahan, kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya yang luas. Ia kembali menyesap wiskinya dengan mata tajamnya menerawang ke luar jendela menatap kerlap kerlip lampu dan kendaraan yang berlalu lalang.

Ingatannya kembali ke dua hari yang lalu dimana ia menerobos masuk ke dalam rumah seorang wanita. Dan ternyata wanita itu adalah salah satu pegawai di kantornya.

Regan tersenyum kecil.

“Kucing kecilku, ternyata pertemuan kedua kita akan secepat ini,” gumam Regan.

“Aku tidak akan melepaskanmu…” Regan tersenyum misterius dengan tatapan tajamnya.

---

Hatcuuuhhh….

“Hah kenapa tiba-tiba aku bersin dan sangat merinding?” gumamnya. “Bikin seram saja.” Angelia pun segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut hingga batas dada.

***

Angelia masuk ke dalam divisinya dan menutup kepalanya dengan tas yang ia bawa. Tadi ia mendapat pesan dari Rosie kalau hari ini direktur mereka, pak Danial akan mengontrol ke divisi mereka.

Tanpa Angel sadari, Regan berdiri tak jauh di belakangnya karena habis menerima telpon. Ia memperhatikan dan tersenyum kecil saat melihat Angel berjalan mengendap-endap dan mengintip di balik pintu yang memiliki jendela kecil. Dengan langkah pasti dan tanpa suara, Regan berjalan mendekati Angel yang masih mengintip ke dalam.

“Hei orang yang mencurigakan. Apa kamu berniat mencuri di divisi keuangan?” bisik Regan membuat Angel memekik kaget.

Angel langsung berbalik badan dan tubuhnya menjadi oleng hingga punggungnya membentur daun pintu di belakangnya saat melihat sosok Regan di hadapannya. Sosok yang sejak awal ia hindari.

“A-anda?”

Regan tersenyum misterius. “Hallo Kucing kecilku yang nakal,” serunya membuat Angel bergidik.

“Apa kau pikir aku tidak tau kalau kamu terus menghindariku? Apa kau pikir aku sebodoh itu hingga bisa kamu kelabui, eh?” seru Regan dengan nada penuh intimidasi.

“A-apa maksud anda, Pak Direktur. Mu-mungkin anda salah orang,” seru Angelia dengan bodohnya.

‘Sial! Apa yang aku katakan? Sudah jelas-jelas dia tau wajahku,’ batin Angelia.

“Begitu kah?” Regan menaikkan sebelah alisnya.

“A-aku harus pergi!” Angelia ingin segera melarikan diri tetapi sialnya lengannya di cekal oleh Regan.

“Berniat kabur setelah mencoba mengelabuiku, dan membuatku terlihat bodoh, eh?” seru Regan. “Sekarang ikut aku.”

“Eh, kenapa? Kemana?” seru Angelia dengan tatapan lebarnya. “Tidak, jangan pecat aku! Aku minta maaf,” seru Angelia mengatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.

“Minta maaf untuk-?”

“Ya karena malam itu saya menuduh anda sebagai pencuri. Dan saya menghindari anda karena saya tidak ingin di pecat. Saya membutuhkan pekerjaan ini, tolong jangan pecat saya,” seru Angelia dengan tatapan memelas.

Melihat Angelia seperti itu membuat Regan semakin gemas dan semakin ingin menggodanya. Tatapan awas Regan mengetahui Nickolas dan Manager Keuangan tengah berjalan menuju ke tempatnya.

“Baiklah kita akan bahas masalah ini nanti di tempat yang tertutup. Sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu,” seru Regan melepaskan pegangannya pada Angelia.

“Selamat pagi, Sir.” Sapa manager keuangan seraya melirik ke arah Angelia yang tengah menundukkan kepalanya. “Ah ini salah satu karyawan di divisi ini namanya Angelia.”

Regan hanya mengangguk kecil dan meminta Nickolas juga Adam yang merupakan Manager Keuangan untuk mengikutinya meninggalkan tempat itu.

Angelia mengangkat kepalanya saat orang-orang itu pergi.

“Huh sialan!” gerutu. “Sepertinya setelah ini hariku akan kacau.” Ia hanya bisa mengusap wajahnya gusar.

***

Bab 3

Angelia baru saja keluar dari kantornya. Ia tengah berjalan menuju halte bus seperti biasa. Tetapi baru

beberapa meter menjauh dari kantornya, suara klakson mobil begitu mengganggunya

membuat Angelia menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara dimana sebuah mobil sport mewah berhenti tak jauh darinya.

Ia dapat melihat siapa sang empu yang ada di dalam mobil itu. Itu adalah

Direkturnya Mr. Danial atau Regan. Angelia pun berjalan mendekati pintu mobil

dimana kaca mobilnya sudah di turunkan.

“Emm ada apa Pak?” tanya Angel menundukkan badannya hingga ia bisa melihat wajah

tampan Regan.

“Naiklah,” perintahnya terdengar tak terbantahkan.

Angel melihat kanan kirinya dan ia pun langsung menaiki mobil itu tanpa mengatakan

apapun lagi.

“Kita akan membahas masalah pecat tadi,” seru Regan dengan nada tenang membuat Angel

berdebar tidak karuan.

‘Haduh masa aku harus menjadi pengangguran sih,’ batinnya.

Regan membawa Angel ke dalam sebuah restaurant. Mereka sudah duduk berhadapan dan

memesan makanan masing-masing.

“Jadi bagaimana?” tanya Angel tidak sabar dengan keputusan Regan.

“Apa kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini?” tanya Regan masih menggoda Angel.

Padahal mana mungkin ia memecat karyawannya tanpa alasan yang jelas.

“Iya. Aku tidak seperti Mr. Danial yang tidak kekurangan biaya hidup dan pekerjaan

seperti ini sangat berarti untukku,” seru Angel.

Regan terlihat menarik nafasnya dan duduk bersandar dengan begitu santai dan nyaman.

“Baiklah, aku tidak akan memecatmu karena kesalahanmu yang sudah kurang ajar

padaku beberapa hari lalu. Tetapi aku ada sedikit penawaran padamu,” seru

Regan.

“A-apa itu?” tanya Angel.

“Apa kamu berniat mengambil kerja sambilan?” tanya Regan.

“Kerja sambilan?”

“Iya, dengan gaji yang besar. Aku bisa memberikannya padamu,” seru Regan. “Kamu

tinggal sebutkan saja ingin gaji berapa. Aku bisa memberikannya padamu,” ucap

Regan menyebutkan beberapa nominal yang berhasil membuat Angel membelalak

lebar.

“Tapi pekerjaan seperti apa yang anda tawarkan? Anda tidak meminta saya untuk menipu

orang atau membunuh seseorang, kan?” seru Angel dengan tatapan horornya membuat

Regan terkekeh dan itu membuat Angel terpaku di buatnya.

‘Bagaimana bisa Tuhan menciptakan pria setampan dan sesempurna ini? bahkan saat tertawa saja begitu merdu dan sangat menawan,’ batin Angel.

“Pekerjaannya mudah saja. Kamu hanya perlu selalu siap saat aku memanggilmu dan memintamu

datang,” seru Regan.

“Hanya begitu?”

“Iya. Bagaimana? Mudah, bukan?”

Angel termenung sesaat. “Iya memang mudah tetapi itu terlalu mencurigakan,” seru

Angel.

“Apa yang mencurigakan? Aku tidak akan berbuat apapun padamu. Aku hanya meminta

bantuanmu dalam beberapa pekerjaan yang mungkin tidak bisa aku kerjakan seorang

diri,” seru Regan.

“Oh seperti asisten pribadi yah,” ucap Angel.

“Bisa di bilang seperti itu. Bagaimana, kamu mau?” tanya Regan.

“Ya mau gimana lagi. Apa aku bisa menolak,” seru Angel mengedikkan bahunya.

“Pintar.” Regan tersenyum misterius.

***

Angel merasa terusik dengan suara

dering telpon di handphonenya. Ia mengusap wajahnya gusar seraya mengintip jam

digital yang ada di meja nakas samping ranjangnya.

“Pukul

5 pagi, siapa yang menghubungiku sepagi ini,” gerutunya beranjak bangun dan

merasa kesal karena waktu tidurnya terganggu dan berkurang satu jam dari

biasanya.

“Nomor

siapa ini?” gumamnya saat ia berangsur bangun seraya mengambil handphone nya

yang masih berdering.

“Hallo…

Siapa orang yang tidak ada kerjaan dan menggangguku sepagi ini?” serunya dengan

kesal.

“Sambutan yang mengagumkan, Nona Angel.

Kebetulan sekali saya bukan orang yang tidak ada kerjaan tetapi saya adalah

orang sibuk yang bahkan sepagi ini sudah dalam perjalanan untuk bekerja,” seru

seseorang di sebrang sana.

Angela yang

kaget kembali menatap layar handphone nya dengan mata yang membelalak lebar.

‘Sial! Ini Mr. Danial.’ Batinnya.

“Hallo,

maafkan saya Mr. Danial. Barusan saya hanya bercanda, ya bercanda,” kekehnya

terdengar garing.

“Candaan yang lumayan lucu.”

Angel dapat

menghela nafasnya. “Tapi ngomong-ngomong ada apa yah anda menghubungi saya

sepagi ini?” tanya Angel.

“Saya ada pekerjaan untukmu. Ini pekerjaan

pertamamu. Kamu datanglah ke kantor 15 menit lagi. Langsung ke ruangan saya,

saya tunggu.”

“Apa? 15

menit? Bagaimana bisa?” pekiknya.

“Bisa saja. Apa kamu keberatan? Atau

waktunya terlalu lama. Baiklah, bagaimana kalau 10 menit?”

“Jangan

bercanda Pak. Bagaimana mungkin saya sampai di sana dalam 10 menit. Saya tidak

punya sayap untuk terbang,” seru Angel merasa kesal.

“Tidak ada alasan. Kalau tidak ingin di

pecat cepatlah datang dalam waktu 15 menit, telat satu menit saja gajimu akan

saya potong. Saya tunggu!”

Angel merasa

dongkol menatap layar handphone nya dimana sambungan telponnya baru saja di

putus sepihak oleh Regan.

“Apa

maunya Pencuri sialan ini,” gerutunya seraya beranjak menuruni ranjang menuju

kamar mandi.

***

Hosh

hosh hosh

Angel

sudah sangat ngos-ngosan karena berlari menuju ruangan Regan. Di sana ia

melihat Nickolas dan mempersilahkan Angel untuk masuk ke dalam ruangan Regan.

Benar

saja kalau Regan sudah berada di kantor. Ia sudah berada di kantor lebih pagi

bahkan masih jauh di jam kerja.

“Oh

kamu sudah datang,” serunya dengan santai duduk di atas sofa dan bersandar ke

sandaran sofa. Terlihat menawan, elegan dan sangat mempesona sampai Angel

sempat terpaku beberapa saat melihat ketampanan bak dewa Yunani di depannya

ini.

“Terlambat

dua menit, kamu terlalu lambat,” seru Regan membuat Angel ingin menjambaknya

dan mengatakan bahwa dia gila.

Kalau

dia gila kerja, kenapa harus ngajak-ngajak Angel sih. Dia jadi rugi karena dua

jam lebih awal dari jam kerja biasanya.

“Duduklah,”

perintah Regan.

Angel

pun duduk di hadapan Regan tanpa berkata apapun.

“Nic,”

panggil Regan dan tak lama Nicholas datang dengan membawa nampan berisi dua

mangkuk dan dua gelas minuman.

Nicholas

menyajikannya di hadapan mereka berdua dan kemudian berpamitan keluar ruangan.

“Ayo

temani aku sarapan,” seru Regan dengan santai mengambil bagian.

“Anu

Pak, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan?” tanya Angel seraya menengok ke

kanan dan kiri.

“Kamu

hanya perlu menemani saya sarapan,” jawab Regan dengan tenang dan santai.

“A-apa?”

“Kenapa?

Apa ada masalah? Cepat makan sarapanmu sebelum dingin,” seru Regan menyuapkan

makanan ke dalam mulutnya.

“Jadi

anda membangunkan saya pagi-pagi sekali dan meminta saya untuk secepatnya

datang kemari hanya untuk menemani anda sarapan?” serunya.

“Iya.”

Jawaban

Regan yang santai dan seakan tidak merasa bersalah membuat Angel merasa

dongkol. Ia rasanya ingin sekali menjambak rambut indah Regan yang berkilau dan

membuatnya menjadi botak. Setelah itu ia juga ingin sekali mencukur alis tebal

milik Regan yang indah, menjadi botak juga. Biar pria di depannya ini tidak

tampan lagi dan di ejek orang.

Angel

menghentikan sumpah serapah di dalam hatinya. Ia mengambil mangkuk makanan

miliknya dan meraup makanannya dengan sedikit keras hingga menggigit sendoknya.

Regan

yang sadar kekesalan Angel hanya tersenyum kecil bahkan samar di sudut

bibirnya. Ia senang sekali menggoda wanita di depannya ini. Terlihat sangat

imut saat Angel marah menurut Regan.

Kucing kecilku….

***

Angela baru saja masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kubikelnya. Melihat kedatangan Angela, Rosie yang tengah berhias langsung berdiri dari duduknya dan mengintip ke kubikel Angela.

"Baru datang? Kenapa wajahnya kucel gitu. Gak mandi yah?" seru Rosie membuat Angela mendelik ke arahnya.

Ini semua karena CEO pemaksa itu, jam kerjanya jadi bertambah.

"Sepertinya kau tidak baik-baik saja. Mau ngopi?" tawar Rosie.

"Boleh. Kebetulan aku juga sedikit mengantuk," seru Angela.

Mereka berdua pun beranjak dari duduknya dan berjalan berdampingan menuju lobby kantor dimana coffee break ada di sana.

Ting...

Pintu lift terbuka, Angela dan Rosie berjalan keluar lift. Dan saat itu juga mereka berpapasan dengan Regan yang juga baru keluar bersama Asistennya Nickolas dari lift yang berhadapan dengan lift yang di tumpangi Angela dan Rosie.

Tatapan mereka beradu satu sama lainnya. Angela hanya menampilkan tatapan biasa saja dan Regan seperti biasanya dengan tatapan tajamnya yang selalu berhasil membuat pertahanan Angela runtuh.

"Selamat Pagi, Direktur," sapa Rosie dan Angela secepat kilat memalingkan pandangannya, kemudian sedikit membungkukkan badannya.

Regan hanya mengangguk kecil, kemudian dia berjalan terlebih dulu meninggalkan mereka berdua.

"Oh God! Kenapa ada pria setampan itu di dunia ini," seru Rosie membuat Angela kembali mendelik ke arahnya.

"Ayo cepat kita beli kopi," seru Angela berjalan terlebih dulu meninggalkan Rosie yang masih terkagum-kagum oleh Regan.

"Ck, dasar wanita es," seru Rosie berjalan menyusul Angela.

***

Angela baru saja selesai mandi. Ia sudah berpakaian rumahan dan tengah mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan menuju pantry dan membuka kemasan mie di dalam cup. Makan malamnya sekarang adalah mie rebus. Dia sudah terbiasa makan makanan siap saji seperti ini.

Bip bip

Ia menoleh ke arah pintu saat mendengar suara bel rumahnya.

"Siapa yang bertamu malam-malam begini," gumamnya.

Ia berjalan menuju pintu dan tanpa merasa takut sedikitpun, ia langsung membuka pintu rumahnya.

"Anda?" pekiknya saat melihat seseorang berdiri menjulang di depan pintunya.

"Malam, kau belum tidur?" sapa seseorang yang tak lain adalah Regan.

"A-apa yang anda lakukan di sini?" tanya Angela menatap Regan yang masih lengkap dengan setelan kerjanya.

"Aku ingin makan malam di sini bersamamu," seru Regan dan begitu saja menyelonong masuk tanpa permisi. Angela hanya melihat dongkol ke arahnya.

'Apalagi yang akan di lakukan iblis tampan ini,' batin Angela.

"Kucing kecil, aku ingin makan. Apa kamu bisa memasak?" tanya Regan melepaskan jas nya dan menyampirkannya ke sofa yang ada di sana.

"Tidak! Aku sama sekali tidak bisa masak," seru Angela dengan pasti.

Regan berjalan menuju pantry dan melihat mie cup milik Angela.

"Kau makan malam hanya dengan ini?" seru Regan menatap Angela dengan tatapan kaget, sedangkan Angela hanya menampilkan tatapan santainya.

"Memangnya kenapa? Aku kenyang kok hanya makan itu," ucap Angela dengan polosnya.

"Ck, dimana bergizi nya. Ah pantas saja badanmu lurus seperti itu," ucap Regan dengan santai membuat Angela membelalak lebar.

"Anda mengatakan bahwa saya kurang gizi, begitu?" seru Angela.

"Kamu yang mengatakannya sendiri," jawab Regan.

Angela semakin di buat gemas oleh Regan. Andai saja Regan bukan atasannya. Ia sudah habis di kuliti oleh Angela. Saat ini Angel hanya perlu sabar.

"Apa yang kau punya di dalam kulkas," seru Regan berjalan menuju kulkas.

"Tidak ada. Dan apa kedatangan anda kemari hanya untuk mengobrak abrik kulkas saya dan mengkritik makanan yang saya makan?" seru Angela.

"Sudah aku katakan, aku ingin makan malam di sini," seru Regan membuka kulkas yang ternyata memang kosong. Hanya berisi minuman saja.

"Apa anda tidak punya rumah? Kenapa ingin malah datang kemari. Padahal restaurant mahal dan enak banyak di luaran sana. Kenapa harus mengganggu istirahat seseorang," seru Angela panjang lebar membuat Regan menatap ke arahnya hingga tatapan mereka terpaut satu sama lainnya.

"Karena aku ingin makan malam denganmu."

Deg

Angela membeku di tempatnya mendengar penuturan Regan barusan yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar.

Apa istimewa nya dia? Kenapa seseorang seperti Regan Danial ingin bersamanya.

Regan menghubungi Nickolas dan meminta membawakan beberapa jenis sayuran dan bahan untuk memasak lainnya. Ia juga meminta Nickolas menyuruh kurir yang mengirimkannya ke sana bukan oleh Nickolas.

"Apa yang akan anda lakukan? Aku sama sekali tidak bisa memasak. Jadi kalau anda mengharapkan sebuah makan malam yang mewah di sini, maka itu hanya mimpi saja!" seru Angela berjalan menuju meja pantry nya dan mengambil duduk di sana.

Ia menarik cup mie miliknya kemudian ia membuka mie nya yang sudah menjadi mekar dan tampaknya sudah tidak enak lagi untuk di makan.

Ini semua karena iblis tampan itu. Batin Angela.

"Siapa yang menyuruhmu untuk makan makanan gak bergizi ini," seru Regan menarik cup mie menjauh dari Angela membuatnya melotot kesal.

"Apa pernah ada yang mengatakan kalau kamu memiliki mata yang indah," seru Regan dan seketika amarah Angela menghilang entah kemana. Berubah menjadi sebuah keterkagetan dan rasa malu.

"Ehem.. jangan mengalihkan pembicaraan," seru Angela berubah menjadi gugup. "Sekarang tolong kembalikan mie milik saya. Saya sangat lapar," seru Angela.

"Tidak. Kau tidak perlu makan makanan ini. tunggu beberapa saat lagi baru bisa makan," jawab Regan menatap layar handphone nya dan mengotak atiknya.

Angela diam-diam memperhatikan pria tampan di depannya itu. Bohong kalau Angela tidak mengagumi direkturnya itu, kenyataannya dia sangat mengagumi sosok tampan nan sempurna di depannya itu. Angela bahkan masih merasa semua ini mimpi, dirinya dan direkturnya berada di dalam satu ruangan dan terasa begitu dekat juga akrab. Andai... andai saja Angela memikili hati, maka ia akan langsung jatuh cinta pada direkturnya itu.

"Ada apa?" tanya Regan yang kini sudah menatap ke arah Angela dengan menaikkan sebel alisnya.

"Tidak bukan apa-apa," jawab Angela.

----

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kurir yang mengantarkan pesanan Regan datang. Regan tampak santai membuka pintu dan menutupnya kembali dengan membawa kantong karton berisi bahan masak. Angela hanya duduk manis saja dan memperhatikan Regan tengah melipat kedua kemejanya di bagian tangan hingga siku.

"Anda yang masak?" tanya Angela menatap Regan yang masih sibuk melipat kemeja bagian tangannya.

"Ya."

"Serius anda mau masak?" tanya Angela sangat kaget.

"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Regan.

"Tidak. Bukan itu, cukup kaget saja mengetahui anda bisa memasak," jawab Angela.

"Asal kamu tau saja. Aku itu bisa melakukan segalanya. Jadi saat memiliki pasangan seperti kamu yang tidak bisa memasak, tidak akan repot lagi dan selalu makan di luar," jawab Regan semakin membuat Angela melongo dengan ucapan Regan.

Regan memakai celemek berwarna pink milik Angela. Tetapi sialnya kenapa malah terlihat macho dan semakin tampan. Bahkan kesal gagahnya tidak menghilang sama sekali.

Regan mulai sibuk memotong sayuran dan mempersiapkan peralatan masak lainnya. Ia terlihat sibuk dan focus dengan masakannya. Tanpa sadar Angela sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari sosok Regan di depannya yang sangat tampan.

Pria yang sangat sempurna... pikir Angela.

Setelah cukup lama berkutat dengan masakannya. Regan akhirnya menyajikkan beberapa menu makanan hasil masakannya di meja pantry tepat di hadapan Angela. Melihat semua itu, air liur Angela hampir saja menetes. Dari aroma --ya saja sudah tercium harum dan lezat dari makanan itu.

Regan sudah melepaskan celemeknya dan duduk di hadapan Angela.

"Kau sudah lapar, bukan? Kalau begitu ayo kita makan," seru Regan.

Angela dan Regan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka.

'Astaga... ini enak banget. Duh berasa makan makanan dari restaurant mewah bintang 5,' batin Angela.

"Ada apa? Apa tidak enak?" tanya Regan.

"Tidak ada," jawab Angela tidak ingin memuji iblis tampan itu.

Mereka pun menikmati makan malam bersama tanpa bersuara.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED