LONDON
Malam `ini Angelia harus pulang terlambat karena sebuah pekerjaan yang mengharuskannya lembur.
“Ya Tuhan lelah sekali rasanya,” keluhnya merenggangkan kedua tangannya.
Suasana di kota C cukup ramai penduduk, dan udara disini cukup dingin. Angelia mengeratkan mantelnya seraya memeluk tubuhnya sendiri.
Suasana malam itu cukup sepi, tak banyak orang berlalu lalang.
Angelia sampai di rumahnya yang begitu sederhana. Rumah yang dia beli beberapa bulan terakhir ini dari penghasilannya.
Ia mengetik password di tombol dekat pintu.
Klik
Suara kunci terbuka, ia pun menekan knop pintu dan masuk ke dalam rumah.
“Ah!”
Ia memekik saat hendak menutup pintu rumahnya, seseorang menerobos masuk ke dalam rumah dengan memakai hoddie hitam yang menutupi kepala juga wajahnya.
“Siapa kamu? Kamu mau mencuri?” pekik Angelia sangat ketakutan sekaligus kaget.
“Bantu aku!” seru pria itu dengan nada memerintah.
“Tidak! Aku tidak mau menolong orang asing!” seru Angelia dengan tegas.
Terdengar suara beberapa sepatu yang berlari.
“Tutup.”
“Hei!” Angelia memekik kesal saat pria itu menutup pintu rumahnya hingga berbunyi klik dan tubuh tingginya berada tepat di depan Angelia dengan jarak yang sangat dekat.
“Kau ini siapa sebenarnya, dan mau a...” mulut Angelia di tutup telapak tangan besar pria itu.
“Diam,” serunya seraya menempelkan telinganya ke daun pintu.
Diam-diam Angelia memperhatikan wajah pria di depannya itu dengan seksama karena jarak mereka begitu dekat.
Tampan....
Itulah yang pertama kali ada di benak Angelia.
“Sudah puas menatap wajahku?” seru pria itu yang kini mata tajamnya menatap ke mata abunya.
Angelia yang ketahuan segera mendorong dada pria itu untuk menjauh darinya dan berjalan mendekati telpon rumahnya.
“Hallo, kantor polisi. Saya...”
Seruan Angelia terhenti saat telponnya di rebut seseorang dari belakang dan mematikannya.
“Apa mau mu? Dasar pencuri!” pekik Angelia.
“Memang apa yang aku curi, sampai kau menuduhku mencuri?” tanya pria misterius itu.
“Cepat pergi dari sini!” usirnya.
“Aku masih butuh tumpangan untuk satu malam,” serunya berjalan santai dan duduk di atas sofa membuat Angelia melongo.
“Aku tidak bisa menampungmu! Cepat keluar dari sini!” usir Angelia sudah sangat kesal.
“CK, rumahmu kecil sekali, bahkan kamarku tidak sekecil ini,” seru pria itu membuka penutup kepalanya dengan menaikkan kedua kakinya ke atas meja dengan angkuh.
Arrogant sekali....
“Kau sudah masuk tanpa permisi, kemudian menghina rumahku? Pergi dari sini!” seru Angelia dengan kesal menarik lengan pria itu untuk beranjak dan pergi.
Tetapi sayangnya kekuatan Angelia tidak seimbang dan bahkan tak berpengaruh, malah membuat tubuhnya yang tertarik, saat pria itu menarik lengannya.
Tubuh Angelia jatuh tepat di dada lebar pria tampan itu. Tatapan mereka berdua beradu satu sama lainnya.
“Kau begitu agresif, Nona.”
Angelia semakin dongkol di buatnya, dengan kesal ia kembali mendorong pria itu hingga pegangan di tangannya terlepas dan ia kembali berdiri tegak.
“Dengar kau pencuri, aku tidak kenal siapa kamu dan kenapa kamu di kejar orang-orang tadi. Aku tidak ingin terlibat apapun, jadi sekarang pergi dari rumahku!” usir Angelia yang sudah sangat kesal.
“Aku akan pergi besok pagi, kau lakukan saja apa yang kau mau. Dan aku tidak akan mengusikmu,” serunya dengan santai melepaskan hoddie nya hingga menyisakan kaos berwarna hitam.
“Huh!”Angelia sudah tak mampu berkata apapun lagi. Dengan kesal ia memilih pergi memasuki kamarnya dan membanting pintu kamarnya.
“Siapa pria itu?” gumam Angelia saat sudah berada di kamar.
Ia menempelkan daun telingannya ke pintu berusaha mencuri dengar tetapi tak ada suara apapun.
“Apa mungkin dia pencuri?” gumamnya kembali berdiri tegak dan berjalan mendekati ranjangnya. “Tetapi bagaimana mungkin seorang pencuri setampan dia?”
“Aduh pusing! Ada apa dengan hari ini, sudah pekerjaan yang tidak ada habisnya, aku juga lupa makan siang dan sekarang malah di rampok pencuri tampan,” gerutunya merasa kesal sendiri.
Setelah cukup lama Angelia berada di dalam kamar, ia kembali keluar kamar setelah menempelkan telingannya di daun pintu memastikan keadaan.
Angelia melihat pria tadi tertidur di atas sofa kecilnya dengan menutupi wajah menggunakan lengannya. Perlahan Angelia melangkah memasuki ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah cukup lama membersihkan diri dan terasa sangat segar, Angelia keluar dari kamar mandi.
“Ah!” pekiknya saat pria tadi sudah berdiri di depannya.
“A..apa? kamu mau apa?” tanya Angelia menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Tubuhnya hanya di tutupi jubah handuk berwarna putih.
“Ck, ada orang asing di rumahmu, kamu malah menggunakan handuk seperti ini,” seru pria itu berjalan mendekati Angelia menghapus jarak di antara mereka.
Angelia berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding di belakangnya. Pria itu menempelkan sebelah tangannya ke dinding di sisi kepala Angelia, kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Angelia.
“Strawberry,” gumamnya. “Sangat segar.”
“Jangan macam-macam!” seru Angelia dengan mata melotot penuh ancaman, tetapi itu tampak lucu dan imut menurut pria misterius itu.
“Memang kenapa kalau aku macam-macam padamu, toh kamu sendiri yang mengundangnya,” seru pria itu dengan seringai devilnya.
“Aku akan lapor polisi!” seru Angelia dengan nada galak.
“Benarkah? Silahkan saja kalau kau bisa,” seru pria itu penuh ejekan.
Akhirnya Angelia bungkam karena merasa dirinya tersudut dan hanya mampu menelan ludahnya sendiri.
“Menyerah?” tanya pria itu. “Ssshhtt...”
Pria itu meringis saat Angelia menendang tulang keringnya.
“Dalam mimpimu!” serunya berlari memasuki kamarnya kembali.
Pria itu menatap pintu kamar yang tertutup kencang dengan senyuman kecilnya.
***
Angelia membuka matanya, semalam ia tidur menjelang pagi karena pria misterius berada di rumahnya. Membuatnya tidak bisa beristirahat dengan tenang dan nyenyak.
“Aku harus memeriksa dia di luar,” seru Angelia menggulung rambut panjangnya dan berjalan perlahan menuju pintu kamarnya.
Ia menempelkan daun telinganya ke pintu dan berusaha mencuri dengar suara apapun di luar tetapi tidak terdengar ada suara.
“Apa dia masih tidur yah,” seru Angelia.
Angelia mengambil hiasan dari kayu yang ada di dalam kamarnya untuk berjaga-jaga kalau pria tadi akan berlaku kurang ajar kepadanya.
Ia memutar knop pintu dan menyembulkan kepalanya. Tatapannya tertuju pada sofa kecil tak jauh dari posisinya.
Kosong...
Kemana pria itu... pikirnya.
Angelia berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan pria tadi tetapi suasana rumahnya tampak tenang dan kosong, hanya dia seorang yang ada di rumah.
“Apa dia sudah pergi?” gumamnya berjalan menuju kamar mandi yang juga kosong.
Aroma wangi masuk ke dalam indera penciumannya. Ia berjalan ke arah dapur dan pantry, tampak beberapa makanan yang menggugah selera dan terlihat masih hangat.
“Siapa yang memasak semua ini?” gumamnya.
Di pass bunga terlihat catatan kecil, ia mengambilnya dan membaca tulisannya.
Terima kasih untuk tumpangan satu malamnya. Sebagai imbalannya, aku memasakkan sarapan untukku. Sampai bertemu kembali kucing kecil....
“Kucing kecil? Seenaknya memanggil orang,” seru Angelia menyimpan hiasan kayu dan kertas itu.
“Emm sepertinya enak,” gumamnya langsung duduk di kursi dan tanpa menunggu lama lagi langsung melahap makanan itu.
“Astaga! Lezat sekali, apa dia seorang cheff? Gumamnya dan langsung melahap habis makanannya.
***
Angela baru saja sampai di kantornya dan duduk di meja kerjanya.
“Ada apa dengan wajahmu?” Tanya Rosie yang merupakan temannya.
“Sepertinya pagi ini aku butuh kopi,” ucap Angelia.
“Kamu begadang lagi?” Tanya Rosie.
“Aku terpaksa begadang karena ada pengganggu,” keluh ANgelia.
“Pengganggu? Maksud kamu?” Tanya Rosi semakin penasaran.
“Aku akan menceritakannya nanti saat kita beli kopi. Ayo temani aku,” ajak Angelia.
“Tidak bias Angel,” seru Rosie.
“Kenapa?” Angelia mengernyitkan dahinya bingung.
“Kata Manager, kita tidak boleh kemanapun karena hari ini ada perkenalan direktur baru,” ucap Rosie.
“Memangnya Mr. Dave mau kemana?” Tanya Angelia.
“Katanya Mr. Dave akan pension dan penggantinya adalah putra sulungnya. Dia akan menjadi pewaris dan direktur utama di sini,” ucap Rosie.
“Menurut kabar yang aku dengar katanya putra Mr. Dave ini masih muda. Ia masih 25 tahun tetapi sudah menyelesaikan study nya saat usia 20 tahun dengan nilai tertinggi. Dia sangat pintar dan jangan lupakan satu hal ini, kalau dia sangat tampan. Hampir mirip Mr. Dave,
seru Rosie terlihat bersemangat menceritakan direktur barunya itu.
“Kamu lihat saja Mr. Dave. Walau usia nya sudah mencapai 50 tahun tetapi dia masih sangat tampan, dan gagah,” seru Rosie.
“Jadi intinya sekarang kita tidak bias keluar?” Tanya Angelia.
“Iya,” kekeh Rosie. “Kata Manager, kita di minta berbaris untuk menyambutnya. Karena dia akan berkeliling ke setiap divisi termasuk divisi Keuangan ini.”
“Siapa namanya?” Tanya Angelia.
“Mr. Regan Danial Wiratama.”
Angelia hanya menganggukan kepalanya saja.
----
Tak lama terdengar seruan dari Managernya untuk mereka semua berbaris di dekat pintu masuk menuju divisi Keuangan karena Presiden dan direktur utama yang baru dating.
Mereka semua berdiri di dekat pintu dan terdengar langkah kaki beberapa orang yang terdengar teratur dan seirama. Tak lama muncullah tiga orang pria berbadan tinggi dengan setelan jas yang sangat elegant.
“Selamat pagi,” sapa Davero.
“Selamat pagi Direktur,” seru semuanya.
“Perkenalkan ini putra saya, Regan Danial Wiratama. Untuk selanjutnya dia yang akan menjadi direktur di perusahaan ini menggantikan saya,” serunya.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Regan tanpa senyuman.
‘Ah wajah pria itu seperti tidak asing,’ batin Angelia.
Deg
Mata Angelia membelalak lebar saat ia beradu pandang dengan pria itu.
Itu pencuri yang semalam….
***
Mimpi apa Angelia sampai dirinya harus sesial ini. Bagaimana bisa dia menghina dan menuduh pencuri kepada putra direktur nya sendiri yang kini akan menjabat sebagai direktur utama di kantor tempatnya bekerja. Bahkan nama Mr. Danial sudah sangat terkenal di media sosial juga di Negara ini. Sayangnya Angelia tidak pernah mengetahui wajah dari Direktur yang menjadi incaran banyak wanita itu.
“Ya Tuhan... apa aku akan di pecat karena menghina nya semalam?” gumamnya merasa sangat gelisah.
Pertemuan tadi pagi sangatlah canggung dan membuat dirinya seakan sulit untuk berkata-kata.
“Tapi kenapa seorang presdir bisa di kejar-kejar beberapa orang?” gumamnya.
“Ah tau ah. Sepertinya aku butuh kopi sekarang,” gumamnya menangkup kedua pipinya. Ia merasa bodoh sendiri.
***
Angelia baru saja kembali dari makan siangnya. Ia makan siang bersama beberapa orang rekan kerja di divisinya. Ia berjalan menyusuri lobby kantor menuju lift. Langkah mereka terhenti di depan lift, menunggu pintu lift itu terbuka.
Angel terlihat asik memainkan handphone nya. Sampai ia mendengar suara berisik di sekitarnya. Ia pun mengalihkan pandangannya dari layar handphone ke sumber keributan dan saat itu juga matanya membelalak lebar. Ia melihat sosok Regan yang baru saja memasuki lobby kantor bersama sekretaris pribadinya Mr. Nickolas.
Mengetahui arah Regan menuju ke arahnya, membuat Angel menjadi gelisah. Pasalnya ia tidak ingin bertemu lagi dengan pria yang sempat ia anggap pencuri itu. Dengan gerakan cepat Angel berlari ke sudut lain dan menyembunyikan dirinya di balik dinding arah ke tangga darurat.
“Apa aku naik pake tangga darurat saja yah?” gumamnya mengintip ke arah Regan dimana ia sudah berdiri di depan lift khusus para petinggi.
Angel segera menarik kembali kepalanya saat mata tajam nan awas Regan menoleh ke arahnya.
“Dia tidak melihatku, kan?” gumamnya memejamkan matanya.
‘Duh bagaimana ini? Apa aku akan di pecat dari sini. Lagipula untuk apa sih Direktur itu menyamar sebagai pencuri. Kalau sampai aku di pecat dari kantor ini, bagaimana? Aku harus melamar pekerjaan kemana lagi. Pekerjaan ini sangat berarti untukku,’ batinnya.
Angel akhirnya memutuskan menuju ruangannya dengan menggunakan tangga darurat.
Sesampainya di mejanya, Angel segera mendaratkan pantatnya di kursi kebesarannya dan menyandarkan kepalanya ke ujung meja.
“Heh, kemana saja sih tadi. Tiba-tiba menghilang,” seru seseorang membuat Angel mengangkat kepalanya dan menoleh ke sumber suara.
“Tadi aku ke kamar mandi dulu,” jawab Angel.
“Pantas saja menghilang begitu saja. Tapi sayang banget kamu melewatkan sesuatu yang sangat penting,” seru orang yang tak lain adalah Rosie, rekan kerjanya.
“Memangnya apa?” tanya Angel mengernyitkan dahinya.
“Direktur baru kita. Pak Danial, kami tadi berdampingan menunggu lift,” seru Rosie dengan mata yang berbinar-binar.
‘Aku tau. Dan itu alasan kenapa aku kabur,’ batin Angel.
“Kau tau Angel. Dia sangat tampan, walau hanya tersenyum kecil tapi dia benar-benar sangat tampan. Ya Tuhan, jantungku sampai ingin meloncat keluar rasanya,” seru Rosie berlebihan membuat Angel mengernyitkan dahinya.
“Berlebihan,”
“Tapi kamu juga mengakui kalau Direktur kita itu sangat tampan, bukan?” seru Rosie.
“Kalau itu sih iya,” jawab Angel mengakuinya. Ia membayangkan saat mereka bertatapan dalam jarak dekat waktu itu. Regan sungguh sangat tampan dan penuh kharisma.
Membayangkan saat itu membuat Angelia merasa berdebar dan tak nyaman membuatnya segera menggelengkan kepalanya cukup keras.
“Ada apa?”
“Tidak ada. Sudah sana balik ke mejamu, aku mau mengerjakan pekerjaanku,” seru Angel mendorong Rosie.
“Iya iya.” Rosie pun berlalu pergi meninggalkan meja Angelia.
Angelia hanya bisa menghembuskan nafasnya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
***
Angel baru saja keluar dari area kantornya. Ia berjalan menuju halte bus seperti biasanya.
“Angelia…!”
Panggilan itu menghentikan langkahnya dan ia menoleh ke sumber suara.
“Cristian!”
Pria yang di panggil Cristian itu berjalan menghampiri Angelia.
“Kamu baru pulang?” tanya Cristian yang kini sudah berada di hadapan Angel.
“Iya. Ngomong-ngomong kenapa kamu ada di daerah sini?” tanya Angel.
“Aku kebetulan lewat kemari, dan aku melihatmu sedang berjalan sendirian. Ayo aku antar kamu pulang,” seru Cristian.
“Itu aku takut merepotkanmu,” seru Angel.
“Tidaklah. Kan aku yang memintanya. Ayo,” ajak Cristian. Angel pun menurut dan mereka menaiki mobil milik Cristian yang parkir tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
Cristian mengajak Angel untuk makan malam bersama di salah satu restaurant. Mereka pun segera memesan makanan yang mereka inginkan.
“Bagaimana harimu?” tanya Cristian.
“Lumayan, tidak terlalu buruk,” jawab Angel.
“Sepertinya hanya hariku saja yang buruk,” seru Cristian.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Angel.
“Ya. Tender yang sudah lama aku targetkan malah jatuh ke tangan sainganku,” keluh Cristian.
“Pasti itu sangat mengecewakan,” seru Angel.
“Bukan lagi Ngel. Rasanya aku ingin mengamuk dan memarahi semua pegawaiku yang tidak berguna itu,” seru Cristian.
“Mungkin tender itu belum berjodoh denganmu. Ikhlaskan saja, aku yakin nanti kamu akan mendapatkan tender yang lebih besar dari itu,” seru Angel.
Cristian tersenyum ke arah Angelia. “Kamu tau alasan aku tadi mengambil jalan ke kantormu,” seru Cristian.
“Kenapa?”
“Aku sengaja ingin menemuimu,” seru Cristian. “Hanya melihatmu dan berbicara seperti ini bersamamu sudah membuatku lebih baik. Hariku jadi tidak begitu buruk setelah bertemu denganmu.”
Ucapan Cristian membuat pipi Angel bersemu merah. “Apasih kamu.”
Cristian adalah temannya sejak masa kuliah. Mereka memang tidak begitu dekat layaknya sahabat, tetapi mereka cukup dekat sebagai teman. Sebenarnya Angelia sudah lama memendam perasaan pada Cristian, tetapi sayangnya Cristian memiliki kekasih dan hubungan mereka sudah cukup lama.
Pesanan mereka pun datang dan keduanya mulai fokus menikmati menu makanan yang mereka pesan.
“Jadi apa kabar dengan Laura?” tanya Angelia.
“Dia sedang sibuk pemotretan. Dia sudah jarang memiliki waktu bersamaku,” jawab Cristian.
Angelia hanya bisa mengangguk paham.
---
Cristian baru saja mengantarkan Angelia sampai di rumahnya.
“Terima kasih, Cris.”
“Sama-sama. Kalau begitu aku pergi,” seru Cristian membuat Angelia menganggukkan kepalanya.
Angelia masih menatap mobil Cristian yang melaju menjauhinya.
“Hah, kapan perasaan ini akan hilang,” gumamnya.
***
Regan tampak sudah segar dengan rambut basahnya. Ia hanya menggunakan celana tranning putih dengan bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh sixpacknya. Ia berjalan menuju meja sudut, kemudian ia menuangkan wiski dari botolnya ke dalam gelas kecil.
Ia menyesap wiski itu perlahan, kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya yang luas. Ia kembali menyesap wiskinya dengan mata tajamnya menerawang ke luar jendela menatap kerlap kerlip lampu dan kendaraan yang berlalu lalang.
Ingatannya kembali ke dua hari yang lalu dimana ia menerobos masuk ke dalam rumah seorang wanita. Dan ternyata wanita itu adalah salah satu pegawai di kantornya.
Regan tersenyum kecil.
“Kucing kecilku, ternyata pertemuan kedua kita akan secepat ini,” gumam Regan.
“Aku tidak akan melepaskanmu…” Regan tersenyum misterius dengan tatapan tajamnya.
---
Hatcuuuhhh….
“Hah kenapa tiba-tiba aku bersin dan sangat merinding?” gumamnya. “Bikin seram saja.” Angelia pun segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut hingga batas dada.
***
Angelia masuk ke dalam divisinya dan menutup kepalanya dengan tas yang ia bawa. Tadi ia mendapat pesan dari Rosie kalau hari ini direktur mereka, pak Danial akan mengontrol ke divisi mereka.
Tanpa Angel sadari, Regan berdiri tak jauh di belakangnya karena habis menerima telpon. Ia memperhatikan dan tersenyum kecil saat melihat Angel berjalan mengendap-endap dan mengintip di balik pintu yang memiliki jendela kecil. Dengan langkah pasti dan tanpa suara, Regan berjalan mendekati Angel yang masih mengintip ke dalam.
“Hei orang yang mencurigakan. Apa kamu berniat mencuri di divisi keuangan?” bisik Regan membuat Angel memekik kaget.
Angel langsung berbalik badan dan tubuhnya menjadi oleng hingga punggungnya membentur daun pintu di belakangnya saat melihat sosok Regan di hadapannya. Sosok yang sejak awal ia hindari.
“A-anda?”
Regan tersenyum misterius. “Hallo Kucing kecilku yang nakal,” serunya membuat Angel bergidik.
“Apa kau pikir aku tidak tau kalau kamu terus menghindariku? Apa kau pikir aku sebodoh itu hingga bisa kamu kelabui, eh?” seru Regan dengan nada penuh intimidasi.
“A-apa maksud anda, Pak Direktur. Mu-mungkin anda salah orang,” seru Angelia dengan bodohnya.
‘Sial! Apa yang aku katakan? Sudah jelas-jelas dia tau wajahku,’ batin Angelia.
“Begitu kah?” Regan menaikkan sebelah alisnya.
“A-aku harus pergi!” Angelia ingin segera melarikan diri tetapi sialnya lengannya di cekal oleh Regan.
“Berniat kabur setelah mencoba mengelabuiku, dan membuatku terlihat bodoh, eh?” seru Regan. “Sekarang ikut aku.”
“Eh, kenapa? Kemana?” seru Angelia dengan tatapan lebarnya. “Tidak, jangan pecat aku! Aku minta maaf,” seru Angelia mengatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
“Minta maaf untuk-?”
“Ya karena malam itu saya menuduh anda sebagai pencuri. Dan saya menghindari anda karena saya tidak ingin di pecat. Saya membutuhkan pekerjaan ini, tolong jangan pecat saya,” seru Angelia dengan tatapan memelas.
Melihat Angelia seperti itu membuat Regan semakin gemas dan semakin ingin menggodanya. Tatapan awas Regan mengetahui Nickolas dan Manager Keuangan tengah berjalan menuju ke tempatnya.
“Baiklah kita akan bahas masalah ini nanti di tempat yang tertutup. Sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu,” seru Regan melepaskan pegangannya pada Angelia.
“Selamat pagi, Sir.” Sapa manager keuangan seraya melirik ke arah Angelia yang tengah menundukkan kepalanya. “Ah ini salah satu karyawan di divisi ini namanya Angelia.”
Regan hanya mengangguk kecil dan meminta Nickolas juga Adam yang merupakan Manager Keuangan untuk mengikutinya meninggalkan tempat itu.
Angelia mengangkat kepalanya saat orang-orang itu pergi.
“Huh sialan!” gerutu. “Sepertinya setelah ini hariku akan kacau.” Ia hanya bisa mengusap wajahnya gusar.
***
Angelia baru saja keluar dari kantornya. Ia tengah berjalan menuju halte bus seperti biasa. Tetapi baru
beberapa meter menjauh dari kantornya, suara klakson mobil begitu mengganggunya
membuat Angelia menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara dimana sebuah mobil sport mewah berhenti tak jauh darinya.
Ia dapat melihat siapa sang empu yang ada di dalam mobil itu. Itu adalah
Direkturnya Mr. Danial atau Regan. Angelia pun berjalan mendekati pintu mobil
dimana kaca mobilnya sudah di turunkan.
“Emm ada apa Pak?” tanya Angel menundukkan badannya hingga ia bisa melihat wajah
tampan Regan.
“Naiklah,” perintahnya terdengar tak terbantahkan.
Angel melihat kanan kirinya dan ia pun langsung menaiki mobil itu tanpa mengatakan
apapun lagi.
“Kita akan membahas masalah pecat tadi,” seru Regan dengan nada tenang membuat Angel
berdebar tidak karuan.
‘Haduh masa aku harus menjadi pengangguran sih,’ batinnya.
Regan membawa Angel ke dalam sebuah restaurant. Mereka sudah duduk berhadapan dan
memesan makanan masing-masing.
“Jadi bagaimana?” tanya Angel tidak sabar dengan keputusan Regan.
“Apa kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini?” tanya Regan masih menggoda Angel.
Padahal mana mungkin ia memecat karyawannya tanpa alasan yang jelas.
“Iya. Aku tidak seperti Mr. Danial yang tidak kekurangan biaya hidup dan pekerjaan
seperti ini sangat berarti untukku,” seru Angel.
Regan terlihat menarik nafasnya dan duduk bersandar dengan begitu santai dan nyaman.
“Baiklah, aku tidak akan memecatmu karena kesalahanmu yang sudah kurang ajar
padaku beberapa hari lalu. Tetapi aku ada sedikit penawaran padamu,” seru
Regan.
“A-apa itu?” tanya Angel.
“Apa kamu berniat mengambil kerja sambilan?” tanya Regan.
“Kerja sambilan?”
“Iya, dengan gaji yang besar. Aku bisa memberikannya padamu,” seru Regan. “Kamu
tinggal sebutkan saja ingin gaji berapa. Aku bisa memberikannya padamu,” ucap
Regan menyebutkan beberapa nominal yang berhasil membuat Angel membelalak
lebar.
“Tapi pekerjaan seperti apa yang anda tawarkan? Anda tidak meminta saya untuk menipu
orang atau membunuh seseorang, kan?” seru Angel dengan tatapan horornya membuat
Regan terkekeh dan itu membuat Angel terpaku di buatnya.
‘Bagaimana bisa Tuhan menciptakan pria setampan dan sesempurna ini? bahkan saat tertawa saja begitu merdu dan sangat menawan,’ batin Angel.
“Pekerjaannya mudah saja. Kamu hanya perlu selalu siap saat aku memanggilmu dan memintamu
datang,” seru Regan.
“Hanya begitu?”
“Iya. Bagaimana? Mudah, bukan?”
Angel termenung sesaat. “Iya memang mudah tetapi itu terlalu mencurigakan,” seru
Angel.
“Apa yang mencurigakan? Aku tidak akan berbuat apapun padamu. Aku hanya meminta
bantuanmu dalam beberapa pekerjaan yang mungkin tidak bisa aku kerjakan seorang
diri,” seru Regan.
“Oh seperti asisten pribadi yah,” ucap Angel.
“Bisa di bilang seperti itu. Bagaimana, kamu mau?” tanya Regan.
“Ya mau gimana lagi. Apa aku bisa menolak,” seru Angel mengedikkan bahunya.
“Pintar.” Regan tersenyum misterius.
***
Angel merasa terusik dengan suara
dering telpon di handphonenya. Ia mengusap wajahnya gusar seraya mengintip jam
digital yang ada di meja nakas samping ranjangnya.
“Pukul
5 pagi, siapa yang menghubungiku sepagi ini,” gerutunya beranjak bangun dan
merasa kesal karena waktu tidurnya terganggu dan berkurang satu jam dari
biasanya.
“Nomor
siapa ini?” gumamnya saat ia berangsur bangun seraya mengambil handphone nya
yang masih berdering.
“Hallo…
Siapa orang yang tidak ada kerjaan dan menggangguku sepagi ini?” serunya dengan
kesal.
“Sambutan yang mengagumkan, Nona Angel.
Kebetulan sekali saya bukan orang yang tidak ada kerjaan tetapi saya adalah
orang sibuk yang bahkan sepagi ini sudah dalam perjalanan untuk bekerja,” seru
seseorang di sebrang sana.
Angela yang
kaget kembali menatap layar handphone nya dengan mata yang membelalak lebar.
‘Sial! Ini Mr. Danial.’ Batinnya.
“Hallo,
maafkan saya Mr. Danial. Barusan saya hanya bercanda, ya bercanda,” kekehnya
terdengar garing.
“Candaan yang lumayan lucu.”
Angel dapat
menghela nafasnya. “Tapi ngomong-ngomong ada apa yah anda menghubungi saya
sepagi ini?” tanya Angel.
“Saya ada pekerjaan untukmu. Ini pekerjaan
pertamamu. Kamu datanglah ke kantor 15 menit lagi. Langsung ke ruangan saya,
saya tunggu.”
“Apa? 15
menit? Bagaimana bisa?” pekiknya.
“Bisa saja. Apa kamu keberatan? Atau
waktunya terlalu lama. Baiklah, bagaimana kalau 10 menit?”
“Jangan
bercanda Pak. Bagaimana mungkin saya sampai di sana dalam 10 menit. Saya tidak
punya sayap untuk terbang,” seru Angel merasa kesal.
“Tidak ada alasan. Kalau tidak ingin di
pecat cepatlah datang dalam waktu 15 menit, telat satu menit saja gajimu akan
saya potong. Saya tunggu!”
Angel merasa
dongkol menatap layar handphone nya dimana sambungan telponnya baru saja di
putus sepihak oleh Regan.
“Apa
maunya Pencuri sialan ini,” gerutunya seraya beranjak menuruni ranjang menuju
kamar mandi.
***
Hosh
hosh hosh
Angel
sudah sangat ngos-ngosan karena berlari menuju ruangan Regan. Di sana ia
melihat Nickolas dan mempersilahkan Angel untuk masuk ke dalam ruangan Regan.
Benar
saja kalau Regan sudah berada di kantor. Ia sudah berada di kantor lebih pagi
bahkan masih jauh di jam kerja.
“Oh
kamu sudah datang,” serunya dengan santai duduk di atas sofa dan bersandar ke
sandaran sofa. Terlihat menawan, elegan dan sangat mempesona sampai Angel
sempat terpaku beberapa saat melihat ketampanan bak dewa Yunani di depannya
ini.
“Terlambat
dua menit, kamu terlalu lambat,” seru Regan membuat Angel ingin menjambaknya
dan mengatakan bahwa dia gila.
Kalau
dia gila kerja, kenapa harus ngajak-ngajak Angel sih. Dia jadi rugi karena dua
jam lebih awal dari jam kerja biasanya.
“Duduklah,”
perintah Regan.
Angel
pun duduk di hadapan Regan tanpa berkata apapun.
“Nic,”
panggil Regan dan tak lama Nicholas datang dengan membawa nampan berisi dua
mangkuk dan dua gelas minuman.
Nicholas
menyajikannya di hadapan mereka berdua dan kemudian berpamitan keluar ruangan.
“Ayo
temani aku sarapan,” seru Regan dengan santai mengambil bagian.
“Anu
Pak, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan?” tanya Angel seraya menengok ke
kanan dan kiri.
“Kamu
hanya perlu menemani saya sarapan,” jawab Regan dengan tenang dan santai.
“A-apa?”
“Kenapa?
Apa ada masalah? Cepat makan sarapanmu sebelum dingin,” seru Regan menyuapkan
makanan ke dalam mulutnya.
“Jadi
anda membangunkan saya pagi-pagi sekali dan meminta saya untuk secepatnya
datang kemari hanya untuk menemani anda sarapan?” serunya.
“Iya.”
Jawaban
Regan yang santai dan seakan tidak merasa bersalah membuat Angel merasa
dongkol. Ia rasanya ingin sekali menjambak rambut indah Regan yang berkilau dan
membuatnya menjadi botak. Setelah itu ia juga ingin sekali mencukur alis tebal
milik Regan yang indah, menjadi botak juga. Biar pria di depannya ini tidak
tampan lagi dan di ejek orang.
Angel
menghentikan sumpah serapah di dalam hatinya. Ia mengambil mangkuk makanan
miliknya dan meraup makanannya dengan sedikit keras hingga menggigit sendoknya.
Regan
yang sadar kekesalan Angel hanya tersenyum kecil bahkan samar di sudut
bibirnya. Ia senang sekali menggoda wanita di depannya ini. Terlihat sangat
imut saat Angel marah menurut Regan.
Kucing kecilku….
***
Angela baru saja masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kubikelnya. Melihat kedatangan Angela, Rosie yang tengah berhias langsung berdiri dari duduknya dan mengintip ke kubikel Angela.
"Baru datang? Kenapa wajahnya kucel gitu. Gak mandi yah?" seru Rosie membuat Angela mendelik ke arahnya.
Ini semua karena CEO pemaksa itu, jam kerjanya jadi bertambah.
"Sepertinya kau tidak baik-baik saja. Mau ngopi?" tawar Rosie.
"Boleh. Kebetulan aku juga sedikit mengantuk," seru Angela.
Mereka berdua pun beranjak dari duduknya dan berjalan berdampingan menuju lobby kantor dimana coffee break ada di sana.
Ting...
Pintu lift terbuka, Angela dan Rosie berjalan keluar lift. Dan saat itu juga mereka berpapasan dengan Regan yang juga baru keluar bersama Asistennya Nickolas dari lift yang berhadapan dengan lift yang di tumpangi Angela dan Rosie.
Tatapan mereka beradu satu sama lainnya. Angela hanya menampilkan tatapan biasa saja dan Regan seperti biasanya dengan tatapan tajamnya yang selalu berhasil membuat pertahanan Angela runtuh.
"Selamat Pagi, Direktur," sapa Rosie dan Angela secepat kilat memalingkan pandangannya, kemudian sedikit membungkukkan badannya.
Regan hanya mengangguk kecil, kemudian dia berjalan terlebih dulu meninggalkan mereka berdua.
"Oh God! Kenapa ada pria setampan itu di dunia ini," seru Rosie membuat Angela kembali mendelik ke arahnya.
"Ayo cepat kita beli kopi," seru Angela berjalan terlebih dulu meninggalkan Rosie yang masih terkagum-kagum oleh Regan.
"Ck, dasar wanita es," seru Rosie berjalan menyusul Angela.
***
Angela baru saja selesai mandi. Ia sudah berpakaian rumahan dan tengah mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan menuju pantry dan membuka kemasan mie di dalam cup. Makan malamnya sekarang adalah mie rebus. Dia sudah terbiasa makan makanan siap saji seperti ini.
Bip bip
Ia menoleh ke arah pintu saat mendengar suara bel rumahnya.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini," gumamnya.
Ia berjalan menuju pintu dan tanpa merasa takut sedikitpun, ia langsung membuka pintu rumahnya.
"Anda?" pekiknya saat melihat seseorang berdiri menjulang di depan pintunya.
"Malam, kau belum tidur?" sapa seseorang yang tak lain adalah Regan.
"A-apa yang anda lakukan di sini?" tanya Angela menatap Regan yang masih lengkap dengan setelan kerjanya.
"Aku ingin makan malam di sini bersamamu," seru Regan dan begitu saja menyelonong masuk tanpa permisi. Angela hanya melihat dongkol ke arahnya.
'Apalagi yang akan di lakukan iblis tampan ini,' batin Angela.
"Kucing kecil, aku ingin makan. Apa kamu bisa memasak?" tanya Regan melepaskan jas nya dan menyampirkannya ke sofa yang ada di sana.
"Tidak! Aku sama sekali tidak bisa masak," seru Angela dengan pasti.
Regan berjalan menuju pantry dan melihat mie cup milik Angela.
"Kau makan malam hanya dengan ini?" seru Regan menatap Angela dengan tatapan kaget, sedangkan Angela hanya menampilkan tatapan santainya.
"Memangnya kenapa? Aku kenyang kok hanya makan itu," ucap Angela dengan polosnya.
"Ck, dimana bergizi nya. Ah pantas saja badanmu lurus seperti itu," ucap Regan dengan santai membuat Angela membelalak lebar.
"Anda mengatakan bahwa saya kurang gizi, begitu?" seru Angela.
"Kamu yang mengatakannya sendiri," jawab Regan.
Angela semakin di buat gemas oleh Regan. Andai saja Regan bukan atasannya. Ia sudah habis di kuliti oleh Angela. Saat ini Angel hanya perlu sabar.
"Apa yang kau punya di dalam kulkas," seru Regan berjalan menuju kulkas.
"Tidak ada. Dan apa kedatangan anda kemari hanya untuk mengobrak abrik kulkas saya dan mengkritik makanan yang saya makan?" seru Angela.
"Sudah aku katakan, aku ingin makan malam di sini," seru Regan membuka kulkas yang ternyata memang kosong. Hanya berisi minuman saja.
"Apa anda tidak punya rumah? Kenapa ingin malah datang kemari. Padahal restaurant mahal dan enak banyak di luaran sana. Kenapa harus mengganggu istirahat seseorang," seru Angela panjang lebar membuat Regan menatap ke arahnya hingga tatapan mereka terpaut satu sama lainnya.
"Karena aku ingin makan malam denganmu."
Deg
Angela membeku di tempatnya mendengar penuturan Regan barusan yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar.
Apa istimewa nya dia? Kenapa seseorang seperti Regan Danial ingin bersamanya.
Regan menghubungi Nickolas dan meminta membawakan beberapa jenis sayuran dan bahan untuk memasak lainnya. Ia juga meminta Nickolas menyuruh kurir yang mengirimkannya ke sana bukan oleh Nickolas.
"Apa yang akan anda lakukan? Aku sama sekali tidak bisa memasak. Jadi kalau anda mengharapkan sebuah makan malam yang mewah di sini, maka itu hanya mimpi saja!" seru Angela berjalan menuju meja pantry nya dan mengambil duduk di sana.
Ia menarik cup mie miliknya kemudian ia membuka mie nya yang sudah menjadi mekar dan tampaknya sudah tidak enak lagi untuk di makan.
Ini semua karena iblis tampan itu. Batin Angela.
"Siapa yang menyuruhmu untuk makan makanan gak bergizi ini," seru Regan menarik cup mie menjauh dari Angela membuatnya melotot kesal.
"Apa pernah ada yang mengatakan kalau kamu memiliki mata yang indah," seru Regan dan seketika amarah Angela menghilang entah kemana. Berubah menjadi sebuah keterkagetan dan rasa malu.
"Ehem.. jangan mengalihkan pembicaraan," seru Angela berubah menjadi gugup. "Sekarang tolong kembalikan mie milik saya. Saya sangat lapar," seru Angela.
"Tidak. Kau tidak perlu makan makanan ini. tunggu beberapa saat lagi baru bisa makan," jawab Regan menatap layar handphone nya dan mengotak atiknya.
Angela diam-diam memperhatikan pria tampan di depannya itu. Bohong kalau Angela tidak mengagumi direkturnya itu, kenyataannya dia sangat mengagumi sosok tampan nan sempurna di depannya itu. Angela bahkan masih merasa semua ini mimpi, dirinya dan direkturnya berada di dalam satu ruangan dan terasa begitu dekat juga akrab. Andai... andai saja Angela memikili hati, maka ia akan langsung jatuh cinta pada direkturnya itu.
"Ada apa?" tanya Regan yang kini sudah menatap ke arah Angela dengan menaikkan sebel alisnya.
"Tidak bukan apa-apa," jawab Angela.
----
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kurir yang mengantarkan pesanan Regan datang. Regan tampak santai membuka pintu dan menutupnya kembali dengan membawa kantong karton berisi bahan masak. Angela hanya duduk manis saja dan memperhatikan Regan tengah melipat kedua kemejanya di bagian tangan hingga siku.
"Anda yang masak?" tanya Angela menatap Regan yang masih sibuk melipat kemeja bagian tangannya.
"Ya."
"Serius anda mau masak?" tanya Angela sangat kaget.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Regan.
"Tidak. Bukan itu, cukup kaget saja mengetahui anda bisa memasak," jawab Angela.
"Asal kamu tau saja. Aku itu bisa melakukan segalanya. Jadi saat memiliki pasangan seperti kamu yang tidak bisa memasak, tidak akan repot lagi dan selalu makan di luar," jawab Regan semakin membuat Angela melongo dengan ucapan Regan.
Regan memakai celemek berwarna pink milik Angela. Tetapi sialnya kenapa malah terlihat macho dan semakin tampan. Bahkan kesal gagahnya tidak menghilang sama sekali.
Regan mulai sibuk memotong sayuran dan mempersiapkan peralatan masak lainnya. Ia terlihat sibuk dan focus dengan masakannya. Tanpa sadar Angela sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari sosok Regan di depannya yang sangat tampan.
Pria yang sangat sempurna... pikir Angela.
Setelah cukup lama berkutat dengan masakannya. Regan akhirnya menyajikkan beberapa menu makanan hasil masakannya di meja pantry tepat di hadapan Angela. Melihat semua itu, air liur Angela hampir saja menetes. Dari aroma --ya saja sudah tercium harum dan lezat dari makanan itu.
Regan sudah melepaskan celemeknya dan duduk di hadapan Angela.
"Kau sudah lapar, bukan? Kalau begitu ayo kita makan," seru Regan.
Angela dan Regan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka.
'Astaga... ini enak banget. Duh berasa makan makanan dari restaurant mewah bintang 5,' batin Angela.
"Ada apa? Apa tidak enak?" tanya Regan.
"Tidak ada," jawab Angela tidak ingin memuji iblis tampan itu.
Mereka pun menikmati makan malam bersama tanpa bersuara.
***