Bab 1

Di sore hari menjelang datangnya senja. Seorang anak perempuan berumur lima tahun sedang bermain di taman yang ditinggalkan oleh ibunya membeli minuman di sebrang, sementara gadis kecil merasa bosan memilih berjalan-jalan di sekitar taman tapi saat berjalan ia melihat laki-laki dewasa yang sedang menunduk seraya menjambak rambutnya sendiri—terlihat frustasi.

Ia mendekatinya sembari berucap. "Kasian Om sendirian," katanya dengan lancar seperti orang dewasa. Duduk di samping laki-laki itu dengan menatapnya tanpa kedip. Wajah polosnya tanpa meminta persetujuan untuk ikut duduk bersama.

Jean yang tidak pernah dekat dengan anak kecil bersikap cuek tidak peduli. Ia kembali hanyut dalam kesedihan karena kekasih yang ia anggap adalah satu-satunya wanita yang paling mengerti dirinya tapi semesta memberitahukan yang sebenarnya.

Wanita yang ia  jaga sepenuh hati menghianati dengan mencintai hartanya lalu memilih laki-laki lain membuat ia shock.

Selepas memutuskan hubungannya ia berhenti di taman ini yang tidak ramai, meratapi nasib percintaannya tapi keinginan menyendiri pun semesta tidak berpihak padanya. Menghela napas pelan sambil menoleh ke arah gadis kecil di samping sedang asyik berceloteh entah berbicara apa sebab ia tidak peduli. Hanya mendengar samar-samar dia berucap.

"Sayang kenapa kamu di sini? Bunda dari tadi cariin?" seru perempuan bertubuh kecil dengan pakaian yang menutupi semua tubuhnya.

"Ini Bunda, tadi Ce liat Om ini sendirian sambil sesegukan jadi Ce temenin aja kasihan," jawab

gadis kecil ini dengan polos. Menghampiri bundanya seraya memeluk pinggang perempuan tersebut.

Perempuan yang di panggil bunda oleh gadis kecil itu mengalihkan atensi netralnya ke arah pria yang putrinya katakan.

"Maaf ya jika putri saya menganggu Anda, kami pamit lebih dulu," pamit perempuan yang disebut 'bunda' untuk pergi dengan cepat.

"Ayok sayang, saya duluan ya Om." Sekali lagi perempuan itu berkata seraya menggandeng tangan kecil putrinya untuk meninggalkan tempat di mana putrinya duduk denga pria asing.

Setelah beberapa meter dari tempat tadi, perempun yang belum berumur kepala dua itu menghela napas lega. Ia kembali berjalan santai.

"Sayangnya Bunda, lain kali jangan deket sama orang asing. Apalagi kek Om yang tadi, dia serem." Nasihatnya dengan tubuhnya yang merinding mengingat visual sekilasnya saja tapi membekas di kepala perempuan itu.

"Kok serem sih Bunda? Kasian tahu, Ce kan gak tega. Jadi Ce samperin biar ada temennya."

Protes gadis kecil yang bernama lengkap Cezanne Gustave sementara perempuan yang dipanggil 'bunda' bernama lengkap Duranty Gustave.

Ni bocil gak bisa liat apa, itu tubuh laki-laki tadi besar mana banyak tato di punggung tangannya. Pasti ada di seluruh tubuhnya juga, batin Duranty yang kembali merinding.

"Yuk pulang, besok lagi kita mainnya." Duranty lebih baik mengalihkan topik agar tidak membahas pria yang asing itu.

"Ranty," teriakan yang memanggil dirinya itu berhasil menghentikan Duranty dari langkahnya. Menatap sekitar siapa tahu Ranty orang lain bukan dirinya, ketika menemukan sosok yang dirinya kenal ia tebak laki-laki itu yang memanggil dirinya.

"Kamu juga di sini? Sama siapa?" tanya Duranty yang sering juga di panggil Ranty.

"Habis dari toko sebrang, gue kira salah orang ternyata bener lo bener," jawab laki-laki yang Duranty kenal.

"Kamu baru pulang sekolah ya?" Tebak Ranty melihat laki-laki di depannya masih memakai seragam sekolah kebanggannya.

"Iya, biasalah rapat osis dulu, besok ada acara sekolah. Mungkin entar malam di share ke grup masing-masing," beritahunya.

"Ouh ya, ini ade lo? Cute banget." Laki-laki itu berjongkok menyamakan tinggi Cezanne yang sepinggang dari dirinya.

Duranty yang baru tersadar dirinya sekarang tidak sendiri itu gelagapan menjawab pertanyaan dari temannya. Ia melirik Imanuel yang mencoba mengajak Cezanne berbicara.

Duranty masih sekolah SMA semester enam--kelas 12 dan temannya yang sedari tadi berbincang sehingga Ranty melupakan keberadaan Cezanne bernama Imanuel Adler, ketua osis di sekolah SMA Hing School.

Tidak ada satu pun yang mengetahui Ranty memeiliki anak angkat, Cezanne memang bukan putri kandung atau adik kandungnya. Ia menemukan Cezanne yang baru lahir dan sudah ada di pagar rumahnya. Jadi sudah lima tahun gelar 'bunda' ada di dirinya.

"Bunda ayok pulang aku mengantuk," suara Ce menyadarkan Ranty dari lamunannya. Tidak menyadari ia melamun dan ketika menatap raut putrinya terlihat tidak senang.

Imanuel juga sudah berdiri tegak yang tidak tahu pasti kapan, rautnya juga terlihat bingung serta penasaran.

"Aku duluan ya Ima," pamit Ranty, memilih menghindar. Dirinya belum siap dan takut Imanuel tidak percaya dengan perkataannya.

"Rumah lo jauh, lo bawa kendaraan?" Imanuel bersuara, mencegah Ranty pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang penasaran.

Ranty yang polos menjawab dengan gelengan tidak tahu maksud Imanuel karena nyatanya Imanuel tahu Ranty tidak bisa mengendarai kendaraan sehingga harus menunggu jemputan atau menggunakan jasa kendaraan.

"Biar gue anterin," tawarnya. Ranty yang polos lagi-lagi mengangguk tanda setuju.

Imanuel berjalan lebih dulu, menuntun ke arah kendaraan miliknya yang dirinya parkirkan. Dengan romantisnya membukakan pintu mobil sebelah tempat mengemudi. Ranty yang diperlakukan baik dengan senang hati memamerkan senyuman manisnya. "Terimakasih," ucapnya dengan lembut.

Imanuel pun membalas senyuman Ranty lalu memutari mobil kemudian masuk dan duduk di kursinya. Mulai menyalakan mesin selanjutnya menjalankan mobil biru tua dengan pelan.

Cezanne yang mengantuk setelah mencari tempat nyaman dengan wajah yang ditenggelamkan di dada Ranty mulai tertidur dengan nyenyak. Suara napas yang teratur menandakan sudah ke alam mimpi.

"Ranty," panggil Imanuel. Memulai berbicara memecahkan keheningan yang setegah perjalanan menuju rumah Ranty. Sang empu yang dipanggil, menatap temannya menunggu apa yang akan dikatakannya lagi.

"Maksud dia tadi apa?" tanyanya hati-hati, melirik sekilas karena dirinya harus fokus menatap jalanan yang ramai kendaraan lain.

Sekarang sudah sore, jadi kendaraan banyak berlalu lalang karena sudah waktunya pulang kerja dan sekolah.

Duranty yang lelet untuk masalah kepekaan itu menatap Imanuel dengan kerutan di dahi, kepalanya memutar kejadian beberapa menit lalu untuk mengetahui apa yang dimaksud temannya ini.

"Bunda, kenapa dia panggil kamu Bunda." Imanuel berkata kembali dengan perkataan yang mudah dicerna oleh Duranty.

"Dia anak kamu?" Lagi, Imanuel kembali bersuara. Menuntut jawaban. Mendesak Duranty yang sekarang panik harus menjawab apa.

Oke, tenang Ranty. Kamu tinggal jujur aja untuk masalah Imanuel percaya tidak percaya tidak usah peduliin. Pikir Duranty membantin.

"Dia bukan anak aku kok, Cezanne anak angkat aku. Lima tahu lalu aku nemuin dia ada di gerbang depan rumah aku. Gak tahu siapa, aku udah lapor polisi buat surat bayi yang ada di rumah aku tapi gak da yang mengakui. Jadi aku nawarin diri aja, orang tua aku juga setuju." Dengan lancar Duranty bercerita. Mengenang kembali awal pertemuan dirinya dan Cezanne. Tangannya pun mengelus rambut untuk mmeberi kenyamanan kepada Cezanne.

Bab 2

"Sayang kenapa kamu melamun?" tanya wanita paruh baya yang memperhatikan putranya sedari tadi. Mendiamkan makanan yang sudah dingin sementara makanan dirinya dan sang suami sudah habis.

"Tidak apa-apa," balasnya singkat. Membuang muka tidak mau menatap sang lawan bicara.

Wanita paruh baya tadi bertanya mengela napas pelan mendapatkan respons yang tidak sesuai, mencoba bersabar dengan sikap putra mirip sang suami.

"Bagaimana dengan kekasihmu?" Wanita itu kembali bersuara, mencari topik agar suasana sedikit hidup.

Mereka masih duduk di meja makan rumah utama dengan gaya Eropa. Jika bukan dirinya yang memulai percakapan, maka ruangan ini akan hening tidak ada percakapan.

"Sudah berakhir," jawab Jean dengan raut yang tidak terlihat bersedih.

"Why?" tanyanya kaget. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan cepat mendekati sang putra, mengeser kursi miliknya.

"Dia hanya mencintai harta milik Monteque," ucapnya acuh. Raut wajah dingin yang masih terpasang itu tidak banyak bereaksi melihat wanita tersebut sangat penasaran dengan cerita kisah cintanya.

Monteque adalah marga milik Charles Schopen Monteque. Keluarga mafia Italia yang paling disegani di penjuru mafia lain. Hampir semua mengenal Charles yang sangat kejam dan tidak berperasaan, tidak ada kata ampun untuk orang yang berani menganggunya.

"Are you okay? " tanya Rousseu khawatir. Dirinya tahu seberapa sayangnya sang putra pada mantan kekasih itu. Tapi melihat ekspresi saat membicarakan dia, raut wajah datar itu masih stay. Sehingga menyulitkan dirinya menebak keadaannya saat ini.

"I'm fine."

"Apa perlu Papah turun tangan?" Chales bersuara. Setelah sedari tadi memperhatikan interaksi istri dan putranya. Ia menawarkan diri untuk membalas rasa sakit putranya.

"Tidak usah, biar saya sendiri yang urus. Lagian itu masalah kecil." Jean menolak tawaran pria paruh baya itu.

"Saya sungguh baik-baik saja, hanya memikirkan gadis lain." Mendapatkan tatapan prihatin dari Ibunya, Jean akhirnya mengatakan dengan jujur.

"Siapa gerangan sehingga putra Mamah memikirnya? Apa dia penganti Larry?" Kekepoan seseorang berbeda. Ada yang hanya sekedar kepo ingin tahu ada yang kepo penasaran dan Rousseu adalah kekepoan yang selalu menuntut jawaban. Sebelum rasa penasarannya hilang, ia akan terus bertanya sampai puas.

"Belum jelas." Lagi, menyahut dengan singkat. Entah belum jelas apa yang dimaksud Jean yang pasti jika dalam kamus bahasa Indonesia harus singkat, padat, jelas. Tetapi Jean tidak pernah menjawab sesuai aturan. Selalu menjawab yang kita sendiri mencari tahu jawaban dari maksud tersebut.

"Saya ke kamar lebih dulu," pamitnya.

Kalimat itulah sering Jean Montenque katakan untuk menghindari Rousseu dan rasa penasarannya. Meninggalkan Rousseu yang kini menatap Charles dengan raut cemberut tetapi di hiraukan. Ikut meninggalkan Rousseu yang kesal setegah mati, ingin rasanya menukar tambahkan putra dan suami dengan yang lain.

Jean menatap dinding abu-abu gelap, pikirannya berkelana tidak tahu ke mana. Hatinya tidak tenang, tidak tahu pasti apa yang dirinya mau. Menatap dinding mewah di atas sana. Merebahkan tubuhnya kemudian memejamkan kedua matanya merileskan perasaan resah.

"I'm fine," katanya menyakinkan.

Napas yang mulai teratur itu menandakan akan menuju ke alam mimpi tapi sebuah suara dering dari benda pipih itu membuatnya terganggu.

'Saya akan memberimu pekerjaan besok, perintah dan penjelasan sudah saya kirimkan.' Suara di sebrang sana to the point. Syukurlah Jean tidak mengamuk karena waktu istirahatnya sudah dikacaukan.

Tanpa harus bersusah payah menjawab, Jean memilih mematikan sambungan telepon itu sepihak. Tidak peduli itu adalah hal yang tidak sopan, mengikuti atas perkataan pria paruh baya tadi. Setelah paham dengan pekerjaan besok, kembali merebahakan tubuhnya yang tidak perlu memerlukan waktu lama untuk sampai ke dunia mimpi.

Dipagi harinya, karena Jean mempunyai tugas di negara tentangga sehingga bangun pagi dan sekarang jam tujuh lebih sudah siap berangkat.

Melewati Rousse yang berada di ruang tamu bersama Charles yang sekarang sedang menikmati masa pensiun. Digantikan oleh dirinya, ia juga sudah berpengalaman dan sangat handal mengurus para bedebah.

Jean memang sudah diajarkan dan didik sedari remaja ketika resmi menjadi bagian keluarga Montenque.

Menjalankan mobil kesayangan--black Ferriri, sudah menjelaskan mobil saja harganya bermiliar jadi untuk menayakan berapa kayanya Jean tidak usah ditanyakan. Karena keluarga terkaya di Italia tentu jatuh pada tangan marga montenque.

Jean menikmati perjalananya harus dirusak oleh gadis yang melintas tidak tahu aturan. Dengan amat terpaksa, ia menghentikan laju mobil. Keluar untuk menemui siapa yang dengan bodohnya berdiri di jalan.

"Jika kamu bosan hidup jangan di mobil saya kalau ingin mati," sindiran sarkasme itu melukai hati gadis itu. Mendongkakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memarahinya.

Raut kesal berubah menjadi takut, gadis itu terlihat menciut saat tahu dirinya. Jean sampai menyipitkan matanya untuk mengenali gadis SMA didepannya.

"Om," panggilnya dengan suara yang mirip bisikan itu. Ia menaikkan alisnya melihat gerak-gerik gadis tersebut.

"Boleh tidak saya menumpang ke sekolah di depan sana?" tanyanya meminta izin setelah beberapa menit menguatkan urat malunya.

Di dalam hatinya membatin, berharap tidak mengingat jika mereka pernah bertemu sebelum hari ini. Waktu tetap berjalan, urat malu yang sepertinya putus itu seenak jidatnya gadis itu masuk tanpa persetujuan sang pemilik.

"Om, ayok buruan saya udah telat," teriaknya seraya mengeluarkan kepala dari jendela depan samping pengemudi.

"Ayok buruan!" seruan itu kembali menyadarkan Jean yang terkejut dengan tingkah laku gadis yang di dalam mobil dirinya. Mau tidak mau ia menurut, tidak ingin membuat masalah yang dengan mudah akan Jean bereskan dengan mudah.

Menghela napas kasar Jean lakukan sebelum menyalakan kendaraannya, tanpa mengatakan apapun lagi. Mobil Jean berjalan pelan.

Sebenarnya gadis itu tidak mau menumpang kepada Jean, sekarang pun dirinya canggung. Menumpang dengan tidak sopan apalagi pada orang yang tidak kenal.

Meskipun mereka kemarin baru saja berjumpa secara tidak sengaja tetap saja belum dikatakan mereka kenal.

"Mobil milikku baru saja ke bengkel sementara jam masuk sebentar lagi. Jadi aku menghentikan kendaraan untuk menumpang." Beritahunya tanpa diminta. Gadis itu berceloteh tentang mobil yang bermasalah dan sedang dibenarkan oleh supirnya Di bengkel.

"Sudah sampai," suara Jean menghentikan celotehan gadisnya. Gadis di sampingnya melihat keluar untuk memastikan perkataanya.

Bibirnya dengan tiba-tiba membentuk sebuah kurva yang manis sekali, Jean yang melihatnya seketika darahnya mendesir.

"Terima kasih, ternyata kamu baik." ucapnya lalu menyodorkan tangannya ke arah Jean, mengambil paksa tangan besar Jean kemudian menyaliminya.

"Dadah Om," pamitnya yang sudah keluar dari mobil.

Perlakuan yang tiba-tiba itu membuat Jean tidak bisa berkutik, untuk pertama kalinya ada yang menyaliminya. Biasanya semua orang segan kepasanya tetapi mendapatkan perlakuan barusan hal yang baru didapatkan.

Netralnya menatap gadis itu yang memasuki gerbang sekolah tingkat akhir, menajamkan matanya tidak ingin menyiakan kesempatan yang tidak tahu akan berjumpa lagi atau tidak.

"Ranty, tunggu aku!" teriakan gadis lain menghentikan langkah gadis itu.

"Jadi namanya Ranty?" monolongnya, setelah tubuh gadis itu tenggelam di sekolah. Jean kembali menyalakan mobilnya.

Bab 3

"Tahu kenapa saya turun tangan?"

Seorang laki-laki duduk di kursi kayu dengan kaki kanan yang menumpang di kaki lainnya. Menatap seorang laki-laki tua di hadapannya duduk di lantai seraya tangan yang diikat di belakang. Ia bertanya dengan polos seakan tidak tahu apa-apa.

"Saya baru ingat belum memperkenalkan diri ataukah kau sudah mengenal saya?" laki-laki muda itu kembali bertanya, menaikkan alisnya tinggi menunggu respons yang tidak akan pernah dijawab karena mulutnya dilakban.

"Suttt, jangan memberontak! Tali yang saya gunakan menggunakan kawat, mungkin saya tebak pergelangan tangan kau sudah luka." ujarnya santai.

Melihat laki-laki tua itu memberontak ingin dilepaskan, ia memberi kode untuk membuka lakban di mulutnya. Ingin tahu apakah ada yang laki-laki tua ini katakan sebelum dijemput ajalnya.

Tangan tangannya yang mengerti maksud tuanya tentu saja segera melakukan perintah tanpa disuruh dua kali.

"Lepaskan saya bajingan!" umpatnya setelah ia bisa berbicara, tidak memedulikan bibirnya yang merasa kebas dan lengket. Tangannya pun terus digerakkan berharap kawat yang dimaksud bisa segera putus lalu nanti akan mencari jalan keluar untuk kabur dari ruangan gelap ini.

"Waw," laki-laki yang diberi umpatan itu tercengah. Terkejut dengan sambutan pertama yang diberikan. Spontan saja berdiri dari duduk santainya, berjalan perlahan menghampiri pria yang sudah diringkus.

Dari wajahnya tidak ada tanda ia ketakutan, di dalam hatinya ia puji. Untuk pertama kalinya ada yang memberontak dan tidak merasa ketakutan dengan dirinya.

"Saya suka kamu," kalimat itu keluar dari kedua bilah Jean. Mengatakan dengan jujur, jemarinya ia tempelkan di pipi laki-laki tua itu yang terkejut dengan perkataannya.

Senyum tipis itu membentuk, hanya terlihat samar. Tidak ada yang mengetahuinya karena laki-laki tua tadi memberontak tiba-tiba diam seribu bahasa. Tangan kanannya pun tidak bisa melihat sebab berada di belakang.

Kalian jangan berpikir Jean menyukai karena kejujuran dan senyuman, bukan suka ke lawan jenis maksudnya. Hanya Jean menyukai pemberontakan, semakin memberontak semakin ia semangat untuk bermain-main.

"Aku senang jika kau ingin bermain-main," bisiknya tepat di telinga. Aura yang mencengkeram karena perkataan itu membuat tubuh pria tua itu merinding, sedikit memundurkan tubuhnya untuk memberi jarak.

"Saya mendapatkan perintah, ada seseorang yang menyuruh saya untuk melenyapkan calon menteri," Ceritanya mengelilingi laki-laki tua itu yang kini sudah tidak berjongkok lagi.

"Katanya, ia ingin menjadi menteri jadi untuk calon yang lainnya ia menugaskan saya untuk mengurusnya," lanjutnya memberitahukan alasan Jean menyekap laki-laki yang tidak bisa di deskripsikan antara pasrah atau akan memberontak.

"Kau tahukan siapa yang saya maksud? Dia masih warga sini kok," imbuhnya menjelaskan sang pelaku.

"Jadi sebelum dimulai, adakah yang ingin kau katakan?" tanya Jean mengakhiri ceritanya. Kembali berjongkok untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya, mendekatkan wajahnya untuk melihat ekspresinya.

"Oke, kalau begitu saya anggap tidak ada." tiba-tiba saja selera Jean untuk membunuh laki-laki itu lenyap. Ia kira akan ada pemberontakan maka ia akan dengan senang hati memberikan hadiah kenang-kenangan sebelum pergi.

"Karl," panggil Jean seraya berdiri. Mendudukkan diri di kursi kayu untuk menyaksikan kematian.

"Ambil alih." suruhnya yang tidak bisa ditolak. Sang empu yang mendapatkan giliran dengan patuh mengambil alih. Mendekati laki-laki tua itu, berdiri tidak jauh seraya menodongkan pistol yang kecepatannya tidak perlu ditanyakan.

Suara bunyi tembakan itu dengan nyaring memenuhi ruangan basecamp milik Jean. Memang di setiap penjuru negara keluarga Jean mempunyai basecamp yang sengaja dibuatnya, selain menandakan wilayahnya basecamp digunakan untuk kepentingan seperti ini, menyelesaikan tugas dan tempat tinggal para anggota mafia tim Jean.

Darah bercucuran mengotori lantai, laki-laki itu sudah tidak bernyawa lagi. Terbaring dengan tubuh meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Bau anyir dari darah itu menusuk ke indra penciuman Jean, lama berdiam menatap mayat itu. Setelah memastikan tugasnya selesai ia beranjak dari duduknya.

Tapi, baru selangkah akan keluar Jean membalikkan tubuhnya menghadap tangan kanan yang sudah sepuluh tahun menemaninya. "Cari data Ranty salah satu siswa Hing School!" perintahnya. Sang empu mengangguk patuh, lagi-lagi tidak akan menolak semua perintah Jean sebab dirinya bekerja untuk dia.

"Nama lengkapnya Tuan?" tanyanya spontan saja saat tersadar tidak disebutkan oleh tuannya. Nama Ranty pasti banyak digunakan, ia tidak yakin jika berhasil menemukan yang tuannya cari.

"Kau pikirkan saja bagaimana mencari tahu dia," sahutnya kesal karena ia juga tidak mengetahui.

"Jika boleh tahu dia siapa?" Mendapatkan pertanyaan begitu Jean mengeram, giginya saling beradu. Tatapan tajam ia layangkan pada Karl Leeuwenhoek yang dengan berani bertanya.

"Lakukan saja perintahku!" jawabnya yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan Karl Leeuwenhoek—tangan kanannya bersama mayat.

Jean kini sudah berada di mobil, menunggu Karl selesai mengurus mayat. Dirinya juga sudah memberitahukan kepada menteri itu jika tugasnya sudah selesai dan bayaran sudah berada ditangannya.

Perkataan Karl kembali berputar dikepalanya, ia mendesis tidak suka. Kenapa juga harus pertanyaan itu yang keluar? Dirinya juga tidak tahu alasannya, tiba-tiba saja nama itu terbesit di kepalanya tanpa diminta.

"Kenapa pula ia ada di sana?" tanyanya kesal ketika teringat pertemuan pertamanya yang terlihat ketakutan.

"Cepat kembali ke rumah saya!"

Sadar Karl sudah duduk di kursi kemudi, ia langsung saja berkata. Merasakan mobil sudah melaju kedua matanya terpejam menghentikan pikirannya yang berkelana mengingat kehajian kemarin.

Lama terpejam ternyata sudah tertidur lelap meninggalkan keheningan untuk Karl yang mengemudi. Ketika dibangunkan ternyata sudah sampai di kediaman miliknya.

"Jangan lupa tugas, saya tunggu segera!" kata Jean mengingatkan sebelum memasuki kediamannya.

"Bagaimana mungkin dia bisa membuatku ke pikiran. Memang dia siapa sampai kepalaku rasanya pening tidak mengerti dengan semua ini. Hati dan pikirannya terus mengingatkan dia."

Jean yang tidak memiliki pekerjaan lain memilih mengistirahatkan tubuhnya sebelum besok akan berperang, dirinya mempunyai kegiatan perang besok dan sekarang harus mengembalikan staminanya lebih dulu.

Membersihkan diri lebih dulu, tidak perlu menghabiskan waktu lama. Jean sudah keluar setelah lima belas menit masuk ke dalam kamar mandi, hanya mengenakan celana pendek dengan tubuh yang sengaja tidak mengenakan pakaian apapun.

Jika ada wanita mungkin akan pingsan melihat pemandangan yang sungguh menggoda iman, perut sixpack itu membentuk. Otot di tangannya pun tidak mau kalah, sangat terlihat keras ditambah kulit yang sangat bersih.

Jangan lupakan! Wajah tampan itu siapa saja akan dengan senang hati melemparkan diri untuk bisa dekat dengan Jean meskipun hanya sebentar. Rahang tegas dengan jakun yang sungguh menggoda, ciptaan mana lagi yang bisa mengalahkan Jean Montenque.

Keinginan untuk menyelami mimpi harus memudar mendapatkan notif berunntun dari benda tipis di atas narkas. Ia yang penasaran segera mengambil seraya mendudukan tubuhnya, handuk kecil masih berteger di atas rambut untuk mengeringkannya.

Membuka satu-satu sebuah dokumen, melihat dari foto seketika mengerti apa isi dari yang Karl kirimkan. Membuka dokumen lain saat bukan dokumen tersebut yang dicari, membaca nama lengkap dengan melihat foto adalah hal pertama sebelum membaca lebih banyak lagi.

Didokumen ke sepuluh, ia menemukan data yang lengkap sesuai permintaannya. Kembali menyelami data itu, setelah puas ia menyimpan di tempat semula dan mulai menutup mata.

"Kamu akan menjadi milikku." gumamnya tanpa sadar sebelum kesadarannya benar-benar lenyap.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED