Kini Kia berada di bawah pancuran shower. Menikmati guyuran air dingin yang seketika berhasil menyegarkan tubuh dan pikirannya. Hampir seharian berbalut pakaian pengantin dan menyambut para tamu undangan tentu membuat Kia berkeringat. Karena rasa letih yang mendera, Kia tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu di dalam kamar mandi meskipun sebenarnya bathub yang telah berisi air hangat bertabur kelopak bunga mawar itu telah memangil-manggil dirinya untuk berendam di sana. Kegiatan menyenangkan yang seharusnya Kia lakukan setelah seharian beraktivitas.
Dengan cepat Kia membersihkan diri mulai dari keramas, memakai sabun mandi dan wajah, dan menggosok gigi. Setelah mematikan aliran shower Kia bergegas ke luar dari partisi shower. Namun seketika kedua mata Kia terbelalak saat menyadari jika dirinya tadi lupa membawa handuk.
"Duh gimana ini aku lupa nggak bawa handuk dan underwear bersih," gerutu Kia seraya memijit kepala yang mendadak terasa pusing karena kecerobohannya. Kia melupakan jika dirinya sedang tidak berada di dalam kamar mandinya sendiri yang selalu tersedia handuk bersih di dalam lemari kecil di bawah cermin.
Bibir Kia berdecak kesal. Mana mungkin dirinya memakai piyama tanpa mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu dengan handuk. Mata Kia menatap underwear miliknya yang tergantung lalu memejamkan mata. Mana mungkin dirinya memakai ulang underwear yang sudah dipakainya sejak siang tadi. Jika sebelumnya dirinya terbiasa tidur tanpa mengenakan underwear tapi tidak mungkin untuk malam ini. Kepala Kia segera menggeleng dengan cepat saat membayangkan malam pertama yang biasa dilalui oleh para pasangan pengantin baru. Katanya, pengalaman indah yang tak akan pernah terlupakan.
"No no! Pokoknya hal itu tidak boleh terjadi!" Kesal Kia semakin merasa frustasi.
Lalu dengan terpaksa Kia sedikit membuka pintu kamar mandi untuk melihat posisi Bimo saat ini. Laki-laki itu tampak bersantai di atas ranjang dengan memainkan ponselnya. Kia kembali menutup pintu dan bersandar di sana. Kepala Kia tertunduk, menelisik penampilan polosnya saat ini lalu memejamkan mata. Kia menghela napas panjang sebelum nekat membuka kembali pintu itu dengan jantung berdebar-debar.
"Mas Bimo bisa minta tolong?" ucap Kia dengan ragu-ragu.
Bimo seketika mengalihkan pandangan dari layar pipih di tangannya ke arah kamar mandi. Dari tempatnya berada Bimo hanya bisa melihat sebagian wajah Kia. rambut panjang Kia pun terlihat dengan jelas dalam kondisi basah.
"Iya ada apa Sayang?" balas Bimo seraya beranjak dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Eh eh Mas Bimo di sana aja! Jangan dekat-dekat!" pekik Kia dengan panik saat melihat Bimo mendekatinya.
"Baiklah ada apa?" Bimo menghela napas panjang dengan kedua tangan yang kini bersidekap di dada.
"Kia lupa bawa handuk Mas," jujur Kia sembari merasakan wajahnya yang memanas. Seketika senyuman merekah di bibir Bimo.
"Ya udah ke luar aja nggak papa, lagian kita udah resmi sebagai pasangan suami istri jadi sah-sah aja kan klo aku lihat tubuh istriku sendiri," jawab Bimo dengan santai. Mata tajam itu terlihat berkilat jenaka sekarang.
"Eh enak aja. Nggak nggak!" Tukas memekik Kia dengan debaran jantung semakin menggila.
"Ya udah," goda Bimo lalu berpura-pura hendak berbalik badan.
"Mas Bimo pleaseeee....!" cegah Kia dengan ekspresi memelas. Bimo menatap Kia sembari tersenyum. Sebenarnya Bimo masih ingin menggoda Kia tapi mengingat acara mereka berdua seharian ini tentu membuat Bimo tidak tega. Kia pasti juga kelelahan seperti dirinya.
"Baiklah Sayang," balas Bimo lalu segera mengambilkan handuk bersih dari dalam lemari untuk Kia.
"Mas bisa minta tolong lagi?" ucap Kia dengan mengulas senyuman kaku saat Bimo baru saja hendak mengulurkan handuk untuknya. "Tolong ambilkan underwear Kia di koper ya?" Setelah mengatakan itu Kia segera mengambil handuk dari tangan Bimo lalu menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
Di dalam kamar mandi Kia mulai mengeringkan tubuh basahnya sembari menenangkan debaran jantungnya yang sejak tadi menggila sedangkan Bimo terlihat dengan santai membuka koper milik Kia untuk mengambilkan barang pribadi milik istrinya tersebut.
"Seksi dan wangi," gumam Bimo dalam hati saat mengeluarkan sepasang underwear berwarna hitam milik Kia yang tanpa sadar ia hidu aromanya. Aroma wangi nan lembut dari pengharum pakaian yang menguar dari sepasang underwear itu berhasil mengundang rasa hangat yang menjalar dalam tubuh Bimo.
"Mas kok lama sih! Di koper bagian bawah," teriak Kia dari celah daun pintu saat melihat Bimo yang masih berdiam diri menghadap koper miliknya.
"Sabar dong Sayang," balas Bimo yang seketika tersadar dari pikirannya yanyang mulamulai bertingkah liar.
Gegas Bimo menyerahkan underwear tersebut lalu segera pergi. Bimo memilih bersantai di balkon kamar untuk menikmati malam di Yogyakarta yang begitu tenang sekaligus menyingkirkan pikirannya yang mulai rusuh. Tak seperti di kota Bandung dan Jakarta yang memang tidak pernah tidur. Di Yogyakarta Bimo bisa mendapatkan ketenangan yang tidak pernah di dapatkannya saat tinggal di kedua kota besar tersebut.
Untuk menemani kesendiriannya Bimo mengambil rokok yang memang sengaja ia siapkan di dalam tasnya. Bimo memantik api untuk menyulut rokok tersebut lalu menghisapnya seraya menyandarkan punggung pada kursi, memikirkan banyak hal yang telah ia lewati. Jika dipikir-pikir semuanya terasa lucu dan tak terduga. Dirinya pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Azka saat masih menempuh pendidikan kedokteran di Jakarta. Saat itu mereka berkenalan saat masa ospek dan merasa cocok satu sama lain lantaran sama-sama bisa berkuliah berkat pertolongan beasiswa tapi dengan berjalannya waktu Bimo baru menyadari jika Azka, sahabat yang ia anggap sebagai orang biasa saja seperti dirinya nyatanya adalah orang kaya raya yang memilih menyembunyikan identitas aslinya dengan hidup sederhana.
Delapan tahun berjuang bersama hingga perpisahan mengambil alih kebersamaan mereka. Bimo dan Azka menyandang gelar sebagai dokter spesialis dalam waktu yang sama. Namun, mereka harus mengejar cita-cita di tanah kelahiran masing-masing. Lalu tanpa sengaja dirinya jatuh cinta pada Kia adik Azka saat acara pernikahan sahabatnya tersebut. Diam-diam Bimo memperhatikan Kia. Hanya itu yang selama ini bisa Bimo lakukan. Mengagumi diam-diam gadis irit bicara tersebut tanpa satupun orang yang tahu. Tak ada hal istimewa dari dirinya untuk mendapatkan hati Kia. Gadis itu terlalu tinggi untuk diraih. Kehidupan Bimo seketika terguncang saat Azka menawarkan sebuah perjodohan antara dirinya dan Kia. Apa yang bisa Bimo lakukan selain menerima tawaran itu meskipun Bimo tahu tidak akan mudah membuat gadis itu jatuh cinta padanya.
Kia yang baru saja ke luar dari kamar mandi seketika mencari keberadaan Bimo. Melihat Bimo berada di balkon kamar membuat perasaan Kia lega. Gegas Kia segera melaksanakan salat isya. Setelah salat Kia kembali menatap Bimo dari balik kaca. Laki-laki itu masih tampak asyik dengan lamunannya. Kia terdiam dalam kegelisahan. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menerima pernikahan itu tentu tak mudah bagi Kia yang memang tidak memiliki perasaan apapun pada Bimo.
Kia yang saati ini duduk di kursi meja rias lantas meletakkan sisir yang baru saja digunakannya. Sejenak Kia mematut dirinya di balik cermin barulah setelah itu bangkit.
Tak acuh, Kia naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu seketika berhasil menghadirkan rasa nyaman yang tak terkira. Kia segera memejamkan mata dengan posisi terlentang. Tapi Kia tidak bisa benar-benar tidur. Pikirannya melalang buana pada sosok laki-laki yang saat ini masih berada di balkon. Kia kembali bangun, kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkan dirinya bersikap kurang ajar pada orang lain apalagi terhadap suaminya sendiri. Keharmonisan rumah tangga kedua orang tuanya adalah panutannya. Tapi menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya tentu menjadi masalah tersendiri baginya.
Kia menoleh ke arah meja yang berisi beberapa menu makanan yang begitu menggugah selera. Mereka berdua tidak makan sejak tadi siang. Pagi pun mereka hanya sempat sarapan sekadarnya saja. Akhirnya Kia mengalah dengan turun dari ranjang.
Dengan menghela napas panjang lalu menghembuskan dengan kasar Kia bangkit. Kakinya melangkah menuju di mana Bimo saat ini berada.
"Mas Bimo udah malam. Apa Mas nggak ingin beristirahat?" ucap Kia tampak ragu-ragu. Seketika Bimo menatap Kia lalu menekan batang rokoknya ke dalam asbak hingga padam.
"Tentu saja Sayang," balas Bimo dengan tersenyum yang menurut Kia terlihat sangat menjengkelkan.
Tanpa ingin menanggapi panggilan Bimo untuknya, Kia kembali masuk kamar yang langsung diikuti oleh laki-laki itu.
"Sebaiknya Mas Bimo makan dulu. Sejak tadi siang Mas belum makan," ucap Kia lagi lantas kembali naik ke atas ranjang.
"Kamu juga belum makan. Kita makan bareng," balas Bimo seraya mengangkat tubuh Kia yang langsung memekik kaget.
"Mas Bimo ini apa-apaan sih!" Kia memukul dada Bimo dengan keras sembari memberontak ingin turun dari gendongan suaminya tersebut.
"Ayo kita makan dulu lalu... " ucap Bimo menggantung setelah mendudukkan Kia di sofa dengan nyaman.
"Tidur!" tegas Kia seraya melayangkan tatapan tajam kepada Bimo. Melihat Bimo hanya tersenyum membuat Kia kembali mempertegas keinginannya, "Setelah makan kita tidur. Tidak akan ada malam pertama. Titik!"
"Iya ya Sayang, aku ngerti. Lagian masih banyak waktu untuk kita melakukannya," goda Bimo dengan menyeringai lalu kembali berkata-kata, "kamu tenang aja. Aku nggak akan maksa kok. Aku akan sabar menunggu sampai kamu siap."
Setelah mengatakan itu Bimo lantas meraih piring dan menuangkan nasi sedangkan Kia hanya mampu terdiam sembari mencerna ulang perkataan Bimo yang baru saja didengarnya.
"Makan yang banyak biar gemukan dikit," ucap Bimo sembari menyodorkan piring berisi nasi kepada Kia.
Tak ingin terus-menerus berdebat Kia segera menerima piring berisi nasi itu dan makan dengan lahap tanpa menghiraukan Bimo lagi. Mereka makan dalam diam lalu setelah selesai Kia segera mendorong meja berisi sisa makanan mereka itu ke luar dari kamar. Meletakkan di samping pintu kamar hotel begitu saja. Tak langsung tidur, Bimo memilih membaca majalah yang tersedia di nakas sampingnya sedangkan Kia lebih memilih membuka akun soal media untuk mengalihkan kegelisahan yang dirasakannya. Untuk kali pertama dirinya akan tidur seranjang dengan laki-laki selain keluarganya. Tentu saja Kia merasa aneh dan canggung namun berbeda dengan Bimo yang justru terlihat tenang dan santai.
"Kia sayang udahan dong maen HP_nya. Besok lagi sekarang kamu istirahat dulu," ucap Bimo yang kini tengah merebahkan tubuhnya dalam posisi miring menghadap ke arah Kia.
"Klo udah ngantuk Mas Bimo tidur aja duluan. Kia masih asyik ini," balas Kia tak acuh sembari membalas satu persatu komentar dari teman-temannya di Instagram.
"Udahan," jawab Bimo lalu meraih ponsel di tangan Kia, meletakkan di nakas sebelahnya begitu saja.
"Mas Bimo apa-apaan sih! Balikin HP Kia sekarang juga!" kesal Kia sembari menatap Bimo tajam. Ingin rasanya Kia merebut kembali ponsel miliknya yang berarti tangannya harus melewati tubuh Bimo.
"Tidak akan aku kembalikan. Pokoknya kita istirahat sekarang. Klo masih nakal kita belah duren sekarang!" ancam Bimo yang sukses membuat mata Kia terbelalak dengan kedua tangan menyilang di depan dada.
"Nggak, pokoknya Kia nggak mau!" tolak Kia dengan ekspresi ngeri.
"Ya udah klo gitu lekas tidur!" titah Bimo dengan menahan senyuman. Sungguh ekspresi wajah Kia saat ini terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Ya udah Kia tidur di kamar Bunda dan Ayah aja," kesal Kia lalu segera beranjak dari ranjang, berjalan menuju pintu dengan menghentakkan kaki keras. Namun Kia tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya yang tengah menekan kenop pintu.
"Trus entar klo Ayah dan Bunda nanyain Mas Bimo gimana? Duh..." gumam Kia dalam hati. Tentu bukan waktu yang tepat baginya untuk mendapatkan tausiah panjang kali lebar dari kedua orang tuanya malam ini. Kia hanya ingin beristirahat dengan tenang dan nyaman tanpa gangguan siapapun.
Bimo hanya tersenyum memperhatikan tingkah laku lucu istrinya. Lalu saat Kia berbalik badan Bimo kembali berbicara.
"Tidurlah!" Bimo menepuk ranjang kosong di sisinya dengan tak lepas menatap gadis itu.
Kian menghela napas panjang seraya melangkah mendekati ranjang. Di tatapnya Bimo dengan tajam sambil meraih guling.
"Mas Bimo nggak boleh melewati pembatas ini!" tegas Kia sambil meletakkan sebuah guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas.
"Ok, sekarang beristirahatlah!" balas Bimo lalu membalikkan badan agar gadis itu segera tidur.
Kia segera merebahkan tubuhnya, memunggungi Bimo lalu segera memejamkan mata. Dalam hati Kia berharap jika besok akan berjalan baik-baik saja seperti hari-hari biasa.Namun tiba-tiba Bimo kembali berbicara, "Kira-kira kita kapan bisa belah durennya?"
Karena rasa kantuk tak juga menyambanginya Bimo akhirnya memilih duduk. Meletakkan bantal di belakang tubuhnya kemudian menyandarkan punggungnya di sana. Sejenak Bimo menatap punggung Kia yang sudah terlelap sejak dua jam yang lalu. Diraihnya ponsel miliknya yang sejak tadi sudah offline di atas nakas di sebelahnya. Untuk mengisi kesendirian Bimo memutuskan mengaktifkan kembali jaringan internet di ponselnya untuk menghibur diri. Seperti biasa Bimo akan membaca artikel yang berkaitan dengan kesehatan. Jika sedang fokus dengan apa yang tengah dibaca biasanya Bimo akan melupakan apapun yang mengganggu dalam benaknya.
Lima belas menit berlalu Bimo tak juga mampu mendapatkan konsentrasinya. Artikel yang biasa begitu menarik kini seolah tak berguna. Pikirannya tetap tertuju pada gadis cantik di sampingnya. Bimo gelisah bukan lantaran hak malam pertamanya tidak terpenuhi melainkan karena rasa syukur yang tak terkira kepada Allah SWT. Bimo sangat bahagia karena berhasil mengikat Kia dalam sebuah pernikahan. Bimo pun sadar jika pernikahan ini tidak adil untuk Kia karena setitik pun tak ada rasa cinta gadis itu untuknya. Tapi Bimo yakin Kia adalah jodoh yang telah Allah gariskan untuknya. Gadis yang akan menemani dirinya hingga tutup usia. Urusan cinta Bimo serahkan semua kepada Sang Penulis Takdir yang telah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Bimo menutup artikel yang tengah dibacanya lalu kembali offline. Diletakkan kembali ponsel itu di tempatnya semula. Tak lupa Bimo juga mengganti lampu utama kamar menjadi lampu tidur. Perlahan Bimo merebahkan tubuhnya. Menghadap punggung Kia yang terhalang sebuah guling dengan kepala bertumpu pada tangan. Lalu Bimo berinisiatif untuk menyingkirkan guling tersebut. Tetap dengan penuh kehati-hatian Bimo menggeser tubuhnya demi memupus jarak di antara mereka berdua. Tangan Bimo terangkat, berniat menyentuh bahu Kia yang terlihat bergerak teratur. Tiba-tiba jemari Bimo mengepal, menariknya kembali. Mengurungkan niatnya untuk menyentuh tubuh perempuan yang telah menjadi halal untuknya tersebut. Bimo tidak ingin Kia marah karena dirinya telah lancang menyentuh tanpa seizin gadis itu.
Tapi derap jantung Bimo mulai bertingkah. Antara hati dan logikanya berbenturan tak keruan. Kata tenang mungkin hanya mampu diucapkan demi menenangkan kerisauan hatinya yang mendamba. Bimo tak mampu mengelak jika hatinya telah dilumpuhkan oleh pesona gadis di hadapannya. Entahlah, Bimo tak pernah yakin kapan dan di mana ia mulai menyukai gadis bernama lengkap Azkia Khairani Alfarizi tersebut. Padahal selama ini gadis itu selalu bersikap acuh padanya. Apalagi memandang dirinya seperti para perempuan kebanyakan. Kia bukan perempuan yang suka berbasa-basi ataupun bersikap ramah tamah kepada orang yang tak dihendakinya. Termasuk kehadiran dirinya yang seolah tak pernah dipandang.
Tiba-tiba Kia bergerak, memutar tubuhnya menjadi menghadap padanya sedangkan Bimo memilih tak bergerak sedikit pun agar tidak sampai Kia terbangun. Bahkan Bimo berulang kali menahan napas sampai Kia membenarkan posisi tidurnya dengan nyaman. Tentu saja tubuh Kia merasa kebas karena tidur dalam posisi yang sama sejak beberapa jam lalu.
Tangan kiri Bimo kini beralih fungsi menjadi bantal. Dipandanginya wajah cantik Kia yang sedang terlelap.
"Masyaallah, tidur aja cantik banget istri gue. Belom ini klo tersenyum, bisa leleh gue," puji Bimo dalam hati dengan tatapan memuja.
Spontan tangan Bimo terangkat, secara perlahan jemari Bimo meraih helai rambut cokelat bergelombang milik Kia. Menyingkirkan helaian rambut yang mencoba menghalangi pemandangan indah di hadapannya. Tak ada tanda-tanda pergerakan dari tubuh Kia, Bimo lantas menggeser lagi tubuhnya. Benar-benar memangkas sisa jarak di antara mereka. Perlahan tangan Bimo terulur. Dipeluknya tubuh Kia dengan erat.
"Aku mencintaimu Kia," desis Bimo sembari memejamkan mata. Menikmati perasaan hangat yang mulai menjalar di setiap aliran darah dalam tubuhnya. "Good night istriku," ucap Bimo lalu mengecup kening Kia dengan penuh perasaan.
***
Tepat pukul 04.10 Bimo terjaga. Gegas secara perlahan ia melepaskan tubuh Kia dari pelukannya. Berharap Kia tidak sampai terbangun lalu marah padanya. Setelah terbebas, Bimo lantas mengambil guling yang semalam dijadikan pembatas oleh Kia. Ia letakkan guling itu di samping Kia lalu ia segera beranjak menuju kamar mandi. Sekitar 10 menit lagi adzan subuh pasti berkumandang. Jadi Bimo akan bersiap-siap dulu agar Kia tidak sampai merasa curiga. Barulah setelah itu ia akan membangunkan Kia untuk salat subuh berjamaah dengannya.
Kia menggeliat. Merasakan tubuhnya yang rapuh karena kecapean. Masih dengan kedua mata memejam tangan Kia meraba selimut yang menutupi tubuhnya. Seingatnya, semalam ia tidur tanpa memakai selimut. Kia terdiam untuk waktu yang tak sebentar. Otaknya sedang bekerja ekstra demi mengingat kegiatan yang dilakukannya kemarin hingga menjelang tidur. Hidung mancungnya terlihat kembang kempis demi mengenali aroma asing yang menyapa indera penciumannya.
Aroma asing itu cenderung bittersweet bercampur sedikit hint vanilla. Parfum khas laki-laki beraroma dark chocolate. Untuk sekian detik Kia terdiam. Mencoba menerima jika sejak kemarin aroma itulah yang akan menemani hari-harinya.
"Ya ampun aku kan udah nikah!" Pekik Kia sembari membuka mata lalu segera duduk saat menyadari jika statusnya sekarang adalah seorang istri.
"Mas Bimo?" Panggil Kia sambil meraup helai rambutnya yang berantakan dengan jari-jemarinya. Kia menggelung begitu saja rambut panjangnya lalu segera beranjak dari ranjang untuk mencari keberadaan sang suami.
"Istriku udah bangun ternyata," ucap Bimo saat baru saja ke luar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat basah dan segar.
Kia membuang napas kasar. Merasa geli dengan panggilan Bimo untuknya yang terdengar norak. Tak ingin menanggapi, Kia segera meraih selimut yang tadi dikenakannya. Melipatnya dengan rapi lalu meletakkan begitu saja.
"Kamu ambil wudhu dulu. Kita jamaah!" ucap Bimo lagi tanpa ingin sedikit pun melewatkan setiap ekspresi wajah gadis di hadapannya.
Kia menghela napas panjang lalu melangkah mendekat. Tapi bukan berarti mendatangi Bimo melainkan hanya melewati laki-laki itu yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Bimo mengambil peralatan salat di dalam lemari. Lalu menggelar dua sajadah yang memang sudah tersedia di lemari kamar hotel. Entah keluarga Kia yang menyiapkan peralatan salat di kamar pengantin mereka atau memang fasilitas hotel Bimo tak tahu-menahu soal itu.
Selagi menunggu Kia berwudhu Bimo duduk di atas sajadahnya. Setelah menyiapkan sepasang mukena di atas sajadah untuk Kia, Bimo bershalawat dalam hati.
Tak lama Kia ke luar dari kamar mandi. Dengan jantung berdebar Kia melangkah mendekat. Gegas Kia mengenakan mukena dan bersiap untuk salat. Bimo menatap Kia dengan tersenyum lembut lantas berdiri. Menghadap ke arah kiblat disusul dengan bacaan niat salat subuh dengan khusyuk.
"Allahuakbar!" Bimo memulai ibadah salat.
Kia memejamkan mata sembari membaca niat disambung dengan bacaan takbir. Mulailah Bimo membaca surat al-fatihah dengan suara sedang. Memang suara Bimo tak semerdu suara muadzin masjid. Tapi suara lembut laki-laki itu berhasil memberikan ketentraman dalam hati Kia.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Dua kali bacaan salam sebagai pertanda jika ibadah salat subuh mereka telah usai.
Tak langsung mengakhiri ibadah mereka, Bimo membaca wirid singkat lalu dilanjutkan dengan doa yang tentu saja diikuti oleh Kia. Setelah itu Bimo mengubah posisinya menjadi menghadap ke arah Kia. Sebagai seorang istri tentu saja Kia langsung menerima uluran tangan Bimo lalu menciumnya. Kia sedikit tersentak saat tiba-tiba Bimo meraih kepalanya. Namun Kia segera tersadar jika suaminya itu hendak membacakan doa untuknya.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Setelah bacaan doa yang dipanjatkan Bimo selesai Kia segera menjauhkan dirinya dari sang suami. Kia benar-benar belum terbiasa dengan kehadiran Bimo dalam kehidupannya apalagi sampai melakukan kontak fisik.
"Subhanallah cantik banget istriku," puji Bimo sembari menghentikan tangan Kia yang hendak melepaskan mukenanya. Jangan lupakan senyuman menyebalkan itu kini menghiasi wajah tampannya.
"Udah, Mas Bimo nggak usah muji-muji! Enek aku dengernya," sahut Kia tanpa berekspresi.
"Wajar dong klo aku muji istriku sendiri. Lagian masak aku muji istri orang sih!" Goda Bimo sembari menikmati wajah kesal Kia yang justru meningkatkan kadar kecantikan gadis itu di matanya.
Kia melepaskan mukena yang dikenakannya. Melipatnya dengan cepat namun harus dengan keadaan rapi seperti sebelumnya.
"Ya ampun istriku, kamu bikin aku tambah gemes deh!" ujar Bimo dengan terus membidik obyek di hadapannya.
"Masih pagi Mas, jangan bikin aku tambah mual," kesal Kia kemudian langsung berdiri.
"Kan aku jadi sayang kenapa ranjang pengantin kita masih rapi. Harusnya kamar pengantin baru itu..."
"Stop!" tukas Kia dengan tatapan tajam. "Nggak perlu dilanjutkan Mas. Aku udah paham. Tapi please.. Kasih aku waktu dulu. Jangan memaksakan apa yang nggak aku ingini!" tegas Kia yang mulai tersulit emosi. Mungkin jika gadis lain akan bersikap malu-malu mendengar rayuan manis Bimo. Tapi Kia tentu saja tidak akan mempan dengan rayuan recehan dari Bimo. Sejak dulu Kia paling anti dengan laki-laki bermulut manis. Sialnya Kia justru berjodoh dengan laki-laki penebar pesona seperti Bimo.
Menyadari suasana hati Kia yang sedang tidak baik-baik saja Bimo lantas mengangkat kedua tangan. Seringai jahil yang tadinya tercetak di wajahnya perlahan mulai memudar. Bimo lantas melepaskan peci dan melipat sajadah yang tadi dikenakannya lalu memasukkan kembali ke dalam lemari. Setelah itu Bimo berjalan ke arah balkon tanpa berucap sepatah kata pun.
Kia tertegun menatap punggung Bimo yang saat ini duduk di kursi balkon. Perasaan menyesal seketika menyergap hati Kia. Sikapnya memang keterlaluan. Bisa-bisanya ia berkata kasar pada suaminya sendiri. Kia terduduk di tepi ranjang tanpa berani mendekat. Harusnya dirinya bisa bersikap tenang meskipun dalam waktu yang tidak ditentukan akan merasakan ketidaknyamanan.
Mengingat nasihat kedua orang tuanya sebelum menikah membuat Kia semakin merasa bersalah. Dengan mengesampingkan egonya Kia berdiri. Mendatangi Bimo yang tengah menikmati langit bertabur bintang di atas sana
"Mas, maafin ucapanku tadi," aku Kia sambil berdiri di samping Bimo yang menampilkan wajah tanpa ekspresi. Bahkan Kia tak mampu menebak perasaan apa yang saat ini dirasakan oleh laki-laki di hadapannya.
Bimo berusaha bertahan dalam ekspresi yang sama padahal dalam hati ia ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah menyesal berpadu ketakutan milik sang istri.
"Maaf untuk apa istriku?" tanya Bimo sembari mengangkat kepala demi memperhatikan wajah cantik istrinya.
"Ya yang tadi itu," jawab Kia dengan gugup.
"Tadi yang mana?" Bimo melayangkan pertanyaan balik. Senyuman jahil mulai tercetak di bibirnya.
"Mas Bimo serius dikit bisa?" Kesal Kia mulai merasa dipermainkan.
"Mana pernah sih aku bercanda, aku selau serius kok! Apalagi cintaku padamu," rayu Bimo seraya berdiri.
"Susah emang ngomong sama Mas Bimo!" tukas Kia lalu bergegas pergi meninggalkan Bimo dengan seringai menyebalkan.