Bab 2

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, sudah saatnya Anaya pulang bekerja. Malam ini dia sudah cukup bersyukur karena seseorang menyelamatkannya dari godaan pria hidung belang tadi. Meski caranya cukup kasar, tapi Anaya ingin sekali bertemu lagi untuk mengucapkan terima kasih.

“Bang Edgar, Naya pulang, ya,” pamitnya.

“Iya, Nay, hati-hati. Jangan jalan kaki, ya.”

Anaya mengangguk, ia bersyukur uang tip dari beberapa pelanggan yang ia temui hari ini lumayan cukup besar jadi ia bisa memesan taksi untuk pulang ke rumah. Anaya menghirup udara malam dengan hikmat, kemudian menghembusnya perlahan. Banyak sekali angan-angannya hari ini karena pulang dengan membawa banyak uang hasil bekerja harian.

TIINN!

Suara klakson mengagetkan dirinya, Nolan turun dari mobil lalu menghampiri Anaya. “Udah ingat sama saya belum?”

Anaya mengerjap mata berkali-kali, dia tentu tahu sosok Nolan yang sudah menyelamatkannya dari pria hidung belang, tapi bukan itu poin pentingnya. Melainkan mobil Rolls Royce yang Nolan kendarai merupakan mobil yang sama dengan mobil yang hampir menabraknya saat berangkat kerja.

“Bapak yang tadi mau nabrak saya?” tanya Anaya polos.

“Ck! Saya bukan bapak kamu jadi berhenti panggil saya bapak!” sentak Nolan.

“Ma-maaf.” Anaya menundukan kepala. “Lalu saya harus panggil apa?”

Nolan mengulurkan tangannya. “Saya Nolan, nama kamu siapa?” tanyanya skeptis padahal dia sudah tahu.

Anaya membalas uluran tangan Nolan dengan ragu-ragu. “Anaya,” jawabnya pelan. “Nolan, maaf kalau saya ada salah, terima kasih karena sudah menolong saya tadi.”

Nolan tak menjawab, ia mengamati Anaya dari atas sampai bawah. Penampilan perempuan itu berubah drastis, make up-nya masih terpasang tipis di wajah, tetapi pakaian seksinya saat di kafe tadi sudah di ganti dengan celana jeans hitam dan kemeja kebesaran, rambutnya juga dibiarkan tergerai menutupi bahu.

“Mobil saya lecet,” kata Nolan.

Mata Anaya melebar. “Lecet?”

“Iya, gara-gara kamu.”

Anaya tampak gugup, ekspresinya membuat Nolan menahan tawa mati-matian. “Aku harus ganti?” tanya Anaya polos.

“Ganti. Mobil saya mahal.”

Anaya menghela napas kasar, bibirnya tertekuk ke bawah, matanya berkaca-kaca, semakin membuat Nolan ingin menertawakannya.

“Aku belum ada uang, Nolan.”

“Saya gak minta ganti sekarang, tapi saya akan rajin datang ke sini biar kamu gak lupa kalau kamu punya hutang sama saya,” pungkas Nolan.

Anaya mengangguk cepat. “Kira-kira saya harus ganti berapa?”

“Lima puluh juta,” jawab Nolan cepat, sontak membuat Anaya melebarkan matanya.

“Banyak sekali, aku gak punya uang sebanyak itu. Aku punya tabungan, tapi itu untuk persiapan bayar skripsi dan wisuda,” ujar Anaya.

“Saya gak peduli, skripsi dan wisuda kamu bisa ditunda,” sela Nolan.

“Aku udah telat setahun, Nolan. Aku harus lulus biar cepat-cepat keluar dari pekerjaan ini.”

Nolan tersenyum miring, mendekatkan tubuhnya dengan Anaya. Perempuan itu hendak menghindar, tetapi Nolan dengan cepat menahan pinggangnya. “Kamu harus ganti rugi, mobil saya lecet.”

Anaya mengangguk lemah. “Pasti aku ganti, tapi gak sekarang.”

“Ok, saya punya penawaran menarik untuk kamu ...” Nolan menggantung ucapannya.

Anaya diam, menunggu perkataan Nolan selanjutnya.

“Jadi kekasih saya, maka hutang kamu saya anggap lunas,” lanjut Nolan.

Anaya mendorong tubuh Nolan dengan cepat, kemudian menundukan kepala karena mendadak merasa gugup. “Maaf, tapi aku gak bisa.”

“Ok, gak pa-pa kalau gak mau. Saya tunggu uang lima puluh juta dua hari dari sekarang.”

Anaya terperangah. “Bisa beri aku waktu lebih banyak?”

Nolan menggeleng. “Saya gak mau ambil resiko, karena mobil ini milik ayah saya, bukan milik saya,” bohongnya. “Papa saya galak, punya banyak preman yang bisa datangi rumah kamu kapan pun dia mau.”

“Ka-kalau gitu satu minggu. Beri aku waktu satu minggu,” mohon Anaya.

“Gak bisa, saya mau dua hari.”

“Please ...,” mohon Anaya, tapi Nolan bergeming. Lelaki itu kembali mendekati Anaya, menatap gadis itu sendu.

“Kalau begitu, di pertemuan kita yang ketiga kamu sudah harus jadi kekasih saya,” ucap Nolan tegas.

“Gak mau,” jawab Anaya. “Aku lebih baik bayar utang daripada jadi kekasih kamu, aku gak kenal sama kamu.”

“Kan tadi udah kenalan.”

“Aku tetap gak mau, Nolan,” tolak Anaya tegas.

“Ok, saya tunggu uangnya besok!” Nolan segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan Anaya yang terkejut setengah mati.

“NOLAN, TUNGGU! AKU BELUM SELESAI BICARA!” teriak Anaya, ia berlari mengejar mobil Nolan, sementara sang pemilik mobil tertawa bahagia sembari melihat ekspresi Anaya di kaca spion.

“Cantik, sayang kalau jadi milik orang lain. Lebih baik saya kerjain,” gumam Nolan.

***

Anaya Trixie, perempuan berusia 23 tahun, seorang mahasiswi semester akhir yang cantik dan sangat mandiri. Dia tinggal berdua dengan Rima—ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Anaya punya dua kakak laki-laki yang tinggal di luar negeri semenjak keduanya menikah.

Setiap hari kegiatan Anaya tidak pernah jauh dari kampus dan tugas-tugas akhir, kemudian setelah mengerjakan tugas kampus Anaya akan pergi ke kafe untuk lanjut bekerja sampai pukul tiga pagi hari.

“Ibu belum tidur?” Anaya menegur Rima, wanita itu tampak masih bersantai di sofa.

Rima—usianya sudah menginjak kepala enam, ia menyuruh Anaya duduk untuk menikmati teh buatannya. “Ibu kebangun, langsung duduk di sini menunggu kamu pulang.”

“Harusnya Ibu tidur lagi, Ibu kan gak boleh begadang,” balas Anaya, kemudian duduk di sebelah Rima lalu menarik satu kaki wanita itu dan memijatnya perlahan.

“Eh, gak usah dipijat. Kamu capek—“

“Gak, Bu. Hari ini aku gak terlalu capek, aku senang hari ini ada pelanggan yang baik banget sama aku,” curhatnya mengingat Nolan.

Rima tersenyum tipis, agak miris melihat semangat yang Anaya tunjukan. Pasalnya, beberapa orang di sekitar lingkungan tersebut banyak yang berasumsi bahwa Anaya bekerja sebagai wanita penghibur, padahal kenyataannya bukan begitu.

Bahkan sudah dibuktikan dengan penuturan seorang warga yang diam-diam mengikuti Anaya bekerja di kafe, orang itu mengatakan bahwa Anaya hanya bekerja sebagai pelayan biasa. Namun, stigma buruk rupanya tidak bisa lepas dari gadis itu.

“Naya, tadi Ibu telpon Abangmu yang tinggal di Malaysia,” beritahu Rima.

“Ibu minta uang lagi?”

Rima mengangguk lemah. “Abangmu bilang lagi banyak keperluan karena sebentar lagi istrinya melahirkan anak kedua.”

Anaya menghela napas. “Bu, aku kan udah bilang kalau Bang Anjar dan Bang Dewa gak akan mau menafkahi Ibu lagi. Istri-istri mereka aja pelitnya setengah mampus, aku bingung sama Abang kenapa mereka semua jadi sombong sama Ibu.”

“Hushh ... jangan bilang begitu, Naya.”

“Kenyataannya begitu, Bu. Sejak mereka menikah, mereka gak pernah jenguk Ibu sama sekali, aku pernah dengar istrinya Bang Dewa bilang kalau dia gak izinkan Bang Dewa kasih uang untuk bantu kuliahku. Aku gak masalah, aku bisa cari uang sendiri, tapi setidaknya mereka harus ingat sama Ibu,” tutur Anaya, nada bicaranya terdengar ketus.

“Bahkan saat Ibu sakit, mereka gak pernah ada niat jenguk Ibu sama sekali. Ah, mereka udah gak butuh Ibu mungkin.”

Rima menghela napas, ia bangkit dari rebahan, mengambil sebuah amplop yang sejak tadi ia tindih di balik badan. “Besok Ibu harus cuci darah lagi sekalian periksa,” ucapnya sembari menyerahkan amplop tersebut kepada Anaya.

Anaya membaca surat diagnosa tersebut, wajahnya berubah datar, kemudian menatap Rima. “Besok aku antar ke rumah sakit ya, Bu.”

“Gak usah, Nay. Ibu gak mau merepotkan kamu.”

“Aku gak merasa direpotkan Ibu, kesehatan Ibu lebih penting.” Anaya menahan air matanya, ini sudah ketiga kalinya Rima cuci darah, dan butuh biaya yang besar.

Ah, andai para abangnya bisa diharapkan pasti Anaya tidak akan sepusing sekarang. Sudah tiga kali Rima cuci darah, dan butuh biaya yang cukup banyak. Sejenak, Anaya teringat dengan Nolan, tiba-tiba satu hal gila terpatri di pikirannya.

***

Bab 3

Hari ini Anaya sengaja mengosongkan jadwalnya, setelah sempat tidur berjam-jam perempuan itu bersiap-siap lalu memesan taksi untuk mengantar ibunya pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Rima segera dibawa ke ruang hemodialisa.

Selama menunggu selama hampir empat jam proses pencucian darah, Anaya masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang disimpan di draft ponselnya. Setelah proses pencucian darah selesai dilakukan. Mereka pergi menemui dokter Laras yang bertugas memeriksa kondisi Rima.

“Ini hasil diagnosa terbaru, menurut hasil pemeriksaan Ibu Rima sepertinya harus rutin melakukan cuci darah selama tiga kali dalam seminggu,” ucap wanita dengan jas putih itu.

“Ti-tiga kali?” beo Rima, sama halnya dengan Anaya yang ikut terkejut.

“Benar, Bu, tiga kali rutin dalam satu minggu dan terus menerus. Hasil diagnosa lengkap sudah saya jelaskan di dalam surat, dan ini obat-obatan yang harus dikonsumsi sampai proses cuci darah selanjutnya.”

Dokter Laras menyerahkan secarik kertas berisi resep dokter yang harus ditebus di apotik. Anaya mengajak Rima untuk berdiri, mereka mengucapkan terima kasih kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Naya, kalau kamu tidak ada—“

“Ada kok, Bu. Aku akan lebih giat lagi cari uang untuk Ibu,” sela Naya, dia sudah tahu ibunya pasti akan mencegahnya jika ia tak mampu. “Aku juga bisa cuti kuliah dan menunda skripsi yang penting Ibu bisa berobat.”

Rima menggeleng. “Jangan, kamu harus lulus. Ibu gak pa-pa, Ibu pasti bisa sehat—“

“Bu, tolong hargai apa pun keputusan aku demi kebaikan Ibu,” putus Naya lalu melenggang menuju apotik untuk menebus obat.

Rima meringis pelan, dia tidak pernah ingin putrinya putus kuliah. Anaya sudah telat satu tahun dari tahun kelulusan sebelumnya. Anaya terlalu banyak mengalah demi dirinya.

***

Waktu menunjukan pukul setengah delapan malam. Setelah mengerjakan tugas-tugas kampus, Anaya segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap pergi kerja. Malam ini, Anaya akan tampil sedikit lebih rapi dan cantik dari biasanya. Ia akan mengorbankan diri agar banyak tamu yang memesan minuman padanya.

Sistem di kafe tersebut cukup unik, setiap minuman yang dipesan oleh pelanggan maka sang waitress yang melayani pelanggan tersebut akan mendapatkan bonus yang cukup menggiurkan.

“Tuhan, maafin aku. Aku kerja demi Ibu, aku janji aku gak akan bertindak aneh-aneh dan melewati batas,” ucap Anaya, setelah selesai memulas make up, perempuan itu mencatok rambutnya model keriting gantung, poninya dibiarkan menutupi dahi, tak lupa memakai pita putih sebagai pemanis.

Anaya memang cantik luar biasa, tapi dia terlalu menutup diri padahal lumayan banyak laki-laki kaya yang mendekati dirinya.

“Bu, aku berangkat dulu, ya,” pamit Anaya seraya mengambil sepatu kets miliknya.

“Tumben dandan di rumah?” tanya Rima.

“Hari Kamis biasanya lebih banyak pelanggan yang datang, Bu.” Anaya mengecup punggung tangan Rima kemudian melenggang ke gang depan komplek untuk memesan taksi.

Biasanya Anaya lebih suka jalan kaki, tapi berhubung dia sudah dandan jadi dia tidak mau membuat riasannya kembali luntur. Anaya harus cantik agar banyak memikat pelanggan, dia bahkan mengingat apa saja yang rekan-rekan kerjanya sering lakukan dengan para pelanggan di sana.

“Raba paha, dada, usap kepala, cium pipi, apalagi ya ...?” Naya hampir gila hanya karena memikirkan urutan adegan yang sering rekan kerjanya lakukan di kafe.

“Aduh, bisa gak, ya ….”

Taksi yang ditumpangi Naya berhenti di depan kafe. Perempuan itu menarik napas banyak-banyak kemudian masuk ke dalam. Sesampainya di sana, ia melihat Nolan di meja bartender. Anaya masih ingat tantangan pertemuan pertamanya dengan Nolan kemarin, jika hari ini dia bertemu lagi dengan Nolan maka akan menjadi pertemuan kedua. Anaya sengaja menghindar agar tidak bertemu Nolan lagi.

Seragam hari kamis jauh lebih sopan daripada hari sebelumnya. Hanya dress hitam lengan buntung, sampai menutupi paha, rambut digerai dan memakai high heels setinggi tiga centimeter. Anaya mulai bergerak melaksanakan tugasnya dari satu meja ke meja yang lain.

Sementara dari kejauhan, Nolan tampak tersenyum sinis menatap Anaya. Sesuatu yang berbeda terlihat di wajah perempuan itu, Anaya malam ini tampak lebih berani dari hari kemarin.

“Masih penasaran sama Anaya?” tanya Edgar.

Nolan mengangguk. “Kemarin gue ajak dia pacaran, tapi dia nolak.”

“Gila lo! Itu anak susah ditembus.”

“Oh, ya? Udah pernah nyoba?”

Edgar menggeleng. “Bos di sini mata keranjang, beberapa kali ngajak dia keluar jalan tapi ditolak terus.”

Nolan manggut-manggut, dia agak kesal melihat Anaya dengan wajah sumringah duduk di sebelah pria muda sepantaran dirinya. Anaya terlihat agresif dan berani, ia tampak berpindah dari satu meja ke meja lain, dan mau saja digoda oleh pria-pria itu.

Nolan bangkit dari duduknya, kemudian mencari meja kosong. Ia menunggu Anaya selesai dengan pelanggannya, setelah itu dia memanggil perempuan itu untuk mendekatinya. Tangan Nolan melambai, tapi Anaya bergeming di tempat.

“Sini, Anaya,” panggil Nolan.

Anaya melangkah pelan-pelan, niatnya ingin menghindar tetapi Nolan malah menghampirinya sendiri. “Mau pesan apa?” tanya Anaya.

“Senyum dong, sama orang lain kamu bisa senyum, kenapa sama saya muka kamu ketus begitu?”

Anaya menghela napas lelah. Nolan menepuk kursi di sebelahnya, meminta Anaya untuk duduk di sampingnya. Setelah Anaya duduk, Nolan merapatkan jarak mereka berdua kemudian menarik pinggang Anaya, ia meraba pelan perut perempuan itu sembari tersenyum tipis.

“Gimana? Bawa uang lima puluh juta gak?” tanya Nolan.

Anaya menoleh. “Be-belum punya.”

“Terus gimana?” Nolan semakin kasar mengusap perut Anaya.

“A-aku butuh waktu, aku—“

“Saya udah beri kamu kesempatan untuk jadi kekasih saya, tapi kamu nolak.”

“Aku gak ada waktu untuk pacaran, Nolan.”

“Oh, ya? Sibuk banget?”

“Iya, aku sibuk cari uang.”

“Kalau jadi pacar saya kamu gak akan kesusahan, bila perlu kamu gak usah kerja.”

Anaya mendelik, rasanya ingin lepas dari kungkungan Nolan tapi dia tidak bisa. Satu tangan Nolan yang lain menyentuh kaki Anaya, sementara satu tangan masih setia meraba perut gadis itu.

“Banyak yang mau jadi pacar saya, tapi kamu malah nolak saya terus.”

Anaya menggigit bibirnya, ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan ketika Nolan menyentuhnya seperti ini.

“Nolan, saya harus kerja,” kata Anaya.

“Kamu memang lagi kerja, ‘kan? Sekarang kamu kerja untuk saya, temani saya sampai jam pulang,” ucap Nolan.

“Ta-tapi—“

CUP!

Anaya mendelik, matanya membola lebar saat Nolan mengecup pipinya tiba-tiba kemudian dengan tampang tak bersalah Nolan kembali menenggak wine yang ia bawa dari meja bartender.

“Nolan, kamu—“

“Kenapa? Kamu gak mau saya cium? Tuh, lihat teman-teman kamu jauh lebih parah, masih mending saya cuma cium kamu.”

Anaya tak berani menjawab, alhasil sampai pukul setengah dua Anaya tetap duduk di samping Nolan, membiarkan lelaki itu melakukan apa pun yang ia inginkan. Mulai dari meraba kaki sampai mengecup pipi Anaya berkali-kali.

Tepat pukul tiga, Anaya sudah berada di pintu keluar kafe. Wajahnya sumringah karena berhasil membawa uang tip lumayan banyak dari para pelanggannya termasuk Nolan. Meski ia sempat menolak, tapi Nolan memaksanya mengambil uang tersebut.

“Anaya, ayo saya antar pulang,” tegur Nolan.

Anaya memundurkan langkah, dia tidak ingin berurusan dengan Nolan lagi malam ini. Cukup saat bekerja saja Nolan bertindak sesuka hati padanya, sejujurnya jauh di dalam hati Anaya merasa sangat nyaman dengan Nolan, dia berbeda dari pelanggan yang sekedar dekat untuk menggodanya.

“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Anaya.

Nolan mendekati gadis itu. “Mumpung saya lagi baik.”

“Kebaikannya disimpan aja untuk orang lain.” Anaya berbalik badan meninggalkan Nolan.

Lelaki itu terkekeh pelan, lucu sendiri melihat tingkah Anaya. Benar kata Edgar, Anaya lumayan susah ditembus, buktinya dua jam duduk bersama, Nolan berusaha memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk Anaya tetapi perempuan itu bersikap profesional mendalami pekerjaannya. Nolan salut, Anaya tidak seagresif pelayan lainnya.

Saat lelaki itu hendak berbalik badan, ia melihat sepucuk surat jatuh di tempat Anaya berdiri tadi. Nolan memungut amplop surat tersebut, dahinya mengkerut membaca tulisan di kop amplop.

“Hemodialisa, rumah sakit Bermuda?”

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED