Suara pecahan benda-benda keras terdengar dari dalam sebuah rumah mewah, hardikan penuh kemarahan juga mengiringi pertengkaran sepasang ayah dan anak. Seorang lelaki muda berusia 25 tahun keluar dari rumah itu, membanting pintu dengan kasar kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.
Namanya Nolan Eriko Zermain, sehari-hari ia bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan milik ayahnya sendiri. Nolan berjiwa bebas dan tidak suka dikekang, setiap hari ia selalu bertengkar dengan ayahnya hanya karena masalah perjodohan.
“SIAL!” makinya kesal sembari memukul-mukul setir mobil yang sedang ia kemudikan.
Ponselnya berdering berkali-kali, Nolan mendadak mual ketika membaca nama seorang perempuan yang muncul di layar ponselnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, jalanan kota sudah mulai lengang. Nolan mematikan ponsel kemudian melemparnya ke kursi belakang.
“Capek,” keluh Nolan, ia melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, menembus angin malam dengan perasaan kalut luar biasa.
Nolan benci ayah dan ibunya, Nolan benci dengan hidupnya sendiri. Ia terluka di dalam jiwa meski hidup bergelimang harta. Nolan tidak pernah bahagia, Nolan tidak pernah merasakan kasih sayang.
CIIITTT!
Nolan masih mempertahankan kesadarannya saat ia hampir menabrak seorang perempuan yang akan menyebrang ke tempat lain. Nolan memukul stir dengan kesal, kemudian membuka pintu dan berjalan keluar menemui perempuan itu.
“KALAU MAU NYEBRANG LIHAT-LIHAT!” hardik Nolan.
Perempuan itu diam saja, tubuhnya bergetar hebat, ia mendongak takut-takut melihat ke arah Nolan. “Ka-kamu gak mau minta maaf?” tanyanya berani.
“Minta maaf?” beo Nolan. “Anda yang salah, bukan saya!”
“Di depan sana lampu merah, seharusnya kamu berhenti, Pak.”
Mata Nolan melebar hanya karena panggilan ‘Pak’. Perempuan itu membetulkan kacamata warna coklat yang bertengger di atas kepala dan tas selempangnya di pundaknya, kemudian pergi meninggalkan Nolan begitu saja.
Nolan pun tak berbicara lagi, ia bergidik jijik melihat rupa gadis itu. Cantik, tapi sangat kusam seperti tidak terawat, apalagi kemeja yang dikenakan perempuan itu terlihat berantakan dan kebesaran di tubuhnya.
Nolan kembali masuk ke mobil, melajukan mobilnya masih dengan perasaan luar biasa kesal. Menit kemudian, mobil tersebut berhenti di sebuah kafe 24 jam yang terletak di sudut jalan, tempatnya tidak terlalu ramai lalu lalang orang, tetapi kafe tersebut lumayan ramai dikunjungi pemuda pemudi dewasa.
“Hai, Nolan. Long time no see. Gimana kabar lo?” sapa seorang lelaki yang berjaga di meja bartender sembari menepuk bahu Nolan.
“Kayak yang lo lihat sekarang. Masih kacau seperti dulu kala,” jawab Nolan.
Lelaki bernama Edgar itu manggut-manggut. “Mau wine atau cocktail?” tawarnya.
“Wine aja, dua botol,” pinta Nolan.
“Wah, gila lo! Sebotol aja, kalau mabuk bisa repot!” balas Edgar sembari mengelap sebuah gelas dan meletakkannya tepat di hadapan Nolan bersama dengan sebotol wine.
Nolan tersenyum miring, ia membuka botol tersebut kemudian mulai menuang isinya. Selanjutnya hanya hening mengisi ruang pikirannya, hanyut dalam kenikmatan minuman memabukan itu. Kafe tersebut memang berubah menjadi ajang berkumpul orang dewasa setiap jam 10 malam ke atas, fungsinya akan berubah ketika siang dan sore hari di mana pelajar biasa berkumpul di tempat itu juga.
Mata Nolan memicing memandang seorang perempuan dengan kemeja putih yang digulung sampai ke atas perut, sementara bagian pusatnya ditutup dengan kain tipis dengan belahan dada dibiarkan tetap terlihat, serta rok hitam di atas lutut, sepatu kets, dan rambut dikuncir kuda.
“Itu anak baru?” tanya Nolan mengedik dagu ke arah perempuan itu.
“Yang mana?” tanya Edgar balik.
“Itu di meja nomor lima.” Nolan bergidik ketika melihat seorang pria tampak menggoda gadis itu.
“Ooh, iya, baru dua hari,” jawab Edgar.
“Pantas aja kelihatan kaku.”
“Masih polos.”
“Emang ada pegawai cewek yang polos di sini?” tanya Nolan.
“Serius, Lan. Dia aslinya polos banget, kayaknya juga terpaksa kerja di sini. Kadang gue simpati lihatnya, tapi dia kelihatan semangat banget buat kerja,” tutur Edgar.
Nolan mengangkat satu alisnya, mengamati sebuah luka lebam kecil di dekat lutut gadis itu, kemudian kembali fokus dengan gelas wine di tangan.
“Bang Edgar, meja nomor lima pesan Singapore Sling,” ucap perempuan itu mendekati meja bartender, sembari meletakan gelas-gelas kotor yang ia angkut dari meja lain.
“Ok, Anaya cantik,” sahut Edgar ceria.
Mata Nolan melirik ke arah perempuan itu, ia sedikit terkejut ketika menyadari bahwa pelayan di hadapannya ini adalah perempuan yang hampir ia tabrak tadi.
“Kamu kerja di sini?” Nolan membuat perempuan itu tersentak.
“H-hah?”
Nolan berdecih, rupanya perempuan ini lupa siapa dirinya. Maklum saja, jalanan tadi cukup gelap apalagi kacamata yang Anaya gunakan sempat terlepas dan pecah saat berpapasan dengan mobil Nolan.
“Ma-maaf, Anda siapa?” tanya Anaya.
Nolan menghela napas. “Lupain aja.”
Anaya mengangguk, kemudian kembali fokus menunggu Edgar selesai membuat minuman. Sementara Nolan tampak tertarik dengan sosok Anaya yang berbeda jauh dengan yang ia lihat tadi. Tubuh mungil dengan tinggi 158 cm, kulitnya putih bersih, wajahnya terlihat lebih cantik. Pakaian yang ia kenakan jauh lebih pantas daripada kemeja kebesaran yang dipakainya tadi, wajah kusam itu menjadi terlihat jauh lebih menarik setelah diberi make up tipis.
“Silakan, Anaya. Hati-hati kerjanya,” ucap Edgar sembari meletakan gelas cocktail di atas nampan.
Anaya tersenyum manis. “Makasih, Bang Edgar.” Perempuan itu kembali ke meja nomor lima untuk melakukan tugasnya.
Anaya diminta duduk di tengah-tengah bersama dua pria bertubuh tambun yang wajahnya hampir terlihat setengah mabuk. Meski Anaya enggan, dia harus melakukannya karena ini merupakan bagian dari service kafe.
Nolan memperhatikan Anaya dari jauh, ia tersenyum licik seraya mengumpat dalam hati saat melihat tangan dua pria itu mengusap-usap paha Anaya. Sementara Anaya sendiri tidak bisa melawan dan hanya menampilkan senyuman manis agar dua pria itu tidak kecewa.
“Lo bilang polos, tuh, buktinya digrepe-grepe diam aja,” kata Nolan.
“Itu keinginan pelanggan, kalau dia nolak bisa tutup, nih, kafe,” sahut Edgar.
“Berarti gue juga boleh dong?”
“Ngapain? Grepe-grepe?”
Nolan mengangguk.
“Tumben, dari dulu mana mau lo dekat-dekat sama waitress di sini. Gue pikir lo homo,” canda Edgar.
Nolan berdecih kemudian menyuruh Edgar untuk memanggil Anaya. Detik kemudian, Anaya bangkit dari duduknya, berpamitan dengan dua pria itu.
“Ada apa, Bang Edgar?” tanya Anaya sopan.
“Nih, teman gue minta ditemani,” kata Edgar mengedik dagu ke arah Nolan.
“Kamu mau aku temani?”
Nolan mengangguk. “Duduk di sini aja, jangan sama bapak-bapak.”
Anaya mengangguk, kemudian duduk di kursi di sebelah Nolan. Selama duduk di sampingnya, Nolan tidak banyak bicara kepada Anaya, perempuan itu sendiri tidak tahu mau berbuat apa karena Nolan tidak terlihat berminat padanya.
“Pak, kalau gitu saya permisi dulu, ya. Pekerjaan saya masih—”
“Siapa yang suruh kamu pergi? Temani saya sampai pagi,” sela Nolan.
“Ta-tapi—“
“Udah gak pa-pa, Nay. Kamu temani aja sampai jam pulang,” sambung Edgar.
Anaya mengangguk, kembali duduk tenang sembari menunggu waktu pulang.
“Dek, duduk sama saya lagi, yuk,” ajak seorang pria yang tadi duduk di kursi nomor lima yang tiba-tiba menghampiri meja bartender untuk menggoda Anaya.
“Saya masih harus layani tamu, Om,” jawab Anaya.
“Saya juga tamu ….” Tangan pria itu bergerak nakal membelai pinggang Anaya.
Nolan berdecih kasar, ia menarik kursi Anaya agar lebih dekat dengannya kemudian ia memeluk perut perempuan itu dari belakang.
“Dia udah saya booking malam ini, bentar lagi saya bawa ke hotel,” sergah Nolan galak.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, sudah saatnya Anaya pulang bekerja. Malam ini dia sudah cukup bersyukur karena seseorang menyelamatkannya dari godaan pria hidung belang tadi. Meski caranya cukup kasar, tapi Anaya ingin sekali bertemu lagi untuk mengucapkan terima kasih.
“Bang Edgar, Naya pulang, ya,” pamitnya.
“Iya, Nay, hati-hati. Jangan jalan kaki, ya.”
Anaya mengangguk, ia bersyukur uang tip dari beberapa pelanggan yang ia temui hari ini lumayan cukup besar jadi ia bisa memesan taksi untuk pulang ke rumah. Anaya menghirup udara malam dengan hikmat, kemudian menghembusnya perlahan. Banyak sekali angan-angannya hari ini karena pulang dengan membawa banyak uang hasil bekerja harian.
TIINN!
Suara klakson mengagetkan dirinya, Nolan turun dari mobil lalu menghampiri Anaya. “Udah ingat sama saya belum?”
Anaya mengerjap mata berkali-kali, dia tentu tahu sosok Nolan yang sudah menyelamatkannya dari pria hidung belang, tapi bukan itu poin pentingnya. Melainkan mobil Rolls Royce yang Nolan kendarai merupakan mobil yang sama dengan mobil yang hampir menabraknya saat berangkat kerja.
“Bapak yang tadi mau nabrak saya?” tanya Anaya polos.
“Ck! Saya bukan bapak kamu jadi berhenti panggil saya bapak!” sentak Nolan.
“Ma-maaf.” Anaya menundukan kepala. “Lalu saya harus panggil apa?”
Nolan mengulurkan tangannya. “Saya Nolan, nama kamu siapa?” tanyanya skeptis padahal dia sudah tahu.
Anaya membalas uluran tangan Nolan dengan ragu-ragu. “Anaya,” jawabnya pelan. “Nolan, maaf kalau saya ada salah, terima kasih karena sudah menolong saya tadi.”
Nolan tak menjawab, ia mengamati Anaya dari atas sampai bawah. Penampilan perempuan itu berubah drastis, make up-nya masih terpasang tipis di wajah, tetapi pakaian seksinya saat di kafe tadi sudah di ganti dengan celana jeans hitam dan kemeja kebesaran, rambutnya juga dibiarkan tergerai menutupi bahu.
“Mobil saya lecet,” kata Nolan.
Mata Anaya melebar. “Lecet?”
“Iya, gara-gara kamu.”
Anaya tampak gugup, ekspresinya membuat Nolan menahan tawa mati-matian. “Aku harus ganti?” tanya Anaya polos.
“Ganti. Mobil saya mahal.”
Anaya menghela napas kasar, bibirnya tertekuk ke bawah, matanya berkaca-kaca, semakin membuat Nolan ingin menertawakannya.
“Aku belum ada uang, Nolan.”
“Saya gak minta ganti sekarang, tapi saya akan rajin datang ke sini biar kamu gak lupa kalau kamu punya hutang sama saya,” pungkas Nolan.
Anaya mengangguk cepat. “Kira-kira saya harus ganti berapa?”
“Lima puluh juta,” jawab Nolan cepat, sontak membuat Anaya melebarkan matanya.
“Banyak sekali, aku gak punya uang sebanyak itu. Aku punya tabungan, tapi itu untuk persiapan bayar skripsi dan wisuda,” ujar Anaya.
“Saya gak peduli, skripsi dan wisuda kamu bisa ditunda,” sela Nolan.
“Aku udah telat setahun, Nolan. Aku harus lulus biar cepat-cepat keluar dari pekerjaan ini.”
Nolan tersenyum miring, mendekatkan tubuhnya dengan Anaya. Perempuan itu hendak menghindar, tetapi Nolan dengan cepat menahan pinggangnya. “Kamu harus ganti rugi, mobil saya lecet.”
Anaya mengangguk lemah. “Pasti aku ganti, tapi gak sekarang.”
“Ok, saya punya penawaran menarik untuk kamu ...” Nolan menggantung ucapannya.
Anaya diam, menunggu perkataan Nolan selanjutnya.
“Jadi kekasih saya, maka hutang kamu saya anggap lunas,” lanjut Nolan.
Anaya mendorong tubuh Nolan dengan cepat, kemudian menundukan kepala karena mendadak merasa gugup. “Maaf, tapi aku gak bisa.”
“Ok, gak pa-pa kalau gak mau. Saya tunggu uang lima puluh juta dua hari dari sekarang.”
Anaya terperangah. “Bisa beri aku waktu lebih banyak?”
Nolan menggeleng. “Saya gak mau ambil resiko, karena mobil ini milik ayah saya, bukan milik saya,” bohongnya. “Papa saya galak, punya banyak preman yang bisa datangi rumah kamu kapan pun dia mau.”
“Ka-kalau gitu satu minggu. Beri aku waktu satu minggu,” mohon Anaya.
“Gak bisa, saya mau dua hari.”
“Please ...,” mohon Anaya, tapi Nolan bergeming. Lelaki itu kembali mendekati Anaya, menatap gadis itu sendu.
“Kalau begitu, di pertemuan kita yang ketiga kamu sudah harus jadi kekasih saya,” ucap Nolan tegas.
“Gak mau,” jawab Anaya. “Aku lebih baik bayar utang daripada jadi kekasih kamu, aku gak kenal sama kamu.”
“Kan tadi udah kenalan.”
“Aku tetap gak mau, Nolan,” tolak Anaya tegas.
“Ok, saya tunggu uangnya besok!” Nolan segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan Anaya yang terkejut setengah mati.
“NOLAN, TUNGGU! AKU BELUM SELESAI BICARA!” teriak Anaya, ia berlari mengejar mobil Nolan, sementara sang pemilik mobil tertawa bahagia sembari melihat ekspresi Anaya di kaca spion.
“Cantik, sayang kalau jadi milik orang lain. Lebih baik saya kerjain,” gumam Nolan.
***
Anaya Trixie, perempuan berusia 23 tahun, seorang mahasiswi semester akhir yang cantik dan sangat mandiri. Dia tinggal berdua dengan Rima—ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Anaya punya dua kakak laki-laki yang tinggal di luar negeri semenjak keduanya menikah.
Setiap hari kegiatan Anaya tidak pernah jauh dari kampus dan tugas-tugas akhir, kemudian setelah mengerjakan tugas kampus Anaya akan pergi ke kafe untuk lanjut bekerja sampai pukul tiga pagi hari.
“Ibu belum tidur?” Anaya menegur Rima, wanita itu tampak masih bersantai di sofa.
Rima—usianya sudah menginjak kepala enam, ia menyuruh Anaya duduk untuk menikmati teh buatannya. “Ibu kebangun, langsung duduk di sini menunggu kamu pulang.”
“Harusnya Ibu tidur lagi, Ibu kan gak boleh begadang,” balas Anaya, kemudian duduk di sebelah Rima lalu menarik satu kaki wanita itu dan memijatnya perlahan.
“Eh, gak usah dipijat. Kamu capek—“
“Gak, Bu. Hari ini aku gak terlalu capek, aku senang hari ini ada pelanggan yang baik banget sama aku,” curhatnya mengingat Nolan.
Rima tersenyum tipis, agak miris melihat semangat yang Anaya tunjukan. Pasalnya, beberapa orang di sekitar lingkungan tersebut banyak yang berasumsi bahwa Anaya bekerja sebagai wanita penghibur, padahal kenyataannya bukan begitu.
Bahkan sudah dibuktikan dengan penuturan seorang warga yang diam-diam mengikuti Anaya bekerja di kafe, orang itu mengatakan bahwa Anaya hanya bekerja sebagai pelayan biasa. Namun, stigma buruk rupanya tidak bisa lepas dari gadis itu.
“Naya, tadi Ibu telpon Abangmu yang tinggal di Malaysia,” beritahu Rima.
“Ibu minta uang lagi?”
Rima mengangguk lemah. “Abangmu bilang lagi banyak keperluan karena sebentar lagi istrinya melahirkan anak kedua.”
Anaya menghela napas. “Bu, aku kan udah bilang kalau Bang Anjar dan Bang Dewa gak akan mau menafkahi Ibu lagi. Istri-istri mereka aja pelitnya setengah mampus, aku bingung sama Abang kenapa mereka semua jadi sombong sama Ibu.”
“Hushh ... jangan bilang begitu, Naya.”
“Kenyataannya begitu, Bu. Sejak mereka menikah, mereka gak pernah jenguk Ibu sama sekali, aku pernah dengar istrinya Bang Dewa bilang kalau dia gak izinkan Bang Dewa kasih uang untuk bantu kuliahku. Aku gak masalah, aku bisa cari uang sendiri, tapi setidaknya mereka harus ingat sama Ibu,” tutur Anaya, nada bicaranya terdengar ketus.
“Bahkan saat Ibu sakit, mereka gak pernah ada niat jenguk Ibu sama sekali. Ah, mereka udah gak butuh Ibu mungkin.”
Rima menghela napas, ia bangkit dari rebahan, mengambil sebuah amplop yang sejak tadi ia tindih di balik badan. “Besok Ibu harus cuci darah lagi sekalian periksa,” ucapnya sembari menyerahkan amplop tersebut kepada Anaya.
Anaya membaca surat diagnosa tersebut, wajahnya berubah datar, kemudian menatap Rima. “Besok aku antar ke rumah sakit ya, Bu.”
“Gak usah, Nay. Ibu gak mau merepotkan kamu.”
“Aku gak merasa direpotkan Ibu, kesehatan Ibu lebih penting.” Anaya menahan air matanya, ini sudah ketiga kalinya Rima cuci darah, dan butuh biaya yang besar.
Ah, andai para abangnya bisa diharapkan pasti Anaya tidak akan sepusing sekarang. Sudah tiga kali Rima cuci darah, dan butuh biaya yang cukup banyak. Sejenak, Anaya teringat dengan Nolan, tiba-tiba satu hal gila terpatri di pikirannya.
***
Hari ini Anaya sengaja mengosongkan jadwalnya, setelah sempat tidur berjam-jam perempuan itu bersiap-siap lalu memesan taksi untuk mengantar ibunya pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Rima segera dibawa ke ruang hemodialisa.
Selama menunggu selama hampir empat jam proses pencucian darah, Anaya masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang disimpan di draft ponselnya. Setelah proses pencucian darah selesai dilakukan. Mereka pergi menemui dokter Laras yang bertugas memeriksa kondisi Rima.
“Ini hasil diagnosa terbaru, menurut hasil pemeriksaan Ibu Rima sepertinya harus rutin melakukan cuci darah selama tiga kali dalam seminggu,” ucap wanita dengan jas putih itu.
“Ti-tiga kali?” beo Rima, sama halnya dengan Anaya yang ikut terkejut.
“Benar, Bu, tiga kali rutin dalam satu minggu dan terus menerus. Hasil diagnosa lengkap sudah saya jelaskan di dalam surat, dan ini obat-obatan yang harus dikonsumsi sampai proses cuci darah selanjutnya.”
Dokter Laras menyerahkan secarik kertas berisi resep dokter yang harus ditebus di apotik. Anaya mengajak Rima untuk berdiri, mereka mengucapkan terima kasih kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Naya, kalau kamu tidak ada—“
“Ada kok, Bu. Aku akan lebih giat lagi cari uang untuk Ibu,” sela Naya, dia sudah tahu ibunya pasti akan mencegahnya jika ia tak mampu. “Aku juga bisa cuti kuliah dan menunda skripsi yang penting Ibu bisa berobat.”
Rima menggeleng. “Jangan, kamu harus lulus. Ibu gak pa-pa, Ibu pasti bisa sehat—“
“Bu, tolong hargai apa pun keputusan aku demi kebaikan Ibu,” putus Naya lalu melenggang menuju apotik untuk menebus obat.
Rima meringis pelan, dia tidak pernah ingin putrinya putus kuliah. Anaya sudah telat satu tahun dari tahun kelulusan sebelumnya. Anaya terlalu banyak mengalah demi dirinya.
***
Waktu menunjukan pukul setengah delapan malam. Setelah mengerjakan tugas-tugas kampus, Anaya segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersiap pergi kerja. Malam ini, Anaya akan tampil sedikit lebih rapi dan cantik dari biasanya. Ia akan mengorbankan diri agar banyak tamu yang memesan minuman padanya.
Sistem di kafe tersebut cukup unik, setiap minuman yang dipesan oleh pelanggan maka sang waitress yang melayani pelanggan tersebut akan mendapatkan bonus yang cukup menggiurkan.
“Tuhan, maafin aku. Aku kerja demi Ibu, aku janji aku gak akan bertindak aneh-aneh dan melewati batas,” ucap Anaya, setelah selesai memulas make up, perempuan itu mencatok rambutnya model keriting gantung, poninya dibiarkan menutupi dahi, tak lupa memakai pita putih sebagai pemanis.
Anaya memang cantik luar biasa, tapi dia terlalu menutup diri padahal lumayan banyak laki-laki kaya yang mendekati dirinya.
“Bu, aku berangkat dulu, ya,” pamit Anaya seraya mengambil sepatu kets miliknya.
“Tumben dandan di rumah?” tanya Rima.
“Hari Kamis biasanya lebih banyak pelanggan yang datang, Bu.” Anaya mengecup punggung tangan Rima kemudian melenggang ke gang depan komplek untuk memesan taksi.
Biasanya Anaya lebih suka jalan kaki, tapi berhubung dia sudah dandan jadi dia tidak mau membuat riasannya kembali luntur. Anaya harus cantik agar banyak memikat pelanggan, dia bahkan mengingat apa saja yang rekan-rekan kerjanya sering lakukan dengan para pelanggan di sana.
“Raba paha, dada, usap kepala, cium pipi, apalagi ya ...?” Naya hampir gila hanya karena memikirkan urutan adegan yang sering rekan kerjanya lakukan di kafe.
“Aduh, bisa gak, ya ….”
Taksi yang ditumpangi Naya berhenti di depan kafe. Perempuan itu menarik napas banyak-banyak kemudian masuk ke dalam. Sesampainya di sana, ia melihat Nolan di meja bartender. Anaya masih ingat tantangan pertemuan pertamanya dengan Nolan kemarin, jika hari ini dia bertemu lagi dengan Nolan maka akan menjadi pertemuan kedua. Anaya sengaja menghindar agar tidak bertemu Nolan lagi.
Seragam hari kamis jauh lebih sopan daripada hari sebelumnya. Hanya dress hitam lengan buntung, sampai menutupi paha, rambut digerai dan memakai high heels setinggi tiga centimeter. Anaya mulai bergerak melaksanakan tugasnya dari satu meja ke meja yang lain.
Sementara dari kejauhan, Nolan tampak tersenyum sinis menatap Anaya. Sesuatu yang berbeda terlihat di wajah perempuan itu, Anaya malam ini tampak lebih berani dari hari kemarin.
“Masih penasaran sama Anaya?” tanya Edgar.
Nolan mengangguk. “Kemarin gue ajak dia pacaran, tapi dia nolak.”
“Gila lo! Itu anak susah ditembus.”
“Oh, ya? Udah pernah nyoba?”
Edgar menggeleng. “Bos di sini mata keranjang, beberapa kali ngajak dia keluar jalan tapi ditolak terus.”
Nolan manggut-manggut, dia agak kesal melihat Anaya dengan wajah sumringah duduk di sebelah pria muda sepantaran dirinya. Anaya terlihat agresif dan berani, ia tampak berpindah dari satu meja ke meja lain, dan mau saja digoda oleh pria-pria itu.
Nolan bangkit dari duduknya, kemudian mencari meja kosong. Ia menunggu Anaya selesai dengan pelanggannya, setelah itu dia memanggil perempuan itu untuk mendekatinya. Tangan Nolan melambai, tapi Anaya bergeming di tempat.
“Sini, Anaya,” panggil Nolan.
Anaya melangkah pelan-pelan, niatnya ingin menghindar tetapi Nolan malah menghampirinya sendiri. “Mau pesan apa?” tanya Anaya.
“Senyum dong, sama orang lain kamu bisa senyum, kenapa sama saya muka kamu ketus begitu?”
Anaya menghela napas lelah. Nolan menepuk kursi di sebelahnya, meminta Anaya untuk duduk di sampingnya. Setelah Anaya duduk, Nolan merapatkan jarak mereka berdua kemudian menarik pinggang Anaya, ia meraba pelan perut perempuan itu sembari tersenyum tipis.
“Gimana? Bawa uang lima puluh juta gak?” tanya Nolan.
Anaya menoleh. “Be-belum punya.”
“Terus gimana?” Nolan semakin kasar mengusap perut Anaya.
“A-aku butuh waktu, aku—“
“Saya udah beri kamu kesempatan untuk jadi kekasih saya, tapi kamu nolak.”
“Aku gak ada waktu untuk pacaran, Nolan.”
“Oh, ya? Sibuk banget?”
“Iya, aku sibuk cari uang.”
“Kalau jadi pacar saya kamu gak akan kesusahan, bila perlu kamu gak usah kerja.”
Anaya mendelik, rasanya ingin lepas dari kungkungan Nolan tapi dia tidak bisa. Satu tangan Nolan yang lain menyentuh kaki Anaya, sementara satu tangan masih setia meraba perut gadis itu.
“Banyak yang mau jadi pacar saya, tapi kamu malah nolak saya terus.”
Anaya menggigit bibirnya, ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan ketika Nolan menyentuhnya seperti ini.
“Nolan, saya harus kerja,” kata Anaya.
“Kamu memang lagi kerja, ‘kan? Sekarang kamu kerja untuk saya, temani saya sampai jam pulang,” ucap Nolan.
“Ta-tapi—“
CUP!
Anaya mendelik, matanya membola lebar saat Nolan mengecup pipinya tiba-tiba kemudian dengan tampang tak bersalah Nolan kembali menenggak wine yang ia bawa dari meja bartender.
“Nolan, kamu—“
“Kenapa? Kamu gak mau saya cium? Tuh, lihat teman-teman kamu jauh lebih parah, masih mending saya cuma cium kamu.”
Anaya tak berani menjawab, alhasil sampai pukul setengah dua Anaya tetap duduk di samping Nolan, membiarkan lelaki itu melakukan apa pun yang ia inginkan. Mulai dari meraba kaki sampai mengecup pipi Anaya berkali-kali.
Tepat pukul tiga, Anaya sudah berada di pintu keluar kafe. Wajahnya sumringah karena berhasil membawa uang tip lumayan banyak dari para pelanggannya termasuk Nolan. Meski ia sempat menolak, tapi Nolan memaksanya mengambil uang tersebut.
“Anaya, ayo saya antar pulang,” tegur Nolan.
Anaya memundurkan langkah, dia tidak ingin berurusan dengan Nolan lagi malam ini. Cukup saat bekerja saja Nolan bertindak sesuka hati padanya, sejujurnya jauh di dalam hati Anaya merasa sangat nyaman dengan Nolan, dia berbeda dari pelanggan yang sekedar dekat untuk menggodanya.
“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Anaya.
Nolan mendekati gadis itu. “Mumpung saya lagi baik.”
“Kebaikannya disimpan aja untuk orang lain.” Anaya berbalik badan meninggalkan Nolan.
Lelaki itu terkekeh pelan, lucu sendiri melihat tingkah Anaya. Benar kata Edgar, Anaya lumayan susah ditembus, buktinya dua jam duduk bersama, Nolan berusaha memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk Anaya tetapi perempuan itu bersikap profesional mendalami pekerjaannya. Nolan salut, Anaya tidak seagresif pelayan lainnya.
Saat lelaki itu hendak berbalik badan, ia melihat sepucuk surat jatuh di tempat Anaya berdiri tadi. Nolan memungut amplop surat tersebut, dahinya mengkerut membaca tulisan di kop amplop.
“Hemodialisa, rumah sakit Bermuda?”
***