Bab 1

Aku menembus jalan terjal mengendarai sepeda motor. Kakiku berkali-kali harus memijak tanah untuk menjaga agar motor tetap stabil, membuat sepatuku berdebu tebal. Terjal, berdebu, dan kadang-kadang harus mendaki bukit berbatu kerikil yang licin. Seperti itulah medan jalan yang harus kutempuh.

Desa yang kulalui ini cukup terpencil. Tapi karena sebuah tugas mulia, aku harus menyusurinya dengan sabar. Kira-kira, setiap setengah jam sekali, aku harus berhenti sejenak, menyandarkan motor dan bertanya kepada penduduk sekitar.

"Pak, bisa tanya, dimana SD Negeri ya?"

"Apa masih jauh dari sini?"

"Nanti dari sini belok kemana?"

Itu adalah deretan pertanyaan yang aku ulang-ulang setiap kali berpapasan dengan penduduk sekitar. Petani, peternak bebek, dan ibu-ibu yang menenteng rantang, siapapun aku tanyai. Maklum, selain baru pertama menjelajahi daerah itu, aku kesulitan menemukan tempat yang harus kutuju karena sepanjang perjalanan, tidak banyak ancar-ancar yang bisa aku jadikan patokan. Hanya sawah menghijau, kebun, dan rumah-rumah penduduk yang tak banyak berbeda satu dengan lainnya. Karena takut nyasar lebih jauh itulah, aku harus rajin-rajin bertanya kepada penduduk sekitar yang berpapasan denganku.

"Oo, Nanti bapak terus kira-kira 500 meter. Di situ ada poskamling, belok kanan." jawab seorang petani yang sedang mengikat jerami.

"Berarti tidak jauh lagi," gumamku. "Terima kasih, Pak..." balasku kepada petani ramah itu.

Sebenarnya rada gondok juga sewaktu petani tua itu memanggilku dengan sebutan ’Bapak’. Aku masih 25 tahun, single, dan berperawakan seperti anak muda lazimnya. Tak berkumis, dan rambutpun masih hitam tebal. Aku sering melatih ototku ketika masih tinggal di kota. Seminggu dua kali, aku angkat barbel dan lari di atas treadmill. Tak heran, walaupun medannya berat, tenagaku tak terkuras. Aku masih kuat mencari tempat yang harus kutuju.

Pukul 8.35, aku menemukan SD yang kumaksud. Hmm, tipikal SD negeri di desa. Halamannya tidak terlalu luas dengan tiang bendera di bagian tengahnya, cukup untuk menampung belasan anak saat upacara. Gurunya pun pasti juga tidak terlalu banyak, tebakku. Walaupun kecil, halamannya cukup rapi. Bunga-bunga di tata di sekitar selasar sekolah. Aku tak terlalu mengamati kompleks sekolah itu terlalu lama karena hari mulai siang.

Buru-buru, di tengah kesunyian sekolah karena anak-anak sedang menjalani ujian, aku mencari kantor kepala sekolah, mengetuk pintu, dan menunggu siapapun yang keluar dari ruang bertuliskan ’Kepala Sekolah’ itu. Tak berapa lama, gagang pintu itu seperti ditekan ke bawah dan pintu coklat yang terbuat dari kayu itupun serasa ditarik dari dalam.

"Maaf, saya mencari Bu Irda," sapaku kepada seorang wanita yang membuka pintu itu.

Seorang wanita berpakaian dinas berwarna coklat, berdiri di hadapanku. Wanita itu sepertinya belum terlalu tua. Mungkin berusia 30 tahunan. Tubuhnya mungil namun wajahnya manis. "Oh ya, saya sendiri..." jawabnya dengan intonasi yang cukup jelas. "Kamu Alfred kah?" tebaknya.

"Benar, bu. Saya Alfred, utusan dari dinas kota." aku menjelaskan.

Tangannya yang halus menjabat tanganku. Bu Irda mengenakan kacamata berbingkai tebal sehingga menambah aksen manisnya. Hidungnya mancung dan ia memiliki alis yang lebat. Setelah mempersilakan masuk, ia berbalik dan saya menguntitnya dari belakang. Rambut hitamnya terurai hingga menutupi pundaknya. Benar-benar terawat!

"Kita sudah menunggumu," kata Bu Irda mengawali pembicaraan ketika kami duduk. Ia memberi kode kepada seorang lelaki tua yang melintas di luar ruangan. Orang itu berhenti sejenak dan langsung mengangguk.

"Kamu pasti haus, bentar lagi Pak Bardi bawain teh kok." ucapnya singkat.

"Oh, makasih, bu. Jadi ngrepotin." balasku pelan. Kami tertawa kecil berdua.

Suasana yang awalnya tegang, perlahan-lahan mencair. Aku membiarkan Bu Irda membaca dengan penuh selidik dokumen-dokumen yang aku bawa. Satu lembar berganti dengan lembar yang lain. Kadang-kadang, ia tersenyum sendiri. Aku tak tahu, mungkin ia geli melihat foto ijazahku yang masih tampak culun. Atau ia kagum dengan nilai-nilaiku yang bagus.

Ah, tak tahulah aku...

"Jadi intinya gini..." bu Irda memecah keheningan. Wajahnya yang tirus menatapku tajam-tajam. "Saya ucapkan terima kasih karena Mas Alfred mau kerja di sini, jauh dari kota..."

Aku mengangguk-angguk.

"Beberapa guru yang mengabdi bertahun-tahun di sini sudah pensiun dan Mas Alfred diharapkan bisa mengisi kekosongan mereka," Bu Irda menjelaskan.

Sambil kuseruput teh yang masih panas, Bu Irda menjelaskan panjang lebar tentang kondisi sekolah. Aku mendengarkannya dengan nyaman. Bu Irda sebenarnya belum cocok jadi kepala sekolah, kataku dalam hati. Ia bahkan terlalu manis untuk menjadi seorang kepala sekolah. Tapi biarlah. Seragam coklatnya malah membuatnya tampak anggun.

"Kita sudah siapin tempat tinggal buat kamu. Lokasinya dekat Umbul. Agak jauh dari jalan, tapi tempatnya teduh. Semoga kamu nyaman," Bu Irda berdiri dan menyalamiku. Pembicaraan berakhir dan aku harus mencari tempat tinggal yang dimaksud.

"Nanti sore saya pasti akan mampir ke rumahmu." katanya menutup pembicaraan.

Aku mengangguk kikuk dan mengucapkan terima kasih. Dalam batinku, "Mengapa Bu Irda yang kepala sekolah mau datang ke rumahku sore-sore ya? Ah, sudahlah." aku membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu lenyap dari benakku.

*^*

Di bawah gemerisik pohon-pohon bambu, aku memasuki rumah yang dimaksud. Butuh waktu 30 menit untuk mencari rumah bercat putih itu. Rute dari jalan utama hingga tepat berada di halaman kecil di depan rumah itu memang tidak ramah untuk kendaraan roda empat. Sempit, terjal, dan berbatu. Jadi, aku cukup kewalahan. Rumahnya tidak terlalu besar, mungkin hanya satu kamar.

Kumasukkan kunci pintu yang sudah dititipkan olehku sejak dari kota dan hanya dengan sedikit putaran, pintu itu terbuka. Aku menyusuri rumah sederhana itu. Cukup asri namun lembab. Ada satu ruang tidur dan dapur.

Tunggu dulu! Ada yang aneh dari dalam tubuhku. Hasrat yang sudah aku pendam sejak 2 jam perjalanan dari kota hingga berada di dalam rumah ini tampaknya harus segera diakhiri. Aku melepas tas dan menanggalkan jaketku yang berdebu dan mencari... kamar mandi!

Aku sudah menahan rasa ingin buang air kecil sepanjang perjalanan, namun... astaga... setelah berkeliling rumah, keluar masuk halaman, aku menyadari kalau rumah itu tak dilengkapi kamar mandi. Aku sangat kebelet. Dengan jingkrak-jingkrak menuju halaman belakang, kubuka retsleting celana, dan mengeluarkan penisku dari balik celana dalamku, dan... cuuurrrr... menyemburlah air pipisku di balik pohon pisang.

“Legaaaa....” kataku pada diri sendiri.

Sekarang sudah pukul 16.00. Karena tak ada kamar mandi, badanku tetap lusuh sepanjang hari itu. Wajahku berminyak habis dan hanya bisa diseka menggunakan tisu kering. Sudahlah, hiburku. Mungkin nanti bisa numpang mandi di sekolahan.

Tok-tok-tok... Tiba-tiba pintu rumah terasa diketuk dari luar. Aku menghampiri dan membukakan pintu.

"Sore, Alfred..."

Hah, Bu Irda. Aku sedikit kaget. Lupa diriku kalau Bu Irda berjanji untuk mengunjungiku sore hari itu. Aku tampak gelagapan karena hanya pakai celana pendek dan kaos oblong. Wah, pasti mau bicara kerjaan nih, begitu isi pikiranku di tengah rasa panik ingin segera menyambar baju resmiku.

Tapi Bu Irda segera mengusir rasa panikku. Ia menjawab, "Sudah nggak usah repot-repot. Kok blingsatan sendiri sih?" sambil diiringi tawa kecil.

Rambutnya yang terurai itu dikucir dan diikat menggunakan pengikat plastik. Bu Irda sendiri hanya memakai pakaian biasa. Celana panjang kain dan kaos merah. Ia tampak menenteng tas plastik kecil transparan. Sekilas terlihat ada peralatan mandi dan handuk kecil.

"Ayo kita ke Umbul untuk mandi," ajaknya.

Karena sudah lusuh dan membutuhkan kesegaran, aku pun menurutinya. Aku minta waktu sebentar untuk menyiapkan peralatan mandiku. Ternyata, dalam hatiku berbicara, penduduk di sini masih mandi menggunakan Umbul. Ya sudah, apa boleh buat.

Kami berjalan berdua sambil mengobrol. Umbul itu jaraknya kira-kira 100 meter dari rumahku sehingga ada banyak yang kami obrolkan. Karena berperawakan kecil dan tampak masih muda, Bu Irda tidak tampak menyeramkan bagiku. Bahkan, suara lembutnya menggiringku ke dalam obrolan yang sangat santai sore hari itu.

"Masyarakat di sini mandi di Umbul. Tak ada sumber mata air lain kecuali di Umbul itu." jelas Bu Irda. Aku mengangguk berkali-kali. "Jadi, kalo mau mandi atau kebelet, ya terpaksa harus ke Umbul." tambahnya.

Bu Irda melirikku yang sedang tersenyum simpul. "Beda kan dibanding tinggal di kota. Apa-apa sudah ada..." godanya.

Ah tidak apa-apa bu, asal ada ibu semuanya bisa diatur, batinku menggoda diriku sendiri.

*^*

Jangan lewatkan baca juga kisah super baper “Takdir Cinta Gigolo Kampung”

Bab 2

Suara gemericik sudah mulai terdengar. Ah, umbul pasti sudah dekat. Tapi, beberapa langkah aku mengayunkan kakiku, mataku terbelalak lebar. "Hah...?!"

Kami berpapasan dengan rombongan ibu-ibu setengah baya, mungkin berusia 40 tahunan. Yang membuatku kaget dan terpaku adalah... payudara mereka! Mereka berjalan berlawanan arah hanya mengenakan jarit yang menutupi pinggang ke bawah. Sementara itu, payudara mereka dibiarkan terbuka dengan jelas! Menggantung seperti pepaya masak! Putingnya sudah hitam dan membesar seperti tutup gelas. Mereka menunduk ramah ketika berpapasan dengan kami berdua. Beberapa di antaranya menyapa kami.

"Mari..."

Bu Irda pun membalas, "Mari..."

"Bu... kok..." aku shock, bingung.

"Oh..." Bu Irda mendeteksi kekagetanku, "Ini kan di desa, Fred. Jadi wajar kalo kamu liat ibu-ibu bertelanjang dada."

"Iya sih, bu, masih tradisional ya?" kataku tersipu sambil menggaruk-garuk kepala.

Umbul itu berbentuk kolam yang cukup luas. Ada air terjun kecil yang digiring menggunakan pipa-pipa bambu. Teduh dan semriwing tempatnya. Di situ ada ember-ember hitam dan Bu Irda mengambil satu. Ia pun memberiku kode untuk membawa ember lainnya.

"Untuk meletakkan baju, biar nggak kotor dan basah... boleh kok diambil," katanya diiringi suara merdu alam.

Aku menyadari kalo umbul itu tak memiliki sekat. Hanya kolam terbuka yang dalamnya kira-kira sebetis orang dewasa. Mungkin Bu Irda hanya membasuh wajah, kaki, dan tangannya saja. Atau, ia akan mengusirku nanti kalau ia ingin mandi. Begitu dugaku.

"Yuk, mandi..." Bu Irda berdiri di samping Umbul, dengan menyilangkan tangannya, ia menarik pakaiannya ke atas. Tubuhnya yang mungil terlihat dengan jelas. Perutnya rata dan Bu Irda mengenakan BH coklat dengan renda-renda sederhana. Aku mulai tersipu.

Tapi, belum hilang rasa tersipuku itu, lagi-lagi Bu Irda membuat jantungku berdetak kencang. Ia melepaskan kaitan di celananya, menurunkan retsliting, dan memelorotkan celana panjang coklatnya itu. Tampaklah celana dalam satin berwarna biru dari balik celana panjangnya itu. Ada pita kecil di bagian atas celana dalam itu. Kaki Bu Irda jenjang dan mulus. Putih, lebih putih daripada lengannya. Tapi anehnya, Bu Irda sepertinya sangat cuek.

Dan... "OMG...!!!" jeritku dalam hati. Seperti tak puas hanya dengan memamerkan pakaian dalamnya dan kakinya yang jenjang, tangan Bu Irda diputar ke belakang, dan melepaskan kaitan BH coklat yang ia kenakan. Setelah terlepas, BH itu ditarik keluar dan tangan kanannya meraih serta meletakkannya ke dalam ember. Gunung kembarnya mencuat keluar, seolah-olah ingin ikut merasakan semilirnya angin di sekitar umbul. Kencang dan padat.

Pemandangan yang benar-benar luar biasa, aku berusaha tak berkedip. Jantungku berdetak sangat kencang, dua kali lebih kencang, dan rahangku mengeras, membuat setetes ludah yang masuk ke tenggorokanku pun mampu menjungkir balikkan jakunku yang menonjol di dalam leherku. Dan... mau tak mau penisku menegang sangat keras!

Bu Irda, kamu cantik sekali!

Setelah membenarkan ikatan rambutnya dan mengenakan kacamatanya kembali, Bu Irda menatapku yang berdiri kaku. "Ayo, kok belum dibuka sih bajunya?" katanya namun tanpa ada usaha apapun untuk menutupi kedua payudaranya yang indah itu. Ia biarkan dadanya yang menonjol itu tak dihalangi oleh apapun, baik menggunakan tangan atau jari.

"Oh, iya-ya, bu.” jawabku memecah kebekuanku. Aku pun melepas baju, menyisakan celana pendek yang kupakai dari rumah.

Bu Irda menungguku dan kami berdua melangkah masuk ke dalam umbul. Kakinya yang lembut dan bersih menciptakan bunyi-bunyi gemericik di dalam air. Aku melirik Bu Irda dari belakang. Lehernya putih mulus dan pundaknya bersih serta lembut.

Ia melangkahkan kakinya menuju air terjun kecil dan membalikkan badan, membiarkan punggungnya dipijat oleh air yang tumpah dari pipa-pipa bambu itu. Payudaranya ia biarkan terbuka dan lagi-lagi, tanpa ada usaha sedikitpun untuk menutupinya.

Payudara Bu Irda kencang dan mencuat. Ukurannya proporsional terhadap tubuhnya. Dari depan tampak bundar tapi sesekali aku melihat dari samping, putingnya membentuk siluet yang lancip. Payudara sebelah kanan dihinggapi tahi lalat kecil, menambah keseksiannya.

Warna putingnya yang coklat muda, terbasuh air Umbul yang jernih, membuat bagian itu tampak mengkilat. Aku harus berusaha keras untuk tidak membiarkan tanganku melayang tepat di atas payudara ranum itu dan meremasnya. Tidak boleh, bentakku pada kedua tanganku walaupun itu melanggar hasratku yang paling dalam.

Kami pun mandi berdua. Sembari mandi, kulirik Bu Irda yang tengah asyik membasuh badannya seperti tak ada orang lain di dalam Umbul itu. Begitu nyaman ia menikmati segarnya air di sore hari itu. Perutnya yang rata ia bilas berkali-kali dengan air Umbul dengan sesekali membersihkan pusarnya dengan cara menggosokkan jari telunjuknya.

Ah, rasanya jadi ingin berlama-lama. Aku harus berendam dalam-dalam supaya penisku tidak terlihat menonjol. Maklum, aku sudah tak bercelana dalam lagi.

Bu Irda mengambil busa dan menuangkan sabun cair di atasnya. Ia remas-remas busa itu hingga berbuih dan menggosokkannya ke payudaranya secara bergantian.

“Please, bu, biarkan aku yang menjadi busa itu...” rintihku dalam hati.

Dengan mengatupkan tangan, Bu Irda menjebak air dari dalam Umbul dan mencipratkannya ke kedua belah puting susunya. Berusaha membasuh dadanya hingga bersih.

Kami berdua tampak menikmati sore hari itu.

Tapi hari sudah mulai gelap dan Bu Irda memberi komando untuk segera mentas dari air. "Supaya tidak masuk angin," katanya.

Buru-buru, kami mengenakan pakaian kami kembali. Namun, rasa penasaran masih menghinggapi benakku, mengapa bu Irda begitu tak peduli payudaranya kulihat?

Kami melangkah pulang. Bu Irda berjalan santai tapi aku begitu tegang.

Ah, lebih baik kutanyakan saja, akhirnya aku memutuskan. "Bu, maaf..." aku mulai bertanya. Bu Irda memalingkan wajahnya ke arahku tapi kami tetap berjalan santai. "Kok ibu nggak malu ya, mandi bareng tapi setengah telanjang. Apa ibu nggak takut aku apa-apain, atau kalo ada orang lewat di Umbul?"

Bu Irda tertawa, menambah kekikukanku. "Astaga, Alfred. Aku lupa kalo kamu orang baru di sini." katanya setelah menyelesaikan tawanya yang keras. "Sejak dulu, di sini ada tradisi... siapapun yang mandi, harus bertelanjang dada."

"Kok bisa, bu?" tanyaku seolah tak percaya.

"Ada legenda, Fred... dulu masyarakat sekitar percaya lewat cerita turun temurun. Kalau mau panennya selalu lancar, setiap wanita di sini harus mandi tanpa penutup dada. Jika dilanggar, maka Penyu Putih akan mengganggu seluruh desa." jelas Bu Irda. "Penyu Putih, Fred. Penunggu Umbul tadi."

Aku pun mengangguk dan mendengarkan dengan serius.

Bu Irda melanjutkan, "Sesekali, ada lelaki yang mengaku melihat bidadari cantik duduk di sekitar umbul. Mungkin jelmaan dari Penyu Putih tadi." ucapnya.

"Apa ibu nggak malu?" aku mengulang pertanyaan.

"Awalnya sih malu, Fred. Waktu pertama kali ke sini. Bahkan waktu itu, kami mandi bareng bapak-bapak pengajar di SD kita. Mereka juga kagum lho sama payudaraku." Bu Irda tertawa sendiri ketika mengingat masa lalunya itu. "Tapi lama-lama terbiasa kok, Fred. Iya loh, daripada dilihat orang lain, mending dilihat sama rekan kerja sendiri, kan?"

Kami masih bercerita panjang lebar sembari pulang. Intinya, cerita Bu Irda, pantangan mandi di Umbul harus ditaati sampai sekarang. Mandi tanpa mengenakan penutup dada.

Aku pun berpisah dengan Bu Irda ketika sampai di halaman rumah dinasku. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Bu Irda berjalan menyusuri jalan setapak dan aku menunggunya sampai ia benar-benar tak terlihat lagi.

Malam itu, menjelang tidur, aku masih membayangkan payudara Bu Irda yang ranum. Wah, betapa beruntungnya aku. Bu Irda yang tampak gagah, formal, dan disiplin ketika mengenakan seragam coklat, menjadi begitu lain ketika di dalam Umbul tadi. Ia begitu polos, cantik, dan lugu. Aku masih membayangkan wajahnya yang tirus, hidungnya yang mancung, dan alisnya yang basah oleh air dari pancuran Umbul.

Oh, andaikan aku bisa melihat Bu Irda dalam ketelanjangan total... tapi sayang, tradisi hanya mensyaratkan siapapun bertelanjang dada, dan bukan bertelanjang bulat.

Tapi, aku masih ingin berharap...

^*^

Bab 3

Aku mengajar mulai pukul 7.00 pagi. Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang aku ampu. Tidak banyak memang murid di kelas 6. Hanya 11 anak saja. Aku pun sudah mulai bergaul dengan guru-guru. Ada Pak Darto yang gemuk dan berkumis lebat. Atau Pak Marjo, guru matematika berambut jamur yang begitu misterius.

Pak Darto cukup ekstrovert. Terbuka, blak-blakan. Pernah suatu hari, kami para guru rapat evaluasi dalam ruang kepala sekolah. Sambil menunggu Bu Irda masuk, Pak Darto, yang duduk tepat di sampingku, mulai usil.

"Gimana?" sikunya menyenggolku ketika aku sedang menjumput lumpia rebung dari kotak makanan yang disajikan. Hampir saja lumpia itu terpental. "Bu Irda... manteb to?"

Belum sempat aku menjawab, Pak Darto sudah terkekeh. Perutnya yang tambun bergetar hebat, mirip ikan buntal yang terancam oleh musuh-musuhnya. Aku tahu maksud Pak Darto. Ia pasti sedang menggodaku. Tepatnya, ingin meminta pendapat bagaimana susu Bu Irda menurut penilaianku.

Pak Darto memang agak genit dibanding yang lain. Istrinya gendut, anaknya sudah empat. Katanya, istrinya cerewet dan suka berkacak pinggang. Makanya, menurut cerita-cerita yang beredar di kalangan para guru, Pak Darto lebih sering mengungsi ke Umbul. Pamitnya rapat mendadak di rumah Pak RT, tapi ia lebih suka kerayapan ke Umbul, menonton atraksi payudara.

Ah, Darto-Darto... kamu pasti sudah menikmati ranumnya buah dada Bu Irda...

Kubiarkan saja ia terus menggodaku. Tawanya yang cekikikan masih menghiasi ruangan. Beberapa guru berusaha menegur Pak Darto. ”Husss..” kata mereka. Orangnya memang sulit diduga, banyak tingkah dan alasan. Makanya, aku hanya terus berulang-ulang menjawab, "Ya-Ya-Ya." kalau ia sedang menerocos. Maksudku, supaya ia puas dan segera menghentikan cocotannya itu.

*^*

Ketika mengajar, murid-murid sepertinya menaruh hormat padaku. Siang itu, di ruang kelas, aku duduk siaga seperti seekor elang yang sedang mengintai mangsanya.

"Sinta, maju." tunjukku pada perempuan berambut kucir ganda. Yang aku tunjuk diam saja. Malah tampak celingukan.

"Santi kali, Pak..." seorang murid yang duduk di tengah mengingatkanku.

"O iya, Santi..." jawabku mengoreksi. Aku selalu lupa nama gadis ini. Padahal ia cukup cemerlang dan cantik. Wajahnya memang tidak mulus karena beberapa jerawat sudah menjajah bagian kening dan pipinya yang cukup berisi. Ia bermata sipit, beralis tebal, dan berbibir sensual. Pipinya tembel. Anak ini selalu merapikan rambutnya dengan gaya kucir ganda seperti itu. Jika diurai, rambutnya hanya sebatas pundak.

"Buat kata berakhiran 'wan'!" perintahku. Santi beringsut maju, memungut pelan kapur tulis yang aku sodorkan dan mulai menulis di papan tulis.

Sembari memperhatikan materi di dalam buku, aku mendengar anak-anak tertawa cekikikan. "Ada apa sih?" pikirku.

Aku membaca apa yang ditulis oleh Santi...

"P-E-R-A-W-A-N."

"Kurang ajar nih, gue dikerjain,” geramku dalam hati.

Tawa pun meledak di seluruh kelas. Rio, si rambut kribo, tergelak seperti orang kesurupan. Ia membanting-bantingkan tubuhnya ke kanan-kiri, sambil memegang perut, membuatku tampak lebih salah tingkah siang itu.

Sssttt... aku mengacungkan jari dan dengan satu komando, seluruh kelas kembali tenang meskipun masih terdengar cekikikan-cekikikan yang sayup. Dengan senyum tersipu, Santi mengembalikan kapur itu kepadaku.

Sebenarnya, Santi itu pintar. Cuma pendiam dan suka usil. Berbeda dengan gadis yang duduk tepat di sebelah kanannya, Iyuth, yang sama-sama jahil tapi bercandanya tidak pernah cerdas.

Badan Iyuth lebih padat berisi. Dadanya sudah mulai tumbuh. Aku sering meliriknya sewaktu pelajaran olah raga. Betisnya tebal dan suka memakai sepatu semi-bot macam Dr. Martin jaman dulu. Ia tampak pede tapi kesannya kurang sopan.

Pernah suatu hari ia menodongku, "Pak, beliin pulsa dong." wajahnya tak mau lepas dari ponselnya.

Karena niatnya usil, maka kujawab dengan tak kalah usilnya juga. "Okey, tapi kasih dulu nomor ponselmu."

"Nggak jadi!" jawabnya ketus. Ia melengos dan pergi membelakangiku. Rambutnya yang agak bergelombang, ditata dengan jambul kecil di depannya, terhambur ke arahku. Aku pun mengacuhkannya tanpa beban. Anak jahil kok dilayani, batinku.

Ada satu lagi yang namanya aku hafal. Deva. Duduk di belakang Santi. Wajahnya ayu tapi melas. Gara-gara wajahnya yang mellow itu, orang sekaliber Pak Marjo pun sering dibuat mengalah. Padahal, dengan raut muka seperti Angry Bird, Pak Marjo cukup disegani. Ibaratnya, Pak Marjo datang, dunia tenang!

Pernah suatu ketika, Pak Marjo menghukum Deva yang langsing itu untuk berdiri menghadap tiang bendera. Tuduhannya, terbukti secara sah dan meyakinkan telah menyontek! Tapi dengan mudahnya ia membujuk Pak Darto agar menyelamatkannya. Modus operandinya, ia pura-pura sakit dan minta diantar pulang. Pak Marjo, yang merasa berhak menghakimi, blingsatan karena tak menemukan tawanannya di lapangan sekolah.

Esok paginya, Pak Marjo tidak lagi mengungkit-ungkit hukumannya kemarin. Mungkin karena Deva berhasil menunjukkan wajah memelasnya sehingga Pak Marjo tidak tega untuk meneruskan perkaranya.

Sepertinya mereka bertiga satu gank. Kompak. Kalau jajan, suka makan dengan tema yang sama. Tempura 2 tusuk. Minumannya juga serempak. Hmm, apakah mereka pakai daleman yang warnanya sama? Aku menduga-duga dengan pikiran nakal.

^*^

Aku melirik sekilas ke arah arloji. Pukul 3:00.

Aku duduk bersila dan menata baju yang telah selesai aku seterika. Saatnya mengumpulkannya ke dalam lemari baju tua yang ada di hadapanku. Aku beranjak naik diiringi suara gemerisik dari kertas koran yang dijadikan alas duduk. Tempat itu memang berubin namun bukan keramik. Apa-apa harus kukerjakan sendiri karena jauh dari orang tua. Sayup-sayup, lagu Metallica mengusir kesunyianku di dalam rumah.

Sambil menata-nata baju, secara tak sengaja aku melihat dari pantulan cermin yang tergantung di kamar tidurku. Bayangan dua anak perempuan sedang mengintip ke dalam rumah lewat jendela ruang tamu. Sebenarnya ada tiga makhluk. Tapi yang terakhir hanya terlihat topinya saja yang menyembul dari samping. Mereka tampak gaduh.

Aku pun buru-buru mengemasi sisa-sisa baju yang belum selesai ditumpuk ke dalam lemari. Aku jejalkan baju-baju itu begitu saja dan menutup lemari rapat-rapat. Sewaktu membalikkan badanku, makhluk-makhluk itu, yang ternyata kusadari adalah gadis-gadis yang tak asing di kelasku, buru-buru bubar sambil heboh sendiri.

"Huss, ngapain kalian ke sini?" tanyaku dengan sorot tajam kepada mereka. Setelah kubuka pintu, terlihat Anak usil and the gank itu datang ke rumah sore hari lengkap dengan memakai baju dan atribut Pramuka. Masing-masing dari mereka menggenggam tongkat bambu.

"Jelajah desa, Pak." kata Iyuth sambil membetulkan posisi topi bundarnya. Santi pura-pura tak menyimak dengan sibuk menengok kanan-kiri. Deva memilih untuk menatapku sambil mengibas-ibaskan tangannya memancing hembusan angin.

"Terus?" kejarku penuh selidik.

"...terus, kita kehilangan jejak deh, Pak." jawab Iyuth kikuk yang disambut dengan senggolan siku Deva. Mungkin Deva merasa tidak enak denganku karena Iyuth terlalu keliatan bohongnya.

Di antara jengkel dan kesal, aku mempersilakan mereka masuk. Iyuth lebih dulu, dibuntuti Santi dan Deva. Aku mendahului mereka pergi ke dapur dan sesampainya di sana, aku setengah berteriak. "Minum apa nih?"

"Terserah deh, Pak, asal bukan air putih." sahut Santi asal jawab dari ruang tamu.

Aku memutuskan untuk menyuguhi mereka sari jeruk. Segar pasti siang-siang begini. Ketiga gelas itu aku tata rapi di atas nampan dan kubawa masuk ke ruang tamu. Glek! Belum sempat kusodorkan gelas-gelas itu ke tengah meja, aku menelan ludah.

Iyuth sudah mengurai dasi Pramukanya dan melepas tiga buah kancing dari atas. Ia tampak sibuk mengibas-ibaskan tangannya, menggiring angin ke arah lehernya. Dagunya ia naikkan ke atas, ke bawah. Kadang kepalanya ia miringkan. Lehernya bersih dan putih.

Mungkin aku harus berterima kasih kepada matahari sore ini karena ketika aku membungkuk untuk menaruh gelas-gelas itu, aku mengintip cepat singlet putih dari balik baju pramuka Iyuth. Belahan dadanya mulai tumbuh, tapi belum besar.

Mereka menyerbu minuman yang aku sodorkan. Deva begitu rakus. Mungkin ia sangat kehausan, sampai-sampai sari jeruk itu meleleh di antara bibirnya dan turun meluncur mengikuti dagu, leher, dan masuk ke dalam balik bajunya. Aku merasa kalau Deva sangat seksi.

*^*

Jangan lewatkan baca juga kisah super baper “Takdir Cinta Gigolo Kampung”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED