Bab 1

Si pengacara cantik tengah meninjau lokasi tanah yang sedang dijadikan perkara, wanita itu bernama Melati Widya Hutama. Beberapa warga merasa keberatan untuk melepaskan tanahnya karena sudah menjadi tempat meraup rezeki untuk mereka. Sebagai pengacara yang memiliki hati nurani, membuat wanita itu memasang dada melawan orang-orang yang menindas kaum lemah.

Ditengah perbincanganya dengan para warga. Tiba-tiba mobil sedan berwarna hitam hati berhenti di kerumunan itu. Ada dua mobil lain yang mengikutinya dari belakang.

Seorang pria bertinggi 180 sentimeter keluar dari kendaraan roda empat itu. Lalu seketika melepas kacamata hitamnya. Dia adalah perwakilan dari Dwitama Group, perusahaan yang ingin membangun cabang di lokasi tersebut. Pria tampan itu bernama Arya Dwicandra, putra sulung dari keluarga Dwicandra.

“Jadi kamu pengacara yang akan membela orang-orang bego ini?” Arya melempar senyum angkuh.

Kalimat itu sontak membuat Melati tersenyum santai. Hampir tak terlihat sedikit pun ketakutan menghadapi pria sombong di depannya.

“Kenapa? Apa kamu merasa takut dengan repotasiku?” Melati memperlihatkan perlawanannya. Dengan tatapan yang tenang, membuatnya tak gentar menghadapi pria angkuh ini.

Pria itu terkekeh mendengar ancaman itu. Dan semua anak buahnya juga ikut menertawai Melati. Tampaknya mereka benar-benar meremehkan kemampuan si pengacara cantik ini.

“Aku memiliki pengacara yang sangat hebat yang akan mengalahkanmu di pengadilan,” ungkap Arya dengan sorot mata yang menakutkan. “Ingat, aku nggak pernah gagal meraih apa yang aku mau,” sambungnya.

Emosi Melati sudah meluap. Ia benar-benar ingin memberi pelajaran pada sosok pria sombong di depannya. Namun, ia menahan diri. Wanita itu ingin memberinya pelajaran di pengadilan nanti.

“Kamu boleh menertawaiku. Tapi aku punya kartu As untuk menghancurkanmu!” ancam Melati lagi.

Arya masih belum mengerti makna yang barusan Melati katakan. Kartu As apa yang dimaksud oleh wanita cantik di depannya. Ia semakin penasaran dan tertantang dalam permainan ini.

“Jangan sok mengancamku. Bukankah kamu pengacara yang gagal dan dipecat dari kantor pengacara terkenal itu karena nggak becus, kan?” kekeh Arya menghina si pengacara.

Emosi Melati lagi-lagi meluap mendengar penghinaan dari Arya. Akan tetapi, ia tidak ingin memperlihatkan sikap yang buruk di depan para warga. Meskipun hatinya ingin sekali mencabik-cabik wajah pria itu.

“Liat aja, kamu akan kalah dalam kasus ini,” ungkap Melati.

“Mimpi kali kamu,” ejek Arya tertawa renyah. Anak buahnya juga ikut menertawai Melati lagi.

Setelah itu, Arya memasang kembali kacamatanya. Dan melangkah pergi dari hadapan wanita itu. Sebelum kendaraan roda empat itu beranjak, pria itu membuka kaca mobil seraya tersenyum ke arah Melati.

“Menyerahlah. Pengacara lemah sepertimu nggak akan menang melawanku,” hina Arya lagi, sambil tersenyum angkuh.

Melati benar-benar kesal dengan kelakuan pria itu. Ia pun berpamitan dengan para warga. Ia tidak ingin kemarahannya terlihat di sana.

***

“Aku nggak mau dijodohkan!” seru seorang wanita cantik bermata cokelat yang baru saja memasuki kamar Melati.

Sontak kalimat itu membuat wanita bertubuh sintal yang sedang duduk menghadap laptop menoleh. Konsentrasinya menyelidiki satu kasus dari klien terganggu.

“Apa? Dijodohkan? Apa ini ide Papa lagi?” Putri bungsu di keluarga Hutama itu memandang serius ke wajah kakaknya. Ini bukan kali pertama sang ayah menjodohkan kakaknya dengan pria tak dikenal.

Wanita yang memasang ekspresi kaku di depan Melati mengangguk. Sorot matanya melekat pada sosok sang kakak. Tatapan yang penuh kepasrahan terlihat di mata cokelat itu sangat tidak disukai oleh sang adik.

Pemilik mata Almon dengan iris cokelat indah itu adalah Mawar Adinda Hutama. Tahun ini dia tercatat sebagai mahasiswa doktor di sebuah universitas swasta di Ibukota.

“Aku harus gimana, Mel. Aku nggak mau dijodohkan. Nggak mau!” keluh Mawar.

Wanita cantik itu terlihat pasrah dengan keputusan papanya. Tidak ada yang bisa menolak titah dari sang kepala keluarga yang tegas. Bersamaan dengan itu, pandangan Melati tertuju pada sorotan lirih sang kakak, membuat hatinya terkoyak.

Wanita itu hanya termenung mendengar keluhan adiknya. Bergegas ia bangkit, lantas meraih kedua bahu adiknya. Melati sebenarnya tidak tega melihat perempuan periang itu selalu menjadi korban perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

“Maaf ya, Kak. Aku juga nggak ngerti ma jalan pikiran Papa. Percuma juga kita bantah atau ngelawan. Nggak akan ngaruh,” ujar Melati. Dia berusaha bicara dalam intonasi tenang agar tidak membuat sang adik makin kalut.

“Gimana kalau aku kabur dari rumah?” Mawar mengutarakan satu ide konyol.

“Nggak!”

Melati spontan menggeleng, menolak keras usulan kakaknya. Kabur dari rumah adalah hal yang tidak termaafkan. Adiknya akan dianggap mencoreng nama baik keluarga Hutama. Keluarga terpandang dan terhormat di negeri ini.

“Itu fatal. Please, jangan pernah berpikir melakukan itu.” Melati memperingati kakaknya.

Mawar menatap wajah sendu sang kakak. Mata perempuan itu berkaca-kaca. Air mata seolah berlomba membanjir keluar. Hati Melati serasa diremas melihat kakaknya yang rapuh.

“Kamu tenangin diri dulu. Aku akan coba yakinkan Papa dan Mama,” tutur Melati.

Wanita itu menyunggingkan seulas senyum, mencoba menenangkan kakaknya. Dia menepuk bahu adiknya pelan sebelum berjalan keluar kamar. Langkahnya lebar-lebar menemui orang tuanya yang ada di ruang keluarga.

Tak butuh waktu lama bagi Melati tiba di ruang yang menjadi pusat aktivitas seluruh keluarga. Matanya menangkap sosok sang Ayah duduk di sofa kulit mewah, sedang asyik bermain gawai. Wajah damai pria itu membuat dada Melati terasa sesak.

Segera wanita pemilik tinggi 170 sentimeter itu menghampiri orang tuanya. Tanpa basa-basi dia langsung mendudukkan pantat di sofa tunggal.

“Pa, kenapa harus seegois itu?” Melati berkata dengan nada kesal.

Papanya bernama Rafael Hutama, pria yang keras kepala dan semua ucapannya sudah menjadi nilai mutlak dalam keluarga.

“Nggak usah protes, Melati. Kalau kamu emang peduli sama kakakmu. Kenapa kamu nggak mau menikah? Kenapa nggak kamu aja yang duluan nikah, lalu memberikan cucu pertama buat kami,” cecar Rafael.

“NO!”

Gelengan Melati muncul sangat cepat sebagai bentuk penolakan dari permintaan ayahnya. Mana mungkin dirinya menerima perjodohan yang tidak masuk akal seperti itu.

“Apa kamu lupa kalau usiamu udah dua cukup layak untuk menikah. Mau kamu disebut perawan tua?” cecar sang Ibu—Kirana. Wanita berkacamata minus itu ingin sekali putri bungsunya menentukan masa depannya perihal jodoh. Sudah ada tiga orang yang datang melamarnya, tetapi semuanya ditolak mentah-mentah.

Melati tak berkutik ketika ibunya berbicara. Semua kalimat yang terlontar barusan, sangat mengganggu hatinya. Seketika dia menjadi galau, dan bimbang.

Beberapa detik Melati terdiam. Bibirnya terkunci. Mulutnya membisu. Tidak sepatah kata pun mampu dikeluarkannya untuk menyanggah pendapat sang Ibu.

“Sebaiknya kamu pikirkan lagi prinsipmu. Kalau bukan kamu yang menikah, maka kakakmu yang harus menikah, paham!” tegas Rafael.

“Papa egois!” kesal Melati.

Ia langsung kembali ke kamar dan menemui adiknya. Panggilan dari sang Ayah pun tak digubrius sama sekali. Ia merasa kecewa karena ayahnya benar-benar tak punya rasa peduli terhadap anak-anaknya.

Keesokan harinya, Melati baru saja tiba masuk ke mobilnya. Terlihat sepuluh panggilan tak terjawab dari sang Ayah. Wanita itu pun menelepon balik.

Tidak lama kemudian, sang Ayah menerima panggilan teleponnya.

“Melati, segera pulang. PENTING!”

Tut... Tut... Tut!

***

Bab 2

"Nggak mau! Aku nggak terima!” tegas Melati menolak keinginan papanya.

Sang ayah langsung memasang wajah serius, sepasang bola mata cokelat itu langsung menyorot tajam ke retina wanita muda di depannya.

Bersamaan dengan itu, Kirana muncul. Wanita paruh baya itu sudah mendengar semua perbincangan mereka.

“Melati, kalau bukan kamu siapa lagi yang harus menggantikan kakakmu. Apa kamu mau muka keluarga kita tercoreng?” tanya Kirana. Sejenak Melati terdiam, ia tampak luluh saat melihat wajah ibunya. “Lagipula usiamu kan udah matang sekali untuk menikah. Tunggu apa lagi coba?”

Melati tetap terdiam. Keningnya mengernyit. Ia merasa ini adalah kesalahan. Lalu ia lalu memandang kedua kedua orang tuanya secara bergantian. Ada secercah harapan yang terlihat dari sorot mata mereka, membuat wanita itu semakin luluh.

“Pokoknya suka atau nggak. Kamu harus menerima perjodohan ini. Titik!”

Melati terbelalak. “Tapi—”

Kening Rafael makin mengkerut dalam. Melati langsung menunduk. Dalam hati ia mengutus keras keegoisan papanya yang selalu ingin dituruti.

“Tapi apa, Melati?” Suara Rafael semakin dingin.

“I-itu... anuh...” Melati tampak gugup. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Dia memang tak berani dengan papanya saat melihat tatapan itu menyorot tajam. Wanita manis itu tak mampu membayangkan bagaimana kalau pria di depannya itu marah. Tamatlah sudah.

“Anuh apa? Katakan, Melati!”

“Pa, Ma. Bukan aku menolak perjodohan.” Melati menghembuskan napas panjang. Dia memutuskan buka suara setelah berpikir cepat. “Tapi aku kan belum kenal pria itu. Gimana kalau nggak sesuai dengan kriteria pria yang aku mau. Aku pasti nggak akan bahagia, Pa,” lanjutnya.

Kalimatnya merentet bak senapan mesin. Ia tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh dua orang di depannya. Meski sebenarnya Melati masih takut dengan respon orang tuanya nanti.

Namu alih-alih marah besar pada sang anak. Rafael malah terhenyak mendengar pengakuan putri bungsunya. Pria itu memandang putrinya dengan lekat. Ia tahu persis seperti apa kekhawatiran putri cantiknya itu.

“Papa yakin kamu akan menyukai anak sahabat Papa itu. Dia buka pria sembarangan. Hanya wanita gila yang berani menolak pria itu,” ungkap Rafael.

“Iya benar, Melati. Mama juga yakin kalian serasi,” dukung Kirana, mengembangkan senyumnya.

Melati tersenyum datar. Hanya itu ekspresi yang bisa dia tunjukkan di depan sang Ibu. Tak ada gunanya juga melawan perintah kedua orang tuanya. Apalagi dalam keluarga Hutama, ucapan sang Ayah adalah perintah yang mutlak.

“Baiklah, aku ikut nanti malam. Tapi bukan berarti aku menerima perjodohan ini ya, Ma. Aku hanya mengganti posisi Mawar aja,” tegas Melati dengan raut kecewa.

Ia langsung melangkah ke kamar meninggalkan kedua orang tuanya. Sesampai di ranjang, ia melepas tas dan melempar kunci mobilnya di ranjang untuk melampiaskan kekesalannya.

“Ini gila! Ide yang sangat gila dalam hidupku,” ujarnya. “Lagian kenapa juga Tata pake kabur segala, benar-benar kebangetan dia,” keluhnya.

Undangan dari keluarga pihak pria dipenuhi. Melati dan kedua orang tuanya baru saja tiba di halaman rumah bak istana yang terpampang di depan mereka. Tidak membuang waktu, mereka bergegas ke arah pintu utama. Calon besan sudah menunggu kedatangan mereka.

Beberapa saat kemudian, mereka diajak ke meja makan. Lalu lima menit berselang, pria tampan dengan sisiran rambut yang rapi muncul di tempat itu.

Mata Melati langsung membulat sempurna memandang sosok pria yang berdiri di hadapannya. Begitu juga pria itu. Rautnya berubah saat bertemu dengan wanita yang menjadi rivalnya.

“Arya, sini duduk,” ajak Chandrajaya, ayah Arya. Ia merasa heran saat melihat ekspresi putranya bertemu dengan Melati.

Arya lalu menghampiri mereka, dan memaksanya untuk memasang wajah ramah di depan tamu. Kali ini Melati dan Arya duduk berdampingan. Ini kesempatan Melati untuk memaki-maki manusia sok kegantengan itu.

Sementara Arya tetap dingin dan cuek kepada Melati. Ia tidak ingin terlalu menunjukkan sikap buruknya di hadapan tamu.

“Arya, wanita itu adalah calon istrimu. Cantik, kan?” tanya Nina—sang Ibu.

“I-iya, Ma.” Arya hanya menjawab singkat. Ia masih muak dengan wanita di sampingnya itu. Namun, ia tiba-tiba mendapat ide cemerlang untuk memanfaatkan perjodohan ini untuk memenangkan perkara yang sedang ditangani oleh Melati.

Sejenak mereka terdiam membisu. Lalu Rafael membuka perbincangan.

“Chandra, terima kasih untuk jamuannya,” ucap Rafael. “Aku yakin kedua anak kita akan saling mencintai. Mereka serasi sekali. Pilihan Papa cocok, kan?” tanyanya ke Melati.

“I-iya, Pa.” Wanita cantik itu hanya menjawab singkat dengan tutur kata yang lembut. Berbeda sekali ketika ia berbicara dengan waktu itu.

Ia memang harus bersikap lembut, ia tidak ingin keluarga Dwicandra menganggapnya sebagai wanita yang tidak punya sopan santun.

“Dasar bermuka dua, sok lembut, sok sopan,” gumam Arya, dalam hati.

“Ayok! Silahkan dinikmati hidangannya,” ujar Candrajaya.

Ia dan sang istri turut bahagia dengan kehadiran calon menantunya. Namun, mereka tidak pernah tahu kalau Arya dan Melati menentang keras perjodohan itu. Hanya saja mereka tidak ingin mengecewakan keluarga masing-masing.

“Iya Tante, terima kasih ya,” jawab Melati, dengan senyum indah merekah di wajahnya.

“Jangan sungkan-sungkan,” tambah Nina.

“Iya, anggap saja ini keluarga barumu. Jadi kami udah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga kami,” ujar Candrajaya

Perhatian itu justru semakin membuat Arya Muak. Ia hanya iri karena kedua orang tuanya yang begitu memuji sosok Melati yang baru mereka kenal.

“Aku nggak habis pikir sama mereka. Bisa-bisanya memuji wanita itu, padahal kalian nggak tahu gimana dia sebenarnya. Sama sekali bukan wanita idamanku,” gerutu Arya lagi, dalam hati.

Ia hanya berani berbicara demikian di dalam hati saja. Karena tidak mungkin berani berbicara langsung. Ia takut sang Ibu akan marah besar jika sampai ia bersikap seburuk itu.

Melati sudah mengambil beberapa lauk yang ada di piringnya, lalu ia mencicipi satu persatu. Ia merasa masakan itu sangat enak.

“Tante, masakannya enak banget tahu. Pasti Tante yang masak, kan?” tanya Melati memuji.

“Iya, Melati. Kamu suka?” tanya Nina. Melati mengangguk tersenyum. “Kamu harus tahu juga, Arya yang bantuin Tante masak. Dia juga jago masak.”

Tanpa diduga perkataan Nina membuat Melati batuk. Wanita itu hanya terkejut dan tidak percaya jika pria arogan dan sombong itu bisa memasak seenak ini.

“Kamu tidak apa-apa kan, Mel?” tanya Kirana melirik putrinya.

“Nggak, Ma. Aku nggak apa-apa,” jawab Melati setelah meneguk segelas air putih di hadapannya.

Semua mata tertuju pada Melati, secara otomatis Arya juga langsung tersorot karena Melati ada di sebelahnya. Pria itu sedikit tersinggung dengan ekspresi yang Melati tunjukkan. Ia merasa Melati meremehkan masakannya.

“Sumpah ya, kamu ngeselin banget jadi orang. Kamu pikir aku nggak bisa masak? Aku jadi mikir, jangan-jangan wanita aneh ini malah yang nggak bisa masak,” gerutu Arya lagi, dalam hati.

Beberapa saat mereka terdiam, tidak berkata apa-apa. Mereka seperi kehabisan kata-kata untuk dibicarakan.

“Kamu serius ini masakan buatanmu,” bisik Melati kepada Arya yang ada di sebelahnya.

“Heran kalau ada cowok bisa masak? Jangan-jangan kamu nggak bisa masak, kan?”

“Jangan asal nuduh ya. Gini-gini aku pernah juara lomba masah di komplek,” jawab Melati, pelan.

Arya langsung tertawa dalam hati saat mengetahui kalau wanita menyebalkan di sampingnya hanya juara antar ibu-ibu komplek.

“Gue nggak yakin kalau ...” ucapan Arya terpotong oleh derheman Nina yang duduk berhadapan dengan mereka.

Spontan dua sejoli itu tersenyum seperti sedang tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Sampai kapanpun Melati tidak mungkin mengalah, begitu juga dengan Arya. Keduanya hanya mereka harus menghormati orang tua. membuat mereka harus berpura-pura akur.

“Udahlah. Nggak nyari ribut di sini. Aku nggak mau mereka berpikir yang enggak-enggak,” pinta Arya seraya membisik ke telinga Melati.

“Serah kamu!” jawabnya singkat.

Tidak lama kemudian, mereka pun terlihat akur. Rafael dan Kirana sangat senang dengan kedekatan mereka. Kedua orang tua merasa perjodohan yang mereka lakukan telah berhasil.

Entah sampai kapan Arya dan Melati akan berpura-pura seperti itu. Namun, yang terpenting malam ini mereka tidak mengecewakan siapapun. Terutama Melati, tidak mendapat omelan sang Ibu karena tidak bertindak memalukan di depan keluarga calon besan.

Setelah acara di meja makan selesai. Nina memanggil Melati dan duduk di balkon belakang rumah yang dekat dengan kolam renang. Mereka duduk santai dengan obrolan ringan. Wanita paruh baya itu ingin mengenal calon menantunya lebih dekat.

“Mel, jawab jujur ya. Apa kamu menyetujui perjodohan ini?”

Deg!

***

Bab 3

Deg!

Melati yang mendengar pertanyaan itu cukup shock. Ia bingung harus menjawab apa ke calon mertuanya. Dari cara berbincang, Melati menyadari kalau wanita paruh baya di depannya adalah wanita yang baik.

“Emm... beri aku waktu, Tante. Jujur, aku belum memiliki rasa apa-apa sekarang. Maafin aku ya, Tante.”

“Tante pikir memang seharusnya demikian. Tante selalu menunggu kesiapan kamu. Meski Tante tahu, tidak mungkin secepat itu. Tapi biarkan semuanya berjalan, mengalir secara alami sampai kalian berdua menemukan kedekatan dan rasa suka masing-masing. Kalian sudah sama-sama dewasa,” tutur Nina.

Dari kalimatnya terlihat kalau Nina benar-benar berharap pada Melati. Wanita paruh baya itu ingin anaknya segera menikah dan mendapatkan cucu impian mereka. Meski ia sadar kalau Melati dna Arya memiliki kepribadian berbeda, but not impossible untuk menyatukan mereka.

“Terima kasih Tante udah percaya sama aku. Saat ini aku masih fokus sama karirku. Aku akan mencoba menyukai dia,” sahut Melati, tersenyum tipis.

“Iya, Mel. Tante percara sama kamu. Tolong bantu dia move on dari masa lalunya. Karena sampai saat ini, Arya nggak mau menikah karena dia masih trauma dengan kematian kekasihnya lima tahun yang lalu,” ungkap Nina

Mendengar hal itu membuat Melati terharu. Ia benar-benar tak menyangka kalau pria sedingin Arya memiliki kisah masa lalu yang kelam. Bahkan lebih menyedihkan dari yang dia alami.

“Baiklah Tante. Aku akan berusaha. Tapi aku nggak bisa berjanji saat ini.”

“Nggak apa-apa. Melati. Kamu nggak perlu melakukan itu.”

Setelah itu, obrolan mereka terhenti setelah kedatangan kedua orang tua Melati datang. Lalu disusul oleh Candrajaya.

Arya yang baru saja tiba di tempat itu pun merasa deg-degan melihat kecantikan Melati. Wajar saja, penampilan wanita itu sekarang berbeda jauh saat bertemu pertama kali. Setelah itu, Arya berinisiatif mengajak Melati berbincang berdua di bangku dekat kolam renang.

Dari kejauhan, kedua orang tua mereka hanya tersenyum memandang mereka berdua. Arya dan Melati hanya menerka-nerka, apa yang tengah dipikirkan oleh kedua orang tuanya. Sikap Melati ke Arya masih seperti biasanya, jutek, sinis dan menatap pria itu dengan tatapan yang menyebalkan. Tapi Arya cuek saja, ia juga tidak ingin menyalahkan sikap yang ditunjukkan oleh Melati saat ini.

“Kok kamu mau nerima perjodohan menyebalkan ini?” Tiba-tiba saja Arya bertanya pada Melati.

Wanita bermata indah itu langsung menoleh ke Arya yang duduk di sampingnya. Ia merasa perlu menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada pria sombong di sampingnya.

“Siapa bilang aku menerimanya?” Melati memandang sinis. “Aku hanya menghargai orang tuaku. Jadi tolong ya nggak usah ge-er ya, PAK!”

“Siapa juga yang ge-er. Aku juga sama kayak kamu. Lagipula, wanita sepertimu sama sekali bukan tipeku. Jadi, jangan pernah berharap aku akan menyukaimu,” tegas Arya dengan angkuh.

Melati kesal sendiri mendengar ucapan Arya yang terlalu percaya diri. Ia sama sekali tak punya perasaan apa-apa sekarang. Meski ia sadar kalau Arya adalah pria yang tampan. Tetapi belum berhasil membuatnya jatuh cinta.

“Maaf-maaf ya. Aku nggak pernah berharap dan bermimpi menjadi istrimu. Jadi, simpan jauh-jauh harapanmu tentang perjodohan ini. Karena aku akan pastikan kalau aku nggak akan pernah jadi pengantinmu,” tutur Melati membalas ucapan Arya.

“Oke. Baguslah. Deal. Mulai malam ini kita sepakat kalau semua ini hanyalah omong kosong. Gimana?” Arya mencoba bernegosiasi.

“Iya, aku setuju dengan satu syarat.” Melati menggantung kalimatnya. Membuat Arya penasaran sekali dengan kelanjutannya.

Melati memadang Arya dengan serius. Ia berharap permintaannya akan dituruti oleh pria sombong di sampingnya.

“Katakanlah, apa?”

“Kamu bebasin lahan warga untuk pabrikmu. Kalau kamu memenuhi syarat itu. Maka aku akan ikut aturan mainmu.”

Sejenak Arya terkejut mendengar permintaan ini. Itu sesuatu yang berat untuknya. Rautnya memasang wajah yang bimbang.

“Aku akan pikirkan besok. Oke!”

“Oke.” Melati merasa menang sekarang. Sekalipun belum menemukan jawabannya. Namun, ia yakin akan menyelamatkan para warga miskin itu.

Beberapa saat kemudian, kedua orang tua Melati memanggil. Karena mereka akan segera pulang. Melati dan kedua orang tuanya mengantar mereka hingga ke depan rumah.

“Besok main-main ke rumah ya, Arya. Tante tunggu loh ya.”

“Iya, Tante.” Arya tersenyum memasang wajah yang manis. Ia terpaksa melakukan hal itu untuk membuat kedua orang tuanya senang.

***

Keesokan harinya, pria tampan bertubuh jangkung itu memenuhi keinginan Kirana yang memintanya datang. Tentu saja, semua itu adalah rencana Nina dan Kirana untuk membuat kedua anak mereka segera menemukan rasa suka.

Baru saja Arya tiba di rumah tersebut. Kirana langsung heboh dengan pesan yang baru saja diterima dari temannya. Ia berlari menghampiri Melati duduk di ruang keluarga.

“Lihat, kakakmu di Belanda. Ngapain dia di sana? Siapa yang mengajaknya ke sana?” tanya Kirana, panik.

“Pacarnya mungkin yang bawa dia ke sana. Terus kita harus gimana?”

Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Kirana yang baru saja menyadari kedatangan Arya. Langsung meminta pria itu duduk di depan mereka.

“Bagaimana kalau kamu ikut sama Melati ke Belanda. Bisa, kan?” tanya Kirana.

Melati begitu terkejut saat mendengar hal itu. Ia langsung menatap ibunya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sang ibu rencanakan, ia belum bisa menerka maksudnya.

“Belanda? Wah! Ide bagus tuh. Kali aja kalian bisa semakin dekat setelah liburan ke Belanda,” sahut sang Nenek.

Melati terlihat bingung. Namun, tatapan sang Nenek menunjukkan kalau dirinya tak mungkin bisa menolak keinginan keluarga. Namun, kali ini ia mencoba untuk menolaknya.

“Nggak! Nggak! Nggak mau! Aku ada kegiatan beberapa hari ke depan.” Melati mencoba berdalih. Ia berharap mamanya bisa berubah pikiran.

Wanita cantik itu sudah membayangkan bagaimana dia harus berpergian bersama Arya ke tempat yang jauh.

“Oh My God! Ini pasti bakal jadi perjalanan paling membosankan, arrggg,” gerutu Melati, dalam hatinya.

“Jangan membanta ya! Pokoknya besok kamu siap-siap aja. Mama bakal pesan tiket pesawat kalian berdua ke Belanda, oke!” titah Kirana.

Ia memang selalu jadi yang terdepan untuk menyatukan keduanya. Ia pun langsung memesan tiket keduanya melalui pemesanan online miliknya. Tidak menunggu lama, ia memang tidak pernah bercanda soal apapun. Apalagi ia merasa khawatir dengan keadaan putri bungsunya yang kabur dari rumah.

“Arrrgg, selalu begitu. Mama selalu ingin menang sendiri, buat apa coba aku harus pergi bareng nih manusia. Emang penting gitu? Kan aku bisa pergi sendiri ke Belanda tanpa bareng cowok sombong itu. Mama ada ada aja deh kelakuannya,” gumam Melati, dalam hati. Seraya menatap tajam wajah Arya yang diam di depannya.

Arya juga sadar kalau Melati sedang menatapnya. Dia hanya memasang wajah santai dengan ekspresi datar. Ia juga tidak ingin ikut, apalagi harus menjaga wanita paling ribet sedunia seperti Melati.

Ia sudah membayangkan perjalanan mereka yang amat membosankan nanti. Mungkin saja, sepanjang perjalanan hanya akan ada perdebatan dan saling menyalahkan. Pria tampan itu sudah memikirkannya sejak tadi. Namun, ia pun tidak mungkin menolak keinginan Kirana. Apalagi nantinya, Kirana akan melaporkan kepada sang ibu.

“Baiklah. Aku terpaksa nurut. Nolak juga nggak bakal diterima,” ujar Melati, kesal.

“Bagus! Itu baru anak Mama yang paling cantik!” puji Kirana.

Sang Nenek tersenyum melihat Melati yang sedang kesal dan keberhasilan Kirana membujuk putrinya untuk ikut dengan Arya, rencana yang sangat sempurna.

“Giliran ada maunya aja muji-muji. Mama jahat!” gerutu Melati lagi, dalam hati. Ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada mamanya.

“Baiklah, Arya. Tolong isi ya!” pinta Kirana. Arya lalu mengambil ponsel tersebut dan mengisi biodatanya. Setelah selesai ia kembalikan lagi ponsel itu ke pemiliknya.

“Oke! Semua sudah beres. Ini tiket kalian sudah mama pesan. Besok kamu siap-siap ya. Jangan sampai telat. Oke!” tegas Melati seraya menunjukan tiket yang sudah ia pesan.

“Arrrrggggg! Ini hal terburuk dalam hidupku. Kapan ini berakhir. Ini semua gara-gara Mawar,” kesal Melati, dalam hati.

Ia sangat kesal karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga mau tidak mau ia harus menuruti permintaan mamanya.

“Iya udah. Karena semua udah beres. Omah mau ke dalam,” ucap sang Nenek. “Ikut aku, Kirana. Kita ngobrol di dalam, ada hal penting yang perlu kita bahas,” ajak sang Nenek. Mereka pun beranjak dan meninggalkan Arya dan Melati.

Beberapa saat dua sejoli itu terdiam membisu. Arya akhirnya membuka perbincangan.

“Sebenarnya ada apa? Kenapa harus ke Belanda?” tanya Arya.

“Emm...anuh...”

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED