Bab 1
"Honey, besok aku pulang ke Jakarta,"
"I miss you,"
Liam 14.20
Setelah membaca pesan singkat itu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Lama terdiam, ia seperti mati rasa, ia lalu dengan cepat membereskan dokumen dokumen di hadapannya. Ia memasukan berkas itu di laci meja. Ia melirik jam melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 18.30 menit. Atasannya memberi setumpuk pekerjaan, terlebih dirinya harus menghendel kerjaan itu seorang diri.
Dian dengan cepat mematikan lampu, ia melihat ada beberapa karyawan masih lembur, karena memang memasuki akhir bulan. Dian kembali melihat layar ponsel miliknya. Ia menekan kontak pengaturan dan memblokir nomor yang mengirim pesan singkat itu. Sungguh pesan singkat itu sangat horor.
"Dian ...!"
Dian lalu menoleh ke arah 45 derajat, ia tahu betul siapa pemilik suara cempreng itu. Dia adalah Rene, sahabatnya dari divisi accounting. Rene berlari ke arahnya, terlihat sahabatnya juga akan pulang.
"Nebeng ya, Frans enggak bisa jemput hari ini, katanya dia ngepelin pacarnya, minjam mobil gue," ucap Rene.
Frans adalah adik Rene, yang masih berstatus mahasiswa. Ia tidak menjawab pernyataan Rene, dan sudah pasti dirinya akan mengantar sahabatnya itu, hingga ke rumahnya dengan selamat. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rene dan lalu berbisik.
"Dia besok datang," bisik Dian, Dian lalu menjauhi kepalanya, menatap Rene dengan penuh cemas.
"Dia siapa ?" Ucap Rene bingung dahinya mengerut, dan mulai berpikir.
Sedetik kemudian Rene menutup mulutnya agar tidak berteriak, dan matanya melotot memandang Dian.
"Jangan bilang dia yang lo ceritain itu !,"
Dian mengangguk, wajah cemas itu semakin resah. Sungguh ada perasaan takut ketika laki-laki itu menghubunginya dan mengatakan akan datang ke Jakarta. Sudah puluhan kali laki-laki itu mengubunginya, dan puluhan kali juga ia memblokir nomor itu. Setiap ada nomor baru yang menghubunginya, entah nomor apapun jenisnya, tidak pernah ia mengangkatnya. Ia sungguh parno jika berhubungan dengan nomor baru.
Pernah beberapa kali sang atasan marah besar terhadapnya, kerena mengabaikan panggilannya. Salahkan siapa sang atasan memakai nomor yang berbeda. Sepertinya laki-laki itu tidak akan pernah berhenti menghantuinya. Ini adalah pesan yang paling ia takuti, laki-laki itu akan pulang ke Jakarta.
"Gue takut banget Ren," ucap Dian, ia meremas tangannya, menghilangkan rasa gugupnya.
Sumpah belum ketemu saja ia sudah takut seperti ini. Apalagi bertemu orangnya nanti. Ia tidak membayangkan seperti apa jadinya.
"Lo kan pacarnya Yan. Ya mau enggak mau, lo harus hadapi si babi bontot itu," timpal Rene.
"Dia bukan pacar gue Ren. Gue enggak pernah nerima dia tau. Mana mau gue pacaran sama laki-laki tatoan kayak gitu. Ih serem gue, sumpah gue takut Ren, dia mirip preman, asli sumpah !," ucap Dian.
Rene menarik nafas, dan ia memandang Dian penuh prihatin. Sahabatnya ini pernah cerita sebelumnya, ketika ia bertemu laki-laki bernama Liam di New York. Laki-laki itu sekarang mengklaim bahwa Dian adalah kekasihnya.
"Enggak tau deh, bingung juga gue. Gue enggak mau ikut campur urusan lo, sama si babon itu," Rene mengedikkan bahu, mulai bingung menghadapi masalah sahabatnya ini.
Lihatlah sahabatnya saja sudah mensematkan nama babon, kepada Liam. Padahal Rene belum pernah bertemu langsung dengan laki-laki itu.
"Ya udah deh, pulang aja. Besok kita pikirkan lagi. Gue jamin, lo besok enggak ketemu sama laki-laki yang namanya Liam," ucap Rene.
Rene bertolak pinggang, menatap sahabatnya yang super sexy ini,
"Lo tenang aja, ada gue yang siap jagain lo dari makhluk dekil itu,"
"Makasih ya Ren, lo mau jagain gue," ucap Dian.
"Ya, iyalah, gue kan sahabat lo. Sudah seharusnya jagain lo dari mara bahaya, lo tau kan gue pernah ikut karate waktu di SD dulu, itu mah kecil, gue tendang pasti mampus !,"
Alis Dian terangkat, mendengar penuturan Rene yang sekarang sudah seperti wonder women yang menjaga bumi dari monster jahat. Tapi itu hanya expetasinya saja, realitanya jangan di tanya, kemarin tersungkur dari tangga aja sudah nangis, padahal luka kecil seujung kuku. Sekarang wanita seperti Rene mau menghadapi Liam, yang tubuhnya dua kali lipat besar nya dari dia. Pengalaman karate di waktu SD itu tidak bisa menjamin bahwa Rene bisa melawan Liam. Ia tidak yakin dengan ucapan sahabatnya ini. Masalahnya Rene adalah tidak lebih dari wanita rumahan yang lingkungannya hanya sebatas mall dan salon. Tapi setidaknya Rene sudah berusaha menenangkannya.
***
Beberapa saat kemudian,
"Besok, pulang sama-sama ya Ren," ucap Dian, ia masih fokus dengan setir mobilnya.
"Lo lupa besok gue sibuk tutup laporan, tapi gue tetap temenin lo, sampai situasi aman,"
"Kalau dia tiba-tiba ada di depan lobby gimana? Masalahnya laki-laki itu suka nekat,"
"Lo tenang aja, besok gue pantau keadaan di depan lobby. Terus kalau situasi aman gue langsung hubungin elo,"
"Oke,"
Dian mengarahkan mobilnya tepat di depan rumah Rene. Rene membuka sabuk pengamannya diliriknya sahabatnya yang cantik itu.
"Lo mau mampir gak? Bunda masak enak nih, masalahnya mbak Reka baru pulang dari Lampung,"
"Enggak usah deh, salam aja buat bunda dan mbak Reka. Gue capek banget, tadi laporan gue banyak,"
"Iya hati-hati di jalan," Rene membuka hendel pintu, dan ia tutup kembali pintu itu.
"Iya," ucap Dian, lalu melanjutkan perjalanannya.
***
Akhirnya ia sudah mendaratkan pantatnya di sisi tempat tidur. Kasur inilah yang ia rindukan. Sungguh ia sudah merindukan bantal empuknya ini. Dian membuka jas yang ia kenakan, ia simpan begitu saja secara sembarang. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya sejenak, ia harus siap untuk menghadapi hari esok. Oh Tuhan apa yang harus ia lakukan. Jika boleh memilih, ia tidak ingin mengenal laki-laki itu.
Dian memejamkan matanya sejenak, ia begini hanya ingin menenangkan hatinya yang resah. Bagaimanapun caranya ia tidak boleh bertemu dengan laki-laki menyeramkan itu. Semenit kemudian, suara dari balik pintu terdengar. Inilah yang paling ia benci, ada saja yang menggangu kenyamanan dirinya.
"Masuk, enggak di kunci," ucap Dian.
Pintupun terbuka, ia memandang mas Tatang yang melangkah masuk ke dalam. Dian menarik nafas panjang, dan menegakkan tubuhnya.
"Dek, malam ini enggak kemana-mana kan?" Tanya Tatang, ia memandang adiknya yang cantik itu terbaring di tempat tidur, dengan tangan di atas kepala menutupi sebagian wajahnya.
"Enggalah, gue mau tidur. Kenapa?"
"Pinjam mobil dong, mobil mas di cat ulang tadi. Besok siang baru bisa di ambil,"
"Kan ada mobil mama,"
"Mobil mama warnanya pink dek. Mobil kamu aja, mas isiin bensin deh,"
"Tapi, full ya,"
"Beres," ucap Tatang.
Dian meraih jas yang ia letakkan di sisi tempat tidur, dan ia merogoh kunci itu di saku jas. Dian lalu memberikan kunci itu kepada Tatang. Tatang meraih kunci itu dari tangan Dian, ia memperhatikan sang adik. Adiknya bahkan belum sempat berganti pakaian.
"Mandi dulu, baru tidur," ucap Tatang memperingatkan sang adik agar membersihkan tubuhnya. Ia lalu meninggalkan ruangan kamar sang adik.
Bab 2
Dian makan dalam diam, ia harus mengisi tenaganya, agar ia siap menghadapi apa yang akan terjadi nanti. Sejujurnya ia ingin sekali cuti tahunan, agar tidak bertemu dengan laki-laki itu. Tapi apa daya, sang atasan saja tidak tahu entah kemana, bahkan hingga saat ini belum ada tanda-tanda masuk kantor.
"Dek, mas antar ya hari ini. Mobil mas kan belum di ambil, mas nanti jemput deh," ucap Tatang, ia melirik sang adik. Ia menyudahi makannya, dan ia meraih air mineral di hadapannya.
"Enggak bisa mas, mas pasti pulangnya malam," ucap Dian.
Ia tahu saudaranya seperti apa, dirinya kenal dari orok. Masalahnya Tatang tidak pernah sekalipun pulang tepat waktu. Dirinya tidak kuasa menunggu hingga malam. Alhasil dirinya selalu pulang dengan taxi. Sahabatnya Rene juga tidak bisa ia harapkan, ini memasuki akhir bulan, sudah ia pastikan Rene lembur.
Ada alasan yang sulit ia jelaskan kenapa dirinya tidak mau diantar, dirinya juga bisa pulang naik taxi tanpa mempermasalahkan itu. Tapi hari ini Liam datang, ia tidak ingin bertemu dengan laki-laki menyeramkan itu. Ia tidak bisa membayangkan itu, tiba-tiba laki-laki itu datang dan menghampirinya dengan leluasa menculiknya. Tamat sudah riwayat hidupnya, terkurung bersama monster.
"Ayolah dek, sehari aja, mas janji deh langsung jemput," ucap Tatang.
"Dek, penjemin lah, Kamu bisa pulang dengan Rene. Atau pakai mobil mama," ucap Ayah, laki-laki separuh baya itu menyumprut kopi di hadapannya.
"Enggak bisa pa, Mama juga harus ketemu suplier, papa gimana sih. Kamu pulang naik taxi saja dek, enggak apa-apa kan. Kamu kan pulang jam empat, masih aman kok, itu juga masih siang," ucap mama.
Dian mengedikkan bahu, ia memijit kepalanya, terjawab sudah ia tidak bisa memakai mobil mama, karena toko sedang ramai-ramainya. Ke dua orang tuanya memiliki usaha toko kain, yang telah dirintis sejak puluhan tahun. Toko kain, kian diminati, mulai mendapati hati pembeli. Kain-kain yang di hasilkan tidak hanya ada dalam negri, tapi juga luar negri. Bahkan ada beberapa designer ternama yang sudah menjadi langganan tetap.
"Ini akhir bulan pa, Rene lembur, pulangngnya malam," ucap Dian.
"Yaudah, nanti papa yang jemput," ucap ayah, melirik putri bungsunya.
Ucapan sang ayah memang sama dengan saudaranya Tatang. Jemput itu hanya ada di bibir manisnya saja, sudah lebih mirip calon legislatif yang berkoar-koar dengan janji-janji manisnya. Tapi nanti sore mereka merubah keputusan, dengan berbagai alasan sibuk, toko masih ramai, masih meeting lah.
"Papa memang yang terbaik," Tatang bersorak gembira. Tatang mengedipkan mata kepada sang adik.
Bibir Dian meju satu senti, mendengar penuturan sang ayah. Dirinya selalu menjadi yang ke dua, setelah sang kakak. Tatang yang bekerja sebagai manager sebuah bank Central, sangat tidak mungkin pulang sore. Ia ingin muntah mendengar kata ingin menjemputnya sore nanti.
"Ya udah, Dian pulang naik taxi," dengus Dian, menegakkan tubuhnya dan melirik Tatang.
Tatang memandang iris mata adiknya, ia tahu bahwa sang adik, menyuruhnya cepat berangkat. Tatang juga menegakkan tubuhnya,
"Kita pergi dulu ya ma, pa," ucap Tatang.
"Hati-hati ya sayang," ucap mama, melambaikan tangan kepada kedua anaknya.
***
Jujur saat ini hatinya tidak tenang. Ada perasaan resah dan gelisah menyelimuti hatinya sepanjang perjalanan tadi. Ia bersyukur bahwa atasannya tidak ada di tempat, karena atasannya sedang ke Kalimantan. Semua kerjaannya sudah selesai dari tadi. Sekarang dirinya hanya menunggu waktu pulang. Dian melirik jam yang melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 15.30 menit.
Ia mengurungkan niatnya untuk memakai gojek untuk pulang nanti. Sekarang ia putuskan untuk pulang naik taxi saja. Dirinya akan mencegah taxi, yang melintas di depan kantor.
Suara interkom berdering, Dian lalu mengangkat panggilan itu.
"Iya, halo," ucap Dian.
"Lo udah pulang?". Ia tahu betul siapa pemilik suara cempreng di balik speaker interkom itu. Itu adalah Rene sahabatnya.
"Belom, gue masih di ruangan,"
"Bentar lagi, gue turun ya, gue pantau dulu keadaan di luar, sampe lo aman," ucap Rene.
"Lo, masih ingatkan wajah Liam seperti apa," ucap Dian mencoba memastikan kepada Rene.
"Ingatlah gue kan pernah lihat IG nya si babon itu, yang rambutnya gondrong itu kan, terus badannya tatoan, " ucap Rene,
Rene mengatakan kebenarannya, karena dia melihat akun instagram laki-laki bernama Liam. Foto-foto Liam menunjukkan betapa bangganya laki-laki itu dengan tato di seluruh tubuhnya. Banyak sekali yang mengomentari foto-foto Liam. Sebagian besar wanitalah yang mengomentari itu. Mereka banyak mengatakan bahwa "sexy", "tampan", "hot,". Oh Tuhan, sexy belah mana yang mereka lihat. Nyatanya laki-laki itu sangat menakutkan.
Dian juga tidak habis pikir, akun instagram milik Liam bisa mencapai ratusan ribu. Lihatlah laki-laki itu bukan artis ataupun publik figur, kenapa bisa begitu banyak penggemarnya. Mungkin saja laki-laki itu telah beli follower, ia tidak percaya begitu saja, bahwa Liam memiliki banyak penggemar seperti. Herannya lagi, ada beberapa artis juga mengikutinya.
"Oke,"
"Sip," sambungan interkom terputus begitu saja.
Dian dengan cepat mematikan komputer, setelah itu ia mengambil tas di atas lemari berangkas. Ia mematikan lampu lalu melangkah keluar. Tidak lupa ia kunci pintu seluruh ruangan itu. Dian menunggu di dekat pintu, hingga Rene menghubunginya. Ia menatap penampilannya, rok sepan ini, membuatnya lemban bergerak. Jika ingin kabur-kaburan seperti ini, seharusnya ia tidak mengenakan rok ini. Kenapa ia baru memikirkan, setelah kejadian akan berlangsung. Ia pastikan besok akan memakai celana kain saja.
Ponselnya bergetar, dan ia dengan cepat membuka notifikasi itu. Ia memandang layar ponsel, dan membuka pesan singkat dari Rene.
Rene,
"Di lobby, sepi, aman dan terkendali,"
Dian, 16.01
"Serius?,"
Rene,16.02
"Seriuslah, gue sudah sisir satu per satu. Di parkiran, di lobby, di halaman depan, semuanya aman,"
Dian, 16.03
"Oke, gue langsung cabut sekarang,"
Dian tersenyum penuh arti, jika tahu situasi aman seperti ini. Dirinya tidak perlu resah dan gelisah seperti sepanjang hari. Sekarang ia merasa lega. Semoga saja pesawat yang di tumpangi Liam, nyangkut di pegunungan Alpen, atau masih transit di Dubai. Semoga saja laki-laki itu tersesat di Hongkong. Dian lalu berjalan menuju lobby dengan santai, tanpa perlu takut seperti tadi. Dirinya memang selalu parno jika berhadapan dengan laki-laki itu.
Dian mengibaskan rambutnya ke belakang, ia berjalan dengan tenang menuju pintu lobby. Ia memastikan terlebih dahulu, ia mengintip ke kiri dan ke kanan, ia tahu bahwa Rene, telah menyelidiki kebenarannya. Dian berjalan menuju ke depan, ia akan menghentikan taxi yang melintas di jalan.
Tanpa wanita itu sadari, sepasang mata, dari tadi menatapnya. Laki-laki itu tersenyum penuh arti, setelah melihat apa yang ia cari. Kini tepat di depan matanya.
"I saw you,".
***