"Apa, Dok? Adik saya harus segera di Operasi?" tanya Mauren dengan suara terbata.
Gadis cantik yang berusia 21 tahun itu begitu terkejut sekali ketika dirinya mendengar kabar tersebut. Sang Adik mengidap penyakit Asam lambung, dan harus segera di Operasi. Mauren tampak bingung, sedangkan biaya operasi pastinya tidak sedikit. Pekerjaan Mauren hanya seorang Office Girls disebuah perusaan ternama di kotanya. Mauren hanya tamatan SMA, dia juga sudah tidak punya ibu dan bapak, bisa dibilang Mauren dan Adiknya yang bernama Marisa sudah yatim piatu. Usia Marisa baru 18 tahun, baru saja dinyatakan lulus.
"Iya, Mauren. Penyakit asam lambungnya sudah kronis, kalau tidak segera di Operasi akan memperburuk keadaan Marisa," ucap Dokter Vira, memperjelas ucapannya.
Mauren tidak mau sampai terjadi sesuatu hal buruk menimpa Marisa. Bagaimana pun caranya, dirinya harus bisa mendapatkan biaya operasi tersebut.
"Dokter Vira, lakukan saja apa yang terbaik untuk kesembuhan Marisa. Tolong, Dok! Saya janji, saya akan melunasi semua biaya operasinya." Mauren memohon dengan sangat penuh harap, sampai Mauren memegang kedua tangan Dokter Vira.
Mauren berharap sekali mendapatkan keringanan dari pihak rumah sakit.
"Baik, Mauren. Marisa adalah pasien saya, jadi operasi akan saya tindaklanjuti. Tapi, besok sore biaya operasi itu harus sudah ada. Maaf, karena ini sudah prosedur rumah sakit," ujar Dokter Vira.
Tidak masalah bagi Mauren, asalkan pagi ini Marisa segera di Operasi.
"Iya, Dok. Saya sanggup!" Marisa berkata dengan percaya diri, meyakinkan Dokter Vira kalau dirinya pasti akan mendapatkan biaya tersebut.
Padahal, Mauren bingung saat ini! Dalam waktu singkat dirinya harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana?
'Apakah aku harus ngepet?' seloroh Mauren dalam hati.
***
Disebuah Perusaan Antarika Grup, yang dipimpin oleh seorang pengusaha yang tak lagi muda, yaitu Jian Fan, usianya 47 tahun. Saat ini dirinya kedatangan sahabat dekatnya, siapa lagi kalau bukan Mahendra Atmaja, usianya 48 tahun seorang Duda anak satu.
"Apakah masih belum ada kabar juga tentang Stella?" tanya Mahendra, pria dewasa itu kerap dipanggil Hendra. Hampir setiap bertemu dengan Jian, Mahendra selalu menanyakan tentang Stella, Stella dan Stella. Sampai membuat Jian bosan mendengarnya.
Sudah 21 tahun lamanya dirinya menanti sang mantan istri yang bernama Stella Munaf kembali lagi padanya. Entah ada apa gerangan, kala itu Stella pergi dari rumah hanya meninggalkan sebuah surat, dan surat itu ternyata surat gugatan perceraian. Kala itu, ketika usia Ariel (putranya) satu tahun. Sampai saat ini, Mahendra belum mengetahui alasan yang jelas kenapa Stella, wanita yang teramat dia cintai pergi meninggalkan dirinya dan juga Ariel. Duda tampan itu terpaksa menandatangi surat gugatan perceraian tersebut karena selalu mendapat ancaman dari pihak keluarga Stella, jika Ariel akan diperjuangkan hak asuh agar jatuh ke tangan Stella, kalau misalkan hak asuh itu jatuh ke tangan Ibunya, Mahendra diancam selamanya dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Ariel.
"Stella, Stella dan selalu saja Stella yang kau tanyakan! Sudah 21 tahun kau hidup menduda, membesarkan Ariel sendirian. Apakah tidak ada wanita lain yang bisa membuat kamu jatuh cinta, hah? Selain Stella?" Jian sampai geleng-geleng kepala, namun dirinya juga salut dengan kesetiaan Mahendra yang tidak pernah goyah sama sekali.
Jian dan Stella ada ikatan saudara, Stella adalah putra dari Sepupunya Mamanya Jian. Meskipun Jian dan Stella saudara, namun Jian tidak pernah mendengar kabar tentang Stella. Keluarga Stella memang tertutup sekali, sehingga Jian juga merasa kesulitan ketika dirinya membantu Mahendra untuk mencaritahu tentang Stella.
"Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang mampu menggantikan posisi Stella di hati aku!" Mahendra berkata dengan tegas, apa yang ia ucapkan benar adanya.
"Yakin?" tanya Jian, dirinya merasa tertantang sekali. Selama ini dirinya memang belum pernah mendekatkan Mahendra dengan wanita lain.
"Yakinlah! Kalau tidak yakin, mungkin sekarang Ariel sudah punya Ibu Pengganti," jawab Mahendra yang langsung berlalu keluar dari ruangan kerjanya Jian.
Jian tersenyum menyeringai. Entah apa yang Jian pikirkan saat ini?.
Terdengar suara ketukan pintu, tak lama setelah Mahendra berlalu pergi.
"Masuk!" teriak Jian, menyuruh orang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya itu masuk.
Ceklek
Rupanya yang datang adalah Mauren, karyawannya yang bekerja sebagai Office girls.
"Permisi, Bos Jian!" Mauren masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ada apa, Mauren?" tanya Jian santai, meskipun dirinya seorang pemimpin, Jian tidak pernah bersikap arogan kepada para karyawannya.
"Sebelumnya Mauren mau minta maaf, Mauren sudah lancang sekali. Tapi kali ini Mauren benar-benar sangat membutuhkan sekali biaya untuk pengobatan Adik saya, Bos. Jadi, bisakah Bos meminjamkan uang? Bos bisa memotong dari gaji saya nanti." Tanpa sungkan Mauren mengatakan langsung intinya kepada Jian, tidak ada waktu baginya untuk drama. Besok sore biaya pengobatan bekas Operasi Marisa harus sudah ada.
Sangat kebetulan sekali, Jian memang sedang mencari sosok wanita yang mampu meluluhkan hati Mahendra, wanita yang mampu mematahkan kesetiaan Mahendra terhadap mantan istrinya.
Jian tersenyum menyeringai, membuat dahi Mauren mengkerut, ia merasa bingung saja dengan sikap Bosnya itu.
"Bos, kenapa Bos menatapku seperti itu? Apakah Bos berpikir kalau aku harus menemani Bos tidur, menghangatkan tubuh Bos sampai bergairah? Seperti cerita-cerita di Novel? Saya siap, Bos. Beneran? Uang itu sangatlah berharga dibandingkan harga diri saya," seloroh Mauren, gadis itu memang sedikit barbar.
Jian terkekeh, kenapa gadis itu bisa membaca pikirannya. Namun, Mauren salah sangka, bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk sahabatnya.
"Keren!" Jian sampai bertepuk tangan, dirinya salut dengan keberanian dan perjuangan Mauren, kalau tidak ada tujuan tertentu, tujuan untuk mengetes kesetiaan Mahendra. Jian tidak akan pernah meminta Mauren untuk melakukan hal itu.
"Bos, aku tidak perlu pujian darimu. Ini darurat, saya sangat membutuhkan uang itu," ucap Mauren yang sudah mulai geram sendiri.
"Oke, tapi ada syaratnya. Bahkan saya akan mengubah nasib kamu yang ngenes itu, nasib kamu akan jauh lebih baik, mendadak kau akan tajir kalau kau berhasil melakukan tugas ini," ucap Jian menantang Mauren.
"Apa itu, Bos? Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak perlu tajir mendadak, yang penting secepatnya saya mendapatkan biaya pengobatan adik saya."
Jian pun mengatakan apa yang harus Mauren lakukan, sedikit sulit sih! Tapi... sepertinya gadis itu merasa tertantang sekali.
"Bagaimana?" tanya Jian mengangkat sedikit alis bagian kiri keatas.
"Harus begitu ya, Bos? Tanpa ada pengaruh apa pun gitu?" tanya Mauren merasa ragu kalau dirinya bisa melakukan itu, namun dirinya merasa tertantang juga.
Uang bayaran seharga 350 juta akan masuk ke saku Mauren, jika Mauren berhasil.
"Iya, dong. Bagaimana?"
Mauren malah diam....
Apakah Mauren akan menerima tantangan dan tawaran dari Bos Jian?
"Apa, Dok? Adik saya harus segera di Operasi?" tanya Mauren dengan suara terbata.
Gadis cantik yang berusia 21 tahun itu begitu terkejut sekali ketika dirinya mendengar kabar tersebut. Sang Adik mengidap penyakit Asam lambung, dan harus segera di Operasi. Mauren tampak bingung, sedangkan biaya operasi pastinya tidak sedikit. Pekerjaan Mauren hanya seorang Office Girls disebuah perusaan ternama di kotanya. Mauren hanya tamatan SMA, dia juga sudah tidak punya ibu dan bapak, bisa dibilang Mauren dan Adiknya yang bernama Marisa sudah yatim piatu. Usia Marisa baru 18 tahun, baru saja dinyatakan lulus.
"Iya, Mauren. Penyakit asam lambungnya sudah kronis, kalau tidak segera di Operasi akan memperburuk keadaan Marisa," ucap Dokter Vira, memperjelas ucapannya.
Mauren tidak mau sampai terjadi sesuatu hal buruk menimpa Marisa. Bagaimana pun caranya, dirinya harus bisa mendapatkan biaya operasi tersebut.
"Dokter Vira, lakukan saja apa yang terbaik untuk kesembuhan Marisa. Tolong, Dok! Saya janji, saya akan melunasi semua biaya operasinya." Mauren memohon dengan sangat penuh harap, sampai Mauren memegang kedua tangan Dokter Vira.
Mauren berharap sekali mendapatkan keringanan dari pihak rumah sakit.
"Baik, Mauren. Marisa adalah pasien saya, jadi operasi akan saya tindaklanjuti. Tapi, besok sore biaya operasi itu harus sudah ada. Maaf, karena ini sudah prosedur rumah sakit," ujar Dokter Vira.
Tidak masalah bagi Mauren, asalkan pagi ini Marisa segera di Operasi.
"Iya, Dok. Saya sanggup!" Marisa berkata dengan percaya diri, meyakinkan Dokter Vira kalau dirinya pasti akan mendapatkan biaya tersebut.
Padahal, Mauren bingung saat ini! Dalam waktu singkat dirinya harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana?
'Apakah aku harus ngepet?' seloroh Mauren dalam hati.
***
Disebuah Perusaan Antarika Grup, yang dipimpin oleh seorang pengusaha yang tak lagi muda, yaitu Jian Fan, usianya 47 tahun. Saat ini dirinya kedatangan sahabat dekatnya, siapa lagi kalau bukan Mahendra Atmaja, usianya 48 tahun seorang Duda anak satu.
"Apakah masih belum ada kabar juga tentang Stella?" tanya Mahendra, pria dewasa itu kerap dipanggil Hendra. Hampir setiap bertemu dengan Jian, Mahendra selalu menanyakan tentang Stella, Stella dan Stella. Sampai membuat Jian bosan mendengarnya.
Sudah 21 tahun lamanya dirinya menanti sang mantan istri yang bernama Stella Munaf kembali lagi padanya. Entah ada apa gerangan, kala itu Stella pergi dari rumah hanya meninggalkan sebuah surat, dan surat itu ternyata surat gugatan perceraian. Kala itu, ketika usia Ariel (putranya) satu tahun. Sampai saat ini, Mahendra belum mengetahui alasan yang jelas kenapa Stella, wanita yang teramat dia cintai pergi meninggalkan dirinya dan juga Ariel. Duda tampan itu terpaksa menandatangi surat gugatan perceraian tersebut karena selalu mendapat ancaman dari pihak keluarga Stella, jika Ariel akan diperjuangkan hak asuh agar jatuh ke tangan Stella, kalau misalkan hak asuh itu jatuh ke tangan Ibunya, Mahendra diancam selamanya dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Ariel.
"Stella, Stella dan selalu saja Stella yang kau tanyakan! Sudah 21 tahun kau hidup menduda, membesarkan Ariel sendirian. Apakah tidak ada wanita lain yang bisa membuat kamu jatuh cinta, hah? Selain Stella?" Jian sampai geleng-geleng kepala, namun dirinya juga salut dengan kesetiaan Mahendra yang tidak pernah goyah sama sekali.
Jian dan Stella ada ikatan saudara, Stella adalah putra dari Sepupunya Mamanya Jian. Meskipun Jian dan Stella saudara, namun Jian tidak pernah mendengar kabar tentang Stella. Keluarga Stella memang tertutup sekali, sehingga Jian juga merasa kesulitan ketika dirinya membantu Mahendra untuk mencaritahu tentang Stella.
"Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang mampu menggantikan posisi Stella di hati aku!" Mahendra berkata dengan tegas, apa yang ia ucapkan benar adanya.
"Yakin?" tanya Jian, dirinya merasa tertantang sekali. Selama ini dirinya memang belum pernah mendekatkan Mahendra dengan wanita lain.
"Yakinlah! Kalau tidak yakin, mungkin sekarang Ariel sudah punya Ibu Pengganti," jawab Mahendra yang langsung berlalu keluar dari ruangan kerjanya Jian.
Jian tersenyum menyeringai. Entah apa yang Jian pikirkan saat ini?.
Terdengar suara ketukan pintu, tak lama setelah Mahendra berlalu pergi.
"Masuk!" teriak Jian, menyuruh orang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya itu masuk.
Ceklek
Rupanya yang datang adalah Mauren, karyawannya yang bekerja sebagai Office girls.
"Permisi, Bos Jian!" Mauren masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ada apa, Mauren?" tanya Jian santai, meskipun dirinya seorang pemimpin, Jian tidak pernah bersikap arogan kepada para karyawannya.
"Sebelumnya Mauren mau minta maaf, Mauren sudah lancang sekali. Tapi kali ini Mauren benar-benar sangat membutuhkan sekali biaya untuk pengobatan Adik saya, Bos. Jadi, bisakah Bos meminjamkan uang? Bos bisa memotong dari gaji saya nanti." Tanpa sungkan Mauren mengatakan langsung intinya kepada Jian, tidak ada waktu baginya untuk drama. Besok sore biaya pengobatan bekas Operasi Marisa harus sudah ada.
Sangat kebetulan sekali, Jian memang sedang mencari sosok wanita yang mampu meluluhkan hati Mahendra, wanita yang mampu mematahkan kesetiaan Mahendra terhadap mantan istrinya.
Jian tersenyum menyeringai, membuat dahi Mauren mengkerut, ia merasa bingung saja dengan sikap Bosnya itu.
"Bos, kenapa Bos menatapku seperti itu? Apakah Bos berpikir kalau aku harus menemani Bos tidur, menghangatkan tubuh Bos sampai bergairah? Seperti cerita-cerita di Novel? Saya siap, Bos. Beneran? Uang itu sangatlah berharga dibandingkan harga diri saya," seloroh Mauren, gadis itu memang sedikit barbar.
Jian terkekeh, kenapa gadis itu bisa membaca pikirannya. Namun, Mauren salah sangka, bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk sahabatnya.
"Keren!" Jian sampai bertepuk tangan, dirinya salut dengan keberanian dan perjuangan Mauren, kalau tidak ada tujuan tertentu, tujuan untuk mengetes kesetiaan Mahendra. Jian tidak akan pernah meminta Mauren untuk melakukan hal itu.
"Bos, aku tidak perlu pujian darimu. Ini darurat, saya sangat membutuhkan uang itu," ucap Mauren yang sudah mulai geram sendiri.
"Oke, tapi ada syaratnya. Bahkan saya akan mengubah nasib kamu yang ngenes itu, nasib kamu akan jauh lebih baik, mendadak kau akan tajir kalau kau berhasil melakukan tugas ini," ucap Jian menantang Mauren.
"Apa itu, Bos? Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak perlu tajir mendadak, yang penting secepatnya saya mendapatkan biaya pengobatan adik saya."
Jian pun mengatakan apa yang harus Mauren lakukan, sedikit sulit sih! Tapi... sepertinya gadis itu merasa tertantang sekali.
"Bagaimana?" tanya Jian mengangkat sedikit alis bagian kiri keatas.
"Harus begitu ya, Bos? Tanpa ada pengaruh apa pun gitu?" tanya Mauren merasa ragu kalau dirinya bisa melakukan itu, namun dirinya merasa tertantang juga.
Uang bayaran seharga 350 juta akan masuk ke saku Mauren, jika Mauren berhasil.
"Iya, dong. Bagaimana?"
Mauren malah diam....
Apakah Mauren akan menerima tantangan dan tawaran dari Bos Jian?
"Bagaimana Mauren? Apakah kau bersedia? Kapan lagi coba? Kalau kamu bisa membuat dia jatuh cinta padamu, otomatis kamu akan mendadak menjadi Nyonya Mahendra Atmaja." Jian berusaha membujuk Mauren agar gadis itu mau menerima tantangan sekaligus tawaran darinya.
"Mauren, nasib Adik kamu yang lagi berjuang di Rumah Sakit berada ditangan kamu," ucap Jian kemudian, menaikan sedikit satu alisnya. Senyuman Jian terus menyeringai, dirinya yakin Mauren akan setuju.
"Wait! Apakah dia masih tampan, Bos? Usianya pasti seumuran dengan Bos Jian' kan? Berarti usianya sekitar 48 tahun? Yang benar saja Bos? Pria itu pantasnya jadi Ayah saya," protes Mauren, dirinya berharap kalau Jian memberikan pilihan yang lain selain itu.
"Meskipun usia sudah tua, tapi pesonanya masih keren, tampan. Jika kau tidak percaya kau bisa lihat fotonya." Jian menunjukan Foto Mahendra yang ada di ponselnya kepada Mauren, foto Mahendra yang sedang bersama dengan Ariel putranya.
"Wait! Ini adiknya?" tanya Mauren yang terus memperhatikan sosok Mahendra di dalam foto tersebut. Sosok laki-laki yang memiliki bentuk tubuh yang atletis dan seksi dan sixpack. Wajahnya yang tampan dan mencerminkan sisi maskulin membuat Mauren langsung meleleh hanya melihat fotonya saja.
Menampilkan gambar seorang lelaki dewasa. Menatap dengan seksama, lelaki itu terlihat sangat menarik. Tubuhnya yang tegap, tinggi dan dapat Mauren pastikan jika dibalik kaus yang menutupi bajunya ada perut kota-kota menggoda.
Wajahnya sangat tampan. Nyaris tanpa celah. Hidung mancung, Mata sipit dan rahang kokoh dengan sedikit kumis tipis menambah ketertarikan saat melihatnya. Apalagi saat berfoto dia sedang tersenyum. Ada lesung pipi yang terlihat sangat jelas.
"Bukan, Mauren! Dia Ariel, putranya. Usianya setara sama kamu. Jangan bilang kau lebih tertarik kepada Ariel? No, Mauren! Kau harus menggoda Ayahnya, bukan anaknya!" tegas Jian yang berpikir kalau Mauren lebih tertarik kepada Ariel dibandingkan Mahendra.
"Apaan sih, Bos! Hem! Kalau duda tua modelnya kek begini sih aku mau mau saja! Tidak apa-apa deh kegadisanku hilang, ya aku korbankan demi Adikku. Biaya rumah sakit sangatlah mahal," ucap Mauren apa adanya, sudah tidak sungkan lagi bagi Mauren untuk mengatakan tentang itu kepada Jian. El
"Oke! Tapi saya ragu? Apakah kamu bisa menjalankan tugas dari saya ini? Ini berat Mauren. Mahendra itu sulit ditaklukkan. Apa lagi kamu masih gres, belum mengerti apa-apa. Hem.... " Tuan Jian malah meragukan Mauren, sebelumnya dirinya yakin kalau Mauren bisa.
"Sangat sulit, sih tapi akan saya coba! Bos tenang saja, banyak tips yang dapat saya pelajari dari internet, video gitu. Jadi Bos tenang saja," ucap Mauren mencoba meyakinkan Tuan Jian.
Tuan Jian tersenyum menyeringai, dia sangat suka dengan semangatnya Mauren.
"Oke, deh. Jadi deal ya?" Tuan Jian mengulurkan tangan kanannya.
"Deal, dong! Demi kesembuhan Marisa, demi masa depan Marisa." Mauren menerima uluran tangan dari Tuan Jian.
Jian dan Mauren saling berjabat tangan, ada syarat lain yang harus Mauren pahami. Yaitu, Mauren harus merahasiakan tentang perjanjian ini, jangan sampai Mahendra mengetahui kalau Mauren dibayar untuk mendekatinya.
Jian melakukan ini bukan tanpa alasan. Sebagai sahabat, ia merasa kasihan juga kepada Mahendra, sudah 21 tahun lamanya sahabatnya hidup menduda, bahkan sejak kecil Ariel tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu. Selain itu juga, tentunya Jian ingin mengetes dan menguji kesetiaan Mahendra yang selalu mengatakan kalau tidak ada satu pun wanita yang mampu menggantikan posisi Stella di hatinya.
"Oke! Bos Jian tenang saja, saya akan merahasiakannya."
Setelah benar-benar deal, Mauren juga sudah menandatangi surat perjanjian tersebut, tinggal tugas Jian untuk mengatur waktu pertemuan antara Mauren dam Mahendra.
Sebagai uang muka, Mauren dikasih uang sebanyak 350 juta. Uang itu lebih dari cukup untuk mengganti biaya operasi Marisa, biaya pengobatan Marisa setelah operasi. Bahkan uang itu masih bisa Mauren sisihkan untuk bekal sehari-hari.
***
Disebuah kamar tampak seorang laki-laki yang duduk termenung di tepi ranjangnya. Sudah 21 tahun lamanya ranjang miliknya tidak pernah panas, tidak pernah ada aktivitas apa pun yang bisa menghangatkan tubuhnya, siapa lagi kalau bukan Mahendra Atmaja. Saat ini dirinya tengah menatap sebuh foto, tentunya foto pernikahan dirinya dengan Stella, air matanya menitik jatuh tepat di wajah Stella.
"Sampai saat ini aku masih menunggu kamu kembali, Sayang? Bahkan sampai detik ini pun aku masih belum mengetahui alasan kenapa dirimu harus pergi meninggalkan aku dan Ariel. Sayang ... aku selalu berharap dan berdoa, Tuhan mengembalikan kamu padaku dan Ariel, aku selalu menanti dan menanti meskipun lelah menunggu yang tidak pasti," lirih Mahendra, jari tangannya menghapus air matanya.
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka, siapa lagi kalau bukan Ariel putranya yang masuk.
"Daddy!" panggil Ariel berjalan menghampiri Daddy nya.
Ariel duduk disebelah sang ayah, merangkul kedua bahu sang ayah. Ariel merasakan sekali kalau saat ini Daddy nya sedang sedih, dan pastinya sedang merindukan Mommy-nya.
"Pasti Daddy sedang menangis Mommy? Dad, sudahlah! Lupakan wanita tidak punya hati itu. Daddy berhak bahagia dengan wanita lain, dari pada Daddy menunggu wanita itu, buang-buang waktu saja, Dad!"
Ariel selalu menyarankan Mahendra untuk menikah lagi. Namun, selalu Mahendra tolak. Mahendra memang sudah menutup hatinya rapat-rapat. Selama ini, Mahendra selalu merahasiakan tentang kepergian Stella kepada Ariel. Tapi, tak sengaja kala itu Ariel mendengar percakapan Mahendra dan Jian, tentunya membahas tentang Stella.
Dari situlah, Ariel jadi membenci sosok wanita yang katanya ibu kandungnya. Ariel membenci Ibunya yang pergi tanpa alasan.
"Iya, Ril. Tapi sangat sulit dijalani, Daddy tidak bisa melakukan itu, maaf! Di hati Daddy hanya ada Mommy kamu seorang, Ril." Mahendra kembali menolak saran dari putranya tersebut.
Ariel hanya bisa membuang napas kasar, dirinya sudah kebingungan dan tidak tahu lagi harus dengan cara seperti apa untuk membujuk Daddy nya.
Ariel juga ingin melihat Daddy nya bahagia, tanpa dihantui bayang-bayang Mommy nya. Selain itu, Ariel juga ingin sekali merasakan kasih sayang dari figur seorang Ibu, tak masalah nantinya wanita itu tidak menganggap dirinya sebagai putranya, yang terpenting bagi Ariel adalah wanita itu bisa membahagiakan Daddy nya, dan bisa membuat Daddy nya melupakan wanita yang bernama Stella.
Ariel pun keluar dari dalam kamar Daddy nya, Mahendra mendapatkan undangan makan malam disebuah hotel Bintang 5 dari rekan bisnisnya, tentunya bukan dari Jian.
Mahendra pasti akan datang, tidak enak juga menolak ajakan dari teman bisnisnya.
Sedangkan Mauren kembali melanjutkan pekerjaannya. Sore nanti, dirinya akan ke Rumah Sakit untuk melunasi biaya operasi Marisa. Nanti malam, Mauren akan mulai beraksi, menjalankan tugas dari Bos Jian.
"Dek, Kakak rela merendahkan harga diri Kakak seperti ini hanya demi kesembuhan kamu. Dek, kamu adalah satu-satunya keluarga yang Kakak miliki saat ini. Kakak melakukan ini semuanya tentunya bukan tanpa alasan, dengan uang yang akan Kakak dapat dari Bos Jian, bukan hanya untuk pengobatan saja. Tapi, kamu bisa melanjutkan studi kamu, setidaknya pendidikan kamu lebih tinggi dibandingkan Kakak." Mauren bermonolog lirih kala dirinya tengah mengepel lantai darurat. Andai saja Mauren memiliki uang banyak, dirinya tidak akan mungkin sampai nekad melakukan ini.
Mauren duduk sejenak, rasa lelah mual ia rasakan. Keringat mulai bercucuran, jari tangannya mengusap keringat tersebut. Kemudian Mauren menghidupkan layar ponselnya. Membuka situs online, gadis itu akan mencoba mempelajari tips bagaimana caranya menarik perhatian pria dewasa yang katanya sulit untuk ditaklukkan.
"Oh jadi begini!" Mauren mangut-mangut, ketika dirinya membaca sebuah artikel tersebut. Mauren sedikit paham, dan nanti malam akan ia praktekan.
"Semoga berhasil!" harap Mauren.
Bukan hanya membaca artike saja, bahkan Mauren juga memberanikan diri sampai menonton video dewasa, tontonan yang baru saja ia tonton. Mauren memang harus banyak belajar, agar nanti malam dirinya tidak terlihat kaku. Apa lagi pria tersebut sudah berpengalaman, bukan pemula seperti dirinya.
"Apa iya aku harus melakukan ini?" Mauren sampai menelan ludahnya dengan susah payah.
Mauren sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai paham dan berharap tidak gagal.
"Ibu sama Bapak yang sudah di Surga jangan marah ya sama Mauren? Please... Mauren harap Ibu sama Bapak bisa mengerti alasan Mauren kenapa harus melakukan ini. Memang sih masih banyak cara untuk mendapatkan uang? Tapi, ini mepet, darurat. Mana bisa Mauren dengan sekejap bisa mendapatkan uang yang banyak. Mauren kan bukan Doraemon yang mempunyai kantong ajaib," seloroh Mauren tersenyum tipis.
Air matanya seketika langsung menitik, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika dirinya akan terjebak dengan situasi yang menyulitkan seperti ini.
Malam telah tiba, Mahendra sudah berada di Restoran yang terletak di dalam hotel. Mauren juga sudah stay di sana, dirinya akan memulai misinya. Jian juga ada di sana juga, dirinya hanya memantau saja.
"Lah, tidak jadi datang kenapa?" tanya Mahendra tampak kesal ketika mendapat telepon dari rekan kerjanya yang mengatakan kalau acara makan malam ternyata batal.
"Sorry, Hen. Mendadak ada urusan darurat, tidak bisa ditunda lagi."
Mahendra menutup teleponnya saking kesalnya.
"Buang-buang waktu saja!" gerutu Mahendra yang langsung beranjak dari tempat duduknya, dirinya memutuskan untuk pulang saja.
BRUK!
Tak sengaja Mahendra menabrak seorang gadis, tak lain adalah Mauren. Gadis cantik itu sampai terjatuh, ini adalah salah satu trik Mauren.
"Sorry!" Mahendra mengulurkan tangan kanannya membantu gadis itu untuk berdiri.
Mauren menerima uluran tangan dari Mahendra, "Terima kasih, Om," ucap Mauren dengan nada suara dibuat manja dan seksi.
"Aduh!" teriak Mauren meringis, ekspresi wajahnya terlihat jelas kalau dirinya seperti orang kesakitan.
"Kenapa?" tanya Mahendra bingung kenapa gadis itu tiba-tiba saja teriak kesakitan.
"Sepertinya kaki aku keseleo, Om. Sakit banget! Ssshhttt ... kalau kaki aku sakit begini bagaimana aku bisa kembali ke kamar hotel." Mauren semakin menunjukkan kalau kakinya benar-benar sakit.
"Ya sudah, saya bantu kamu berjalan." Mahendra melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu.
Mauren begitu terkesima melihat aura duda tanpan ini. Ternyata melihat secara nyata lebih mempesona dibandingkan di foto.
"Sakit, Om! Aku gak kuat berjalan." Mauren mulai merengek, mulai drama kalau dirinya tidak kuat berjalan.
"Sorry! Kalau begitu saya akan gendong kamu, tidak apa-apa?" tanya Mahendra terlihat sangat kaku.
"Boleh Om. Maaf, Om. Aku sudah merepotkan Om begini," sahut Mauren.
"No problem! Lagian kaki kamu sakit seperti ini karena saya juga, kan!" Mahendra tersenyum, senyumannya membuat Mauren semakin meleleh saja, raut wajahnya yang maskulin ditambah satu lesung di pipi kirinya, usianya tertutup oleh auranya yang menawan.
Mahendra langsung meraih tubuh Mauren hingga berada dalam pangkuannya.
Jian ternyata masih memantau, dirinya sangat puas sekali dengan cara kerja Mauren untuk mendekati Mahendra.
"Kalau sudah begini, Mahendra akan terjebak di dalam kamar bersama Mauren. Oke, Mauren. Lanjutkan pekerjaan kamu, aku suka! Kau ternyata pintar juga." Jian tersenyum lebar, berharap rencananya dan Mauren berhasil.
Jian memutuskan untuk keluar dari Hotel, dirinya sangat yakin kalau malam ini Mauren tidak akan gagal. Jian berharap nantinya kehadiran Mauren bisa membuat Mahendra melupakan Stella, wanita yang sudah mematahkan hatinya.
"Di mana kamar kamu?" tanya Mahendra ketika sudah berada di lantai 5. Tadi Mauren sempat berkata kalau kamarnya berada di lantai 5.
"Di sana, Om. Di kamar nomer 505," jawab Mauren.
Tak terasa sampai juga di depan kamar hotel. Mahendra menurunkan tubuh gadis itu dari pangkuannya.
"Saya akan pijitin kaki kamu," tawar Mahendra, kebetulan Mahendra memang mengerti dan bisa memijit. Selain itu, ia tidak tega melihat gadis itu kesakitan.
"Baik, Om. Kalau Om tidak keberatan," ucap Mauren yang langsung menerima tawaran Mahendra.
Mauren membukakan pintu kamar hotelnya, tak lupa gadis itu menutup pintu kamarnya kembali. Jalannya masih pincang, Mahendra membantu Mauren untuk berjalan.
Mauren duduk di atas sofa, Mahendra jongkok di bawah kedua kaki Mauren, melepaskan kedua sepatu gadis yang usianya setara dengan Ariel putranya. Duda tampan dan berkarisma itu mulai memijit kaki kanan Mauren yang katanya keseleo.
"Aw... pelan-pelan, Om. Sakit!" Rintih Mauren semakin membuat Mahendra percaya kalau gadis itu memang tengah kesakitan.
Mahendra tersenyum, baru kali ini dirinya bisa tersenyum tulus kepada perempuan. Ia tersenyum saking gemasnya melihat ekspresi Mauren yang kesakitan akibat pijitan darinya.
"Sudah selesai!" Mahendra pun beranjak berdiri tegak.
Perlahan-lahan Mauren juga berdiri, mencoba untuk berjalan apakah kakinya terasa masih sakit atau tidak?
Mauren sampai jingkrak-jingkrak saking senangnya, sebenarnya memang kakinya tidak sakit.
"Wah ... Om hebat! Kakiku sudah tidak terasa sakit lagi!" Mauren berpura-pura akan terjatuh lagi.
"Awas! Hati-hati!" Dengan gesitnya Mahendra meraih salah satu tangan Mauren niatnya menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh lagi.
Namun, malah tangan Mauren yang menarik tangan Mahendra, bahkan Mauren dengan sengaja menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas sofa. Tangan Mahendra semakin tertarik hingga tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh gadis itu.
'Yes Berhasil!'
Mauren tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berlian ini, Maueren akan mulai mempraktekkan tips dari artikel yang sudah ia baca. Jari tangan Mauren yang lentik mulai meraba-raba wajah sampai leher Mahendra.
"Om, temani aku untuk malam ini? Please ...." pinta Mauren tersenyum nakal, sampai bibirnya yang mungil itu mengigit lembut daun telinganya Mahendra. Bahkan sampai memberanikan diri mengecup bagian leher Mahendra. itu salah satu tips yang Mauren pelajari dari sebuah artikel.
Mahendra merasa kesulitan untuk beranjak, seperti ada magnet dalam dirinya. Gairahnya seketika terangsang, hingga membuat Mahendra tidak bisa berkutik sama sekali. Bahkan, kedua matanya sampai terpenjam merasakan sentuhan dari Mauren.
"Anggap saja sebagai ucapan terima kasih dariku, karena Om sudah menolongku," ucap Mauren, kedua tangannya sudah melingkar di tengkuk Mahendra. Gadis itu tidak akan membiarkan pria itu lepas darinya.
Mahendra tercengang, dirinya baru tersadar setelah mendapatkan sentuhan yang membuat tubuhnya kaku dan panas bahkan merinding. Ini pertama kalinya bagi dirinya menghadapi gadis liar seperti Mauren.
Ternyata Mahendra masih normal, baru saja tangan Mauren yang nakal, dan mendapatkan sebuah kecupan lembut di lehernya, sudah membuat tubuhnya panas dingin
"Argh! Tidak bisa!" Tolak Mahendra berusaha memberontak, kedua tangannya menepis kedua tangan Mauren yang melingkar di tengkuknya. Hingga dirinya bisa terlepas dari dekapan gadis itu.
"Kau masih muda, kenapa kau sudah menjadi wanita penggoda seperti itu! Jangan menggodaku! Aku tidak akan pernah tergoda sedikit pun! Dasar gadis sampah! Sepertinya aku sudah tertipu. Kau butuh uang berapa? Aku akan memberikan uang berapa pun yang kau minta," ucap Mahendra, nada suaranya terdengar membentak, terlihat angkuh sekali. Mahendra merapikan pakaiannya, memutar tubuhnya membelakangi Mauren.
Mauren semakin tertantang saja, ternyata tips itu tidak mempan. Mauren tidak menyerah, dirinya beranjak berdiri, lalu kembali memeluk tubuh Mahendra dar arah belakang.
"Aku tidak butuh uang dari kamu, Om. Beneran tadi itu kaki aku sakit, sama sekali tidak menipumu. Aku hanya gadis yang tengah patah hati. Aku memergoki kekasihku sedang bermain ranjang dengan wanita lain. Rasanya aku ingin membalas rasa sakitku ini, mungkin dengan cara aku melakukan apa yang dia lakuka, rasa sakit dihatiku akan terobati mungkin." Mauren kembali drama.
Mahendra kembali dibuat kaku oleh gadis itu.
"Bagaimana kalau kita kenalan dulu, namaku, Mauren. Nama Om siapa? Bisakah kita menjadi teman? Itu pun kalau Om tidak keberatan. Hm! Soal status, Om ini pasti sudah punya anak dan istri, kan? Tapi... aku tidak peduli deh. Jadi, gimana kalau malam ini kita senang-senang saja?Anggap saja malam ini Om sedang mendapatkan durian runtuh. Kapan lagi coba?" Mauren tidak menyerah, sikap jutek, angkuh dan dinginnya Mahendra membuat Mauren semakin ingin menaklukkan pria tersebut.
"Ngaco! Saya tetap akan menolak. Saya bukan tife laki-laki yang suka main perempuan, kau salah orang! Kalau kau ingin melampiaskan nafsumu untuk membalas sakit hati atas pengkhianat pacarmu jangan sama saya, cari saja pria cassanova di luaran sana." Mahendra masih menolak, berusaha menepis kedua tangan Mauren yang melingkar di perutnya.
Namun, Mauren malah memutar tubuh Mahendra, mendorong tubuh pria itu sampai kembali terhempas di atas sofa. Dengan gesit, Mauren melepaskan sepatu yang digunakan Mahendra, jari tangan Mauren memberikan sedikit kelitikan pada bagian bawah kaki Mahendra.
"Dasar gadis gila!" desis Mahendra yang kembali dibuat tak berdaya oleh gadis itu.
"Sepertinya punya Om ini sangat besar, padat dan berisi. Sepertinya aku akan puas jika menikmati punyamu ini, Om." Mauren semakin liar saja, tangan Mauren beralih, bahkan dirinya memberanikan membuka rel selentingan benang yang menutupi benda pusaka tersebut. Hanya dengan sekali sentuhan, benda pusaka itu seketika bereaksi.
"Lepas! Dan hentikan!" sentak Mahendra mencoba menolak rasa nikmat yang sudah ia dapatkan dari sentuhan tangan gadis itu.
"Hentikan, saya mohon! Hentikan!" bentaknya lagi.
Mahendra mendorong tubuh gadis itu sampai terjatuh, Mahendra menyembunyikan kembali miliknya yang sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kau gila!" Rahang Mahendra sampai mengeras saking marahnya.
Mauren tidak menyerah, dirinya meraih kedua kaki Mahendra, melingkarkan kedua tangannya di kedua kaki laki-laki tersebut.
"Om, aku tidak akan membiarkan kamu pergi!" Mauren benar-benar sudah gila, tertantang juga dengan tawaran Jian. Terlanjur juga tangannya menyentuh benda haram tersebut. Tak munafik juga, hasratnya juga seketika muncul begitu saja.
"Lepas!" Mahendra kembali menyentak Mauren.
Namun, gadis itu tidak ada rasa sakit sama sekali meskipun beberapa kali dibentak oleh pria itu, dirinya akan kembali melanjutkan aksinya. Masih ada cara lain lagi yang sudah ia pelajari.
Berhasilkah Mauren membuat Mahendra terjebak dan tidak bisa menolak?