"Emak pengen liat Santi menikah," suara Kanya menyapa begitu ia keluar dari kamar Sumi, ibunya.
Santi hanya tertunduk, menatap nanar ke arah segelas air teh tawar hangat yang tak kunjung diminumnya. Sementara Kanya, sang kakak langsung mengambil posisi duduk disamping adiknya itu.
"Dek," panggil Kanya karena Santi yang tak kunjung bersuara.
"Santi gak pernah pacaran, mbak. Santi gak punya kandidat laki-laki yang bisa dijadikan suami, lantas Santi harus gimana? Santi gak siap menikah dan gak mungkin nikah dalam waktu cepat," jawab Santi akhirnya. Walaupun dengan suara yang tercekik karena susah payah menahan tangisnya. "Emak udah setengah sadar, Mbak. Yang saat ini berlomba sama Santi bukan soal siapa yang cepat menikah, tapi yang saat ini yang berlomba sama Santi itu umurnya emak. Kemungkinannya cuma dua, Santi yang lebih dulu menikah, atau Emak yang lebih dulu tiada."
Sebutir air mata meleleh dari pelupuk mata Santi dan membasahi pipinya. Hatinya berdesir perih, dan dadanya terasa begitu sesak sehingga Santi harus menumbuk dadanya beberapa kali, sembari berharap rasa sesak itu segera hilang.
Bayangan kematian ibunya benar-benar menyakiti Santi, terlebih lagi keadaan Sumi yang terlihat sudah setengah sadar. Seolah saat ini Santi dan Kanya sedang menghitung mundur usia ibunya sendiri.
"Dek...." Kanya mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut bahu Santi. "Dulu Mbak juga gak punya pacar. Mbak dijodohkan dengan Mas Adipati karena wasiat almarhum Bapak yang pengen liat anak perempuan pertamanya menikah... Bapak waktu itu pengen jadi wali nikah buat Mbak. Kali ini Emak pengen lihat kamu nikah dulu, dek... apa kamu tega gak mau mengabulkan permintaan Emak? Seperti kata kamu, saat ini kita sedang berlomba sama umurnya Emak. Mumpung Emak masih ada, mumpung Emak masih bisa melihat, kamu masih punya kesempatan buat nikah dan mengabulkan permintaan Emak, dek."
Dengan wajah yang berurai air mata, Santi mendongak dan menatap wajah kakaknya. "Mbak sendiri bagaimana? Bahagia dengan pernikahan Mbak? Mbak cinta sama Mas Adipati?" tanya Santi bertubi-tubi dengan suara parau.
Santi meminta validasi. Apakah pernikahan tanpa cinta yang didasari karena perjodohan akan berujung mulus. Santi perlu bukti.
"Mas Adipati baik, dek. Dia suami yang sempurna. Mbak akhirnya bisa cinta sama dia, dan rumah tangga kami baik-baik saja. Dijodohkan itu gak semengerikan yang kamu pikirkan. Kamu mau ya, nurutin maunya Emak? Supaya kamu gak menyesal kalo pun nanti Emak pendek umur."
"Lalu Mas Adipati sendiri gimana? Dia cinta sama Mbak?"
"Mas Adipati menghargai Mbak sebagai istrinya."
"Itu artinya dia gak cinta sama Mbak," pungkas Santi dengan pedih. Air mata kian mengalir deras membasahi pipinya. "Santi gak mau dijodohkan, Mbak... Santi gak siap. Santi gak akan sanggup kalo harus hidup sama laki-laki yang sama sekali gak cinta sama Santi. Kalo Mbak punya Mas Adipati yang bisa menghargai Mbak sebagai istrinya, suami Santi nanti belum tentu akan sebaik itu. Gimana kalo-"
"Emak ngorok," ujar Adipati tiba-tiba menyela percakapan di antara Santi dan Kanya.
Pria jangkung dengan paras tampan itu melayangkan tatapan paniknya pada Kanya dan Santi secara bergantian.
"Kanya... Santi... Emak sudah di ambang usianya. Emak sudah ngorok," lanjut Adipati mengulangi ucapannya.
Sontak, Kanya dan Santi pun berjingkat bangun dari duduknya dan langsung berlari tergesa-gesa masuk ke dalam kamar.
Nyawa sudah berada di kerongkongan. Sumi terus ngorok dengan mata yang tertutup begitu rapat, seperti enggan untuk kembali terbuka. Sumi sudah tuli, ia tak mendengar teriakan putus asa dari Santi yang memintanya kembali bangun dan Sadar.
"Emak... Emak jangan gini. Emak jangan tidur, Mak... bangun! Mak bangun!" pekik Santi yang berusaha membangunkan sang ibu dengan menepuk-nepuk pelan pipinya.
Lalu tiba-tiba Sumi berhenti ngorok, dan langsung tekulai lemas begitu saja sehingga Adipati beringsut naik ke atas ranjang. Mengecek napas juga nadi Sumi, untuk kemudian ia pun berakhir dengan berkata-
"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Emak sudah berpulang."
***
Usai pemakaman Sumi, Santi pada akhirnya diboyong pergi oleh Kanya dan Adipati. Kini ia jadi yatim piatu. Satu-satunya ibu yang ia punya, kini sudah tiada.
"Jangan banyak melamun, tidak baik. Emak sudah tenang, Santi. Emak udah gak sakit lagi," ucap Adipati menenangkan. Ia mengusap puncak kepala Santi untuk menyadarkan remaja 18 tahun itu dari lamunanya.
Santi diam. Ia tak bersuara, tapi kemudian ia menyeka air matanya. Sementara Adipati menarik kembali tangannya menjauh dari kepala Santi.
"Lebih baik kamu segera ke kamar. Istirahat. Menangis boleh saja, tapi jangan terlalu berlebihan. Kasihan Emak, beliau sudah tenang. Jangan sampe air mata kamu malah memberatkan urusan Emak di alam sana," lanjut Adipati menambahkan.
Setelahnya pria itu pun beranjak pergi meninggalkan Santi seorang diri. Perlahan, Santi pun melangkah gontai, menyeret tas ranselnya menuju ke arah kamar yang disediakan.
Kamar yang sangat besar. 2 kali lipat lebih besar dari kamarnya di rumah orang tuanya. Ah, tak aneh sebenarnya. Adipati bekerja di pertambangan minyak di tengah laut sana, entah laut mana, Santi tak pernah tahu. Yang ia tahu dari cerita Kanya hanyalah kondisi di mana Adipati jarang sekali pulang karena pekerjaannya, tetapi punya gaji yang sangat besar.
Di dalam kamar itu, Santi merebahkan tubuhnya. Menatap nanar langit-langit kamar yang cerah karena lampu cantik yang membuatnya terang, berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang justru kelabu.
Air mata kembali meleleh dari sudut matanya. Kali ini tanpa isakan. Santi menangis dalam diam, mengingat betapa rindunya ia pada sang ibu, tapi ibunya kini sudah terlalu jauh.
"Emak perginya terlalu jauh. Santi gak kuat," cicit Santi nelangsa. Sebutir air mata pun meleleh dari sudut matanya.
Suara ketukan pintu kemudian terdengar, tapi Santi enggan beranjak. Ia tetap bergeming di tempatnya, pura-pura tak mendengar apapun.
"Dek... Santi... ini, Mbak." Suara Kanya memanggil dari luar.
Santi diam.
"Mbak masuk ya," tambahnya lalu kemudian membuka pintu dan melangkah masuk begitu pintu kamar itu kembali ia tutup dan kunci dari dalam. Entah untuk alasan apa.
Setelahnya, dengan hati-hati Kanya mengambil posisi duduk ditepian tempat tidur. Ia mengulutkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Santi dengan penuh sayang, sementara matanya menatap sendu ke arah adiknya itu.
"Mbak," cicit Santi dengan suara parau. Kali ini ia bersuara memanggil kakaknya.
"Iya?"
"Kalo aja waktu bisa diulang. Rasanya Santi gak masalah menikah dengan siapapun, asal Emak bisa liat Santi nikah dulu. Tapi, sayangnya Santi gak punya cowok manapun yang bisa dijadikan suami. Emak gak bisa liat Santi nikah karena Santi gak punya jodoh," sesal Santi. Ia bahkan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Menurut Santi, mas Adipati itu orang yang gimana?" tanya Kanya tiba-tiba, tanpa sekalipun mengindahkan ucapan putus asa dari Santi.
Ditanya seperti itu, Santi pun menoleh. Ia menatap tepat di mata Kanya, mencari-cari alasan kenapa Kanya bertanya seperti itu. Tapi ia tak menemukan alasan apapun. Mata Kanya tak terbaca olehnya.
"Mas Adipati orang yang baik. Dia juga bertanggung jawab, menghormati Mbak, dan penyayang."
"Menurut kamu, mas Adipati itu ganteng apa enggak?"
"Ganteng, makanya Mbak bisa cinta," tandas Santi sedikit menyisipkan godaan dalam nada bicaranya. Seolah lupa dengan segala sedih yabg tadi sempat melandanya.
Kanya tersenyum tipis mendengar jawaban dari adiknya itu. Ia kemudian beralih mengusap pipi Santi, sebelum tiba-tiba berkata-
"Kalau kamu menikah dengan Mas Adipati saja, gimana? Mbak ridho kalo berbagi suami sama kamu."
"Kalau kamu menikah dengan Mas Adipati saja, gimana? Mbak ridho kalo berbagi suami sama kamu."
"Gak bisa dan gak mungkin. Mbak pikir Santi ini perempuan macam apa sampe Mbak mau berbagi suami? Mbak seolah-olah men-cap Santi sebagai perempuan gak laku, sampe harus mengemis dinikahkan dengan suami kakaknya sendiri," cetus Santi menolak keras tawaran tak masuk akal yang tiba-tiba saja dilayangkan oleh kakaknya.
Dada Santi naik turun karena gejolak amarah yang tiba-tiba saja memuncak, sampai-sampai membuatnya terasa sesak. Ia bahkan tak segan melayangkan tatapan tajamnya pada sang kakak untuk sekadar menunjukan ketidak setujuannya.
Namun, seolah tak terpengaruh sama sekali. Kanya masih saja memasang ekspresi tenangnya ketika menatap Santi.
"Mbak gak berpikiran untuk mengejek kamu, dek... enggak sama sekali. Mbak-"
"Keluar, mbak... aku gak mau bicara lagi sama mbak. Aku mau istirahat," pungkas Santi menyela ucapan kakaknya sendiri. Secara terang-terangan ia mengusir Kanya, melupakan fakta kalau saat ini ia tinggal disebuah kamar yang disediakan oleh kakaknya sendiri. Santi lupa fakta bahwa ia hanya menumpang.
Helaan napas berat kemudian terdengar keluar dari mulut Kanya, lalu dengan berat hati, ia pun bangkit berdiri dan nelangkah pergi meninggalkan kamar Santi.
***
Di dalam kamar pribadinya, Kanya bersandar lesu pada kepala ranjang, lalu menatap lurus ke depan dengan pikiran yang melayang entah ke mana.
Sementara itu, Adipati yang baru saja keluar dari kamar mandi selesai membersihkan dirinya pun hanya sebentar melirik ke arah Kanya, sebelum kemudian melangkah ke dekat nakas dan mengeluarkan dua botol obat dari dalam laci.
Beberapa butir obat ia keluarkan, lalu kemudian tanpa kata ia ulurkan pada Kanya, diiringi dengan uluran segelas air putih.
"Terima kasih," kata Kanya seraya memasukan kedua butir obat ke dalam mulutnya, lalu kemudian ia terima uluran segelas air putih itu untuk ia teguk sampai obat itu tertelan dengan sempurna.
Hening untuk sejenak ketika Adipati meraih kembali gelas kosong dari tangan Kanya untuk ia taruh ke atas nakas, lalu setelahnya ia pun mengambil posisi berbaring tepat di samping kanya dan menatap bingung ke arah istrinya itu.
"Kamu baik-baik aja? Tadi, di pemakaman kamu gak nangis sama sekali. Kalo mau nangis, boleh kok. Rasa sedih yang dipendam itu gak baik, kanya," cetus Adipati memulai pembicaraan.
Kanya menoleh sebentar lalu menghela napas berat, sebelum kemudian ia kembali menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang kosong.
"Aku gak tahu, Mas. Rasanya terlalu sakit, sampe air mataku aja gak bisa keluar. Hatiku rasanya kosong. Pertama Abah, lalu sekarang Emak. Kehilangan keduanya ngebuat aku jadi linglung antara harus nangis atau gimana, aku gak tahu."
Adipati diam. Ada perasaan tak tega tatkala melihat Kanya yang seperti ini, ia merasa harus mengulurkan tangannya dan mengusap bahu Kanya lalu menenangkannya, tapi ia mengurungkan niatnya itu. Pada akhirnya Adipati hanya bisa bergeming di tempatnya tanpa bicara apapun, membuat keheningan melingkupi keduanya.
Cukup lama mereka berada dalam keheningan. Sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai kemudian Kanya berhenti melamun dan menoleh ke arah Adipati untuk menatap lamat-lamat ke arah suaminya itu.
"Mas," panggilnya. Memecahkan keheningan yang sedari tadi melingkupi mereka.
"Iya?" sahut Adipati seraya menolehkan wajahnya menatap ke arah Kanya.
"Menurut kamu Santi itu gimana, Mas?"
"Santi anak yang baik. Dia sopan dan-"
"Bukan itu maksud aku," tukas Kanya menyela ucapan Adipati, membuat pria itu mengernyit bingung.
"Lalu, gimana maksud kamu?"
"Maksud aku... kalo dari kacamata seorang laki-laki, Santi itu gimana? Aku minta pendapat kamu sebagai laki-laki dewasa yang menilai perempuan lain, ya, bukan menilai adik sendiri."
Sejenak, Adipati mengerjapkan matanya beberapa kali. Kentara sekali kalau ia sedang memikirkan jawabannya.
"Ya, kalo menurut aku, Santi itu perempuan yang cantik dan sopan. Dia juga cukup mandiri, kan? Walaupun masih belia, tapi Santi serba bisa. Kalo kamu emang keukeuh mau mencarikan Santi calon suami, mungkin aku bisa bantu cari dari temanku yang sudah mapan dan cukup baik untuk jadi pasangan Santi. Toh aku yakin Santi pun sudah cukup baik untuk jadi seorang istri," kata Adipati.
"Jadi kamu pun setuju kalo Santi itu istri ideal walaupun masih sangat muda?"
"Iya." Adipati menganggukan kepalanya, setuju dengan ucapan Kanya.
Seulas senyum pun kemudian terbit di wajah Kanya.
"Jadi, kamu sendiri gimana, Mas? Dimulai sejak kapan kamu suka sama Santi?" tanya Kanya tiba-tiba dengan ringannya.
Sontak saja, Adipati terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. Kemudian ia pun menatap terkejut ke arah Kanya dengan kedua mata yang terbelalak sempurna, sementara Kanya justru terlihat tenang dengan seulas senyum yang masih terlukis di wajahnya.
"Isi kepala kamu itu kayaknya lagi kusut dan penuh, Kanya, makanya kamu ngomongnya jadi ngawur gini. Sekarang lebih baik kamu istirahat aja, kamu kayaknya capek."
"Semuanya terlihat jelas, kok, Mas. Kamu punya tatapan yang beda. Aku tahu kamu sayang sama Santi, tapi aku juga tahu kalo rasa sayang itu bukan rasa sayang seorang kakak ke adiknya. Jadi, sejak kapan kamu punya perasaan sama Santi? Aku bilang gini bukan karena marah, aku gak marah sama sekali. Aku cuma penasaran aja," ujarnya.
Mendengar hal itu, Adipati pun tertegun untuk beberapa saat. Ia merasa bimbang ketika harus memikirkan jawabannya sendiri.
"Kenapa tiba-tiba kamu bicara kayak gini? Kok tiba-tiba tanya begitu?"
"Karena aku pikir kamu cukup baik untuk jadi suami Santi. Terlebih lagi kamu punya perasaan cinta untuk dia. Aku yakin kamu bisa buat Santi bahagia, bisa jadi pundak buat Santi bersandar kalo nanti aku gak ada. Sekarang dan kedepannya Santi cuma punya aku, kalo aku sampe meninggal juga, Santi gimana? Makanya aku mau titip Sama kamu. Cintai dan jaga dia dengan sepenuh hati kamu, Mas... aku beneran ikhlas."
"Jangan ngawur. Oke, aku jawab kalo aku memang punya perasaan sama Santi sejak Santi berusia 15 tahun. Aku suka dia dari pertama kali aku datang ke rumah orang tua kamu, tapi cukup sampe di situ aja. Dari awal aku nikah sama kamu, istri aku ya cuma kamu. Perasaanku sama Santi udah lama aku kubur, Kanya. Perasaan sayang yang tersisa cuma rasa sayang seorang kakak ke adiknya, gak lebih. Istriku cuma kamu," ujar Adipati dengan tegas.
"Tapi aku sakit-sakitan. Kamu bakal lelah kalo terus ngurusin aku yang harus sering minum obat , dan sangat ngerepotin kamu. Kamu pengen punya anak, kan, Mas? Menikahlah dengan Santi. Santi sehat, dia bisa ngasih kamu keturunan. Aku gak masalah kalo harus di madu, sungguh...."
"Gak akan, Kanya. Kamu masih bisa sehat, dan kamu masih akan jadi istriku. Ada banyak temen aku yang bisa jadi kandidat calon suami untuk Santi. Selagi kamu masih jadi istriku, aku gak akan sekalipun melirik perempuan lain ataupun menikahinya. Aku hanya punya satu istri dan itu kamu."
"Tapi, masalannya... kalo kamu tetep setia sama aku, yang kamu hadapi kedepannya bukan cuma kamu yang harus sanggup direpotkan dengan kondisi penyakitku yang paling parah, tapi kamu juga bakal dihadapkan skenario terburuk kalo kamu juga bakal kehilangan aku selamanya. Menikahlah lagi, Mas... cari perempuan yang sehat. Jangan terus menghabiskan waktu kamu sama aku."
Di pagi , setelah 7 hari kematian Sumi. Adipati sudah tampak rapi dengan pakaian casual yang dikenakannya. Hanya kaus apolo hitam dan celana denim yang membuatnya tampak segar. Ia sedang menyisir rambutnya di depan cermin, sebelum kemudian menoleh ke arah Kanya yang tampak sedang duduk menikmati secangkir teh melati hangat di balkon kamar.
"Kanya," panggil Adipati seraya melangkah mendekat ke arah balkon.
"Iya, Mas?" sahut Kanya yang menolehkan wajahnya beberapa saat untuk menatap ke arah sang suami.
"Hari ini aku akan pergi ke kota untuk ke kantor. Niatnya aku mau minta cuti dan ingin menyesuaikan jadwal. Lusa kita pergi ke rumah sakit di kota, ya? Semoga ada pengobatan yang lebih efektif dan lebih baik daripada sekadar mengonsumsi obat," kata Adipati memberitahukan. "Kata istri temanku yang seorang dokter, meminum obat steroid dalam waktu lama sangat gak baik buat kesehatan. Lusa kita konsultasi lagi ya, semoga aja ada alternatif pengobatan yang lebih bagus dan efektif."
"Iya, Mas."
Adipadti tersenyum hangat pada istrinya itu lalu perlahan mengulurkan tangannya dan menundukan wajah untuk sekadar mendaratkan kecupan ringan di kening Kanya.
"Kalau gitu aku pergi dulu,ya." Adipati pun menarik dirinya menjauh dari Kanya, sebelum kemudian ia menepuk keningnya ketika mengingat sesuatu. "Aku lupa memakai jam tangan," lanjutnya berujar.
Tanpa banyak bicara, ia pun melenggang pergi ke walkin closet untuk mengambil arloji miliknya. Sementara Kanya masih setia duduk di tempatnya, kembali menyesap secangkir teh miliknya.
Belum lama setelah kepergian Adipati, tiba-tiba saja cangkir yang sedang dipegang oleh Kanya itu tergelincir dari tangannya lalu jatuh terburai begitu saja di lantai.
Adipati yang mendengar suara benda pecah itu pun langsung keluar dari walk in closet untuk sekadar mendapati Kanya yang tampak meraba-raba meja di hadapannya dengan panik.
"Kanya ada apa? Ada yang luka?" tanya Adipati tak kalah paniknya. Di detik itu pula ia mehampiri kanya dan memastikan keadaannya, ia meraih kedua tangan istrinya itu mencari cari luka di sana lalu kemudian menghela napas lega ketika tak menemukan segores luka apapun di sana. "Syukurlah gak ada luka apapun," lanjutnya.
Sementara Kanya hanya mematung di tempatnya, menarik tangannya dari genggaman Adipati lalu meraba-raba udara, dengan kedua matanya yang menunjukan sorot tak fokus, membuat Adipati yang melihatnya pun seketika mengerutkan keningnya bingung.
"Kanya... kenapa? Apa yang terjadi?" Adipati bertanya lagi. Merasa risau sekaligus bingung ketika melihat Kanya yang terus terlihat panik sembari terus meraba-raba udara di depannya. Namun, Kanya tak sekalipun menjawabnya.
"Kanya," panggil Adipati saat tak kunjung mendapatkan jawaban. "Kamu kenapa? Coba tatap aku, bilang sama aku kamu kenapa?"
Kali ini Adipati menangkup wajah Kanya dan membuat istrinya itu menatap kearahnya. Namun, lagi-lagi yang didapatinya dari wajah Kanya hanyalah kepanikan besar juga sorot matany yang tak fokus.
"Mas... aku harus gimana? Semuanya gelap... aku gak bisa lihat kamu."
Sebutir air mata meleleh membasahi pipi Kanya, dan ia pun mulai terisak pedih. Membuat Adipati seketika terbelalak sempurna dan di detik yang sama pula ia melambai-lambaikan tangannya. Mencoba untuk mengecek kondisi penglihatan Kanya, tapi nihil... kedua mata Kanya tak sekalipun bereaksi dengan gerakannya dan hal itu membuat jantung Adipati berhenti berdetak.
Dengan gemetar, ia menggerakan tangannya untuk menyeka air mata Kanya, lalu dengan sedih ia meraih perempuan itu ke dalam pelukannya.
"Ayo... kita pergi ke rumah sakit, Kanya. Tak boleh lusa. Kita pergi ke sana sekarang," gumamnya seraya mengusap pelan punggung Kanya untuk sekadar menenangkannya.
***
"Multiple Sclerosis yang diderita pasien sudah sangat parah. Obat-obatan yang dikonsumsi sudah menyebabkan efek samping yang mengkhawatirkan. Sekarang mungkin hanya saraf matanya yang rusak, tapi setelah ini mungkin gejalanya akan semakinmemburuk. Entah itu menyerang saraf motoriknya, atau bahkan kehilangan kemampuan untuk bicara. Saat ini cara yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah kerusakan saraf lebih banyak lagi," ujar dokter itu menjelaskan pelan-pelan.
"Kalau begitu jadwalkan operasinya secepat mungkin. Kalau dengan operasi bisa membuat istriku sembuh, maka lakukanlah."
"Gak bisa mendadak, pak. Pasien harus menjalani beberapa mengecekan untuk memastikan kondisi tubuhnya sebelum memutuskan dilakukan tindakan pembedahan, apakah kondisi pasien memungkinkan untuk menjalani operasi atau tidak. Sebab, peluang dalam proses operasi ini hanya 50:50 yang artinya ada banyak resiko yang akan ditanggung. Setelah saya mengatakan hal ini apa bapak tetap bersedia untuk menyetujui opsi ini?"
Seketika Adipati pun dibuat membeku di tempatnya. Dengan susah payah ia menelan ludah dan menghela napas berat beberapa kali, sebelum kemudian menoleh sedih ke arah Kanya yang sedari tadi hanya duduk dan menatap lurus ke depan dengan sorot mata kosong.
"Kanya... bagaimana keputusanmu? Apa kamu bersedia untuk menjalani operasi? Jika 'iya' aku mohon kamu tetap tenang, kesampingkan tentang kemungkinan 50% terburuknya, karena kamu masih punya 50% untuk tetap sembuh."
Namun, Kanya tak langsung menjawab. Ia lebih dulu bangkit berdiri dan menatap kosong ke depan dengan kedua bola matanya yang bergerak resah, berusaha mencari-cari titik fokus. Walaupun sejatinya yang ia lihat hanya kegelapan yang pekat.
"Pulang," gumam Kanya lirih.
"Ya, kanya?" sahut Adipati bertanya. Sebab tak satu patah kata pun ia dengar dengan jelas apa isi dari gumaman Kanya padanya.
"Aku mau pulang, Mas. Kita pulang sekarang," ulangnya dengan suara yang tercekat.
Mendengar hal itu, Adipati pun hanya bisa menghela napas berat dan melayangkan tatapan penuh rasa sesal pada dokter yang duduk di hadapannya.
Ia berpamitan pada dokter itu dan sesegera mungkin membawa Kanya keluar dari ruang konsultasi itu. Dengan penuh kehati-hatian, Adipati memapah sang istri menuju lobi rumah sakit dan keluar dari sana untuk segera naik ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
"Gimana perasaan kamu sekarang?" tanya Adipati lembut, sembari memasangkan sabuk pengaman. Kemudian duduk dengan tenang di kursi kemudinya.
Mesin mobil dinyalakan, tetapi Kanya tak kunjung menjawab, sehingga pada akhirnya Adipati pun memilih untuk melajukan mobil itu dan tak lagi bertanya pada Kanya. Namun, belum setengah perjalan, tiba-tiba Kanya pun bersuara-
"Aku takut, Mas. Sekarang perasaanku gak karuan. Aku cuma mau pulang... aku mau ketemu Santi."
Adipati melirik ke arah Kanya sejenak untuk sekadar mendapati raut pedih yang tercipta di wajah cantik istrinya itu , sebelum kemudian ia pun kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan dihadapannya.
"Maafin aku, ya, Kanya. Aku gak bermaksud menambah beban pikiran kamu. Kendalinya ada di tangan kamu. Operasi memang jalan yang terlalu riskan, nanti aku bakal nyoba nyari informasi apa kiranya tetap ada pengobatan herbal yang bisa seenggaknya mengurangi atau menghambat penyakit kamu."
"Kamu gak perlu minta maaf, Mas. Untuk operasinya akan aku pertimbangkan, tapi gak dalam waktu sekarang. Aku butuh waktu buat mempertimbanhkannya dulu, gapapa kan? Terus hari ini aku gak tidur di kamar kita, ya? Aku gak marah sama kamu, gak sama sekali. Cuma entah kenapa sekarang aku ngerasa pengen ketemu Santi terus pengen sekamar sama dia dulu. Tiba-tiba aja aku inget kenangan yang dulu-dulu... aku kangen ngobrol banyak hal sama dia. Kali ini aku mau membuat kenangan manis sama Santi karena takut aku gak punya cukup waktu buat ketemu dia lagi."