Bab 1

Di sebuah klub malam ternama di ibu kota tepatnya di daerah kawasan Semanggi Jakarta Selatan, hingar-bingar gemerlapnya dunia malam seakan tak pernah surut dari tempat itu. Sebagian dari mereka yang datang, bertujuan melepas penat dengan menghibur diri di diskotik yang selalu dipenuhi pelanggan. Dari kalangan muda bahkan yang sudah berkeluarga.

Suara dentuman musik DJ yang memekakkan telinga, seolah menghipnotis orang-orang yang berada di atas lantai dansa. Berjoget, bergoyang, bahkan ada yang saling bercumbu dengan bebasnya tanpa rasa malu. Mereka semua terlena dengan suasana malam yang semakin panas dan bergelora.

Sementara di sudut klub itu, seorang pemuda tengah duduk berdampingan dengan seorang wanita dewasa. Penampilan wanita itu sangat mencolok, terlihat dari warna lipstik yang dia pakai malam ini. Warna merah menyala senada dengan gaun mini sepaha model sabrina, berbelahan dada sangat rendah. Tampak menyembul bongkahan kenyal dan terlihat padat itu.

Kulitnya putih mulus, ditunjang dengan postur tubuh yang sangat pas, hingga membuat semua mata hidung belang yang berada di sana, tak jarang meliriknya dengan tatapan lapar.

Namun, wanita bernama tante Rika itu tidak peduli sama sekali. Meski banyak yang mencoba untuk menggodanya. Pilihannya tetap jatuh pada sosok pemuda di sampingnya ini. Pemuda berkharisma yang telah menariknya ke dalam pesonanya, sejak pertemuan pertama.

Sosok pemuda yang dikenal sebagai bintangnya di klub malam tersebut. Siapa lagi kalau bukan Raffa Anggara. Pemuda yang berhasil memikat para wanita muda maupun dewasa. Semua berlomba-lomba ingin mendapat kepuasan darinya dan berusaha menarik hatinya.

Tante Rika tak pernah bosan menatap pemuda berlesung pipi ini. Meski Raffa terbilang cuek dan datar, tetapi tetap saja tidak melunturkan pesona yang dimilikinya. Hal itu justru membuat para kaum wanita dewasa yang sering datang ke sini menjadi penasaran dengannya. Ingin mengenalnya lebih jauh, walau sekedar menghabiskan cinta satu malam.

"Malam ini kita ke tempat biasa atau pindah tempat?" tanya tante Rika dengan suaranya yang lembut dan sedikit serak. Dia bergelayut di lengan Raffa yang sedang asyik menikmati minumannya.

Pemuda itu menyandarkan punggungnya di tempatnya duduk lalu berkata,

"Terserah Tante. Raffa nurut aja." Dia menatap tante Rika dengan datar, suara beratnya cukup membuat wanita itu berdesir.

Tante Rika tersenyum kemudian membelai dan mengusap-usap wajah Raffa.

"Baiklah. Kalau begitu kita pindah ke tempat lain aja," ucapnya yang kini semakin posesif—menyandarkan kepalanya tepat di depan dada Raffa.

Jemari lentiknya, yang berhias cat kuku berwarna senada dengan gaunnya mulai bergerilya, menelusup di balik kemeja hitam pemuda berusia 23 tahun itu. Mengelusnya perlahan dan lembut.

Raffa bergeming. Tante Rika selalu agresif bila berhadapan dengannya. Oleh karena itu, dia hanya pasrah dengan apa yang dilakukan wanita kesepian di sebelahnya ini. Mengecup, mengelus, bahkan menghidu lekuk leher Raffa, yang katanya beraroma maskulin.

Wanita berusia 36 tahun tersebut, selalu membayarnya mahal di setiap pertemuan mereka. Uang tak jadi masalah bagi wanita yang memiliki beberapa cabang Salon dan SPA itu. Menjadi janda hampir delapan tahun lamanya membuat Tante Rika selalu mencari teman penghangat ranjang. Bertemu dengan Raffa adalah suatu kesenangan dan kepuasan tersendiri baginya.

Menyewa jasa Raffa setiap satu Minggu sekali, terkadang dua kali bila dirinya benar-benar sangat ingin. Tak mau yang lain meski ada banyak pemuda yang berprofesi sama seperti Raffa di diskotek itu.

Contohnya pemuda yang sedari tadi menatap ke arah Raffa dan tante Rika dengan tatapan tak suka. Setelah kehadiran Raffa di diskotek ini, tiga tahun yang lalu. Menggeser posisinya yang semula bintang di sini, menjadi berada di urutan kedua.

Axel—lelaki berusia 26 tahun yang sudah melakoni profesi ini selama hampir lima tahun lamanya. Dia tidak kalah tampan dibandingkan Raffa. Postur tubuhnya juga tak kalah dari pemuda 23 tahun itu. Tinggi, tegap, berotot, dan gagah. Kulitnya eksotis khas lelaki Asia pada umumnya.

"Sial! Semenjak ada dia di sini, gua jadi sepi pelanggan." Axel terus mengumpat Raffa dari kejauhan. Dia menenggak kasar minuman yang ada di tangannya.

Dadanya terasa panas, melihat Raffa yang hampir setiap hari melayani pelanggan. Sedangkan dia bisa dihitung dengan jari. Paling banyak, tiga sampai empat kali dirinya menerima B.O. Itu pun dengan bayaran di bawah bayaran yang diterima Raffa.

"Enggak bisa dibiarin. Lama-lama pelanggan gua pada lari ke dia semua. Gua harus komplain sama Mami Kumala. Biar dia enggak pilih kasih kayak gini."

Axel pun bergegas pergi dari sana, dia berniat menemui Mami Kumala di ruangannya—pemilik sekaligus bosnya di diskotek ini.

****

"Mi, kita perlu bicara." Axel merangsek masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, hingga wanita yang tengah sibuk menelepon tersebut langsung menatapnya dengan tajam.

Lelaki berambut hitam pekat itu berjalan mendekati meja Mami Kumala—wanita paruh baya dengan penampilan yang terlihat modis. Make up mencolok dengan beberapa barang branded yang menempel di tubuhnya yang montok. Terlihat sekali jika dia adalah pemilik diskotek megah ini.

Mami Kumala segera mengakhiri obrolannya dan memutus sambungan telepon. Dia meletakkan ponselnya ke meja, lalu menatap Axel yang saat ini berdiri menjulang di depannya.

"Duduklah!" titah wanita berusia 40 tahun itu. Suaranya terdengar tegas.

Axel menuruti perintah Mami Kumala, dia duduk dengan raut muka kesal menahan marah. Punggungnya bersandar di sandaran kursi jati, sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Apa kamu tidak bisa sekali saja bersikap sopan? Paling tidak ketuklah pintu lalu minta izin masuk. Seharusnya gitu, kan?" Mami Kumala berujar dengan tegas. Dia tidak menyukai sifat Axel yang sama sekali belum berubah. Arogan dan pemarah.

Tanpa menyesali perbuatannya, Axel justru menanggapi pertanyaan Mami Kumala dengan dengusan samar. Dia seakan tidak peduli dengan perkataan orang yang selama ini sudah memberinya makan.

"Aku mau Mami memindahkan Raffa di klub cabang," ucap Raffa tanpa basa-basi sama sekali.

Mami Kumala membeliak.

"What? No, Axel! Raffa tambang emas Mami. Dia tidak mungkin Mami pindahkan ke sana," tolak mami Kumala cepat, yang membuat kekesalan Axel dan kebenciannya menjadi berkali-kali lipat.

#####

Tante Rika sudah mabuk berat, dia menghabiskan hampir satu botol minuman. Bibirnya terus meracau. Raffa sampai dibuat kewalahan dengan wanita itu.

"Enggak bisa minum banyak, pakek sok-sokan minum segala. Ck!" Pemuda itu terus menggerutu sepanjang langkahnya meninggalkan tempat tersebut. Raffa memapah Tante Rika menuju ke area parkir untuk mengambil mobilnya.

"Kunci gua mana lagi?" Dia terlihat kesulitan mencari-cari kunci mobilnya. Merogoh setiap saku celana dan kemejanya menggunakan satu tangan, sementara tangannya yang lain memapah tubuh Tante Rika.

"Ketemu!"

Tanpa menunggu lama lagi, Raffa bergegas membuka pintu mobil dan menuntun Tante Rika masuk dengan hati-hati.

"Raffa ... Raffa sayang ...." Mulut Tante Rika terus memanggil nama Raffa, dalam keadaan tidak sadar pun dia masih agresif. Tangannya melilit leher pemuda itu, menekan tengkuknya lalu melumat bibir Raffa dengan rakus.

"Tan, sadar Tan! Nanti kita lanjutin lagi di hotel." Raffa menarik wajahnya dengan segera. Dia lantas memasang seat belt di tubuh tante Rika yang masih belum mau melepaskan tangannya.

"Beneran, ya? Nanti kita lanjutin lagi di hotel," ucap Tante Rika dengan nada bicara yang terdengar tidak jelas. "Uuhhh... Raffa sayang." Wanita itu kembali mencium bibir Raffa sekilas, sebelum dirinya benar-benar tidak sadarkan diri.

"Tan!" Raffa menepuk pelan pipi Tante Rika yang sudah tidak sadarkan diri. "Yah... pingsan. Udahlah. Nanti juga dia sadar." Pemuda itu lantas menutup pintu mobil dan menyusul masuk.

Membawa pergi mobil Fortuner hitam miliknya melesat dari klub malam tersebut. Membelah jalanan yang sepi karena waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari.

####

Bab 2

"Mami enggak mungkin pindahin Raffa. Dia sumber uang Mami," ucap Mami Kumala masih dengan alasan yang sama. Dia tidak dapat memindahkan Raffa di klub cabang miliknya.

"Terus Axel gimana, Mi? Axel semakin sepi pelanggan." Pemuda itu menyugar rambut hitam pekatnya dengan gusar.

Mami Kumala tersenyum, lalu berucap,

"Kamu enggak usah khawatir. Mami tadi dapet telepon dari pelanggan yang biasa menyewa jasamu."

Axel mendongak menatap Mami Kumala dengan mata berbinar.

"Serius, Mi?" tanyanya.

Mami Kumala mengangguk.

"Serius donk! Masa mami bohong sama kamu." Kemudian Mami Kumala mengirim chat ke ponsel Axel. "Mami udah kirim alamat hotelnya. Kamu tinggal dateng aja. Dia udah nungguin di sana."

Kening Axel mengernyit.

"Dia siapa, Mi?" tanyanya lagi.

"Dia si Misya. Kamu masih inget, kan sama dia?"

Kepala Axel mengangguk.

"Masih, Mi. Dia pelanggan Axel yang paling waow." Lelaki itu tertawa, ketika mengingat terakhir kali dia melayani Tante Misya—seorang istri dari pejabat yang diselingkuhi suaminya sendiri.

"Ya udah, sana! Keburu si Misya ngambek."

Axel bangkit dari duduknya.

"Siap, Mi. Makasih, ya, Mi." Dia mencium pipi Mami Kumala sekilas sebelum pergi dari ruangan itu.

"Dasar!" Mami Kumala cuma menggelengkan kepala. Hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh anak didiknya.

*****

Raffa menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi, dia terlihat sedang kebingungan.

"Ck! Gua mesti bawa ke mana, nih, Tante Rika. Dia enggak bilang lagi mau pindah ke hotel mana." Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sesekali melirik ke arah Tante Rika yang sudah sangat terlelap di sampingnya.

Berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk stang mobil, akhirnya Raffa memutuskan membawa Tante Rika ke hotel biasa mereka menghabiskan malam panas.

"Udahlah, mending gua bawa ke tempat biasa aja." Raffa kembali menancap gas mobil lalu melesat dari pinggir jalan yang sepi tadi, menuju hotel Raffles.

Sepanjang perjalanan dia termenung dalam pikiran menerawang. Bayangan-bayangan sebelum dirinya menjalani profesi ini terus berkelebat, seakan mengingatkannya. Sesungguhnya ada rasa bersalah dalam benaknya, karena selama tiga tahun ini dia telah mengambil langkah yang salah. Tanpa adanya arah dan tujuan setelah memutuskan pergi dari rumah orang tuanya.

Namun, lagi-lagi perkataan ayahnya yang melukai batinnya sebagai seorang anak, membuat seorang Raffa Anggara bertekad. Bila dirinya bisa berdiri di kakinya sendiri tanpa bantuan ayahnya. Menjadi sukses seperti sekarang, walau pun dengan menjalani kehidupan dunia malam.

Raffa menyeka sudut matanya yang terasa basah dengan punggung tangannya. Perasaan tak bisa dibohongi. Kerinduan terhadap sang ibu terkadang membuat hati Raffa sedikit melow.

"Suatu saat gua pasti nemuin Ibu. Tapi enggak sekarang. Gua harus lebih sukses dan ngembuktiin ke Ayah kalau gua bisa hidup tanpa hartanya." Monolog Raffa dengan gemuruh yang menggebu-gebu.

Dua puluh menit berlalu, Raffa tiba di hotel Raffles. Dia memarkir mobil di tempat biasanya. Seluruh staf hotel sudah mengenal siapa dirinya. Hampir setiap hari bahkan setiap malam dia ke sini. Jadi Raffa tidak perlu repot-repot lagi memboking kamar.

Pemuda bermata abu-abu itu melepas seat belt terlebih dahulu dari tubuhnya. Kemudian dia beringsut maju lalu menepuk pelan pipi Tante Rika—berniat membangunkan wanita itu.

"Tan! Bangun Tan! Kita udah sampai."

Tante Rika menggeliat. "Eugh ..." Dia melenguh lirih sembari memegang kepalanya yang terasa berat. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap, lalu terbuka sempurna. "Udah sampai, ya?" tanyanya dengan suara berat.

"Iya, Tan. Kita udah sampai." Raffa membantu wanita itu untuk duduk dengan benar.

Tante Rika mengedarkan pandangannya sebentar. Dia seperti tidak asing dengan tempat ini.

"Kita ke hotel biasanya, ya?" Beralih menatap Raffa.

Raffa hanya mengangguk.

Kemudian senyuman manis terbit di bibirnya yang sensual. "Ya udah, ayo turun! Tante udah enggak tahan." Seketika semangatnya kembali berkobar, tanpa ragu dia mengecup sekilas bibir Raffa lalu keluar dari mobil.

Sementara Raffa menarik sudut bibirnya sambil berdecak. "Giliran gituan aja langsung semangat." Dia menyusul keluar dari mobil.

Tante Rika langsung menggandengnya dengan posesif, begitu Raffa mendekatinya. Seolah dia tidak mau kehilangan brondongnya itu.

Raffa membalasnya dengan senyuman lalu merangkul pinggang seksi Tante Rika tanpa malu. Mereka lantas masuk ke dalam hotel mewah tersebut dan disambut dengan ramah. Berhenti sebentar di bagian resepsionis untuk mengambil kartu akses kamar yang sudah menjadi langganan keduanya.

"Thanks ..." Raffa mengedipkan sebelah mata kepada resepsionis di depannya sebelum meninggalkan tempat tersebut.

Tante Rika yang melihatnya sontak mencubit perut pemuda itu.

"Kamu, ih! Nanti mereka baper, loh, kamu godain,' ucapnya sambil memberengut.

Raffa terkekeh lalu balas mencubit dagu Tante Rika dengan gemas.

"Haha ... Tante cemburu, ya?" Dia melanjutkan lagi langkahnya menuju kamar yang ada di lantai 15. Kali ini semakin merapatkan rangkulannya di pinggang wanita itu.

"Ish! Kamu emang nakal!" Tante Rika merona, hanya digombali saja dia sudah klepek-klepek.

Sementara resepsionis yang tadi sempat digoda Raffa berbisik-bisik dengan temannya.

"Gila, ya, tuh cowok! Tiap hari gandengannya tante-tante tajir," ucap resepsionis yang dari nametag-nya bernama Linda. Ekor matanya terus mengawasi Raffa yang semakin jauh dari pandangannya.

"Cowoknya ganteng gitu, siapa juga yang nolak. Gua juga mau kali kalau dia ngajakin nge-date, hihi," seloroh temannya yang lain.

"Ya elah, Fit! Emang elu punya duit buat bayar tuh cowok? Denger-denger nih, ya. Tuh cowok bayarannya gede."

"Apanya yang gede?" Resepsionis yang bernama Fitri itu penasaran.

"Ish! Otak lu pasti lagi mikir macem-macem, kan?" Resepsionis bernama Linda itu memicingkan matanya.

Fitri terkekeh. "Ya abisnya lu ngomongnya gede. Ya gua mikirnya yang lainlah!"

Linda mencubit tangan Fitri.

"Yang gede itu bayarannya, Fitri ... Bukan anunya. Wah, parah lu!" Linda geleng-geleng kepala.

"Hah? Serius?" Mata Fitri membola.

"Serius?"

#######

"Tante mandi dulu, ya? Badannya lengket," ucap Tante Rika seraya menggelayut di leher Raffa begitu sampai di dalam kamar yang disewa.

"Iya,Tan. Tapi ... enggak mandi bareng sekalian aja?" tawar Raffa. Pemuda itu tak kalah agresif. Tangannya yang kokoh sudah merambat di punggung Tante Rika lalu membuka resleting gaunnya perlahan-lahan.

Tante Rika menggigit bibirnya sendiri sambil berpikir, menatap dalam wajah Raffa yang tidak pernah membosankan baginya.

"Waah ... itu tawaran yang bagus, Sayang." Jemarinya mulai menelusuri rahang tegas Raffa dengan nakal. Dia mendekat, merapatkan tubuhnya yang seksi ke tubuh tegap pemuda itu. "Kamu ... eugh ..."

Raffa melumat bibir Tante Rika tanpa permisi. Dia selalu pintar menyenangkan para kliennya. Tangannya menurunkan gaun Tante Rika hingga luruh ke lantai. Kini tubuh semampai itu hanya berbalut bra dan kain segitiga saja yang menutupi bagian sensitifnya.

"Tante makin seksi," bisik Raffa di sela-sela pagutannya. Tangannya mulai merambat dan meremas di bagian-bagian tertentu. Membuat wanita berkulit putih itu melenguh.

"Eugh ..." Tante Rika mencengkeram pundak kokoh Raffa dengan erat, tubuhnya mulai menggigil tak keruan. Raffa selalu berhasil membuatnya melayang.

Puas dengan menikmati benda kenyal milik masing-masing, Raffa lantas menggendong Tante Rika seperti bayi koala sambil berjalan perlahan menuju kamar mandi.

Bab 3

Pukul sepuluh pagi Raffa terbangun dari tidurnya. Pemuda itu baru bisa tidur pukul tiga pagi, usai melayani Tante Rika yang sekarang ini masih terlelap di sampingnya tanpa mengenakan sehelai kain. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.

Raffa beranjak dari ranjang dengan hati-hati, agar Tante Rika tidak merasa terganggu. Dia lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pulang ke apartemen.

Membasuh seluruh tubuhnya yang kekar di bawah kucuran air shower, sembari merenungi semua kelakuannya selama ini. Dalam benaknya, selalu tersirat rasa penyesalan, seusai melayani para kliennya. Raffa merasa, harus sampai kapan dirinya melakoni profesinya ini.

"Andai Ayah enggak ngremehin gue. Mungkin gue enggak akan jadi kayak sekarang." Bibirnya bergumam dalam guyuran air dingin yang berasal dari shower. Mendinginkan otak dan hatinya yang memanas, bila mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.

Raffa menyudahi ritual mandinya yang tidak hanya menyegarkan tubuhnya, tetapi juga mampu merelaksasi otot-ototnya yang agak kaku. Tante Rika selalu meminta dipuaskan berkali-kali, hingga dirinya harus bekerja ekstra lebih keras untuk itu.

Dia keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Bagian atas pemuda itu terekspos sangat jelas dan terlihat menggiurkan bagi siapa saja yang memandang. Perut sixpack, postur tubuh yang tegap, ditambah tetes-tetes air yang jatuh dipermukaan kulitnya yang bersih, semakin menambah kesan seksi.

Raffa mengusak rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil, dia melangkah lalu memilih duduk di pinggir ranjang, membelakangi Tante Rika yang dia pikir masih tidur.

"Morning, Baby ..." Tangan Tante Rika tiba-tiba melingkar di pinggang polosnya dari belakang. Wanita itu sengaja menempelkan dadanya di balik punggung Raffa dengan erat. "Kamu udah mandi?" tanyanya seraya mengecup lekuk leher Raffa yang menguarkan aroma sabun.

Punggung Raffa yang polos bertemu dengan dada Tante Rika yang polos, menimbulkan sengatan bak aliran listrik, yang seketika membuat pusat tubuh pemuda itu menegang. Dada montok Tante Rika begitu terasa, menggesek permukaan kulitnya yang masih agak basah.

Raffa menelan ludahnya sendiri, menekan sesuatu di bawah sana yang semakin meronta.

"Hem," Dia menanggapi Tante Rika dengan gumaman kecil sambil sibuk mengeringkan rambutnya. "Habis ini Raffa langsung pulang ya, Tan?"

"Kok cepet, sih?" Tante Rika seakan tidak rela melepas Raffa untuk pulang. "Harusnya kamu terima tawaran tante, Raf. Kamu minta bayaran berapa, pasti tante kasih," tawar Tante Rika yang semakin mengeratkan pelukannya di punggung pemuda itu.

"Maaf, Tan. Raffa enggak bisa nerima tawaran Tante. Raffa enggak mau hidup dalam kendali seorang perempuan." Jawaban yang sama, ketika Tante Rika memintanya untuk menjadi suami kontrak. Raffa tidak menginginkan hal semacam itu.

Tante Rika sontak melepaskan tangannya dari pinggang Raffa, penolakan yang kesekian kali cukup membuat hatinya ngilu.

"Ya udah. Tante enggak akan maksa kamu lagi," ujarnya dengan nada terdengar tidak rela sama sekali. Raut wajahnya memberengut seperti anak kecil yang tidak dituruti permintaannya.

Raffa berbalik badan menghadap Tante Rika yang menundukkan kepala.

"Tan. Jangan sedih dong ... kita, 'kan masih bisa ketemu walau Raffa enggak bisa jadi suami Tante Rika." Dia menyentuh dagu Tante Rika lalu mengangkatnya perlahan. Menatap manik mata berwarna cokelat itu yang nampak sedih. "Raffa janji bakalan tetep ada buat Tante. Tapi maaf, kalau Raffa enggak bisa nerima tawaran Tante."

Helaan napas panjang berembus dari hidung mancung Tante Rika.

"Enggak apa-apa, Raf," ucapnya dengan suaranya yang seksi. Namun, kesedihan akan penolakan Raffa masih kentara di matanya.

"Tante enggak marah sama Raffa, kan?"

Tante Rika menggeleng. "Mana bisa tante marah sama kamu," sergahnya.

Memang itu kenyataanya. Tante Rika tidak mungkin bisa marah kepada Raffa—pemuda yang selama ini menghangatkan ranjangnya.

Raffa tersenyum sekilas, dia kemudian mengecup bibir Tante Rika lalu memagutnya dengan lembut dan hangat.

"Makasih, Tan. Karena Tante udah mau ngertiin aku," ucapnya setelah melepas pagutannya.

"Sama-sama." Tante Rika mengelus pipi Raffa lalu mengecupnya. "Nanti uangnya tante transfer, ya?"

"Kan udah di transfer Mami Kumala?" Raffa bingung.

"Enggak apa-apa. Anggap aja itu bonus dari tante, karena semalem kamu udah bekerja keras, hihi." Wanita berambut merah tersebut terkikik.

"Makasih, ya, Tan." Raffa mengecup bibir Tante Rika sekali lagi, dia lalu berdiri dan berganti baju di depan wanita itu tanpa malu.

Tante Rika beranjak dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi tanpa penutup sama sekali. Dia sengaja memamerkan lekuk tubuhnya di depan Raffa yang berada di belakangnya. Sementara Raffa meliriknya sekilas, dan berpura-pura sibuk mengancingkan kemejanya.

"Ck!" Raffa berdecak pelan. "Tahan, Raf ... tahan," bibirnya terus bergumam.

#####

Raffa dalam perjalanan menuju apartemennya. Namun tiba-tiba ponselnya yang ada di saku kemeja bergetar, seperti ada pesan masuk. Dia lantas mengeceknya sebentar, membaca pesan masuk yang ternyata notif transferan masuk ke rekeningnya.

"Lumayan." Bibirnya tersenyum ketika melihat nominal jumlah uang bonus yang ditransfer Tante Rika. Lima digit cuma untuk bonus, belum uang jasa yang nominalnya tidak sedikit.

Dalam semalam Raffa mengantongi sekitar sepuluh juta. Itu baru dari Tante Rika. Belum dari tante-tantenya yang lain. Sungguh, pekerjaan paling gampang dan instan untuk menjadi orang kaya. Dalam kehidupannya yang dulu, dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan hidup mewah seperti sekarang ini, tanpa bantuan ayahnya.

*****

Perjalanan menuju apartemen tidak memerlukan waktu yang lama, cuma sekitar dua puluh menit dari hotel tempatnya menginap semalam. Raffa memarkir mobil di basemen apartemen, lalu bergegas menuju lantai tujuh, tempat unitnya berada.

Raffa tiba di depan pintu apartemen, lalu menekan kode akses masuk. Pada saat dia melangkahkan kaki menuju arah pantry, matanya terfokus menatap pintu kamarnya yang terbuka.

"Kok kamar gue kebuka, sih?" Matanya memicing sambil menebak-nebak sendiri. Dia pun mengurungkan niatnya yang semula ingin menuju pantry, kini melangkah menuju kamarnya.

Begitu pintu kamar terbuka lebar, Raffa sontak mendengkus kasar.

"Sialan! Gue pikir ada maling. Tahunya si kampret! Woi! Bangun, woi! Udah siang! Enak aja lu tidur di sini!" Raffa mengguncang tubuh temannya yang tertidur pulas di ranjangnya yang empuk.

Namun sepertinya temannya itu tidak merasa terganggu sama sekali. Temannya tersebut tidak bergerak sedikit pun atau membuka matanya. Padahal Raffa mengguncang punggungnya dengan sangat keras sambil terus berteriak.

"Eh, bangke! Bangun enggak, lu! Gue siram juga, nih!" Raffa melempar bantal ke kepala temannya, hingga lelaki itu membuka matanya.

Menatap Raffa yang berdiri sambil berkacak pinggang, teman Raffa yang bernama Vano itu lalu berdecak,

"Ck! apaan sih? Berisik lu!" umpatnya yang kemudian menutup telinganya rapat-rapat dengan bantal.

"Sialan! Yang punya rumah enggak dianggep!" Raffa mendengkus lagi merasa kesal lantaran tidak dianggap keberadaannya oleh Vano.

'Gue kerjain juga, nih!' Raffa membatin. Ide gila seketika muncul di otaknya. Dia berpura-pura mengangkat telepon.

"Halo? Iya, Mam. Oh, ada pelanggan buat Vano? Nih, anaknya lagi tidur." Sembari melirik ke arah Vano yang sontak terperanjat dari tempatnya berbaring.

"Eh, bawa sini bawa sini! Bilang gue udah bangun." Vano mencoba merebut ponsel Raffa.

Namun Raffa malah terbahak-bahak sambil melempar benda pipih miliknya ke Vano.

"Makan tuh hape! Giliran denger B.O-an aja langsung bangun. Gue yang dari tadi teriak-teriak lu cuekin."

Vano mengecek ponsel Raffa yang mati karena kehabisan daya.

"Jadi lu tadi bohongin gue?" Matanya memicing sambil bersungut-sungut.

Raffa mengedikkan bahunya tak acuh. Dia lantas berlalu meninggalkan Vano yang terbengong-bengong dengan perasaan dongkol.

"Sialan emang si Raffa. Ganggu orang tidur aja." Vano bersungut-sungut sembari beranjak dari tempat tidur Raffa, menyusul sang sahabat yang sudah berada di pantry.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED