Bab 1

SEBENING CINTA KINARA

Namaku Kinar. Kinara Larissa Putri. Kini usiaku menginjak 25 tahun. Tak kusangka sudah seperempat abad aku menikmati indah dunia.

Banyak hal pula yang kulewati, suka dan duka. Patah, bangkit lalu patah lagi dan bangkit lagi adalah hal yang biasa kualami.

Seperti akhir-akhir ini, suara bising itu kembali menyesaki telinga. Seolah tak ada kata lain yang lebih pantas untuk kudengar. Selain perawan tua.

Ya ... itulah sebutan baru untukku. Untuk gadis berusia 25 tahun yang belum berumah tangga, sementara gadis lain seusia itu sudah beranak pinak bahkan ada pula yang sudah menjanda, entah ke berapa kalinya.

"Sri, cobalah kamu kenalkan Kinar sama teman suamimu yang duda beranak tiga itu. Barang kali mereka cocok. Kasihan dia. Hampir menginjak kepala tiga belum ada yang melamar juga!" ucap Bu Deswita penuh cibiran.

"Kinar sudah biasa sendiri, mungkin malas mengurus suami. Makanya nggak kawin-kawin!" timpal Bu Ambar.

"Husssttt ... Kinar itu nunggu teman masa kecilnya melamar. Itu Si Arka, kalian ingat, kan?"

"Mana mau Arka sama dia. Secara Arka itu tampan, mapan dan digandrungi banyak wanita. Pastilah banyak wanita yang antri untuk menjadi istrinya, apalagi sekarang dia menduda."

"Kinar cinta mati sama dia, Jeng. Makanya mau nunggu terus, entah sampai kapan. Kasihan, harus diruqyah Si Kinar ini!"

Semuanya saling sindir, seolah sengaja membuat moodku kembali berantakan. Seperti biasanya.

"Sama siapa, Jeng? Arka? Waduh, harusnya Kinar itu introspeksi. Terlalu jauh perbedaan dia dengan Arka. Meski dulu teman main bersama, tapi sudah belasan tahun lalu, kan?"

"Buruan nikah, Kinar. Percayalah, Arka itu bukan jodohmu. Kamu nggak pantas buat dia!"

"Jangan sok jual mahal. Apalagi sok cantik. Udah sama Pak Umar aja, duda beranak dua itu kan suka sama kamu. Atau sama Pak Sunan? Dia lagi cari bini ketiga. Cocoklah sama kamu!"

"Kita seumuran loh, Kin. Aku aja udah hamil ketiga, eh kamu kawin aja belum!"

Kuhirup napas dalam dan menghembuskannya. Rasanya tangis dan teriak histeris pun percuma. Ibu-ibu itu memang terbiasa menghina. Seolah tak ada filter di setiap kata yang terucap dari bibirnya.

Tiap kali bertemu dengan gerombolan ibu-ibu itu, pasti hatiku kembali terluka. Ucapan-ucapan mereka sering kali menancapkan duri-duri duka. Meski aku sudah berusaha biasa saja menghadapinya, tetap saja ada ngilu dan perih yang menjalar dalam dada.

Apalagi sejak kepergian ibuku dua tahun lalu, seolah mereka puas mencaci maki aku tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Tak ada lagi yang mereka takuti. Toh, aku memang tak punya siapa-siapa lagi. Tak ada yang membela, kecuali diri sendiri.

Mereka tak salah, mungkin memang akunya saja yang tak mau berubah. Cinta itu. Cinta saat masa kecil dulu, entah mengapa begitu terpatri di hati. Seolah tak ada lelaki lain yang bisa mengganti.

Berulang kali mencoba menerima ungkapan cinta laki-laki lain, tapi rasanya tak sanggup. Lagi dan lagi aku memilih mundur. Ada rasa bersalah dalam hati saat menerima mereka, seolah aku sudah mengkhianatinya.

Dia yang nyatanya tak pernah peduli. Dia yang sudah memiliki anak dan istri. Meski kini bergelar duda karena ditinggal pergi istrinya menghadap Illahi.

"Umurmu tak lagi muda, Kinar. Jangan bermimpi terlalu tinggi untuk mendapat pria lajang. Sudahlah, lebih baik kamu mau sama Pak Sunan. Hidupku bakalan mapan dan tenang. Jadi istri ketiga tak jadi soal, kan? Lagipula istri-istrinya akur semua. Sudah pada tua pula, kemungkinan besar kamu yang akan paling disayang."

"Jangan ngimpi Arka mau sama kamu. Kalian nggak cocok sama sekali!"

"Mentang-mentang sekarang Arka mudik, kamu kembali berharap, Kin? Aku cuma kasihan aja sama kamu, kalau makin patah hati. Takutnya kamu frustasi dan bunuh diri," ucap Ayu. Dia juga sahabat masa kecilku dulu.

Aku tahu, dulu Ayu juga menyukai Arka, sama sepertiku. Namun dia mudah move on karena memang sudah berulang kali ganti pacar. Dia pun sudah menikah setahun lalu dengan teman kantornya.

Tiap kali bertemu denganku, dia terus saja menyindir soal Arka. Soal kesetiaanku yang akan sia-sia belaka. Tentang pengorbananku hanya dipandang sebelah mata. Lagi-lagi karena aku dan Arka memang sangat berbeda.

"Kamu pengangguran! Terlahir dari golongan biasa pula. Harusnya kamu tahu diri, Kin. Atau jangan-jangan kamu sengaja sok setia sama Arka hanya demi hidup enak dengannya? Sekarang dia kan jadi orang kaya."

Kata-kata Ayu kembali menyulutkan luka. Aku tak tahu kenapa sahabatku itu sedemikian tega mengucapkan kata-kata pedas tiap kali bertatap muka. Seolah dia tak rela jika aku terus setia pada Arka bahkan tetap menunggu kedatangannya.

"Kalau aku beneran sama Mas Arka, apa kamu cemburu, Yu?" tanyaku kemudian. Dia menatapku tajam lalu meletakkan punggung tangannya ke keningku.

"Kamu waras, kan? Atau sudah setengah gila karena gagal move on?"

Suara tawa mengejek pun terdengar diantara mereka. Ibu-ibu itu terbahak melihatku yang mungkin mendadak pias.

"Kalau nggak mau kawin, setidaknya kamu cari kerja sana, Kin. Udah nggak kawin, nganggur, mau makan apa kamu nanti kalau tabungan ibumu sudah habis!"

Aku hanya tersenyum tipis. Mereka tak sadar jika kepergian ibuku sudah dua tahun lamanya. Sebanyaj itukah tabungan ibu hingga bisa menghidupi anak pengangguran sepertiku selama dua tahun?

Logika yang keliru. Mereka tak tahu, kalau selama dua tahun belakangan aku pun bekerja. Pekerjaan santai, tapi menghasilkan yang mungkin tak pernah mereka kira berapa gaji perbulannya.

"Kamu harusnya ingat pesan terakhir ibumu, Kin. Buruan nikah biar ada yang jagain."

"Kalau memang maunya cuma sama Arka. Coba aja lamar duluan. Nggak apa-apa kan kalau perempuannya yang agresif? Daripada nunggu dilamar tapi nggak datang-datang."

"Atau kamu aku antar ke toko sembakonya Pak Sunan, Kin? Barangkali dengan kerja sama dia, kamu bisa jatuh cinta. Bukannya kata pepatah, cinta datang karena terbiasa bersama?"

Seketika kembali terdengar gelak tawa mereka. Kucoba kembali membendung air mata yang hampir luruh ke pipi. Beristighfar berulang kali supaya tak ikut tersulut emosi.

Mungkin aku memang salah, sudah menunggu yang tak pasti. Namun setidaknya aku sudah berdoa setiap hari, berharap dijauhkan jika memang tak berjodoh, tapi bila berjodoh kuharap DIA berkenan mendekatkan.

Ternyata, kini dia memang mendekat. Sejak 15 tahun lalu tak pulang, akhirnya kini dia pulang ke kampung halaman bersama anak dan ibunya. Tante Dina yang tak lain adalah sahabat almarhum ibuku juga.

Mereka tetap berhubungan, meski tinggal di kota yang berbeda. Bahkan Tante Dina juga ikut mengantarkan ibu ke peristirahatan terakhirnya. Dua tahun silam.

"Kinar ... Almarhum ibumu sudah menceritakan semuanya. Termasuk alasan apa hingga saat ini kamu masih tetap sendiri. Tante akan membantumu."

Bisikan Tante Dina kala itu kembali terngiang di benakku. Entah apa yang direncanakannya, tapi kemarin dia menelpon. Mengajakku bertemu untuk membahas sesuatu.

"Itu Arka. Ganteng banget dia sekarang," gumam Ayu dengan tatapan cinta. Aku tahu, dia pun masih menyimpan sejuta rasa. Hanya saja dia pendam dalam-dalam karena sekarang sudah berumah tangga.

Aku tak menoleh, masih pura-pura sibuk dengan ponsel di tangan. Bahkan saat samar kulihat seseorang berdiri di sampingku.

"Kinar, ikut aku. Mama memanggilmu."

💕💕💕

Bab 2

SEBENING CINTA KINARA

"Kinar, ikut aku. Mama memanggilmu."

Laki-laki itu berucap pelan. Sungguh, aku sangat shock mendengar suara merdu itu kembali. Suara yang sejak 15 tahun belakangan tak pernah kudengar lagi.

"Mau ngapain, Mas Arka? Memangnya kalian beneran mau menikah?"

"Kabar burung itu benar ya, Mas? Kamu mau menikahi Kinar?"

"Iya, kan katanya demi hutang ibunya Kinar lunas. Kasihan 'kan kalau udah ninggal lama, tapi masih punya sangkutan di dunia? Lagipula nggak mungkin nungguin Kinar melunasi hutang almarhum ibunya yang puluhan juta itu. Dia 'kan pengangguran. Sibuk ngehalu pengin dilamar Mas Arka jadi nggak sempat cari kerja."

"Seneng banget dong kalau Kinar beneran dilamar Mas Arka, secara selama ini dia cuma nunggu lamaran Mas Arka doang loh."

Ucapan-ucapan mereka yang menohok itu memang sengaja untuk mempermalukanku di depan Mas Arka. Meski mungkin ada beberapa ucapan yang benar, tapi tak seharusnya mereka membeberkan itu semua. Apalagi di depan Mas Arka seperti ini.

"Mama yang meminta, bukan saya."

Glek. Kutelan saliva begitu saja. Mungkin memang cukup singkat kata-katanya. Namun justru memunculkan banyak tanda tanya. Mataku kembali berkaca. Seketika para ibu itu pun terdiam.

Tepat di saat aku mengikuti Mas Arka pergi, mereka kembali mencaci. Sengaja mengucapkan kata-kata ejekan itu dengan cukup keras, agar aku dan Mas Arka mendengarnya.

"Tante ... Nenek bilang, tante Kinar adalah calon bunda untuk Luna. Benar?"

Kebingunganku lantas dijawab oleh Mas Arka dengan pelan. Dia mensejajari anaknya lalu membingkai wajah cantik itu dengan tatapan cinta.

"Benar, Luna. Bukannya akhir-akhir ini Luna ingin seorang bunda?" tanya Mas Arka dengan senyum tipisnya.

Senyum yang tak pernah aku lupa hingga detik ini. Masih sama seperti dulu, saat aku dan dia menikmati senja setelah seharian bermain layangan bersama.

"Asiikkkkk. Nenek bilang, tante Kinar ramah dan baik hati, jadi Luna mau kalau tante jadi pengganti bunda."

Mas Arka mengangguk lalu mengusap pelan pucuk kepala Luna yang tertutup jilbabnya. Tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, laki-laki itu pergi begitu saja menemui beberapa tamu. Hadirku, seolah tak pernah dianggap ada olehnya. Hanya formalitas belaka untuk menyenangkan hati ibu dan anaknya.

Kembali teringat ucapannya belasan tahun silam. Saat dia memapahku yang baru saja terjatuh dari sepeda. Dia menyeka air mataku yang bercucuran lalu mengusap pucuk kepalaku pelan. Aku masih mengingatnya cukup jelas. Kala itu, aku dan dia sama-sama duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.

Aku memang selalu sekelas dengannya, meski usia kami terpaut satu tahun delapan bulan, lebih tua dia dibandingkan aku.

"Kinar, sepertinya nanti saat kita kelas satu atau dua SMP, aku bakal pindah sekolah mengikuti papa. Papa berencana akan pindah ke Jakarta, tapi kamu tenang saja, ya? Nanti aku akan usahakan pulang setahun sekali buat ketemu kamu. Saat aku pergi, kamu harus bisa jaga diri. Jangan cengeng lagi. Tunggu aku dewasa dan mandiri, setelah itu aku akan selalu menjagamu. Tak akan kutinggalkan kamu sendiri lagi."

Ucapan itulah yang selalu menguatkanku. Menjadikanku perempuan setia, rela menunggu bahkan merasa sangat bersalah jika dekat dengan laki-laki selain dia. Meski pada kenyataannya, dia berdusta. Jangankan setahun sekali untuk berjumpa, bahkan dia tak pernah kembali sejak kepergiannya.

Aku tahu, mungkin dia sudah melupakan semua tentangku. Lupa akan keceriaan yang dulu terajut bersama. Lupa dengan semua kenangan indah di saat menanti dan menikmati senja. Lagipula aku sadar, saat itu hanyalah aktivitas bocah ingusan yang belum paham arti cinta dan setia.

Semua orang menganggapku bodoh. Seolah tak ada laki-laki lain di dunia ini kecuali Arka. Namun apa daya, hati yang berbicara. Aku tak bisa memaksakan diri untuk jatuh hati, jika rasanya aku memang tak lagi menginginkan cinta dari selain dia.

Hanya doa, doa dan doa yang bisa kupanjatkan tiap malamnya. Mengetuk pintuNya agar mau mempertemukanku kembali dengan sosok itu. Meski mungkin dengan status yang berbeda.

Tak apa. Asalkan aku bisa kembali menatap manik mata itu. Menyelami kedua binar matanya agar kutahu, masih adakah cinta di sana untukku?

Tak salah dengan doa. Tak keliru pula dengan harapan dalam dada. Buktinya, detik ini dia benar-benar datang dengan status yang tak lagi sama. Dia datang melamar, hingga pernikahan sederhana ini pun digelar.

Tante Dina sudah menceritakan banyak hal tentang Mas Arka dan keluarga kecilnya. Aluna ... gadis kecil yang berusia enam tahun itu membutuhkan sosok mama. Tante Dina hanya percaya akulah yang bisa merawat Aluna dengan ikhlas dan penuh cinta.

Berulang kali teman wanita Mas Arka datang, berulang kali pula Aluna menolak memiliki pengganti bunda seperti mereka. Mas Arka pun diam saja. Dia seolah tak ada minat ikut campur atau sekadar mencarikan pengganti bunda untuk anaknya.

Semua terserah tante Dina dan Aluna. Dia mengikut saja. Baginya, keputusan tante Dina akan jauh lebih baik untuk Aluna dibandingkan keputusannya sendiri untuk memilih salah satu wanita yang jatuh cinta padanya.

Baginya, kebahagiaan Aluna adalah yang utama. Karena itu sebagai bentuk tanggungjawabnya pada Nadila. Mendiang istrinya yang pergi beberapa hari pasca melahirkan Aluna.

Nadila yang teramat yakin suaminya bisa mencarikan sosok bunda terbaik untuk anak semata wayangnya. Bahkan mencari istri yang baik pula untuk menggantikannya.

Tangis dan harapan tante Dina membuatku iba. Kembali membuat cintaku mekar dan bersemi. Harapan yang dulu hampir pupus, kini kembali datang menyapa. Hingga akhirnya aku setuju, akan berusaha melakoni peran sebagai ibu yang baik untuk Aluna, pun menjadi istri yang setia untuk ayahnya.

Tak ada yang mendampingiku dalam pernikahan sederhana ini. Hanya keluarga Mas Arka yang menyaksikannya, juga para tetangga dengan segala pandangan negatif mereka.

Wali hakim yang membantuku dalam akad nikah ini pun mengucap ijabnya. Hingga dijawab sekali tarikan nafas oleh Mas Arka.

"Saya terima nikah dan kawinnya Kinara Larissa Putri binti Ahmad Kurniawan dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas 30 gram dibayar tunai."

"Sah?"

"Saahhh."

Alhamdulillah. MasyaAllah akhirnya doa dan impianku kini terkabul. Aku sah menjadi istrinya. Satu-satunya lelaki yang berhasil membuatku jatuh cinta.

Dengan gemetar, kucium punggung tangannya yang terulur di hadapanku. Aku pun tersenyum, meski tak ada senyum sedikit pun di wajahnya.

"Selamat, Kinar. Akhirnya impianmu selama ini dikabulkan. Semoga kamu bisa menjadi ibu yang baik buat Aluna."

Bisikan itu terdengar jelas di telinga, saat dia mencium pucuk kepalaku yang tertutup hijab ungu.

💕💕💕

Bab 3

SEBENING CINTA KINARA

"Aku nggak pernah mencintaimu, Kinar. Jadi kamu nggak perlu besar kepala karena sudah sah menjadi istriku sekarang. Ingat! Aku menikahimu bukan karena cinta, tapi karena Aluna butuh sosok Mama. Tak peduli jika kamu memang mencintaiku, yang pasti tak secuil pun aku menaruh hati padamu!" Laki-laki itu memberi ultimatum, beberapa menit setelah akad nikah sah digelar.

Banyak orang yang mendengar dan menyaksikan ucapannya. Beberapa diantara mereka iba padaku, tapi beberapa orang seolah memaklumi. Menganggap ucapan Mas Arka biasa saja, sama sekali tak mengandung luka.

"Nggak perlu drama, Kinar. Hutang 75 juta ibumu sudah lunas sekarang. Ibumu akan tenang di alam sana tanpa terbelenggu dengan hutangnya. Sekarang tugasmu hanya melayani Aluna, merawatnya sepenuh hati seperti yang kamu janjikan. Jangan pernah usik hidupku, karena aku bukan bagian dari kewajibanmu!" sentak laki-laki itu lagi tanpa perasaan.

Hutang itu ... sudah mau kubayar, tapi Tante Dina menolak. Dia sudah ikhlas, katanya. Namun mengapa kini kembali diungkit Mas Arka hanya untuk menyudutkanku. Seolah aku menyetujui pernikahan ini sekadar untuk pelunasan hutang almarhum ibu.

Lagi dan lagi air mataku menetes. Sakit sekali rasanya mendengar kalimat panjang itu dari bibirnya. Bibir laki-laki yang memang kucintai sejak dulu. Saat aku dan dia masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar, saat aku masih berkucir dua.

Ya ... dialah laki-laki satu-satunya yang berhasil mencuri hatiku. Tak ada yang lain. Hanya dia saja. Aku mencintainya sejak belia, bukan tanpa alasan. Ada banyak sebab rasa sayang itu tumbuh dan mengakar di sana. Hingga kini, saat usiaku tak lagi muda. Bahkan hampir menyentuh kepala tiga.

Banyak laki-laki datang, mendekat bahkan melamar, tapi entah mengapa semua terasa hambar. Tak ada cinta di sana dan aku tak ingin memaksa. Meski dulu berulang kali ibu bilang bahwa cinta bisa datang karena terbiasa. Namun rasanya tak nyaman, tak enak dan tak ada warnanya, hingga membuatku menyerah untuk mencoba.

"Lagian jadi perempuan mu*ah banget! Nggak laku kali, ya? Sampai mau-maunya mengorbankan hati dan harga diri hanya demi menikah dengan laki-laki yang dicintainya. Ingat, Kinar! Mas Arka hanya mencintai almarhum kakak kembarku, Nabila. Jadi jangan mimpi kamu bisa menggantikan posisi dia di hati iparku. Jangankan kamu, aku saja tak mampu menggeser cinta Mas Arka pada Nabila itu!" bisik Nadila lirih. Namun penuh penekanan di telingaku.

Oh, Tuhan. Belum satu jam aku berganti status, lajang menjadi menikah, tapi cobaan itu sudah mulai berdatangan. Aku baru tahu jika Nadila ternyata juga menyimpan cinta pada mantan iparnya sendiri. Ipar yang pernah menjadi suami kakak kembarnya dan kini sah berstatus suamiku.

Pantas saja dia begitu membenciku. Bahkan menjadi orang pertama yang tak pernah setuju jika akulah yang ditunjuk Mama mertua untuk menjadi ibu sambung Aluna. Gadis cantik yang kini berusia enam tahun dan duduk di bangku TK itu.

"Aku menikah denganmu juga atas perintah Tante Dina, Mas. Jika beliau tak memohon, mungkin aku masih berpikir ribuan kali untuk melangsungkan pernikahan ini," ujarku lirih. Aku masih menunduk seraya menyeka bulir-bulir bening yang menetes di kedua pipi.

"Alasan! Kamu bisa menolak baik-baik. Nggak bisa menerima perjodohan ini karena tak saling menyukai. Pernikahan itu sesuatu yang sakral, harusnya tak dilakukan dengan asal. Atau kamu bisa pakai alasan lain yang masuk akal. Nyatanya kamu menikmati, kapan lagi bisa menikah dengan orang yang kamu sukai, sementara usiamu tak muda lagi. Bisa disebut perawan tua, iya, kan?" Nadila kembali menyahut. Mamanya yang sedari tadi duduk di sampingnya pun menatapku sinis.

Entah ujian apalagi yang harus kujalani detik ini. Mungkin aku memang bahagia, akhirnya bisa bersama dengan satu-satunya lelaki yang kucinta selama ini. Namun, beginilah qadarku. Cinta tulus yang kupersembahkan hanya dianggap angin lalu dan tak ada arti apa-apa baginya.

"Nikahlah dengan Arka, Kinar. Tante tahu, hanya kamu perempuan yang paling tepat untuk menemani hari-harinya. Kamu yang sabar, tulus, setia dan tak banyak menuntut. Tante yakin kamu bisa sabar menghadapi Arka dan bisa membantunya melupakan Nabila. Perempuan itu ... ah sudahlah. Tak baik mengumbar aib orang yang sudah meninggal."

Tak hanya sekali dua kali tante Dina menasehatiku. Memberikan ceramah panjang agar aku mau mengikuti perintahnya. Harusnya aku bahagia, karena mungkin tak akan ada cerita mertua jahat dalam hidupku. Tante Dina adalah sahabat terbaik almarhum ibuku, meski kami hidup dengan kasta yang terlalu jauh berbeda.

Namun begitulah hidup. Memiliki ujiannya masing-masing. Mungkin aku memang tak diuji oleh mertua jahat, tapi nyatanya diuji dengan suami yang dingin dan kaku, bahkan seolah tak pernah menganggapku ada.

"Kenapa nggak turun ranjang saja, Tante? Bukannya suami Mas Arka punya saudara kembar juga? Mungkin dia juga suka dengan Papanya Aluna," protesku waktu itu. Hanya menebak soal kembaran Nabila, tapi dugaanku ternyata benar adanya. Nadila memang menyukai mantan iparnya.

"Nggak. Dila dan Bila tak jauh beda. Cukup sekali Arka salah memilih istri. Kali ini Tante nggak akan membiarkannya sembarangan memilih calon istri," lanjutnya dengan tatapan penuh emosi.

Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan almarhum menantunya itu, adakah kesalahan besar yang dia lakukan sebelumnya? Hingga membuat Tante Dina sedemikian murka. Aku tak berani bertanya, karena tak ingin dianggap terlalu masuk ke dalam masalah keluarga mereka.

Jam terus bergulir, kini aku diboyong ke rumah ini. Rumah berlantai dua yang cukup luas jika hanya dihuni oleh satu keluarga kecil saja. Aku sudah meninggalkan kampung halaman di Jogjakarta dan menetap di kota ini. Kota Jakarta dengan segala hiruk pikuknya.

Kumasuki rumah cukup mewah ini. Mendadak kedua mataku fokus pada dinding rumah bercat putih bersih itu. Dinding yang masih dipenuhi foto-foto almarhum Nabila. Beraneka gaya terpajang di sana-sini dalam sebuah figura. Entah mengapa, membuat hatiku terasa sedikit nyeri.

Mungkin, jika Tante Dina yang kini jadi mertuaku tahu soal pigura-pigura itu, dia akan meminta Mas Arka untuk menurunkannya. Sayangnya, dia tak ikut ke rumah ini. Langsung menuju rumah sakit setelah sampai di Jakarta.

Mama memang masih harus kontrol rutin agar sakit jantungnya tak kambuh kembali. Dia ke rumah sakit diantar oleh Melani-- adik iparku yang cantik. Melani yang kini masih duduk di bangku kelas dua sekolah menangah atas.

"Ngapain bengong di situ? Buruan masuk kamarmu!" bentak Mas Arka lagi. Aku hanya mengangguk, menyembunyikan air mata yang akan menetes di pipi.

"Oh soal foto-foto Nabila? Aku tak akan menurunkannya. Biar foto-foto itu tetap berada di sana. Lagipula, sampai detik ini aku belum bisa melupakannya. Kamu tahu itu, kan?"

Mas Arka memandang foto-foto itu dengan tatapan penuh kerinduan dan cinta. Bibirnya tersenyum, tapi jelas dalam tatap matanya penuh luka. Ah, sebesar itukah cinta Mas Arka pada mendiang istrinya? Apakah selamanya aku tak pernah bisa masuk ke dalam hatinya, meski hanya sedikit bahkan setitik noda?

Ada perih yang terasa mengiris hati tiap kali melihat cinta sebesar itu pada mendiang istrinya. Namun aku tak boleh menyerah. Bukankah aku sendiri yang memilih jalan ini? Aku yang membuat keputusan untuk menjadikannya sebagai suami.

Tak pantas rasanya aku mengeluh seperti ini. Biarlah dia nikmati caranya mencintai Nabila, aku pun akan menikmati caraku mencintai Mas Arka.

"Ini kamarmu dan itu kamarku. Jangan pernah masuk ke kamar itu tanpa seizinku, pun saat aku tak ada di rumah. Kamu bebas keluar masuk kamar mana saja, asal bukan kamar itu. Paham?!"

💕💕💕

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED