Bab 2

Seorang gadis melangkah masuk, "Assalamulaikum," sapa ines melangkah masuk rumah. Masih berseragam putih biru baru pulang sekolah. Ia kelas tiga SMP. 

"Walaikumsalam!" Jawab   Ningsih. Amelia yang mendengar dari dalam kamar   menjawabnya di dalam hati. Amelia kembali browsing mencari  Universitas yang mengadakan beasiswa. Ia menemukan  Universitas Bonafid di Kota Semarang yang mengadakan beasiswa penuh. Amelia kemudian mendaftar secara online. 

Ines melangkah menuju kamar kakaknya. 

"Kak!" Suara Ines dari luar kamar. tanganya mengetok pintu kamar Amelia. 

"Ya!" balas Amelia dari dalam. Ia membuka pintu masuk ke kamar Amelia dan langsung duduk di pinggir Bed kamar tidur. 

"Ada apa Ines? tanya Amelia menatap lekat adik kesayanganya. 

"Kakak bajunya tidak di corat- coretkan?" tanya Ines memastikan. 

"Nggak de, tenang saja!" Amelia tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. 

"Syukurlah." Ines bernafas lega. Mereka duduk saling berhadapan.

"Kakak hari ini pengumuman kelulusan kan?" Ines ingin tau. 

"Iya, emang kenapa?" tanya Amelia. 

"Kakak rangking berapa?" tanya Ines. 

"Yah, kakak hanya rangking lima dari seluruh siswa–" raut wajah Amelia sedih. 

"Kakak tak bisa rangking satu !"  Amelia menunduk. 

Ines mengenggam tangan kakaknya. 

"Tak apa kak, rangking lima aja udah bagus ko!"  Ines membesarkan hati kakaknya. 

 "Ya sih." 

"Kalau kamu  udah ujian  belum?" Amelia balik tanya. 

"Belum kakakku sayang, ujiannya minggu depan," jawab Amelia. 

"Oh ya, belajar yang rajin. Biar dapet rangking satu ya!" pesen Amelia mengusap kepala adiknya. 

"Nggak tau juga kak, aku kan tak sepintar kakak !" Wajah Ines berubah sendu. 

"Kata siapa, adikku ini juga pintar. Cantik lagi !" Puji Amelia sembari mengelus kepala Ines. 

 "Kakak, ingin kuliah Nes !" kata Amelia sendu. Ines memahami keinginan kakaknya. 

"Tapi kak–" 

"Kondisi orang tua kita? Ines protes. 

"Kakak, akan mencari beasiswa!" ucap Amelia semangat. 

"Baiklah, kalau itu aku dukung. Tapi  nanti siapa yang akan ngajak aku berantem?"  Ines mencebikan bibirnya.

"Mumpung kakak belum pergi, aku akan menghajarmu!" Amelia melempar bantal ke muka Ines. Mereka kemudian perang bantal di sertai teriakan. Ningsih mendengar anak- anaknya sedang bercanda di dalam kamar. 

"Amell... Iness !!" Kalian kalau becanda kelewatan. Nanti kalau ada yang nangis tak jewer kupingnya satu- satu !" teriak Ningsih kesal. 

Mereka langsung menghentikan perang. Ibu negara sudah marah. Ines menyebut  ibunya dengan sebutan ibu negara. 

****

Sore beranjak menuju malam, mereka sekeluarga makan malam bersama. Amelia membuka suara dan meminta ijin pada Ayahnya. 

"Yah, besok aku minta ijin ke kota besar.   Trisno Ayahnya Amelia langsung  menatap anaknya.  

"Mau kemana?" tanya  Trisno 

"Mau daftar kuliah ambil beasiswa ,Ayah," jawab Amelia. Trisno langsung meletakan sendoknya di atas piring. Ia senang dan bahagia anaknya ingin kuliah. Tapi juga sedih  tak mampu membiayai sekolah putri sulungnya. Anaknya harus mencari beasiswa.  

"Nak, Ayah minta maaf.  Tak bisa membiayai kamu. Ayah mendukungmu kalau kamu ingin mendapatkan beasiswa. Ayah akan selalu mendoakanmu, agar jadi orang sukses," kata Trisno mendoakan anaknya. namun aura sedih sangat kelihatan di wajah Trisno. 

"Iya... Ayah, Tapi Ayah tak usah minta maaf. Amelia sangat  bersyukur jadi anak Ayah," ucap Amelia tersenyum manis. Haru menyelimuti hati Trisno.

"Ibu, juga hanya bisa mendoakanmu nak. Moga kamu lolos dan berhasil mendapat beasiswa," ucap Ningsih

"Makasih Ayah, Ibu doa kalian yang terpenting!" Amelia menatap Ayah dan Ibunya secara bergantian. 

"Baiklah, besok Ayah antar!" ucap Trisno 

"Tapi nganternya sampai ke terminal aj ya, yah!" pinta Amelia. 

"Lah kenapa?" Trisno heran. Apa anakku malu? 

"Aku udah gede Ayah, aku juga bareng Mita."  Amelia beri alasan. 

"Baiklah..." Lega karena anaknya ada temenya.    

Suasana yang sederhana tapi menghangatkan. Amelia bersyukur dalam keluarga ini. 

   Adzan subuh berkumandang, Amelia bangun kemudian beranjak sholat subuh. Sebelum ke dapur ia sempetkan belajar dulu. Tapi baru buka beberapa lembar buku, Amelia mendengar Ibunya memasak. Ia kemudian tutup bukunya dan beranjak ke dapur. 

"Masak apa Bu, aku bantu ya," kata Amelia sembari menyentuh telur yang akan digoreng. 

"Iya," kata Ninsih. 

Masak hari ini menunya juga sederhana. Telur goreng dan tumis sawi putih. Ketika sedang memecahkan telur ia di kagetkan dengan suara Ayahnya. 

"Nanti kamu berangkat jam berapa Amel?" tanya Trisno

"Jam tujuh." 

Trisno kemudian mengeluarkan motor maticnya. Ia akan pergi  mencari pinjaman buat uang saku anaknya.Ia pergi ke kakak keduanya.   Trisno tiga bersaudara. Dua kakaknya nasibnya lebih beruntung dibanding dirinya. Kakak pertama seorang  bidan.  Sedangkan kakak kedua punya Usaha galon dan gas. Hanya dirinya yang petani merangkap tukang ojek. Sebenarnya ia malas untuk berurusan dengan kakaknya yang nomer dua ini. Ia selalu memandang rendah dirinya. Tapi karena kebutuhan yang mendesak. Sedang kakak pertamanya sering membantu dirinya, ia merasa tak enak.

 Trisno berdiri di depan pagar  besi tinggi menjulang. Rumah mewah bercat putih itu juga di jaga satpam. Mencoba memencet bel. Tak lama kemudian satpam keluar.

"Selamat pagi pak Trisno," sapa satpam ramah. Karena ia tahu  Trisno saudara kandung dengan majikanya.

"Silakan masuk pak!" satpam menyilahkan masuk. Trisno melangkah kakinya menuju teras. Ia duduk di teras depan menunggu kakaknya keluar. Tak lama kemudian kakaknya keluar. 

"Ada apa pagi-pagi kemari? Ganggu orang tidur aja!"  Trisno menelan ludahnya. Ia tau pasti akan mendapat omongan seperti ini. 

"Anu kak, si amel sudah lulus SMA. Ia ingin daftar beasiswa. Aku pingin pinjem uang satu juta aja buat uang sak Amel! Mohon Trisno dengan hati- hati. 

"Ha...ha..haa.. Eeh.. kalau Amel udah lulus yah di kawinin aja. Ngapain kamu kuliah   segala. Perempuan itu juga ujung-ujungnya kawin !!" Kakak Trisno berkacak pinggang. 

"Nggak ada, uangku buat muter usaha   lagi !" teriak kakak Trisno. 

 Astagfirullah,  Trisno mengelus dadanya mendengar suara keras kakak keduanya ini.

"Hei, kalau orang miskin nggak usah mikir untuk sekolah tinggi. Cukup makan aja udah alhamdulilah!" Kakak Trisno semakin menghinanya. 

Tak tahan mendengar hinaan dari kakaknya ia langsung beranjak dan pergi. 

Satpam membukakan pintu untuk  Trisno

"Hati- hati di jalan ya pak," ucap satpam tak tega  melihat ia  dihina oleh kakaknya sendiri. 

"Ya, makasih Mang Udin." Nama satpam itu Mang Udin. Trisno kemudian menjalankan motor maticnya meninggalkan rumah mewah itu. Trisno kemudian menjalankan motor maticnya ke rumah kakak kandungnya yang pertama. Dia seorang bidan. Namanya  Wati.  Trisno mengetuk pintu rumah kakak yang pertama. 

Tok.. tok.. 

Bude Wati kemudian membuka pintu. Ia tersenyum saat yang datang adiknya. 

"Apa kabar Trisno baru kelihatan Masuklah!" 

 Trisno kemudian duduk di sofa ruang tamu.  Trisno  menghela nafas pelan. Bude Wati heran melihat wajah  Trisno tampak tegang. 

"Ada apa kayaknya kamu tegang banget?" Wati heran melihat wajah adiknya. 

"Gini Mbak, si Amel udah luluSMA. Dia ingin melanjutkan kuliah di kota S  Ia ingin dengan mendapatkan beasiswa. Tapi aku ingin memberinya uang saku. Buat bekal dia saat di kota. Karena ujiannya  dua hari dan perlu kos. Aku ingin pinjem uang mbak Wati satu juta boleh?" pinta Trisno hati- hati. 

"Aah, keponakanku pinter ya, ingin kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Bentar aku ambil uangnya dulu. Dan nggak usah pinjem ya, ini untuk hadiah kelulusan untuk Amel!" ucap Wati tersenyum. 

"Alhamdulilah!" gumam  Trisno lega. 

 Bersambung.

Bab 3

Trisno pulang ke rumah dengan perasaan lega. Dengan membawa uang satu juta untuk uang saku anaknya. Sampai di rumah.  Ia langsung masuk ke rumah mencari Amelia. Trisno Amelia menemui dengan tergesa. 

"Ada apa Yah?" tanya Amelia, heran melihat Ayahnya tergesa-gesa. 

"Syukurlah kamu belum berangkat," kata Trisno, lalu mengeluarkan uang satu juta dari sakunya. Amelia tertegun. Padahal dirinya sudah mendapatkan uang saku dari sang Ibu. 

"Ini uang saku buat kamu, buat  bekal. Ayah mendoakan kamu  semoga  kamu diterima!" Trisno  mengusap kepala anaknya. 

"Tapi, aku dah di kasih sama Ibu," Amelia merasa tidak enak. Takut merepotkan Ayahnya. 

"Udah, buat jaga- jaga!" kata Trisno memaksa. Tak ingin anaknya kelaparan di perantauan. 

"Udah siapkan?" tanya Trisno. 

"Udah." 

Kemudian Amelia berpamitan pada Ibu dan Ines. Mereka menuju Terminal. Sampai di terminal Amelia turun dari motor. Ia pun berpamitan dan mencium punggung tangan  Ayahnya. 

'Moga kau berhasil, nak' doa Trisno dalam hati. 

Amelia menuju ke loket pembelian tiket setelah loket di tangan. Ia  duduk  menunggu Mita. Saat Amel menengok ke arah kiri,  Seorang gadis  memakai hijab abu- abu  melambaikan tangan datang menghampirinya. 

"Hai, Amel!" sapa Mita riang juga bersemangat.

"Hai juga Mita!" balas Amelia. Amelia sangat bersemangat sedang Mita biasa saja. 

"Udah pesen tiket?" tanya Amelia. 

"Udah dong!" jawab Mita mengacungkan tiketnya ke atas. 

Mereka berdua duduk  menunggu kedatangan bis. Bis pun datang. Mereka berdua naik menuju kota besar. Saat di perjalanan mereka berdua sempetkan untuk membuka buku pelajaran. Akhirnya Bisa sampai tepat di depan kampus. Amelia dan Mita turun. Mereka segera berlari menuju kampus karena hawa panas yang menyengat. Mereka berdua menuju ruang pendaftaran. Amelia dan Mita melakukan pendaftaran, mereka berdua  mengisi formulir. Setelah mengisi formulir Amelia dan Mita menunggu sejenak di ruang tunggu. Ujian akan dilaksanakan satu jam lagi. Ia sempatkan membaca buku. Amelia mengincar beasiswa dari jurusan kedokteran sedangkan Mita dari Jurusan Hukum. 

    Para penguji menyuruh berkumpul di ruang Aula. Penyelenggara sudah menyiapkan kursi berdasarkan nomer ujian. Amelia masuk juga Mita, mereka duduknya sangat berjauhan. Tak mungkin saling mencontek. Pengawas membagikan kertas. Amelia duduk di depan pengawas. Mata orang itu  menatap  Amelia tajam. 

'Ia seperti seorang dosen' batin Amelia.

Tampan tapi sangat dingin. Amelia takut menatapnya lama- lama. Segera ia alihkan pandangan ke lain arah. Kertas di hadapan Amelia. Ada dua lembar soal yang harus dijawab. Mereka memberi waktu dua jam menyelesaikan soal ini.  Suasana hening seketika Amelia dan para peserta  lainya mengerjakan ujian, para pengawas sangat ketat mengawasi. Kalau ketahuan mencontek akan langsung dicoret dari daftar beasiswa.

Mereka konsentrasi menyelesaikan ujian. Peluh membasahi kening . Pikiran telah dicurahkan, hanya keberuntungan serta takdir yang bisa membawa mereka lulus ujian ini. Ini juga masih tahap pertama, besok akan diadakan lagi disertai pengumuman.

Amelia bernafas lega saat ini, ia  bisa menyelesaikan ujian hari ini. menyerahkan lembar jawaban kepada pengawas. Amelia kemudian keluar ruangan. Menghirup udara di luar. Di dalam terasa panas walau ber ac. 

Aroma persaingan terasa jelas. 

Amelia duduk di ruang tunggu, depan ruang Aula. Ia menunggu Mita yang masih menyelesaikan ujian. Mita tak lama kemudian keluar. Mereka disuruh datang lagi esok hari.

   Amelia dan Mita mencari kosan untuk satu hari lagi di sekitar kampus. Mereka akhirnya menemukan kos yang agak mewah,Dan yang membayar Mita.  Mita berasal dari orang berkucupan.    Amelia merebahkan dirinya di bed. Tubuh serta pikiran terasa lelah. Amel melirik jam di dinding menunjukan pukul empat sore. 

 "Kamu udah sholat Mit?" tanya Amelia. 

"Belum." Mita menjawab tanpa memandang wajah Amelia. Ia fokus belajar untuk esok hari. 

"Aku sholat dulu!"  Amelia beranjak  kemudian berwudhu. Ia melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Selesai sholat tak lupa Amelia berdoa memohon  kelancaran untuk esok hari. 

"Sholat dulu Mit!" Amelia melipat mukenanya kembali. 

"Iya." Mita menutup bukunya lalu segera berwudhu dan sholat Ashar. 

Terdengar  suara ketukan terdengar dari luar. Amelia membuka pintu. Wanita paruh baya membawa dua porsi mie goreng dan juga dua gelas jus jeruk. 

"Nak, ini ibu bawakan mie goreng buat kalian. Kalian pasti lapar !" wanita paruh itu menyerahkan dua piring ke Amelia. Dia Ibu kos Amelia. Amelia menerima nampan berisi mie goreng dari tangan Bu kos.

"Makasih  Bu." Amelia terharu dengan perhatian Ibu Kos. 

"Sama- sama nak, belajar yang giat biar keterima di kampus ini!" pesan Bu kos. Ia tahu bahwa kampus yang tak jauh dari rumahnya  mengadakan beasiswa. 

"Ya Bu."  

Amelia mencium bau mie goreng, perutnya berontak minta di isi. Tapi ia tahan menunggu Mita selesai sholat. 

Mita selesai sholat, ia melipat mukenanya dan taruh di atas nakas. 

"Hemm.. wangi banget mie gorengnya!" Hidung Mita mengendus aroma wangi itu. 

"Iya nih, dari ibu kos. Makan yuk!" Amelia menyerahkan piring berisi mie goreng ke pada Mita. 

"Hayuk!" Amelia semangat menerima piring berisi mie goreng itu. 

Mita duduk di samping Amelia dan segera menyantap mie goreng di depanya. Dalam waktu lima belas menit mie udah pindah ke dalam perut. Diakhiri dengan jus. 

"Alhamdulilah!" ucap mereka kompak, merasa kenyang. 

Mereka kemudian melanjutkan belajar kembali. Ada dua mata pelajaran yang diujikan. Matematika dan biologi. 

Waktu beranjak menuju malam. Mereka berdua masih berkutat dengan buku pelajaran. Sesekali Mita menguap, tandanya mata sudah ingin di istirahatkan. 

"Amel, aku tidur dulu!" Mita melangkah ke menuju tempat tidur tapi sudah cuci muka dan sikat gigi tentunya. 

"Ya, aku sebentar lagi. Masih ada yang belum aku baca!" Amelia menjawab tanpa menoleh saking asyiknya belajar. 

Mita naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai leher. Tak butuh waktu lama Mita terlelap. Amel, masih memaksakan diri untuk membaca walau berulang kali menguap. 

Demi cita- cita menjadi dokter batin Amelia. 

Mata Amelia tak tahan menahan kantuk, ia pun menyusul naik ke ranjang. Tak lama kemudian Amelia terlelap menyusul  Mita yang terlelap lebih dulu.

Esok hari.

Amelia dan Mita bersiap menuju kampus. Mereka jalan kaki karena memang letak kampus dan kosnya tak terlalu jauh.

Anak- anak udah datang dan siap menuju ke ruang Aula. Para penguji pun bersuara menggunakan mic, suruh berkumpul di Aula lagi. Karena Ujian akan segera di mulai. Anak- anak tertib duduk di kursi masing- masing sesuai nomor ujian. Mata itu lagi- lagi menatap Amelia tak berkedip, sejenak Amelia menatap balik. Tapi ia merasa tak nyaman dengan tatapan itu, Amelia mengalihkan pandanganya. 

Para pengawas membagikan lembar soal. Orang itu membagikan kepada Amel. Tepat berdiri di depan Amel sambil tangannya memberi lembar soal. 

"Siapa namamu?" tanya Ryan. 

Ryan adalah pengawas baru, merangkap dosen. Punya wajah tampan juga berotak cerdas. anak dari pemilik Universitas ini.   Melihat Amelia mirip  seperti mendiang Adiknya yang baru meninggal sebulan yang lalu, ia tertegun sejenak. 

"Saya Amelia Anggraeni," jawab Amelia sopan. 

Ryan hanya melewati Amelia, dan membagikan pada peserta lainya. 

'Dasar orang aneh!" batin Amelia. Setelah Ryan membagikan lembar soal pada peserta lain, Ryan melewati Amelia lagi. 

"Kerjakan soal saja, tak usah mengumpat pengawas!" ucap Ryan lirih dan hanya terdengar Amelia. 

Amelia menghempus nafas pelan. Bagaimana ia bisa tahu isi hatiku? 

 Bersambung…

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED