Bab 1

Kepala sekolah mengumumkan  kelulusan siswa   SMA  Negeri  10 kota kecil di Jawa Tengah. Para siswa   berderet menunggu pengumuman itu. Anak-anak Deg-deg an menunggu pengumuman. Tatkala kepala sekolah mengumumkan hasil kelulusan, mereka lulus seratus persen. Anak- anak bersorak sorai menyambut pengumuman dari kepala sekolah. Suasana hening, saat kepala sekolah mengumumkan juara satu sampai sepuluh. Amelia masuk dalam sepuluh besar.  Mendengar itu ia mengucap alhamdulilah,Selesai pengumuman Siswa membubarkan diri, ada yang masuk  kelas masing- masing. Siswa terutama yang pria membawa  pilox untuk mencorat-coret seragam sekolah. 

Tapi Amelia tak ikut corat- coret sebagai euforia kelulusan. Ia lebih suka masuk kelas. Duduk di bangkunya. Shinta yang di sampingnya heran, ia adalah sahabat Amelia, heran dengan tingkah laku Amelia. 

"Amel, kenapa malah duduk di sini? Nggak ikut corat- coret?" tanya Shinta. 

"Aku bukan orang kaya, Shin. Nanti seragam ini aku lengserkan ke adiku. Ia baru lulus SMP. Sebentar lagi mau masuk SMA," ucap Amelia sendu.

"Kamu juga kenapa duduk di sini, seragamnya nggak ikut corat-coret?" Amelia tanya balik. 

"Aku di wanti-wanti sama Mama, nggak boleh ikutan baju di corat-coret." Shinta menjelaskan alasannya tidak bergabung bersama teman yang lain. Merayakan euforia kelulusan. 

"Oh ya shin, aku  pingin kuliah. Semoga ada beasiswa  masuk ke Universitas!" Amelia sangat berharap bisa kuliah. 

"Amiin!" ucap Shinta tanganya menengadahkan keatas. 

"Ya dah, jangan sedih terus. Ikut ke kantin yuk!" Shinta meraih tangan Amelia dan mengandengnya. Mereka menuju ke kantin. Tapi ketika baru berjalan beberapa langkah Mereka di hadang Roni. 

"Mau kemana kalian?" tanya Roni berkacak pinggang. Sebenarnya Roni berwajah tampan, dia juga anak orang kaya di kota ini. Sayangnya ia termasuk  bandel. Suka membolos, tak jarang  di kantin tempat ia merokok. Roni sudah lama menyukai Amelia, tapi Amelia tak menganggapnya teman biasa saja. 

"Pergilah Ron, kami tak ingin di ganggu!" kata Shinta sewot, Sedang Amelia hanya diam menatap Roni kesal. 

Shinta kemudian menarik tangan Amelia untuk menjauh dari Roni. 

Roni pun mengejar mereka berdua. 

"Hei, tunggu aku!"  Roni mengejar mereka berdua. 

Mereka berhenti dan menoleh. 

"Amel, nanti kita pulang bareng ya!" ajak Roni. Mendengar ucapan Roni, Amelia sewot. Tapi di tahan emosinya. Tak  ingin bertengkar dengan Roni.

"Maaf Ron, Aku akan pulang bersama Shinta!" tolak Amelia halus. 

Roni hanya menghela nafas berat, kecewa. Ia selalu menghindari dirinya, pujaan hatinya berlalu dari hadapanya. 

****

    Guru wali kelas membagikan pengumuman surat kelulusan,  Itu sebagai bukti bahwa siswa itu telah lulus dari sekolah juga surat sementara untuk mendaftar kuliah. Mereka semua mendapatkan surat itu tak terkecuali Amelia, ia bersyukur mendapatkan sepuluh besar di sekolahnya. Angan-angan melanjutkan kuliah melintas di kepalanya. Ia bercita-cita menjadi dokter. 'Semoga ada beasiswa masuk ke jurusan itu Amin' ucap dalam hati Amelia.

Mereka pulang bersama  Karena memang rumah mereka juga searah. Shinta lebih dulu sampai di rumahnya. Ia melambaikan tangan pada Amelia. Saat sampai di depan gerbang rumahnya, Amelia pun membalasnya. 

Angkutan umum berhenti di depan gang rumah Amelia. Setelah membayar angkutan ia  turun. Amelia berjalan menyusuri gang. Akhirnya ia sampai di rumahnya. 

Ibunya Amelia sibuk melayani konsumen. 

"Assalamualaikum," sapa Amelia melangkah masuk rumah. 

Ibunya walaupun sibuk menjawab salam Amelia. 

"Walaikum salam!" jawab Ibu Amelia. 

Amelia berjalan ke kamarnya. Ia berganti pakaian. Segera membantu ibunya melayani pembeli. 

Tak lama kemudian. Para pembeli itu pulang. Mama Ning ibunya Amelia menoleh ke arah Amelia.

"Makan dulu Amel, Ibu udah masak!" perintah Ibunya lembut. 

"Ibu udah makan belum?" tanya Amelia. 

" Udah nak," jawab Ningsih.

Amelia beranjak dari duduknya. Ia segera ke ruang makan. Lauk sederhana terhidang di meja. Sayur asem, Ikan goreng, tempe serta sambel kesukaan Amelia. Orang tua Amelia orang biasa. Ibunya membuka toko sembako di depan rumahnya. Namanya Ningsih,sedang Ayahnya bernama  pak Trisno seorang petani. Walaupun mengarap lahan sendiri tapi hasilnya tak bisa tiap bulan menghasilkan. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga Pak Trisna bekerja sambilan sebagai ojek.

"Bu.. Ayah mana, ke sawah atau pergi ngojek?" tanya Amelia di sela- sela makanya.

"Ayahmu ngojek!" Mendengar jawaban Ibunya Amelia kembali melanjutkan makanya. Setelah makan Amelia mencuci piring, lalu duduk di sebelah ibunya dan membantu merapikan dagangan.

"Bu!" panggil Amelia.

"Hemm..." Balas ibunya Tak menoleh, tanganya sibuk merapikan dagangan. 

"Bu, aku udah lulus ujian, tapi aku ingin cari beasiswa untuk melanjutkan kuliah," kata Amelia pelan tak ingin mengganggu Ibunya merapikan dagangan. 

  Ningsih  langsung menoleh kearah Amelia. Ia senang anak sulungnya lulus sekolah. Tapi ini, Amelia ingin melanjutkan kuliah. Dari mana biaya? Sedangkan adiknya mau lulus sekolah SMP. Dari hati yang terdalam, ia ingin Anaknya sekolah yang tinggi. Tidak seperti dirinya hanya lulusan SMP.  Ningsih mengusap kepala anaknya. 

"Maaf Nak, orang tuamu tak bisa menyekolahkan kamu. Ku harap kau mengerti dengan keadaan kita," ucap Ning sendu.

Air mata seakan ingin terjun bebas dari matanya. Ingin Ningsih seperti orang tua lainya, menyekolahkan anak sampai tinggi. 

    Amelia menghela nafas panjang. Ia semakin bertekad ingin merubah nasibnya. Cita-cita sebagai dokter harus diwujudkan. 

"Bu, aku minta restu Ibu. Aku ingin mencari beasiswa." Air muka Ningsih tambah sendu. Ia semakin merasa bersalah. Ningsih kemudian memeluk anak sulungnya. 

"Ibu, merestuimu nak!" Air mata Amelia lolos begitu saja membasahi pipinya. Amelia kemudian mengusap air matanya. 

"Bu, aku kekamar dulu."    Ningsih menganguk. 

Amelia beranjak menuju ke kamarnya. Ia mulai browsing dari laptopnya mencari beasiswa di Universitas. Ada beberapa Universitas mengadakan beasiswa, salah satunya Universitas Dharma Bakti. Universitas swasta bonafid di Semarang. yang Membuka beasiswa untuk semua jurusan. Amelia tertarik. Ia mengisi form mengajukan diri sebagai calon mahasiswa secara online. 

'Semoga diterima, Amin.' doa Amelia dalam hati. Ia melirik jam di dinding menunjukan pukul satu siang. Merasa dirinya belum sholat ia keluar kamar, menuju kamar mandi. Melepas jilbabnya dan wudhu. 

"Kamu mau sholat nak," tanya Trisno sambil meletakan cangkul di pojokan ruangan dapur. 

"Iya Ayah." Melihat baju Ayahnya penuh dengan lumpur. Amelia merasa kasihan. Ia membuat teh hangat untuk Ayahnya. lalu menyajikan di meja. 

"Ayah, tehnya udah di meja. Amel sholat dulu."

"Iya nak. Terima kasih." 

Amelia mengangguk. Ia kemudian melangkah ke kamar menunaikan sholat dhuhur. Amelia menghamparkan sajadah. Menghadap kiblat, kemudian melafalkan surat pendek. Empat rokaat ia tunaikan dengan khusuk. Selesai sholat ia berdoa untuk orang tuanya. Juga untuk dirinya sendiri. Semoga ada beasiswa penuh untuk dirinya. Ada ketenangan setelah melakukan kewajiban. Ia melepas mukenanya dan menaruh di captok. Kembali duduk di depan laptopnya. Mencari informasi tentang Universitas membuka beasiswa penuh untuk calon siswa yang kurang mampu. Ada beberapa Universitas yang membuka beasiswa. Di antaranya Universitas Jakarta, Yogyakarta juga Surabaya. Amelia mengisi form dari semua Universitas itu. 

Bersambung.

Bab 2

Seorang gadis melangkah masuk, "Assalamulaikum," sapa ines melangkah masuk rumah. Masih berseragam putih biru baru pulang sekolah. Ia kelas tiga SMP. 

"Walaikumsalam!" Jawab   Ningsih. Amelia yang mendengar dari dalam kamar   menjawabnya di dalam hati. Amelia kembali browsing mencari  Universitas yang mengadakan beasiswa. Ia menemukan  Universitas Bonafid di Kota Semarang yang mengadakan beasiswa penuh. Amelia kemudian mendaftar secara online. 

Ines melangkah menuju kamar kakaknya. 

"Kak!" Suara Ines dari luar kamar. tanganya mengetok pintu kamar Amelia. 

"Ya!" balas Amelia dari dalam. Ia membuka pintu masuk ke kamar Amelia dan langsung duduk di pinggir Bed kamar tidur. 

"Ada apa Ines? tanya Amelia menatap lekat adik kesayanganya. 

"Kakak bajunya tidak di corat- coretkan?" tanya Ines memastikan. 

"Nggak de, tenang saja!" Amelia tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. 

"Syukurlah." Ines bernafas lega. Mereka duduk saling berhadapan.

"Kakak hari ini pengumuman kelulusan kan?" Ines ingin tau. 

"Iya, emang kenapa?" tanya Amelia. 

"Kakak rangking berapa?" tanya Ines. 

"Yah, kakak hanya rangking lima dari seluruh siswa–" raut wajah Amelia sedih. 

"Kakak tak bisa rangking satu !"  Amelia menunduk. 

Ines mengenggam tangan kakaknya. 

"Tak apa kak, rangking lima aja udah bagus ko!"  Ines membesarkan hati kakaknya. 

 "Ya sih." 

"Kalau kamu  udah ujian  belum?" Amelia balik tanya. 

"Belum kakakku sayang, ujiannya minggu depan," jawab Amelia. 

"Oh ya, belajar yang rajin. Biar dapet rangking satu ya!" pesen Amelia mengusap kepala adiknya. 

"Nggak tau juga kak, aku kan tak sepintar kakak !" Wajah Ines berubah sendu. 

"Kata siapa, adikku ini juga pintar. Cantik lagi !" Puji Amelia sembari mengelus kepala Ines. 

 "Kakak, ingin kuliah Nes !" kata Amelia sendu. Ines memahami keinginan kakaknya. 

"Tapi kak–" 

"Kondisi orang tua kita? Ines protes. 

"Kakak, akan mencari beasiswa!" ucap Amelia semangat. 

"Baiklah, kalau itu aku dukung. Tapi  nanti siapa yang akan ngajak aku berantem?"  Ines mencebikan bibirnya.

"Mumpung kakak belum pergi, aku akan menghajarmu!" Amelia melempar bantal ke muka Ines. Mereka kemudian perang bantal di sertai teriakan. Ningsih mendengar anak- anaknya sedang bercanda di dalam kamar. 

"Amell... Iness !!" Kalian kalau becanda kelewatan. Nanti kalau ada yang nangis tak jewer kupingnya satu- satu !" teriak Ningsih kesal. 

Mereka langsung menghentikan perang. Ibu negara sudah marah. Ines menyebut  ibunya dengan sebutan ibu negara. 

****

Sore beranjak menuju malam, mereka sekeluarga makan malam bersama. Amelia membuka suara dan meminta ijin pada Ayahnya. 

"Yah, besok aku minta ijin ke kota besar.   Trisno Ayahnya Amelia langsung  menatap anaknya.  

"Mau kemana?" tanya  Trisno 

"Mau daftar kuliah ambil beasiswa ,Ayah," jawab Amelia. Trisno langsung meletakan sendoknya di atas piring. Ia senang dan bahagia anaknya ingin kuliah. Tapi juga sedih  tak mampu membiayai sekolah putri sulungnya. Anaknya harus mencari beasiswa.  

"Nak, Ayah minta maaf.  Tak bisa membiayai kamu. Ayah mendukungmu kalau kamu ingin mendapatkan beasiswa. Ayah akan selalu mendoakanmu, agar jadi orang sukses," kata Trisno mendoakan anaknya. namun aura sedih sangat kelihatan di wajah Trisno. 

"Iya... Ayah, Tapi Ayah tak usah minta maaf. Amelia sangat  bersyukur jadi anak Ayah," ucap Amelia tersenyum manis. Haru menyelimuti hati Trisno.

"Ibu, juga hanya bisa mendoakanmu nak. Moga kamu lolos dan berhasil mendapat beasiswa," ucap Ningsih

"Makasih Ayah, Ibu doa kalian yang terpenting!" Amelia menatap Ayah dan Ibunya secara bergantian. 

"Baiklah, besok Ayah antar!" ucap Trisno 

"Tapi nganternya sampai ke terminal aj ya, yah!" pinta Amelia. 

"Lah kenapa?" Trisno heran. Apa anakku malu? 

"Aku udah gede Ayah, aku juga bareng Mita."  Amelia beri alasan. 

"Baiklah..." Lega karena anaknya ada temenya.    

Suasana yang sederhana tapi menghangatkan. Amelia bersyukur dalam keluarga ini. 

   Adzan subuh berkumandang, Amelia bangun kemudian beranjak sholat subuh. Sebelum ke dapur ia sempetkan belajar dulu. Tapi baru buka beberapa lembar buku, Amelia mendengar Ibunya memasak. Ia kemudian tutup bukunya dan beranjak ke dapur. 

"Masak apa Bu, aku bantu ya," kata Amelia sembari menyentuh telur yang akan digoreng. 

"Iya," kata Ninsih. 

Masak hari ini menunya juga sederhana. Telur goreng dan tumis sawi putih. Ketika sedang memecahkan telur ia di kagetkan dengan suara Ayahnya. 

"Nanti kamu berangkat jam berapa Amel?" tanya Trisno

"Jam tujuh." 

Trisno kemudian mengeluarkan motor maticnya. Ia akan pergi  mencari pinjaman buat uang saku anaknya.Ia pergi ke kakak keduanya.   Trisno tiga bersaudara. Dua kakaknya nasibnya lebih beruntung dibanding dirinya. Kakak pertama seorang  bidan.  Sedangkan kakak kedua punya Usaha galon dan gas. Hanya dirinya yang petani merangkap tukang ojek. Sebenarnya ia malas untuk berurusan dengan kakaknya yang nomer dua ini. Ia selalu memandang rendah dirinya. Tapi karena kebutuhan yang mendesak. Sedang kakak pertamanya sering membantu dirinya, ia merasa tak enak.

 Trisno berdiri di depan pagar  besi tinggi menjulang. Rumah mewah bercat putih itu juga di jaga satpam. Mencoba memencet bel. Tak lama kemudian satpam keluar.

"Selamat pagi pak Trisno," sapa satpam ramah. Karena ia tahu  Trisno saudara kandung dengan majikanya.

"Silakan masuk pak!" satpam menyilahkan masuk. Trisno melangkah kakinya menuju teras. Ia duduk di teras depan menunggu kakaknya keluar. Tak lama kemudian kakaknya keluar. 

"Ada apa pagi-pagi kemari? Ganggu orang tidur aja!"  Trisno menelan ludahnya. Ia tau pasti akan mendapat omongan seperti ini. 

"Anu kak, si amel sudah lulus SMA. Ia ingin daftar beasiswa. Aku pingin pinjem uang satu juta aja buat uang sak Amel! Mohon Trisno dengan hati- hati. 

"Ha...ha..haa.. Eeh.. kalau Amel udah lulus yah di kawinin aja. Ngapain kamu kuliah   segala. Perempuan itu juga ujung-ujungnya kawin !!" Kakak Trisno berkacak pinggang. 

"Nggak ada, uangku buat muter usaha   lagi !" teriak kakak Trisno. 

 Astagfirullah,  Trisno mengelus dadanya mendengar suara keras kakak keduanya ini.

"Hei, kalau orang miskin nggak usah mikir untuk sekolah tinggi. Cukup makan aja udah alhamdulilah!" Kakak Trisno semakin menghinanya. 

Tak tahan mendengar hinaan dari kakaknya ia langsung beranjak dan pergi. 

Satpam membukakan pintu untuk  Trisno

"Hati- hati di jalan ya pak," ucap satpam tak tega  melihat ia  dihina oleh kakaknya sendiri. 

"Ya, makasih Mang Udin." Nama satpam itu Mang Udin. Trisno kemudian menjalankan motor maticnya meninggalkan rumah mewah itu. Trisno kemudian menjalankan motor maticnya ke rumah kakak kandungnya yang pertama. Dia seorang bidan. Namanya  Wati.  Trisno mengetuk pintu rumah kakak yang pertama. 

Tok.. tok.. 

Bude Wati kemudian membuka pintu. Ia tersenyum saat yang datang adiknya. 

"Apa kabar Trisno baru kelihatan Masuklah!" 

 Trisno kemudian duduk di sofa ruang tamu.  Trisno  menghela nafas pelan. Bude Wati heran melihat wajah  Trisno tampak tegang. 

"Ada apa kayaknya kamu tegang banget?" Wati heran melihat wajah adiknya. 

"Gini Mbak, si Amel udah luluSMA. Dia ingin melanjutkan kuliah di kota S  Ia ingin dengan mendapatkan beasiswa. Tapi aku ingin memberinya uang saku. Buat bekal dia saat di kota. Karena ujiannya  dua hari dan perlu kos. Aku ingin pinjem uang mbak Wati satu juta boleh?" pinta Trisno hati- hati. 

"Aah, keponakanku pinter ya, ingin kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Bentar aku ambil uangnya dulu. Dan nggak usah pinjem ya, ini untuk hadiah kelulusan untuk Amel!" ucap Wati tersenyum. 

"Alhamdulilah!" gumam  Trisno lega. 

 Bersambung.

Bab 3

Trisno pulang ke rumah dengan perasaan lega. Dengan membawa uang satu juta untuk uang saku anaknya. Sampai di rumah.  Ia langsung masuk ke rumah mencari Amelia. Trisno Amelia menemui dengan tergesa. 

"Ada apa Yah?" tanya Amelia, heran melihat Ayahnya tergesa-gesa. 

"Syukurlah kamu belum berangkat," kata Trisno, lalu mengeluarkan uang satu juta dari sakunya. Amelia tertegun. Padahal dirinya sudah mendapatkan uang saku dari sang Ibu. 

"Ini uang saku buat kamu, buat  bekal. Ayah mendoakan kamu  semoga  kamu diterima!" Trisno  mengusap kepala anaknya. 

"Tapi, aku dah di kasih sama Ibu," Amelia merasa tidak enak. Takut merepotkan Ayahnya. 

"Udah, buat jaga- jaga!" kata Trisno memaksa. Tak ingin anaknya kelaparan di perantauan. 

"Udah siapkan?" tanya Trisno. 

"Udah." 

Kemudian Amelia berpamitan pada Ibu dan Ines. Mereka menuju Terminal. Sampai di terminal Amelia turun dari motor. Ia pun berpamitan dan mencium punggung tangan  Ayahnya. 

'Moga kau berhasil, nak' doa Trisno dalam hati. 

Amelia menuju ke loket pembelian tiket setelah loket di tangan. Ia  duduk  menunggu Mita. Saat Amel menengok ke arah kiri,  Seorang gadis  memakai hijab abu- abu  melambaikan tangan datang menghampirinya. 

"Hai, Amel!" sapa Mita riang juga bersemangat.

"Hai juga Mita!" balas Amelia. Amelia sangat bersemangat sedang Mita biasa saja. 

"Udah pesen tiket?" tanya Amelia. 

"Udah dong!" jawab Mita mengacungkan tiketnya ke atas. 

Mereka berdua duduk  menunggu kedatangan bis. Bis pun datang. Mereka berdua naik menuju kota besar. Saat di perjalanan mereka berdua sempetkan untuk membuka buku pelajaran. Akhirnya Bisa sampai tepat di depan kampus. Amelia dan Mita turun. Mereka segera berlari menuju kampus karena hawa panas yang menyengat. Mereka berdua menuju ruang pendaftaran. Amelia dan Mita melakukan pendaftaran, mereka berdua  mengisi formulir. Setelah mengisi formulir Amelia dan Mita menunggu sejenak di ruang tunggu. Ujian akan dilaksanakan satu jam lagi. Ia sempatkan membaca buku. Amelia mengincar beasiswa dari jurusan kedokteran sedangkan Mita dari Jurusan Hukum. 

    Para penguji menyuruh berkumpul di ruang Aula. Penyelenggara sudah menyiapkan kursi berdasarkan nomer ujian. Amelia masuk juga Mita, mereka duduknya sangat berjauhan. Tak mungkin saling mencontek. Pengawas membagikan kertas. Amelia duduk di depan pengawas. Mata orang itu  menatap  Amelia tajam. 

'Ia seperti seorang dosen' batin Amelia.

Tampan tapi sangat dingin. Amelia takut menatapnya lama- lama. Segera ia alihkan pandangan ke lain arah. Kertas di hadapan Amelia. Ada dua lembar soal yang harus dijawab. Mereka memberi waktu dua jam menyelesaikan soal ini.  Suasana hening seketika Amelia dan para peserta  lainya mengerjakan ujian, para pengawas sangat ketat mengawasi. Kalau ketahuan mencontek akan langsung dicoret dari daftar beasiswa.

Mereka konsentrasi menyelesaikan ujian. Peluh membasahi kening . Pikiran telah dicurahkan, hanya keberuntungan serta takdir yang bisa membawa mereka lulus ujian ini. Ini juga masih tahap pertama, besok akan diadakan lagi disertai pengumuman.

Amelia bernafas lega saat ini, ia  bisa menyelesaikan ujian hari ini. menyerahkan lembar jawaban kepada pengawas. Amelia kemudian keluar ruangan. Menghirup udara di luar. Di dalam terasa panas walau ber ac. 

Aroma persaingan terasa jelas. 

Amelia duduk di ruang tunggu, depan ruang Aula. Ia menunggu Mita yang masih menyelesaikan ujian. Mita tak lama kemudian keluar. Mereka disuruh datang lagi esok hari.

   Amelia dan Mita mencari kosan untuk satu hari lagi di sekitar kampus. Mereka akhirnya menemukan kos yang agak mewah,Dan yang membayar Mita.  Mita berasal dari orang berkucupan.    Amelia merebahkan dirinya di bed. Tubuh serta pikiran terasa lelah. Amel melirik jam di dinding menunjukan pukul empat sore. 

 "Kamu udah sholat Mit?" tanya Amelia. 

"Belum." Mita menjawab tanpa memandang wajah Amelia. Ia fokus belajar untuk esok hari. 

"Aku sholat dulu!"  Amelia beranjak  kemudian berwudhu. Ia melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Selesai sholat tak lupa Amelia berdoa memohon  kelancaran untuk esok hari. 

"Sholat dulu Mit!" Amelia melipat mukenanya kembali. 

"Iya." Mita menutup bukunya lalu segera berwudhu dan sholat Ashar. 

Terdengar  suara ketukan terdengar dari luar. Amelia membuka pintu. Wanita paruh baya membawa dua porsi mie goreng dan juga dua gelas jus jeruk. 

"Nak, ini ibu bawakan mie goreng buat kalian. Kalian pasti lapar !" wanita paruh itu menyerahkan dua piring ke Amelia. Dia Ibu kos Amelia. Amelia menerima nampan berisi mie goreng dari tangan Bu kos.

"Makasih  Bu." Amelia terharu dengan perhatian Ibu Kos. 

"Sama- sama nak, belajar yang giat biar keterima di kampus ini!" pesan Bu kos. Ia tahu bahwa kampus yang tak jauh dari rumahnya  mengadakan beasiswa. 

"Ya Bu."  

Amelia mencium bau mie goreng, perutnya berontak minta di isi. Tapi ia tahan menunggu Mita selesai sholat. 

Mita selesai sholat, ia melipat mukenanya dan taruh di atas nakas. 

"Hemm.. wangi banget mie gorengnya!" Hidung Mita mengendus aroma wangi itu. 

"Iya nih, dari ibu kos. Makan yuk!" Amelia menyerahkan piring berisi mie goreng ke pada Mita. 

"Hayuk!" Amelia semangat menerima piring berisi mie goreng itu. 

Mita duduk di samping Amelia dan segera menyantap mie goreng di depanya. Dalam waktu lima belas menit mie udah pindah ke dalam perut. Diakhiri dengan jus. 

"Alhamdulilah!" ucap mereka kompak, merasa kenyang. 

Mereka kemudian melanjutkan belajar kembali. Ada dua mata pelajaran yang diujikan. Matematika dan biologi. 

Waktu beranjak menuju malam. Mereka berdua masih berkutat dengan buku pelajaran. Sesekali Mita menguap, tandanya mata sudah ingin di istirahatkan. 

"Amel, aku tidur dulu!" Mita melangkah ke menuju tempat tidur tapi sudah cuci muka dan sikat gigi tentunya. 

"Ya, aku sebentar lagi. Masih ada yang belum aku baca!" Amelia menjawab tanpa menoleh saking asyiknya belajar. 

Mita naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai leher. Tak butuh waktu lama Mita terlelap. Amel, masih memaksakan diri untuk membaca walau berulang kali menguap. 

Demi cita- cita menjadi dokter batin Amelia. 

Mata Amelia tak tahan menahan kantuk, ia pun menyusul naik ke ranjang. Tak lama kemudian Amelia terlelap menyusul  Mita yang terlelap lebih dulu.

Esok hari.

Amelia dan Mita bersiap menuju kampus. Mereka jalan kaki karena memang letak kampus dan kosnya tak terlalu jauh.

Anak- anak udah datang dan siap menuju ke ruang Aula. Para penguji pun bersuara menggunakan mic, suruh berkumpul di Aula lagi. Karena Ujian akan segera di mulai. Anak- anak tertib duduk di kursi masing- masing sesuai nomor ujian. Mata itu lagi- lagi menatap Amelia tak berkedip, sejenak Amelia menatap balik. Tapi ia merasa tak nyaman dengan tatapan itu, Amelia mengalihkan pandanganya. 

Para pengawas membagikan lembar soal. Orang itu membagikan kepada Amel. Tepat berdiri di depan Amel sambil tangannya memberi lembar soal. 

"Siapa namamu?" tanya Ryan. 

Ryan adalah pengawas baru, merangkap dosen. Punya wajah tampan juga berotak cerdas. anak dari pemilik Universitas ini.   Melihat Amelia mirip  seperti mendiang Adiknya yang baru meninggal sebulan yang lalu, ia tertegun sejenak. 

"Saya Amelia Anggraeni," jawab Amelia sopan. 

Ryan hanya melewati Amelia, dan membagikan pada peserta lainya. 

'Dasar orang aneh!" batin Amelia. Setelah Ryan membagikan lembar soal pada peserta lain, Ryan melewati Amelia lagi. 

"Kerjakan soal saja, tak usah mengumpat pengawas!" ucap Ryan lirih dan hanya terdengar Amelia. 

Amelia menghempus nafas pelan. Bagaimana ia bisa tahu isi hatiku? 

 Bersambung…

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED